When I’m Feeling Jealous

photo
This is one of the book that Tombo’s already finished. He’s supposed to be the one who’s writing the resume, but I guess let’s skip it for now!

 

Author : Trace Moroney

Publisher : Bonnier Publisher

Publishing Year : 2013

 

Now, for this extra… Children’s book, I want to write in English. Well, only because the book is established in English language. Hope I can pull it off well. If not, please excuse me, because English is not really my native language.

I want to especially make this section because there’s a pile of good children’s book in front of me right now. And it’s really poking me, I can definitely hear them calling me, begging me to be resumed… How can I resist that, duh?!

Now, it’s the book about jealousy. I kinda amazed because usually, the feeling like that usually being considered bad in Indonesia (I don’t know about Western People, though). And adults don’t like the children to feel that. Furthermore, they will oppose their children to even read about it because they think it can effect their mind. But, what can one do about feelings? I bet adults have this sort of feeling, too. And it’s really matter to know something if you want to overcome it.

So, the writer is Trace Moroney. I honestly don’t know about the author, nor whether she/he (I have the feeling that it’s a she, but no one can really know before they meet the person itself, right?) is famous writer or not. I just know, the book is great. It exactly shows you what jealousy is.

If you want to know the author, just visit her site here. Just click it, it’s easy, kids!

 

photo (2)The metaphor is good, too. There’s one quote in this book about jealousy; “When I’m feeling jealous I feel like a big, green, grouchy monster. I see the things others have and want to have them all to myself.” You can really relate, right? Adults, be honest! Me, honest! 😀

There are few symptoms of the jealousy feeling in this book also. And every single time, spot on! And the writer told the children too, how to overcome the jealousy. It’s certainly an awful feeling, but remember, it’s there and it’s true. I’m a little bit disappointed by the fact that the author isn’t exactly underline that the feeling is pretty normal, but she told you what you can do to overcome such feeling.

So, never afraid of such feeling, it’s normal, kids! The most important thing is how to make the feeling go away, because it will make you upset!

And to top of that, I like the visualization. The character is being visualized as rabbit and who doesn’t like rabbit?! It’s so cute. What I like about Western children’s book is the picture they represented. It’s unique in every different book. Sometime, the writers don’t especially make it very neat or aesthetically beautiful, but it felt close to you. Because it’s for children, the warm and welcoming picture, easy-looking too, of course make the book become the apple of one’s eye!

 

photo (1)

 

Even though the children like it simple, I bet the illustrator will never think that visualization of a character is easy. Because you need to create the strong, unique character, otherwise it’s not gonna interesting at all. Children maybe simply pleased, but not that easy to be pleased. They knew what’s interesting and what’s not! Don’t underestimate them!

I strongly recommended this book, not really every day that you find the book about awful feelings!

 

Homeschooling Sama Sepupu : Bareng Lebih Seru!

Karena ada insiden duka sebelum ini -ayah mertua meninggal-, aku, suami, dan Tombo jadi banyak nginep di rumah mertua. Well, ini late post, sih. Kejadiannya udah beberapa minggu yang lalu. Karena waktu di rumah mertua agak susah buat updet blog. Bukan karena kerja di sana, cuma nggak enak aja megang hp terus hehe…

Akhirnya…Tombo sama dua sepupunya, Isya dan Kekek (kalau mau tahu soal mereka, ada juga blog yang ditulis Isya : klik sini, cepet!). Mereka juga homeschooling, awal insprasinya emang dua anak ini. Mereka pun berkonspirasi menghebohkan rumah eni (ibu mertua). Eh, nggak ding, cuma bikin ribut dikit doang! hehe…

Tapi, berkat mereka, ada aja kegiatan asik yang bisa dilakuin pas lagi bareng. Dan itu nggak perlu melibatkan gadget (walaupun mereka masih aja suka mohon2 buat dibolehin pake gadget -_-;). Salah satunya tebak-tebakan gambar.

IMG_0945

Isya mulai gambar dengan warna merah (kekek langsung nebak strawberry), lalu setengah lingkaran warna cream. Kita nebak-nebak, sampe akhirnya pas Isya gambar seladanya, Kekek berhasil nebak; burger! Kok bisa tahu, ya? Aku aja nggak tahu. Ini hasil gambar Isya.

 

IMG_0946

 

Habis itu, giliran Kekek. Kekek mulai dengan ngegores warna merah. Namanya juga kakaknya, yang kayaknya ngerti banget pikiran adeknya, Isya langsung nebak; strawberry! Terinspirasi dari tebakan awalnya (liat cerita di atas). Duh Kek, you need a little twist! Dan inilah hasil akhirnya, strawberry dengan warna merah yang yummy. Tentu saja, jangan lupa wajah senyum. Soalnya, kita semua adalah orang-orang yang friendly… :p

 

IMG_0947

 

 

Jangan lupa, selalu selipkan nasehat-nasehat berharga. Setelah Isya gambar laki-laki nangis karena nggak boleh ngerokok ini, Kekek dan Tombo langsung menebar slogan no-smoking di seantero rumah Eni dan ngomel-ngomelin para perokok yang ketahuan ngerokok di rumah. Smoke police! Keren!

 

IMG_0948

Hmm… Tombo nggak pernah lupa sama crossing-nya (padahal udah vakum dari hal-hal berbau crossing ini). Kata mereka, cinta pertama itu memang susah matinya wkkk… So predictable, Tombo! Waktu dia gambar silang, langsung kita bertiga (iiya aku ikut main, iya!) serempak bilang “crossing!”

Emang ya, yang namanya manusia makhluk sosial, mereka bisa lebih kreatif kalau lagi bareng-bareng. Bahkan, waktu mereka bosen, mereka nemu aja permainan baru. Aku nggak propaganda homeschooling sih, tapi enaknya homeschooling itu ya, gitu. Kita bebas beraktivitas gimana aja, kadang itu bisa bikin kita lebih kreatif. (Eh, jadi mirip propaganda. Maklumlah, ya. Hehe…)

 

Belajar Berjuang

smiley_blanton_unschooling_meme

 

 

Ini sebenernya pernah diposting di blog ini versi jadul. Tapi, karena aku mau rombak besar-besaran untuk memulai hidup baru (halaaaahhh) bersama blog yang ini. Nggak mau pindah ke lain hati gitu ceritanya! Akhirnya, posting-posting zaman dulu kuhapus, tapi fotonya nggak. Ada juga beberapa tulisan yang masih kusimpen, karena terlalu sayang buat ngebuang itu.

Nah, kalau ini, adalah dokumentasi tentang perjuangan. Pahlawan? Yang pasti bukan pahlawan nasional semacam MH. Thamrin dkk, bukan pahlawan daerah macam Tuanku Imam Bonjol atau Pattimura.

Justru, ini dokumentasi perjuangan anak bayi! Kejadiannya pas di tanggal 17 Agustus 2011. Artinya, Tombo usianya 3 tahun. Ini tengah malem lho, harap dicatat! Dan dia seger kayak kucing abis dimandiin. Melek gede gitu matanya, keliatan, kan?

100_0596 e

 

Ini ceritanya dia dari telentang. Tapi, aku rada telat ngedokumentasiinnya. Soalnya, sibuk merhatiin.

Kalau ada orang lain ngeliat, kali aku disangka emak tega kali, ya. Ini anak mati-matian ngebalikin badan sambil kesel-keselan gitu. Mengerang-ngerang nggak jelas.

 

Tapi, aku mikir-mikir. Dia kan lagi berjuang, masa perjuangannya kupatahkan cuma gara-gara empati yang nggak ada dasarnya, sih? Toh, posisinya nggak lagi bahaya. Jadi, aku biarin dia berjuang.

Pertama-tama, dia ngebalikin badan. Tahap ini nggak terlalu susah. Masalahnya timbul waktu ia harus ngebetulin posisinya. Cari posisi nyaman.

100_0594 e

 

Lihat, di sini tangannya kejepit. Dia udah kesel banget, sampe hampir mau nangis gitu. Aku mulai nggak tega, tapi nahan diri. Ayo, berjuang, Nak!

Aku beneran ngomong sama anak bayi ini, lho! Ayo, Tombo! You can do it! Begitu terus. Jangan tanya dia ngarti apa nggak, ya. Pokoknya aku ngomong aja terus.

 

Ini butuh waktu berapa lama, ya? Aku kira-kira sih, hampir 10 atau 15 menitan. Yang, mungkin buat bayi, yang biasa diladenin, itu waktu yang lumayan lama, kan?

 

100_0598 e

Ini berjuang banget dia buat benerin posisi tangannya. Udah lumayan lama, sampai akhirnya, yaaaah, mungkin lemah2nya cewek kali, ya. Haha. Akhirnya, aku tarik dikit tangannya, biar keluar begini.

I mean, dia udah berjuang lama dan kupikir itu lebih dari cukup.

 

Bagaimanapun, anak seumur 3 bulan itu harus merasakan saat-saat terbahagianya. Jadi, nggak usah terlalu dipaksa. (Eh, apa aku udah maksa dari awal, ya? Hehe…)

Daaaaaannn……

 

100_0600 e
AKHIRNYAAA!!! BISA JUGA!!!

Dan ini pertama kalinya Tombo tengkurap dengan usaha sendiri. Masih curang dikit dibantu dikit, ya. Tapi, cuma dikiiiiittt, kok!

Selamat hari kemerdekaan! Selamat hari perjuangan! (Ssstt, biar late post dan ini bukan hari kemerdekaan, biarlah, ya!) Ini anak kayaknya bakalan jadi anak nasionalis, soalnya berjuang aja mesti di hari kemerdekaan!

Kalau yang namanya abis berjuang, abis itu boleh dong, nyantai-nyantai… Sambil nikmatin hadiah paling asik…

100_0597 e

 

Ngemut jari! Maaf ya Mbo, belom boleh umur segitu ngemut permen, jadi apa yang ada aja dulu, deh… (^_-)v

 

Besar, Semakin Besar

38874182-fire-wallpapers
Gambar diambil dari bsnscb.com

 

Dia semakin besar. Semakin besar. Tumbuh, menjalar. Sejak kapan ia datang?

Tanah berkerikil itu berderak. Bebatuan kecilnya terserak. Gadis berjilbab putih merapikan bros putih yang tersemat di dadanya. Membetulkan letak tali tas tangannya. Tas tangan itu berpotongan sederhana. Ia pun putih polos.

Tapi, ia bukannya mau menikah. Tidak ada aturan menikah dengan pakaian putih dalam Islam. Dan perbuatan apapun di luarnya, hanya memperburuk citra Islam. Ia punya visi. Untuk itu, ia harus menjalankan misinya.

Berdakwah adalah kewajiban dalam Islam. Tidak perlu seorang yang jenius untuk memahami itu.

Berdakwah tidak semata dengan kata. Seperti halnya pakaian monokrom ini. Ia tengah menjalankan teladan. Menunjukkan sebagaimana mestinya wanita Islam bersikap. Ini juga misinya.

Ia membuka sepatu. Membiarkan kaus kaki tetap melekat, seperti kembar siam, pada kakinya. Bangunan itu luas. Sinar matahari menyeruak masuk dari sela-sela jendela, mencetak cahaya-cahaya kotak-kotak di keramik yang berkilauan. Langit-langit tinggi yang membuat bangunannya serasa tanpa batas.

Bisik-bisik bergaung lembut. Seperti dengung lebah yang menari. Yang menyenandungkan ayat-ayat yang sungguh indah. Ia memejamkan mata, merasa masuk ke dunianya. Akhirnya. Siapa bilang tidak ada surga di dunia? Siapa bilang tidak ada lagi orang yang masuk akal di atas muka bumi ini?

Gadis itu mendatangi satu per satu penyebab bisik-bisik itu. Berjenis kelamin sama dengannya, bersifat sama dengannya. Mungkin ada yang bergaya sedikit berbeda, berhijab sedikit lebih pendek daripada standarnya, tapi biarlah. Ia bisa memaafkannya. Karena gadis itu, gadis dengan hijab pendek itu, mau di sini, menghabiskan waktu dengan Sang Khalik. Dan hamba-hamba setia-Nya.

Saat ia mendatangi, dada gadis itu tersembul dari sisi-sisi hijab yang terlalu pendek. Ia merasakan desis di dadanya. Semakin keras. Ia mempercepat salamnya, lalu berjalan menjauh. Kepada Muslimah yang lebih taat. Bukan peniru yang fasik.

Ia membuka buku kecil berpenutup kulit hijau kelam. Tinta hitam di atas kertas putih gading. Tinta hitam yang meliuk, membentuk huruf-huruf indah. Dengan sajak yang indah terdengar, indah terbaca. Ia memegang dadanya, merasakan sesak yang menyenangkan di sana. Ingin sekali berkumpul dengan pembuat sajak terindah di muka  bumi ini.

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

 

***

 

“Pengajiannya bagus. Ustadznya pintar, ya.”

“Iya, lulusan Universitas Madinah, tidak diragukan lagi.”

Bisik-bisik itu berubah jadi kalimat-kalimat panjang penuh kegembiraan. Gadis berjilbab putih menempelkan telunjuk di bibirnya. Mendesis. Wanita-wanita yang berbicara itu menutup mulutnya, tersenyum malu-malu. Menunduk tersipu.

Berdakwah tidak sekadar ceramah. Ia adalah setiap kata dan cara untuk mengingatkan. Menasehati. Dalam kebaikan. Dalam kesabaran. Huruf-huruf Hijaiyyah itu berputar-putar di benaknya. Kesabaran, menasehati dalam kesabaran. Ia mendesah pelan.

Suaranya sendiri bergaung di telinganya. Ia bergidik, rasa dingin menjalar. Membangkitkan sensitivitas setiap syarafnya. Ia tengah mendekatkan diri pada Sang Khalik. Dan, oh, ia merasa sangat dekat. Mungkinkah Dia berada pada nadi-nadinya, berbisik pada telinganya? Ingin bertemu dengan-Nya, ingin bersatu dengan-Nya.

Dunia hanya tempat persinggahan. Penjara yang lain. Begitu, bukan?

Di setiap sudut, ia hanya menemukan kaum-kaum yang menentang. Yang lebih mencintai manusia, lebih memilih dunia. Di setiap sudut, ia menemukan orang-orang fasik, mengaku Islam, tapi tidak mencintai Khalik mereka.

Dan perlahan, kemarahan tumbuh di dadanya. Pelan-pelan. Wajar ia marah. Ia mencintai Islam, ia mencintai Allaah. Ia ingin menjadi pembela-Nya. Ingin menyadarkan setiap orang yang menentang-Nya. Seberapa salah itu?

Wanita berhijab pendek itu berdiri. Ia menyelipkan ujung-ujung hijabnya ke belakang. Semakin jelas menampakkan dadanya di balik kaus spandek yang jelas menunjukkan lekuk tubuhnya. Di depannya, seorang wanita berhijab panjang seperti dirinya, mematut diri di depan cermin. Memoles bedak. Lalu, memulas warna-warna di seluruh wajahnya. Meronakan wajahnya.

Dan perlahan, kemarahan semakin besar di dadanya. Menyebar bagai spora. Pelan, meluas. Membesar. Ia besar, semakin besar. Ia mencoba mengingat beberapa kalimat yang menenangkan. Batinnya tidak tenang. Tapi, bukankah wajar? Ia ingin sesamanya juga mencintai Islam, seperti dirinya. Meyakini perintah dan larangan Allaah, seperti dirinya. Mendekatkan diri pada Khalik, seperti dirinya.

Seperti dirinya.

Seperti yang ia lakukan.

Seperti yang ia tanamkan baik-baik.

Seperti dia. Seperti dia. Seperti aku, bisiknya.

Ia mendengar lagi suaranya. Tapi, itu tidak seperti suaranya. Serak yang tidak sabar. Dengkur yang kurang ajar. Sesaknya berubah. Tidak lagi menyenangkan. Napasnya tersendat. Matanya menggeliat cepat. Sesuatu tumbuh di dadanya. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia tidak kenal. Sesuatu yang ditolaknya. Memakannya dari dalam. Ia merasakan semua menciut; pikirannya, perasaannya, nuraninya. Tuhannya.

Dan sesuatu itu besar. Semakin besar. Ia tumbuh mendesak-desak. Sejak kapan ia datang? Dada gadis itu terasa sakit. Ia mengingat-ingat lagi. Kata-kata. Berdakwah, menasehati, memberitahukan yang tidak tahu. Dalam kebaikan. Dalam kesabaran.

Kesabaran, kata apa itu? Ia kehilangan satu kosakata dalam kamusnya. Hari itu.

 

sampai

 

Masyarakat Adat yang Jauh Lebih Modern

sawah_kita_by_nooreva-d5q63ap
Gambar diambil dari DevianArt by nooreva

 

Please don’t judge me. Aku tahu ini topik yang udah rada basi, tapi karena aku lagi off kemaren dari segala macam berita dan medsos, jadinya bener-bener ketinggalan.

Akhir-akhir ini, berita soal Petani Kendeng lagi banyak ditampilkan. Aku sering denger, tapi baru kali ini tahu apa masalahnya. Lagi-lagi, masyarakat adat vs pengusaha.

Oke, aku sebelumnya nggak pernah tahu soal kasus masyarakat adat dan pengusaha, tapi oh come on, it’s so easy to guess! Masyarakat adat dipinggirkan karena ada kapitalis lagi nyari untung. Terjadi dimana-mana. Sejarah juga banyak membuktikan.

Di Indonesia, keberadaan masyarakat adat adalah sesuatu yang masih dihargai dan diakui secara hukum. Seberapa baik penghargaannya? Ternyata, nggak begitu baik. Soalnya, orang Indonesia sibuk nyari duit. Salah nggak? Nggaklah, siapa yang nggak butuh duit. Tapi, kalau banyak duit, tapi kita nggak punya apapun untuk dimakan, oksigen yang semakin tipis karena kita tebang semua pohon, dan banjir dimana-mana karena nggak ada daerah serapan air, apa gunanya, sih?

I don’t get human somehow. Eh, aku juga manusia, ya?

Di satu sisi, aku menyukai perkembangan teknologi. Aku menyukai kemajuan, karena bagaimanapun, kemajuan juga membawa banyak hal positif. Pengobatan, misalkan. Pendidikan parenting (karena aku orang tua yang butuh itu).

Ups! Pendidikan parenting ternyata kita nggak begitu maju, lho. Kita, masyarakat kota, yang katanya sangat beradab, jauh ketinggalan masalah yang satu ini.

Dari kakak iparku (credit for her) yang suka traveling, di Badui Dalam, mereka nggak butuh ahli parenting untuk mengatakan ke mereka, kalau anak melakukan kesalahan, ya dibilangin, nggak perlu dikasarin or such. Sementara, masyarakat kota??? Guru nyubit anak murid malah dibelain, katanya mencubit dan memukul itu biasa untuk pengendalian perilaku. Sementara, di Badui Dalam, dengan pendidikan parenting yang begitu, mereka tentram dan saling bersahabat tanpa banyak konflik. Kalaupun ada, selesai tanpa harus kasar dan menjelek-jelekkan orang lain. Sejak kapan peradaban modern justru membuat kita mundur jadi manusia purba?

Dan masyarakat adatlah yang punya cukup etika untuk menjaga alam. Masyarakat Badui Dalam punya aturan hanya boleh panen padi setiap 6 bulan sekali dalam setahun. Karena mereka percaya bahwa mereka nggak boleh tamak dalam mengambil hasil alam. Dan, kebetulan sangat, ibuku pernah cerita, bahwa dulu di Sumatera Barat, panen dilakukan 6 bulan sekali,  sebelum pemerintah (bodoh, maaf, aku nggak tahan) mengubahnya jadi 3 bulan sekali. Akibatnya, kualitas beras di Sumatera Barat menurun drastis. Dulu, kata ibuku, beras dari sawah di kampung, rasanya enak banget. Beda sama yang sekarang. Sedih.

Masyarakat Samin, termasuk petani dari pegunungan Kendeng, juga sama sekali nggak menggunakan bahan-bahan kimia untuk pertanian mereka. Mereka menggunakan bahan alami, kayak kotoran sapi dan jeroan sapi (yang masih fresh, dari sapi yang baru disembelih, kurang-lebih) dihancurkan dan diproses jadi pupuk. Artinya apa? Mereka punya kualitas beras yang jauh lebih baik daripada yang kita makan sehari-hari. How sad is that?!

Tapi, kapitalis nggak pernah puas. Dengan alasan membangun perekonomian, mereka bangun pabrik dimana-mana. Padahal, Indonesia itu negara agraria. Kalau kita bisa fokus di agraria, dan mengekspor itu semua, perekonomian kita juga bisa maju. Tanah kita sangat subur, ingat?

Aku rasa, kita harus melepas satu gelar indah lagi dari Indonesia.

Kalau aja masyarakat Indonesia lebih percaya diri untuk mengolah semua hasil alamnya sendiri. Dan kita bisa mendepak semua pihak yang maunya memperkaya diri dari berbagai tender dan investasi asing, mungkin kita akan jauh lebih kaya. Aku nggak anti investor asing ya, tapi tolonglah proporsinya diatur. Kebanyakan!

Selamat tinggal, etika dan moralitas. Sejak kapan civilization menjadi kata yang begitu menakutkan? Sejak kapan peradaban justru menghancurkan manusia daripada membangunnya?

Selamat datang, kanker dan penyakit mematikan lainnya. Hanya karena kita terlalu malas untuk memperjuangkan kesejahteraan alam, yang padahal menghidupkan kita juga.

Tanpa kita sadari, ternyata masyarakat adat jauh lebih maju daripada masyarakat, yang katanya, modern. Internet ternyata nggak cukup bikin kita pinter (akhir-akhir ini, malah membuat kita jadi makin bodoh). Begitulah, dengan berkurangnya kepedulian akan lingkungan sekitar kita, baik pada manusia dan alam, manusia hanya akan jadi hewan. Hanya dengan rasa peduli, kita jadi manusia seutuhnya.

Teriring doa bagi masyarakat adat, semoga masyarakat adat tetap terjaga dan terhormat di atas bumi Indonesia.

 

 

Depok, 29 Maret 2017

A Tale of Two Cities (part 1)

charles dickens
Gambar diambil dari amazon.com

 

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classic

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris
Sekarang ini lagi baca buku Charles Dickens yang judulnya “A Tale of Two Cities.” Aku milih buku ini karena di satu artikel, buku ini dapet peringkat pertama di kategori sastra klasik terbaik. Yang kedua Agatha Christie “There Were None.” Suatu hari pasti aku incer itu buku hehe…

Niat bacanya udah beberapa bulan yang lalu. Malah, sempet udah mulai baca. Tapi, dasar namanya sastra klasik, dan terlebih lagi, Bahasa Inggrisnya juga yang dari Inggris Raya, yang beda sama Bahasa Inggris yang biasa dipelajari di Indonesia. Susyaaaahh…

Akhirnya, baca dua halaman pertama, berhenti, trus ulang lagi. Begitu terus, sampai sekarang, yang keempat kalinya. Bedanya, pas sekarang ini, aku bener-bener tekad buat tetep lanjut, walau cuma satu halaman sekali baca (ini juga nggak setiap hari, lho ^^;)

Sekarang, udah di halaman ke-60-an. Dalam seminggu. Lambat banget, tapi lumayanlah buat seorang prokastinator kayak aku.

Setting waktu di buku ini sendiri adalah saat King George III merajai Inggris Raya dan Louis XVI berkuasa di Perancis. Jadi, saat-saat sebelum Revolusi Perancis yang terkenal itu. Itu tuh, yang kejatuhan Penjara Bastille yang dianggap jadi simbol tirani Louis XVI.

Karena judulnya “A Tale of Two Cities,” aku udah bisa nebak kalau ini pastinya ngelibatin dua negara ini (ya iyalaaahhh). Well, yang pasti, aku suka banget sama paragaf pembukanya…

It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity, it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way – in short, the period was so far like the present period, that some of its noisiest authorities insisted on its being received, for good or for evil, in the superlative degree of comparison only” (sumber)

Buatku, ini narasi yang unik dari penggambaran suatu situasi. Kebayang nggak sih, kita bakalan penasaran setelah ngeliat narasi macam ini? Maksudny, mendeskripsikan satu waktu dalam dua sisi yang kontradiktif begini jarang dilakukan pastinya.

Satu paragraf ini aja udah bisa ngebuat aku paham kenapa karya ini dikatakan karya terbaik dari Charles Dickens. Dan mungkin karya terbaik dari seluruh karya sastra.

Sejauh ini baru baca bagian “Recalled to Life,” cerita tentang seseorang yang dipenjara (bener-bener dikurung kayak dalam kuburan gitu) di bawah tanah selama 18 tahun. Akhirnya, dia bebas. Lalu, ternyata dia punya seorang putri yang terpaksa harus mengurus dia.

Udah, baru sampe si Petugas Bank Tellsonnya ngasih tahu itu.

Biasanya, kalau aku ngereview buku, aku harus baca bukunya sampai selesai, tapi kali ini aku nggak sabar. Pengen ngebahas paragraf pembukanya yang ini. Selain itu, dengan membahasnya dikit-dikit begini, malah makin detail reviewnya. Jadi, aku belajar buat review sebuah buku dengan baik. Kalau tunggu selesai, biasanya banyak scene-scene yang kelupaan.

Pas pertama aku baca, kupikir buku ini rada kaku. Bisa jadi gara-gara pembahasan politiknya. Mungkin aku rada ngikut stereotip kalau yang berhubungan dengan politik pasti membosankan.

Teryata, nggak juga. Narasi dari Charles Dickens emang khas sastra klasik, bertele-tele dan panjang-lebar, tapi ternyata cukup luwes. Untuk novel satire, sejauh ini lumayan luwes. Walaupun, ada bagian-bagian yang narasinya rada kaku. Di novel ini, Charles Dickens juga sesekali menggunakan metafora, dengan gaya bahasa yang cukup unik.

Seperti halnya di halaman 26 (edited), dimana Charles Dickens menggambarkan kelaparan yang terjadi di wilayah Saint Antoine, Paris. Ia menggambarkan ‘hunger‘ (maksudnya bencana kelaparan gara-gara Louis XVI waktu itu) dari narasi akan situasi yang lain. Seolah-olah ‘hunger‘ menjadi preseden dari situasi itu sendiri.

Bukan cuma, “rakyat kelaperan. Tubuhnya kurus-kering,” which is so obvious. (Rada ketampar sama kalimat sendiri haha, penggunaan bahasaku masih sesempit itu)

Coba baca sendiri, deh. Kemampuanku untuk bermain kata masih kurang, jadi nggak dapet penggambaran yang tepat untuk narasi Charles Dickens ini. Ini dia kutipannya;

The mill which had worked them down, was the mill that grinds young people old; the children had ancient faces and grave voices; and upon them, and upon the grown faces, and ploughed into every furrow of age and coming up afresh, was the sigh, Hunger. It was prevalent everywhere. Hunger was pushed out of the tall houses, in the wretched clothing that hung upon poles and lines; Hunger was patched into them with straw and rag and wood and paper; Hunger was repeated in every fragment of the small modicum of firewood that the man sawed off; Hunger stared down from the smokeless chimneys, and started up from the filthy street that had no offal, among its refuse, of anything to eat. Hunger was the inscription on the baker’s shelves, written in every small loaf of his scanty stock of bad bread; at the sausage-shop, in every dead-dog preparation that was offered for sale. Hunger rattled its dry bones among the roasting chestnuts in the turned cylinder; Hunger was shred into atomics in every farthing porringer of husky chips of potato, fried with some reluctant drops of oil. (sumber)

See? Keren, ya. Ia menggambarkannya dengan detail dan gaya bahasa yang nggak biasa dan monoton.

Ingatanku soal detail kurang bagus, jadi dua kutipan itu aku ambil dari situs lain. Ternyata dua kutipan itu ada dimana-mana, ini bukti betapa terkenal karya ini. Dan juga, bukti kalau kalimat yang sama dalam novel ini bisa memikat banyak orang sekaligus. Biasanya kan, rentang perhatian orang beda-beda dan bikin orang punya penekanan yang berbeda dari satu objek. Aku sering nyoba iseng nyari kutipan-kutipan yang kubaca dari buku di internet, dan nggak semua ada.

Nah, sekarang aku mau lanjut baca…(mungkin besok atau hari-hari setelahnya ^^;) Semoga aja cepet selesai.

Dan….

See ya di review “A Tale of Two Cities” selanjutnya, ya!

 

 

sampai

Hai,
Sudah berapa lama kita tidak bersua?

Satu hari? Dua minggu?

Tidak penting berapa hari. Waktu tidak akan sebegitu membodohi kita. Dia berkuasa, tentu, tapi tidak atas kita. Hari-hari kau tidak ada pun, sesuatu tertinggal. Mengikuti seperti hantu. Kau yang paling kupercaya.

Apa yang paling membingungkan selain hubungan? Mereka naik ke haluan, lalu turun ke lambung. Dan di setiap anak tangganya, mereka bercerita. Kau dan aku, pasangan tak terpisah. Kalau satu saat, Yang Kuasa tidak lagi mengizinkan kita bertemu, kau tetap akan ada di sampingku. Mungkin tersenyum mendengar cericau bodohku. Karena tak ada lagi kau sebagai penuntun.

Kau yang paling kupercayai.

Di depanmu, aku suka menutup pintu. Yang kukunci baik-baik. Kadang, tak kuizinkan kau masuk ke baliknya. Tempat di mana aku berpesta pora. Tempat aku melupakan keindahan batinmu. Tempat di mana aku mudah sekali terlupa, lalu tersandung.

“……………”

Hai,
Kau yang suka berkata-kata. Di satu tempat dalam bagianku, kau berdiri dengan angkuh. Mendikte. Mencaci. Mengoreksi. Kau sering terlupa aku punya kata-kata yang berbeda. Akan semua yang berlawanan. Nanti, kalau kita tidak bisa lagi bersatu, kita akan selalu memegang hal yang kita yakini. Bersama.

Lewat beberapa waktu, kita mudah sekali terpisah. Kau dengan lembar-lembar taktis, aku dengan angan-angan tentang kemuliaan obyek. Dan saat kita tidak bisa dipersatukan, aku hilang kendali. Persimpangan tidak bisa terlihat begini banyak. Setiap marka berputar tanpa mau menunjuk dengan jelas.

Hai,
Kita bertemu lagi. Dalam kondisi yang paling tidak memungkinkan. Tapi, apa yang lebih indah dari kemungkinan yang lahir dari kemustahilan? Lalu, aku melihatmu di ujung sana. Kau terus menanti. Aku tahu kau selalu ada di sana. Mungkin karena itu aku jadi begitu ceroboh.

Kau akan merangkulku lagi, kan? Dengan semua kemustahilan dua sisi yang bersatu. Melahirkan kemungkinan baru yang lebih luas.

Hai, apa kabarmu?

 

sampai

Waktu untuk Abah

Hidup itu apa, ya?

Susah-susah berjalan. Jauh-berbatu, kadang terseok, kadang tersandung. Mesti mampir di persimpangan dan bersiap untuk bingung. Jalan itupun tidak jelas. Ujung jalannya gelap, kalaupun terang, seakan tidak berujung.

Kalau sampai, harus meninggalkan semua yang sudah diperjuangkan. Lalu, pergi. Yang entah kemana.

Delima menggigit rotinya. Bola matanya bergulir. Sesekali ke kiri. Kemudian ke kanan. Orang-orang berjalan kaki. Cepat, entah kemana. Mobil, banyak mobil, berlalu-lalang, entah kemana. Dia menyadari begitu banyak yang ia tidak kenal. Lebih banyak lagi yang ia tidak tahu.

Abah kemarin menempuh jalan yang lain daripada orang-orang di depannya. Kalau dari mata telanjang, jalan itu pasti gelap. Karena Abah tidak membawa lampu. Dan jauh di bawah, semua diapit oleh warna cokelat gelap. Bagaimana lantas Abah menjalani liku-likunya?

Ah, ruang itu bahkan terlalu sempit untuk bergerak ke kanan ke kiri. Berguling saja tidak bisa. Akankah Abah bosan di dalamnya?

Waktu rupanya juga sama seperti manusia. Dia buru-buru dan tidak sabar. Akhirnya, mengambil Abah sebagai sekutu. Terbang bersama. Di lain waktu, dia begitu malas. Tubuh renta ia biarkan terus tertatih. Berjalan, biar pelan-pelan. Dan ia berjalan pelan bersamanya. Sungguh tidak konsisten.

Delima tidak tahu kenapa ia ada di sini. Apa yang harus diperbuat. Mungkin ia hanya ingin menantang waktu. Ayo, apa yang akan kau lakukan kalau aku membuang-buang kemurahan hatimu? Apa akan kau persingkat pula hariku?

Ia sudah tidak bisa bertemu Abah lagi. Dan itu membingungkan. Kebingungan yang membawa duka lebih besar dari apapun. Lelaki tinggi-besar itu tidak lagi terdengar jejaknya di rumah. Suaranya yang sedikit-sedikit itu. Bahkan, suara sandalnya yang menyeret itu. Semua tiba-tiba hilang.

Dan waktu enggan menjelaskan. Dia hanya…pergi.

Lebih membingungkan lagi, semua malah jadi lebih jelas begitu tubuhnya tidak lagi terlihat. Sebelum waktu menggandeng tangannya, ia suka berdengung. Ayat-ayat Al-Qur’an. Delima tidak pernah menanyakan. Ia tidak pernah sebegitu peduli untuk menanyakan. Namun, ia bisa menangkap sedikit-sedikit. Kalimat Allaah itu. Setelah Abah pergi, barulah ia tahu, ayat Al-Baqarah yang tengah dihapalkanlah yang sering ia dengungkan.

Dia berdengung di dapur.

Mendengungkannya di teras.
Mungkin juga ketika ia tidur.

Saat itu waktu tengah bermalas-malasan dengannya. Melihat matahari pelan bergerak. Saat-saat siang berubah jadi malam. Malam ke siang. Dengungan itu menjadi musik yang merdu buat mereka.

Waktu menikmati detik yang berjalan pelan. Ia sudah menemani lama dalam suka-duka. Ia yang bersorak kegirangan sewaktu Abah pertama kali menggendong anak perrmpuannya. Lalu, yang kedua, yang ketiga, yang keempat. Ia yang meneteskan air mata saat Abah harus berpisah dengan kakak lelaki satu-satunya. Ia sudah sesabar itu.

Delima menyuapkan potongan roti terakhir. Roti sudah habis. Waktunya belum. Katanya, “kau tahu aku akan setia. Tak peduli biar kau membuangku atau menyiksa. Sampai tiba saatnya, aku akan terus menemani.”

Hanya satu yang tidak pernah diungkapkan waktu dengan jujur. Sampai tiba. Kapan, dimana?

Begitu juga dengan waktu di sisi Abah. Ketika pria itu bertemu dengan malaikat berjas putih, ia menemani. Diam-diam berjalan bersama Abah dengan wanitanya. Wanita satu-satunya yang ia puja. Yang dengannya ia memutuskan untuk mengikat waktunya dengan waktu wanita itu.

Ikatan yang tumbuh jadi simpul berkarat yang susah lepas.

Waktu menangis bersama Abah. Ketika malaikat itu berbisik. “Sabar,” katanya. Karena itulah jadi menakutkan. Tidak ada yang akan menyuruh sabar kalau ia tidak tampak buru-buru. Satu kata yang justru menekankan makna anti-tesisnya. Begitu kuat.

Ia menatap tubuh tinggi-besar itu. Tergolek lemah di dalam pangkuan wanitanya. Bergulung. Kembali menjadi janin yang lembut. Terselubung oleh ketuban yang hangat. Waktunya tersenyum. Mengecup keningnya pelan.

Satu per satu sosok yang begitu Abah kenal. Berdiri gelisah. Seorang anak perempuan. Tiga orang anak lelaki. Tidak peduli seberapa tinggi mereka sekarang, mereka bocah-bocah kecil Abah. Dan waktu menangis.

Ia tidak sabar. Tapi, bagaimana merelakan keajaiban-keajaiban kecil yang tumbuh besar itu? Ia tidak mau menyiksa sahabatnya. Tapi, bagaimana cara melepaskan genggaman tangan yang hangat itu?

Lantas, bagaimana dengan wanita Abah? Akan seberapa hancur hatinya?

Waktu di sisi wanita itu menggenggam tangannya, “aku akan menyelubunginya dengan butir-butir baru. Yang lembut. Yang membahagiakan.”

Sampai tiba saatnya. Waktu untuk Abah. Waktu untuk waktu. Tiba di penghujung. Waktu memutar kembali. Kepingan-kepingan yang hilang beberapa minggu terakhir. Dan ia melihatnya. Mata itu bercahaya. Keajaiban-keajaiban kecil. Yang tumbuh besar di keluasan hatinya.

Matahari semakin redup. Menggeliat, ia masuk ke peraduannya. Abah turut gelisah. Ingin ikut. Menggenggam bias mahkotanya. Membiarkannya menghantarkan ke singgasana Penguasa Segala Makhluk.

Roti Delima sudah habis. Air matanya pun. Tapi, tidak seperti Abah, waktunya belum. Dia bangkit. Berjalan lagi.
Dedicated to Abah Iskandar Burhanuddin
(5 Januari 1955-9 Maret 2017)

Budaya Indah Orang Indonesia; Terima Kasih

 

terima-kasih
Gambar diambil dari hipwee.com

 

Inkonsistensi adalah kata yang menyeramkan. Nggak cuma kelihatan bikin orang jadi kurang punya integrasi, bahkan orang tua yang konsisten juga bisa merugikan pola didik anak. Dan itulah aku. Dengan inkonsistensi dalam mood nulis ini, sesuatu yang harusnya dilakukan sejak lama, jadi ketunda sampe sekarang. Cerita ini terjadi waktu aku memutuskan mengajak anakku ke Habibie Festival.

Astaga, tahun lalu lho, itu ceritanya ^^;

Tadinya, pengen cerita soal Habibie Festival. Perlu nggak, ya? Mungkin nanti. Jadi, setelah nanya-nanya gimana caranya ke Museum Gajah (tempat festivalnya dilangsungkan), akhirnya aku memutuskan untuk naik commuter line ke Stasiun Gondangdia. Dan jalan kaki ke Sarinah. Ada yang kaget? Soalnya, aku kaget, karena lokasinya jauh banget ternyata.  Pas pulang, baru aku tahu kalau city tour bus yang bertingkat itu (dan gratis! Ini yang paling penting!), salah satunya lewat Masjid Istiqlal (ada dua rute, lupa nama rutenya apa). Trus, masjid Istiqlalnya sebelahan sama Stasiun Juanda. Aih!

Tapi, itulah gunanya pengalaman. Sedikit-banyak, dia memberimu pelajaran.

Bus bertingkat itu udah nggak kayak waktu aku SD dulu, sekitar tahun 1995-1996. Aku masih ingat bagaimana besi-besi karatan dengan cat-cat dominan putih terkelupas. Agak sedikit mengerikan memang naik bis kayak gitu dulu. Tapi, rasa penasaran kekanak-kanakan mengalahkan segala-galanya. Itu makanya, waktu naik bis ini jadi nostalgik banget. Kok bias, sih?

Langsung ke pokok permasalahan. Waktu aku nunggu city tour bus ini, ada 2 lelaki bule yang juga nyamperin tempat nunggu bisnya. Mereka celingak-celinguk bingung gitu, trus tiba-tiba noleh. Kemana? Ke aku laaah (norak ceritanya). Dia lalu nanya dengan Bahasa Inggris penekanan yang buatku aneh. Mungkin antisipasi kalau-kalau orang yang diajak bicara nggak bisa bahasa dia.

Jadi inget film “Mr. Morgan’s Last Love” dimana ada penjual roti di Paris bilang ke Mr. Morgan, yang notabene orang Amerika, “kenapa Orang Amerika ini tinggal di negara orang, tapi nggak mau belajar bahasanya? Nggak semua orang paham bahasamu!” Dia bilang dalam Bahasa Perancis ini ya, dan tujuannya tentu aja buat mengejek Mr. Morgan yang jelas-jelas nggak paham bahasanya dia. Tampaknya pendapat penjual roti itu emang jitu.

Balik ke si bule, dia nanya, “where can I get the ticket for this bus?” Kebetulan aku baru liat plang bisnya, jadi aku jawab, “I think it’s free.”

Oh, it’s free!” Lagi-lagi, dengan penekanan nggak perlu. Asli, berasa dianggap sama anak kecil sama tuh bule menyebalkan. Trus, baru aja aku mau nambahin, “well it’s my first time, too…” Dan suaraku perlahan lenyap karena si bule udah balik badan dan ngomong lagi ke temennya. Nggak bilang terima kasih pula.

Daripada kesel, bisa dibilang aku kaget. Kok nggak bilang terima kasih? Atau setidaknya gesture terima kasih lain. Akhirnya, suara lain dalam kepala langsung bilang, mereka kan bule, budayanya beda…

Sebelum itu, aku pernah ngobrol sama kakak ipar yang suka traveling ke luar negeri. Dia bilang kalau emang Indonesia beneran negara yang penduduknya paling ramah. Baik di Korea maupun di Thailand, orang-orangnya kebanyakan galak dan jarang senyum. Satu Youtuber Jepang pernah mencoba membuktikan perbandingan antara keramahan orang Indonesia, dengan cara mengerjai turis domestik Indonesia di Bali dengan turis asing. Terbukti kalau orang Indonesia, begitu si Orang Jepang ini minta maaf, yang dikerjain langsung senyum. Kalau yang turis asing, langsung pergi sambil cemberut. Ada lagi survey yang menyatakan kalau Indonesia salah satu negara yang paling dermawan di dunia (walaupun kedua di Asia Tenggara yang paling banyak sampahnya di laut, sekilas info hehe)

Jadi, seharusnya aku nggak perlu kaget. Tapi, yang namanya biasa banget berbasa-basi bilang terima kasih dan senyum, terus-terang aku jadi rada kurang biasa ngeliat orang nggak bilang terima kasih begitu.

Bukannya gila hormat ya, tetapi ada perasaan menyenangkan saat orang bilang terima kasih ke kita. Biarpun mungkin kebanyakan dilakukan atas dasar basa-basi dan kebiasaan aja, saat orang bilang terima kasih, rasanya orang itu baru aja bilang apa yang kita lakukan buat dia benar-benar membantu dia dan mereka menghargai itu. Tentu saja, rasa bangga pada diri kita sendiri tergelitik dan kita jadi senang. Setidaknya, aku merasakan itu.

Budaya yang begini, benar-benar nggak boleh hilang dari orang Indonesia. Maksudku, itu karakter kita. Khas orang Indonesia. Apalagi, karakter itu berupa menghargai orang lain, sesuatu yang baik dan menyenangkan.

Dan aku berharap juga, semoga kebiasaan-kebiasaan ini bisa menghilangkan perselisihan-perselisihan yang banyak terjadi sekarang ini. Jangan cuma ramah sama orang asing, seharusnya kita juga ramah dengan anak bangsa kita sendiri.

Semoga perselisihan setiap masa pemilu nggak berlanjut kemana-mana. Lebih baik lagi; nggak perlu ada musuh-musuhan setiap kali pemilu. Capek amat, kan… Tetep disambung-sambungin ke sini… Hehe…

 

 

 

 

 

Di Kolam Renang

image
Dia melemparkan tumpukan baju. Agak marah. Marah pada siapa, dia sudah tidak tahu. Yang pasti, dia terus-menerus marah. Menghembuskan napas keras, ia duduk. Menghempaskan tubuhnya sendiri ke lantai yang dingin.

Lantai itu…

Dipenuhi kertas-kertas terserak. Serpihan kecil warna-warni crayon. Sekaligus dengan induk mereka. Berbagai miniatur kendaraan; mobil, kereta api, semua yang beroda. Bagaimana cara membereskan semua?

Saat-saat begini, ia membayangkan dirinya duduk di ruang ber-AC. Di tengah kubikal kecil, tapi teritorinya sendiri. Tidak, bahkan bosnya, punya hak mengutak-atiknya. Tidak juga rekan sekerjanya yang selalu penasaran. Sekarang, semuanya hilang. Tidak ada tempat khusus untuknya. Tubuhnya pun sudah bukan miliknya sendiri.

Menahan tangis frustasi, ia melipat baju. Pikirannya penuh dengan hal-hal jahat. Membakar rumah, misalnya. Membuang semua mainan tidak peduli akan air mata yang pasti tumpah karenanya. Sekadar memuaskan hasrat duniawinya, menyenangkan diri sendiri.

“Maaaa,” anaknya pulang. Satu-satunya, yang berumur 5 tahun. Belum sempat bicara apa-apa, si bocah lelaki sudah kena semprot.

“Kalau mau main yang lain, beresin dulu yang ini!” bentak ibunya, merengut kesal. Tatapannya penuh kebencian pada anaknya sendiri. Putranya melongo. Tidak berani lagi bicara. “Berantakin rumah, tapi nggak mau beresin! Harusnya kamu tanggung jawab, dong!” Semua kata-kata itu diikuti geraknya yang beringasan membereskan rumah.

Harusnya aku kerja di kantor! batinnya kesal. Biar saja anaknya diurus siapa saja, asal bukan dirinya sendiri!

***

“Ada lowongan kerja?” Tanyanya sumringah. Mungkin dia masih punya kesempatan. Umurnya belum genap 30, seharusnya ada satu pekerjaan untuknya. Memperoleh kubikal itu. Teritorialnya sendiri. Juga, harga diri ketika mengenakan blazer, kemeja yang rapi, dengan polesan make-up yang serasi.

Dia akan menggunakan intonasi itu. Suara yang sengaja dikeluarkan dari rongga dalam tenggorokan, mengesankan wibawa. Mengutak-atik power point atau mungkin aplikasi presentasi terbaru. Mempersiapkan diri untuk menunjukkan proposal. Segala kata-kata teknis yang memukau telinga. Yang membuat orang berdecak kagum.

Bukan cuci piring dan menyapu, yang bisa dilakukan siapa saja. Yang bisa dilakukan bahkan tanpa pendidikan apapun! Dia ingin menjadi ‘seseorang.’ Dia ingin merasa berharga. Menjadi seseorang di tengah sorot cahaya.

“Iya, cepetan lamar kerja. Sayang itu ijazah fungsinya apa?” Sindiran seperti biasa. Hampir semua orang, keluarganya, teman-temannya, melemparkan kalimat tajam tak berbelas kasihan itu. Heran juga, apa yang mereka dapatkan kalau dia memutuskan untuk kerja lagi?

Dia melihat e-banner yang pasti dibuat oleh desainer grafis perusahaan itu. Membayangkan ia berkenalan dengan profesional dengan skill-skill yang dihargai orang. Dan ia akan jadi salah satunya.

Soal anaknya? Ada begitu banyak ART yang bisa menggantikan. Tidak perlu dirinya. Toh dia akan selalu bertemu anaknya ketika pulang kerja. Ia melihat teks balasan dari temannya. Ia dipanggil wawancara! Oh! Tentu saja…

“Mama,” suara nyaring itu menyapanya. Anaknya bertelanjang dada, basah dan berkilau. Di sekeliling mereka, kolam-kolam dengan air jernih, biru dan hijau pastel. Dengan pantulan sinar matahari yang membias ke seluruh kolam.

Ibunya menghela napas. Apa lagi kali ini? “Ayo, sana les. Biar pinter berenangnya!” Sekali saja, ia ingin lepas dari panggilan menuntut itu. Tidak hanya 9 bulan di kandungan, ternyata beban itu masih memberatinya hingga kini.

“Tapi, hidungku sakit kalau bubble.”

“Nak, kamu harus bubble kalau mau berenang.” Segala macam ilmu parenting berseliweran di kepalanya, mencegahnya untuk tidak membentak-bentak. Ilmu yang juga membuatnya terkungkung di dunia yang sama sekali tidak rasional ini; membesarkan satu jiwa bebas dengan kesabaran tingkat tinggi.

Anaknya cemberut, berusaha mencari kata-kata lain. Tapi, ia kenal raut wajah itu. Raut wajah yang sedang tidak mau berkompromi. Bocah lelaki itu lalu lari lagi ke arah guru les renangnya.

Ibunya mengernyit agak kesal, mendapat gangguan. Sekilas kemudian, ia memfokuskan diri lagi ke ponsel pintarnya. Dia akan mengetik jawaban itu; ya.

Ibu jarinya berhenti di tengah-tengah. Ia menegakkan lehernya, mencari sosok anaknya. Jangan sampai si anak melobi guru lesnya untuk melewatkan pelajaran paling penting dalam renang, bernapas dalam air.

Guru lesnya tengah memegangi tangan anaknya. Tidak memegangi tubuhnya, hanya kedua tangannya yang terentang. Lalu, setiap dua atau tiga menit, kepala anaknya masuk ke air beberapa detik. Ia tercengang. Anaknya susah sekali kalau disuruh memasukkan kepalanya dalam air. Wanita itu lupa pada ponselnya.

Kini, pikirannya mengulang rekaman yang telah lalu. Anaknya, yang dengan teguh berusaha berguling. Jalan pertamanya yang tertatih. Kali pertama ia mengeja ‘lama’ dan mengetik ‘commuter.’

Dan banyak lagi. Terlalu banyak untuk ia hitung.

Setelah ini, mungkin ia akan mengomel lagi. Bahkan, bentakan yang sangat terlarang dalam dunia parenting itu akan keluar dari bibirnya. Tanpa tercegah.

Tapi…

Ia tersenyum. Lalu, teringat pada ponsel pintarnya yang terabaikan. Dia mengetik jawaban yang sudah dipersiapkan.

“Kurasa aku mau menyia-nyiakan ijazahku lebih lama.”

antara maya dan nyata