Wah, udah berapa lama gak nulis, ya? Dan sekalinya nulis, dari hp yang autotext-nya parah banget. Jadi, maaf kalau typo sana-sini (pake bahasanya juga udah gak formal lagi, sih 😂)

Tapi, bagaimanapun, mobile computing itu bakal susah dihindari karena udah jadi bagian sehari-hari. Aku pribadi masih lebih suka komputer dan laptop dan yang sejenisnya, dengan layar lebih besar dan spek yang bagaimanapun masih lebih lengkap. Mungkin udah ada kali ya, smartphone yang selengkap komputer/laptop speknya? Tapi, harganya juga pasti lengkap juga. Terlalu kompleks buat dompetku yang minimalis ^^;

Teknologi emang akan selalu maju, ditambah penggemarnya yang bejibun, dari orang yang berlomba-lomba untuk memajukan udah sampai yang sekadar gaya-gayaan. Apapun itu, semua juga bergerak mengikuti kemajuan. Yang tadinya orang hobi jalan-jalan ke mal buat windows shopping, sekarang jendela itu bisa dinikmati dari layar yang kecil dan ringan. Bisa dibawa ke mana aja. Otomatis, pedagang gak bisa lagi mengandalkan tokonya yang ribet dan gak praktis itu.

Orang yang hobi nulis sepertiku, akhirnya, dipaksa juga untuk menyerah. Kalau mau ikutan maju, harus berani meninggalkan gaya lama. Dulu, aku berkutat dengan kertas dan pulpen yang luwes menari itu. Patuh pada otak dan ototku. Sekarang, mobile computing seolah-olah mengejek, mengataiku ketinggalan zaman dengan seenaknya memberikan terlalu banyak masukan yang nggak perlu. Lebih lancang lagi, mengendalikan jariku dengan mengubah kata-kataku seenaknya.

Apakah sebesar lagi akan tiba saatnya untuk robot memberontak melawan manusia? Ah, klise. Manusia tentu akan menemukan cara untuk melampaui mereka lagi. Dan kapitalisme selamanya yang akan berkuasa…

Intinya : lagi latihan nulis lewat (dua kali ganti, jadi ‘great’ trus jadi ‘least,’ maunya apa, sih?!) mobile computing karena tuntutan zaman… *nangis*

P.S. Mana ini tulisan miringnyaaaa???!! #stres (taunya paling atas, maksudnya aku harus scroll yang dari bawah ke atas trus ke bawah lagi gituuuh???!! Making stress!)

 

Advertisements

Musik dan Pengikutnya

 

439970-metal-music-heavy-metal-fans
Gambar diambil dari stuffpoint.com dari akun 5co_sl

 

I worshipped Metallica, and it’s not a lie.

Oke, aku tahu kalau dalam sebagian mazhab di agama Islam dikatakan bahwa metal itu musik setan. Bahkan, dalam sebagian mazhab lain lebih radikal lagi, semua musik itu setan. Well, tenang, saudara-saudara, bukan itu yang mau dibahas. Kalau emang musik metal, atau semua musik itu (termasuk qasidah, rawi, gambuskah?) setan, mudah-mudahan dihilangkan Metallica ini dari hatiku. Tuhan kan, satu-satunya Pembolak-balik Hati.

Balik ke soal Metallica…

Karena aku pengagum berat Metallica, dari awal aku join Facebook, atau mungkin beberapa bulan sesudahnya, aku kurang inget, aku udah cari tuh fanpage Metallica. Dulu fanpage-nya masih rada jadul, dimana forum diskusi terpisah dari newsfeednya. Aku heran kok, nggak gitu aja ya, jadi menyaring orang yang nggak tertarik atau emang kurang paham soal diskusi-diskusian. Semua terpampang jelas di newsfeed di timeline itu rasanya… oke, bias!

Aku inget kalau diskusinya asik banget. Ya iyalah, semua tentang musik kesukaan kita, masa nggak asik? Ada juga yang bikin semacam games di mana para penggemar komen satu frase dari lagu Metallica, trus yang komen selanjutnya harus nerusin dengan nebak itu frase ada di lagu yang mana. Tapi, seperti biasa, di ruang diskusi, nggak semuanya yang asik-asik dan manis-manis aja. Ada satu diskusi yang temanya Justin Bieber. Jeng jeng jeng jeng! Gimana rasanya kamu ada di grup musik metal dan denger nama Justin Bieber? Yak, pastinya darah langsung naik! Haha…

Waktu itu emang Justin Bieber masih baruuuu banget di dunia musik, baru keluar, baru mencuat, seperti anak baru lainnya, masih manis gitu. Sekarang kan, udah nggak semanis dulu, kebanyakan skandal. Nggak siap kali ya, sama dunia entertainment? Jiwanya nggak dilindungi dengan semangat bermusik sih, makanya jadi begitu. Ah! Bias teruuuss!! Dan lagu barunya itu berjudul; Baby, Baby. Oke, aku mau jujur dikit, aku lupa judul lagunya, tapi yang aku inget cuma dia nyebut ‘baby’ terus-terusan sampe berbusa di reff. Aku bahkan udah lupa; nadanya gimana, ya?

Di tengah-tengah pemuja Metallica dan metal, tentu nama ini jadi momok tersendiri. Spontanlah si pembuat thread dimarah-marahin karena menyebut nama terlarang di dunia permetalan. Tapi, nggak sampai di situ, akhirnya hater sebener-bener hater muncul. Dia bilang dengan ketikan (bukan nada, soalnya nggak kedengeran suaranya hehe) provokatif, “If I heard he told ‘baby, baby’ one more time, I’m gonna kill him!’ Oh, wow! Dan tahu reaksiku waktu itu, ketawa ngakak! Seseorang di luar sana, menerima ancaman pembunuhan, dan aku tertawa!

Well, soalnya, aku nggak menganggap dia serius. Walaupun, harusnya aku tahu, karena itu berupa tulisan, aku nggak bisa bener-bener tahu seberapa dia serius, atau seberapa dia bercanda. Semua kabur, semua punya kemungkinan sama besar, 50:50. Kalau ternyata bercanda, kita bisa move on dan balik ke keseharian kita, ketawa pas inget lagi komen itu. Gimana kalau 50% di sisi lain yang bener? Tiba-tiba Justin Bieber terbunuh oleh orang itu, pastinya kita nggak bisa ngetawain ancaman itu lagi.

Memang bagi sebagian orang yang sudah memuja metal, tentunya susah juga suka sama musik bergenre lain, karena sifat metal ini yang udah unik dari sananya. Nggak hanya keras, tapi melodinya rumit, trus dengan lirik-lirik puitis (jangan salah, metal itu puitis sangat, lhooo). Apalagi, Metallica ini lumayan unik pula. Pernah denger, metalhead dipenuhi semangat spiritual? Nah, Metallica salah satunya. Banyak lirik Metallica itu mengutip ayat-ayat di Injil.

Tapi, jelas bukan band yang religius. Soalnya, ada salah satu lagu yang judulnya, The God that Failed. Makanya, aku lebih milih spiritual, karena perjalanan spiritualnya James lumayan luar biasa juga. Orang tuanya berasal dari kalangan Umat Kristiani (disebutnya Christian Scientists), yang alirannya rada fanatik, dimana mereka percaya kalau penyakit bisa hilang hanya dengan doa. Karena itu, sekalipun ibunya udah menderita kanker, mereka sama sekali nggak bawa ibunya ke dokter atau pengobatan lain selain doa-doa. Gara-gara ini, lagu The God that Failed muncul.

Singkat kata, liriknya dalam, sarat makna, walaupun kelam. Dia nggak hanya menyuarakan kebebasan dan pemberontakan, seperti lagu metal lainnya, walaupun ada juga soal-soal begitu, tapi banyak hal yang lebih luas daripada itu. Seperti kritik sosial, di lagu Ronnie, di mana Metallica membahas fenomena anak nerd yang ujung-ujungnya nggak tahan dengan lingkungan sosialnya dan bawa senjata ke sekolah, nembak-nembakin temen-temennya. Ada juga King Nothing, soal karakter politikus yang ngerasa dirinya paling berkuasa. Master of Puppets juga kental dengan nada politik. Banyak lagi!

Dengan James sebagai frontman dan penulis lirik, Metallica nggak cuma jadi band Heavy Metal, tapi juga sebagai inspirasi bagi banyak band dan banyak orang. Band Metal yang menurutku dewasa dalam pembawaan. Yang paling aku suka, James jarang banget lho, memasukkan kata-kata kasar yang nggak ada tujuannya di lagu-lagunya. Love him so much…

Jadi, Metallica sendiri, sebagai seniman musik yang punya tingkat kedewasaan emosional itu, nggak pernah jadi haters. Ya, tentu saja, mereka mengkritik, mereka menyindir, mereka komen, tapi nggak pernah mengajarkan pengagumnya untuk membenci orang yang menyukai genre musik lain. Aku jarang ya, lihat James menyela atau mencaci musisi lain. Beda banget sama Noel Gallagher dari Oasis, yang seneng banget menghina rekan sesama musisi dengan kata-kata tajam dan bener-bener langsung nyebut nama langsung! Ckckck, emang sih, aku suka juga lagu-lagu Oasis, but shame on you, Noel! Nggak dewasa banget jadi manusia!

Dan ngomong-ngomong soal hina-menghina…

Balik lagi ke soal fans Metallica yang sebel banget sama Bieber itu. Bisa dilihat dari lagu-lagunya, biar pemuja-pemuja Metallica bisa berkata-kata kasar, sebenernya Metallica sendiri nggak pernah mengajarkan hal itu. Kata-kata kasar umumnya dipakai Metallica sebagai cara untuk menunjukkan seberapa seriusnya kondisi yang sedang dilantunkan di lagu. Aku sendiri banyak denger F-word itu setelah masuk album St. Anger. Di lagu itu, F-word juga dipakai buat menggambarkan kemarahan-kemarahan yang nggak terkendali dalam diri Hetfield sendiri. Atau yang terbaru, Hardwired… To Self Destruct, juga banyak kata-kata “F”-nya, tapi hanya untuk menggambarkan seberapa kacau situasi sosial sekarang ini. Pastinya di sono ya, di Amrik, tempat lahirnya band Metallica.

Memang, jadi pemuja band, bukan berarti kita bisa jadi punya tingkat kematangan emosional sebaik dia. Apalagi, kalau band tua, pasti mereka dimatangkan oleh pengalaman, bukan lagi ‘cuma’ sekedar ‘panas-panasnya’ bermusik. Tapi, kecintaan pada musik yang lebih mendalam dan lebih menghayati lagi.

Musik metal sendiri juga bukan musik asal jadi yang mudah dimengerti. Aku kurang tahu metal yang lain, tapi yang pasti Metallica menurutku termasuk sulit untuk dimengerti. Lirik-lirik yang kuat dan dalam ala James Hetfield itu nggak bisa diinterpretasi sembarang, apalagi secara harfiah. Misal di lagu Attitude, ada kata-kata ‘just let me kill you for a smile’ di songinterpretation.com dijelasin kalau itu ditujukan pada industri musik yang nge-push Metallica mengubah lagunya jadi pop-rock-ish. Jadi, nggak harfiah dia pengen bunuh orang, melainkan membunuh industri musik yang begitu.

Walau begitu, emang lagu-lagu Metallica punya nada-nada yang kesannya provokatif, kalau kita terjemahin secara harfiah. Makanya, lagu Metallica itu butuh pemahaman lebih dalam, dan orang-orang yang mau berpikir. Biasanya, orang-orang yang mendalami lagu-lagu Metal lebih terdidik untuk kritis, karena emang kebanyakan lagu Metal, yang aku tahu, itu emang liriknya kritis banget. Kayak, Helloween dengan Number One-nya yang membakar semangat dan optimisme banget. Lirik Chop Suey!-nya System of A Down juga membahas soal kritik sosial, dan juga bernada spiritual, mengkritisi agama, jadi bukan religius. ^^;

Sayang, soal teknis musiknya, aku nggak bisa bicara banyak. Cuma bisa bilang, butuh skill tinggi banget buat bisa itu!

Ayolah generasi yang cepet panas tapi malas (ngomong sama kaca, nih), mari kita belajar dari James Hetfield dan musisi metal lainnya. Mereka mendalami dan menghayati, bukan hanya musik, tapi semua yang terjadi di lingkungan mereka. Nggak cuma asal jadi, apalagi cuma ‘cetakan’ dari pihak-pihak yang punya kepentingan.

Keep ‘headbanging,’ guys!

Demo 4 November Fungsinya Apa?

147788436487977766
Gambar diambil dari : aribicara.blogdetik.com

 

Hari ini (4/11), ada demo FPI (lagi!) Sebelumnya, demo terjadi tanggal 14 Oktober 2016. Intinya satu, ngejatuhin Ahok! Sumpah, Ahok tenar banget, sih. Berasa punya nabi baru kita, dibenci sebegitunya… Pan yang dulu dibenci dan pengen banget dijatuhin itu Rasulullaah SAW. Ups! Nanti dibilang penistaan terhadap Rasulullaah lagi…

Ngebuka medsos, alias FB dkk, FB terutama (All Hail Mark Zuckerberg!), pas tanggal 3 November malemnya, bikin pusing banget. Karena banyak banget beredar soal orang yang udah siap demo, orang yang, sebaliknya, mencerca demo, dan yang siap banget ngebela FPI. Emang akhir-akhir ini banyak banget yang jadi cinta banget sama FPI. Aku rasa mungkin melebihi kecintaan mereka sama Allaah SWT sendiri. Maklumlah ya, banyak emang orang itu lebih cinta sama wujud nyata. Lupa daratan dengan konsep di balik semua realita.

Ribut-ribut FPI soal Ahok ini sebenernya udah lama banget, lho. Bahkan, jauh sebelum ada ayat Al-Maidah:51 yang beredar luas (Omongan nggak difilter gitu, padahal jelas-jelas dia lagi dibidik, haduuh… Biar nggak ngedukung dan nggak peduli (karena bukan orang Jakarte), tetep aja rasanya sewot). Sebelum ayat Al-Maidah, FPI udah menggerakkan demo-demo #tolakAhok nggak jelas gitu. Kenapa nggak jelas? Karena kebanyakan dateng dari luar Jakarta, KTP-nya aja bukan Jakarta. Dan pemimpin di Indonesia ada juga padahal yang bukan non-Muslim, tapi ini inceran banget. Namanya juga Jakarta ya, pusat segala-galanya. Pusat kepentingan juga pastinya.

Yang lucu, beberapa saat lalu, orang-orang yang sekarang gila-gilaan ngebela demonstrasi ini adalah orang-orang yang sama dengan orang yang mengejek demokrasi dengan democrazy. Mereka menganggap demokrasi itu meruntuhkan agama, dan segala macemnya. Nah, sekarang? Mereka mendukung demonstrasi. Demonstrasi itu produk demokrasi, kali! Nggak konsisten amat, sih! Persis omongan para politikus yang duduk di tatanan pemerintahan. Mulutnya bergerak atas nama kepentingan aja. Nggak ada lagi kejujuran…

Yaaang paling menyebalkan, bawa-bawa agama!

Setahuku, FPI itu menganut ajaran ahlussunah wal jama’ah, ya. Kebetulan banget, salah satu anggota keluargaku juga salah satu yang selalu ikut pengajian ahlussunah ini. Beberapa bulan lalu, baru aja anggota keluargaku ini cerita sendiri, kalau menurut ustadz di pengajian ahlussunah, rakyat harus taat kepada pemimpin. Dan, untuk mendukung pernyataan itu, ada juga temen FB yang memposting meme tentang ahlussunah yang tidak menganjurkan demonstrasi karena harus taat sama pemimpin (sayang, aku nggak lagi nemu meme itu L ). Trus, kenapa ada demo ini?

Yah, dalam agama Islam itu selalu ada dispensasi atau keringanan. Misal aja nih, tentang shalat yang bisa dilakukan sambil duduk atau berbaring kala sakit. Mungkin mereka melihat pencalonan Ahok itu darurat luar biasa, sehingga mereka mematahkan aturan mereka sendiri. Ini tafsir dariku sendiri, sih. Satu kata waliy aja bisa beberapa tafsir, apalagi satu kalimat utuh, ya.

Ada yang bilang di FB, “demo 4 November itu untuk menuntut pengusutan kasus Ahok, bukan karena Ahok dicalonkan jadi gubernur.”

Okelah, tapi ternyata aku lihat lagi berita di kompas.com di sini yang menyatakan tentang Habib Rizieq sendiri yang minta penundaan pengusutan kasus Ahok. Nah, lho? Ditambah lagi, kasus Ahok itu udah diproses ke area hukum, bareskrim udah meriksa 8 saksi lagi, dari pelapor dan saksi ahli, semua ada di berita ini. Jadi, fungsi demo 4 November ini apa? Emang kalau udah beredarnya di medsos, miskomunikasi ini banyak banget terjadi. Provokasi orang-orang yang punya kepentingan, ketemu sama orang-orang yang menelan mentah-mentah apa yang dia denger. Nggak mau mencari tahu atau sekadar takut menerima kenyataan, aku juga kurang paham soal golongan ini. Kebanyakan sih, emang menurutku, susah mengendalikan emosi aja.

Yang aku sayangkan banget, biasanya orang-orang golongan ini udah nggak mau lagi denger-denger pendapat yang lain selain pendapat yang mereka percaya. Mereka nggak punya dan nggak mau tahu soal second opinion. Jadi, sampai berbusa pun orang-orang lain menjelaskan, mereka nggak akan mau denger itu. Karena, pada dasarnya, semua yang mereka mau denger adalah yang cocok dengan kehendak mereka sendiri. Mereka udah melupakan realita di luar diri mereka, lebih suka hidup dalam realita yang mereka bangun sendiri.

Makanya, akhirnya mereka ngikut aja waktu FPI ngajakin demo, padahal yang mau didemoin itu udah diurus! Ini nggak mau baca berita, atau emang nggak mau denger berita selain dari mulut Habib Rizieq, sih? Bingung aku….

Jadi, setelah kasus Ahok diurus, aku mau beralih pembahasan ke tempat lain. Terlepas dari apakah Ahok iya atau tidak menghina Al-Qur’an, ayat-ayat tentang ini sebenernya sudah ada di Al-Qur’an sendiri. Ini anjuran langsung dari Allaah malah. Tuhan kita itu Allaah kan, ya? Minimal, kita (maksudku sesama Umat Muslim) sepakat soal ini, kan?

Jadi……………

Ini dua dalil yang aku ambil dari situs quran.com (aku pake yang ada sahih internasionalnya, jadi gak mencakup ulama Indonesia aja yang ngebahas)

 

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَجَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

 

SAHIH INTERNATIONAL

And it has already come down to you in the Book that when you hear the verses of Allah [recited], they are denied [by them] and ridiculed; so do not sit with them until they enter into another conversation. Indeed, you would then be like them. Indeed Allah will gather the hypocrites and disbelievers in Hell all together

 (QS. An-Nisaa’ [4]: 140)

 

(terjemahan bebas dari aku sendiri : “Dan telah datang kepadamu Kitab dimana engkau mendengar ayat-ayat Allaah (dibacakan), ayat-ayat tersebut disangkal [oleh mereka] dan diperolok-olokkan; maka janganlah (kau) duduk dengan mereka hingga mereka mengubah pembicaraan mereka. Sesungguhnya, kau kemudian akan menjadi seperti mereka. Sesungguhnya Allaah akan mengumpulkan kaum munafik dan kaum kafir di neraka bersama-sama)

 

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِالظَّالِمِينَ

SAHIH INTERNATIONAL

And when you see those who engage in [offensive] discourse concerning Our verses, then turn away from them until they enter into another conversion. And if Satan should cause you to forget, then do not remain after the reminder with the wrongdoing people.

 (QS. Al-An’aam [6]: 68)

(terjemahan bebas dari aku sendiri : “Dan apabila engkau melihat mereka yang terlibat dalam pembicaraan (yang menyudutkan/menghina) tentang ayat-ayat Kami, maka berpalinglah dari mereka hingga mereka mengubah pembicaraan mereka. Dan apabila Setan membuatmu terlupa, maka janganlah kau teruskan bersama dengan orang-orang yang berlaku salah itu, sesudah datangnya peringatan)

Nah, kedua ayat di Al-Qur’an ini jelas-jelas memberikan petunjuk kepada Umat Muslim tentang gimana caranya kita menyikapi orang-orang yang mengolok-olok Al-Qur’an. Dan yang dianjurkan, dalam Al-Qur’an sendiri, adalah kita meninggalkan mereka. Itupun kita bisa kembali saat pembicaraan itu telah berubah. Artinya, kita nggak disuruh memutus tali silaturrahmi sama mereka, apalagi membenci mereka. Membalas apalagi dipenjarain berarti juga nggak.

Artinya, kalaulah benar Ahok itu menghina Al-Qur’an, setahuku kita seharusnya cukup tinggalkan mereka sampai pembicaraan itu selesai. Dan ini kata-kata Allaah langsung, yang seharusnya Tuhannya Umat Islam satu-satunya.

Jadi, demo 4 November ini buat apa? Bingung lagi…

 

Wallaahu alam

(Tiba-tiba kok jadi solehah begini, ya? Wkk…)

Bagaimana Cara Penerapan Homeschooling?

anatomy-homeschool-mom-new-branding
Gambar diambil dari : http://www.aop.com

 

Homeschooling lagi.

Bahas ini lagi. Soalnya, aku sudah tekad sepanjang usia SD ini, anakku mau di-homeschooling-in aja. Kenapa? Karena aku melihat iklim pendidikan yang lagi bener-bener nggak sehat. Contohnya aja, dengan kurikulum yang ganti tiap kali ganti menteri. Masing-masing menteri memanfaatkan sekolahan untuk eksistensinya, apa-apaan?! Apalagi, begitu menteri pendidikan yang baru tiba-tiba mengatakan sesuatu yang menyeramkan, sanksi fisik itu boleh ditoleransi!

Mau lihat beritanya? Lihat di sini

Bagiku, ini sama aja balik ke zaman batu, ya. Soalnya, udah sejak lama, penelitian soal reward dan punishment ini dipublish dan, ternyata, dua-duanya nggak efektif membangun perilaku. Dalam jangka pendek mungkin bisa, tapi membangun prinsip dan pola pikir yang menetap bahkan hingga dewasa? Tipis. Jadi, kenapa pernyataan begini masih suka muncul? Well, bukan itu sih, yang mau aku bahas.

Intinya, dengan situasi begini -ditambah dengan UU yang ‘seolah merasionalisasi’ sanksi dalam sekolah dalam bentuk apapun itu- aku merasa sekolah bukan lagi tempat yang ‘aman.’ Apalagi, seleksi terhadap guru juga nggak ketat-ketat amat. Dengan sendirinya, aku agak khawatir sama kualitas guru, dimana anakku dititipkan setengah hari. Mungkin lebih.

Pertimbangan lain, tentu aja karakter anakku. Anakku bukan tipe yang bisa disuruh duduk diam lama dalam satu tempat, kecuali kalau dia asyik melakukan apa yang dia suka. Kalau di sekolah kan, aturannya ikut aturan guru. Inget banget deh, gimana kalau anak-anak yang gambar waktu jam pelajaran dianggap nakal dan sebagainya. Labeling dalam sekolah itu rasanya parah banget, mudah-mudahan sekarang udah berkurang, sih. Jadilah aku putuskan homeschooling yang terbaik buatku dan anakku (kebetulan juga aku IRT). Untuk sementara, karena perkembangan selalu nggak bisa segampang itu diduga.

Nah, hal yang paling membingungkan soal homeschooling ini adalah penerapannya. Ada yang menerapkan jadwal-jadwal seperti di sekolah. Ada yang memanggil guru les ke rumah. Dan banyak lagi. Sampai saat ini, aku kurang setuju dengan penjadwalan pasif. Artinya, aku bikin jadwal, anak ngikutin. Itu mah, sama aja mindahin ke sekolah ke rumah. Jadi, aku pikir, sama nggak efektifnya buat anakku.

Hari ini, aku memutuskan bagaimanapun harus ada skema, aku bikin hanya secara garis besar, tentang pedoman aktivitas atau pembahasan apa yang harus dilakukan sama anakku, supaya nggak melebar kemana-mana. Dasar orang generalis ya, hobinya lompat sana, lompat sini, nggak terarah, jadi harus ada sedikit ‘jalur’ yang memastikan aku berjalan agak lurus.

Skemanya sederhana. Sama aja kayak pembentukan kamus kompetensi di kantor-kantor sebenernya.

screenshot-17Skemanya sederhana banget, kan? Emang aku bukan anak desain, harap maklum, ya ^^; Intinya, emang aku cuma mau ngingetin diri sendiri, anakku masih perlunya skill ini, lho. Belum harus kemana-mana, ngikutin anak lain yang udah jadi expert dalam bidang-bidang tertentu itu.  (Gambar di samping baru contoh aja, sih)

Seperti di gambar, aku membagi dua skill umum, yaitu soft skills dan hard skills. Dari kedua itu aku breakdown skill-skill apa yang sebaiknya dikembangkan sesuai dengan usia anakku. Tentunya, aku fokus sama soft skills dulu, kayak sosialisasi, tanggung jawab, adab kesopanan, nilai-nilai kesusilaan, dkk. Soft skills sulit dikembangkan karena nggak ada medianya. Kita nggak bisa pake peralatan prakarya di sini. Mungkin bisa, tapi ujung-ujungnya peralatan itu ya, lebih cuma ke alat bantu. Bukan jadi alat utama yang menentukan perilaku anak.

Misal, ada buku yang ngajarin soal adab kesopanan. Tapi, kalau ortu sendiri nggak bisa nunjukin ke anak gimana caranya sopan, isi buku tinggal kenangan, deh. Jadi, soal ini, aku lebih banyak menerapkan pembahasan studi kasus. Jangan langsung tutup kuping gara-gara inget skripsi, ya! Maksudnya ya, ngobrol-ngobrol ringan aja. Kalau ada kasus apa aja, bisa dibahas dengan anak dan diberi kesimpulan. Bicaranya sih, gampang. Nah, yang terpenting dan justru yang paling sulit, kita sebagai orang tua juga harus praktek langsung di depan anak. Biar anak paham kalau itu nilai yang kita junjung tinggi, jadi anak akan mengimitasi perilaku kita. Ini namanya belajar sosial.

Berbeda dengan hard skills. Lebih gampang karena ada peralatan buat mengasahnya. Dan peralatan itu, ya emang bisa ditujukan secara langsung untuk mengasah skill anak. Kalau mau belajar musik, tinggal pake alat-alatnya. Kalau menulis atau menggambar, tinggal kasih pulpen dan kertas. Yang sulit, kalau anak nggak minat. Ada yang minat nulis, nggak minat itung-itungan. Kayak anakku. Ada yang minat sport, tapi nggak minat baca. Di sini orang tua harus ikhlas kalau anaknya susah diajakin ngelakuin sesuatu yang nggak sesuai dengan minat mereka.

Tapi, bukan berarti nggak ada caranya.

Caranya sederhana, tapi kompleks. Bingung, kan? Ya, sederhana karena tinggal kasih aja pembelajaran yang terhubung dengan minat anak. Kalau anakku, suka kereta, jadi sepanjang perjalanan di kereta, ajakin aja dia baca-baca apa yang tertulis di kereta. Tinggal ajak ngobrol tentang apa yang dia liat di kereta. Kompleksnya, orang tua harus fleksibel dengan minat anak ini, kali-kali aja orang tuanya malah nggak minat. Misal, anak minat kereta api, tapi orang tuanya malah nggak suka jalan-jalan pake kereta api. Dilema, kan? 😀

Yang pasti, soal homeschooling ini susah-susah-gampang. Jangan pernah mikir orang tua harus paham semua subjek yang diajarkan ke anak. Dari IPA sampe Matematika. Dari ilmu sosbud sampe sejarah. Aku juga mana inget pelajaran-pelajaran waktu kecil. Apalagi, diajak ngomong fisika, rasanya pengen pura-pura tidur langsung.

Intinya, kalau orang tua nggak paham, ya cukup ajarkan anak untuk berjuang untuk mencari tahu kalau dia mau tahu atau butuh untuk tahu sesuatu. Dan kalau anak butuh bimbingan teknis, ada banyak guru les berkeliaran, kok (kesannyaa….). Dan lagi, google kan udah menyediakan semuanya. Apa lagi yang harus dikhawatirkan?

Aku sih, nggak bakalan tiba-tiba propaganda : homeschooling, yuk! Karena kondisi di setiap rumah tangga kan, beda-beda, ya. Misal, kalau ibunya bekerja, gimana caranya homeschooling? Kalau yang ngelakuin orang lain, aku nggak saranin, karena pola pikir orang beda-beda, yang ada tiba-tiba anak berperilaku nggak sesuai dengan mau orang tua dan malah makin ribet ke depannya. Jadi, berikan yang terbaik buat anak! Itu propaganda hari ini!

Salam Pendidikan!

 

Democrazy

 

demokrasi
Gambar diambil dari : http://www.mediasiswa.com

 

Kamu benci demokrasi

Kamu panggil dia democrazy

Lalu, kamu berdemonstrasi

Lalu, kamu berdemokrasi

 

Kamu benci demokrasi

Saat butuh, people power beraksi

Kalaulah kamu sadari

Sekata itu terikat kuat pada demokrasi

 

Kamu benci demokrasi

Katamu, tiada hukum agama yang sesuai

Saat politik memanas, dia kamu pakai

Sudah merambahkah realita ke hati?

 

Kamu benci demokrasi

Kamu benci merah-putih

Kamu benci warna-warni

Kamu benci nada sendiri

 

Kamu benci demokrasi

Kamu benci Tuhan bertikai

Kamu benci manusia berdamai

Kamu benci semua sisi

 

Agar kamu bisa bersatu diri

 

 

Depok, 16 Oktober 2016

________________________________________

Catatan penulis :

Dipersembahkan untuk yang suka rame-rame

Bolehlah beropini, asal sehat dan konsisten

Salam damai, semua!

 

“Easy A”

 

Watch Out! I think it’s Full of Spoiler!

 

Nah, jujur aja. Udah lama sejak kali pertama aku nonton ini. Udah sering juga. Hehe. Tiba-tiba, malem ini aku jadi kepikiran lagi nontonnya. Dan aku nggak menyesal.

Aku mau jelasin dari awal tentang positifnya film ini. Aku tahu tulisan resensi ini panjang banget, sih. Jadi kalau males baca, tetap bisa tertarik nonton ini. Yang hebatnya, ini film remaja, tentang anak SMA. Kalau kita bicara tentang film anak SMA, yang kepikiran pasti adegan-adegan penuh kegalauan dan kelabilan anak remaja tentang cinta dan persahabatan. Yak bener, film ini juga menyangkut hal-hal begitu, tapi diceritakan dengan cara yang menurutku unik, dan itu membuatnya jadi luar biasa.

Itu bukan hiperbola.

Kenapa aku bilang luar biasa? Karena film ini ternyata mengupas secara mendalam sisi gelap remaja SMA. Bahkan, sampai sistem pendidikannya. Semuanya dirangkum lewat lelucon-lelucon ringan yang nggak bikin pusing, tapi ngena banget. Mau tahu sampai mana dia madetin analisanya? Yak, sampai ke bahasan sastra.

Mungkin kalau kita denger ini, kesannya ini film padet konflik banget. Tapi, nggak, lho. Karena, seperti yang aku bilang analisa-analisanya dikupas lewat lelucon, kadang-kadang cuma sepintas lalu. Jadi, kalau bisa, perhatiin baik-baik dialognya.

Disutradarai Will Gluck (yang juga sutradara film Friends with Benefits), Olive (Emma Stone), anak SMA yang nggak populer, pinter dan cenderung nerd. Punya temen cuma satu orang, Rhi (Alyson Michalka), itupun yang nggak tahu cara menghargai dia sebagai temen. Sejauh ini, biasa aja, sampai dia dipaksa temennya itu untuk nemenin si temen kemping di waktu weekend sama orang tuanya yang Olive anggap aneh. Semacam kaum nudis-vegetarian-back-to-nature gitu, deh. Kayak semacam hippie di film Wanderlust (filmnya Jennifer Aniston, nih).

Cuma buat menghindari bujukan yang memaksa itu, Olive berbohong kalau dia sudah punya janji kencan dengan mahasiswa. Ini yang membuat hidupnya mulai berubah arah. Begitu hari Senin tiba, dan dia ketemu temennya lagi, dia dituduh telah kehilangan keperawanannya. Karena temennya ini super maksa, Olive akhirnya memilih untuk berbohong kalau dia emang melakukan seks sama teman kencannya, yang sebenernya fiktif. Padahal, dia ngabisin waktu weekend-nya di rumah seharian.

Lebih parahnya, waktu dia menceritakan pengalaman seks pertamanya yang fiktif itu, ada orang lain yang denger, siswi SMA yang paling teladan di seluruh sekolah, Marianne (Amanda Bynes). You know, anak yang ikut OSIS, yang ikut perkumpulan agama, yang taat banget sama agamanya dan sibuk orasi untuk mengembalikan keshalehan siswa-siswi lainnya, bahkan dia magang di kantor administrasi sekolah. Karena itu, dia menjadikan Olive sebagai proyek baru untuk mengembalikan Olive “ke jalan yang benar.”

Sayang, caranya terlalu ‘radikal.’ Dia menyebar gosip ke seluruh sekolah tentang Olive yang kehilangan keperawanannya, memberikan Olive sanksi sosial, sehingga dipandang setengah mata sama siswa-siswi lainnya. Kesel, Olive bener-bener menantangnya dengan berpakaian minim dan seksi.

“Agen-agen” Marianne, si anak shaleh, bahkan menyindirnya dalam satu kelas. Yang bikin dia ngebales kata-katanya dengan kata kotor, yang membuat dia dikirim ke ruang kepala sekolah. Kejadian ini ngebuat dia kenalan dengan Brandon (Dan Byrd), yang juga dihukum karena berkelahi. Brandon ini gay dan karena itu, sering banget di-bully sama siswa lain. Hal ini membuat mereka bekerja sama, berpura-pura melakukan hubungan intim. Niatnya Olive nih, biar Brandon nggak dituduh gay lagi dan mereka sama sekali nggak berhubungan, karena Brandon emang gay.

Gosip soal Olive makin mencuat. Dan parahnya, ada temen-temen Brandon yang tahu soal kebohongan itu dan malah ngajak dia kerja sama supaya mereka dapet popularitas karena pernah “bersama” dengan Olive, yang udah jadi tenar banget di sekolah. Olive resmi dapet julukan “pelacur” di sekolahnya.

Sejak itu, Olive selalu jadi kambing hitam, bahkan disalahin pas ada siswa yang terjangkit chlamydia, semacam penyakit kelamin gitu. Padahal, Olive murni sama sekali nggak bersalah. Malah, dia rela dipersalahkan dan dibenci buat menolong orang-orang di sekitarnya. Contoh lain lagi, siswa yang terjangkit penyakit itu ternyata tertular dari guru BP-nya dan Olive membiarkan gosip tentang dia yang menularkan chlamydia itu supaya gurunya nggak dipecat. Wah, gimana cara Olive menyelesaikan masalah yang belibet itu?

Eng…nonton sendiri, ya!

Ceritanya kedengeran rumit, ya? Tapi, harus nonton, karena pengemasannya asik, dan nggak capek buat diikutin. Aku pikir tadinya malah film ini lumayan sederhana, sampai aku sadar kalau setiap dialognya ternyata punya arti sendiri.

Misal, satu kali Olive dipanggil ke ruang kepala sekolah (ini artinya kesalahan murid udah parah banget, kalau di Barat. Kalau di Indonesia mah, kepsek malah dateng siang, pulang duluan, ya. Hehe, masih begitu nggak, sih?). Di adegan ini, kepseknya terlihat otoriter dan bilang. This is public school. If I could get the girls out of pole and get the boys out of the pipe, I got bonus (menjauhkan siswi dari tiang (refer to stripper) dan siswa dari rokok/narkoba, aku dapet bonus). Jelas-jelas ini sindiran terhadap sistem pendidikan kuno yang mengacu pada kurikulum pemerintah, yang menekankan otorita guru dan sekolah.

Tapi, yang bikin film ini strike banget adalah Marianne dan koloninya. Aku melihat kondisi ini sedang terjadi di Indonesia. Di film ini, Marianne sengaja menyebarkan gosip, memfitnah, bahkan mencaci-maki Olive hanya karena dia mau Olive kembali ke jalan yang “benar.” Inget Ahok dan pendukung muslimnya dan FPI? Nggak hanya itu, Marianne bahkan ‘merekrut’ teman dekat Olive, yaitu Rhi. Mirip banget sama yang terjadi sekarang, pihak yang tadinya netral -kelewat netral malah- belakangan jadi shaleh banget. Dan jadi sama radikalnya. Hmm…

Kenapa aku analogikan dengan itu, perlu aku jelasin, Rhi ini beneran cewek yang hobi berhubungan intim. Di salah satu dialog disebutkan kalau dia pernah berhubungan dengan laki-laki di belakang Bed, Bath, and Beyond (nama toko besar yang jual perlengkapan rumah di Amrik sana). Lucunya, Bri yang kayak gitu, tiba-tiba gabung sama Marianne, mendemo Olive agar dikeluarkan dari sekolah (wow, yang katanya temen baik, nih!), bawa-bawa surat dari Alkitab, layaknya siswa shaleh lain. Hmm, aku agak teringat sesuatu tentang perpecahan yang sekarang lagi terjadi di Indonesia, atas nama agama.

Dan lagi, ada juga sentilan lain tentang orang shaleh di film ini, dimana dilihatin kalau seorang pastur (kebetulan ayahnya Marianne) menonton webcast (semacam nyiarin video live lewat online), sedangkan Olive sudah membuat seakan-akan kalau webcast itu berbau pornografi. Jadi, dia mengharapkannya (kebukti dia kesel pas ternyata cuma ada video si Olive-nya bicara doang tanpa ngelakuin apa-apa).

Film ini ringan, banyak humor yang bisa bikin ketawa, dan sinematografinya cerah berwarna terang. Mengesankan film ceria tentang anak SMA. Tapi, semua yang ada di baliknya itu adalah sisi kelam kehidupan anak SMA. Mulai dari Olive yang jadi sasaran gosip. Kasus bully pada Brandon yang nggak ditangani dengan baik oleh sekolah (kepsek malah menghukum Brandon dan nggak menghukum ‘lawan berantem’-nya Brandon, what the hell?!). Murid teladan dan disukai guru-guru justru menjatuhkan rekannya sendiri. Trus, guru BP yang akhirnya mengorbankan anak muridnya supaya dia sendiri aman.

Untunglah dengan menghadapi sisi kelam itu, ada orang tuanya yang baik, non-judgemental, dan humoris. Mereka bahkan nggak memaksa Olive untuk cerita apa yang terjadi, membiarkan Olive memutuskan sendiri apa yang dia mau. Termasuk, nggak banyak komen waktu Olive berpakaian layaknya stripper. Juga, cowok keren yang…ehem, jadi terlalu banyak spoiler, ah!

Di sini juga terkesan film ini juga ingin menunjukkan kalau di Barat itu nggak selalu identik dengan perilaku seks bebas. Bisa dilihat dari sifat Olive sendiri, yang menjaga dirinya, masih perawan gimanapun orang-orang menghakiminya. Trus, anak-anak beragama yang taat itu juga mengharamkan perilaku seks bebas.

Di film ini juga ditunjukkan kalau agama nggak lantas bikin orang jadi shaleh. Seperti Olive, dia nggak terlalu percaya sama Tuhan. Ada satu adegan pas Marianne bilang dia harus menjelaskan pada higher power soal gosip itu. Dan Olive menjawab, “Tom Cruise?” wakakakakk… Dan cowo yang terkena chlamydia itu, yang tidur sama gurunya sendiri itu, malah anggota perkumpulan agama di sekolahnya, dan juga pacarnya Marianne.

Oya, soal sastranya. Olive mengomentari sekilas buku Huckleberry Finn oleh Mark Twain dan interpretasi mendalam soal buku A Scarlett Letter oleh Nathaniel Hawthorne yang sudah difilmkan. Ih, keren…

Ini mengingatkanku, cerita yang ringan bukan berarti nggak bisa diisi dengan sederet pesan moral yang mendalam.

Bravo, Will Gluck!

 

Perbedaan Itu Indah Nggak, Ya?

Baru aja beberapa hari yang lalu, aku main ke rumah saudara. Dan aku kaget. Anak-anak kecil, kalo aku nebak-nebak kisaran umurnya itu sekitar 5-10 tahun, pada main juga ke sana. Yang bikin aku kaget bukan anak-anak kecil main ke rumah temennya, tapi semuanya pada pake jilbab! Trus, aku nanya ke saudaraku, “ini anak-anak di kompleks sini semuanya pake jilbab?” Dan jawabannya, iya. Wow!

Akhir-akhir ini, fenomena ini mulai timbul di kalangan Umat Muslim. Dimana semua pola pikir harus dibuat seragam. Contohnya aja, cewek harus berjilbab, karena itu perintah Allaah SWT. Jadilah, seperti fenomena di satu kompleks itu, semua anak ceweknya dijilbabin. Dan bagi Umat Muslim yang meyakini soal perjilbaban ini, mereka jadi senang. Sampai-sampai aku melihat mereka merasa ini juga jadi kemenangan pribadi mereka. Mudah-mudahan aku salah, ya!

Ada satu waktu dimana aku pikir perbedaan itu indah. Makanya, kalau kita jadi berbeda-beda sifat atau apapun yang kita pilih, menurutku itu indah. Namun, belakangan aku jadi mikir apa sih, bedanya ‘perbedaan’ atau ‘persamaan’ itu?

Itu jadi masalah kalau perbedaan atau persamaan jadi mutlak. Jadi harus. Kadang-kadang demi mencapai itu, dibuatlah propaganda besar-besaran, almost dan mostly-lately kasar, atas nama persamaan. Ini nggak aneh, tapi ada juga yang berbuat itu atas nama perbedaan. Nah, ini yang aneh. Kita menganggap perbedaan itu indah, begitu ada orang yang memilih jadi sama, which is, beda sama pandangan kita, kok kita malah sewot? Jadi sama anehnya sama orang yang mempropagandakan persamaan, dong! Nah, agen propaganda “kembaran” ini juga lagi tren banget. Semua harus dibuat seragam. Kalau nggak, pasti dianggap salah. Lucunya, mereka nggak mau denger alasan macem-macem, telinga mereka disumpal kuat-kuat, mungkin takut keyakinan pribadi goyah.

Gawatnya, kalau agen-agen perbedaan mengancam atas nama individualitas, yang lainnya mengancam atas nama normatif. Whew! Manusia-manusia sekarang doyan banget ngancam-ngancam orang!

Misal, saking mengagungkan perbedaan, maka ada yang bilang, orang-orang yang maunya sama aja itu artinya nggak punya kepribadian, nggak punya karakter. Buatku, ini ancaman secara halus, supaya mereka yang sedang dijaring juga bisa jadi manusia yang “berbeda”. Jadi berbeda, atau biar jadi punya pola pikir yang sama dengan yang ngacem, ya? :p

Lain kasus lagi, yang menginginkan persamaan terang-terangan bilang, kalau nggak sama, berarti melanggar norma. Entah norma persahabatan, seperti fenomena baju kembaran. Kalau nggak kembaran, berarti nggak kompak! Lah? Dalam skala lebih besar, ancamannya langsung ke surga-neraka, nggak tanggung-tanggung! Kayak contoh yang tadi, kalau anak cewek nggak pake jilbab, masuk neraka, lho! Lah, situ Tuhan, bisa bikin keputusan kayak gitu? Bukannya itu hak Tuhan, ya? Hati-hati lho, masuk neraka… :p (sendirinya ngikut ngacem-ngancem)

Ini fenomena apaan, sih? Sifatnya masif dan sistematis banget, lho! (Ciyeeee, yang ngikut berita Jokowi-Prabowo, jadi kenal istilah ‘masif’ dan ‘sistematis’! Haha!)

Lagi-lagi, ternyata ujungnya sama aja, yaitu konformitas sosial. Buat yang mungkin baru denger, konformitas itu adalah sifat yang mau ikut-ikutan aja. Apapun alasannya, pada akhirnya, yang kita ikutin itu adalah lingkungan sosial kita. Kita memutuskan untuk jadi beda dan liberal dan apalah namanya, kalau itu dilakuin karena ada temen yang kita percayai omongannya bilang gitu, itu artinya kita sedang melakukan konformitas. Kita nggak melakukan perbedaan karena pada dasarnya kita juga cuma nyama-nyamain dia.

Yang diancam atas dasar surga dan neraka juga sama. Sementara, kita mikir kita itu sedang bertaqwa kepada Allaah SWT, pada dasarnya ujung-ujungnya kita cuma ngikut apa kata orang lain, yang notabene juga manusia. Apa kata ustadz, kita ngikut. Apa kata partai, kita nurut… Partai apa? Tebak sendirilah!

Langsung ada yang mikir: Itu kan, berdasarkan Al-Qur’an?! Ya, emang kata-katanya sih, berdasarkan Al-Qur’an, tapi tetap diinterpretasi oleh manusia. Tahu kan, berapa macam mazhab di dunia ini, yang mengatasnamakan Islam? Dan tahu kan, interpretasi masing-masing dari mereka bisa beda-beda? Nah, ujung-ujungnya kita cuma memilih salah satu dari sekian mazhab untuk kita ikuti. Artinya, kita lagi manut pada sekelompok orang yang jadi lingkungan sosial yang kita pilih. Artinya, kita emang sedang praktek konformitas juga.

Fatalnya, semua ini terjadi di permukaan layar media sosial. Dalam dunia media sosial, identitas kita itu tertutupi. Bukannya tertutupi secara total, tapi kita yang ngerasanya identitas kita tertutup. Ini namanya perasaan anonimitas. Nah, perasaan kalau kita “tanpa identitas” ini yang bikin semua pola emosi dan pola pikir yang tadinya kita tutup-tutupin, keluar tanpa malu-malu atau ragu atau takut. Semua yang (hampir) nggak mungkin keluar kalau kita lagi bertatap muka secara langsung sama lawan bicara dalam dunia nyata.

Ini namanya deindividuasi. Dimana sikap moral kita turun drastis karena kita ngerasa nggak bakal kena hukuman dari perilaku kita. Kalau kita berhadapan langsung sama orangnya, trus kita ngomong kurang ajar, bisa aja kita langsung dibentak-bentak atau ditonjok sekalian. Beda kan, sama di medsos? Paling banter kita bales-balesan ngetik kata-kata kurang ajar. Ngebaca caci-maki yang diketik sama caci-maki berupa bentakan yang kayak badai itu pasti beda banget rasanya.

Diperparah lagi dengan agen-agen provokasi. Nggak tahu apa tujuannya, target yang dia mau, selalu ada agen-agen yang pertama kali bikin ricuh. Bisa jadi sekadar pengen liat drama lanjutannya (kali dia hobi sinetron, kan) atau mungkin punya kepentingan kampanye politik (yang paling heboh orang saling caci-maki itu kalau udah deket pemilu, mau pilpres, mau pilgub, sampe pilkada, ah mulai deh, kelihatan rusuhnya!)

Makanya, di dunia medsos itu, mental-psikologis kita yang sebenernya diuji. Semua perbedaan yang tadinya malu-malu diungkapin di dunia nyata, akhirnya keluar, kadang-kadang tanpa filter. Perasaan pertama yang biasanya bakalan muncul adalah ‘tidak nyaman’ dan ‘merasa diserang.’ Yang “diserang” sebenernya bukan ideologi dan/atau keyakinan kita, tapi rasa aman. Rasa aman di tengah dunia yang kita tahu dan, sadar atau nggak sadar, sudah kita bangun selama ini. Kalau kita merasa nggak aman, jelas kita akan memproteksi diri. Akhirnya, muncullah berbagai bentuk defense mechanism (lebih jelasnya baca teori Sigmund Freud, rada jadul, tapi masih relevan kalo soal ini).

Defense mechanism itu bisa berupa pengucapan kata-kata kasar, mudah tersinggung, yang menolak sama sekali untuk dikritik atau bahkan cuma komen yang nggak sesuai dengan pikiran kita. Bisa juga dengan black campaign, menjelek-jelekkan orang yang mengkritik supaya kita dapet pendukung. Bisa juga dengan menarik diri/withdrawal, jadi nggak mau bales komen, nggak mau berpendapat, nanti kalau udah di tengah-tengah pendukung, baru deh, dibahas panjang-lebar. Malah sampe ngomongin orang yang pendapatnya nggak disukai, macam-macam ibu-ibu RT ngerumpi gitulah. Sayang, nggak ada lagi bedanya cowok dan cewek dalam masalah ini.

Jeleknya, intoleran terhadap perbedaan bikin orang bisa putus silaturahmi sama orang lain. Bisa benci sama teman atau saudara, nggak pandang bulu, cuma karena mereka beda. Sedih, ya! Bagusnya, fenomena ini bisa nunjukin siapa sebenernya yang bijak, siapa yang selama ini cuma pura-pura bijak. Jadinya, lebih gampang pilah-pilih temen. Karakter orang Indonesia, ambillah hikmah dari setiap situasi. Dan kalau situasinya jelek, nggak usah kritik siapa-siapa, manut dan nrimo aja. Makanya, gampang diinjek-injek investor asing. Uuupps! Bias alert!

Sekarang, aku juga nggak lagi punya motto perbedaan itu indah, karena aku baru sadar kalau nggak ada yang berbeda. Orang-orang cuma punya “golongannya” masing-masing. Dalam golongannya, ya mereka sama, nggak ada bedanya. Jadi, istilah perbedaan itu muncul lagi-lagi hanya demi membela kepentingan kelompok.

Maksudnya, di dunia nyata, apa kita pernah mempermasalahkan orang pake baju hitam dan orang pake baju putih? Nggak, kan? Boro-boro, merhatiin aja nggak!

“The Count of Monte Cristo”

img_20161006_170725

 

Pengarang : Alexandre Dumas

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun : Text 1997 ; Catatan 2002

Pengantar dan catatan : Keith Wren

Tebal : 894 halaman (dengan catatan 17 halaman)

 

 

Buku paling tebal yang pernah kubaca! Saingannya mungkin Rose Madder oleh Stephen King dan Harry Potter and the Goblet of Fire oleh J.K. Rowling. Aku sendiri nggak tahu mana dari mereka yang paling tebel, yang pasti buku dari Alexandre Dumas ini mencapai 800-an halaman! (Harry Potter and the Goblet of Fire sampe 1000-an, ya?)

Aku tahu buku ini udah lama, dari waktu SMA, sekitar tahun 2001/2002. Direferensiin temen, yang bilang buku ini bagus (dan buku ini akhirnya difilm-in sekitar tahun 2002? Lupa tahunnya). Dan waktu itu, aku juga dipinjemin. Dan emang bener-bener bagus! Saking bagusnya, aku jadi pengen baca lagi dan pengen punya sendiri. Akhirnya, tahun 2015, aku bener-bener beli buku ini.

Yang paling aku suka di sini adalah alurnya yang rumit, muter-muter, belibet, tapi kerennya semua jadi masuk akal kalau udah baca keseluruhan cerita. Jadi, bagi yang suka konflik, buku ini bagus banget.

Masuk ke sinopsis dulu, ya. Awalnya, diceritain tentang pemuda sempurna, yang rasanya nggak mungkin ada di dunia ini! Edmond Dantѐs, awak kapal yang disukai kolega dan atasannya. Karena dia cekatan dan terampil, pemilik kapal berencana menjadikan dia kapten kapal. Udah gitu, ganteng pula! Menambah deretan kesuksesannya, dia bertunangan dengan perempuan yang terkenal kecantikannya di salah satu kota pelabuhan di Perancis itu, Mercedes. Ya, nggak heran dong, ada aja laki-laki lain yang iri sama kesuksesannya itu.

Satu, saingannya dalam berebut profesi kapten kapal, Danglars. Kedua, laki-laki yang juga mencintai Mercedes, yaitu Ferdinand. Dan hal itu diketahui oleh Danglars, yang berniat menjatuhkan Dantѐs. Kondisi Ferdinand yang patah hati, dan juga lemah hati ini orang, dimanfaatkan Danglars untuk memfitnah Dantѐs sebagai pemberontak Napoleon. Persekongkolan naif ini (naif buat si Ferdinand yang sebenernya pengecut, ya!) disaksikan oleh Caderousse, pemilik rumah sewa Dantѐs dan bapaknya (ibu Dantѐs sudah meninggal). Dia nggak setuju, dan sebenernya cukup suka sama si Dantѐs, tapi dia sama pengecutnya sama Ferdinand, jadi dia bungkam, membiarkan Dantѐs ditangkap.

Untuk paham soal cerita ini, nggak ada salahnya baca Sejarah Perancis, waktu pemberontakan Napoleon Bonaparte terhadap Louis XVI, karena cerita ini sedikit membahas kondisi politik waktu itu. Kalau di buku yang aku baca dari Wordsworth Classics ini, ada pengantarnya, jadi penjelasan tentang nama-nama dan suasana politik Perancis waktu itu, dijelasin dengan lengkap. Termasuk, tentang terjemahan buku itu yang satu-dua nggak cocok dengan si pengantar. Lengkap banget deh, pengantarnya!

Singkat kata, karena keculasan si Danglars ini, Dantѐs ditangkap, yang tragisnya nih, waktu pesta pernikahan dia dengan Mercedes. Pada era dimana setting cerita terjadi, suasana politik lagi kacau dan Louis XVI menangkapi orang-orang yang dituduh sebagai anggota pemberontak tanpa pengadilan! Dimana-mana ada aja, ya!

Di tengah kebingungannya, Dantѐs bertemu dengan salah satu jaksa yang menangani kasusnya, yaitu Villefort. Waktu menemui Dantѐs, di selnya, Villefort berjanji untuk mengusut kasusnya, karena Dantѐs merasa nggak bersalah. Sayangnya, Villefort punya masalah sendiri. Walaupun dia sangat ambisius untuk mempertahankan jabatannya di pemerintahan, ayahnya sendiri malah anggota pemberontak Bonaparte. Dan karena itu, untuk menutup-nutupi hal itu, Villefort memilih untuk membiarkan Dantѐs yang masuk penjara dan menghancurkan surat yang menyatakan tuduhan bahwa Dantѐs adalah pemberontak.

Villefort membiarkan Dantѐs dihukum dalam penjara politik (kayak penjara isolasi di bawah tanah, gitu) seumur hidup.

Dantѐs hampir saja membiarkan dirinya mati, memprotes keputusan itu dengan cara mogok makan. Namun, beberapa hari, saat ia berbaring, ia dengan jelas mendengar suara gesekan logam dengan batu. Ia yakin ada yang mencoba melubangi dinding penjara. Dia memperoleh semangat hidupnya lagi dan bertemu dengan salah seorang pendeta tua dari Italia, Abbѐ Faria, yang mengajarkannya banyak hal.

Dalam setahun saja, nggak hanya Dantѐs berhasil menyerap semua ilmu dari si pendeta tua itu, Abbѐ Faria juga memberitahukan rahasia tentang harta karun di bawah laut. Rahasia umum tepatnya kali ya, soalnya dia udah berusaha meyakinkan orang-orang yang mendatangi dia di selnya, mencoba memanfaatkan cerita itu untuk menebus kebebasannya. Ia memaksa Dantѐs untuk percaya padanya, dan mencari jalan agar Dantѐs bisa memperoleh harta itu.

Tentu saja, pertama-tama, dengan cara mengusahakan agar Dantѐs bisa kabur dari penjara terpencil yang dikelilingi samudera luas itu.

Well, sampai di sini. Kalau penasaran, ya baca bukunya. Buatku, buku ini nyaris sempurna. Kenapa kubilang nyaris? Pertama, karena buku ini tebel, liatnya aja udah suka males bukanya, kan? Tapi, percaya deh, begitu mulai baca, nggak bakalan nyesel dan betah berlama-lama. Karena konfliknya seru.

Mungkin buat orang yang nggak suka konflik muter-muter, bisa susah juga suka sama buku ini, karena emang, seperti halnya novel klasik, konfliknya emang suka dibikin panjang. Apalagi si Alexandre Dumas, setahuku sih, bukunya tebel-tebel. Apalagi, kalau nggak suka politik, ya. Salah satu konfliknya juga memuat konflik politik, sih. Tahu kan, ribetnya skenario politik?

Aku yakin, sepanjang baca buku ini, pasti ada saat kening kita dibikin berkerut pas baca di tengah-tengah.Jadi mikir; kok, ceritanya loncat ke sini, trus cerita ini apa hubungannya sama cerita si Monte Cristo, dan lain-lain. Percaya deh, baca terus ceritanya. Karena semua konfliknya jadi masuk akal begitu kita baca sampai habis. Dan ini yang bikin aku bilang “ini buku keren!” Dengan konflik rumit itu, bisa aja Dumas membuatnya masuk akal. Dan semuanya ketemu di tengah-tengah.

Pesan moral dari buku ini sebenernya cukup sederhana, tapi karena endingnya juga dieksekusi dengan baik dan mencengangkan, pesan yang ingin disampaikan penulis jadi ngena banget. Oya, endingnya bukan ending twist kayak yang lagi tren sekarang, tapi bisa dibilang, bukan ending yang juga gampang ditebak. Artinya, endingnya sih, standar banget, tapi eksekusi dan alurnya sama sekali nggak standar.

Sedikit spoiler, tema buku ini tentang pembalasan. Well, aku nggak bilang ini tentang balas dendam, karena semua tokoh rata dapet pembalasan. Yang baik-baik dapet pembalasan berkali lipat atas kebaikannya di masa lalu, yang jahat-jahat juga dapet sanksinya. Caranya juga bukan kayak di film India-India itu, nerobos markas musuh, trus membabi buta menyerang musuh-musuhnya, tapi dengan cara yang buatku intelek banget. Jadi, kalau mengharap buku ini penuh pertempuran, kamu bakal kecewa.

Akhir kata, buku ini kompleks. Dengan rasa sakit hati, dendam, cinta, sampai kompleks rasa bersalah. Lika-liku konflik masing-masing tokoh, yang ada buanyak itu, juga diceritakan dengan detail. Ngebuat semua tokoh jadi manusiawi, walaupun karakter jahat tetep nyebelin. Hehe…

Kesimpulan : wajib baca kalau yang satu ini, deh!

#31HariBerbagiBacaan

 

“Pride and Prejudice”

img_20161003_201720

” PRIDE AND PREJUDICE ” 

 

Pengarang : Jane Austen

Penerbit : Wordsworth Classics

Tebal : 325 halaman

Tahun : First published 1993, new introductions and notes added in 1999, illustration added in 2007 (jadiii??? ^^;)

 

 

Walaupun udah lama aku mendengar karya Jane Austen, Pride and Prejudice, terutama karena sering banget diangkat ke film, aku belum pernah membaca karya satu ini. Dulu-dulu aku nggak pernah tertarik sama karya klasik. Ya, karena pengetahuan tentang sastra kurang banget, apalagi sastra impor.

Kebetulan, aku baca buku ini dengan bahasa aslinya, bahasa Inggris. Itu udah bikin pusing. Ditambah lagi, Inggrisnya itu versi British punya, yang bahasanya berbeda dengan bahasa Inggris “USA” yang lebih familiar sehari-hari. Misal, Austen memakai handsome untuk menggambarkan wanita cantik, fine eyes dengan arti yang kurang-lebih sama, matrimony, dan lain-lain.

Berawal dari penggambaran situasi keluarga Bennet, sepasang suami-istri dengan lima anak, di wilayah pedesaan bernama Herthfordshire. Sang ibu, Mrs.Bennet, begitu terobsesi untuk menikahkan anaknya, jadi ia ribut saat seorang pria single-kaya, berpenghasilan £5,000 per tahun, datang ke desa mereka. Ia memaksa suaminya untuk mengenalkan diri dalam upaya memperkenalkan kelima putrinya kepada sang bujangan, bernama Mr.Bingley.

Di kata pengantar, perhatian pertamanya itu terpusat pada kalimat pertama yang disuguhkan Austen, yaitu “It is truth universally acknowledged, that a single man in possession of a good fortune, must be in a want of wife.” (Kebenaran yang sudah diketahui secara universal bahwa pria lajang berpenghasilan tinggi pasti menginginkan seorang istri) Denger ini, aku setuju juga sama penggambaran dari si pengantar kalau kalimat itu unik, karena berkebalikan dengan kepercayaan umum pada era itu, dimana justru cewek yang berkeinginan menikahi pria kaya. Di sini juga aku belajar kalau kalimat pembuka dalam novel itu nggak boleh asal-asalan. Epik, deh!

Nah, barulah Austen menjelaskan, bukan dengan gamblang, tapi lewat dialog keluarga Bennet tentang Mr. Bingley dan Mr. Darcy, dua pria berpenghasilan sangat besar, baru saja membeli rumah Netherfield (kalau di Inggris, setiap rumah punya nama). Dua pria ini sifatnya berlawanan banget. Mr. Bingley yang ramah dan supel, Mr. Darcy malah sebaliknya, kelihatan angkuh dan nggak mau bergaul dengan sekitarnya.

Mrs. Bennet, ibu dari lima anak perempuan keluarga Bennet, langsung buru-buru memperkenalkan anak-anaknya kepada dua lelaki yang disegani ini, dengan harapan salah satu atau keduanya akan jatuh cinta pada anak perempuannya yang mana saja. Belakangan, Jane Bennet, anak perempuan tertua keluarga Bennet, jadi dekat dengan Mr. Bingley. Sebaliknya, Elizabeth Bennet, yang lebih akrab dengan panggilan Lizzy, jadi membenci sahabat lelaki itu, Mr. Darcy, karena kesombongannya. Nggak hanya Lizzy, hampir semua warga desa menumbuhkan prasangka jelek pada Mr. Darcy.

Prasangka itu diperkuat oleh cerita seorang prajurit militer Inggris berpangkat rendah, Mr.Wickham. Berdasarkan cerita dari bibirnya, Mr. Darcy telah mengabaikan keinginan Mr. Darcy senior untuk mewariskan sebuah tempat tinggal (kayak semacam gereja dan dia jadi pastur) untuknya, membuat pria itu terkatung-katung jadi prajurit militer yang miskin. Kebencian Lizzy semakin menjadi. Sedangkan, ikatan perasaan Jane dan Mr.Bingley justru semakin menguat.

Mrs. Bennet berkali-kali mengucapkan rasa bahagianya karena Jane menuruti keinginan ibunya untuk mendekati Mr.Bingley. Biarpun begitu, sepucuk surat datang dari Miss Bingley, mengabarkan bahwa mereka memutuskan untuk meninggalkan Hertfordshire, bahkan mengungkapkan bahwa ia menginginkan adik Mr.Darcy untuk menjadi adik iparnya! Harapan Mrs.Bennet pupus di tengah jalan. Dan mereka semua berniat untuk melupakan keberadaan kedua pria tersebut.

Apa yang terjadi selanjutnya, baca sendiri, deh! Biar bener-bener meresapi kisahnya.

Cerita ini, walaupun bertema romansa, menampilkan banyak hal lain selain percintaan antara dua insan. Di dalamnya, terdapat sindiran dan sarkasme atas pandangan umum kala itu tentang pernikahan dan wanita. Seperti salah satu kutipan oleh Mr. Darcy kepada Miss Bingley, “A lady’s imagination is very rapid; it jumps from admiration to love, from love to matrimony, in a moment.” (“imajinasi wanita sangat cepat, bergerak dari kekaguman kepada cinta, dari cinta kepada pernikahan, dalam sekejap.”) Juga, dimana satu-satunya masa depan buat perempuan itu cuma menikah. Ini diperkuat dengan karakter Mrs. Bennet yang tujuan hidupnya cuma satu, yaitu menikahkan kesemua putrinya dalam sekejap.

Tidak hanya itu, pada zaman dimana setting cerita terjadi, wanita juga diharapkan mempunyai satu skill yang sama; melukis, bermain pianoforte (piano zaman baheula), berdansa, dan menyepikan diri di rumah hingga kakaknya menikah. Ditunjukkan dari dialog antara Lady Catherine de Buorgh, tantenya si Mr. Darcy, dengan Lizzy, ia bertanya tentang keahlian ini kepada Lizzy dan secara terus-terang menyatakan bahwa ia terkejut dengan tidak adanya saudara Lizzy yang melukis dan fakta bahwa mereka bergaul di luar rumah sebelum kakaknya menikah.

Jane Austen juga menunjukkan humor-humor yang cerdas lewat dialog-dialog sarkastis yang dilontarkan Lizzy. Karakter ini sendiri menunjukkan bahwa Austen mencoba mendobrak pandangan lama tentang pernikahan dan wanita. Aku bisa bilang kalau ini adalah salah satu karya yang mempromosikan kemajuan wanita di tengah-tengah masyarakat melalui karakter Lizzy, yang sama sekali beda dengan gadis umumnya pada zaman itu.

Yang aku suka dari romantisme yang disuguhkan Austen adalah adegan-adegan manis, tapi nggak cheesy, kayak waktu Lizzy menginap di rumah Charlotte, temennya yang baru aja menikah dengan sepupunya, Mr. Darcy, selalu muncul. Membuat Lizzy bertanya-tanya. Apalagi kecanggungannya, dimana dia menemani Lizzy jalan-jalan, tapi dia nggak banyak bicara, kebanyakan diam. Atau mengunjungi Lizzy di rumah Charlotte, tapi dia cuma bisa duduk. Lizzy sampe kebingungan, haha! Sesuai sih, sama seleraku. Nggak penuh kata-kata romantis yang kadang-kadang bikin malu sendiri dengernya.

Nah, sebaliknya, buatku kekurangan novel ini ada pada dialognya. Kebanyakan emang aku nemu ini di novel-novel klasik, sih. Dialognya panjang-panjang dan kadang bikin capek juga bacanya. Rasanya dalam dialog itu semua harus dijabarkan dengan detail, padahal menurutku sih, nggak perlu-perlu amat. Overall, aku tetep suka karena di balik dialog itu emang banyak diselipkan pandangan-pandangan Austen sendiri soal situasi sosial wanita kala itu.

Namanya juga novel klasik ya, nggak mungkin bertahan dan jadi klasik kalau nggak menarik. Jadi, bener-bener novel ini recommended, apalagi buat penyuka romance yang nggak kebanyakan mengumbar kata-kata romantis yang saking manisnya jadi rada eneg. Hehe…

 

#31HariBerbagiBacaan

antara maya dan nyata