Fenomena Nyan Cat

 

 

Jangan ngaku kekinian kalau belum kenal Nyan Cat!!!

Well, sebenernya itu semboyan yang rada dipaksain. Aku juga kenal nyan cat gara-gara anakku, namanya Si Tombo. Awalnya, dia lagi seneng-senengnya main “Cat Simulator.” Itu game simulasi kucing ngehancurin rumah. Literally! Mudah-mudahan nggak bawa pengaruh buruk, tapi sejauh ini sih, nggak juga. Soalnya, kalau Tombo berantakin rumah, dia sendiri yang tanggung jawab beresin. Berantakinnya mungkin enak, tapi beresinnya kan nggak enak. Semoga itu artinya Tombo udah mulai bisa bikin keputusan sendiri.

Oke, balik ke Nyan Cat. Nyan Cat apaan, sih? Jujur deh, aku juga nggak paham banget. Pertama kali ketemu, Tombo lagi nyari Cat Simulator di PC. Berhubung sekarang yang tren adalah mobile computing, alias apa-apa pakenya HP, nggak nemulah permainan itu buat PC. Eh, malah ketemu Nyan Cat Simulator. Nyan Cat Simulator itu cuma kucing yang nggak tahu kenapa, badannya itu berbentuk pop tarts (semacam biskuit malkist dioles apa gitu, snacknya orang Barat kayaknya) dan dia ngeluarin pelangi dari ekornya. Sepupunya Tombo bilang ‘he’s farting rainbow‘ or something. Oh! *speechless abis*

Dan, yang agak menyebalkan nih, dia nyanyi “nyan, nyan, nyan” nggak putus-putus dengan suara cempreng anime Jepang dan lagu yang iramanya…er…gimana, ya? Aku nggak bisa nangkep dia pake melodi apa. Mungkin c-g-c-g (ngaco, ini ngaco!)

Si Nyan Cat ini nggak ngelakuin apa-apa selain terbang di luar angkasa, ngikutin kemana panah scroll kita. Kemanapun kita arahin panahnya, dia ngikut. Tombo suka itu! (???) Kalau dari rangsang visual emang cukup bagus buat anak-anak. Kepala dan kaki-kaki kucingnya abu-abu terang, warna badannya yang bentuk pop tarts itu pink dengan kotak-kotak pink tua, base biskuitnya cokelat, trus pelanginya (nanya Tombo yang hapal di luar kepala) warna red, orange, blue, and purple. Rangsang visual ini lumayan dianjurkan buat bayi sekitar 3 bulan yang udah mulai aware sama sekitarnya.

Oke, kupikir Tombo paling nggak lama bosen. Salah besar! Nggak cuma mainin di rumah, dia ngenalin Nyan Cat sama sepupu-sepupunya dan mereka, entah suka juga, atau karena pengen bikin Tombo seneng, nyetel juga di rumah mereka pas kita main ke sana. Tinggallah kakak ipar yang pusing denger lagu berirama c-g-c-g (sekali lagi, ini ngaco!) yang berantakan itu.

Yang jadi fenomena besar yang membingungkan adalah, begitu Tombo eksplorasi lebih lanjut tentang Nyan Cat, ternyata dia terkenal!!! (Kaget beneran) Bahkan, ada yang bikin Nyan Cat versi windows, alias logo windows diikutin sama ekor pelangi panjang sama nada-nadanya agak dimirip-miripin sama nada lagu windows pas starting di PC itu. Sampai ada versus grumpy cat-nya (nggak disaranin buat anak karena ternyata mengandung kata-kata kasar yang kotor dan nggak kefilter sama restricted mode di youtube karena modelnya emang kartun, jadi hati-hati juga, restricted mode nggak sepenuhnya berfungsi). Trus ada gitar cover sampai piano cover. Wow banget!

Karena sekali suka sesuatu, Tombo suka nyari-nyari terus, akhirnya dia juga nemuin aplikasi chatting sama Kyan Cat. Kalau kuambil kesimpulannya sih, dia ini semacam orang yang berbaik hati menjelaskan segala macem soal Nyan Cat, mirip-mirip Call Center. Tapi, aku rada nggak percaya itu resmi, masa sih?! Untuk sebuah Nyan Cat?! 😀

Seterusnya, anakku mulai chatting sama Kyan Cat. Untungnya sih, anakku mau cerita-cerita dan malah nunjukin isi chatting. (Sama sekali nggak nyambung chattingnya, sumpah!) Tapi, karena profesional, si Kyan Cat itu terus aja ngeladenin chat anakku, yang entah apa maksudnya. Pernah sekali aku disuruh sama Tombo untuk chatting sama si Kyan Cat, aku kasih tahu aja dia lagi chatting sama anak umur 5 tahun. Nggak ada respon sih, tapi kalau diperhatiin dia jadi lebih maklum. Karena pas pertama chatting dia sampe sempet bilang “Are you joking?” or something yang kayaknya dia sendiri bingung, ini lawan bicaranya ngomongin apa, sih.

Wah, aku nggak nyangka, untuk hal sesederhana Nyan Cat (awal gamenya kan dia cuma ngikutin panah scroll aja!) jadi bisa viral kayak gitu, menyebar kemana-mana dan jadi upgrade. Ini bukti kalau kita nggak boleh banget meremehkan sesuatu, ya!

 

Pokemon Go (ver.2)

pokemon go

 

Pokemon Go dan Perilaku Adiktif

 

Beginilah jadinya kalau kurang konsisten ngelakuin sesuatu. Tadinya pembahasan ini mau langsung diluncurkan persis habis artikel Pokemon Go (ver.1), eh malah jadinya sekarang. Tapi, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Walaupun cepat dan tepat itu slogan yang paling tepat untuk zaman sekarang ini.

Pokemon Go dalam waktu singkat (walaupun bangun game-nya sih, bertahun-tahun, tuh) ternyata bisa mencuri hati orang-orang. Nggak tanggung-tanggung, berkat teknologi informasi yang berkembang pesat juga, ini viral dari Indonesia sampai Amerika Serikat sana. Terbukti dari berbagai berita tentang Pokemon Go di Amerika. Kadang-kadang beritanya parah, tentang kecelakaan gara-gara ngejar monster Pokemon ^^;

Aneh, ya, orang bisa meninggal gara-gara main games? Tapi, ini bukan berita baru. Waktu dulu game-game RPG masih terbilang baru, banyak orang-orang yang terjebak jadi pecandu games. Beberapa dari mereka sampai tinggal berhari-hari di warnet. Hasilnya, ada yang meninggal karena kelelahan. Ya, iya, berapa banyak radiasi yang diterima tubuh mereka? Bagaimana pola makan dan pola tidur yang keganggu? Resep bagus buat orang yang mau bunuh diri pelan-pelan.

Kenapa sih, orang bisa kecanduan games?

Intinya, semua perilaku itu didasari 3 alasan, biologis, psikologis, dan sosial. Secara biologis, games itu bisa meningkatkan hormon endorfin karena tantangan menyenangkan yang disajikan sama si pembuat games. Trus, secara psikologis, kalau kita lagi stres, ya pasti kita ngelakuin hal-hal yang bisa meningkatkan si endorfin yang efektif bikin tenang itu. Ketiga, standarlah, karena kita mau tahu hal-hal yang kekinian, atau mau diterima secara sosial. Ngikutin yang kekinian kan, bisa bikin kita punya bahan buat ngobrol sama orang lain.

Namun, kenapa satu perilaku berlanjut, punya proses yang lebih kompleks. Normalnya, kalau tujuan kita tercapai, kita bakal menghentikan satu perilaku. Bukan secara total, tapi minimal kita nggak perlu meningkatkan intensitasnya. Jadi, kalau main Pokemon Go bisa ngilangin stres, waktu stres kita berkurang, ya kita balik ke aktivitas asal dan naro HP dulu sampai kita pengen main buat ngilangin stres lagi. Atau, cukup kalau Pokemon Go yang kita mainin bisa nambah bahan obrolan sama temen sekantor, ya kita bakalan main ala kadarnya. Nggak perlu sampai menambah-nambah intensitasnya.

Kalau yang terjadi kita malah lanjut dan terobsesi sampai nggak bisa lepas dari HP, itu artinya perilaku main gamesnya udah bahaya. Karena banyak yang jadi terabaikan, bahkan nyawa sendiri. Kan?

Games sebenernya salah satu cara orang untuk melakukan penyesuaian diri terhadap stres. Kenapa sih, ada stres? Stres itu datangnya dari kebutuhan kita untuk mempertahankan diri. Kenapa orang takut kehilangan kerja? Sejatinya, karena dia takut nggak punya uang buat makan dan mati kelaparan. Kenapa orang kesel kalau dinasehatin? Karena dia ngerasa nasehat sebagai serangan dan upaya untuk mematikan dia (dalam hal karakter nih, ya), akhirnya timbul insting untuk mempertahankan diri dan melawan serangan berupa “nasehat” itu. Sama dengan games, games itu adalah cara kita menyesuaikan diri terhadap stres, supaya kita tetap bisa “survive.” Baik fisiologis maupun psikologis.

Jadi, stres itu sehat. Aneh, ya? Stres itu sehat karena stres adalah salah satu alarm dari pikiran kita supaya kita tetap bisa hidup dan berkembang. Makanya, pola pikir yang menganggap stres itu jelek justru harus diubah. Seperti halnya emosi, stres itu harus ada supaya manusia bisa mendeteksi bahaya-bahaya di sekitarnya. Yang membedakan apakah stres bisa berdampak baik atau buruk adalah cara menghadapinya. Games mungkin efektif buat menyesuaikan diri terhadap stres, kalau games diperlakukan sebagai rekreasi. Rekreasi itu kan sifatnya sementara, jadi kalau udah selesai, kita balik ke kenyataan.

Nah, ini dia yang kadang-kadang kita tolak. Kenyataan itu berat. Norak dan klise banget sih, tapi ya, begitulah. Kenyataan itu adalah tempat dimana kita harus bertanggung jawab atas semua apa yang kita lakukan dan apa yang kita jalani. Artinya, games, yang menyediakan fantasi dan gambar-gambar menarik yang beda banget sama kenyataan, membuat kita lega, merasa bebas dari kenyataan. Efeknya, kembali ke kenyataan itu jadi susah. Ini yang membuat kita kecanduan. Nggak perlu sama games deh, apa aja juga bisa. Ada yang candu rokok, narkoba, bahkan hal-hal yang kita anggap sepele, seperti makan. Dan sekalipun makan adalah kebutuhan, kalau dia jadi candu, dia jadi sama buruknya dengan narkoba. Banyak kan, orang meninggal gara-gara obesitas? Ini salah satu contoh aja, ya.

Games juga sama aja. Menyenangkan di awal. Begitu jadi candu, dia bisa menghancurkan kehidupan kita. Nggak usah ngomong yang serem-serem kayak kecelakaan karena ceroboh, tapi kalau bisa ngebuat kita mengabaikan orang-orang di sekitar kita, jadinya gimana? Mau putus sama pacar gara-gara Pokemon? Kalau masih asik main Pokemon sih, emang nggak berasa, ya. Begitu udah bosen, kekiniannya ilang, baru deh, galau sendiri hehe. Bisa juga tugas-tugas, di sekolah, di kantor, di rumah, jadi terbengkalai, dan makin numpuk dan makin numpuk, makin stres, makin pengen main games biar nggak usah ngeliatin tugas, tugasnya jadi bejibun, makin stres, makin pengen main games, jadilah lingkaran setan yang nggak putus-putus. Akhirnya, bukannya stresnya ilang, malah nambah stres baru karena udah susah lepas dari games itu.

Proses ini berlaku sama dengan apapun, baik itu ngemil, rokok, narkoba, dkk. Mereka itu awalnya bukan candu, sampai kita yang menjadikan mereka candu. Menjadikan mereka kebutuhan yang susah digantikan dan ngerusak diri sendiri. Narkoba juga nggak pernah langsung jadi candu. Dia jadi candu dan bikin sakaw, kalau kita terus-terusan make itu. Jadi, kalau kita mau coba-coba, minimal kita udah tahu gimana cara membatasi intensitasnya dan menghadapi resiko apapun yang bisa timbul dari percobaan itu.

Yuk, main games buat rekreasi aja!

 

 

 

 

 

Bosan

Ini hal teraneh yang kualami. Bahkan, lebih aneh ketika mie keluar dari hidungku. Lebih menakutkan, jangan lupa.

“Aneh,” dia mengamatiku. “Kepala”-nya (aku rasa itu kepala?) meneleng ke kiri, ke kanan. “Kaki”-nya (aku tidak bisa benar-benar menggunakan kata ini dengan ikhlas, bentuknya terlalu mirip tangan) memutariku. Ke samping kiri, lalu ke samping kanan. “Kenapa kamu bentuknya abstrak gini?”

Kamu yang abstrak! Aku mau berteriak begitu, tapi kata-kata tertelan lagi. Didesak oleh ketakutan, insting untuk lari, bertahan dari peristiwa-peristiwa menyeramkan. Aku mau otakku bekerja, aku harus bagaimana? tapi ternyata dia pun lumpuh.

Matanya berputar di kepalanya, maksudku benar-benar berpusing cepat. “Jangan-jangan , kamu alien, ya?” Hanya intonasi suaranya yang membuatku sadar, bahwa dia sedang antusias, bukan ketakutan sepertiku.

Tunggu, ini mimpi, kan? Mimpiku sendiri. Dimana aku harus jadi pahlawannya. Dimana misteri jadi kenyataan dan yang nyata jadi pengganggu.

“Bukan. Aku tinggal di sini.”

“Nggak mungkin! Aku nggak pernah lihat benda kayak kamu!”

Benda? Dia terlalu keterlaluan! “Aku manusia!”

Mata itu tidak bercangkang, tapi aku tahu ia tengah memandangiku. Satu titik agak besar di dalamnya bergerak ke arahku. Mencitrakan dengan jelas wajahku sendiri, yang melebar, terkena permukaan cembung.

“Kalau iya, di mana rumah kamu?” nada suaranya menantang. Aku sedikit bersyukur bahwa ada hal-hal yang tak berubah. Suara, bahasa, lingkungan ini, setidaknya aku jadi tidak terlalu asing.

Mendengus kesal, dia sepertinya sombong, aku berbalik, menuju arah rumahku. Tempat dimana aku keluar dari lubang aneh dan justru keluar di pekaranganku sendiri. Satu rumah terlewati. Ini rumah tetanggaku, pasangan suami-istri beranak dua yang ramah, kemana mereka? Dua rumah, rumah yang ini, seorang kakek-nenek, yang terlalu sering dititipi dua cucunya. Rumah ini pun tampak sepi. Akhirnya aku berhenti.

Benda…, aku mengoreksi dalam hati, makhluk seperti manusia abstrak di belakangku mengikuti. Kaki (tangan) nya mengikuti. Aku menunjuk ke arah rumah ini.

Titik bulat di matanya bergerak ke atas, mengamati rumah yang memang menjulang agak tinggi daripada kami berdua. Kalau tidak, aku tidak akan bisa masuk, kan?

Dia terkikik. Setidaknya itu yang kupikir, karena suara itu aneh dan ganjil, membuatku merinding. Melengking dan terputus berdetak-detak, sama sekali berbeda seperti suara saat dia berbicara. Lalu, lengkingan itu berubah menjadi suara tawa, tapi tidak mengandung kegembiraan, malah seperti dengungan yang keji.

Dia tertawa, terus tertawa.(bersambung)

 

Catatan penulis :

16 days ago?! Udah selama itu aku nganggurin tulisan ini?

dan tulisan dadakan ini pun semakin aneh… 😀

Anak Bilingual dan Efek-efeknya

 

Bilingual_Kids_800x600
Gambar diambil dari : http://www.juanofwords.com

Tahu kan, anak-anak yang bisa bicara bahasa asing dan bahasa ibunya sekaligus? Kalau yang paling umumnya, anak-anak yang bisa Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (karena kita di Indonesia, ya, dan Bahasa Inggris itu kebetulan bahasa internasional). Ada ibu-ibu yang berpendapat, termasuk aku, sih, kalau anak itu bisa dididik untuk belajar dua bahasa sekaligus sejak dini.

Dari awal, aku agak kebingungan soal ini, karena persoalan ini bisa dibilang kontroversial banget di antara banyak ahli. Ahli aja gitu, apalagi pendapat-pendapat umum. Soalnya, kalau diperkenalkan langsung dua-duanya, itu bisa menimbulkan kebingungan pada anak dan memperlambat perkembangan bahasa. Ada juga yang berpendapat kalau anak bilingual juga bisa terhambat perkembangan sosialnya. Dua efek ini aku masih ngerasa wajar.

Tapi, satu saat aku dikagetkan dengan pendapat kalau anak bilingual juga perkembangan emosinya terhambat. Lah, kok gitu? Kenapa aku kaget, karena bahasa itu sifatnya teknikal, sesuatu yang dipelajari. Pas aku baca-baca artikel juga, perkembangan bahasa itu letaknya di otak hemisfer kiri, yang mengatur kerja-kerja intelektual, dan berseberangan dengan otak yang mengatur emosi, yaitu di hemisfer kanan.

Karena kedua otak ini bekerja timbal-balik, aku paham kalau perkembangan emosi terhambat karena ada hambatan di perkembangan bahasa dan sosial. Tapi, kalau ini masalahnya, berarti kalau ditelusuri pake hukum sebab-akibat, penyebabnya adalah perkembangan bahasa dan sosial, sedangkan akibatnya perkembangan emosi. Gitu, kan, simpelnya? Berarti, yang ditekankan tetap penanganan dalam perkembangan bahasa dan sosial, karena perkembangan emosi nantinya bakalan ikut-ikutan juga. Analoginya, kalau emanglah kita kesel gara-gara lagi laper, ya lapernya aja yang diurusin dengan cara makan, nanti juga emosinya bener lagi. Kalau emosinya kita urus, malah jadi lingkaran setan, karena penyebab dasarnya masih mengganggu kita.

Selidik punya selidik, akhirnya ketahuan (walaupun sedikit dan kurang banyak) kalau si ortu anak itu support anaknya kuliah di luar ok, les apapun ok. Kuliah, les, itu kan hal-hal yang lebih banyak kaitannya dengan perkembangan intelektual. Di sini aku mulai nyambung. Berarti ortunya emang lebih fokus ke perkembangan kognisi anaknya.

Masalahnya, pendidikan itu sebenarnya bertumpu sama 3 faktor, kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi itu perkembangan intelektual, kayak pengetahuan-pengetahuan teknis. Kalau afeksi itu menekankan pada sisi emosi, perasaan, dimana anak belajar untuk peduli dan berempati sama orang lain. Terakhir, konasi, yaitu motivasi atau penggerak perilaku anak. Nah, biasanya sih, teori ini digunakan sama sekolah. Tapi, kita sekarang mulai belajar kalau pendidikan itu kebanyakan ya, di ortu. Bahkan, kalau pendidikan di rumah emang kuat, pendidikan sekolah bisa nggak nyentuh anak. Kasarnya sih, gitu.

Artinya, ortu juga perlu terlibat dalam setiap pendidikan anak, nggak bisa nyerahin ke guru aja. Apalagi, kalau di sekolahan itu kan, KBM sifatnya kolektif, 1 guru ngajar 20 anak, malah ada yang sampe 30-40 anak. Kalau di sekolah swasta yang katanya bagus, biasanya ada guru pendamping. Kalau sekolah negeri, setahuku jarang. Aku nggak tahu kalau ada sekolah negeri yang mulai nerapin.

Aku juga menyebutkan dua efek lain dari bilingual. Yaitu, perkembangan bicara dan penyesuaian sosial.

Pertama, perkembangan bicara. Bener nggak, terhambat? Ada yang bilang kalau anak bilingual itu terhambat perkembangan bicaranya. Dia kebingungan menentukan bahasa apa yang harus digunakan dan kadang-kadang suka salah artikulasi. Karena pengucapan alfabet Inggris dan Indonesia beda.

Ternyata, penelitian soal ini nggak banyak terbukti. Anakku sendiri perkembangannya dalam membentuk kalimat emang telat, tapi artikulasinya normal. Dan setelah diselidikin sih, dia emang karakter yang nggak terlalu suka ngobrol. Apalagi, dia anak benefit, motivasi dia itu dateng dari manfaat apa yang bisa dia dapet, jadilah kalau dia belum butuh ngomong, dia nggak ngomong (buat catatan aja nih, ada satu lagi anak yang motivasinya berasal dari ngindarin resiko, mungkin satu waktu aku bahas). Waktu umur 4-5 tahun, perkembangan bicaranya langsung pesat. Bahasa Inggrisnya, yang tadinya ngelantur-ngelantur nggak jelas tiba-tiba jadi jelas banget. Kenapa? Karena dia punya dua sepupu dekat yang bilingual dan dia jadi punya kebutuhan untuk ngobrol sama mereka.

Kasus di anakku, emang suka ada salah artikulasi, seperti A dalam Bahasa Inggris, kebalik-balik sama ‘E’ dalam Bahasa Indonesia, tapi cuma sebentar. Ya, wajar salah, masih belajar.

Kedua, penyesuaian sosial. Seperti yang disebutin di atas, wajar kalau rada susah buat anak bergaul dengan anak-anak lain yang monolingual. Apalagi, ada budaya yang nganggep orang yang bilingual itu sombong. Lah ya, sombong, kalau lagi di tengah-tengah pergaulan biasa, ada orang cas-cis-cus pake bahasa asing yang nggak dimengerti sama temen-temennya, apa gunanya, coba? Bahasa itu kan, fungsinya buat interaksi sosial.

Di artikel kompas.com, menurut peneliti utama studi bilingual, Julia Morales Castillo, dari Departemen Psikologi Eksperimental di Universitas Granada, “studi-studi lain telah menunjukkan bahwa anak-anak bilingual lebih baik dalam perencanaan dan kontrol kognitif (yaitu tugas mengabaikan informasi yang tidak relevan atau membutuhkan respon yang dominan). Artinya, dia bakalan lebih baik dalam memilah-milah gimana cara bicara ke orang-orang yang beda-beda. Dan emang, anakku nggak punya masalah soal itu. Dia tahu dengan siapa harus ngomong bahasa asing dan dengan siapa dia harus ngomong bahasa ibu, jadi waktu dia main sama temennya, nggak ada masalah soal ini.

Ya, perkembangan sosial Tombo emang terhambat karena dia ngikutin sifat emaknya, yang kurang suka bersosialisasi, sih. (Nangis sambil ketawa)

Ketiga, perkembangan emosi. Udah sedikit dijelasin di atas tentang kenapa sisi afeksi anak bisa terhambat. Ternyata, bukan bilingualnya, tapi pola asuh orang tuanya yang fokus banget sama kognisi. Aku kurang setuju sama istilah ini, jadi mari kita pake kata perkembangan afeksi, karena setelah dapet deskripsi dari pendapat tentang perkembangan emosi anak bilingual, ternyata bukan soal energi dari emosi yang dihasilkan, tapi afeksi terhadap orang lain.

Pendapat ini didasarkan pada kearifan lokal Indonesia, artinya budaya. Aku setuju kalau bahasa itu adalah budaya. Jadi, saat kita ngajarin Bahasa Inggris, budaya orang Barat pasti kebawa. Misalnya, Tombo itu sekarang suka beraku-kamu sama neneknya, which is, itu dianggap nggak sopan banget sama orang tua-orang tua zaman dulu. Tapi, ini bisa disiasati, lagi-lagi balik ke pola asuh orang tuanya. Bukannya mustahil kok, kita ajarkan kearifan lokal lewat bahasa asing. Kita cuma perlu tanamkan dan yang paling penting, teladani itu ke anak. Alias kita juga praktekkan kearifan lokal itu, biar dia belajar sosial, alias niru kita. Jangan pernah berharap anak bakalan ngelakuin kalau kita cuma ngomong, tapi kita nggak pernah nunjukin itu ke mereka.

Misalkan, efek “nggak sopan” ke kakek-nenek itu, tinggal suruh aja dia berbahasa Indonesia, karena kalau Bahasa Inggris, emang rata ya, ngomong ke orang kedua, ya pake you atau kamu. Dengan begini, fungsi utama linguistik untuk berinteraksi secara sosial, tetap terjaga dan bukan buat gaya-gaya.

Trus, kenapa bilingual, dong?

Ya, siapa yang mengharuskan? Kalau emang nggak mau, ya nggak apa-apa, karena tujuan orang tua beda-beda. Ada yang karena emang orang tuanya dua kebangsaan atau tinggal di luar negeri. Ada juga yang emang pengen anaknya lebih siap dengan era dimana semua-muanya pake Bahasa Inggris. Yang penting, tetap ingat kalau pendidikan anak harus terintegrasi, kognisi-afeksi-konasi. Trus, jangan lupakan tiga jenis kecerdasan; intelektual, emosi, dan spiritual.

Dan satu lagi yang terpenting, jangan pake metode maksa-maksa. Misal, maksa les (kecuali kalau anaknya seneng) demi anak bisa bilingual. Cukup paparkan aja pelan-pelan tiap hari dan selebihnya, ikhlas aja kalau anak ngerasa nggak butuh bilingual. Anak kecil pun bisa stres, lho…

 

Sumber :

http://female.kompas.com/read/2013/11/25/1738403/Kemampuan.Mengingat.Anak.Bilingual.Lebih.Baik

Momentary Confusion

 

 

Lagak banget ya, pake Bahasa Inggris? Masalahnya, kalau diindonesiain rasanya kurang mendalam maknanya. Kebingungan sementara. Kalau konteksnya begitu kan, bisa diartiin kita bingung antara mau beli barang A atau barang B. Sementara, momentary confusion itu istilah kekiniannya adalah kegalauan mendalam yang sifatnya sementara. Ini definisi operasional lho, definisi yang dipilih oleh penulis sendiri, hehe.

Kalau mau dijabarkan lebih dalam, momentary confusion itu intinya saat-saat kita nggak yakin dengan hidup kita, dengan pilihan kita, dan nggak yakin kemana akhir dari perjalanan hidup yang kita jalani. Walaupun efeknya bisa besar, sebenarnya hal Ini biasa banget, kayak pebisnis yang lagi mengalami masa sulit dengan bisnisnya, dan merasa bahwa ia telah mengambil keputusan yang salah. Detik-detik mau menikah, dan calon pengantin tiba-tiba ragu sama pasangannya dan kehidupan pernikahannya nanti. Dan banyak lainnya.

Itu yang kusebut dengan momentary confusion.

Penyebabnya apa, sih? Beberapa orang bilang jenuh. Bisa jadi, karena dalam setiap kasus psikologi, kemungkinannya bisa banyak. Kita bicara tentang manusia yang kompleks banget, jadi penyebabnya pasti juga kompleks. Mungkin yang baca mikir, buat apa dicari penyebabnya? Kenapa nggak dicari solusinya? Nah, itu berhubungan. Kalau kita tahu penyebabnya, kita bisa milih solusi paling baik. Jadi, cari penyebab ya, bukan cari kambing hitam yang malah bikin kita stuck sama masa lalu. Cari kambing hitam itu yang nggak berguna.

  1. Kurang bertanggung jawab

Di budaya Timur Indonesia, sekarang sih, mulai membaik dengan menyebarnya ilmu parenting ya, tapi banyak anak-anak kurang diajarkan untuk tanggung jawab. Emang sih, orang tua sering nyuruh-nyuruh anaknya ini-itu, supaya mereka belajar, tapi yang kurang banget adalah dipercaya untuk memegang satu tanggung jawab. Misalnya, bersihin kamar. Orang tua harus berisik dulu, baru anaknya bersihin kamar. Artinya, tanggung jawab masih dipegang orang tua, dan anak nggak belajar untuk berinisiatif sendiri. Akibatnya, waktu mereka buat keputusan, mereka suka takut ngadepin tanggung jawabnya.

Buat orang tua, ini gampang-gampang susah. Kasih satu tanggung jawab dan lepasin mereka untuk menyelesaikan tanggung jawab dengan cara mereka sendiri. Dan kalau nggak dikerjain, dari awal, sebelum dikasih tanggung jawab itu, buat aturan yang jelas kalau nggak dikerjain. Lalu, tutup mulut dan jangan ikut campur lagi, selama tanggung jawab itu beres atau anak lebih milih nerima konsekuensi dan nggak ngerjain tanggung jawab. Nah, ini yang masih susaaaah banget buat orang tua. Iya, kan? Tapi, kalau anak udah belajar tanggung jawab, kita orang tua bisa leha-leha deh, nikmati hasilnya, suatu saat nanti (jangan lupa ngedidik anak nggak berbatas waktu).

  1. Nggak pikir panjang, apalagi mendetail

Pernah nggak sih, kita lihat banyak orang buru-buru memutuskan sesuatu? Contoh simpel, nikah dan punya anak. Kalau di luar negeri, kita bisa lihat banyak orang yang nunda nikah dan punya anak sampe tua. Jadi, begitu anaknya gede, mereka udah tua banget. Alasannya, karena mereka dalam mengambil keputusan sebesar itu, mereka mikir-mikir panjang banget dulu. Entah itu finansial, entah itu kesiapan mental, dkk. Lagi-lagi, karena mereka lebih paham tanggung jawab. Mereka itu bisa dibilang ‘terpaksa’ keluar waktu lulus SMA, jadi mereka udah belajar dari awal untuk mengurus dan bertanggung jawab atas diri mereka sendiri dari usia akhir masa remaja.

Nah, kalau di Indonesia, jangankan mikir-mikir. Malah, sekarang lagi ada yang mempropagandakan ‘ayo nikah’ which is, menggelikan buatku. Nikah itu ibadah, slogan itu oke, untuk menjelaskan kalau sebaiknya kita nikah atas nama Tuhan. Bukan berarti dikit-dikit pengen nikah, punya duit dikit pengen nikah (well, kayaknya aku juga harus sedikit introspeksi di sini hihi). Kan masalah itu bukan cuma finansial, bisa juga kesiapan mental-emosional-spirituil, yang kayaknya justru jauh lebih kurang dipersiapin sama kita. Apalagi, ditambah lagi, keyakinan kalau nggak boleh KB, trus tinggal di Jakarta pula, yang menderita ya, anak. Kenapa juga kalau mau begitu nggak pindah ke tempat yang lebih jarang penduduk, sih? Bahkan, lahan kuburan aja udah susah lho, di Jakarta. Nanti kalau mayat-mayat dibuang ke tempat nggak layak, juga nggak mau, karena kuburan dianggap keramat (seberapa keramat sih, jasad yang udah busuk? Paling kenangannya yang berharga, bukan kuburannya). Serba susah, kan?

Itu baru satu persoalan lho, yaitu nikah. Gimana dengan yang lain, dengan yang lebih besar, kayak perkembangan kota-kota mandiri, yang kebanyakan, walau nggak semuanya, yang nggak mikir soal tata kota. Lebih ribet dan lebih luas lagi dampaknya.

  1. Dukungan sosial yang berlebihan

Aneh nggak, sih? Padahal mah, dukungan sosial itu emang perlu ada. Masalahnya, kadang-kadang dukungan sosial itu suka lebay (baca : berlebihan) yang akibatnya, malah bukan lagi berupa upaya tolong-menolong, tapi malah saling ketergantungan. Kalau perkembangan psikososial mau matang, hal pertama yang harus dilepaskan oleh anak itu adalah ketergantungan pada orang tua. Nah, di Indonesia, kekerabatan itu sangat dekat, kadang-kadang membuat anak susah lepas dari orang tua.

Ini juga racun yang ditinggalkan warisan budaya. Orang tua harus bantu anaknya, bahkan saat anaknya udah gede. Kita itu perlu tahu, setiap manusia itu punya insting primitif (walaupun nggak diajarin) untuk bertahan hidup. Jadi, separah apapun situasinya, selama di tempat dia tinggal itu masih ada makanan, minuman, oksigen, mereka bakalan hidup. Jangankan orang dewasa, anak-anak juga bisa aja kok, bertahan hidup, kalau cuma soal fisik, ya. Yang perlu diajarin dan diarahkan orang dewasa itu adalah kehidupan bersosialisasi dan pembangunan karakternya.

Jadi, orang tua nggak perlu khawatir anaknya bakalan mati kalau nggak dibantuin. Anak susah? Ya, orang mesti menghadapi kesulitan untuk jadi dewasa. Kalau anak bilang nggak bisa dikit, jangan langsung turun tangan buat bantuin, ini bikin anak nggak mandiri dan selalu cemas kalo nggak ditemenin sama orang lain (bahaya kalo udah remaja, apa-apa mesti ada temen atau malah, pacar. Kalau pacar abusive, bisa aja dia cuek, yang penting punya orang di sampingnya. Ih, serem!) Buat para orang tua : nggaaak, nggak jahat kok, untuk mengajarkan anak berdiri di atas kakinya sendiri. Apalagi kalau emang niatnya ikhlas pengen ngedidik anak, yang penting tahu batasnya. Kalau udah bahaya, baru ditolong. Masa anak mau ditabrak bis, kita masih tenang-tenang aja? Ini analogi simpelnya.

Ketergantungan ini bikin anak susah bikin keputusan sendiri. Kalaupun akhirnya bikin keputusan sendiri, pasti banyak masa galaunya, dan ujung-ujungnya lari ke orang tua. Nanti tiba-tiba dapet kata-kata ‘I’ve told you…’ Sebenarnya bukan karena kata-kata orang tua itu benar mutlak, tapi anaknya yang nggak berani menjalani keputusannya, sehingga akhirnya balik lagi ke “saran” orang tuanya. Percaya deh, nggak ada yang salah dan benar yang mutlak di dunia, adanya gimana kita puter otak untuk nyari solusi waktu menjalani keputusan sendiri. Susah? Welcome to the reality!

Jadi, kenapa disebut momentary atau sementara? Karena yang namanya masalah itu nggak ada yang tanpa solusi. Pasti ada, tinggal kita berani jalanin apa nggak, karena solusinya bisa menakutkan bagi orang-orang yang susah ambil keputusan sendiri. Maka, kebingungan atau kegalauan macam apapun, pasti sifatnya sementara, dan bakalan hilang. Kalaupun ini datang, nggak usah langsung buru-buru pengen kabur. Lampiasin emosi dengan cara yang enak (misalkan ngelakuin hobi), kalau pikiran udah jernih, baru puter otak lagi nyari solusi. Kalau kata Metallica, and nothing else matters…

 

Sosialisasi dalam Sekolah Konvensional

socialization
gambar diambil dari : http://www.unschooler.org

 

Lagi-lagi terinspirasi dari diskusi tentang Homeschooling dan Sekolah Konvensional.

Jadi, beberapa waktu lalu, ada teman yang posting tulisan di Facebook, tentang Homeschooling. Pernyataannya secara garis besar bilang bahwa anak HS (HomeSchooling) itu maju dalam intelektualitas, tapi kurang dalam kemampuan sosial.

Jadi, ini ada satu fun fact. Dijalani oleh nggak lain dan nggak bukan oleh aku sendiri.

Aku sendiri adalah salah satu anggota sekolah konvensional. Dari umur 5 tahun, malah, aku udah masuk SD. Karena terpaksa waktu itu sih, bukan karena anak accel yang super pinter hehe. Nah, seperti biasa, aku menjalani pendidikan formal wajib, dari SD sampai SMP sampai SMA. Totalnya jadi 12 tahun. Selama itu, aku belajar bersama dengan anak-anak lain, bahkan bisa sampai 40 anak sekaligus.

Wajarnya, aku pasti bersosialisasi, membangun clique dan gang, punya banyak teman, karena pilihannya ada banyak dan tiap hari aku ketemu mereka, minimal selama setahun. Faktanya? Minim, kalau nol keterlaluan. Aku bukan orang yang supel dan gampang bersosialisasi. Mau ketemu setahun atau tiga tahun sekaligus, susah buatku membangun kedekatan sama orang lain. Waktu SD minimal aku punya clique sendiri, anggotanya tiga orang, yang bubar begitu SD selesai, aku nggak tahu kabar mereka sampai sekarang. SMP cuma temenan sama temen sebangku, yang menghilang juga pas pindah kelas, pas kelas dua sama sekali nggak punya temen, malah. Dan waktu SMA lumayan bisa ngobrol. Itupun dengan tekad personal kalau aku nggak mau mengulang kesalahan waktu SMP yang menyedihkan. Total teman selama 12 tahun: sekitar 9-10 orang aja. Yang masih kontakan sampai sekarang, lebih dikit lagi.

Hasilnya, aku tetap anak yang rigid dan timid, ngobrol juga seadanya, punya teman yang bener-bener deket paling 2-3 orang. Kalau dihitung-hitung nih, 40×12=480. Singkatnya, aku cuma bisa bersosialisasi secara utuh sebesar 2,08% (pake kalkulator ini, harap dicatat!) selama 12 tahun. Dengan kesempatan sebesar itu, setahun 40 orang! Setahun lamanya aku bisa bersosialisasi!

Mungkin aku cuma pengecualian yang jadi minoritas. Tapi, ini salah satu bukti kalau sekolah itu nggak menjamin terbangunnya kemampuan sosial yang baik. Bagi orang-orang yang berbeda, kayak aku waktu dulu, mereka nggak bisa menyesuaikan diri karena keburu dipandang aneh, bahkan bisa dianggap salah. Lah, ini menurunkan tingkat kepercayaan diri, yang jelas-jelas memundurkan perkembangan penyesuaian sosial.

Kenapa kok, bisa dipandang aneh?

Kesalahan terbesar dari sekolah konvensional adalah mereka mencoba menyeragamkan pola pikir dan pola perilaku. Anak yang baik adalah anak yang patuh dan kalem. Kalau anak-anak aktif, yang pasti lebih sulit diatur, dianggap nakal, dsb. Akibatnya, semua harus seragam, dari pakaian-sepatu, sampai perilaku yang diharapkan. Sekarang bisa dilihat akibatnya, orang-orang yang nggak bisa menerima perbedaan, yang takut akan perbedaan, dan malah sangat defensif, menolak keras adanya perbedaan. Diskusi bisa berubah jadi debat kusir hanya karena nggak suka sama orang yang punya pandangan berbeda. Dan begitu mudahnya diprovokasi, dengan mengatasnamakan perbedaan yang dianggap berbahaya.

Solusi untuk ini, jadikan sekolah itu ideal dengan perbedaan masing-masing anak. Menurutku, hampir mustahil, tapi seenggak-enggaknya seideal yang memungkinkanlah. Untuk itu, butuh tenaga-tenaga pengajar yang benar-benar dewasa (bukan cuma orang yang usianya nominalnya gede), terintegrasi dengan yayasan sekolah yang nggak mikir duit mulu, serta orang tua yang bisa dan mau bersinergi dan kerja sama dengan guru dalam membimbing karakter anak. Itupun kesulitannya adalah berkompromi antar semua kepentingan masing-masing. Politik banget, kan?

Sekolah konvensional itu bukan pengaruh buruk, tapi seperti satu alat atau media, situasi di sekolah itu butuh bimbingan orang tua. Jadi, yang salah bukan sekolah, tapi kalau orang tua lepas tangan membiarkan anak sekolah tanpa bimbingan. Tetap, tumpuan terbesar pendidikan anak usia dini, itu orang tuanya. Orang tua menganggap anak udah beres di sekolah, trus santai-santai aja di rumah, ya wassalam. Anak bisa jadi konformis atau istilahnya follower tanpa syarat. Ingat kan, kalau aturan di sekolah itu saklek dan bersifat memaksa? Gimana anak-anak dipaksa patuh dengan berbagai macam reward dan hukuman, bahkan labeling? Istilahnya, sekolah itu otoriter. Dan anak tanpa bimbingan, akan mengikuti aja mentah-mentah apa yang diajarkan sekolah.

Perlu diingat, perilaku konformis itu jauh lebih merusak daripada anak-anak yang “nggak tahu aturan” menurut orang-orang dewasa itu. Kalau dia mengikuti perilaku baik pun, dia nggak bakalan tahu kenapa dia harus begitu, dan nggak akan jadi prinsip yang bertahan di masa-masa selanjutnya. Dan sewaktu-waktu, anak ini akan ketemu dengan orang-orang yang nggak sejalan, dan apa jadinya kalau cuma bisa konformis? Dia akan ngikut aja, nggak peduli perilaku itu akan merusak atau menguntungkan.

Nah, sekarang coba perhatikan baik-baik, anak kita itu sosialis (wah serem bahasanya, ya, haha) atau konformis? Konformis itu bukan orang yang pinter bersosialisasi lho, dia cuma ikut arus tanpa mikir-mikir demi menyenangkan teman sebaya. Malah nggak sehat untuk hubungan sosialisasi sendiri, karena nggak terbangun interaksi timbal-balik, dimana ada pola saling menghargai, menghormati, dan menyayangi. Cuma ada hubungan boss sama anak buah.

Jadi, sekolah konvensional bukan tempat paling tepat untuk sosialisasi, tapi bukan nggak mungkin sosialisasi yang sehat di sekolah konvensional. Orang tua harus siap fasilitasi anak. Entah itu sebagai tempat diskusi, curhat, dan solving-problem. Asal orang tua jangan kebanyakan ikut campur juga! Kalau bingung dengan pola yang berlawanan ini, silakan didalami ilmu parentingnya!

Don’t think smart, think wise!

 

Saat Inspirasi Hilang

abstrak-inspirasi
gambar diambil dari : blogmotivasi.xyz

 

Inspirasi. Ini kata yang penting, vital, buat semua penulis. Karena inilah letak dari kehidupan seorang penulis. Atau orang-orang yang bergerak di bidang seni lainnya. Entah seni musik atau seni lukis atau yang lainnya. Begitu inspirasi hilang, hilang semua intisari kehidupannya. Bernapas bagai orang asma, sesak, sekalipun ingin sekali bernapas dan tentunya, sangat membutuhkannya.

Kemana inspirasi pergi?

Beberapa pengalamanku sendiri mengatakan kalau bukan inspirasi dan ide-ide yang menguap dari kepala, tapi perasaan si penulis yang berubah. Perasaan kita sebenarnya menggerakkan dunia ide. Aneh? Begitulah, dengan pola kerja yang berlawanan, tapi bisa saling menyeimbangkan, logika dan emosi itu.

Apa ini berlaku buat semua orang? Aku nggak mau bicara seakan-akan aku orang paling tahu tentang ini, tapi ya, aku hampir pasti soal ini. Kita tahu kerja hormon, dirangsang oleh sistem syaraf pusat yang mendapat rangsang reseptor dari luar, tapi juga sebaliknya merangsang emosi. Misal, hormon endorfin yang keluar saat kita merasa senang, dan sebaliknya produksinya membuat kita juga merasa senang dan tenang. Atau hormon oksitosin yang disebut-sebut sebagai hormon cinta itu. Ini salah satu bukti kalau pikiran dipengaruhi dan mempengaruhi perasaan.

Nah, kalau kita udah tahu masalahnya, masalah kehilangan inspirasi ini pasti lebih mudah untuk diselesaikan. Apa yang membuat mood atau suasana hati kita berubah? Jadi sedih, kesal, atau muram? Masing-masing punya caranya. Masing-masing orang punya penyelesaian atas emosi-emosi ini. Begitu selesai, inspirasi bakalan datang lagi.

Gimana dengan kita yang merasa mood baik-baik aja, tapi dunia ide tampak tidak mau bekerja sama? Adakalanya kita suka nggak jujur ke diri sendiri, bisa jadi denial terhadap masalah atau malah merepresnya, jadi kita nggak perlu menghadapinya langsung. Karena itu, penting buat kita untuk diam sejenak, memikirkan banyak hal tentang diri kita, tentu saja biarkan diri jujur. Hadapi setiap kemungkinan, walaupun kemungkinan yang paling kita nggak suka.

Alasan mood berubah juga beragam, lho. Jangan lantas berpikir kalau yang membuat mood berubah karena inget mantan aja,ya. Atau ingat jati diri yang lagi jomblo hehe. Bisa karena hal sesederhana, seperti letih seharian beraktivitas atau suasana di lingkungan sekitar kita. Termasuk hal-hal sepele, seperti suhu, kebisingan, dan lain-lain.

Karena itu, kalau inspirasi hilang, cari akar penyebabnya dan mudah-mudahan inspirasi bisa kembali berteman dengan dunia ide kita.

Ayo tetap berkarya!

 

Pokemon Go (ver.1)

Pokemon Go dan Hasutan Kekinian

 

pokemon go
Gambar diambil dari : http://www.youtube.com

 

Jadi, yang lagi kekinian adalah Pokemon Go. Aku sendiri belum pernah main games satu itu, tapi dari berbagai cerita, lebih utama dari berita-berita, aku sedikit tahu tentang konsep permainannya. Ada yang dulu pernah nonton Pokemon? Sebenarnya film itu cukup viral (bukan di internet seperti sekarang, karena waktu itu internet belum masuk ke Indonesia). Aku kurang inget, tapi menurut wikipedia, keluar sekitar tahun 1999.

Kurang-lebih tentang para tokoh yang mengumpulkan berbagai pokemon, makhluk-makhluk lucu yang bisa bertarung dan mempunyai kekuatannya sendiri-sendiri. Di film itu, para tokoh utama harus mengadu pokemon-pokemon mereka, dan semacamnya. Dan cara menangkap dan berburu pokemon adalah dengan melempar poke ball, sehingga makhluk-makhluk itu akan langsung terkurung di poke ball. Ini berdasarkan ingatan aja, jadi kalo ada yang salah -dan pastinya infonya sangat kurang- maka, tolong dibetulkan.

Nah, kurang-lebih begitu permainannya. Namun, yang unik dari permainan ini adalah, para pokemon itu terdeteksi di sekitar kita. Istilah teknisnya, ini permainan berdasar augmented reality. Kalau dari terminologi, simpelnya itu realitas tertambah. Panjangnya, augmented reality itu penggabungan benda-benda maya, dua atau tiga dimensi, dengan lingkungan yang nyata dan diproyeksikan dalam waktu yang nyata. Dengan kata lain, kalau kita lagi jalan di trotoar, trus kita main pokemon go ini, kita bakal liat pemandangan persis trotoar di depan kita, tapi ada tambahan-tambahan dari game-nya, kayak makhluk-makhluk maya pokemon, kalau emang ada.

Hebatnya, aku baru tahu kalau game ini ternyata dibangun dari beberapa tahun lalu dengan menggunakan geocached data yang diintegrasikan dari google maps. Berarti, pembuatnya main-main sama satelit lama banget sebelum kita bisa mainin Pokemon Go sekarang ini. Terbayar, sih. Dari ujung Amrik sana, sampai ke Indonesia Raya ini, semuanya main Pokemon Go. Gila banget viralnya.

Yang lucu sih, gimana orang-orang bisa segitu addict sama game ini. Seru, emang. Dan sebagai penyuka -belum jatuh ke tahap pecinta- game, aku juga paham gimana game punya sifat adiktif. Macam narkobalah, bahkan psikologis bisa kena, tuh. Mulai bermunculan berita-berita kecelakaan gara-gara main game ini. Menggantikan berita-berita kecelakaan gara-gara selfie beberapa waktu lalu. Psst, bagusnya game ini sih, mengurangi intensitas selfie, haha…

Tapi, jauh lebih lucu lagi pecinta teori konspirasi. Teori konspirasi dari sejak zaman baheula emang suka banget memproklamirkan yang nggak-nggak. Yah, kalau mau sedikit diperhalus, teori tanpa bukti. Dulu, aku inget banget soal teori tentang Teletubbies yang sebenarnya sedang mempropagandakan LGBT. Katanya, simbol-simbol di atas kepala mereka itu adalah simbol LGBT dan seks atau semacamnya. Lah, emangnya anak-anak paham simbol-simbol itu? Apa fungsinya kalau penyampaiannya nggak tepat? Well, intinya sih, aku belum lihat pembuktian teori itu sampai sekarang. Teori tinggal teori.

Sekarang, hasutan itu makin menjadi, karena internet bukan lagi barang langka, semua orang tampaknya, dari bayi sampe kakek-nenek, dari kampung sampai kota, udah kenal sama internet. Jadilah, teori itu gampang menyebar di kalangan orang-orang yang hobi sama internet (yap, termasuk aku!).

Balik ke soal Pokemon Go, ternyata muncul pula teori-teori konspirasinya sendiri. Katanya, Pokemon Go itu adalah salah satu alat yang digunakan untuk modus operandi dari intelijen untuk memata-matai satu negara. Negara mana? Mereka pikir sih, Indonesia. OMG, nggak perlu Pokemon Go juga udah dimata-matai kaliii, dan intel Indonesia pasti punya pos juga di luar negeri sana. Walaupun aku nggak terlalu paham juga deh, cara kerja mereka. Namanya bukan intel kan, ya.

Sekarang coba deh, logis dikit. Kalau Pokemon Go itu operasi intelijen yang disamarkan (ya, mana ada intel buka-bukaan, sih, penuliiis) jadi game, tujuannya apa? Target operandinya siapa? Lah wong, itu game menyebar ke seluruh negara di atas muka bumi ini. Trus, game itu kan terintegrasi sama google maps. Artinya, data-data realitas yang muncul di game itu, ya udah ditangkep sama satelit google. Buat apa lagi, intel bikin game buat itu? Singkatnya, targetnya nggak jelas, efektivitasnya rendah, dan buang-buang biaya mereka.

Di tulisan yang kubaca sih, mereka bener-bener hebat melogikakan soal modus operandinya, tapi tetep nggak ada analisa soal efektivitasnya. Sebenernya, teori konspirasi paling tepat mungkin pembuat game-nya emang pengen memusnahkan manusia dari atas muka bumi, karena jadi banyak kecelakaan sejak main Pokemon Go! (Ups! Hati-hati pernyataan ini jadi viral dan digunakan jadi teori konspirasi yang lain)

Hasutan-hasutan semacam itu rasanya udah jadi tren sekarang ini. Apa aja rasanya jadi teori konspirasi. Jujur aja, beberapa teori konspirasi, buatku cukup masuk akal, seperti konspirasi pembunuhan aktivis-aktivis, teori konspirasi Freeport yang melibatkan kudeta Soekarno dan pembunuhan JFK, dan lain sebagainya. Emang masih teori, pembuktiannya susah, karena pasti kongkalikong di baliknya itu bener-bener kuat, tapi minimal udah ada beberapa buku yang jadi pegangan soal itu. Nggak kabur sama sekali, seperti teori hasutan ke Pokemon Go ini.

Ya, mungkin yang nyebar bermaksud baik untuk menghentikan adiksi game, tapi kebohongan adalah kebohongan, dan kebohongan dimana-mana menutupi kebenaran. Dan malah membuat orang nggak siap dengan kebenaran itu sendiri. Misalnya, membuat orang makin buta kalau adiksi terhadap game Pokemon Go adalah sesuatu yang nggak sehat, baik secara fisik maupun mental-psikologis. Semua kecanduan itu pada dasarnya nggak baik, bahkan kecanduan terhadap agama, yang menghalangi orang menyambung tali (hubungan) kepada manusia lain (hablum minannaas), sekalipun agama itu mengajarkan kebaikan. Eh, kok jadi ke situ.

Yang aneh bin ajaib, sempet beredar teori kalau di pembalut itu dimasukkan virus HIV/AIDS oleh Yahudi dan disebarkan di Arab, untuk memusnahkan Umat Islam di Arab. Ini bodoh dan tolol banget (maaf dengan kekasaranku, ya). Pertama, virus itu bukan makhluk hidup seutuhnya, tanpa inang, dia nggak bisa hidup. Artinya, kalau mereka nggak menemukan cara supaya pembalut bisa hidup (ih serem banget!), mereka nggak mungkin menanam virus di dalamnya. Kedua, ya ampun, biar negara Islam juga, satu-satunya yang nggak boleh dimasuki Umat Non-Muslim itu cuma Mekah. Artinya, di kawasan lain ya, pasti ada juga Non-muslimnya. Dan lupa ya, TimTeng itu kan, juga kampungnya Yahudi, pasti ada aja Yahudi di Arab. Lah gimana? Lagi-lagi target operandinya kacau-balau, dong.

Nah, hati-hati buat pecinta internet. Inget slogan iklan (lupa lagi iklan apa), “nggak semua yang lo denger itu bener.” Jadi, tolong, ya. Minimal cari deh, bukti-bukti pendukung dari satu teori yang tiba-tiba nyebar, supaya kita nggak gampang dibodoh-bodohi dan dihasut. Penjajahan itu makin modern, sekarang bisa jadi karakter kita yang dijajah, supaya mereka gampang menyebar hasutan-hasutan itu.

Dan, mudah-mudahan aku juga cukup masuk akal…

Bosan

Aku bukan Alice. Dan aku bukan di wonderland. Aku hanya seorang gadis biasa yang tenggelam dalam mimpi sendiri. Seberapa bodoh itu? Tapi, aku tak mau berhenti. Belum, setidaknya.

Kakiku mulai lelah, otakku mulai mengawang. Rasanya sudah beberapa hari berjalan. Itulah yang terjadi kalau kau berada dalam ketidakpastian. Semua hal tampak jauh dan lama. Terseok, aku bisa merasakan bahwa kakiku mulai protes.

Ada yang bilang, Tuhan itu tepat waktu, mungkin benar, karena kini aku melihat titik cahaya itu. Aku melupakan letih, kakiku juga terlupa, karena ia kini berlari sekuat tenaga. Ketidakpastian adalah sesuatu yang menakutkan, ketidakpastian dalam kegelapan adalah tragedi.

Titik itu tentu saja semakin besar. Itu aturan dalam sebuah kisah. Kalau tidak, maka suatu kisah tidak akan ada artinya. Dia membentuk sebuah pintu. Dalam kegelapan, ia serupa rembulan dengan cahaya lembut. Kakiku melangkah menuju terang, membuatku ingat semboyan emansipasi wanita dari Kartini. Habislah gelap, terbitlah terang.

Ah, ini rumahku.

Aku berdiri di depan pagar hitam yang tertutup. Belum pernah aku segembira ini menemukan aspal yang di beberapa tempat berlubang. Selokan yang membawa segala macam bungkus makanan ringan anak-anak, yang dibuang sembarangan. Sudah berbau busuk, aku menghirupnya dalam-dalam. Baunya tidak sedap, tapi ini bau kenyataan, bau realita yang kukenal.

Mungkin aku berjalan dalam tidur dan alam bawah sadar menunjukkanku jalan keluar dari rumah. Lucu sekali. Aku menghela napas lega. Setidaknya, benar juga, Tuhan memberikanku jalan untuk keluar dari kebosanan. Kalau bosan, tinggal keluar rumah, seharusnya aku tahu. Salah satu guna manusia untuk manusia yang lain.

Dua rumah berselang, ditutup oleh dinding panjang, lalu jalanan beraspal membelah jadi dua bagian. Yang ke kiri dan yang ke kanan. Aku melihat satu bangunan ganjil di sana. Seperti patung tak berbentuk. Ada satu tungkai, yang agaknya kurang jelas, kakikah itu? Tidak, ia menapak, seperti tangan. Seperti orang yang tengah berdiri terbalik.

Kenapa aku mendekat? Karena aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Tiba-tiba dia, apapun itu, berbalik. Aku terbelalak.

“Aaaa!!!” dia, apapun itu, ikut berteriak. Kami berdua, berteriak dalam unison.

Manusia? Bukan manusia? Aku sudah jatuh duduk di aspal, dengan takut-takut menilai apapun itu yang ada di hadapanku. Semua bagian tubuhnya adalah organ manusia, tapi tampak berada di tempat yang salah. Tidak benar, tidak mungkin benar.

“Apa yang terjadi dengan wajahmu?” aku mengangkat alis mendengar pertanyaan itu. Aku baru menyadari bahwa ia juga tengah menilaiku. Menatapku seksama. Sepasang mata bulat, yang benar-benar berbentuk lingkaran, kini menyipit. Serupa bulan sabit. Sinar mata itu bisa kukenali setidaknya. Ia juga sama takut, takjub, tangar* kepadaku.

Dan kata-kata lenyap dalam kekagetan itu. Seharusnya aku yang bertanya, kan? Kenapa kelopak matanya berbentuk lingkaran, bukan almond sepertiku? Kenapa mata itu berada di pipi dan hidungnya malah mendongak ke atas? Kenapa kepalanya setengah botak seperti itu, dengan rambut terkepang di sisi kanan tubuhnya?

Kenapa tangannya di bawah dan tidak bersepatu?! (bersambung)

 

Catatan penulis :

Sampai di sini dulu… Siapa atau apa yang tokoh temukan itu?

Terus baca, ya…

*tangar : aku dapet di web kalau tangar itu sinonim hati-hati atau waspada

aku bikin catatannya, siapa tahu ada yang kayak aku, baru pertama kali denger kata itu hehe…

Enjoy!

Danau Maninjau

lingka_maninjau
gambar diambil dari : genrambai.blogspot.co.id

 

Kalau aku pulang
Masihkah kau menunggu di sana?
Kalau aku pulang
Mudah-mudahan senyum terkembang senada

Di kelok ampek puluah ampek*
Di situ surga yang merayu
Di tepi aspal nan angek*
Di situ surga kan menunggu

Garis cakrawala sempurna
Menaungi bayangan pegunungan
Gemawan bercengkerama dengannya
Merendam kakinya di perairan

Kau tahu
Aku mencintai permata
Yakni ia yang terpantul
Di atas perairan Danau Maninjau

Kau tahu
Aku menyukai emas yang mulia
Yakni ia yang terpantul
Di malam kelam air maninjau

Ia yang tak tergantikan
Ramah menyambut manusia
Ia yang berlimpah ikan
Ramah memberi makan semua

Dan ia terkhianati
Oleh keinginan menyenangkan si buah hati

Kita membeli permata
Kita membeli emas mulia

Tapi

Hilang permata Maninjau
Hilang emas mulia sang danau

Berlimpah kesenangan
Mengusir kebahagiaan
Bias semilir suara angin
Menghilang di balik deru mesin

Danau Maninjau
Di kelok ampek puluah ampek
Dalam semu yang mengigau
Di tengah keseakanan yang merengek

Kalau aku pulang
Akankah kau masih menungguku di sana?

Depok, 15 April 2016

antara maya dan nyata