Bhasmī Bhūta

“Ibundaku,” sahutnya, sambil menghaturkan sembah.

“Ah, berdirilah, Nak.” Pria dengan rambut bergelombang itu mendekati ranjang ibunya, Saraswati, menciumi tangan wanita yang kini bernafas dengan berat itu.

“Lama baru kau bisa jenguk ibundamu ini?”

“Bunda, hanya seminggu berselang,” sahutnya dengan nada membujuk, masih menggenggam tangan ibunya yang mulai kisut. Masih menciuminya, berulang kali.

“Apa sudah tak sayang lagi?”

“Ibunda,” tegurnya lembut, “semua sibuk dengan persiapan seremonial pengangkatan ini. Aku sebagai panglima kerajaan juga disibuki oleh keamanan istana. Kan ibunda mengerti?”

Wanita berkemben hitam itu mengangguk pelan, lemah. “Ibunda memang harus mengerti itu, bukan?” Dia bersikeras, menekankan kata ‘harus’ dalam pembicaraannya. Satria merasakan sarkasme dalam nada suaranya itu. Bibirnya tak ayal mengunci bibir wanita itu dalam nafsu berahi yang sedari tadi ditahannya.

“Kan ibunda tahu, kalau aku mencintai ibunda? Harus kuingatkan terus?”

“Aku ini ibundamu, Nak.”

“Berhenti panggil aku dengan sebutan itu!” tegurnya dengan nada semakin menaik. “Toh, aku bukan anak kecil lagi!”

Saraswati bersusah-payah menegakkan punggungnya, menyapukan telapaknya ke wajah Satria. Parasnya lumayan tampan, namun entah mengapa dia terikat kuat pada ibunya yang seorang ini? Dalam nafsu tak berkesudahan berlumur dosa. Memang, Saraswati pun cantik bukan alang-kepalang, paras ayu yang tidak berkesudahan. Sedikit kerut sama sekali tidak memadamkan kecantikannya yang menawan. Tak pernah Saraswati tega untuk menolaknya, anak semata wayangnya, anak kesayangannya. Satria menutup matanya, menikmati sentuhan wanita itu. Tangan itu sampai ke bibirnya, dia pun menciuminya. Nafasnya kembali terengah. Sesaat kemudian, tubuh mereka kembali bersatu dalam godaan nafsu.

 

…bersambung…

Advertisements

Bhasmī Bhūta

PROLOG

PENOBATAN RAJA MUDA

 

Ketukan tongkat keemasan berukir naga itu bergaung hingga ke langit-langit. Ruang pagelaran itu dipenuhi dengan beragam manusia, baik tua maupun muda, wanita maupun pria, menghaturkan sembah dengan menumpu pada lutut mereka masing-masing. Langkah berat dan pelan terseret di tengah-tengah kumpulan manusia itu diiringi alunan gamelan yang merdu dan pelan. Kakinya bersih dengan kulit terawat bagai pualam, hanya sedikit bayangan hitam menghiasinya. Tubuhnya tegap juga bidang, jelas terlatih dengan baik dalam tempaan yang cukup keras. Wajahnya pun mengesankan tempaan berat itu, angkuh dan keras. Kumis berpilin pada ujungnya menghiasi atas bibirnya, menambah kegagahannya.

Pria dengan setelan pakaian yang serupa dengannya, menanti di ujung singgasana dengan kumis abu-abu yang tak kalah tebal. Seorang wanita berkain batik dengan pola rumit kebangsawanannya berdiri dengan setia, perhiasan serba berkilau dari telinga serta lehernya. Kecantikannya tampak enggan meninggalkannya walaupun usianya mulai beranjak senja. Pria muda pembawa tongkat naga itu berhenti tepat di hadapannya. Tongkatnya disampirkan di bahu, membungkuk-sembahlah ia dengan mengangkat kedua tangan yang terkatup tinggi-tinggi di atas kepala.

Seorang patih muda tergopoh melihat anggukan pria dengan kumis abu-abu itu. Tak lama berselang, sebuah keris perak beralaskan bantal hitam berpita emas terangkat di hadapan pria tua itu. Dia mengambil dengan kedua tangannya, seolah keris itu adalah benda berat. Takutlah ia menjatuhkannya.

“Wahai Putra Raja, Keturunan Dewa-Dewa, kau saat ini akan mengemban tugas berat.”

“Hamba, Gusti Paduka Ayahanda Raja,” sembahnya semakin dalam.

“Seluruh kerajaan kini berada dalam genggamanmu, menjadi bijaklah kau, pimpin rakyatmu dengan adil dan baik. Kesejahteraan mereka adalah kesejahteraan kau pula, maka kau harus melayani mereka sebaik-baik seorang yang berkuasa.”

“Hamba, Gusti Paduka Ayahanda Raja,” ulangnya.

“Kau sudah mengerti. Dengan ini, aku angkat kau sebagai raja dengan nama Sri Kertajaya. Kelak kau akan memberikan yang terbaik bagi rakyat dan kerajaan ini, menyambungkan warisan leluhur nenek moyang, utusan para dewa.” Mulutnya berkomat-kamit memberikan “isi” pada keris warisan itu.

Keris itu disentuhkan dengan lembut pada kepala, serta kedua pundak pria muda itu.

“Berdirilah,” lanjutnya. Pria dengan rambut hitam-kelam itu menurunkan sembah serta tongkatnya. Dia bertantang mata dengan ayahandanya. Wajah pria itu tak terduga melembut melihat anandanya yang sudah dewasa, berkumis tebal.

“Terimalah keris persembahan para dewa ini, pelindung keluarga raja, disepuh oleh Mpu Syahwana, semoga kelak keris ini akan melindungimu.” Dia terdiam sejenak. “Di manapun engkau berada.”

Anandanya menunduk, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Maka, diletakkanlah keris penanda jabatan raja itu di atas tangannya. Perlahan, dia membawanya bersejajaran dengan matanya yang juga hitam-kelam.

“Aku terima keris ini, sebagai tanggung jawab keturunan raja pengemban tugas dewa, menyejahterakan rakyat, membawa keadilan dan kebenaran di atas bumi kerajaan Kediri ini.”

Hadirin berseru-seru menyuarakan puji-pujian mereka atas raja baru di kerajaan Kediri. Sembah mereka semakin mendalam, menyongsong langkah Ananda Raja menuju singgasana agung. Seiring dengan itu, ayahanda dan ibundanya duduk di kedua singgasana yang berada di kanan dan kirinya. Suara gong dibunyikan beberapa kali seiring dengan nada puji-pujian yang terlantun semakin membahana.

…bersambung…

 

Catatan Penulis :

Ini pernah kuposting sebelumnya, kuposting ulang supaya novel keduaku ini bisa diposting sampai tamat. Ditunggu kritiknya, yang pasti ini novel masih cupu 😀

About Undertale

i had all lots of, lots of fun with undertale. but if want undertale website you type undertale.com on the google (or maybe google chrome)

We Have Revalutions Of Undertale Characters 😉

 

 

Go Down To Look The Characters.

 

 

(WARNING: UNDERTALE SPOILERS ONLY)

Here Is The Characters:

You Want MORE AND MORE?

Why Dont You Wait?

I Will Make More Undertale Posts This Time.

If  You Want It Now.

You can say what the idea say and make yourself!

You can comment below on the comments!

You can like or love this!!!

(DO NOT SHARE IT WITHOUT PERMISSION.)

BYEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!!!!!!!!

download.png
Source Image: reddit.com

Mirror

You are there
At me lurking as you are
You stay ere
And be standing still more
Part of me you become
Crowning
Past of you I bedone
Casting
Touch you I dare not
Still, to you I long
Oh stain
Grew inside down beneath
Oh disdain
Glow of me beseech
At the far
Clocks tick fast
As they scar
Crowds seek comrades
All but one
You are there
Smirking with lips that are bare
You stay ere
Still you haunt till I scatter
You are none
But me
Depok, 16 December 2017

Waktu yang Terlalu Jauh

Sekali aku pernah dengar perkataan, “kalau aku tidak menuliskan apa yang ada di kepalaku, aku akan mati.” Di sini, di dalam jiwaku sendiri, aku bisa merasakan apa yang ada di benak orang itu. Betapa kematian ada dalam beragam rupa dan mengintip dari banyak celah.

Tapi, begitu banyak pula alasan untuk tidak menulis. Atau, sederhananya, terlalu takut untuk menulis.

Pekerjaan.

Keluarga.

Kepincangan pribadi.

Sesuatu yang benar bukan dalam selongsong yang tepat. Rasionalisasi, itu saja yang diperlukan manusia untuk beralih dari situasinya, yang sebenar-benarnya. Dan aku sudah rasakan akibatnya. Pahit dan terlalu pahit. Kata-kata berlompatan dan tumpang-tindih semaunya, tidak mau teratur dan tidak bisa diatur.

Ekspresi yang tidak memadai, tidak mau berbenih dari waktu-waktu yang terbuang. Siapa bilang lebih banyak waktu maka lebih banyak karya? Kebohongan yang manis dari jiwa-jiwa pesimis yang hanya mau bermimpi dalam tidur. Waktu bukan apa-apa, kecuali kita yang menggandengnya.

Terlalu banyak bicara tentang waktu, sampai kehilangan makna di balik bayang-bayangnya. Bukan, bukan waktu yang menyembuhkan, tapi pikiran yang mengelanakan waktu ke peraduan semestinya, maka ia yang akan menang.

Aku sudah sekarat, tapi enggan untuk mati. Jadi, kulakukan hal yang sudah seharusnya, sejak lama, menginjak tanah dengan kakiku sendiri. Terseok jatuh bukan hal luar biasa. Bercengkerama dengannya, menjadi satu lalu menumbuhkan yang lain, barulah kemenangan pelan-pelan itu terjadi.

Inilah ketakutan yang kubicarakan, kemenangan pelan-pelan yang tak terasa, bahkan tidak tergubris oleh mata telanjang. Kemenangan yang diinjak oleh keserakahan dari pikiran yang terselubung jentik-jentik ekspektasi. Bergerombol pelik hingga hilang celah untuk mengintip.

Kadang, aku hanya tak sabar untuk melompat ke satu waktu yang belum lagi kukenal.

 

Indonesian Poetry : “PALU”

Palu

 

Palu itu sudah berkarat

Gaungnya masih nyaring, memang

Pantul-memantul pada sekat-sekat

Gamang meminta arang

 

Palu itu kayu rapuh

Gemilang pada masa rentang

Pandir kala meramu

Gus, memang dia hanya barang

 

Dia, manusia

Menggerakkan, mengelakkan

Dimana palu menggema

 

Dia, manusia

Membuang malu, menggusur nurani

 

 

Dia, manusia

Mendewakan dewa yang telah mati

 

Adil sudah lewat

Zamannya telah lalu

Adil bukan maslahat

Sekadar guyon lucu

 

Selamat jalan

Kusebar permata di setapak ini

Untukmu yang buta akan keseakanan

 

Selamat jalan

Biar mayat-mayat garuda

Terlibas demimu berjaya

 

Depok, Indonesia, 26 November 2017

—————————————————————————————————————————————–

 

So, eventhough I change my language preferences in my site, I always love Indonesian language, duh! I’m from Indonesia, however. Besides, I really want everyone knows about my beautiful language. And it’s only my national language, there are many languages in my country. According one of Indonesian’s news media there are 652 languages, not including a dialect and subdialect of those languages. (the source : Republika : There are 652 Community Languages in Indonesia)

Ethnologue.com has the lists, I don’t even know mostly of them (So ashamed of myself, but it’s many!). You can visit here, if you ever care: Lists of Indonesian language.

Back to my poetry, I will give you in English translation :

 

 

Hammer

 

O Hammer was corroded

Its echo still aloud, indeed

O resounding among dividers

Its nerves shakes up beg for black coals

 

O hammer was tender 

Effervescent at between times

Obtuse at collecting

Childs, indeed he was merely things

They, human

Move, escape

Where he echoed

 

They, human

Move away ashamed, thrown conscience

 

 

They, human

Worship Deity who was perished

 

Justice was gone

The era was ended

Justice salvation no more

The hideous joke now he served

 

Farewell

I spread jewels on this path

For you blinded by the pretence

 

Farewell

Let the remains of Garuda

Forsaken at your triumphant

 

Depok, Indonesia, 26 November 2017

 

Only a little bit explanation. “Gus” is an old word, usually used in Java. And Garuda, I can’t translate that, because it’s the symbol of Indonesia. 🙂

Hope you know a bit of Indonesia know.

 

 

antara maya dan nyata