Perfume

perfume

Ceritanya, aku menginap di rumah mertua, tanpa laptop. Buatku, itu artinya aku bakal dilanda kebosanan, karena aktivitas paling banyak yang kulakukan itu ya, di depan laptop. Nah, akhirnya aku memutuskan untuk meminjam sebuah buku dari kakak iparku. Sembarang saja, yang penting bisa jadi pereda kejenuhan. Dan, direkomendasikan satu buku ini, judulnya “Perfume.” Setahuku, buku ini sudah difilmkan. Sayang, aku belum lihat juga filmnya. Ketinggalan zaman sekali memang.

Jadi, aku mulai membaca. Dari awal, buku ini sudah mengisahkan tentang tragedi. Banyak sekali buku-buku seperti itu. Karena tragedi sama saja dengan bumbu dalam kesusastraan. Minke yang kehilangan Annelies dalam buku Pram, “Bumi Manusia”, Zainuddin yang terusir dari kampung halaman sendiri dalam buku Hamka, “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, dan lain-lain. Malah, tragedi itu sendiri yang membuat pembaca makin terjerumus dalam cerita, tenggelam dalam penderitaan tokoh, ikut bersimpati, bahkan bersedih karena kesedihan yang dialami tokoh.

Grenouille adalah anak yang lahir di tempat paling bau di seluruh dunia, kira-kira begitu penjelasannya. Ia lahir di gudang ikan, di tengah-tengah bau amis yang menyengat. Ibunya hendak membunuhnya di sana. Entah malang atau untung, ibunya pingsan dan diketemukan oleh warga. Ibunya hampir saja lolos, kalau saja ketika ia hendak pergi, Grenouille tidak menangis kencang, memberitahukan keberadaannya di sana. Warga terkejut. Terlebih, murka ketika tahu bahwa si ibu hendak membunuh bayinya sendiri. Grenouille akhirnya diselamatkan dan dikirim ke ibu susu, sedang ibunya didera hukuman mati.

Ada yang unik dari anak lelaki ini. Tidak ada ibu susu yang tahan dengannya. Ia begitu rakus menghisap air susu, membuat para ibu susu kewalahan. Bapa Tertier, yang diberikan hak asuh atas Grenouille, harus menghadapi kesulitan karena ibu susunya yang terakhir mengembalikan bayi itu kepadanya. “Ia tidak beraroma,” kata ibu susu, yang sama sekali dianggap omong kosong oleh pastur tersebut. Baginya wajar, karena memang ia masih bayi yang belum makan dan menyentuh apapun selain susu, tapi bagi si ibu susu yang sudah terbiasa dengan bayi, itu tidak normal, hampir-hampir seperti permainan setan. Maka, Grenouille kembali ke tangan Bapa Tertier.

Awalnya, pria itu keheranan karena bayi semungil dan semanis itu dianggap anak setan. Ia mengamatinya, mulai merasa bahwa ia bisa menganggap Grenouille anaknya sendiri. Lalu, bayi itu bangun. Seketika, hidungnya mengembang seakan ingin menghisap seluruh udara, hidung itu jelas tengah mengorek-ngorek aroma di sekelilingnya, termasuk aroma Bapa Tertier. Tiba-tiba saja, bayi itu tidak tampak manis lagi, ia merasa tengah ditelanjangi oleh hidung mungil Grenouille. Aneh, tapi itu yang dirasakan Bapa Tertier. Hal itu membuatnya memutuskan untuk meninggalkan Grenouille di salah satu panti asuhan yang dikelola oleh wanita besi, Madam Guillard.

Dimulailah babak baru kehidupan Grenouille yang penuh tragedi. Dari Madam Guillard, wanita yang menjadikan anak-anak sebagai bisnisnya, lalu ia dijual kepada seorang penyamak kulit untuk mengerjakan pekerjaan paling bahaya dan mematikan. Namun, pekerjaan itu justru membawanya kepada seorang ahli parfum yang hampir merasakan kejatuhannya, dan Grenouille remaja akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan dan belajar untuk membuat parfum.

Tumbuh sebagai remaja bertubuh kecil dan bungkuk, apalagi tanpa aroma, Grenouille tidak pernah mendapat perhatian siapapun. Ia seolah tidak ada. Tanpa aroma, orang-orang tidak menyadari kehadirannya. Hal ini membuat Grenouille bertekad untuk membuat parfum terbaik yang bisa memberikan aroma pada tubuhnya. Agar-agar orang menerimanya, agar orang-orang tertarik padanya. Ia mulai mencampur bahan-bahan yang tidak biasa, seperti keju basi, dan semacamnya. Tentu saja, akhirnya, ia mencampur kesturi yang menekan aroma busuk dari bahan-bahan itu, yang justru menciptakan aroma yang membuatnya menarik perhatian orang-orang.

Dan pada saat itu pula, ia mendapat aroma terbaik, aroma dari seorang gadis remaja berusia 15 tahun yang berambut merah. Grenouille jatuh cinta, tidak kepada gadis itu, tapi kepada aromanya. Ia mencekik gadis itu agar ia diam, dan ia menelanjangi si gadis, menghirup dengan rakus aroma tubuhnya. Menggemparkan warga, dengan kematian satu gadis, telanjang, tapi tidak disentuh sedikitpun. Itu aneh, dan semua orang jelas takut kepada hal-hal aneh yang tak terjelaskan. Akan lebih baik kalau si gadis diperkosa, misalkan, karena motif pembunuhannya akan jelas.

Ini adalah awal dimana Grenouille semakin bernafsu untuk menjadikan parfum dari aroma tubuh perawan.

Dari plotnya saja, karya ini bagiku sudah luar biasa unik. Tema seperti ini jarang sekali ada. Memang sih, kalau kisah pembunuhan bisa dibilang tidak asing lagi, tapi motif pembunuhannya menjadikannya sesuatu yang  baru. Terlebih lagi, Patrick Suskind berhasil mendeskripsikan seluruh aroma dengan baik. Dari aroma-aroma sari tanaman yang diperlukan untuk parfum, hingga aroma tubuh manusia yang kadang-kadang digambarkan seperti campuran keju asam dan susu, misalkan. Ya, soalnya setting bertempat di Paris, tentu saja aroma keju menempel kuat pada mereka.

Sebagai orang yang suka menulis, aku juga suka menggambarkan aroma untuk menambah kekayaan rasa dari karyaku. Yang aku temukan adalah, aroma adalah hal yang paling sulit untuk digambarkan. Misalkan, hujan. Aku suka sekali aroma hujan, atau setelahnya, seperti tanah lembap dan kesejukan yang tertangkap indera penciuman. Tapi, untuk menjelaskannya dengan gamblang, dengan cara yang dipahami orang-orang, itu tugas yang benar-benar membutuhkan imajinasi luar biasa. Dan di buku ini, tidak ada satu aroma, semuanya tentang aroma, karena kehidupan Grenouille yang pasti adalah tentang aroma. Wow!

Ada beberapa penggambaran aroma yang sebenarnya sarat dengan budaya dalam setting lokasi yang dipilih Suskind, yang mungkin buat kita, orang Indonesia, agak asing. Di sini mungkin ada jenis-jenis keju, tapi apa mungkin sama dengan keju asam yang diceritakan di buku itu? Aku yakin, tidak. Keju-keju yang ada di Indonesia kebanyakan sudah diolah agar sesuai dengan selera orang Indonesia, jadi rasa dan aromanya tentu tidak lagi sama.

Dan yang paling menggemparkan dalam buku ini, adalah tragedi yang (lagi-lagi) berkaitan dengan kebusukan manusia itu sendiri. Dengan cara lugas yang hampir-hampir kejam, Suskind menggambarkan sifat manusia lewat hidung Grenouille dan tragedi-tragedi yang menimpanya. Pada akhir-akhir cerita, Grenouille merasa mual, karena, walaupun ia menginginkan cinta dari manusia lain, ternyata ia tidak balas mencintai manusia-manusia itu.

Buatku, itu tragedi sebenarnya dari seluruh kisah Grenouille.

SAHABAT

 

Ia bernama Kristianingsih, sahabat yang selalu kukenang. Senyum itu tak pernah hilang dari kenangan, selalu menghangatkan hati orang-orang di sekitarnya. Senyum yang ia perlihatkan bahkan sesaat sebelum ia memasuki masa istirahatnya yang panjang.

 

 

KRISTIANINGSIH dan KASANOVA ANDRIANI TARIGAN

Kristianingsih selalu akrab dengan panggilan ‘Ntien.’ Ia adalah teman yang amat royal dan loyal. Ia tak ragu untuk berbuat apa pun untuk orang-orang di sekitarnya. Ia seringkali menraktir teman-temannya dan membawakan oleh-oleh untuk orangtuanya.

 

KRISTIANINGSIH dan SEPTI DWI HASTUTI

Sifatnya yang ramah selallu membawa keceriaan, terutama tawanya yang khas itu. Ia seringkali berteriak-teriak di luar ruang kuliah memanggil teman-temannya, hingga pernah suatu kali salah satu dosen keluar untuk melihat biang keributan itu. Dengan sigap ia berhasil kabur dari tangkapan dosen itu.

 

SHE IS THE LIGHT, ENLIGHTEN EVERY DAY OF OURS

Masa-masa indah yang ia beri sebagai kenangan telah membuatku mengerti begitu luas dunia ini dengan segala kebaikan. Tidak akan kulupakan, kuhidupkan ia dalam kenangan yang abadi.

“Tak Akan Membiarkanmu Mati Sekali Lagi”

Tribute to Kristianingsih (1985-2005)

Secuplik Kisah oleh Sahabat

 

11 September adalah hari kelam bagi seluruh warga Amerika, dengan adanya tragedi pemboman gedung World Trade Centre (WTC) yang menjadi pusat perekonomian Amerika. Tidak begitu dengan di sini, di bagian sempit Indonesia. Daerah pinggiran yang luput dari perhatian, sudut kota yang tersisih oleh gemerlap kota Metropolitan Jakarta. Beberapa hari setelahnya, 14 September 2005, sudut itu digantungi awan kelam.

Tidak ada demonstrasi yang mewarnai layaknya tanggal 11 September, tidak ada perang sebagai lambang kekecewaan massal. Hanya kesedihan di sudut kota kecil. Gadis muda itu bernama Kristianingsih, hanya gadis biasa yang kebetulan kutemui di universitas yang sama, UPI YAI. Dengan badan gempal dan wajah hitam manis yang selalu diliputi keceriaan, dia mulai mengisi hari-hariku sejak awal aku memasuki kuliah, begitupun dengan orang-orang di sekelilingnya.

Gadis biasa itu memanglah gadis biasa bagi orang yang melihatnya. Biar begitu, kehadirannya bak mutiara yang kilaunya menyinari hati kedua orangtuanya. Begitupun hatiku yang telah disinarinya, lambat-laun tanpa kusadari. Dan aku yakin, setiap orang di dekatnya akan menganggapnya seperti itu pula. Kehadirannya pada tanggal 13 Mei 1985 telah menjadi anugerah tak terhingga bagi kedua orangtuanya. Tanpa disadari, hatikupun meng-iya-kannya.

Tiga tahun bersama, berjalan bergandengan tanpa kusadari telah melemahkan artinya di pandangan mataku. Kehadirannya adalah sesuatu yang begitu wajar, senyumnya adalah matahari yang tiap hari selalu terbit. Begitu wajar hingga diremehkan.

Kala itu, detik-detiknya bertalu-talu tanpa seorangpun menyangka. Kehadirannya mulai menghilang perlahan. Saat orangtuanya memberitahuku ia sedang sakit, aku hanya terdiam. Tidak bertanya, tidak mencoba mencari tahu. Saat itu kupikir kata sakit adalah kata yang biasa, sakit hanya satu fase, bukankah manusia selalu terjangkit penyakit? Flu, misalnya? Ternyata itu awal dari segala kehancuran hatiku.

Mengapa saat orang hadir di pandangan mata semuanya tampak begitu wajar? Tampak remeh tidak berarti? Keberadaannya menghilang dari mataku, begitupun di mata semua teman-temannya. Jawaban dari ketiadaannya mulai muncul ke permukaan perlahan-lahan. Sakitnya bukan sakit biasa seperti yang kuperkirakan. Bukan ‘hanya’ sakit. Lalu, kata-kata “seandainya…” mulai merambat di hatiku, menggerogoti pelan-pelan.

Kami mulai panik, lalu beriringan menjenguknya. Yang kulihat adalah pemandangan yang sama sekali berbeda. Tubuhnya terbaring lunglai, kelincahannya seakan-akan terhisap oleh suatu kekuatan yang jauh lebih besar. Aku mendekatinya, memandangnya sejenak. Matanya berair, ia menangis entah oleh sebab apa. Kesakitankah ia? Aku sama sekali tidak bisa merasakannya, kesemutan pun tidak. Ia tidak bisa menoleh, maka ia menggerakkan matanya. Tampak begitu sulit, sesuatu yang sehari-hari kita lakukan tanpa sedikitpun kita sadari.

Ia tersenyum. Dalam kesakitannya yang entah sebesar apa, ia tetap mempersembahkan senyumnya. Dengan susah payah menenangkanku, matanya seakan berkata, “tidak apa-apa…” Aku terpana. Mungkin itu adalah senyum terindah yang pernah kulihat. Dengan mata sayu dan wajah basah oleh air mata, senyumnya kali itu bahkan lebih indah dibandingkan pelangi penuh warna atau bebungaan yang mewangi. Aku membisikkan kata-kata seadanya, berharap ia memahami maksud dalam hatiku yang terbesar.

Keesokan harinya, 14 September 2005, pukul 15.15 WIB aku mendapat sms. Sebuah pesan duka cita, mewartakan kepergian sahabatku yang kerap dipanggil ‘Ntien’. Saat itu pula, aku berpapasan dengan kedua temanku yang lain, Kasa dan Tyas, yang juga telah mendapat sms serupa. Dengan bergegas, entah mengejar apa, kami langsung pergi menuju rumah sakit tempatnya dirawat, OMC, yang bertempat di Rawa Mangun.

Di situlah ia, masih di ruang ICU, masih di tempat yang sama. Kami berpapasan dengan orangtuanya, yang dengan tegar memberitahu kami ia telah pergi. Tyas pun menangis, Kasa masih tidak mempercayai pendengarannya. Bagiku, itu semua…

Kami bergantian masuk ke dalam, mula-mula Tyas bersama Kasa masuk, kemudian aku ditemani Kasa selanjutnya masuk. Kasa begitu terpukul, dengan air mata berhamburan tanpa tercegah ia terduduk, tidak kuat menahan beban kenyataan yang menimpa tanpa diduga. Aku, entah apa yang ada di pikiranku, atau hatiku, atau keduanya, tidak setetes air mata pun yang keluar. Aku hanya melihat, sahabatku yang dulu selalu riang dan lincah, terbaring begitu rupa. Seakan-akan tidak ada lagi beban yang menggayuti benaknya, ia menutup mata seolah sedang tidur, bukan pergi ke alam gaib, hanya bertandang ke alam mimpi.

Aku terdiam, diam-diam mencoba memahami pemandangan di hadapanku. Aku menyentuh keningnya, masih hangat. Aku mencium keningnya lembut sebagai pengganti ucapan selamat tinggal yang tak akan pernah ia dengar. Tapi, dalam hati aku sadar. Semuanya hanyalah formalitas belaka. Apakah itu arti selamat tinggal? Selamanya tidak akan bertemu kah? Apa pula arti selamanya?

Pemakamannya berlalu begitu saja, aku kembali menatap sosok seorang gadis muda dengan tubuh berisi itu. Seperti layaknya budaya kaum Kristiani, ia didandani dan dihiasi dengan bebungaan. Ia tampak lain, tetapi tetap mata itu terpejam dengan sabar. Seakan menghadapi dunia lain tanpa beban, tanpa suatu ketakutan. Aku tetap tak menangis, tetap tak memahami.

Esoknya, dengan mengejutkan aku menjalani hariku seperti biasa. Bercanda dengan Tyas, tertawa-tawa. Benarkah kemarin telah diadakan pemakaman seorang gadis bak matahari bernama Kristianingsih? Hatiku tetap bertanya-tanya. Lalu, tiba-tiba saja Kasa menjadi mudah tersinggung. Ah, ia masih terpengaruh rupanya. Apa aku begitu tidak berperasaan sehingga aku sedemikian ‘santai’?

Kristianingsih, ia akrab dengan sebutan Ntien. Di depan teman-temannya selalu menunjukkan keceriaannya, senyumnya. Ia adalah seorang gadis yang tak lepas dari kipas, sosoknya yang selalu kuingat adalah saat ia mengipas-ngipasi dirinya seraya membetulkan poninya yang tertata rapi ke arah samping. Gadis yang tampak kekanak-kanakan itu suka sekali berpose layaknya anak kecil, menaruh kedua telunjuknya di pipinya.

Gadis itu suka sekali dengan warna biru, tasnya berwarna biru, kipas plastiknya berwarna biru, juga casing hp-nya, juga tempat pensilnya. Gadis itu memanggilku ‘bunda.’ Hanya karena perbedaan sikap, aku mendapat julukan itu, lalu dianggap dewasa. Kalau saja orang-orang dapat melihat lebih dalam. Semasa ia hidup, beberapa kali aku membentaknya. Hanya karena masalah sepele, karena kecerewetannya, bahkan dalam suasana ramai yang ribut. Lalu, apa yang biasa ia balas? Ia terdiam. Lalu, begitu aku meminta maaf, ia tersenyum. Sama sekali tidak mempermasalahkan kelakuanku. Bukankah ia lebih dewasa? Siapa bilang kedewasaan harus diukur dari sikap yang tenang? Bukankah pedalaman seseorang yang akan menunjukkan kedewasaannya?

Dia adalah orang yang paling suka mengobrol. Jika punya waktu luang, ia akan mengikat diri pada telepon, memanggil-manggil semua temannya dengan deringan telepon. Sesaat sebelum istirahat panjangnya, ia bahkan pernah meneleponku pada jam 2 dini hari! Apakah itu sesungguhnya pertanda terselubung?

Ia adalah teman yang paling royal yang pernah kutemui, mudah sekali menyisihkan uang sakunya untuk menraktir teman. Aku tak perlu heran, dia memang selalu memperhatikan teman-temannya. Ia adalah umat kristiani, jelas terlihat dari namanya. Dan dia ta’at, ia sering pergi ke gereja di hari Minggu. Akan tetapi, dia adalah teman yang paling sering mengingatkanku shalat. Aku mengaguminya untuk hal itu.

Dia berbakti kepada orangtuanya, tidak diragukan lagi. Apa aku berlebihan? Ia selalu membantu pekerjaan rumah, membantu ayahnya memasak untuk berjualan (dulu mie ayam, sekarang tongseng). Saat ia sedang berjalan-jalan dengan temannya, ia tak pernah lupa untuk memberikan sesuatu untuk kedua orangtuanya. Apa aku berlebihan?

Aku menghela nafas dalam hati. Mengapa? Seseorang yang selalu menyinari orang-orang di sekitarnya dengan senyum dan candanya harus pergi meninggalkan semuanya dalam kegelapan? Mengapa orang yang begitu berbakti kepada orangtua, selalu membawakan sesuatu untuk dibawa pulang justru menghilang dari kehidupan kedua orangtuanya? Mengapa salah seorang dari kaum Kristiani yang justru kerap kali mengingatkanku untuk shalat itu harus lenyap dari hadapanku?

Aku mulai berpikir, seandainya saja aku yang menggantikan posisinya, bukankah tidak akan begitu menyakiti banyak orang? Apakah ini salah satu keadilan Sang Kaisar Dunia-Akhirat itu? Dibiarkannya ia kembali ke sisi-Nya, agar dunia tidak mencemarinya dengan noda-noda yang begitu banyak tersebar. Agar aku, diberikan kesempatan untuk menebus dosa sebagai orang tanpa arti untuk masa selanjutnya.

Aku lupa, begitu banyak hal yang belum sempat kusampaikan. Seandainya pun waktu dikembalikan, waktu yang sesingkat itu tidak akan cukup memberikan kata-kata yang dapat menggambarkan perasaanku. Dulu, dia selalu menitipkan pesan, “Jangan kangen sama Ntien, ya…” dengan nada ceria itu, yang selalu kujawab, “Tenang aja, nggak bakalan, kok…” Ia menyambutnya dengan tertawa. Apa dia tahu kalau sekarang ternyata kata-kata itu menjadi bumerang bagiku? Ternyata, aku sangat merindukannya ketika ia pergi.

Bayangan-bayangan masa lalu melintas sekejap-sekejap di kepalaku, di ingatan yang mulai mengabur. Kututup mataku, kembali kuhitamkan tinta kenangan yang melukiskan ia yang tertidur lelap. Kembali pula ke masa yang jauh lebih lama. Lalu, aku tersadar. Ia tidak pernah kemanapun, tidak pernah meninggalkanku dalam kehampaan. Jasad adalah sesuatu yang akan lenyap, tetapi setiap kenangan yang telah digoreskan tidak akan menghilang. Dengan itu pula gadis muda itu hidup.

Ingatlah janjiku ini, wahai sahabat yang telah melambaikan tangan. Kehadiranmu tidak akan pernah terlupakan, kehadiranmu tidak akan kubiarkan berlalu layaknya jasad yang membusuk. Jika hanya dengan itu engkau hidup, kuabadikan engkau selamanya. Janji yang hampir terlupa oleh kebusukanku sebagai manusia yang tak membalas budi. Ingatlah janjiku, wahai gadis muda yang baru saja mengeluarkan kuncup. Kuncup itu tak akan mekar menjadi bunga selayaknya, tetapi akan kumekarkan kau dengan wangi yang lain. Kepergianku tidak akan pernah menjadi kesedihanku, karena aku akan terus hidup beserta bagian jiwa keabadianmu.

antara maya dan nyata