Category Archives: Uncategorized

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 2)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Cerita eh artikel sebelumnya…

Dua hal pertama yang kutemukan waktu mulai mencoba menulis cerita fantasy. Mengembangkan logika cerita dan menyesuaikan setting lokasi dan waktu yang tepat itu susah banget. Terutama, karena ini dunia fantasy, yang budaya dan adat istiadat makhluk-makhluknya harus kita bentuk dari awal dan kita atur lagi. Apalagi kalau makhluknya fantasy. Imajinasi kita harus luas dan nggak terbatas banget!

Buat part 1-nya, coba klik link ini : Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

Nah, sekarang lanjut lagi. Karena emang bukan 2 hal itu aja yang bikin rumit. At least, buatku 😀

Ketiga, menetapkan nama-nama dan istilah-istilah. Kita bicara soal negara baru atau dunia baru. Mungkin malah dimensi waktu dan ruang yang lain dari realita. (Dunia orang mati, mungkin?) Buatku, ini yang paling susah. Nentuin nama tokoh aja kadang-kadang bisa bikin stuck berhari-hari, apalagi kalau ada istilah baru atau bahasa baru, dan nama-nama negara, provinsi, makhluk-makhluk baru?

Intermezzo : itulah enaknya kolaborasi, kita bisa delegasikan tugas yang susah sama teman dan bisa meringankan beban dua kali lipat :p

Jangan lupa juga nama ini nggak bisa sembarangan. Kalau makhluk menyeramkan dan jorok disebut Troll, terkesan cocok aja, kan? Kalau kita namain dia bunny atau tweety pasti rasanya ada yang janggal (karena sadar atau nggak, kita terikat sama norma-norma yang kita pelajari dari dunia nyata).

416HARSDA3L
Penamaan tokoh biasanya menggambarkan karakternya. Seperti troll, makhluk yang biasa digambarkan buruk rupa dan jahat. Gambar diambil dari http://www.amazon.com

Mau ngasi twist? Tentu saja boleh, tapi harus ada alasan yang masuk akal untuk itu. Misalkan, apa sejarahnya makhluk itu dinamai lucu dan cute begitu? Rasanya, kalau nggak sesuai sama aturan yang dipersepsikan normal sama orang-orang, susah buat pembaca mengembangkan imajinasinya. Kita bicara teks tanpa gambar soalnya. Lain hal kalau bicara soal picture book, ada gambar yang menjelaskan maksud si penulis.

Lupakan soal kesan, beberapa nama juga harus punya filosofi tersendiri. Kayak Pancasila, dinamakan begitu karena ngambil dari bahasa Sansekerta, “Panca” yang artinya “lima” dan “sila” yang artinya “prinsip/asas.” (Kok jadi PPKn? Haha…) Orang tua aja milih nama buat anak karena ada kandungan doa (ada artinya) di dalam nama anak yang mereka pilih, kan? Apalagi, kalau bicara soal logo atau lambang (negara/organisasi misalnya) yang selalu punya simbolisasi, selalu punya filosofi di baliknya.

Keempat, pengembangan kepribadian setiap karakter. Ingat kan, kalau di part pertama aku udah bahas soal penentuan lokasi yang bakal menentukan budaya? Nah, yang namanya budaya itu pasti menentukan pola tingkah laku tiap-tiap manusianya. Bisa dibilang break down dari aspek-aspek budaya itu, deh.

Kayak di Lord of the Rings (maap ya, referensiku soal novel fantasy emang cuma dua ini hehe), ada makhluk namanya hobbit (again?!). Kita bisa lihat kalau dunia hobbit itu indah dan damai, kan? Dengan begitu, masyarakatnya mudah percaya satu sama lain, mereka jarang berkonflik. Ini kelihatan dari sikap Frodo dan Sam ke Gollum. Frodo begitu aja jatuh kasihan dan percaya sepenuhnya sama Gollum. Sedangkan, sekalipun Sam nggak percaya sama makhluk licik itu, dia juga nggak begitu aja mengkonfrontasi Gollum secara langsung, kan?

Atau kita bisa liat Merry dan Pippin, yang menurutku lebih agresif ketimbang Frodo dan Sam, mereka tetep beda sama Dwarf yang agak kasar dan beringasan. Kalau ada konflik, mana ada mereka langsung serang dan sebagainya. (Trus, nama mereka cute, menggambarkan karakter mereka yang juga imut-imut?)

Artinya, keempat hobbit itu punya perbedaan karakter, tapi mirip secara fundamental. Mereka bertengkar dan berkonflik, tapi nggak melewati batas-batas budaya mereka. Artinya, kalau budaya kita tentuin lagi, berarti perkembangan kepribadiannya juga harus disesuaikan dengan budaya baru yang kita tentuin itu.

Susah banget nggak, sih? Tenang aja, kita masih bisa nyontek-nyontek dikit, kok. Misal tentang hobbit itu, kita bisa nyontek itu dari budaya masyarakat adat, kayak Suku Badui Dalam, atau yang baru-baru ini booming, Petani Kendeng. Mereka sedikitnya, punya sifat yang lumayan sama dengan para hobbit ini (berdasarkan dari observasi mentahku, ya). Mereka masyarakat homogen yang kurang suka berkonflik dengan pola pikir sederhana.

Tapi, harus tetap ingat kalau cuaca, iklim, suhu, tingkat kebisingan daerah, dan segala macam model demografis lainnya, itu menentukan kepribadian, jadi jangan pernah lupa untuk menyesuaikan unsur itu ke dalam karakter.

Terakhir, (minimal yang kepikiran, ya) tentu saja konflik politiknya. Kalau bukan novel dengan tema tentang politik pasti mikirnya nggak bakalan perlu beginian, kan? Salah besar. Yang namanya politik itu ada di mana aja dan diterapkan di mana aja. Misal, jomblo lagi nyari pacar, nih. Politik mereka adalah dandan secakep mungkin, ngasi kode-kode ke lawan jenis, dan segala macam strategi lainnya. Itu juga politik, lho.

Bayangin kalau konflik politik ini terjadi di dunia fantasy. Misal, di Lord of the Rings, ada Saruman dan Gandalf. Saruman punya tujuan menguasai cincin. Gara-gara itu, ia menghalalkan segala cara. Lalu, muncul Gandalf yang berniat menghalangi dia mencapai ambisinya. Ini lagi-lagi harus ada hubungannya dengan logika cerita dan masing-masing kepribadian tokoh.

gandalf-saruman
Gandalf dan Saruman mulai berkonflik sejak Saruman berambisi menguasai cincin untuk dirinya sendiri. Gambar diambil dari http://www.dreager1.wordpress.com

Misal, Saruman ambisius. Maka, politiknya adalah dia mencoba menghancurkan orang-orang yang menghalangi dia. Gollum, dia berniat menguasai (sebenernya dia yang dikuasai) oleh cincin terkutuk itu, akhirnya dia menipu Frodo dan Sam. Lalu, Frodo yang punya misi dan Sam yang bertugas menjaga Frodo. Ini break down lain dari budaya dan karakter, mereka menentukan hubungan antar tokoh.

Biasanya, yang paham hal-hal begini adalah gamers, tepatnya pecinta game-game RPG. Emang basis game RPG itu biasanya novel fantasy, jadi bisa juga jadi cara asyik untuk memahami alur di novel fantasy lewat games kayak gini. Untuk yang suka fantasy dan pengen nulis novel fantasy, jangan nyerah dulu karena kesulitannya, ya! Kalau sukses, bisa jadi games dan terkenal di mancanegara, lho… 😉

 

 

 

A Tale of Two Cities (part 2)

charles dickens
Gambar diambil dari amazon.com

 

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classic

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris

 

Jangan tanya ini sampe part berapa karena akupun tak tahu. Halah… Intinya, karena aku bakal baca buku ini lama banget, tapi aku gak sabar ngasi per detailnya, akhirnya jadi begini, deh. Kutulis satu per satu review yang bakal sangat panjang ini.

Alasannya, karena dari awal aku udah dikejutkan dengan paragraf pembuka yang apik banget. Keren dan ngena banget. Bahkan, aku pikir2 cocok banget dengan kondisi sekarang ini. Hanya saja, bukan lagi soal Perancis dan Inggris, tapi tentang Amerika dan Indonesia. Jakarta dan Washington DC deh, karena kan judulnya “cities” hehe…

Dan untuk review sebelumnya, aku mau ralat. Aku dengan pedenya bilang aku udah nyampe halaman 60, tapi setelah ditilik baik-baik, aku baru sampe halaman 26! What the…

Ada apa dengan konsentrasi membacaku yang makin rendah ini?Btw, kalau mau baca review sebelumnya, yang emang cuma sampe halaman 26 itu (aneh, ya! haha…) silakan baca di sini; A Tale of Two Cities (part 1) dan kalian akan menemukan isi paragraf dari buku ini yang keren banget.

Aku sampai pada cerita dimana orang yang telah terpenjara (terkubur; kayak penjara bawah tanah gitu) ternyata punya seorang putri dan akhirnya mereka bertemu. Dan biasalah, penulisnya pasti membuatnya jadi haru-biru.

Monsieur Manette, si napi itu, hidup tanpa gairah sekarang. Dia melanjutkan hidupnya yang tertunda, dengan membuat sepatu, di bawah perlindungan seorang pria Perancis pemilik Wine Shop, Monsieur Defarge. Setelah 18 tahun terkubur hidup-hidup, Monsieur Manette tentu saja kehilangan pegangan soal makna hidup.

Ini deskripsi dari Charles Dicken :

The faintness of the voice is pitiable and dreadful. It was not the faintness of physical weakness, though confinement and hard fare no doubt had their part in it. Its deplorable peculiarity was, that it was the faintness of solitude and disuse. It was like the feeble echo of a sound made long and long ago. So entirely had it lost the life and resonance of human voice, that it effected the senses like a once beautiful color faded away into a weak poor stain. So sunken and suppressed it was, that it was like a voice underground. So expressive it was, a hopeless and lost creature, like a famished traveller, wearied out by lonely wandering in a wilderness, would have remembered home and friends in such a tone before lying down to die.”

Good, eh? Penggambaran dari suara Monsieur Manette ini menjadi simbolisasi dari kondisi dia secara keseluruhan. Lost and hopeless creature. Dan sekarang, dia siap dibawa ke negeri Inggris oleh putrinya.

Wonder it will be very boring, tapi biar, deh. Rasanya ini lebih jadi curhatan daripada review yang sebenar-benarnya. Yang pasti bahasa Inggrisnya bener-bener susah, karena Charles Dickens itu dari Britania dan bukannya Amerika, yang bahasa Inggrisnya banyak dipelajari di seluruh dunia.

Well, whatever, yang pasti aku nemuin lagi kata-kata indah dari Charles Dickens, dan mau kuabadikan satu per satu di blog. Soalnya, kalau gak, pasti lupa hehe.

Here’s another :

…to the calm that must follow all storms – emblem to humanity, of the rest and silence into which the storm called Life must hush at last…”

Kalimat singkat yang menggambarkan hidup itu penuh masalah, yang tentunya akan selesai satu hari (siapa yang tahu satu hari itu sampai mana). Satu hal yang aku sadari dari Charles Dickens adalah dia suka mem-personifikasi hal-hal penting. Kayak Life di atas. Atau Hunger di paragraf sebelumnya.

 

Masyarakat Adat yang Jauh Lebih Modern

sawah_kita_by_nooreva-d5q63ap
Gambar diambil dari DevianArt by nooreva

 

Please don’t judge me. Aku tahu ini topik yang udah rada basi, tapi karena aku lagi off kemaren dari segala macam berita dan medsos, jadinya bener-bener ketinggalan.

Akhir-akhir ini, berita soal Petani Kendeng lagi banyak ditampilkan. Aku sering denger, tapi baru kali ini tahu apa masalahnya. Lagi-lagi, masyarakat adat vs pengusaha.

Oke, aku sebelumnya nggak pernah tahu soal kasus masyarakat adat dan pengusaha, tapi oh come on, it’s so easy to guess! Masyarakat adat dipinggirkan karena ada kapitalis lagi nyari untung. Terjadi dimana-mana. Sejarah juga banyak membuktikan.

Di Indonesia, keberadaan masyarakat adat adalah sesuatu yang masih dihargai dan diakui secara hukum. Seberapa baik penghargaannya? Ternyata, nggak begitu baik. Soalnya, orang Indonesia sibuk nyari duit. Salah nggak? Nggaklah, siapa yang nggak butuh duit. Tapi, kalau banyak duit, tapi kita nggak punya apapun untuk dimakan, oksigen yang semakin tipis karena kita tebang semua pohon, dan banjir dimana-mana karena nggak ada daerah serapan air, apa gunanya, sih?

I don’t get human somehow. Eh, aku juga manusia, ya?

Di satu sisi, aku menyukai perkembangan teknologi. Aku menyukai kemajuan, karena bagaimanapun, kemajuan juga membawa banyak hal positif. Pengobatan, misalkan. Pendidikan parenting (karena aku orang tua yang butuh itu).

Ups! Pendidikan parenting ternyata kita nggak begitu maju, lho. Kita, masyarakat kota, yang katanya sangat beradab, jauh ketinggalan masalah yang satu ini.

Dari kakak iparku (credit for her) yang suka traveling, di Badui Dalam, mereka nggak butuh ahli parenting untuk mengatakan ke mereka, kalau anak melakukan kesalahan, ya dibilangin, nggak perlu dikasarin or such. Sementara, masyarakat kota??? Guru nyubit anak murid malah dibelain, katanya mencubit dan memukul itu biasa untuk pengendalian perilaku. Sementara, di Badui Dalam, dengan pendidikan parenting yang begitu, mereka tentram dan saling bersahabat tanpa banyak konflik. Kalaupun ada, selesai tanpa harus kasar dan menjelek-jelekkan orang lain. Sejak kapan peradaban modern justru membuat kita mundur jadi manusia purba?

Dan masyarakat adatlah yang punya cukup etika untuk menjaga alam. Masyarakat Badui Dalam punya aturan hanya boleh panen padi setiap 6 bulan sekali dalam setahun. Karena mereka percaya bahwa mereka nggak boleh tamak dalam mengambil hasil alam. Dan, kebetulan sangat, ibuku pernah cerita, bahwa dulu di Sumatera Barat, panen dilakukan 6 bulan sekali,  sebelum pemerintah (bodoh, maaf, aku nggak tahan) mengubahnya jadi 3 bulan sekali. Akibatnya, kualitas beras di Sumatera Barat menurun drastis. Dulu, kata ibuku, beras dari sawah di kampung, rasanya enak banget. Beda sama yang sekarang. Sedih.

Masyarakat Samin, termasuk petani dari pegunungan Kendeng, juga sama sekali nggak menggunakan bahan-bahan kimia untuk pertanian mereka. Mereka menggunakan bahan alami, kayak kotoran sapi dan jeroan sapi (yang masih fresh, dari sapi yang baru disembelih, kurang-lebih) dihancurkan dan diproses jadi pupuk. Artinya apa? Mereka punya kualitas beras yang jauh lebih baik daripada yang kita makan sehari-hari. How sad is that?!

Tapi, kapitalis nggak pernah puas. Dengan alasan membangun perekonomian, mereka bangun pabrik dimana-mana. Padahal, Indonesia itu negara agraria. Kalau kita bisa fokus di agraria, dan mengekspor itu semua, perekonomian kita juga bisa maju. Tanah kita sangat subur, ingat?

Aku rasa, kita harus melepas satu gelar indah lagi dari Indonesia.

Kalau aja masyarakat Indonesia lebih percaya diri untuk mengolah semua hasil alamnya sendiri. Dan kita bisa mendepak semua pihak yang maunya memperkaya diri dari berbagai tender dan investasi asing, mungkin kita akan jauh lebih kaya. Aku nggak anti investor asing ya, tapi tolonglah proporsinya diatur. Kebanyakan!

Selamat tinggal, etika dan moralitas. Sejak kapan civilization menjadi kata yang begitu menakutkan? Sejak kapan peradaban justru menghancurkan manusia daripada membangunnya?

Selamat datang, kanker dan penyakit mematikan lainnya. Hanya karena kita terlalu malas untuk memperjuangkan kesejahteraan alam, yang padahal menghidupkan kita juga.

Tanpa kita sadari, ternyata masyarakat adat jauh lebih maju daripada masyarakat, yang katanya, modern. Internet ternyata nggak cukup bikin kita pinter (akhir-akhir ini, malah membuat kita jadi makin bodoh). Begitulah, dengan berkurangnya kepedulian akan lingkungan sekitar kita, baik pada manusia dan alam, manusia hanya akan jadi hewan. Hanya dengan rasa peduli, kita jadi manusia seutuhnya.

Teriring doa bagi masyarakat adat, semoga masyarakat adat tetap terjaga dan terhormat di atas bumi Indonesia.

 

 

Depok, 29 Maret 2017

Budaya Indah Orang Indonesia; Terima Kasih

 

terima-kasih
Gambar diambil dari hipwee.com

 

Inkonsistensi adalah kata yang menyeramkan. Nggak cuma kelihatan bikin orang jadi kurang punya integrasi, bahkan orang tua yang konsisten juga bisa merugikan pola didik anak. Dan itulah aku. Dengan inkonsistensi dalam mood nulis ini, sesuatu yang harusnya dilakukan sejak lama, jadi ketunda sampe sekarang. Cerita ini terjadi waktu aku memutuskan mengajak anakku ke Habibie Festival.

Astaga, tahun lalu lho, itu ceritanya ^^;

Tadinya, pengen cerita soal Habibie Festival. Perlu nggak, ya? Mungkin nanti. Jadi, setelah nanya-nanya gimana caranya ke Museum Gajah (tempat festivalnya dilangsungkan), akhirnya aku memutuskan untuk naik commuter line ke Stasiun Gondangdia. Dan jalan kaki ke Sarinah. Ada yang kaget? Soalnya, aku kaget, karena lokasinya jauh banget ternyata.  Pas pulang, baru aku tahu kalau city tour bus yang bertingkat itu (dan gratis! Ini yang paling penting!), salah satunya lewat Masjid Istiqlal (ada dua rute, lupa nama rutenya apa). Trus, masjid Istiqlalnya sebelahan sama Stasiun Juanda. Aih!

Tapi, itulah gunanya pengalaman. Sedikit-banyak, dia memberimu pelajaran.

Bus bertingkat itu udah nggak kayak waktu aku SD dulu, sekitar tahun 1995-1996. Aku masih ingat bagaimana besi-besi karatan dengan cat-cat dominan putih terkelupas. Agak sedikit mengerikan memang naik bis kayak gitu dulu. Tapi, rasa penasaran kekanak-kanakan mengalahkan segala-galanya. Itu makanya, waktu naik bis ini jadi nostalgik banget. Kok bias, sih?

Langsung ke pokok permasalahan. Waktu aku nunggu city tour bus ini, ada 2 lelaki bule yang juga nyamperin tempat nunggu bisnya. Mereka celingak-celinguk bingung gitu, trus tiba-tiba noleh. Kemana? Ke aku laaah (norak ceritanya). Dia lalu nanya dengan Bahasa Inggris penekanan yang buatku aneh. Mungkin antisipasi kalau-kalau orang yang diajak bicara nggak bisa bahasa dia.

Jadi inget film “Mr. Morgan’s Last Love” dimana ada penjual roti di Paris bilang ke Mr. Morgan, yang notabene orang Amerika, “kenapa Orang Amerika ini tinggal di negara orang, tapi nggak mau belajar bahasanya? Nggak semua orang paham bahasamu!” Dia bilang dalam Bahasa Perancis ini ya, dan tujuannya tentu aja buat mengejek Mr. Morgan yang jelas-jelas nggak paham bahasanya dia. Tampaknya pendapat penjual roti itu emang jitu.

Balik ke si bule, dia nanya, “where can I get the ticket for this bus?” Kebetulan aku baru liat plang bisnya, jadi aku jawab, “I think it’s free.”

Oh, it’s free!” Lagi-lagi, dengan penekanan nggak perlu. Asli, berasa dianggap sama anak kecil sama tuh bule menyebalkan. Trus, baru aja aku mau nambahin, “well it’s my first time, too…” Dan suaraku perlahan lenyap karena si bule udah balik badan dan ngomong lagi ke temennya. Nggak bilang terima kasih pula.

Daripada kesel, bisa dibilang aku kaget. Kok nggak bilang terima kasih? Atau setidaknya gesture terima kasih lain. Akhirnya, suara lain dalam kepala langsung bilang, mereka kan bule, budayanya beda…

Sebelum itu, aku pernah ngobrol sama kakak ipar yang suka traveling ke luar negeri. Dia bilang kalau emang Indonesia beneran negara yang penduduknya paling ramah. Baik di Korea maupun di Thailand, orang-orangnya kebanyakan galak dan jarang senyum. Satu Youtuber Jepang pernah mencoba membuktikan perbandingan antara keramahan orang Indonesia, dengan cara mengerjai turis domestik Indonesia di Bali dengan turis asing. Terbukti kalau orang Indonesia, begitu si Orang Jepang ini minta maaf, yang dikerjain langsung senyum. Kalau yang turis asing, langsung pergi sambil cemberut. Ada lagi survey yang menyatakan kalau Indonesia salah satu negara yang paling dermawan di dunia (walaupun kedua di Asia Tenggara yang paling banyak sampahnya di laut, sekilas info hehe)

Jadi, seharusnya aku nggak perlu kaget. Tapi, yang namanya biasa banget berbasa-basi bilang terima kasih dan senyum, terus-terang aku jadi rada kurang biasa ngeliat orang nggak bilang terima kasih begitu.

Bukannya gila hormat ya, tetapi ada perasaan menyenangkan saat orang bilang terima kasih ke kita. Biarpun mungkin kebanyakan dilakukan atas dasar basa-basi dan kebiasaan aja, saat orang bilang terima kasih, rasanya orang itu baru aja bilang apa yang kita lakukan buat dia benar-benar membantu dia dan mereka menghargai itu. Tentu saja, rasa bangga pada diri kita sendiri tergelitik dan kita jadi senang. Setidaknya, aku merasakan itu.

Budaya yang begini, benar-benar nggak boleh hilang dari orang Indonesia. Maksudku, itu karakter kita. Khas orang Indonesia. Apalagi, karakter itu berupa menghargai orang lain, sesuatu yang baik dan menyenangkan.

Dan aku berharap juga, semoga kebiasaan-kebiasaan ini bisa menghilangkan perselisihan-perselisihan yang banyak terjadi sekarang ini. Jangan cuma ramah sama orang asing, seharusnya kita juga ramah dengan anak bangsa kita sendiri.

Semoga perselisihan setiap masa pemilu nggak berlanjut kemana-mana. Lebih baik lagi; nggak perlu ada musuh-musuhan setiap kali pemilu. Capek amat, kan… Tetep disambung-sambungin ke sini… Hehe…

 

 

 

 

 

Di Kolam Renang

image
Dia melemparkan tumpukan baju. Agak marah. Marah pada siapa, dia sudah tidak tahu. Yang pasti, dia terus-menerus marah. Menghembuskan napas keras, ia duduk. Menghempaskan tubuhnya sendiri ke lantai yang dingin.

Lantai itu…

Dipenuhi kertas-kertas terserak. Serpihan kecil warna-warni crayon. Sekaligus dengan induk mereka. Berbagai miniatur kendaraan; mobil, kereta api, semua yang beroda. Bagaimana cara membereskan semua?

Saat-saat begini, ia membayangkan dirinya duduk di ruang ber-AC. Di tengah kubikal kecil, tapi teritorinya sendiri. Tidak, bahkan bosnya, punya hak mengutak-atiknya. Tidak juga rekan sekerjanya yang selalu penasaran. Sekarang, semuanya hilang. Tidak ada tempat khusus untuknya. Tubuhnya pun sudah bukan miliknya sendiri.

Menahan tangis frustasi, ia melipat baju. Pikirannya penuh dengan hal-hal jahat. Membakar rumah, misalnya. Membuang semua mainan tidak peduli akan air mata yang pasti tumpah karenanya. Sekadar memuaskan hasrat duniawinya, menyenangkan diri sendiri.

“Maaaa,” anaknya pulang. Satu-satunya, yang berumur 5 tahun. Belum sempat bicara apa-apa, si bocah lelaki sudah kena semprot.

“Kalau mau main yang lain, beresin dulu yang ini!” bentak ibunya, merengut kesal. Tatapannya penuh kebencian pada anaknya sendiri. Putranya melongo. Tidak berani lagi bicara. “Berantakin rumah, tapi nggak mau beresin! Harusnya kamu tanggung jawab, dong!” Semua kata-kata itu diikuti geraknya yang beringasan membereskan rumah.

Harusnya aku kerja di kantor! batinnya kesal. Biar saja anaknya diurus siapa saja, asal bukan dirinya sendiri!

***

“Ada lowongan kerja?” Tanyanya sumringah. Mungkin dia masih punya kesempatan. Umurnya belum genap 30, seharusnya ada satu pekerjaan untuknya. Memperoleh kubikal itu. Teritorialnya sendiri. Juga, harga diri ketika mengenakan blazer, kemeja yang rapi, dengan polesan make-up yang serasi.

Dia akan menggunakan intonasi itu. Suara yang sengaja dikeluarkan dari rongga dalam tenggorokan, mengesankan wibawa. Mengutak-atik power point atau mungkin aplikasi presentasi terbaru. Mempersiapkan diri untuk menunjukkan proposal. Segala kata-kata teknis yang memukau telinga. Yang membuat orang berdecak kagum.

Bukan cuci piring dan menyapu, yang bisa dilakukan siapa saja. Yang bisa dilakukan bahkan tanpa pendidikan apapun! Dia ingin menjadi ‘seseorang.’ Dia ingin merasa berharga. Menjadi seseorang di tengah sorot cahaya.

“Iya, cepetan lamar kerja. Sayang itu ijazah fungsinya apa?” Sindiran seperti biasa. Hampir semua orang, keluarganya, teman-temannya, melemparkan kalimat tajam tak berbelas kasihan itu. Heran juga, apa yang mereka dapatkan kalau dia memutuskan untuk kerja lagi?

Dia melihat e-banner yang pasti dibuat oleh desainer grafis perusahaan itu. Membayangkan ia berkenalan dengan profesional dengan skill-skill yang dihargai orang. Dan ia akan jadi salah satunya.

Soal anaknya? Ada begitu banyak ART yang bisa menggantikan. Tidak perlu dirinya. Toh dia akan selalu bertemu anaknya ketika pulang kerja. Ia melihat teks balasan dari temannya. Ia dipanggil wawancara! Oh! Tentu saja…

“Mama,” suara nyaring itu menyapanya. Anaknya bertelanjang dada, basah dan berkilau. Di sekeliling mereka, kolam-kolam dengan air jernih, biru dan hijau pastel. Dengan pantulan sinar matahari yang membias ke seluruh kolam.

Ibunya menghela napas. Apa lagi kali ini? “Ayo, sana les. Biar pinter berenangnya!” Sekali saja, ia ingin lepas dari panggilan menuntut itu. Tidak hanya 9 bulan di kandungan, ternyata beban itu masih memberatinya hingga kini.

“Tapi, hidungku sakit kalau bubble.”

“Nak, kamu harus bubble kalau mau berenang.” Segala macam ilmu parenting berseliweran di kepalanya, mencegahnya untuk tidak membentak-bentak. Ilmu yang juga membuatnya terkungkung di dunia yang sama sekali tidak rasional ini; membesarkan satu jiwa bebas dengan kesabaran tingkat tinggi.

Anaknya cemberut, berusaha mencari kata-kata lain. Tapi, ia kenal raut wajah itu. Raut wajah yang sedang tidak mau berkompromi. Bocah lelaki itu lalu lari lagi ke arah guru les renangnya.

Ibunya mengernyit agak kesal, mendapat gangguan. Sekilas kemudian, ia memfokuskan diri lagi ke ponsel pintarnya. Dia akan mengetik jawaban itu; ya.

Ibu jarinya berhenti di tengah-tengah. Ia menegakkan lehernya, mencari sosok anaknya. Jangan sampai si anak melobi guru lesnya untuk melewatkan pelajaran paling penting dalam renang, bernapas dalam air.

Guru lesnya tengah memegangi tangan anaknya. Tidak memegangi tubuhnya, hanya kedua tangannya yang terentang. Lalu, setiap dua atau tiga menit, kepala anaknya masuk ke air beberapa detik. Ia tercengang. Anaknya susah sekali kalau disuruh memasukkan kepalanya dalam air. Wanita itu lupa pada ponselnya.

Kini, pikirannya mengulang rekaman yang telah lalu. Anaknya, yang dengan teguh berusaha berguling. Jalan pertamanya yang tertatih. Kali pertama ia mengeja ‘lama’ dan mengetik ‘commuter.’

Dan banyak lagi. Terlalu banyak untuk ia hitung.

Setelah ini, mungkin ia akan mengomel lagi. Bahkan, bentakan yang sangat terlarang dalam dunia parenting itu akan keluar dari bibirnya. Tanpa tercegah.

Tapi…

Ia tersenyum. Lalu, teringat pada ponsel pintarnya yang terabaikan. Dia mengetik jawaban yang sudah dipersiapkan.

“Kurasa aku mau menyia-nyiakan ijazahku lebih lama.”

Ratapan Sang Saka

 

Pagiku begitu merah
Merekah menentang siang
Aku berdiri di tiang terpancang
Menunggu
Ia tak kunjung datang
Oh, damaiku

Siangku begitu terik
Menyengat dengan pelik
Aku tetap di sini
Berharap, berharap, berharap
Padanya yang tersenyum
Saling mendekap mesra

Malamku begitu kelam
Menguak tabir seram
Mengapa pula aku di sini?
Malam tak lagi kelam damai
Menyerah ia pada api hati
Membisu terperi

Wahai pujangga merah
Mengapa engkau menggoreskan penamu?
Di hatimu genderang bertalu
Mengibarkan panji perjuangan semu
Tidak adakah aku di hatimu?

Aku mengalir di nadimu
Mebalut belulangmu
Pun aku menyaksikanmu menghancurkannya

 

Catatan penulis :

Ini puisi yang kutulis beberapa tahun lalu, waktu itu demonstrasi anarkis lagi marak-maraknya. Yang mengerikannya, ternyata puisi ini cocok juga disesuaikan dengan kondisi sekarang ini. Walaupun dengan bentuk yang lebih simbolis…

So, jangan bikin bendera kita ternoda, ya… 😉

Manusia, yang Sendirian

shalat-dan-tandus
Gambar diambil dari kanzunqalam.com

 

Hanya ada padang tandus. Kakiku menapak pasir kering, kasar. Sesekali kerikil tajam menusuk. Entah sudah berapa titik darah di sana. Menyengat. Tapi, aku tak peduli.

Kehampaan adalah jalan yang paling menakutkan.

Dari belakang, seolah ada hantu yang mengikuti. Dan mungkin kau akan merasa senang karenanya. Tapi, tidak. Hanya bayangan kelam yang mencemooh. Mencemooh ketakutanmu. Mungkin sekali, kau akan takut padanya. Lebih dari apapun juga.

Dunia hancur pada tahun 2020 Masehi.

Manusia tidak suka dibangunkan dari mimpi panjangnya. Bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa beragam kaum mengiringi langkah mereka. Dan bisa menguasai mereka. Tahun 2014, semua orang harus keluar dari rongga mimpinya. Menghadapi kenyataan. Kau tidak bisa bayangkan. Seseorang yang keluar dari cangkang.

Kebingungan. Kewaspadaan.

Sesama saudara saling menatap curiga. Tali persahabatan terputus. Di hadapan mereka, monster-monster tumbuh. Bahkan, mereka tidak lagi menatap cermin. Takut pada apa yang akan mereka lihat dari refleksinya.

Tidak ada yang lebih buruk daripada manusia di tengah kelimbungan. Sebuah status quo yang menganga. Status quo dari kepercayaan. Status quo dari keyakinan. Para penguasa telah mati. Manusia sibuk mencari satu sosok baru. Yang bisa menjadi pegangan mereka. Dan ia tidak perlu mengucap kebenaran. Hanya satu sosok yang bisa membenarkan superioritas mereka sebagai manusia, bahwa mereka masih jadi pemimpin atas semua makhluk di muka bumi.

“Dan satu orang terbunuh,” bisikku, berbicara, kepada pasir di kakiku. Pada beliung kecil yang berada di sampingku. Bagai sahabat yang hilang. Aku berbicara pada mereka. Tanpa jawaban. Dulu, pernah aku berbicara, dan marah pada orang yang menjawab. Dan aku berharap masih bisa beradu mulut dengan mereka.

Menurutmu, perang menakutkan? Bagiku, tidak. Perang memberikan jalan untuk manusia mengeluarkan nafsu kebinatangan mereka. Mereka membunuh. Menyiksa orang yang tidak sejalan. Lalu, memperkosa. Lahir-batin. Hanya untuk menjadi superior. Meyakini bahwa mereka lebih tinggi daripada yang lain. Bahwa mereka punya kuasa atas manusia lainnya.

Manusia mana yang tidak mencintai perang?

Perang sama sekali tidak menakutkan. Aku berjalan, melupakan perih di kaki, sengat di kepala. Sudah jauh. Berapa jauh, aku tidak menghitung. Manusia tidak pernah takut akan luka. Mereka menyukainya, seperti mereka menyukai drama-drama yang disuguhkan televisi. Darah adalah warna merah yang mereka butuhkan. Candu mereka.

“Perang sama sekali tidak menakutkan,” aku berbisik lagi. “Apa yang menakutkan adalah apa yang tersisa darinya.”

Ketiadaan.

Kehampaan.

Kesepian.

Aku merindukan orang-orang. Orang-orang yang bersekutu denganku. Orang-orang yang menjadi musuhku. Bahkan, mereka yang marah ketika aku menyatakan keyakinanku. Aku merindukan perselisihan dengan manusia lain. Siapa yang peduli akan perselisihan, saat kau tahu mereka masih ada di sisimu? Mereka masih menemanimu sekalipun dalam kebencian yang sangat? Mereka ada. Bukan dalam sosok yang kau mau, tapi mereka ada. Karena mereka ada, kau semakin tidak peduli. Karena mereka akan tetap ada, sekalipun tidak jadi sekutu. Dan kau akan mabuk dalam kenyamanan itu.

Matahari begitu terik. Air sudah habis. Aku harus menghemat sisa cairan di tubuhku.

Tapi, ia pun berkhianat. Sekali aku mengingat semua yang menghantui di belakang, tubuhku berbuat sesuatu yang berlawanan dengan yang ku mau. Pengkhianat. Aku berhenti melihat ke sekeliling. Aku berhenti berharap melihat satu sosok manusia yang akan menghampiriku. Kemana mereka semua?

Bahuku bergedik. Kepalaku tertunduk bagai ribuan ton yang membebaninya. Air yang tersisa dari tubuhku. Mengalir pelan dari kelopak mata. Satu titik. Dua titik. Berubah menjadi puluhan. Kini menjadi ribuan.

Kemana mereka semua?

Mereka habis di bawah semburan keberingasan. Mereka tewas di tengah serbu kebencian. Satu per satu, tumpas. Begitu banyak kematian, hingga manusia tidak peduli lagi siapa yang akan membasuh jenazah mereka. Siapa yang akan menguburkan mereka. Saat-saat terakhir, yang terpenting adalah sepasang tangan yang akan mendekap ketakutan mereka. Menampung air mata penyesalan mereka.

Aku bersujud. Tidak tahu pada siapa. Untuk siapa. Dan mataku terus berkhianat, membiarkan cairan tubuhku habis. Habis, aku habis. Aku sudah habis begitu aku terbangun sendirian. Sendiri. Hampa.

Temanku hanya waktu. Waktu yang terlalu banyak. Apa arti waktu, tanpa manusia?

Tahun 2016, manusia suka sekali menghitung waktu. Mereka lari darinya. Mereka lari mengejarnya. Waktu ada di dinding mereka, waktu ada di pergelangan mereka. Lupa, kalau waktu hanyalah tentang apa yang kita mau darinya.

Tahun nol, hari ini, aku tidak lagi mengejar waktu. Atau lari darinya. Dia bahkan rela menungguku, hingga aku berhenti bersikap bodoh. Berputus asa. Berputus asa adalah bodoh, karena kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa kau temui di depan sana. Biar jaraknya tak mampu kau hitung.

Tapi, aku tidak bisa merasakan waktu. Aku tidak bisa merasakan napas yang membelai lembut saat ia bicara tentang kebahagiaan. Aku tidak bisa merasakan panas tubuh yang hampir-hampir menyengatku ketika aku berdekatan dengannya. Dan tak peduli berapa banyak aku menangis, aku tidak bisa merasakannya menepuk punggungku.

Tuhan, dimana Tuhan? Tidakkah ia mau menjawab kegelisahanku? Tidak lagi. Tuhan berbicara lewat manusianya. Saat manusia tidak lagi ada, kau turut kehilangan Tuhan. Karena Tuhan menciptakan manusia. Lalu, mengirimkan manusia agar kau memahami Tuhan. Tuhan, sesungguhnya, bisa dipahami lewat sosok manusianya.

Sosok yang Tuhan pilih sebagai pemimpin di atas bumi-Nya.

Aku bangkit. Tanpa apapun selain sehelai pakaian penutup aurat. Temanku tidak lagi bersifat fisik. Mereka hanya bayang-bayang yang ada di kepalaku. Waktu yang berjalan bersamaku. Harapan yang bersukacita di dalam pikiran.

Aku ingin mencari Tuhan, lewat kasih sayang manusianya.

Berjalan lagi. Aku tidak tahu harus berjalan seberapa jauh lagi. Di kepalaku, aku membayangkan seorang sosok. Dengan dua mata yang mungkin berwarna lain. Dengan hidung berbentuk lain. Dengan kulit berwarna lain. Pada saat itu, aku akan memeluknya. Sekali lagi merasakan, bahwa Tuhan masih mau berbicara lewatnya. Walau dengan bahasa yang lain.

Perang sama sekali tidak menakutkan. Apa yang menakutkan adalah apa yang tersisa darinya. Ketiadaan. Kehampaan. Manusia, yang kesepian.

 

 

sampai

 

download
Gambar diambil dari pulsk.com

Kemarin (26/1), aku baca satu artikel di tempo tentang bule yang mengadakan eksperimen sosial. Dia sengaja memakai rok mini dan berjalan-jalan di Jakarta. Dalam tempo 35 menit saja, sudah ada 13 laki-laki yang menggoda, dari suit-suit nggak jelas sampai ada yang berani meminta nomor telepon wanita bule ini. Wow!

Kita putar balik ke tahun lalu, sayangnya aku nggak inget siapa yang ngomong dan kapan kejadiannya. Yang pasti, waktu itu ada kasus pemerkosaan, lalu ada satu figur publik yang berkomentar tentang itu. Di waktu kasus pemerkosaan itu masih fresh from the oven banget, dia bilang kalau wanita harus menjaga diri dan menutup aurat. Kira-kira begitulah kalimatnya.

Bener nggak? Dalam pandangan Islam yang kutahu, emang bener wanita harus menutup aurat demi menjaga diri.

Tapi, kenapa komentar ini terasa salah banget di telingaku, tambahan lagi, memicu komentar-komentar pedas dari wanita lain? Tentu saja, karena sebenar-benarnya perkataan, kalau diucapkan dalam waktu dan tempat yang salah, dia akan berdampak buruk.

Ayooo, Para Muslimin dan Muslimah jangan cari-cari alasan buat defens dulu. Kenapa sih, aku bilang kata-katanya jadi salah? Karena efek yang ditimbulkan. Pertimbangan manfaat dan mudharat, ingat?

Di saat kasus masih fresh itu, apa yang terjadi kalau kata-kata itu didengar oleh korban? Mereka dalam kondisi traumatis. Pemerkosaan itu mengakibatkan rasa malu, rasa rendah diri, karena yang diserang bukan cuma fisik, tapi kehormatan si wanita. Bayangkan, wanita dalam kondisi ini mendengar itu, apa nggak tambah malu? Disalahin pula, apa nggak tambah merasa rendah diri? Dan dalam kondisi psikologis seperti itu, traumanya makin berkali lipat. Efeknya, rata-rata wanita Indonesia yang dilecehkan secara seksual, malu dan takut untuk melapor ke pihak berwajib. Apa ini nggak menimbulkan superioritas buat si pelaku yang hobi melecehkan?

Kedua, apa yang terjadi kalau kata-kata ini didengar si pelaku? Ini bisa dimanfaatkan buat menjustifikasi kesalahan mereka. Orang yang dalam kondisi merasa bersalah, biasanya mereka juga stres. Dan karena stres itu nggak enak, ya pasti kita sebagai manusia berusaha untuk meredakannya. Salah satunya ya ini, rasionalisasi, justifikasi, membenarkan perbuatan kita. Ini, buatku, sangat berbahaya.

Kenapa? Perkataan itu membuat mereka merasa kalau mereka nggak salah. Minimal, mereka nggak ngerasa salah-salah amat dan ikut menyalahkan wanitanya. Dan laki-laki lain yang mendengar itu (ini figur publik yang ngomong, lhooo, kontrol sosialnya pasti tinggi) juga mendapat justifikasi kalau nggak ada salahnya menggoda atau melecehkan wanita-wanita, asal dia pake rok mini. Gimana tingkat pemerkosaan mau menurun, dong?

Sekarang begini, kasus pelecehan yang banyak terjadi di commuter line itu juga banyak menimpa cewek yang udah nutup aurat. Nggak usah bicara jilboobs deh, yang udah pake baju gombrang-gombrang (eh anak sekarang ngarti gombrang gak ya, pokoknya baju longgar) masih aja dilecehkan.

Kalau aku analogikan begini. Wanita itu nafsu shoppingnya tinggi kan, ya. Kalau dia boros dan belanja mulu, siapa yang biasa disalahin? Dia sendiri, kan? Bukan tokonya yang menggiurkan itu (walaupun akibatnya ada yang nggak suka sama kapitalis sih, mungkin ini suami-suami yang tertindas hahaha).

Sudah saatnya manusia itu tanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Nggak mungkin terus menyalahkan orang lain atau hal lain atas akhlak kita. Sinetron itu nggak ada artinya bagi orang-orang yang mau sedikit ribet mikir. Media juga nggak akan bisa membodohi kita kalau kita orang yang rajin memperkaya ilmu. Cuma diri kita sendiri yang bisa menjaga akhlak kita. Allaah aja nggak banyak ikut campur soal itu, selain ngasih hidayah, kan?

Bayangin kalau orang cuma bisa nyalahin lingkungannya. Anak menyalahkan orang tua yang salah asuh, suami menyalahkan istri yang nggak pinter ngurus rumah tangga, istri menyalahkan suami yang nggak pinter cari nafkah, orang tua bahkan menyalahkan anaknya yang nggak mau nurut sama dia (padahal yang mendidik anak kan dia, cih!). Gara-gara nggak mau tanggung jawab sendiri, maunya lemparin ini ke orang lain, akibatnya kita susah introspeksi diri dan berubah. Gimana mau berubah, kalau dirinya sendiri udah dianggap bener, layaknya Tuhan?

Akibatnya lagi, yang ada cuma pertentangan. Karena masing-masing manusia punya persepsi berbeda tentang apa yang benar dan apa yang salah. Sama kayak sekarang ini, kan? Masing-masing ribet ngurusin akhlak orang lain, sampai lupa kalau dia lagi marah-marah di wal FB sambil mengucapkan kata-kata yang nggak pantes. Ups, bias! Haha…

Pendidikan itu seyogyanya seimbang, harmonis. Antara satu dengan lain hal itu ada korelasinya, maka kita harus melihat per detail dan melihat bagaimana mereka saling berkaitan. Dengan begitu, tercipta juga solusi yang sifatnya komperehensif dan bertahan dalam jangka panjang. Nggak cuma melihat dari garis besarnya aja, itupun melihatnya sambil lalu, trus jadi kesimpulan. Mana nggak mau diganggu-gugat lagi kesimpulannya… ^^;

Gak apa-apa, sih. Hak itu, haaaakkk… Jadi orang yang timid dan rigid itu juga hak kok, asal nggak pake pola senggol-bacok aja…

Tidak Mau Berhenti

 

foto-kuil-bel-dan-yang-tersisa-kini
Foto kuil Bell di Palmyra diambil dari boombastis.com

Wanita itu berjubah hitam. Hampir seluruh tubuh terselubung olehnya. Ia menarik sedikit kain yang berlebih untuk menutupi hidung. Debu terlalu banyak di sini. Asap lebih lagi. Buminya bergetar lagi, membuatnya terpekik pelan. Biar sudah bertahun-tahun, suara ini tidak pernah membuatnya terbiasa.

Bukan kerasnya suara itu. Tapi, pesan yang dibawanya. Mungkin membawa serta satu lagi seseorang. Baik ia kenal atau tidak ia kenal, semua tetap akan membawa kesedihan.

Bergegas, ia menarik tangan kecil yang balas menggenggam erat tangannya. Tangannya terasa kebas karena itu. Malah, cengekeraman tangan mereka semakin erat. Hanya itu satu-satunya penanda bahwa mereka masih saling memiliki. Tuhan belum boleh memisahkan mereka sekarang!

Pria berjanggut lebat, ia tidak mengenalnya, memanggilnya panik. Tangan pria itu berayun makin kencang. Seruannya lebih keras lagi, mencoba mengalahkan suara rentetan peluru yang berterbangan. Wanita itu bergegas, menarik tangan anak itu lebih keras lagi. Kenal atau tidak, bukan lagi masalah. Ia terpekik saat peluru berdesing di telinganya.

Tangan pria dan wanita itu sudah pada jarak yang dekat. Ia meraih tangan kasar yang terlihat ramah. Tubuhnya segera saja terhuyung ke depan, masuk ke dalam bangunan yang mungkin bisa memberinya waktu barang sehari lagi.

Ia menoleh lega, tertawa ke arah anak di sampingnya. Tapi, tangan itu tidak lagi mencengkeram tangannya. Penanda yang ia genggam telah hilang. Anak itu tersungkur begitu ia berhenti berlari. Di punggungnya telah tercetak satu lubang. Merah. Lalu, melebar.

Wanita itu tersungkur. Tidak ada lagi kekuatan di kakinya. “El shad dai, gha’bi ni[1]…” Air mata tak mau ditahan. Ia menetes begitu saja.

“Inna lilaahi, ta’zi ia[2]. Anakmu?” sahutnya dengan Bahasa Suryani. Wanita itu mengangkat wajahnya.

Ia menggeleng pelan, “semua anak sudah jadi anakku sekarang.”

Lelaki itu berpakaian loreng cokelat tua-muda. Dia mengulurkan tangan. Wanita itu menerimanya. Tubuhnya terangkat, ia berdiri lebih tegap. Menatap anak itu lagi, dengan mata terpejam bagai tidur. Mungkin ia lebih baik di sisi Tuhannya.

“Tidak apa, biar kami yang urus. Pergilah sekarang, di sana, bis itu sudah menanti. Keadaan masih bahaya, jadi cepatlah!”

Sang wanita menatap tentara di hadapannya. Ragu, apa benar ia akan lepas dari bahaya ini? Apa benar di luar sana ada tempat yang terbebas dari politik manusia? Mata tentara itu lurus kepadanya. Mereka meyakinkan diri tanpa kata. Bahwa, kesempatan selalu ada.

Ia takut melangkah. Meninggalkan negerinya yang ia kenal sejak kecil. Ia menatap lagi, tubuh anak yang tersungkur. Tak sempat mengucapkan apapun. Tak sempat untuk melihat dunia sekali lagi, dunia dengan orang-orang yang ia kenal.

Ia takut meninggalkan anak itu. Seolah kebahagiaan adalah dosa yang lain. Kalau ia bahagia, apa anak yang tak punya kesempatan itu akan memaafkannya?

’Hiv li[3]!” tegur tentara itu. Wanita itu tersentak dan bergegas. Ke arah yang ia tunjuk. Sebuah bis besar putih dari pemerintah negerinya. Yang akan membawa mereka keluar dari lubang neraka ini. Dulu, tanah kelahirannya ini sungguh indah. Dengan gang-gang yang bersih dan jalan-jalan yang apik. Bahwa ada seseorang di luar sana yang ingin menghancurkan keindahan, membuatnya bergidik.

Sungguh, Eden dengan manusia, tidak akan pernah terwujud. Mereka mencintainya. Mereka mencintai permusuhan. Mereka mencintai peperangan. Mereka tidak akan berhenti, sebelum nafsu-nafsu itu direnggut, dan surga, pada akhirnya, hanya di sisi Allaah.

Kakinya telah menapak tangga bis.

Rahangnya menegang, membayangkan apa yang berada di balik punggungnya. Ia mengingat kisah Nabi Lot. Seorang wanita yang tidak bisa menerima rezeki yang dianugerahkan kepadanya. Maka, ia ikut terlumat bersama penyesalan di dalam dadanya.

Inilah rezekinya.

Wanita itu menapakkan kaki yang lain. Suasana di bis lengang, hanya isak tangis yang jadi tanda kehadiran manusia. Ia tidak dapat lagi tempat duduk. Beberapa saat, tubuhnya telah terguncang seirama dengan bis. Di luar sana, debu dan asap masih membumbung tinggi. Suara ledakan terhenti, mungkin gencatan senjata sudah dimulai. Mungkin pemberontak sudah berhasil diusir.

Sayup, ia mendengar lantunan beberapa orang membacakan ayat suci Al-Qur’an. Pelan, bersahaja. Ia memahami sedikit dari bahasanya yang dekat dengan Bahasa Suryani. Lain itu, tidak. Ia beragama Kristen Ortodoks. Tapi, bahwa seseorang dekat kepada Tuhan, memilih untuk berserah diri kepada Tuhannya, daripada membalas dengan kekejian yang sama dan kebencian yang sama, menentramkan hatinya.

Satu saat, ia akan kembali. Anugerah ini tidak akan sia-sia. Pemberontak dan kekuatan yang menginginkan negaranya hancur akan musnah, dan ia akan kembali. Membawa harapan dan kekuatan yang baru. Membangun gereja untuk kaumnya lagi, membangun masjid untuk kawan sesama Muslim, biar Sunni ataupun Syi’ah.

Untuk membangun kembali Aleppo, tanah kelahirannya.

[1] Ya Tuhan, maafkan aku

[2] Turut berduka

[3] Cepatlah

 

Catatan penulis :

“Untuk Aleppo, untuk Gaza, untuk Mesir, dan semua daerah yang tengah dilanda konflik”

Bahasa Suryani diambil dari sumber http://www.lexilogos.com/english/syriac_dictionary.htm

 

Xbox 360 Intel Inside

xbox-360
xbox 360: huh did i see him? xbox 360: no! i must find him

IMG_20160810_081414

nyan cats friends: hello there! whats your name?

xbox-360
coolxbox360: oh! who are you!
intel-logo
intel: hrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr! there happy nyan cats! i hate them!

once a upon time there nyan cats wants show them know her name, intel is not sad hes disapointed

intel-logo
intel: := hmmm…

, intel wants to go back home

intel-logo
intel: its late i wanna go home now

now whens day its november chicken: kekeriukuk

intel-logo
ahhhhh today is gonna be great day

,intel is playing PsP now

intel-logo
no dieying me! no dieying me! i whil fire you. and. faaaallll!!!!!!!

the end intel: what? the lights are off coolxbox360: yes! intel: i dont like this dark! coolxbox360: oh my goshhhhh