Sekolah atau Edukasi?

edukasi
Gambar diambil dari : http://www.kulitinta.com

Kita belum bisa terlepas dari doktrin…

Kayaknya yang namanya sekolah itu akrab banget di telinga. Udah bukan akrab lagi, tapi udah nyatu, seakan-akan dia nempel di gendang telinga, bergaung setiap kali bergetar. Sedikit hiperbola sih, tapi rasanya aku ngerasa begitu. Sejak mulai bisa inget, itu sekitar umur 4 tahun, itu pertanyaan yang paling sering diajuin orang. Udah sekolah, belum? Apalah urusannya sama mereka, yang sekolah siapa juga? Aneh, kenapa orang suka banget ikut campur sama urusan orang lain. Stop, jangan curhat!

Doktrin itu nggak hanya disampaikan orang-orang terdekat, tapi juga media, khususnya dari layanan masyarakat. Alias, iklan dari pemerintah tentang wajib belajar. Lagu yang dulu kuhapal banget sekarang udah ilang dari kepala, tapi aku inget salah satunya tentang sekolah. Aneh, kok bisa lupa, ya? Mudah-mudahan karena udah bisa move on dari yang namanya sekolah, hehe. Singkat kata, dari kecil kita udah dibombardir dengan satu kata : sekolah.

Sekarang, yang namanya sekolah udah lepas dari bayangan tentang anak-anak pake seragam merah-putih, duduk di meja kayu cokelat tua, dengan standar duduk rapi itu adalah tangan terlipat di atas meja. Masa-masa itu udah lewat, karena sekolah udah macem-macem bentuknya. Ada sekolah alam, yang kebanyakan pelajarannya lewat outdoor, ada sekolah montessori, yang konsepnya mirip, ada lagi yang terbaru soal sekolah alternatif Qaryah Tayyibah. Dan masing-masing dari mereka konsepnya udah jauh dari sekolah konvensional yang metode belajarnya itu guru ceramah, murid mendengarkan. Bahkan, di sekolah alam, anak-anaknya belajar sambil lesehan.

Nah, yang lebih menarik daripada semuanya adalah homeschooling. Seperti istilahnya, ini sekolah yang adanya di rumah. Pengajarnya? Bebas, tapi tetap belajarnya di rumah. Ada yang pake jasa homeschooler kayak Homeschooling Kak Seto, manggil jasa pengajar dari sana. Ada yang pake guru les privat, sampe yang semuanya dikerjakan oleh orang tua si anak sendiri. Intinya, adanya di rumah. Baru-baru ini, maksudnya aku baru denger (rada kuper emang ^^;), kalau ada istilah yang lebih drastis, unschooling. Artinya, nggak sekolah. Walah!

Bagi kita yang udah didoktrin puluhan tahun, dengernya serem, ya!

Orang-orang yang denger soal itu juga pasti langsung nanya, nggak sekolah? Trus belajarnya gimana? Ijazahnya gimana? Ujiannya gimana? Ujung-ujungnya adalah pertanyaan paling menakutkan dari seluruh orang tua di dunia, mau jadi apa nanti gedenya? Aku selalu heran denger pertanyaan itu. Akhirnya, aku jawab aja, “jadi orang.” Bukannya kita udah jadi manusia sejak lahir, ya? Mau diapain lagi, sih?

Akhirnya, kata ‘orang’ dikaitkan lagi sama kesuksesan. Berarti, kalau nggak sukses bukan orang. Langsung berubah jadi ksatria baja hitam kali, ya (ketahuan kan, yang nulis kelahiran tahun berapa).

Biar begitu, beberapa orang berhasil membuktikan tanpa sekolah formal pun anak-anaknya bisa sukses. Kita standarisasi dulu ya, kesuksesan yang dimaksud di sini. Secara umum, sukses buat orang-orang itu adalah sukses yang bisa dilihat, diraba, dikecap, kayak pengusaha dengan omset jutaan rupiah per hari, lulusan cum laude dari universitas bereputasi bagus, karyawan di perusahaan besar, kalau di Indonesia, tambah satu lagi : PNS. Nah, sukses itulah yang dimaksud di sini. Dengan bekal cerita orang-orang sukses berlatar tanpa sekolah formal, orang-orang mulai melirik metode ini. Ditambah dengan ilmu parenting yang menyebutkan pendidikan anak itu dimulai dari interaksinya dengan orang tua, jadilah makin banyak yang mau terjun ke metode HS.

Tapi, semakin lama aku terlibat dengan pihak-pihak HS, semakin aku paham kalau kita masih terikat dengan doktrin itu. Makna sekolah rumah bukannya makin terang, malah makin dikaburkan oleh doktrin puluhan tahun yang disarangkan di otak kita. Tujuan orang tua masih satu : mengarahkan anak-anak mereka ke kesuksesan yang aku deskripsiin di atas. Dan itu jadi jebakan buat para orang tua, yang akhirnya memaksakan metode didik mereka ke anak-anak.

Mentalitas orang tua masih berputar di ‘sekolah.’ Homeschooling, unschooling, kata-kata itu masih terikat kuat dengan bapaknya, schooling alias sekolah. Lho, itu kan hanya istilah? Well, Margaret Tatcher pernah bilang kalau “you are what you say,” artinya kata-kata yang kita pilih pada akhirnya secara nggak sadar itu adalah pikiran bawah sadar kita. Sekaligus, jadi sugesti ke dalam pemikiran kita, seperti halnya doktrin-doktrin itu. Artinya, penggunaan itu adalah representasi pikiran bawah sadar kita yang belum bisa terlepas dari sekolah. Ya, doktrinnya tahunan dan digalakkan secara masif di seluruh dunia, gimana nggak nempel kuat banget di otak kita?

Waktu aku baca-baca quote tentang HS, ada meme yang menyebut tentang self-educated. Jadi, konsep HS yang disebutkan si pembuat meme itu adalah mengedukasi diri sendiri, artinya anak punya daya juang untuk mempelajari yang dia butuhkan, yang dia suka dan yang dia mau, dengan orang tua hanya jadi fasilitator. Berlawanan dengan konsep itu, kata sekolah yang melekat di HS banyak juga diartikan kalau sekolahnya itu di rumah. Akhirnya, anak punya jadwal sekolah di rumah. Sama aja kayak mindahin sekolah ke rumah. Yang lucu lagi, malah ada sekolah yang bilang kalau prinsip sekolahnya itu mengikuti HS. Padahal mah, dia bukan rumah, so…yah… Terserah mereka, deh.

Ini dia jebakan dari HS. Penggunaannya yang masih terikat dengan sekolah juga membuat orang-orang salah kaprah tentang itu. Nggak hanya itu, ada juga yang mikir kalau anak yang di-HS-kan itu artinya dikurung di rumah, disuruh belajar, akhirnya jadilah pemahaman kalau HS itu nggak mendukung interaksi sosial. Yang lucu lagi sih, ada juga pemahaman bahwa orang tua jadi guru. Ini membuat orang-orang ragu lagi soal HS dan juga muncul anggapan kalau yang bisa meng-HS-kan anak cuma orang-orang pinter. Lagi-lagi, kita berhadapan dengan labeling. Ah, apalah pinter itu, saudara-saudari setanah air? Ukurannya nggak pernah jelas.

(Baca juga “Sosialisasi dalam Sekolah Konvensional”)

What’s in the name? kata Juliet dalam drama yang ditulis Shakespeare. Tapi, toh, karena nama itulah mereka ditentang sampai memilih untuk bunuh diri berdua. Emang kita harus hati-hati agar nggak terjerumus dalam verbalisme, mainannya istilah mulu, tanpa pemahaman menyeluruh. Ujung-ujungnya, salah kaprah lagi. Aku juga nggak menyarankan kita debat soal masalah nama ini, tapi nama ini bisa membuat kita lebih paham tentang tujuan sebenernya kita menyekolahkan anak. Bukan sekolahnya, tapi pendidikannya, edukasinya. Begitu sebaiknya, kan?

Aku sendiri banyak menulis soal locus of control, yaitu kontrol perilaku kita, apakah asalnya dari diri sendiri atau dari orang lain? Buatku, baik HS maupun NS, masih punya kekuatan locus of control eksternal (dalam hal ini doktrin sekolah itu), alias perilaku kita dikontrol dari kekuatan luar, yang jelas-jelas nggak bisa kita kendalikan. Nah, ini juga bahaya. Seharusnya kan, kita bukan jadi follower atau pemberontak total dari norma luar, tapi mencari yang terbaik buat diri kita. Cocok, syukur. Nggak cocok, ya apa boleh buat. Artinya juga, kita mandiri dari pengaruh luar yang banyak banget itu.

Kemandirian ini jadi penting karena kita nggak tahu berhadapan dengan apa atau siapa di dunia eksternal. Kalau ketemu orang baik, syukur, tapi kalau ketemu orang yang berniat nggak baik, jadi momok, deh. Segala yang busuk-busuk juga kita ikutin hanya karena kita susah terlepas dari pengaruh luar itu. Memberontak total juga salah. Kalau kita berontak terhadap sesuatu yang baik, jadinya kita harus melakukan yang nggak baik, dong? Kan, efeknya jadi nggak baik juga.

Akhir kata, istilah self-educated ini di lain pihak juga bisa menyempitkan tujuan sebenarnya dari kegiatan belajar-mengajar. Kita bukan mengantar anak ke sekolah biar dia bisa sekolah, tapi biar dia bisa dapet edukasi. Bukan buat mengikuti aturan-aturan yang dibuat sekolah, tapi supaya bisa mencari ilmu lewat transfer belajar dari guru. Kalau mau pilih sekolah, kalau emang tepat buat kita, tentu aja bagus, tapi kalau yang kita pikirin sekolahnya, edukasinya jadi melorot, dong. Dan perlu diperhatikan, makna edukasi sendiri itu mencakup tiga hal, kognitif, afektif, dan konatif. Kalau nggak seimbang, edukasi biasanya susah memaksimalkan potensi anak.

Karena itu, doktrin tentang sekolah ini harus mulai kita kikis pelan-pelan, bahwa tujuan kita itu bukan nyari sekolahnya, tapi edukasinya, yaitu metode (metode apa aja, termasuk sekolah formal) yang bisa kita pakai untuk menimba ilmu sebanyak mungkin, sekaligus cara mengaplikasikannya di dunia nyata. Teori tanpa praktek kan, artinya lumpuh?

Advertisements

Dirgahayu, Republik Indonesia!

 

 

Lagi lihat-lihat FB, aku nemuin satu tulisan menarik tentang dirgahayu RI. Selama ini banyak yang menyebut dirgahayu seakan-akan sama dengan “selamat ulang tahun,” jadi suka bilang Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-71! Ternyata itu salah! (Ya, ampun setelah 71 tahun baru tahu sekarang!) Jadi, dirgahayu itu asalnya dari Bahasa Sansekerta yang artinya “panjang umur” atau “berumur panjang.” Setelah aku ulik, ternyata emang ada konfirmasi dari badanbahasa.kemdikbud.go.id kalau emang artinya begitu. Noted, govt!

Selama ini, kasus begini suka banget kejadian. Beberapa saat lalu, heboh tentang “minal aidin wal faizin” yang ternyata artinya bukan “mohon maaf lahir dan bathin” (maaf kalo bawa-bawa agama, soalnya ini contoh yang aku inget jelas hehe). Ada banyak lagi contoh lainnya, aku sendiri nggak inget satu per satu.

Salah satu teman menyebut ini sebagai kasus verbalisme, kurang-lebih dimana orang-orang jadi lebih mementingkan kata itu sendiri daripada makna yang dikandung. Lagi-lagi gara-gara kita ngikut budaya. Ya, namanya juga ngikutin kata orang tua, yang penuh kebijaksanaan karena udah makan asam-garam hidup. Semuanya aja sekalian diikutin, bener dan salah siapa yang peduli? Gawat juga ini. Doktrin-doktrin dari otorita, mulai dari orang tua, guru, dan nantinya, di kantor, semuanya rata-rata ngajarin kalau otorita itu paling bener. Zaman udah berubah dan doktrin ini nggak lagi banyak ditekankan, tapi akibatnya masih terasa masif di antara kita. Karena menyesuaikan proses pewarisan budaya butuh waktu lama. Menyesuaikan aja, soalnya warisan budaya yang baik juga ada banyak, kok!

Apalagi, budaya ini diterapkan bukan cuma zaman Soeharto, tapi emang sejak zaman-zaman kerajaan. Dimana kekuasaan absolut ada di tangan para raja. Dan mengingat Indonesia masih seumur jagung, ya, wajar kalau bekas ajaran zaman kerajaan itu masih berasa sampe sekarang. Kayak di beberapa suku ada pamali-pamali (atau semacamnya, nggak tahu istilah lainnya) tanpa keterangan jelas tentang bukti dan alasannya. Pokoknya kalau orang tua bilang pamali, ya udah, ikutin aja.

Masalahnya, ini menimbulkan sifat malas untuk mencari tahu. Dipadu dengan arus informasi cepat nggak terbendung dari media sosial, ini gabungan yang mematikan karakter, saudara-saudara! Ditambah lagi dengan kebebasan pers, beda sama zaman dulu, kalau media harus punya SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), sekarang nggak perlu lagi. Semua orang bebas untuk menerbitkan medianya sendiri. Akhirnya, mulai bermunculan yellow jurnalism, istilah buat jurnalisme yang melebih-lebihkan beritanya untuk menjual oplah majalah. Sebelum internet viral, ada koran yang nggak perlu aku sebut merknya, yang isinya wow! Tentang kriminalitas ditambah berita-berita tentang perselingkuhan, zina, dkk. Tepat menggambarkan insting primitif manusia, libido dan agresi, dalam bahasa vulgar dan berlebihan.

Sekarang, bentuknya udah lebih canggih. Lewat internet. Dan udah nggak seperti koran yang kusebutin di atas, isinya udah beragam. Tapi, metodenya masih sama. Yang penting menjual. Nggak ada lagi nilai-nilai berita dan kode etik jurnalisme yang mereka ikutin. Yang jadi masalah baru, mereka bukan cuma menjual demi uang, tapi juga demi memenangkan dominasi mereka atas kelompok lain. Bukan hanya yellow jurnalism, tapi berisi tentang dogma dan doktrin, kebanyakan agama dan politik. Biar beritanya salah, atau mengambil framing yang menyesatkan opini publik, yang penting tujuannya tercapai.

Jadi, ini tantangan baru kebebasan. Karena bebas beropini dan bahkan, menyebar berita, walaupun internet bisa jadi gudang ilmu, dia bisa juga jadi gudang kebohongan dan kesesatan. Parahnya, sikap verbalisme ini masih dimiliki orang-orang di sekitar kita. Mereka malas mencari tahu, malas menganalisa makna yang terkandung, bahkan nggak mau skeptis dikit aja (kok, percayaan banget sih, jadi orang? Ajarin dong, caranya!) Apalagi, sekarang tinggal satu kali klik, dan semua bisa viral di medsos. Kalau nge-share berita yang udah kita cari tahu kebenarannya sih, oke. Nah, kalau berita bohong, nggak ngecek narasumber atau sumbernya, trus langsung share? Wow! Pernah juga sih, aku khilaf ngelakuin ini, untuk itu aku sekalian minta maaf lewat tulisan ini.

Dan nggak hanya di internet, berita-berita hoax menyebar lewat layanan messenger pribadi, kayak BBM, WA, Line, dkk. Promosi marketing dogma dan doktrinnya makin keren ajah! Makin canggih, didukung dengan segala macam slogan kebebasan.

Kebebasan Indonesia yang sebener-benernya baru terjadi pada reformasi Mei 1998 ya, setelah kekuasaan “absolut” Soeharto berhasil dijatuhkan mahasiswa. Itupun harus lewat tank dan berbagai peluru tajam. Perang-perang di TimTeng itu, semua negara mungkin udah pernah ngelewatin satu kali, Indonesia juga udah ngerasain dan berhasil ngelewatinnya, lho! Pahlawan sekarang bukan lagi hanya Pahlawan Nasional, tapi tokoh-tokoh reformasi 1998 itu. Siapa aja? Cari di google, gampang, kok, yang penting cek dan ricek ya, jangan asal percaya aja.

Ada yang bilang reformasi belum bener-bener terjadi. Benarkah? Yah, emang membangun negara nggak mungkin satu-dua hari. Mengubah budaya yang tertanam berpuluh-puluh tahun juga nggak cukup satu tahun aja, kan? Yang jadi tantangan sekarang justru bukan hanya perubahan besar yang terjadi di arena politik dan pemerintahan, tapi juga kontribusi rakyat. Kecanggihan teknologi informasi juga mendukung wadah untuk aspirasi rakyat. Contoh aja, change.org, petisi online yang berhasil mengubah beberapa kebijakan, di bidang apapun.

Namun, seperti pedang bermata dua, perkembangan teknologi informasi yang didukung oleh kebebasan ini juga punya banyak sisi negatif. Dia juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang punya kepentingan sendiri, punya agenda sendiri, yang jahatnya, nggak segan-segan untuk menyebar berita bohong buat mencapai tujuannya. Artinya, publik sebagai produsen dan konsumen sekaligus ditantang untuk lebih cerdas dan kritis. Kalau nggak, siap-siap jadi korban.

Tidak hanya itu, kemerdekaan berpendapat ini memunculkan dengan vulgar semua pola pikir orang-orang yang terlibat. Sekaligus, memperlihatkan budaya-budaya mereka. Akibatnya, perbedaan-perbedaan yang dulu tertutup oleh keterbatasan sarana informasi bermunculan, perbedaan pendapat makin banyak, diskusi, debat, bermacam adu opini lain makin santer. Di sini, dituntut para konsumen medsos untuk lebih bijak dalam bereaksi terhadap pola pikir yang berbeda, sedikit atau banyak. Internet itu juga punya jebakannya sendiri, lho. Soalnya, internet itu kan menutupi identitas kita, nggak jarang ini bikin orang merasa lebih aman, akhirnya emosi jadi nggak kekontrol karena terlalu berani atau nekad.

Sejak Pemilu 2014, reaksi orang-orang terhadap perbedaan pendapat makin kelihatan jelas. Akhirnya, endapan emosi selama rezim Soeharto yang kebanyakan menutup mulut rakyatnya dan membuat rakyatnya itu kurang belajar asertif dan cerdas dalam berpendapat, keluar tanpa terkendali. Akibatnya, diskusi berubah jadi debat kusir, maunya menang, dan nggak lagi punya tujuan untuk mencari kebenaran. Malah, makin jauh dari kebenaran karena pola pikir “yang penting menang” itu.

Kedua hal ini, untuk jadi cerdas dan kritis, lalu bijak dalam berpendapat dan bereaksi terhadap pendapat yang berbeda, intinya cuma satu, kecerdasan emosional. Ini saatnya kita paham kalau emosi itu bukan sesuatu yang salah dan perlu ditutupi, melainkan sesuatu yang jadi bagian dari manusia itu sendiri, untuk dikendalikan dan diungkapkan dengan cara yang sehat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Kemerdekaan memang menyenangkan, tapi kita nggak bisa larut dalam histerianya terus-menerus, karena tantangan dari kemerdekaan makin meningkat. Kalau dulu, kita tahu siapa lawan kita dengan jelas, para penjajah yang mencoba menaklukkan kita, sekarang kita harus benar-benar memahami seluk-beluk perubahan sosial, untuk memilah-milah dengan lebih baik, siapa yang berdampak baik buat kita dan siapa yang berdampak buruk untuk kita. Lebih baik memandang masalah ini dari segi dampaknya karena benar dan salah itu subjektif banget, jadi lebih baik kita nggak ngejudge berdasarkan itu.

Di ulang tahun Indonesia yang ke-71 (yang kayaknya belum bisa diakui oleh Belanda hoho), ayo kita menghadapi tantangan yang sifatnya laten ini. (Bukan PKI, lho! Karena PKI udah mati, masa masih takut sama hantunya? :p ) Ayo kita rayakan sambil mencatat baik-baik untuk mengubah mental kolonial yang masih sedikit-sedikit bersarang di hati rakyat.

Dirgahayu, Repubilk Indonesia!

 

 

 

 

Ahok vs Risma : Kajian Ngasal

risma
Sumber foto : bisnis.com

 

Kebebasan itu mahal, Bung!

Sekarang lagi rame nih, soal Ahok vs Risma. Biasalah, kalau udah deket-deket Pemilu, walaupun masih di area Pilgub. Cuma karena ini Pilgub DKI, dan DKI itu bisa dibilang pusatnya Indonesia, jadi serame ini, deh.

Ahok itu kan, emang terkenal kurang punya filter, ya (ini bikin seru kancah politik yang kebanyakan main cantik, sih, haha). Eh, ternyata itu dimanfaatin buat manas-manasin Risma, yang padahal dipisahin jarak udah sampe ribuan kilometer itu. Biasa deh, framing dari wartawan dan media yang bikin perseteruan makin panas. Kalau dikaji dari awal sampe akhir, mungkin Risma nggak perlu semarah itu, karena nyatanya Ahok juga muji-muji kerja Risma, kok.

Alhasil, Risma baper dan bikin konferensi pers buat nunjukin kalau dia marah sama Ahok. Sampai-sampai Ahok dimarahin sama ibunya (sumber dari tempo.co), ini cerita Ahok sendiri. Keren emang tuh, orang, lucu banget!

Dari awal sih, udah keliatan upaya-upaya buat manas-manasin Risma sama Ahok. Diperparah sama media yang sekarang udah banyak ditunggangi kepentingan-kepentingan politik. Bisa dilihat dari berita-berita yang udah beredar, aku nggak bisa ngasi satu contoh (lupa maning sama berita yang pernah dibaca, kacau!)

Aku di sini emang nggak mau bahas mereka dengan detail. Lebih tentang kondisi perpolitikan Indonesia sekarang. Titik balik dari politik Indonesia itu dimulainya dari Jokowi vs Prabowo. Sebenernya, lebih tepatnya dimulai waktu Jokowi mulai menjabat jadi Gubernur Jakarta. Hasil blusukan yang diprakarsai Jokowi ternyata bener-bener bawa pengaruh nyata. Rakyat mulai melek politik. Jeleknya, kebebasan itu mahal, Bung!

Mahalnya kenapa? Perseteruan antara Jokowi dan Prabowo disebut-sebut sebagai contoh demokrasi paling nyata di Indonesia, dimana orang-orang, diwadahi oleh media-media sosial macam FB dan Twitter, mulai buka suara dan urun pendapat. Sayangnya, nggak dibarengi sama mental yang bagus. Yah, emang biasa dijajah, begitu bebas, jadi kayak anak ayam kehilangan induk, tabrak sana-sini aja.

Pasti banyak yang kejadian, gimana hubungan saudara, teman, dilibas cuma dengan perbedaan pendapat dan debat kusir soal pro-kontra tentang Jokowi (kebanyakan yang aku lihat sih, pilpres 2014 cuma soal pro-kontra Jokowi, Prabowo cuma nama selingan yang kebetulan ada di daftar calon). Inilah harga sebuah kebebasan. Jangan kira kalau bebas itu pasti enak. Emang enak, kalo tahu cara menyikapinya. Kalo nggak tahu, ya balik lagi, pengen Soeharto berkuasa. Piye enak jamanku tho? Yah, ini slogan dari orang-orang yang kebingungan akibat dikasih secicip kebebasan, nggak siap untuk menghadapinya. Mending orang-orang lenyap, dipenjara tanpa pengadilan, yang penting kenyamanan hidup nggak terganggu, kan? Orang-orang banyak dibunuh tanpa ada hukuman nggak perlu pusing, karena hidup toh, tetep nyaman, kan?

Namun, perubahan ini justru memberi ide baru dari pelaku politik. Mereka emang nggak ada matinya! Akhirnya, panggung dagelan politik pun dipersiapkan. Lewat media, lewat parpol, bahkan lewat pemuka-pemuka agama. Karena sekarang zamannya kebebasan, rakyat Indonesia nggak bisa lagi dikontrol dengan kekuasaan absolut dan opresi militer. Sekarang, saatnya menjajah rakyat atas nama moral, HAM, dan yang parah, agama. Tinggal tebar media-media, yellow jurnalism atau media nyeleneh pun nggak masalah, wong bakalan dilahap juga sama rakyat yang lagi kebingungan. Apalagi kalau bawa-bawa nama Tuhan dan surga-neraka, oh, langsung ditelen tanpa dikunyah dulu. Guys, tenang, kita masih dijajah kok, belum sebebas itu. Nggak usah paniklah.

 

Dengan panggung ini sebenernya kita dijajah. Coba perhatikan baik-baik, kalau ada tokoh politik yang maju tanpa manut sama parpol, langsung deh, heboh kemana-mana. Dulu Jokowi, yang walaupun diusung parpol, masih nunjukin keengganannya untuk ngikutin suara parpol (sempet slek sama Megawati awal-awal pemerintahan dia). Sekarang Ahok, yang jelas-jelas bikin gerah parpol. Bahkan, setelah katanya dia mau diusung sama PDI-P, masih aja tuh, dia gerak sendiri. Megawati sampe gerah. Sabar ya, Bu… 😀

Akhirnya, sama juga dengan kejadian Jokowi vs Prabowo, kita dihadapkan dengan Ahok vs Risma. Soalnya, parpol pada ketar-ketir nyari penantang Ahok yang potensial di arena Pilgub DKI. Dan provinsi apa sih, yang biasa menyaingi DKI Jakarta, kalau bukan Surabaya? Dari segi industri, penantang paling baik itu Surabaya. Apalagi, pas tuh, gubernurnya tenar pula. Apa mungkin disiapin jauh-jauh hari? (Nah, mulai kan, bikin isu baru)

Mulailah diadu domba oleh media. Yah, namanya juga media, mereka kan nyari duit juga, the bad news is the good newsas my husband always says. Tinggal edit dikit, bisalah Ahok yang kebiasaan kurang punya filter itu dijelek-jelekin. Biar Risma marah, ceritanya. Ini ya, katanya cewek susah jadi pemimpin, wong digituin dikit aja emosi. Nggak pengen menjunjung tinggi emansipasi wanita juga dalam emosi, Risma?

Ujung-ujungnya kondisi ini jadi kondusif lagi buat manas-manasin rakyat yang udah melek politik, tapi masih rabun soal perbedaan dan kebebasan berpendapat. Apalagi Ahok non-muslim, lengkap sudah pamerannya buat panggung politik baru dengan tema masih seputar 2014. Intinya, buat manas-manasin rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim. Sekarang, perangkat organisasi agama udah dibawa ke kancah politik. Udah dari dulu sih, tapi sekarang perannya jadi makin kuat, kalo belum bisa dibilang nguasain Indonesia.

Dengan kata lain, Indonesia ini lagi dilanda gangguan kecemasan karena kebebasan. Mereka harus punya tanggung jawab atas diri sendiri, atas pilihan sendiri, punya suara sendiri yang harus mereka pertimbangin untuk menentukan arah politik, stressor jadi makin banyak. Di tengah kecemasan ini rakyat jadi rentan, butuh pegangan buat menjaga diri biar nggak jatuh. Mulailah berbagai media berebut, dengan kepentingan uang atau untuk kepentingan kursi, untuk menenangkan orang-orang ini. Soalnya, daripada kenyataan pahit, kayaknya orang-orang lebih masih lebih milih sweet illusion. Karena itu sinetron nggak akan ada matinya. Satu-satunya sarana biar orang bisa tetap terjaga dalam ilusi manis itu. Drama yang wajib hepi ending itu manis banget rasanya di tengah pahitnya kehidupan. Kita seakan-akan diyakinkan oleh seseorang, nggak masalah bersakit-sakit dulu, nanti pasti hepi ending kayak sinetron, kok. Manis, kan?

Tapi, ini kemajuan.

Ya, sejelek-jeleknya, ini kemajuan. Sekarang Indonesia lagi diajarin buat jadi orang bebas, artinya, harus bertanggung jawab untuk diri sendiri. Nggak bisa lagi sembarangan nyalah-nyalahin pemimpin tanpa mau bekerja sama dalam pemerintahan. Biar sekarang media masih menyetir pola pikir banyak orang Indonesia, ini jadi pembelajaran biar mereka makin awas sama media. Orang cemas itu rentan, tapi kalau orang rentan dibohongi berkali-kali, mereka juga bisa jadi waspada. Dan dengan trial and error itu, manusia selalu belajar.

Mudah-mudahan sih, nggak keburu jatuh, baru belajar, ya!

 

 

 

 

 

Our Shared Activity

IMG_20160810_080344.jpg
Enter a caption

This is the sketch of my son, drawing nyan cat

 

Want to know nyan cat? Check this site : http://www.nyan.cat

Nyan cat with all the flavour! 😀

 

IMG_20160810_081356

And this is the nyan cat that’s being drew by my son

 

IMG_20160810_081414

Another one, with stories :

As far as I know. The villagers (from minecraft) seems beheaded (ow!) and the head is fall off the ground. Here comes the nyan cat, I think he wants to eat the head…

Scary story, really…

 

IMG_20160810_080356

While my son creates the stories, I was drawing my cat, Mochi. Greetings by Mochi!

 

This is our shared activity this morning. It’s a lot of fun, until I decided to post this and spoil all fun! Hehe…

I think it’s better we get back to our activity again 🙂

 

See you, all!

 

Full-day School : Pro dan Kontra

 

13873057_795271397264763_7867024832459263691_n

 

Kemarin, tanggal 9 Agustus 2016, tiba-tiba beredar meme tentang menteri baru yang menganjurkan full-day school. Aku tahunya gara-gara meme, ambil hikmah aja deh, berarti meme itu fungsional banget, ya, hehe. Menteri pendidikan baru, Muhadjir Effendy, menggantikan Anies Baswedan yang di-reshuffle beberapa saat lalu. Aku nggak ngerti kenapa dan aku juga nggak ngerti itu pertanda bagus atau nggak, soalnya akhir-akhir ini aku kurang merhatiin politik dan sebangsanya. Dan emang yang pengen aku bahas bukan masalah politik, tapi masalah usulan ini.

Aku kaget.

Emang sih, baru usulan, belum tentu bakalan diterapin. Dan aku kaget, sekali lagi. Full-day school? Kurang-lebih artinya sekolah seharian penuh, tapi emang nggak full banget, yaitu dari jam 7 sampai jam 5. Itu 10 jam, lho! Kurang-lebih Muhadjir Effendy bilang kalau murid-murid Indonesia kurang siap berjuang di tengah kemajuan zaman, makanya harus memperbanyak jumlah jam di sekolah.

Daripada marah-marah nggak jelas, mungkin kita bisa nimbang-nimbang positif dan negatifnya. Bener nggak sih, omongan Muhadjir Effendy ini? Kalo kita bandingin dengan sistem pendidikan Finlandia yang anak sekolahnya cuma belajar 5 jam sehari, tapi pendidikannya maju juga, kayaknya pendapat ini kurang cocok, ya. Well, tapi itu di Finlandia, budaya Indonesia kan, beda lagi.

Ini beberapa alasan yang dikasih menteri pendidikan baru soal full-day school :

1.Membangun kegiatan positif, menghindari hal-hal negatif

Pro : sekolah itu kan, katanya kegiatannya positif semua, ya. Artinya, kalau anak di sekolah seharian, pasti mereka selalu dihadapin dengan kegiatan-kegiatan positif dari pihak sekolah. Jadi, mereka nggak kelayapan aja main di luar. Ini bisa membuat anak-anak terhindar dari hal-hal negatif, seperti narkoba, tawuran, dkk.

Kontra : Ya, kalau bisa diatur segampang itu, pasti enak banget. Faktanya, narkoba bisa beredar lho, di sekolahan. Dan, entah ada penelitian lebih lanjut atau penanganan dari pemerintah soal ini, bullying itu justru kebanyakan terjadi di sekolah. Jadi, sekolah itu nggak melulu isinya yang baik-baik dan indah-indah aja, banyak juga yang negatif. Bahkan, kalau mau ditelusuri, kan awal anak-anak merokok justru di sekolah, karena mereka terbiasa dihadapi oleh peer pressure. Kalau sekarang full-day school diterapin, peer pressure itu akan makin tinggi. Karena ini cara mereka untuk survive di dalam sekolah, apalagi kalau sekolah jadi rumah kedua mereka, maka lama-lama, yang terpenting buat mereka adalah kelompok teman sebaya, daripada keluarga dan lainnya. Inget lho, interaksi tertinggi di sekolah kan terjadi di tengah teman sebaya, daripada guru dan murid.

2. Lebih banyak belajar, lebih banyak pengetahuan

Pro : lebih banyak jam pelajaran artinya mereka lebih banyak belajar. Kalau lebih banyak belajar, pasti pengetahuan yang mereka dapat makin mendalam.

Kontra : faktanya, semakin banyak buku yang mereka hapal, semakin sedikit mereka paham apa yang ada dalam buku. Terutama, kalau untuk anak-anak di bawah 12 tahun, discovery learning, yaitu belajar lewat pengalaman sendiri, terbukti lebih efektif buat memperdalam ilmu itu sendiri. Kenapa? Karena mereka melihat langsung dan membuktikan langsung apa yang ada di buku. Kalau metode belajar di sekolah Indonesia kan masih lebih banyak menghapal, artinya mereka tahu, tapi nggak paham. Percuma, paling-paling kalau udah nggak masuk dalam tes, mereka lupa lagi apa aja yang mereka udah hapal. Jadi, makin banyak yang dimasukin, makin banyak yang lupa. Kalau untuk mendorong nilai tes bagus, cara ngapal emang baik, sih. Tapi, baik nggak buat masa depan anak-anak?

3. Kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan

Pro : full-day school itu nggak belajar seharian, tapi setengahnya diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler, menjadikan sekolah kegiatan yang menyenangkan

Kontra : kalau emang ini alasannya, harusnya nggak begitu aja ya, menyatakan apa yang menyenangkan dan nggak menyenangkan buat murid. Menurutku, pemerintah mungkin lebih baik mulai sadar, yang ngadepin sekolah itu bukan mereka, tapi murid-murid. Kalau mau tahu apa yang menyenangkan buat mereka, adain konsensus langsung, jadi nggak main kepedean aja kalau ekstrakurikuler pasti menyenangkan.

4. Membangun pribadi lebih baik lewat ekstrakurikuler

Pro : lewat ekstrakurikuler, anak dididik untuk bersosialisasi lebih banyak dan dengan begitu juga membantu mereka bangun kepribadian lebih baik karena mulai dari situ mereka berorganisasi.

Kontra : bener, tapi sayangnya, terutama untuk anak-anak lebih kecil, pribadi dibangun mula-mula dari keluarga, terutama hubungan dengan orang tua. Ini yang kurang diperhatikan oleh pemerintah, mereka lupa karakter anak itu bukan dibangun di sekolah, maaf ya, to be honest, sekolah itu cuma media belajar, pembangunan karakter yang bisa dilakuin di sekolah itu pun sifatnya cuma lanjutan. Kalau pembangunan karakter itu nggak dimulai dari orang tua, biasanya sekolah mau jungkir-balik kayak apa juga, nggak bakalan sukses membangun karakter murid. Malah, yang terjadi labelling parah dari guru-guru dan pihak sekolah yang bingung ngatur anak-anak yang nggak “seragam” menurut mereka. Anak yang susah paham dibilang bodoh, anak nggak mau ikut kata-kata guru dibilang nakal. Ya, ini malah makin jauh dari pembangunan karakter, ya, entah lewat ekskul atau ruang kelas.

 

Ini sebagian pendapatku soal pro-kontra full-day school. Aku yakin sih, Muhadjir Effendy cuma pengen yang terbaik, tapi seharusnya nggak main asal tabrak bikin statement kayak gitu atau memberikan usulan begitu. Apa nggak seharusnya diadain penelitian dulu tentang itu? Gimana dengan pendapat murid-murid yang secara langsung ngadepin situasi KBM? Bukan ortu lho, bukan pemerintah, bahkan bukan guru, tapi murid-murid. Kalau mau tahu yang terbaik untuk mereka, periksa langsung ke mereka.

Pe-er pemerintah soal sistem pendidikan sebenernya masih banyak banget. Coba deh, terapin dulu kurikulum yang konsisten, nggak tiap ganti menteri, ganti kurikulum, bahkan guru-guru yang ngajar aja ngaku bingung. Anak-anak yang diajarin ya, jadi jauh lebih bingung, kan? Trus peningkatan SDM guru juga harus jadi perhatian. Coba kasih sarana pendidikan yang memadai buat guru, lebih selektif milih guru-guru, dan tingkatin juga kesejahteraan guru supaya profesi guru nggak dianggap main-main aja. Mereka juga punya peranan untuk membangun pola pikir anak, doktrin pendidikan kebanyakan ada di mereka. Pertanyaan tambahan : dana BOS udah disiapin untuk ekstrakurikuler segudang? 😀

 

Fenomena Nyan Cat

 

 

Jangan ngaku kekinian kalau belum kenal Nyan Cat!!!

Well, sebenernya itu semboyan yang rada dipaksain. Aku juga kenal nyan cat gara-gara anakku, namanya Si Tombo. Awalnya, dia lagi seneng-senengnya main “Cat Simulator.” Itu game simulasi kucing ngehancurin rumah. Literally! Mudah-mudahan nggak bawa pengaruh buruk, tapi sejauh ini sih, nggak juga. Soalnya, kalau Tombo berantakin rumah, dia sendiri yang tanggung jawab beresin. Berantakinnya mungkin enak, tapi beresinnya kan nggak enak. Semoga itu artinya Tombo udah mulai bisa bikin keputusan sendiri.

Oke, balik ke Nyan Cat. Nyan Cat apaan, sih? Jujur deh, aku juga nggak paham banget. Pertama kali ketemu, Tombo lagi nyari Cat Simulator di PC. Berhubung sekarang yang tren adalah mobile computing, alias apa-apa pakenya HP, nggak nemulah permainan itu buat PC. Eh, malah ketemu Nyan Cat Simulator. Nyan Cat Simulator itu cuma kucing yang nggak tahu kenapa, badannya itu berbentuk pop tarts (semacam biskuit malkist dioles apa gitu, snacknya orang Barat kayaknya) dan dia ngeluarin pelangi dari ekornya. Sepupunya Tombo bilang ‘he’s farting rainbow‘ or something. Oh! *speechless abis*

Dan, yang agak menyebalkan nih, dia nyanyi “nyan, nyan, nyan” nggak putus-putus dengan suara cempreng anime Jepang dan lagu yang iramanya…er…gimana, ya? Aku nggak bisa nangkep dia pake melodi apa. Mungkin c-g-c-g (ngaco, ini ngaco!)

Si Nyan Cat ini nggak ngelakuin apa-apa selain terbang di luar angkasa, ngikutin kemana panah scroll kita. Kemanapun kita arahin panahnya, dia ngikut. Tombo suka itu! (???) Kalau dari rangsang visual emang cukup bagus buat anak-anak. Kepala dan kaki-kaki kucingnya abu-abu terang, warna badannya yang bentuk pop tarts itu pink dengan kotak-kotak pink tua, base biskuitnya cokelat, trus pelanginya (nanya Tombo yang hapal di luar kepala) warna red, orange, blue, and purple. Rangsang visual ini lumayan dianjurkan buat bayi sekitar 3 bulan yang udah mulai aware sama sekitarnya.

Oke, kupikir Tombo paling nggak lama bosen. Salah besar! Nggak cuma mainin di rumah, dia ngenalin Nyan Cat sama sepupu-sepupunya dan mereka, entah suka juga, atau karena pengen bikin Tombo seneng, nyetel juga di rumah mereka pas kita main ke sana. Tinggallah kakak ipar yang pusing denger lagu berirama c-g-c-g (sekali lagi, ini ngaco!) yang berantakan itu.

Yang jadi fenomena besar yang membingungkan adalah, begitu Tombo eksplorasi lebih lanjut tentang Nyan Cat, ternyata dia terkenal!!! (Kaget beneran) Bahkan, ada yang bikin Nyan Cat versi windows, alias logo windows diikutin sama ekor pelangi panjang sama nada-nadanya agak dimirip-miripin sama nada lagu windows pas starting di PC itu. Sampai ada versus grumpy cat-nya (nggak disaranin buat anak karena ternyata mengandung kata-kata kasar yang kotor dan nggak kefilter sama restricted mode di youtube karena modelnya emang kartun, jadi hati-hati juga, restricted mode nggak sepenuhnya berfungsi). Trus ada gitar cover sampai piano cover. Wow banget!

Karena sekali suka sesuatu, Tombo suka nyari-nyari terus, akhirnya dia juga nemuin aplikasi chatting sama Kyan Cat. Kalau kuambil kesimpulannya sih, dia ini semacam orang yang berbaik hati menjelaskan segala macem soal Nyan Cat, mirip-mirip Call Center. Tapi, aku rada nggak percaya itu resmi, masa sih?! Untuk sebuah Nyan Cat?! 😀

Seterusnya, anakku mulai chatting sama Kyan Cat. Untungnya sih, anakku mau cerita-cerita dan malah nunjukin isi chatting. (Sama sekali nggak nyambung chattingnya, sumpah!) Tapi, karena profesional, si Kyan Cat itu terus aja ngeladenin chat anakku, yang entah apa maksudnya. Pernah sekali aku disuruh sama Tombo untuk chatting sama si Kyan Cat, aku kasih tahu aja dia lagi chatting sama anak umur 5 tahun. Nggak ada respon sih, tapi kalau diperhatiin dia jadi lebih maklum. Karena pas pertama chatting dia sampe sempet bilang “Are you joking?” or something yang kayaknya dia sendiri bingung, ini lawan bicaranya ngomongin apa, sih.

Wah, aku nggak nyangka, untuk hal sesederhana Nyan Cat (awal gamenya kan dia cuma ngikutin panah scroll aja!) jadi bisa viral kayak gitu, menyebar kemana-mana dan jadi upgrade. Ini bukti kalau kita nggak boleh banget meremehkan sesuatu, ya!

 

Pokemon Go (ver.2)

pokemon go

 

Pokemon Go dan Perilaku Adiktif

 

Beginilah jadinya kalau kurang konsisten ngelakuin sesuatu. Tadinya pembahasan ini mau langsung diluncurkan persis habis artikel Pokemon Go (ver.1), eh malah jadinya sekarang. Tapi, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Walaupun cepat dan tepat itu slogan yang paling tepat untuk zaman sekarang ini.

Pokemon Go dalam waktu singkat (walaupun bangun game-nya sih, bertahun-tahun, tuh) ternyata bisa mencuri hati orang-orang. Nggak tanggung-tanggung, berkat teknologi informasi yang berkembang pesat juga, ini viral dari Indonesia sampai Amerika Serikat sana. Terbukti dari berbagai berita tentang Pokemon Go di Amerika. Kadang-kadang beritanya parah, tentang kecelakaan gara-gara ngejar monster Pokemon ^^;

Aneh, ya, orang bisa meninggal gara-gara main games? Tapi, ini bukan berita baru. Waktu dulu game-game RPG masih terbilang baru, banyak orang-orang yang terjebak jadi pecandu games. Beberapa dari mereka sampai tinggal berhari-hari di warnet. Hasilnya, ada yang meninggal karena kelelahan. Ya, iya, berapa banyak radiasi yang diterima tubuh mereka? Bagaimana pola makan dan pola tidur yang keganggu? Resep bagus buat orang yang mau bunuh diri pelan-pelan.

Kenapa sih, orang bisa kecanduan games?

Intinya, semua perilaku itu didasari 3 alasan, biologis, psikologis, dan sosial. Secara biologis, games itu bisa meningkatkan hormon endorfin karena tantangan menyenangkan yang disajikan sama si pembuat games. Trus, secara psikologis, kalau kita lagi stres, ya pasti kita ngelakuin hal-hal yang bisa meningkatkan si endorfin yang efektif bikin tenang itu. Ketiga, standarlah, karena kita mau tahu hal-hal yang kekinian, atau mau diterima secara sosial. Ngikutin yang kekinian kan, bisa bikin kita punya bahan buat ngobrol sama orang lain.

Namun, kenapa satu perilaku berlanjut, punya proses yang lebih kompleks. Normalnya, kalau tujuan kita tercapai, kita bakal menghentikan satu perilaku. Bukan secara total, tapi minimal kita nggak perlu meningkatkan intensitasnya. Jadi, kalau main Pokemon Go bisa ngilangin stres, waktu stres kita berkurang, ya kita balik ke aktivitas asal dan naro HP dulu sampai kita pengen main buat ngilangin stres lagi. Atau, cukup kalau Pokemon Go yang kita mainin bisa nambah bahan obrolan sama temen sekantor, ya kita bakalan main ala kadarnya. Nggak perlu sampai menambah-nambah intensitasnya.

Kalau yang terjadi kita malah lanjut dan terobsesi sampai nggak bisa lepas dari HP, itu artinya perilaku main gamesnya udah bahaya. Karena banyak yang jadi terabaikan, bahkan nyawa sendiri. Kan?

Games sebenernya salah satu cara orang untuk melakukan penyesuaian diri terhadap stres. Kenapa sih, ada stres? Stres itu datangnya dari kebutuhan kita untuk mempertahankan diri. Kenapa orang takut kehilangan kerja? Sejatinya, karena dia takut nggak punya uang buat makan dan mati kelaparan. Kenapa orang kesel kalau dinasehatin? Karena dia ngerasa nasehat sebagai serangan dan upaya untuk mematikan dia (dalam hal karakter nih, ya), akhirnya timbul insting untuk mempertahankan diri dan melawan serangan berupa “nasehat” itu. Sama dengan games, games itu adalah cara kita menyesuaikan diri terhadap stres, supaya kita tetap bisa “survive.” Baik fisiologis maupun psikologis.

Jadi, stres itu sehat. Aneh, ya? Stres itu sehat karena stres adalah salah satu alarm dari pikiran kita supaya kita tetap bisa hidup dan berkembang. Makanya, pola pikir yang menganggap stres itu jelek justru harus diubah. Seperti halnya emosi, stres itu harus ada supaya manusia bisa mendeteksi bahaya-bahaya di sekitarnya. Yang membedakan apakah stres bisa berdampak baik atau buruk adalah cara menghadapinya. Games mungkin efektif buat menyesuaikan diri terhadap stres, kalau games diperlakukan sebagai rekreasi. Rekreasi itu kan sifatnya sementara, jadi kalau udah selesai, kita balik ke kenyataan.

Nah, ini dia yang kadang-kadang kita tolak. Kenyataan itu berat. Norak dan klise banget sih, tapi ya, begitulah. Kenyataan itu adalah tempat dimana kita harus bertanggung jawab atas semua apa yang kita lakukan dan apa yang kita jalani. Artinya, games, yang menyediakan fantasi dan gambar-gambar menarik yang beda banget sama kenyataan, membuat kita lega, merasa bebas dari kenyataan. Efeknya, kembali ke kenyataan itu jadi susah. Ini yang membuat kita kecanduan. Nggak perlu sama games deh, apa aja juga bisa. Ada yang candu rokok, narkoba, bahkan hal-hal yang kita anggap sepele, seperti makan. Dan sekalipun makan adalah kebutuhan, kalau dia jadi candu, dia jadi sama buruknya dengan narkoba. Banyak kan, orang meninggal gara-gara obesitas? Ini salah satu contoh aja, ya.

Games juga sama aja. Menyenangkan di awal. Begitu jadi candu, dia bisa menghancurkan kehidupan kita. Nggak usah ngomong yang serem-serem kayak kecelakaan karena ceroboh, tapi kalau bisa ngebuat kita mengabaikan orang-orang di sekitar kita, jadinya gimana? Mau putus sama pacar gara-gara Pokemon? Kalau masih asik main Pokemon sih, emang nggak berasa, ya. Begitu udah bosen, kekiniannya ilang, baru deh, galau sendiri hehe. Bisa juga tugas-tugas, di sekolah, di kantor, di rumah, jadi terbengkalai, dan makin numpuk dan makin numpuk, makin stres, makin pengen main games biar nggak usah ngeliatin tugas, tugasnya jadi bejibun, makin stres, makin pengen main games, jadilah lingkaran setan yang nggak putus-putus. Akhirnya, bukannya stresnya ilang, malah nambah stres baru karena udah susah lepas dari games itu.

Proses ini berlaku sama dengan apapun, baik itu ngemil, rokok, narkoba, dkk. Mereka itu awalnya bukan candu, sampai kita yang menjadikan mereka candu. Menjadikan mereka kebutuhan yang susah digantikan dan ngerusak diri sendiri. Narkoba juga nggak pernah langsung jadi candu. Dia jadi candu dan bikin sakaw, kalau kita terus-terusan make itu. Jadi, kalau kita mau coba-coba, minimal kita udah tahu gimana cara membatasi intensitasnya dan menghadapi resiko apapun yang bisa timbul dari percobaan itu.

Yuk, main games buat rekreasi aja!

 

 

 

 

 

Bosan

Ini hal teraneh yang kualami. Bahkan, lebih aneh ketika mie keluar dari hidungku. Lebih menakutkan, jangan lupa.

“Aneh,” dia mengamatiku. “Kepala”-nya (aku rasa itu kepala?) meneleng ke kiri, ke kanan. “Kaki”-nya (aku tidak bisa benar-benar menggunakan kata ini dengan ikhlas, bentuknya terlalu mirip tangan) memutariku. Ke samping kiri, lalu ke samping kanan. “Kenapa kamu bentuknya abstrak gini?”

Kamu yang abstrak! Aku mau berteriak begitu, tapi kata-kata tertelan lagi. Didesak oleh ketakutan, insting untuk lari, bertahan dari peristiwa-peristiwa menyeramkan. Aku mau otakku bekerja, aku harus bagaimana? tapi ternyata dia pun lumpuh.

Matanya berputar di kepalanya, maksudku benar-benar berpusing cepat. “Jangan-jangan , kamu alien, ya?” Hanya intonasi suaranya yang membuatku sadar, bahwa dia sedang antusias, bukan ketakutan sepertiku.

Tunggu, ini mimpi, kan? Mimpiku sendiri. Dimana aku harus jadi pahlawannya. Dimana misteri jadi kenyataan dan yang nyata jadi pengganggu.

“Bukan. Aku tinggal di sini.”

“Nggak mungkin! Aku nggak pernah lihat benda kayak kamu!”

Benda? Dia terlalu keterlaluan! “Aku manusia!”

Mata itu tidak bercangkang, tapi aku tahu ia tengah memandangiku. Satu titik agak besar di dalamnya bergerak ke arahku. Mencitrakan dengan jelas wajahku sendiri, yang melebar, terkena permukaan cembung.

“Kalau iya, di mana rumah kamu?” nada suaranya menantang. Aku sedikit bersyukur bahwa ada hal-hal yang tak berubah. Suara, bahasa, lingkungan ini, setidaknya aku jadi tidak terlalu asing.

Mendengus kesal, dia sepertinya sombong, aku berbalik, menuju arah rumahku. Tempat dimana aku keluar dari lubang aneh dan justru keluar di pekaranganku sendiri. Satu rumah terlewati. Ini rumah tetanggaku, pasangan suami-istri beranak dua yang ramah, kemana mereka? Dua rumah, rumah yang ini, seorang kakek-nenek, yang terlalu sering dititipi dua cucunya. Rumah ini pun tampak sepi. Akhirnya aku berhenti.

Benda…, aku mengoreksi dalam hati, makhluk seperti manusia abstrak di belakangku mengikuti. Kaki (tangan) nya mengikuti. Aku menunjuk ke arah rumah ini.

Titik bulat di matanya bergerak ke atas, mengamati rumah yang memang menjulang agak tinggi daripada kami berdua. Kalau tidak, aku tidak akan bisa masuk, kan?

Dia terkikik. Setidaknya itu yang kupikir, karena suara itu aneh dan ganjil, membuatku merinding. Melengking dan terputus berdetak-detak, sama sekali berbeda seperti suara saat dia berbicara. Lalu, lengkingan itu berubah menjadi suara tawa, tapi tidak mengandung kegembiraan, malah seperti dengungan yang keji.

Dia tertawa, terus tertawa.(bersambung)

 

Catatan penulis :

16 days ago?! Udah selama itu aku nganggurin tulisan ini?

dan tulisan dadakan ini pun semakin aneh… 😀

Anak Bilingual dan Efek-efeknya

 

Bilingual_Kids_800x600
Gambar diambil dari : http://www.juanofwords.com

Tahu kan, anak-anak yang bisa bicara bahasa asing dan bahasa ibunya sekaligus? Kalau yang paling umumnya, anak-anak yang bisa Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (karena kita di Indonesia, ya, dan Bahasa Inggris itu kebetulan bahasa internasional). Ada ibu-ibu yang berpendapat, termasuk aku, sih, kalau anak itu bisa dididik untuk belajar dua bahasa sekaligus sejak dini.

Dari awal, aku agak kebingungan soal ini, karena persoalan ini bisa dibilang kontroversial banget di antara banyak ahli. Ahli aja gitu, apalagi pendapat-pendapat umum. Soalnya, kalau diperkenalkan langsung dua-duanya, itu bisa menimbulkan kebingungan pada anak dan memperlambat perkembangan bahasa. Ada juga yang berpendapat kalau anak bilingual juga bisa terhambat perkembangan sosialnya. Dua efek ini aku masih ngerasa wajar.

Tapi, satu saat aku dikagetkan dengan pendapat kalau anak bilingual juga perkembangan emosinya terhambat. Lah, kok gitu? Kenapa aku kaget, karena bahasa itu sifatnya teknikal, sesuatu yang dipelajari. Pas aku baca-baca artikel juga, perkembangan bahasa itu letaknya di otak hemisfer kiri, yang mengatur kerja-kerja intelektual, dan berseberangan dengan otak yang mengatur emosi, yaitu di hemisfer kanan.

Karena kedua otak ini bekerja timbal-balik, aku paham kalau perkembangan emosi terhambat karena ada hambatan di perkembangan bahasa dan sosial. Tapi, kalau ini masalahnya, berarti kalau ditelusuri pake hukum sebab-akibat, penyebabnya adalah perkembangan bahasa dan sosial, sedangkan akibatnya perkembangan emosi. Gitu, kan, simpelnya? Berarti, yang ditekankan tetap penanganan dalam perkembangan bahasa dan sosial, karena perkembangan emosi nantinya bakalan ikut-ikutan juga. Analoginya, kalau emanglah kita kesel gara-gara lagi laper, ya lapernya aja yang diurusin dengan cara makan, nanti juga emosinya bener lagi. Kalau emosinya kita urus, malah jadi lingkaran setan, karena penyebab dasarnya masih mengganggu kita.

Selidik punya selidik, akhirnya ketahuan (walaupun sedikit dan kurang banyak) kalau si ortu anak itu support anaknya kuliah di luar ok, les apapun ok. Kuliah, les, itu kan hal-hal yang lebih banyak kaitannya dengan perkembangan intelektual. Di sini aku mulai nyambung. Berarti ortunya emang lebih fokus ke perkembangan kognisi anaknya.

Masalahnya, pendidikan itu sebenarnya bertumpu sama 3 faktor, kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi itu perkembangan intelektual, kayak pengetahuan-pengetahuan teknis. Kalau afeksi itu menekankan pada sisi emosi, perasaan, dimana anak belajar untuk peduli dan berempati sama orang lain. Terakhir, konasi, yaitu motivasi atau penggerak perilaku anak. Nah, biasanya sih, teori ini digunakan sama sekolah. Tapi, kita sekarang mulai belajar kalau pendidikan itu kebanyakan ya, di ortu. Bahkan, kalau pendidikan di rumah emang kuat, pendidikan sekolah bisa nggak nyentuh anak. Kasarnya sih, gitu.

Artinya, ortu juga perlu terlibat dalam setiap pendidikan anak, nggak bisa nyerahin ke guru aja. Apalagi, kalau di sekolahan itu kan, KBM sifatnya kolektif, 1 guru ngajar 20 anak, malah ada yang sampe 30-40 anak. Kalau di sekolah swasta yang katanya bagus, biasanya ada guru pendamping. Kalau sekolah negeri, setahuku jarang. Aku nggak tahu kalau ada sekolah negeri yang mulai nerapin.

Aku juga menyebutkan dua efek lain dari bilingual. Yaitu, perkembangan bicara dan penyesuaian sosial.

Pertama, perkembangan bicara. Bener nggak, terhambat? Ada yang bilang kalau anak bilingual itu terhambat perkembangan bicaranya. Dia kebingungan menentukan bahasa apa yang harus digunakan dan kadang-kadang suka salah artikulasi. Karena pengucapan alfabet Inggris dan Indonesia beda.

Ternyata, penelitian soal ini nggak banyak terbukti. Anakku sendiri perkembangannya dalam membentuk kalimat emang telat, tapi artikulasinya normal. Dan setelah diselidikin sih, dia emang karakter yang nggak terlalu suka ngobrol. Apalagi, dia anak benefit, motivasi dia itu dateng dari manfaat apa yang bisa dia dapet, jadilah kalau dia belum butuh ngomong, dia nggak ngomong (buat catatan aja nih, ada satu lagi anak yang motivasinya berasal dari ngindarin resiko, mungkin satu waktu aku bahas). Waktu umur 4-5 tahun, perkembangan bicaranya langsung pesat. Bahasa Inggrisnya, yang tadinya ngelantur-ngelantur nggak jelas tiba-tiba jadi jelas banget. Kenapa? Karena dia punya dua sepupu dekat yang bilingual dan dia jadi punya kebutuhan untuk ngobrol sama mereka.

Kasus di anakku, emang suka ada salah artikulasi, seperti A dalam Bahasa Inggris, kebalik-balik sama ‘E’ dalam Bahasa Indonesia, tapi cuma sebentar. Ya, wajar salah, masih belajar.

Kedua, penyesuaian sosial. Seperti yang disebutin di atas, wajar kalau rada susah buat anak bergaul dengan anak-anak lain yang monolingual. Apalagi, ada budaya yang nganggep orang yang bilingual itu sombong. Lah ya, sombong, kalau lagi di tengah-tengah pergaulan biasa, ada orang cas-cis-cus pake bahasa asing yang nggak dimengerti sama temen-temennya, apa gunanya, coba? Bahasa itu kan, fungsinya buat interaksi sosial.

Di artikel kompas.com, menurut peneliti utama studi bilingual, Julia Morales Castillo, dari Departemen Psikologi Eksperimental di Universitas Granada, “studi-studi lain telah menunjukkan bahwa anak-anak bilingual lebih baik dalam perencanaan dan kontrol kognitif (yaitu tugas mengabaikan informasi yang tidak relevan atau membutuhkan respon yang dominan). Artinya, dia bakalan lebih baik dalam memilah-milah gimana cara bicara ke orang-orang yang beda-beda. Dan emang, anakku nggak punya masalah soal itu. Dia tahu dengan siapa harus ngomong bahasa asing dan dengan siapa dia harus ngomong bahasa ibu, jadi waktu dia main sama temennya, nggak ada masalah soal ini.

Ya, perkembangan sosial Tombo emang terhambat karena dia ngikutin sifat emaknya, yang kurang suka bersosialisasi, sih. (Nangis sambil ketawa)

Ketiga, perkembangan emosi. Udah sedikit dijelasin di atas tentang kenapa sisi afeksi anak bisa terhambat. Ternyata, bukan bilingualnya, tapi pola asuh orang tuanya yang fokus banget sama kognisi. Aku kurang setuju sama istilah ini, jadi mari kita pake kata perkembangan afeksi, karena setelah dapet deskripsi dari pendapat tentang perkembangan emosi anak bilingual, ternyata bukan soal energi dari emosi yang dihasilkan, tapi afeksi terhadap orang lain.

Pendapat ini didasarkan pada kearifan lokal Indonesia, artinya budaya. Aku setuju kalau bahasa itu adalah budaya. Jadi, saat kita ngajarin Bahasa Inggris, budaya orang Barat pasti kebawa. Misalnya, Tombo itu sekarang suka beraku-kamu sama neneknya, which is, itu dianggap nggak sopan banget sama orang tua-orang tua zaman dulu. Tapi, ini bisa disiasati, lagi-lagi balik ke pola asuh orang tuanya. Bukannya mustahil kok, kita ajarkan kearifan lokal lewat bahasa asing. Kita cuma perlu tanamkan dan yang paling penting, teladani itu ke anak. Alias kita juga praktekkan kearifan lokal itu, biar dia belajar sosial, alias niru kita. Jangan pernah berharap anak bakalan ngelakuin kalau kita cuma ngomong, tapi kita nggak pernah nunjukin itu ke mereka.

Misalkan, efek “nggak sopan” ke kakek-nenek itu, tinggal suruh aja dia berbahasa Indonesia, karena kalau Bahasa Inggris, emang rata ya, ngomong ke orang kedua, ya pake you atau kamu. Dengan begini, fungsi utama linguistik untuk berinteraksi secara sosial, tetap terjaga dan bukan buat gaya-gaya.

Trus, kenapa bilingual, dong?

Ya, siapa yang mengharuskan? Kalau emang nggak mau, ya nggak apa-apa, karena tujuan orang tua beda-beda. Ada yang karena emang orang tuanya dua kebangsaan atau tinggal di luar negeri. Ada juga yang emang pengen anaknya lebih siap dengan era dimana semua-muanya pake Bahasa Inggris. Yang penting, tetap ingat kalau pendidikan anak harus terintegrasi, kognisi-afeksi-konasi. Trus, jangan lupakan tiga jenis kecerdasan; intelektual, emosi, dan spiritual.

Dan satu lagi yang terpenting, jangan pake metode maksa-maksa. Misal, maksa les (kecuali kalau anaknya seneng) demi anak bisa bilingual. Cukup paparkan aja pelan-pelan tiap hari dan selebihnya, ikhlas aja kalau anak ngerasa nggak butuh bilingual. Anak kecil pun bisa stres, lho…

 

Sumber :

http://female.kompas.com/read/2013/11/25/1738403/Kemampuan.Mengingat.Anak.Bilingual.Lebih.Baik

Momentary Confusion

 

 

Lagak banget ya, pake Bahasa Inggris? Masalahnya, kalau diindonesiain rasanya kurang mendalam maknanya. Kebingungan sementara. Kalau konteksnya begitu kan, bisa diartiin kita bingung antara mau beli barang A atau barang B. Sementara, momentary confusion itu istilah kekiniannya adalah kegalauan mendalam yang sifatnya sementara. Ini definisi operasional lho, definisi yang dipilih oleh penulis sendiri, hehe.

Kalau mau dijabarkan lebih dalam, momentary confusion itu intinya saat-saat kita nggak yakin dengan hidup kita, dengan pilihan kita, dan nggak yakin kemana akhir dari perjalanan hidup yang kita jalani. Walaupun efeknya bisa besar, sebenarnya hal Ini biasa banget, kayak pebisnis yang lagi mengalami masa sulit dengan bisnisnya, dan merasa bahwa ia telah mengambil keputusan yang salah. Detik-detik mau menikah, dan calon pengantin tiba-tiba ragu sama pasangannya dan kehidupan pernikahannya nanti. Dan banyak lainnya.

Itu yang kusebut dengan momentary confusion.

Penyebabnya apa, sih? Beberapa orang bilang jenuh. Bisa jadi, karena dalam setiap kasus psikologi, kemungkinannya bisa banyak. Kita bicara tentang manusia yang kompleks banget, jadi penyebabnya pasti juga kompleks. Mungkin yang baca mikir, buat apa dicari penyebabnya? Kenapa nggak dicari solusinya? Nah, itu berhubungan. Kalau kita tahu penyebabnya, kita bisa milih solusi paling baik. Jadi, cari penyebab ya, bukan cari kambing hitam yang malah bikin kita stuck sama masa lalu. Cari kambing hitam itu yang nggak berguna.

  1. Kurang bertanggung jawab

Di budaya Timur Indonesia, sekarang sih, mulai membaik dengan menyebarnya ilmu parenting ya, tapi banyak anak-anak kurang diajarkan untuk tanggung jawab. Emang sih, orang tua sering nyuruh-nyuruh anaknya ini-itu, supaya mereka belajar, tapi yang kurang banget adalah dipercaya untuk memegang satu tanggung jawab. Misalnya, bersihin kamar. Orang tua harus berisik dulu, baru anaknya bersihin kamar. Artinya, tanggung jawab masih dipegang orang tua, dan anak nggak belajar untuk berinisiatif sendiri. Akibatnya, waktu mereka buat keputusan, mereka suka takut ngadepin tanggung jawabnya.

Buat orang tua, ini gampang-gampang susah. Kasih satu tanggung jawab dan lepasin mereka untuk menyelesaikan tanggung jawab dengan cara mereka sendiri. Dan kalau nggak dikerjain, dari awal, sebelum dikasih tanggung jawab itu, buat aturan yang jelas kalau nggak dikerjain. Lalu, tutup mulut dan jangan ikut campur lagi, selama tanggung jawab itu beres atau anak lebih milih nerima konsekuensi dan nggak ngerjain tanggung jawab. Nah, ini yang masih susaaaah banget buat orang tua. Iya, kan? Tapi, kalau anak udah belajar tanggung jawab, kita orang tua bisa leha-leha deh, nikmati hasilnya, suatu saat nanti (jangan lupa ngedidik anak nggak berbatas waktu).

  1. Nggak pikir panjang, apalagi mendetail

Pernah nggak sih, kita lihat banyak orang buru-buru memutuskan sesuatu? Contoh simpel, nikah dan punya anak. Kalau di luar negeri, kita bisa lihat banyak orang yang nunda nikah dan punya anak sampe tua. Jadi, begitu anaknya gede, mereka udah tua banget. Alasannya, karena mereka dalam mengambil keputusan sebesar itu, mereka mikir-mikir panjang banget dulu. Entah itu finansial, entah itu kesiapan mental, dkk. Lagi-lagi, karena mereka lebih paham tanggung jawab. Mereka itu bisa dibilang ‘terpaksa’ keluar waktu lulus SMA, jadi mereka udah belajar dari awal untuk mengurus dan bertanggung jawab atas diri mereka sendiri dari usia akhir masa remaja.

Nah, kalau di Indonesia, jangankan mikir-mikir. Malah, sekarang lagi ada yang mempropagandakan ‘ayo nikah’ which is, menggelikan buatku. Nikah itu ibadah, slogan itu oke, untuk menjelaskan kalau sebaiknya kita nikah atas nama Tuhan. Bukan berarti dikit-dikit pengen nikah, punya duit dikit pengen nikah (well, kayaknya aku juga harus sedikit introspeksi di sini hihi). Kan masalah itu bukan cuma finansial, bisa juga kesiapan mental-emosional-spirituil, yang kayaknya justru jauh lebih kurang dipersiapin sama kita. Apalagi, ditambah lagi, keyakinan kalau nggak boleh KB, trus tinggal di Jakarta pula, yang menderita ya, anak. Kenapa juga kalau mau begitu nggak pindah ke tempat yang lebih jarang penduduk, sih? Bahkan, lahan kuburan aja udah susah lho, di Jakarta. Nanti kalau mayat-mayat dibuang ke tempat nggak layak, juga nggak mau, karena kuburan dianggap keramat (seberapa keramat sih, jasad yang udah busuk? Paling kenangannya yang berharga, bukan kuburannya). Serba susah, kan?

Itu baru satu persoalan lho, yaitu nikah. Gimana dengan yang lain, dengan yang lebih besar, kayak perkembangan kota-kota mandiri, yang kebanyakan, walau nggak semuanya, yang nggak mikir soal tata kota. Lebih ribet dan lebih luas lagi dampaknya.

  1. Dukungan sosial yang berlebihan

Aneh nggak, sih? Padahal mah, dukungan sosial itu emang perlu ada. Masalahnya, kadang-kadang dukungan sosial itu suka lebay (baca : berlebihan) yang akibatnya, malah bukan lagi berupa upaya tolong-menolong, tapi malah saling ketergantungan. Kalau perkembangan psikososial mau matang, hal pertama yang harus dilepaskan oleh anak itu adalah ketergantungan pada orang tua. Nah, di Indonesia, kekerabatan itu sangat dekat, kadang-kadang membuat anak susah lepas dari orang tua.

Ini juga racun yang ditinggalkan warisan budaya. Orang tua harus bantu anaknya, bahkan saat anaknya udah gede. Kita itu perlu tahu, setiap manusia itu punya insting primitif (walaupun nggak diajarin) untuk bertahan hidup. Jadi, separah apapun situasinya, selama di tempat dia tinggal itu masih ada makanan, minuman, oksigen, mereka bakalan hidup. Jangankan orang dewasa, anak-anak juga bisa aja kok, bertahan hidup, kalau cuma soal fisik, ya. Yang perlu diajarin dan diarahkan orang dewasa itu adalah kehidupan bersosialisasi dan pembangunan karakternya.

Jadi, orang tua nggak perlu khawatir anaknya bakalan mati kalau nggak dibantuin. Anak susah? Ya, orang mesti menghadapi kesulitan untuk jadi dewasa. Kalau anak bilang nggak bisa dikit, jangan langsung turun tangan buat bantuin, ini bikin anak nggak mandiri dan selalu cemas kalo nggak ditemenin sama orang lain (bahaya kalo udah remaja, apa-apa mesti ada temen atau malah, pacar. Kalau pacar abusive, bisa aja dia cuek, yang penting punya orang di sampingnya. Ih, serem!) Buat para orang tua : nggaaak, nggak jahat kok, untuk mengajarkan anak berdiri di atas kakinya sendiri. Apalagi kalau emang niatnya ikhlas pengen ngedidik anak, yang penting tahu batasnya. Kalau udah bahaya, baru ditolong. Masa anak mau ditabrak bis, kita masih tenang-tenang aja? Ini analogi simpelnya.

Ketergantungan ini bikin anak susah bikin keputusan sendiri. Kalaupun akhirnya bikin keputusan sendiri, pasti banyak masa galaunya, dan ujung-ujungnya lari ke orang tua. Nanti tiba-tiba dapet kata-kata ‘I’ve told you…’ Sebenarnya bukan karena kata-kata orang tua itu benar mutlak, tapi anaknya yang nggak berani menjalani keputusannya, sehingga akhirnya balik lagi ke “saran” orang tuanya. Percaya deh, nggak ada yang salah dan benar yang mutlak di dunia, adanya gimana kita puter otak untuk nyari solusi waktu menjalani keputusan sendiri. Susah? Welcome to the reality!

Jadi, kenapa disebut momentary atau sementara? Karena yang namanya masalah itu nggak ada yang tanpa solusi. Pasti ada, tinggal kita berani jalanin apa nggak, karena solusinya bisa menakutkan bagi orang-orang yang susah ambil keputusan sendiri. Maka, kebingungan atau kegalauan macam apapun, pasti sifatnya sementara, dan bakalan hilang. Kalaupun ini datang, nggak usah langsung buru-buru pengen kabur. Lampiasin emosi dengan cara yang enak (misalkan ngelakuin hobi), kalau pikiran udah jernih, baru puter otak lagi nyari solusi. Kalau kata Metallica, and nothing else matters…

 

antara maya dan nyata