Category Archives: Uncategorized

Merdeka di atas Kertas

IMG_20160317_105251

Tujuhbelas Agustus tahun 1945

Itulah tahun kemerdekaan kita (1)

Lagu itu berkumandang hingga langit pagi yang memucat. Dimana-mana, riang gembira semua menyanyikan. Mereka berangkat pagi, biar libur, untuk merayakan kebesaran bangsa, yang pada tahun 1945, tepat 72 tahun yang lalu, berhasil melepaskan diri dari kolonialisme yang menguruskan anak-anak bangsa itu.

Aku, sebaliknya, terlelap nyenyak di tempat tidur. Bukan, bukan karena tidak merasa kebahagiaan atas keberhasilan luar biasa itu, hanya tidak bisa larut dalam euforianya. Adzan Dzuhur berkumandang, baru aku bisa membebaskan diri dari pengaruh kuat rasa nyaman di tengah gumpalan lembut kapas-kapas yang sudah bertransformasi menjadi barang laknat peruntuh adrenalin itu.

Gontai, aku menatap rumah. Rumah itu sudah kokoh berdiri, mungkin beberapa bagian masih kusut masai, tapi ia berdiri tegap. Tanpa bendera. Apakah itu akan melanggar ketentuan negara? Yang jelas, sudah melanggar kode etik bangsa.

Aku pikir, seharusnya aku merasa bersalah. Tapi, tidak.

Merdeka itu apa, ya? Sekelebat kemudian, aku sudah masuk lagi. Belum, aku belum merasa begitu. Muram aku melihat seonggok kertas-kertas bisu. Kertas-kertas simbol birokrasi. Digerogoti oleh tikus-tikus pengerat yang haus materi. Sudah lapuk maknanya, bangkrut oleh ketiadasetiaan manusia antar manusia.

“Bayar segini dulu, baru bisa diurus,” kata-kata itu selalu kudengar, dari kiri, dari kanan, depan-belakang. Tidak habis-habis.

Suara sumbang itu mulai jarang terdengar. Tapi, kemalasan dan kelunglaian birokrasi masih nyata. Materi sudah tidak lagi dikuras, sekarang batin jadi sasaran. Katanya, zaman sudah berubah dan birokrasi sudah bebas korupsi. Nyatanya, tikus-tikus masih bersarang, sulit sekali untuk diusir karena sudah membangun liang-liang yang berparalel rumit.

Rumah ini belum berpemilik. Baru suara-suara tanpa kekuatan hukum saja yang merdu membuai. Tapi, kertas-kertas, pengikat sesungguhnya, simbol perkawinan antar rakyat dan penguasanya untuk rumah itu, belum terjadi. Sama saja, kau tinggal, dengan menyiapkan koper. Sewaktu-waktu, kau bisa saja ditendang dengan alasan-alasan kertas.

Kertas-kertas busuk. Dengan itu saja, manusia mudah sekali dipermainkan. Atau mempermainkan.

“Udah, laporin ke polisi.”

“Percuma, bukti-bukti kamu nggak kuat.”

Suara-suara, nasehat, usulan, tidak ada yang memberi solusi. Polisi? Apa mau mengurus masalah yang tidak jelas macam begini? Tidak ada pidana, tidak ada kejahatan, hanya dua manusia yang tidak bisa saling percaya.

Asas kepercayaan. Mungkin masih sedikit sekali yang berhasil terikat dengan asas itu. Sebagian yang lebih besar, lantang terbuang. Tak berhasil mengikat. Tak berhasil diikat. Asas keikhlasan. Itu lebih rumit lagi. Saat stres bertambah-tambah, asas itu lenyap dalam cerutu gerutu yang mengepul.

Tujuh belas Agustus tahun 2017, manusia belum merdeka dari kertas-kertas. Pernikahan harus diikat kertas, sewa-menyewa perlu dibelenggu kertas, nurani tewas di bawah kertas.

Suara wanita itu kabur saja dalam benakku. Ia menjelaskan guna dari kertas-kertas laknat itu. Dua jam setelah adzan Dzuhur, baru aku sukses merdeka dari rasa engganku sendiri. Enggan berkutat dengan realita yang sama sekali jauh dari indah.

Wanita itu masih berkicau. Ia menjelaskan prosedur, ia menjelaskan tata tertib. Keteraturan, dibuat-buat atau tidak, dia perlu. Tapi, yang dibuat-buat, hanya menimbulkan kekacauan tak kasat mata.

Aku mengangguk. Setiap kali ia menetapkan titik dalam kalimatnya, aku mengangguk. Seperti burung perkutut membangun sarang. Memang, sarang itu penting, makanya manusia rela manggut-manggut. Mau saja bersikap seperti hewan. Mungkin hewan lebih bermartabat, karena ia siap melepas nyawa untuk apa yang menjadi haknya. Dengan bertarung. Dengan berjuang.

Atau mungkin hanya aku yang jadi kasus dimana manusia kalah dari kertas.

Hari kemerdekaan bangsa Indonesia, hari lahir konstitusi yang disepakati rakyat, tidak bisa membuatku gegap gempita. Merdeka itu belum kudapat. Merdeka itu masih jauh dalam pikiranku. Sekarang, urus tanah saja dulu. Tanah yang harusnya jadi anugerah dari Tuhan, tanah yang hadir tanpa syarat, tanah yang kemudian dipaksa manusia untuk mengikut mau mereka.

Dan itu saja yang bisa ditawarkan realita. Tapi, tak apalah. Indonesia masih begitu hebat dalam merasionalisasi dan meredakan stres dengan cara mengalah. Realita itu masih membuat kita menunduk-nunduk di tengah kepungan global. Tapi, ia realita.

Realita selalu jauh dari indah, tapi dia tinggal menemani. Dia setia, tanpa syarat, tanpa kertas-kertas pengikat. Mungkin jauh lebih baik dari angan-angan memabukkan, tapi tak pernah berkawan setia.

 

 

Dirgahaya Negara Kesatuan Republik Indonesia

Perjalananmu masih panjang untuk mencapai kesempurnaan

Tapi, yakinlah rakyatmu akan terus menemani

 

Catatan kaki :

(1) Lirik lagu “Hari Merdeka (17 Agustus 1945)” oleh H. Mutahar (lirik lengkapnya mari lihat di sini)

 

How Long I Abandoned My Own Ship?

 

We can’t possibly be a good captain of the ship, if we always abandon the ship. This, at least I understand. Managing time, but especially managing the mood and inspiration, is the hardest part of writing activity.

You can stare the blank page of the paper (I’m really reluctant to mention Microsoft Word, which is the program I used to write, because it’s not romantic at all) for hours, nothing came out. Maybe you can force it, just to see your ship started to sink into the deep dark pit of a mess. Messy writing is the worst of all, although I still like to pull them through. I just want my blog to be filled with something, please don’t judge me!

But, lately, I did it again, I abandoned my own ship. I hope there are people who will be willingly read my blog, but it’s impossible if I updated it too long. As if the captain is lazing around, let the ship go really slow. No one can handle that, I can’t, at least!

I have one big rational reason for this. Lately, I’m busy preparing my website, please visit me here, too. If you care to know, just click this image, you will be directed to my new website right away!

Kiddy Reader Logo

It’s new, I bet it’s a little bit rough. It’s not an excuse, just me stating the facts. Hehe. Okay, I tried to find any excuse, big fails!

I will explain a tiny bit about this site. It’s for children mostly, the content is children-friendly-something, but it’s actually very useful for the Moms and Dads in selecting books to read for their children. Yep, it’s a site contains reviews of children’s book. Also, I put the special page for children representing their creativity. I really want the children to have fun in my site!

And, of course, for anyone who loves to read children’s books, I’m inviting you to review your own choice of book. There is the free page for guests, too. In case you have an urge to write your own reviews. Or maybe for parents who just find the great book for the children and wanna share to the other children all over the world, I am welcoming you to write!

Well, back to the topic. The abandonment is really have a good reason, right? I hope you think it is. And if you don’t, you may silent forever. L.O.L

Now, I’m back to the game. Hopefully, with a big steel anchor of powerful wills and a giant whirling propeller to drive me further, I will be able to handle few blogs in one go. Yes, I know, hope will never be enough without the actual action.

So, here we go!

Madness

 

Jakarta_terrorist-_3549236b
Source Image : http://www.telegraph.co.uk

Run. Run.

Run!

Every nerve in my entire body scream. If they had lung, they would take a very good use to it. I kinda grateful, they don’t. My whole body shivers of the tickling sensation suddenly rush into my blood. The energy suddenly came uninvited overrule the logic of my brain. Sensation so ecstatic, yet horrifying.

This house is empty, but there seems every sound decided to make an assembly. Converged in the center of the room. The ticking sound of clock, the whirl of summer breeze wind, the leaves brushed each other, the faint of people’s voice from distance might be so far away.

Have you ever done yourself consecutively 48 hours sleepless? It felt like every pore of your skin wide open, accepting everything that crawls over it. Like a fanatics accepting each and every word from their heroes. No need to filtrate, they just believe.

And their brain became meaningless. Only instincts.

I close my eyes, absorb every sensation, every sensory, my brain has magnetized them all. Built them up inside my mind, create one big fuss of tornado. I want them to stop, I want them to stay. I love them, yet I’m afraid of them.

Water will calm them down. I feel like floating, walk thoughtlessly to the bathroom. I splash my face with the transparent crystal water. They are purifying the lost soul. Wash every dirt, every germs of life. “I gotta do this,” the sound of whisper so loud in my ear. “I am the chosen one.”

I am the chosen one.

They tell me that I am special. They tell me I am the chosen one. So, I gotta do this. I will be the hammer of the God. The messenger of the world that has been so corrupted. The bag pack is ready. It is only a simple bag pack. Just like me, we are sharing the resemblance. At one glance, no one will recognize us. They kept passing by, never care, took no notice. Don’t you think it will be the day that everyone understands us? That we are matter. That we are valuable.

“Come, my friend. We will be one.”

To Sarinah(1) we go. To consign the commandment of God people started to forget. More so, they started to forget God. How come I forgive such a sin?

It feels like floating, I can’t feel my leg. I can’t feel anything but big fuss of tornado attacking my mind. Blinding my vision as I come into the van that take me to the location. The sacred place we chose to execute the God’s will. They told me so, I will just believe them.

My eyes wide open. I found myself in the middle of open street. Big road of Sarinah. Everyone is finally looking at me, consider me, acknowledge me. They are running around frantically, policemen surrounded me and my only friend. Two persons, that’s all you need to bring out the ruckus.

I feel my pulse beating like crazy. My heart is thumping out. Under the big wide open sky, the sun shine upon me like the enormous endless spotlight. The policemen, they’re trying to stop me.

Don’t they understand? I don’t want to be stopped. Nor be forgiven. I will be forever in your mind, stuck like a parasite that invade your nightmares. I want you to be scared, I want you to remind me, forever.

God, make me yours. Make me matter. 

Footnote :

(1) At January 14th, 2016, two people attacked Sarinah, Central Jakarta, Indonesia, terrorizing people with suicidal bombs and gunfire.

Mudik oh Mudik

 

2017-02-08-PHOTO-00001027
Sumber : kompas.com

Selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1438 H (maap kalau salah, suka nggak apal tahun hijriyah hehe)

Bahkan, di hari raya ini, semua orang melupakan perseteruan dan kebencian, lalu saling minta maaf dan saling memaafkan (budaya Indonesia banget, kalau ada yang minta maaf, wajib memaafkan 😀 )

Sejenak, timeline FB yang tadinya panas nggak henti-henti itu menjadi sejuk. Cuma satu yang nggak sejuk-sejuk, berita soal mudik. Berapa orang yang meninggal kali ini, untuk menjalankan tradisi yang dipertahankan? Sebenarnya, tradisi yang dipertahankan itu yang baik, yang unik, bukan yang mematikan begitu. Silaturrahmi itu kapan saja, toh. Uang THR-nya bisa ditabung dulu, buat dipakai kapan aja mau pulang… Dan nggak harus berduyun-duyun di satu waktu.

Ah, tradisi…

Kalau boleh jujur, aku suka tradisi. Maksudnya, sesuatu yang membudaya dan jadi karakter khas bangsa itu adalah sesuatu yang menarik, menawan hati. Tapi, bukan berarti logika hilang cuma karena tradisi. Kita bisa memilah tradisi yang menyenangkan, daripada yang mengharu-biru demi memuaskan hasrat si drama, the dark side of us always…

Libur sekolah?

Anak nggak bakalan jadi bodoh libur seminggu aja, dan orang tua bisa bantu mengejar ketertinggalan anak minta les tambahan dari guru, gurunya juga pasti seneng…

Cuti lebaran?

Kalau cuti-cuti lain dihemat-hemat dan lalu bisa ambil cuti besar, bukankah malah jadi bisa tinggal lebih lama dengan keluarga, daripada cuti lebaran yang paling berapa hari sih?

Bermaaf-maafan pas lebaran?

Ah, pengalamanku juga kebanyakan kita maaf-maafan lewat whatsapp, twitter, facebook, segala macam media sosial lain. Sekarang teknologi komunikasi sudah canggih, dimanfaatkanlah untuk jadi  kebaikan. Jangan buat jadi ajang gosip dan debat kusir aja.

Dan lagi, sejak kapan kita disuruh maaf-maafan pas lebaran sama Allaah? Untuk perayaan aja, sebenarnya lebih tepat kalau kita pesta (makan-makan) pas Idul Adha. Itupun dengan tetangga, keluarga terdekat sehari-hari juga bisa…

Well, apapun itu, kalau emang itu yang bikin seneng, silakan aja, sih… 😀

Terlampir sumber soal berita kecelakaan pas mudik tahun 2017 : silakan klik di sini

 

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 2)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Cerita eh artikel sebelumnya…

Dua hal pertama yang kutemukan waktu mulai mencoba menulis cerita fantasy. Mengembangkan logika cerita dan menyesuaikan setting lokasi dan waktu yang tepat itu susah banget. Terutama, karena ini dunia fantasy, yang budaya dan adat istiadat makhluk-makhluknya harus kita bentuk dari awal dan kita atur lagi. Apalagi kalau makhluknya fantasy. Imajinasi kita harus luas dan nggak terbatas banget!

Buat part 1-nya, coba klik link ini : Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

Nah, sekarang lanjut lagi. Karena emang bukan 2 hal itu aja yang bikin rumit. At least, buatku 😀

Ketiga, menetapkan nama-nama dan istilah-istilah. Kita bicara soal negara baru atau dunia baru. Mungkin malah dimensi waktu dan ruang yang lain dari realita. (Dunia orang mati, mungkin?) Buatku, ini yang paling susah. Nentuin nama tokoh aja kadang-kadang bisa bikin stuck berhari-hari, apalagi kalau ada istilah baru atau bahasa baru, dan nama-nama negara, provinsi, makhluk-makhluk baru?

Intermezzo : itulah enaknya kolaborasi, kita bisa delegasikan tugas yang susah sama teman dan bisa meringankan beban dua kali lipat :p

Jangan lupa juga nama ini nggak bisa sembarangan. Kalau makhluk menyeramkan dan jorok disebut Troll, terkesan cocok aja, kan? Kalau kita namain dia bunny atau tweety pasti rasanya ada yang janggal (karena sadar atau nggak, kita terikat sama norma-norma yang kita pelajari dari dunia nyata).

416HARSDA3L
Penamaan tokoh biasanya menggambarkan karakternya. Seperti troll, makhluk yang biasa digambarkan buruk rupa dan jahat. Gambar diambil dari http://www.amazon.com

Mau ngasi twist? Tentu saja boleh, tapi harus ada alasan yang masuk akal untuk itu. Misalkan, apa sejarahnya makhluk itu dinamai lucu dan cute begitu? Rasanya, kalau nggak sesuai sama aturan yang dipersepsikan normal sama orang-orang, susah buat pembaca mengembangkan imajinasinya. Kita bicara teks tanpa gambar soalnya. Lain hal kalau bicara soal picture book, ada gambar yang menjelaskan maksud si penulis.

Lupakan soal kesan, beberapa nama juga harus punya filosofi tersendiri. Kayak Pancasila, dinamakan begitu karena ngambil dari bahasa Sansekerta, “Panca” yang artinya “lima” dan “sila” yang artinya “prinsip/asas.” (Kok jadi PPKn? Haha…) Orang tua aja milih nama buat anak karena ada kandungan doa (ada artinya) di dalam nama anak yang mereka pilih, kan? Apalagi, kalau bicara soal logo atau lambang (negara/organisasi misalnya) yang selalu punya simbolisasi, selalu punya filosofi di baliknya.

Keempat, pengembangan kepribadian setiap karakter. Ingat kan, kalau di part pertama aku udah bahas soal penentuan lokasi yang bakal menentukan budaya? Nah, yang namanya budaya itu pasti menentukan pola tingkah laku tiap-tiap manusianya. Bisa dibilang break down dari aspek-aspek budaya itu, deh.

Kayak di Lord of the Rings (maap ya, referensiku soal novel fantasy emang cuma dua ini hehe), ada makhluk namanya hobbit (again?!). Kita bisa lihat kalau dunia hobbit itu indah dan damai, kan? Dengan begitu, masyarakatnya mudah percaya satu sama lain, mereka jarang berkonflik. Ini kelihatan dari sikap Frodo dan Sam ke Gollum. Frodo begitu aja jatuh kasihan dan percaya sepenuhnya sama Gollum. Sedangkan, sekalipun Sam nggak percaya sama makhluk licik itu, dia juga nggak begitu aja mengkonfrontasi Gollum secara langsung, kan?

Atau kita bisa liat Merry dan Pippin, yang menurutku lebih agresif ketimbang Frodo dan Sam, mereka tetep beda sama Dwarf yang agak kasar dan beringasan. Kalau ada konflik, mana ada mereka langsung serang dan sebagainya. (Trus, nama mereka cute, menggambarkan karakter mereka yang juga imut-imut?)

Artinya, keempat hobbit itu punya perbedaan karakter, tapi mirip secara fundamental. Mereka bertengkar dan berkonflik, tapi nggak melewati batas-batas budaya mereka. Artinya, kalau budaya kita tentuin lagi, berarti perkembangan kepribadiannya juga harus disesuaikan dengan budaya baru yang kita tentuin itu.

Susah banget nggak, sih? Tenang aja, kita masih bisa nyontek-nyontek dikit, kok. Misal tentang hobbit itu, kita bisa nyontek itu dari budaya masyarakat adat, kayak Suku Badui Dalam, atau yang baru-baru ini booming, Petani Kendeng. Mereka sedikitnya, punya sifat yang lumayan sama dengan para hobbit ini (berdasarkan dari observasi mentahku, ya). Mereka masyarakat homogen yang kurang suka berkonflik dengan pola pikir sederhana.

Tapi, harus tetap ingat kalau cuaca, iklim, suhu, tingkat kebisingan daerah, dan segala macam model demografis lainnya, itu menentukan kepribadian, jadi jangan pernah lupa untuk menyesuaikan unsur itu ke dalam karakter.

Terakhir, (minimal yang kepikiran, ya) tentu saja konflik politiknya. Kalau bukan novel dengan tema tentang politik pasti mikirnya nggak bakalan perlu beginian, kan? Salah besar. Yang namanya politik itu ada di mana aja dan diterapkan di mana aja. Misal, jomblo lagi nyari pacar, nih. Politik mereka adalah dandan secakep mungkin, ngasi kode-kode ke lawan jenis, dan segala macam strategi lainnya. Itu juga politik, lho.

Bayangin kalau konflik politik ini terjadi di dunia fantasy. Misal, di Lord of the Rings, ada Saruman dan Gandalf. Saruman punya tujuan menguasai cincin. Gara-gara itu, ia menghalalkan segala cara. Lalu, muncul Gandalf yang berniat menghalangi dia mencapai ambisinya. Ini lagi-lagi harus ada hubungannya dengan logika cerita dan masing-masing kepribadian tokoh.

gandalf-saruman
Gandalf dan Saruman mulai berkonflik sejak Saruman berambisi menguasai cincin untuk dirinya sendiri. Gambar diambil dari http://www.dreager1.wordpress.com

Misal, Saruman ambisius. Maka, politiknya adalah dia mencoba menghancurkan orang-orang yang menghalangi dia. Gollum, dia berniat menguasai (sebenernya dia yang dikuasai) oleh cincin terkutuk itu, akhirnya dia menipu Frodo dan Sam. Lalu, Frodo yang punya misi dan Sam yang bertugas menjaga Frodo. Ini break down lain dari budaya dan karakter, mereka menentukan hubungan antar tokoh.

Biasanya, yang paham hal-hal begini adalah gamers, tepatnya pecinta game-game RPG. Emang basis game RPG itu biasanya novel fantasy, jadi bisa juga jadi cara asyik untuk memahami alur di novel fantasy lewat games kayak gini. Untuk yang suka fantasy dan pengen nulis novel fantasy, jangan nyerah dulu karena kesulitannya, ya! Kalau sukses, bisa jadi games dan terkenal di mancanegara, lho… 😉

 

 

 

A Tale of Two Cities (part 2)

charles dickens
Gambar diambil dari amazon.com

 

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classic

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris

 

Jangan tanya ini sampe part berapa karena akupun tak tahu. Halah… Intinya, karena aku bakal baca buku ini lama banget, tapi aku gak sabar ngasi per detailnya, akhirnya jadi begini, deh. Kutulis satu per satu review yang bakal sangat panjang ini.

Alasannya, karena dari awal aku udah dikejutkan dengan paragraf pembuka yang apik banget. Keren dan ngena banget. Bahkan, aku pikir2 cocok banget dengan kondisi sekarang ini. Hanya saja, bukan lagi soal Perancis dan Inggris, tapi tentang Amerika dan Indonesia. Jakarta dan Washington DC deh, karena kan judulnya “cities” hehe…

Dan untuk review sebelumnya, aku mau ralat. Aku dengan pedenya bilang aku udah nyampe halaman 60, tapi setelah ditilik baik-baik, aku baru sampe halaman 26! What the…

Ada apa dengan konsentrasi membacaku yang makin rendah ini?Btw, kalau mau baca review sebelumnya, yang emang cuma sampe halaman 26 itu (aneh, ya! haha…) silakan baca di sini; A Tale of Two Cities (part 1) dan kalian akan menemukan isi paragraf dari buku ini yang keren banget.

Aku sampai pada cerita dimana orang yang telah terpenjara (terkubur; kayak penjara bawah tanah gitu) ternyata punya seorang putri dan akhirnya mereka bertemu. Dan biasalah, penulisnya pasti membuatnya jadi haru-biru.

Monsieur Manette, si napi itu, hidup tanpa gairah sekarang. Dia melanjutkan hidupnya yang tertunda, dengan membuat sepatu, di bawah perlindungan seorang pria Perancis pemilik Wine Shop, Monsieur Defarge. Setelah 18 tahun terkubur hidup-hidup, Monsieur Manette tentu saja kehilangan pegangan soal makna hidup.

Ini deskripsi dari Charles Dicken :

The faintness of the voice is pitiable and dreadful. It was not the faintness of physical weakness, though confinement and hard fare no doubt had their part in it. Its deplorable peculiarity was, that it was the faintness of solitude and disuse. It was like the feeble echo of a sound made long and long ago. So entirely had it lost the life and resonance of human voice, that it effected the senses like a once beautiful color faded away into a weak poor stain. So sunken and suppressed it was, that it was like a voice underground. So expressive it was, a hopeless and lost creature, like a famished traveller, wearied out by lonely wandering in a wilderness, would have remembered home and friends in such a tone before lying down to die.”

Good, eh? Penggambaran dari suara Monsieur Manette ini menjadi simbolisasi dari kondisi dia secara keseluruhan. Lost and hopeless creature. Dan sekarang, dia siap dibawa ke negeri Inggris oleh putrinya.

Wonder it will be very boring, tapi biar, deh. Rasanya ini lebih jadi curhatan daripada review yang sebenar-benarnya. Yang pasti bahasa Inggrisnya bener-bener susah, karena Charles Dickens itu dari Britania dan bukannya Amerika, yang bahasa Inggrisnya banyak dipelajari di seluruh dunia.

Well, whatever, yang pasti aku nemuin lagi kata-kata indah dari Charles Dickens, dan mau kuabadikan satu per satu di blog. Soalnya, kalau gak, pasti lupa hehe.

Here’s another :

…to the calm that must follow all storms – emblem to humanity, of the rest and silence into which the storm called Life must hush at last…”

Kalimat singkat yang menggambarkan hidup itu penuh masalah, yang tentunya akan selesai satu hari (siapa yang tahu satu hari itu sampai mana). Satu hal yang aku sadari dari Charles Dickens adalah dia suka mem-personifikasi hal-hal penting. Kayak Life di atas. Atau Hunger di paragraf sebelumnya.

 

Masyarakat Adat yang Jauh Lebih Modern

sawah_kita_by_nooreva-d5q63ap
Gambar diambil dari DevianArt by nooreva

 

Please don’t judge me. Aku tahu ini topik yang udah rada basi, tapi karena aku lagi off kemaren dari segala macam berita dan medsos, jadinya bener-bener ketinggalan.

Akhir-akhir ini, berita soal Petani Kendeng lagi banyak ditampilkan. Aku sering denger, tapi baru kali ini tahu apa masalahnya. Lagi-lagi, masyarakat adat vs pengusaha.

Oke, aku sebelumnya nggak pernah tahu soal kasus masyarakat adat dan pengusaha, tapi oh come on, it’s so easy to guess! Masyarakat adat dipinggirkan karena ada kapitalis lagi nyari untung. Terjadi dimana-mana. Sejarah juga banyak membuktikan.

Di Indonesia, keberadaan masyarakat adat adalah sesuatu yang masih dihargai dan diakui secara hukum. Seberapa baik penghargaannya? Ternyata, nggak begitu baik. Soalnya, orang Indonesia sibuk nyari duit. Salah nggak? Nggaklah, siapa yang nggak butuh duit. Tapi, kalau banyak duit, tapi kita nggak punya apapun untuk dimakan, oksigen yang semakin tipis karena kita tebang semua pohon, dan banjir dimana-mana karena nggak ada daerah serapan air, apa gunanya, sih?

I don’t get human somehow. Eh, aku juga manusia, ya?

Di satu sisi, aku menyukai perkembangan teknologi. Aku menyukai kemajuan, karena bagaimanapun, kemajuan juga membawa banyak hal positif. Pengobatan, misalkan. Pendidikan parenting (karena aku orang tua yang butuh itu).

Ups! Pendidikan parenting ternyata kita nggak begitu maju, lho. Kita, masyarakat kota, yang katanya sangat beradab, jauh ketinggalan masalah yang satu ini.

Dari kakak iparku (credit for her) yang suka traveling, di Badui Dalam, mereka nggak butuh ahli parenting untuk mengatakan ke mereka, kalau anak melakukan kesalahan, ya dibilangin, nggak perlu dikasarin or such. Sementara, masyarakat kota??? Guru nyubit anak murid malah dibelain, katanya mencubit dan memukul itu biasa untuk pengendalian perilaku. Sementara, di Badui Dalam, dengan pendidikan parenting yang begitu, mereka tentram dan saling bersahabat tanpa banyak konflik. Kalaupun ada, selesai tanpa harus kasar dan menjelek-jelekkan orang lain. Sejak kapan peradaban modern justru membuat kita mundur jadi manusia purba?

Dan masyarakat adatlah yang punya cukup etika untuk menjaga alam. Masyarakat Badui Dalam punya aturan hanya boleh panen padi setiap 6 bulan sekali dalam setahun. Karena mereka percaya bahwa mereka nggak boleh tamak dalam mengambil hasil alam. Dan, kebetulan sangat, ibuku pernah cerita, bahwa dulu di Sumatera Barat, panen dilakukan 6 bulan sekali,  sebelum pemerintah (bodoh, maaf, aku nggak tahan) mengubahnya jadi 3 bulan sekali. Akibatnya, kualitas beras di Sumatera Barat menurun drastis. Dulu, kata ibuku, beras dari sawah di kampung, rasanya enak banget. Beda sama yang sekarang. Sedih.

Masyarakat Samin, termasuk petani dari pegunungan Kendeng, juga sama sekali nggak menggunakan bahan-bahan kimia untuk pertanian mereka. Mereka menggunakan bahan alami, kayak kotoran sapi dan jeroan sapi (yang masih fresh, dari sapi yang baru disembelih, kurang-lebih) dihancurkan dan diproses jadi pupuk. Artinya apa? Mereka punya kualitas beras yang jauh lebih baik daripada yang kita makan sehari-hari. How sad is that?!

Tapi, kapitalis nggak pernah puas. Dengan alasan membangun perekonomian, mereka bangun pabrik dimana-mana. Padahal, Indonesia itu negara agraria. Kalau kita bisa fokus di agraria, dan mengekspor itu semua, perekonomian kita juga bisa maju. Tanah kita sangat subur, ingat?

Aku rasa, kita harus melepas satu gelar indah lagi dari Indonesia.

Kalau aja masyarakat Indonesia lebih percaya diri untuk mengolah semua hasil alamnya sendiri. Dan kita bisa mendepak semua pihak yang maunya memperkaya diri dari berbagai tender dan investasi asing, mungkin kita akan jauh lebih kaya. Aku nggak anti investor asing ya, tapi tolonglah proporsinya diatur. Kebanyakan!

Selamat tinggal, etika dan moralitas. Sejak kapan civilization menjadi kata yang begitu menakutkan? Sejak kapan peradaban justru menghancurkan manusia daripada membangunnya?

Selamat datang, kanker dan penyakit mematikan lainnya. Hanya karena kita terlalu malas untuk memperjuangkan kesejahteraan alam, yang padahal menghidupkan kita juga.

Tanpa kita sadari, ternyata masyarakat adat jauh lebih maju daripada masyarakat, yang katanya, modern. Internet ternyata nggak cukup bikin kita pinter (akhir-akhir ini, malah membuat kita jadi makin bodoh). Begitulah, dengan berkurangnya kepedulian akan lingkungan sekitar kita, baik pada manusia dan alam, manusia hanya akan jadi hewan. Hanya dengan rasa peduli, kita jadi manusia seutuhnya.

Teriring doa bagi masyarakat adat, semoga masyarakat adat tetap terjaga dan terhormat di atas bumi Indonesia.

 

 

Depok, 29 Maret 2017

Budaya Indah Orang Indonesia; Terima Kasih

 

terima-kasih
Gambar diambil dari hipwee.com

 

Inkonsistensi adalah kata yang menyeramkan. Nggak cuma kelihatan bikin orang jadi kurang punya integrasi, bahkan orang tua yang konsisten juga bisa merugikan pola didik anak. Dan itulah aku. Dengan inkonsistensi dalam mood nulis ini, sesuatu yang harusnya dilakukan sejak lama, jadi ketunda sampe sekarang. Cerita ini terjadi waktu aku memutuskan mengajak anakku ke Habibie Festival.

Astaga, tahun lalu lho, itu ceritanya ^^;

Tadinya, pengen cerita soal Habibie Festival. Perlu nggak, ya? Mungkin nanti. Jadi, setelah nanya-nanya gimana caranya ke Museum Gajah (tempat festivalnya dilangsungkan), akhirnya aku memutuskan untuk naik commuter line ke Stasiun Gondangdia. Dan jalan kaki ke Sarinah. Ada yang kaget? Soalnya, aku kaget, karena lokasinya jauh banget ternyata.  Pas pulang, baru aku tahu kalau city tour bus yang bertingkat itu (dan gratis! Ini yang paling penting!), salah satunya lewat Masjid Istiqlal (ada dua rute, lupa nama rutenya apa). Trus, masjid Istiqlalnya sebelahan sama Stasiun Juanda. Aih!

Tapi, itulah gunanya pengalaman. Sedikit-banyak, dia memberimu pelajaran.

Bus bertingkat itu udah nggak kayak waktu aku SD dulu, sekitar tahun 1995-1996. Aku masih ingat bagaimana besi-besi karatan dengan cat-cat dominan putih terkelupas. Agak sedikit mengerikan memang naik bis kayak gitu dulu. Tapi, rasa penasaran kekanak-kanakan mengalahkan segala-galanya. Itu makanya, waktu naik bis ini jadi nostalgik banget. Kok bias, sih?

Langsung ke pokok permasalahan. Waktu aku nunggu city tour bus ini, ada 2 lelaki bule yang juga nyamperin tempat nunggu bisnya. Mereka celingak-celinguk bingung gitu, trus tiba-tiba noleh. Kemana? Ke aku laaah (norak ceritanya). Dia lalu nanya dengan Bahasa Inggris penekanan yang buatku aneh. Mungkin antisipasi kalau-kalau orang yang diajak bicara nggak bisa bahasa dia.

Jadi inget film “Mr. Morgan’s Last Love” dimana ada penjual roti di Paris bilang ke Mr. Morgan, yang notabene orang Amerika, “kenapa Orang Amerika ini tinggal di negara orang, tapi nggak mau belajar bahasanya? Nggak semua orang paham bahasamu!” Dia bilang dalam Bahasa Perancis ini ya, dan tujuannya tentu aja buat mengejek Mr. Morgan yang jelas-jelas nggak paham bahasanya dia. Tampaknya pendapat penjual roti itu emang jitu.

Balik ke si bule, dia nanya, “where can I get the ticket for this bus?” Kebetulan aku baru liat plang bisnya, jadi aku jawab, “I think it’s free.”

Oh, it’s free!” Lagi-lagi, dengan penekanan nggak perlu. Asli, berasa dianggap sama anak kecil sama tuh bule menyebalkan. Trus, baru aja aku mau nambahin, “well it’s my first time, too…” Dan suaraku perlahan lenyap karena si bule udah balik badan dan ngomong lagi ke temennya. Nggak bilang terima kasih pula.

Daripada kesel, bisa dibilang aku kaget. Kok nggak bilang terima kasih? Atau setidaknya gesture terima kasih lain. Akhirnya, suara lain dalam kepala langsung bilang, mereka kan bule, budayanya beda…

Sebelum itu, aku pernah ngobrol sama kakak ipar yang suka traveling ke luar negeri. Dia bilang kalau emang Indonesia beneran negara yang penduduknya paling ramah. Baik di Korea maupun di Thailand, orang-orangnya kebanyakan galak dan jarang senyum. Satu Youtuber Jepang pernah mencoba membuktikan perbandingan antara keramahan orang Indonesia, dengan cara mengerjai turis domestik Indonesia di Bali dengan turis asing. Terbukti kalau orang Indonesia, begitu si Orang Jepang ini minta maaf, yang dikerjain langsung senyum. Kalau yang turis asing, langsung pergi sambil cemberut. Ada lagi survey yang menyatakan kalau Indonesia salah satu negara yang paling dermawan di dunia (walaupun kedua di Asia Tenggara yang paling banyak sampahnya di laut, sekilas info hehe)

Jadi, seharusnya aku nggak perlu kaget. Tapi, yang namanya biasa banget berbasa-basi bilang terima kasih dan senyum, terus-terang aku jadi rada kurang biasa ngeliat orang nggak bilang terima kasih begitu.

Bukannya gila hormat ya, tetapi ada perasaan menyenangkan saat orang bilang terima kasih ke kita. Biarpun mungkin kebanyakan dilakukan atas dasar basa-basi dan kebiasaan aja, saat orang bilang terima kasih, rasanya orang itu baru aja bilang apa yang kita lakukan buat dia benar-benar membantu dia dan mereka menghargai itu. Tentu saja, rasa bangga pada diri kita sendiri tergelitik dan kita jadi senang. Setidaknya, aku merasakan itu.

Budaya yang begini, benar-benar nggak boleh hilang dari orang Indonesia. Maksudku, itu karakter kita. Khas orang Indonesia. Apalagi, karakter itu berupa menghargai orang lain, sesuatu yang baik dan menyenangkan.

Dan aku berharap juga, semoga kebiasaan-kebiasaan ini bisa menghilangkan perselisihan-perselisihan yang banyak terjadi sekarang ini. Jangan cuma ramah sama orang asing, seharusnya kita juga ramah dengan anak bangsa kita sendiri.

Semoga perselisihan setiap masa pemilu nggak berlanjut kemana-mana. Lebih baik lagi; nggak perlu ada musuh-musuhan setiap kali pemilu. Capek amat, kan… Tetep disambung-sambungin ke sini… Hehe…

 

 

 

 

 

Di Kolam Renang

image
Dia melemparkan tumpukan baju. Agak marah. Marah pada siapa, dia sudah tidak tahu. Yang pasti, dia terus-menerus marah. Menghembuskan napas keras, ia duduk. Menghempaskan tubuhnya sendiri ke lantai yang dingin.

Lantai itu…

Dipenuhi kertas-kertas terserak. Serpihan kecil warna-warni crayon. Sekaligus dengan induk mereka. Berbagai miniatur kendaraan; mobil, kereta api, semua yang beroda. Bagaimana cara membereskan semua?

Saat-saat begini, ia membayangkan dirinya duduk di ruang ber-AC. Di tengah kubikal kecil, tapi teritorinya sendiri. Tidak, bahkan bosnya, punya hak mengutak-atiknya. Tidak juga rekan sekerjanya yang selalu penasaran. Sekarang, semuanya hilang. Tidak ada tempat khusus untuknya. Tubuhnya pun sudah bukan miliknya sendiri.

Menahan tangis frustasi, ia melipat baju. Pikirannya penuh dengan hal-hal jahat. Membakar rumah, misalnya. Membuang semua mainan tidak peduli akan air mata yang pasti tumpah karenanya. Sekadar memuaskan hasrat duniawinya, menyenangkan diri sendiri.

“Maaaa,” anaknya pulang. Satu-satunya, yang berumur 5 tahun. Belum sempat bicara apa-apa, si bocah lelaki sudah kena semprot.

“Kalau mau main yang lain, beresin dulu yang ini!” bentak ibunya, merengut kesal. Tatapannya penuh kebencian pada anaknya sendiri. Putranya melongo. Tidak berani lagi bicara. “Berantakin rumah, tapi nggak mau beresin! Harusnya kamu tanggung jawab, dong!” Semua kata-kata itu diikuti geraknya yang beringasan membereskan rumah.

Harusnya aku kerja di kantor! batinnya kesal. Biar saja anaknya diurus siapa saja, asal bukan dirinya sendiri!

***

“Ada lowongan kerja?” Tanyanya sumringah. Mungkin dia masih punya kesempatan. Umurnya belum genap 30, seharusnya ada satu pekerjaan untuknya. Memperoleh kubikal itu. Teritorialnya sendiri. Juga, harga diri ketika mengenakan blazer, kemeja yang rapi, dengan polesan make-up yang serasi.

Dia akan menggunakan intonasi itu. Suara yang sengaja dikeluarkan dari rongga dalam tenggorokan, mengesankan wibawa. Mengutak-atik power point atau mungkin aplikasi presentasi terbaru. Mempersiapkan diri untuk menunjukkan proposal. Segala kata-kata teknis yang memukau telinga. Yang membuat orang berdecak kagum.

Bukan cuci piring dan menyapu, yang bisa dilakukan siapa saja. Yang bisa dilakukan bahkan tanpa pendidikan apapun! Dia ingin menjadi ‘seseorang.’ Dia ingin merasa berharga. Menjadi seseorang di tengah sorot cahaya.

“Iya, cepetan lamar kerja. Sayang itu ijazah fungsinya apa?” Sindiran seperti biasa. Hampir semua orang, keluarganya, teman-temannya, melemparkan kalimat tajam tak berbelas kasihan itu. Heran juga, apa yang mereka dapatkan kalau dia memutuskan untuk kerja lagi?

Dia melihat e-banner yang pasti dibuat oleh desainer grafis perusahaan itu. Membayangkan ia berkenalan dengan profesional dengan skill-skill yang dihargai orang. Dan ia akan jadi salah satunya.

Soal anaknya? Ada begitu banyak ART yang bisa menggantikan. Tidak perlu dirinya. Toh dia akan selalu bertemu anaknya ketika pulang kerja. Ia melihat teks balasan dari temannya. Ia dipanggil wawancara! Oh! Tentu saja…

“Mama,” suara nyaring itu menyapanya. Anaknya bertelanjang dada, basah dan berkilau. Di sekeliling mereka, kolam-kolam dengan air jernih, biru dan hijau pastel. Dengan pantulan sinar matahari yang membias ke seluruh kolam.

Ibunya menghela napas. Apa lagi kali ini? “Ayo, sana les. Biar pinter berenangnya!” Sekali saja, ia ingin lepas dari panggilan menuntut itu. Tidak hanya 9 bulan di kandungan, ternyata beban itu masih memberatinya hingga kini.

“Tapi, hidungku sakit kalau bubble.”

“Nak, kamu harus bubble kalau mau berenang.” Segala macam ilmu parenting berseliweran di kepalanya, mencegahnya untuk tidak membentak-bentak. Ilmu yang juga membuatnya terkungkung di dunia yang sama sekali tidak rasional ini; membesarkan satu jiwa bebas dengan kesabaran tingkat tinggi.

Anaknya cemberut, berusaha mencari kata-kata lain. Tapi, ia kenal raut wajah itu. Raut wajah yang sedang tidak mau berkompromi. Bocah lelaki itu lalu lari lagi ke arah guru les renangnya.

Ibunya mengernyit agak kesal, mendapat gangguan. Sekilas kemudian, ia memfokuskan diri lagi ke ponsel pintarnya. Dia akan mengetik jawaban itu; ya.

Ibu jarinya berhenti di tengah-tengah. Ia menegakkan lehernya, mencari sosok anaknya. Jangan sampai si anak melobi guru lesnya untuk melewatkan pelajaran paling penting dalam renang, bernapas dalam air.

Guru lesnya tengah memegangi tangan anaknya. Tidak memegangi tubuhnya, hanya kedua tangannya yang terentang. Lalu, setiap dua atau tiga menit, kepala anaknya masuk ke air beberapa detik. Ia tercengang. Anaknya susah sekali kalau disuruh memasukkan kepalanya dalam air. Wanita itu lupa pada ponselnya.

Kini, pikirannya mengulang rekaman yang telah lalu. Anaknya, yang dengan teguh berusaha berguling. Jalan pertamanya yang tertatih. Kali pertama ia mengeja ‘lama’ dan mengetik ‘commuter.’

Dan banyak lagi. Terlalu banyak untuk ia hitung.

Setelah ini, mungkin ia akan mengomel lagi. Bahkan, bentakan yang sangat terlarang dalam dunia parenting itu akan keluar dari bibirnya. Tanpa tercegah.

Tapi…

Ia tersenyum. Lalu, teringat pada ponsel pintarnya yang terabaikan. Dia mengetik jawaban yang sudah dipersiapkan.

“Kurasa aku mau menyia-nyiakan ijazahku lebih lama.”

Ratapan Sang Saka

 

Pagiku begitu merah
Merekah menentang siang
Aku berdiri di tiang terpancang
Menunggu
Ia tak kunjung datang
Oh, damaiku

Siangku begitu terik
Menyengat dengan pelik
Aku tetap di sini
Berharap, berharap, berharap
Padanya yang tersenyum
Saling mendekap mesra

Malamku begitu kelam
Menguak tabir seram
Mengapa pula aku di sini?
Malam tak lagi kelam damai
Menyerah ia pada api hati
Membisu terperi

Wahai pujangga merah
Mengapa engkau menggoreskan penamu?
Di hatimu genderang bertalu
Mengibarkan panji perjuangan semu
Tidak adakah aku di hatimu?

Aku mengalir di nadimu
Mebalut belulangmu
Pun aku menyaksikanmu menghancurkannya

 

Catatan penulis :

Ini puisi yang kutulis beberapa tahun lalu, waktu itu demonstrasi anarkis lagi marak-maraknya. Yang mengerikannya, ternyata puisi ini cocok juga disesuaikan dengan kondisi sekarang ini. Walaupun dengan bentuk yang lebih simbolis…

So, jangan bikin bendera kita ternoda, ya… 😉