Sosialisasi dalam Sekolah Konvensional

socialization
gambar diambil dari : http://www.unschooler.org

 

Lagi-lagi terinspirasi dari diskusi tentang Homeschooling dan Sekolah Konvensional.

Jadi, beberapa waktu lalu, ada teman yang posting tulisan di Facebook, tentang Homeschooling. Pernyataannya secara garis besar bilang bahwa anak HS (HomeSchooling) itu maju dalam intelektualitas, tapi kurang dalam kemampuan sosial.

Jadi, ini ada satu fun fact. Dijalani oleh nggak lain dan nggak bukan oleh aku sendiri.

Aku sendiri adalah salah satu anggota sekolah konvensional. Dari umur 5 tahun, malah, aku udah masuk SD. Karena terpaksa waktu itu sih, bukan karena anak accel yang super pinter hehe. Nah, seperti biasa, aku menjalani pendidikan formal wajib, dari SD sampai SMP sampai SMA. Totalnya jadi 12 tahun. Selama itu, aku belajar bersama dengan anak-anak lain, bahkan bisa sampai 40 anak sekaligus.

Wajarnya, aku pasti bersosialisasi, membangun clique dan gang, punya banyak teman, karena pilihannya ada banyak dan tiap hari aku ketemu mereka, minimal selama setahun. Faktanya? Minim, kalau nol keterlaluan. Aku bukan orang yang supel dan gampang bersosialisasi. Mau ketemu setahun atau tiga tahun sekaligus, susah buatku membangun kedekatan sama orang lain. Waktu SD minimal aku punya clique sendiri, anggotanya tiga orang, yang bubar begitu SD selesai, aku nggak tahu kabar mereka sampai sekarang. SMP cuma temenan sama temen sebangku, yang menghilang juga pas pindah kelas, pas kelas dua sama sekali nggak punya temen, malah. Dan waktu SMA lumayan bisa ngobrol. Itupun dengan tekad personal kalau aku nggak mau mengulang kesalahan waktu SMP yang menyedihkan. Total teman selama 12 tahun: sekitar 9-10 orang aja. Yang masih kontakan sampai sekarang, lebih dikit lagi.

Hasilnya, aku tetap anak yang rigid dan timid, ngobrol juga seadanya, punya teman yang bener-bener deket paling 2-3 orang. Kalau dihitung-hitung nih, 40×12=480. Singkatnya, aku cuma bisa bersosialisasi secara utuh sebesar 2,08% (pake kalkulator ini, harap dicatat!) selama 12 tahun. Dengan kesempatan sebesar itu, setahun 40 orang! Setahun lamanya aku bisa bersosialisasi!

Mungkin aku cuma pengecualian yang jadi minoritas. Tapi, ini salah satu bukti kalau sekolah itu nggak menjamin terbangunnya kemampuan sosial yang baik. Bagi orang-orang yang berbeda, kayak aku waktu dulu, mereka nggak bisa menyesuaikan diri karena keburu dipandang aneh, bahkan bisa dianggap salah. Lah, ini menurunkan tingkat kepercayaan diri, yang jelas-jelas memundurkan perkembangan penyesuaian sosial.

Kenapa kok, bisa dipandang aneh?

Kesalahan terbesar dari sekolah konvensional adalah mereka mencoba menyeragamkan pola pikir dan pola perilaku. Anak yang baik adalah anak yang patuh dan kalem. Kalau anak-anak aktif, yang pasti lebih sulit diatur, dianggap nakal, dsb. Akibatnya, semua harus seragam, dari pakaian-sepatu, sampai perilaku yang diharapkan. Sekarang bisa dilihat akibatnya, orang-orang yang nggak bisa menerima perbedaan, yang takut akan perbedaan, dan malah sangat defensif, menolak keras adanya perbedaan. Diskusi bisa berubah jadi debat kusir hanya karena nggak suka sama orang yang punya pandangan berbeda. Dan begitu mudahnya diprovokasi, dengan mengatasnamakan perbedaan yang dianggap berbahaya.

Solusi untuk ini, jadikan sekolah itu ideal dengan perbedaan masing-masing anak. Menurutku, hampir mustahil, tapi seenggak-enggaknya seideal yang memungkinkanlah. Untuk itu, butuh tenaga-tenaga pengajar yang benar-benar dewasa (bukan cuma orang yang usianya nominalnya gede), terintegrasi dengan yayasan sekolah yang nggak mikir duit mulu, serta orang tua yang bisa dan mau bersinergi dan kerja sama dengan guru dalam membimbing karakter anak. Itupun kesulitannya adalah berkompromi antar semua kepentingan masing-masing. Politik banget, kan?

Sekolah konvensional itu bukan pengaruh buruk, tapi seperti satu alat atau media, situasi di sekolah itu butuh bimbingan orang tua. Jadi, yang salah bukan sekolah, tapi kalau orang tua lepas tangan membiarkan anak sekolah tanpa bimbingan. Tetap, tumpuan terbesar pendidikan anak usia dini, itu orang tuanya. Orang tua menganggap anak udah beres di sekolah, trus santai-santai aja di rumah, ya wassalam. Anak bisa jadi konformis atau istilahnya follower tanpa syarat. Ingat kan, kalau aturan di sekolah itu saklek dan bersifat memaksa? Gimana anak-anak dipaksa patuh dengan berbagai macam reward dan hukuman, bahkan labeling? Istilahnya, sekolah itu otoriter. Dan anak tanpa bimbingan, akan mengikuti aja mentah-mentah apa yang diajarkan sekolah.

Perlu diingat, perilaku konformis itu jauh lebih merusak daripada anak-anak yang “nggak tahu aturan” menurut orang-orang dewasa itu. Kalau dia mengikuti perilaku baik pun, dia nggak bakalan tahu kenapa dia harus begitu, dan nggak akan jadi prinsip yang bertahan di masa-masa selanjutnya. Dan sewaktu-waktu, anak ini akan ketemu dengan orang-orang yang nggak sejalan, dan apa jadinya kalau cuma bisa konformis? Dia akan ngikut aja, nggak peduli perilaku itu akan merusak atau menguntungkan.

Nah, sekarang coba perhatikan baik-baik, anak kita itu sosialis (wah serem bahasanya, ya, haha) atau konformis? Konformis itu bukan orang yang pinter bersosialisasi lho, dia cuma ikut arus tanpa mikir-mikir demi menyenangkan teman sebaya. Malah nggak sehat untuk hubungan sosialisasi sendiri, karena nggak terbangun interaksi timbal-balik, dimana ada pola saling menghargai, menghormati, dan menyayangi. Cuma ada hubungan boss sama anak buah.

Jadi, sekolah konvensional bukan tempat paling tepat untuk sosialisasi, tapi bukan nggak mungkin sosialisasi yang sehat di sekolah konvensional. Orang tua harus siap fasilitasi anak. Entah itu sebagai tempat diskusi, curhat, dan solving-problem. Asal orang tua jangan kebanyakan ikut campur juga! Kalau bingung dengan pola yang berlawanan ini, silakan didalami ilmu parentingnya!

Don’t think smart, think wise!

 

Advertisements

Saat Inspirasi Hilang

abstrak-inspirasi
gambar diambil dari : blogmotivasi.xyz

 

Inspirasi. Ini kata yang penting, vital, buat semua penulis. Karena inilah letak dari kehidupan seorang penulis. Atau orang-orang yang bergerak di bidang seni lainnya. Entah seni musik atau seni lukis atau yang lainnya. Begitu inspirasi hilang, hilang semua intisari kehidupannya. Bernapas bagai orang asma, sesak, sekalipun ingin sekali bernapas dan tentunya, sangat membutuhkannya.

Kemana inspirasi pergi?

Beberapa pengalamanku sendiri mengatakan kalau bukan inspirasi dan ide-ide yang menguap dari kepala, tapi perasaan si penulis yang berubah. Perasaan kita sebenarnya menggerakkan dunia ide. Aneh? Begitulah, dengan pola kerja yang berlawanan, tapi bisa saling menyeimbangkan, logika dan emosi itu.

Apa ini berlaku buat semua orang? Aku nggak mau bicara seakan-akan aku orang paling tahu tentang ini, tapi ya, aku hampir pasti soal ini. Kita tahu kerja hormon, dirangsang oleh sistem syaraf pusat yang mendapat rangsang reseptor dari luar, tapi juga sebaliknya merangsang emosi. Misal, hormon endorfin yang keluar saat kita merasa senang, dan sebaliknya produksinya membuat kita juga merasa senang dan tenang. Atau hormon oksitosin yang disebut-sebut sebagai hormon cinta itu. Ini salah satu bukti kalau pikiran dipengaruhi dan mempengaruhi perasaan.

Nah, kalau kita udah tahu masalahnya, masalah kehilangan inspirasi ini pasti lebih mudah untuk diselesaikan. Apa yang membuat mood atau suasana hati kita berubah? Jadi sedih, kesal, atau muram? Masing-masing punya caranya. Masing-masing orang punya penyelesaian atas emosi-emosi ini. Begitu selesai, inspirasi bakalan datang lagi.

Gimana dengan kita yang merasa mood baik-baik aja, tapi dunia ide tampak tidak mau bekerja sama? Adakalanya kita suka nggak jujur ke diri sendiri, bisa jadi denial terhadap masalah atau malah merepresnya, jadi kita nggak perlu menghadapinya langsung. Karena itu, penting buat kita untuk diam sejenak, memikirkan banyak hal tentang diri kita, tentu saja biarkan diri jujur. Hadapi setiap kemungkinan, walaupun kemungkinan yang paling kita nggak suka.

Alasan mood berubah juga beragam, lho. Jangan lantas berpikir kalau yang membuat mood berubah karena inget mantan aja,ya. Atau ingat jati diri yang lagi jomblo hehe. Bisa karena hal sesederhana, seperti letih seharian beraktivitas atau suasana di lingkungan sekitar kita. Termasuk hal-hal sepele, seperti suhu, kebisingan, dan lain-lain.

Karena itu, kalau inspirasi hilang, cari akar penyebabnya dan mudah-mudahan inspirasi bisa kembali berteman dengan dunia ide kita.

Ayo tetap berkarya!

 

Pokemon Go (ver.1)

Pokemon Go dan Hasutan Kekinian

 

pokemon go
Gambar diambil dari : http://www.youtube.com

 

Jadi, yang lagi kekinian adalah Pokemon Go. Aku sendiri belum pernah main games satu itu, tapi dari berbagai cerita, lebih utama dari berita-berita, aku sedikit tahu tentang konsep permainannya. Ada yang dulu pernah nonton Pokemon? Sebenarnya film itu cukup viral (bukan di internet seperti sekarang, karena waktu itu internet belum masuk ke Indonesia). Aku kurang inget, tapi menurut wikipedia, keluar sekitar tahun 1999.

Kurang-lebih tentang para tokoh yang mengumpulkan berbagai pokemon, makhluk-makhluk lucu yang bisa bertarung dan mempunyai kekuatannya sendiri-sendiri. Di film itu, para tokoh utama harus mengadu pokemon-pokemon mereka, dan semacamnya. Dan cara menangkap dan berburu pokemon adalah dengan melempar poke ball, sehingga makhluk-makhluk itu akan langsung terkurung di poke ball. Ini berdasarkan ingatan aja, jadi kalo ada yang salah -dan pastinya infonya sangat kurang- maka, tolong dibetulkan.

Nah, kurang-lebih begitu permainannya. Namun, yang unik dari permainan ini adalah, para pokemon itu terdeteksi di sekitar kita. Istilah teknisnya, ini permainan berdasar augmented reality. Kalau dari terminologi, simpelnya itu realitas tertambah. Panjangnya, augmented reality itu penggabungan benda-benda maya, dua atau tiga dimensi, dengan lingkungan yang nyata dan diproyeksikan dalam waktu yang nyata. Dengan kata lain, kalau kita lagi jalan di trotoar, trus kita main pokemon go ini, kita bakal liat pemandangan persis trotoar di depan kita, tapi ada tambahan-tambahan dari game-nya, kayak makhluk-makhluk maya pokemon, kalau emang ada.

Hebatnya, aku baru tahu kalau game ini ternyata dibangun dari beberapa tahun lalu dengan menggunakan geocached data yang diintegrasikan dari google maps. Berarti, pembuatnya main-main sama satelit lama banget sebelum kita bisa mainin Pokemon Go sekarang ini. Terbayar, sih. Dari ujung Amrik sana, sampai ke Indonesia Raya ini, semuanya main Pokemon Go. Gila banget viralnya.

Yang lucu sih, gimana orang-orang bisa segitu addict sama game ini. Seru, emang. Dan sebagai penyuka -belum jatuh ke tahap pecinta- game, aku juga paham gimana game punya sifat adiktif. Macam narkobalah, bahkan psikologis bisa kena, tuh. Mulai bermunculan berita-berita kecelakaan gara-gara main game ini. Menggantikan berita-berita kecelakaan gara-gara selfie beberapa waktu lalu. Psst, bagusnya game ini sih, mengurangi intensitas selfie, haha…

Tapi, jauh lebih lucu lagi pecinta teori konspirasi. Teori konspirasi dari sejak zaman baheula emang suka banget memproklamirkan yang nggak-nggak. Yah, kalau mau sedikit diperhalus, teori tanpa bukti. Dulu, aku inget banget soal teori tentang Teletubbies yang sebenarnya sedang mempropagandakan LGBT. Katanya, simbol-simbol di atas kepala mereka itu adalah simbol LGBT dan seks atau semacamnya. Lah, emangnya anak-anak paham simbol-simbol itu? Apa fungsinya kalau penyampaiannya nggak tepat? Well, intinya sih, aku belum lihat pembuktian teori itu sampai sekarang. Teori tinggal teori.

Sekarang, hasutan itu makin menjadi, karena internet bukan lagi barang langka, semua orang tampaknya, dari bayi sampe kakek-nenek, dari kampung sampai kota, udah kenal sama internet. Jadilah, teori itu gampang menyebar di kalangan orang-orang yang hobi sama internet (yap, termasuk aku!).

Balik ke soal Pokemon Go, ternyata muncul pula teori-teori konspirasinya sendiri. Katanya, Pokemon Go itu adalah salah satu alat yang digunakan untuk modus operandi dari intelijen untuk memata-matai satu negara. Negara mana? Mereka pikir sih, Indonesia. OMG, nggak perlu Pokemon Go juga udah dimata-matai kaliii, dan intel Indonesia pasti punya pos juga di luar negeri sana. Walaupun aku nggak terlalu paham juga deh, cara kerja mereka. Namanya bukan intel kan, ya.

Sekarang coba deh, logis dikit. Kalau Pokemon Go itu operasi intelijen yang disamarkan (ya, mana ada intel buka-bukaan, sih, penuliiis) jadi game, tujuannya apa? Target operandinya siapa? Lah wong, itu game menyebar ke seluruh negara di atas muka bumi ini. Trus, game itu kan terintegrasi sama google maps. Artinya, data-data realitas yang muncul di game itu, ya udah ditangkep sama satelit google. Buat apa lagi, intel bikin game buat itu? Singkatnya, targetnya nggak jelas, efektivitasnya rendah, dan buang-buang biaya mereka.

Di tulisan yang kubaca sih, mereka bener-bener hebat melogikakan soal modus operandinya, tapi tetep nggak ada analisa soal efektivitasnya. Sebenernya, teori konspirasi paling tepat mungkin pembuat game-nya emang pengen memusnahkan manusia dari atas muka bumi, karena jadi banyak kecelakaan sejak main Pokemon Go! (Ups! Hati-hati pernyataan ini jadi viral dan digunakan jadi teori konspirasi yang lain)

Hasutan-hasutan semacam itu rasanya udah jadi tren sekarang ini. Apa aja rasanya jadi teori konspirasi. Jujur aja, beberapa teori konspirasi, buatku cukup masuk akal, seperti konspirasi pembunuhan aktivis-aktivis, teori konspirasi Freeport yang melibatkan kudeta Soekarno dan pembunuhan JFK, dan lain sebagainya. Emang masih teori, pembuktiannya susah, karena pasti kongkalikong di baliknya itu bener-bener kuat, tapi minimal udah ada beberapa buku yang jadi pegangan soal itu. Nggak kabur sama sekali, seperti teori hasutan ke Pokemon Go ini.

Ya, mungkin yang nyebar bermaksud baik untuk menghentikan adiksi game, tapi kebohongan adalah kebohongan, dan kebohongan dimana-mana menutupi kebenaran. Dan malah membuat orang nggak siap dengan kebenaran itu sendiri. Misalnya, membuat orang makin buta kalau adiksi terhadap game Pokemon Go adalah sesuatu yang nggak sehat, baik secara fisik maupun mental-psikologis. Semua kecanduan itu pada dasarnya nggak baik, bahkan kecanduan terhadap agama, yang menghalangi orang menyambung tali (hubungan) kepada manusia lain (hablum minannaas), sekalipun agama itu mengajarkan kebaikan. Eh, kok jadi ke situ.

Yang aneh bin ajaib, sempet beredar teori kalau di pembalut itu dimasukkan virus HIV/AIDS oleh Yahudi dan disebarkan di Arab, untuk memusnahkan Umat Islam di Arab. Ini bodoh dan tolol banget (maaf dengan kekasaranku, ya). Pertama, virus itu bukan makhluk hidup seutuhnya, tanpa inang, dia nggak bisa hidup. Artinya, kalau mereka nggak menemukan cara supaya pembalut bisa hidup (ih serem banget!), mereka nggak mungkin menanam virus di dalamnya. Kedua, ya ampun, biar negara Islam juga, satu-satunya yang nggak boleh dimasuki Umat Non-Muslim itu cuma Mekah. Artinya, di kawasan lain ya, pasti ada juga Non-muslimnya. Dan lupa ya, TimTeng itu kan, juga kampungnya Yahudi, pasti ada aja Yahudi di Arab. Lah gimana? Lagi-lagi target operandinya kacau-balau, dong.

Nah, hati-hati buat pecinta internet. Inget slogan iklan (lupa lagi iklan apa), “nggak semua yang lo denger itu bener.” Jadi, tolong, ya. Minimal cari deh, bukti-bukti pendukung dari satu teori yang tiba-tiba nyebar, supaya kita nggak gampang dibodoh-bodohi dan dihasut. Penjajahan itu makin modern, sekarang bisa jadi karakter kita yang dijajah, supaya mereka gampang menyebar hasutan-hasutan itu.

Dan, mudah-mudahan aku juga cukup masuk akal…

Bosan

Aku bukan Alice. Dan aku bukan di wonderland. Aku hanya seorang gadis biasa yang tenggelam dalam mimpi sendiri. Seberapa bodoh itu? Tapi, aku tak mau berhenti. Belum, setidaknya.

Kakiku mulai lelah, otakku mulai mengawang. Rasanya sudah beberapa hari berjalan. Itulah yang terjadi kalau kau berada dalam ketidakpastian. Semua hal tampak jauh dan lama. Terseok, aku bisa merasakan bahwa kakiku mulai protes.

Ada yang bilang, Tuhan itu tepat waktu, mungkin benar, karena kini aku melihat titik cahaya itu. Aku melupakan letih, kakiku juga terlupa, karena ia kini berlari sekuat tenaga. Ketidakpastian adalah sesuatu yang menakutkan, ketidakpastian dalam kegelapan adalah tragedi.

Titik itu tentu saja semakin besar. Itu aturan dalam sebuah kisah. Kalau tidak, maka suatu kisah tidak akan ada artinya. Dia membentuk sebuah pintu. Dalam kegelapan, ia serupa rembulan dengan cahaya lembut. Kakiku melangkah menuju terang, membuatku ingat semboyan emansipasi wanita dari Kartini. Habislah gelap, terbitlah terang.

Ah, ini rumahku.

Aku berdiri di depan pagar hitam yang tertutup. Belum pernah aku segembira ini menemukan aspal yang di beberapa tempat berlubang. Selokan yang membawa segala macam bungkus makanan ringan anak-anak, yang dibuang sembarangan. Sudah berbau busuk, aku menghirupnya dalam-dalam. Baunya tidak sedap, tapi ini bau kenyataan, bau realita yang kukenal.

Mungkin aku berjalan dalam tidur dan alam bawah sadar menunjukkanku jalan keluar dari rumah. Lucu sekali. Aku menghela napas lega. Setidaknya, benar juga, Tuhan memberikanku jalan untuk keluar dari kebosanan. Kalau bosan, tinggal keluar rumah, seharusnya aku tahu. Salah satu guna manusia untuk manusia yang lain.

Dua rumah berselang, ditutup oleh dinding panjang, lalu jalanan beraspal membelah jadi dua bagian. Yang ke kiri dan yang ke kanan. Aku melihat satu bangunan ganjil di sana. Seperti patung tak berbentuk. Ada satu tungkai, yang agaknya kurang jelas, kakikah itu? Tidak, ia menapak, seperti tangan. Seperti orang yang tengah berdiri terbalik.

Kenapa aku mendekat? Karena aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Tiba-tiba dia, apapun itu, berbalik. Aku terbelalak.

“Aaaa!!!” dia, apapun itu, ikut berteriak. Kami berdua, berteriak dalam unison.

Manusia? Bukan manusia? Aku sudah jatuh duduk di aspal, dengan takut-takut menilai apapun itu yang ada di hadapanku. Semua bagian tubuhnya adalah organ manusia, tapi tampak berada di tempat yang salah. Tidak benar, tidak mungkin benar.

“Apa yang terjadi dengan wajahmu?” aku mengangkat alis mendengar pertanyaan itu. Aku baru menyadari bahwa ia juga tengah menilaiku. Menatapku seksama. Sepasang mata bulat, yang benar-benar berbentuk lingkaran, kini menyipit. Serupa bulan sabit. Sinar mata itu bisa kukenali setidaknya. Ia juga sama takut, takjub, tangar* kepadaku.

Dan kata-kata lenyap dalam kekagetan itu. Seharusnya aku yang bertanya, kan? Kenapa kelopak matanya berbentuk lingkaran, bukan almond sepertiku? Kenapa mata itu berada di pipi dan hidungnya malah mendongak ke atas? Kenapa kepalanya setengah botak seperti itu, dengan rambut terkepang di sisi kanan tubuhnya?

Kenapa tangannya di bawah dan tidak bersepatu?! (bersambung)

 

Catatan penulis :

Sampai di sini dulu… Siapa atau apa yang tokoh temukan itu?

Terus baca, ya…

*tangar : aku dapet di web kalau tangar itu sinonim hati-hati atau waspada

aku bikin catatannya, siapa tahu ada yang kayak aku, baru pertama kali denger kata itu hehe…

Enjoy!

Danau Maninjau

lingka_maninjau
gambar diambil dari : genrambai.blogspot.co.id

 

Kalau aku pulang
Masihkah kau menunggu di sana?
Kalau aku pulang
Mudah-mudahan senyum terkembang senada

Di kelok ampek puluah ampek*
Di situ surga yang merayu
Di tepi aspal nan angek*
Di situ surga kan menunggu

Garis cakrawala sempurna
Menaungi bayangan pegunungan
Gemawan bercengkerama dengannya
Merendam kakinya di perairan

Kau tahu
Aku mencintai permata
Yakni ia yang terpantul
Di atas perairan Danau Maninjau

Kau tahu
Aku menyukai emas yang mulia
Yakni ia yang terpantul
Di malam kelam air maninjau

Ia yang tak tergantikan
Ramah menyambut manusia
Ia yang berlimpah ikan
Ramah memberi makan semua

Dan ia terkhianati
Oleh keinginan menyenangkan si buah hati

Kita membeli permata
Kita membeli emas mulia

Tapi

Hilang permata Maninjau
Hilang emas mulia sang danau

Berlimpah kesenangan
Mengusir kebahagiaan
Bias semilir suara angin
Menghilang di balik deru mesin

Danau Maninjau
Di kelok ampek puluah ampek
Dalam semu yang mengigau
Di tengah keseakanan yang merengek

Kalau aku pulang
Akankah kau masih menungguku di sana?

Depok, 15 April 2016

Berapa lama? Sudah berapa detik dan menit aku dalam lorong gelap? Aku kehilangan jejak akan waktu. Semakin lama, rasanya semakin gamang. Rasanya seperti melayang dalam lubang hitam tak berujung, dasar pijakannya saja tidak bisa terlihat.

Aku berhenti melangkah. Takut. Ini mimpi, lalu kenapa bisa terasa menakutkan? Biasanya aku tidak pernah merasa takut dalam mimpi. Biasanya, aku jadi pahlawan dalam mimpiku, yang tidak takut pada bayangan apapun, pada sosok ganjil seperti apapun.

Yah, mungkin belum terlambat untuk kembali, aku pun menoleh. Cahaya dari kamarku sudah jadi titik kecil putih di tengah kegelapan. Lalu, seperti lampu bohlam yang mau putus, ia berkedip-kedip, hingga perlahan ia menghilang sama sekali.

Oh, Tuhan!

Tubuhku sudah condong, mau berlari ke arahnya. Jangan! ada suara di dalam kepalaku. Dia meyakinkan kalau itu lebih bodoh lagi. Berbalik lagi 180′, setidaknya aku tidak akan tersesat dalam lubang hitam. Maksudnya, pasti ada tujuannya dia terbuka, kan? Pasti ada lorong yang mengarah pada sesuatu. Benar, kan?

Aku berbalik, berjalan dalam kegelapan. Melayang antara ketiadaan yang semakin pekat. (bersambung)

 

 

catatan penulis :

oke, kuota internet mau habis,

daripada gak ngepost apa-apa sama sekali,

mending sampai di sini dulu.

Semoga ada yang mau baca dan ngikutin ^^

Sampai jumpa di cerita berikutnya!

Bosan

Navy-blue-and-black-wall-3D-image
gambar diambil dari http://www.newhdwallpaper.in

Kepalaku tergantung pasrah. Lunglai di leher penopangnya. Mataku terpancang ke atas, bukan pada langit-langit, malah lantai. Tubuhku berbaring saja di atas kasur. Kalau sudah begini, artinya satu : aku bosan. Saking bosannya, aku mencoba melihat dunia dengan cara terbalik. Biasanya aku tidak mendapat apa-apa, aku sedang bosan, ingat? Orang yang sedang bosan biasanya karena kurang inspirasi.

Temanku berjanji untuk menelepon. Rahasia, katanya, jadi mungkin menarik. Di hari yang membosankan ini. Apakah tentang temanku yang lain? Perempuan biasanya hobi membicarakan orang, mungkin juga karena kebosanan menjadikan drama kehidupan orang lain jadi menarik. Tapi, ia tak juga menelepon.

Medsos tidak menawarkan sesuatu yang menarik. Ternyata, medsos bisa juga berhibernasi. Dunia di baliknya mungkin sama saja, sedang tidak terinspirasi. “Apapun!” seruku pada langit-langit rumah yang bisu. “Apapun untuk menghilangkan kebosanan ini!”

Ia menjawab dengan gaung lemah. Itu karena rumah yang kosong, sedikit perabotnya. Suara malah jadi terpantul-pantul dan jadi lebih besar daripada seharusnya. Oh, betapa dunia manusia bisa menipu dengan baik!

Aku berbalik, menatap dinding. Ada sesuatu di sana, padahal ia kaku dan monoton. Mataku tak bisa lepas, aku terlalu bosan. Suara mengeklik, pelan. Sepotong balok kecil membuka. Aku mengernyit. Satu lagi. Aku mundur. Dua, tiga. Balok-balok, vertikal dan horisontal, bergeser, mendorong satu sama lain. Seperti puzzle balok itu, yang sedang mencoba mencari solusi lain daripada sekadar tembok.

Di tengahnya, lubang hitam menganga. Mimpi? Ya, tentu saja ini mimpi. Dalam upaya pikiran bawah sadar yang dilanda kebosanan, tanpa pelampiasan energinya yang bergolak, tentu saja mimpi adalah hal paling masuk akal. Aku menatap ke sekeliling, dunia nyata yang sunyi. Rak buku, dengan buku yang sedikit, banyak puing-puing kenangan terserak. Televisi, yang menawarkan acara-acara monoton, yang berkisar tentang drama-drama, maya dan nyata, yang jauh lebih membosankan.

Aku melangkahkan kaki. Di tengah kebosanan, ketidakpastian bisa jadi menyenangkan. Rasa takut digubah menjadi adrenalin yang menggoyahkan akal sehat.

Di lubang itu, aku kini melenyapkan bayanganku. (to be continued)

 

The Little Prince

little_prince

For he never forgot a question once he had asked it.”

Buku ini aslinya ditulis oleh pengarang Perancis, jadi aku, yang nggak ngerti Bahasa Perancis, nggak mungkin baca buku ini dalam bahasa aslinya. Jadi, aku memilih terjemahan dalam Bahasa Inggris. Aku nggak tahu apa ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia apa nggak. Nah, dari sekian banyak, aku dapat terjemahan dari Wordsworth Classic. Ini penting, karena bahasa yang digunakan bisa aja beda-beda.

Buku ini bisa dibilang buku lama karena kali pertama terbit tahun 1943. Tapi, buku ini ditulis dengan luar biasa. Berkisah tentang seorang pangeran kecil (the little prince) yang datang dari sebuah planet yang sangat kecil, bahkan tubuhnya lebih besar daripada planetnya sendiri. Dan dia sendirian di planet itu. Dia bertemu dengan seorang pria dewasa yang terperangkap di tengah gurun pasir Sahara di Afrika. Pria itu (yang jadi narator cerita) menaiki pesawat, dan pesawat itu rusak di tengah jalan. Saat ia tengah tidur di malam hari, tiba-tiba pangeran kecil itu memintanya menggambar domba.

Yang jadi masalah adalah, orang-orang dewasa di sekitarnya telah menyuruhnya melupakan impiannya untuk menjadi pelukis sejak usia 6 tahun. Alasannya adalah karena ia menggambar sesuatu yang tidak dipahami oleh orang-orang dewasa, seekor boa raksasa yang menelan gajah. Akhirnya, ia menjadi pilot pesawat terbang.

Pangeran kecil itu tidak pernah puas akan gambarnya. Kadang dombanya terlalu lemah, kadang terlalu tua, kadang malah dianggap bukan domba sama sekali karena ia menggambar tanduk dengannya. Akhirnya, si pilot menggambar kotak yang ia katakan ada domba di dalamnya. Yang mengejutkannya, pangeran kecil itu puas dengan gambar itu.

Sejalan dengan perkenalannya, si pilot menyadari perbedaan mereka sebagai orang dewasa dan anak-anak. Orang dewasa yang terlalu membutuhkan banyak penjelasan dan bentuk-bentuk yang jelas, berbeda dengan anak-anak yang hanya butuh imajinasi mereka.

Pangeran kecil itu mulai menceritakan perjalanannya hingga sampai ke bumi. Ada satu bunga yang tumbuh di planetnya, wanginya menguar ke seluruh planet. Dia adalah bunga yang sombong, dia sering mengatakan kebohongan, dan sangat butuh perhatian. Namun, saat ia memutuskan untuk pergi dari planetnya, bunga itu meminta maaf. Dan pangeran kecil menyadari bahwa ia seharusnya  menilai bunga itu dari kebaikannya, dan bukan hanya sekadar kata-kata yang suka diucapkannya.

Tapi, sudah terlambat. Ia sudah bersiap-siap dan sang bunga menyuruhnya segera pergi. Pangeran kecil itu hanya bisa berharap bunga itu akan bertahan.

Ia bepergian menyusuri asteroid-asteroid yang ada. Yang ukuran planetnya mungkin jauh lebih kecil daripada planetnya sendiri. Masing-masing planet dihuni oleh orang-orang yang berbeda-beda. Ada seorang raja yang kesepian, yang selalu ingin mengatur sesuatu. Lalu, ada seorang individu yang sombong, yang dibutuhkannya hanya tepuk tangan dan ia merasa senang.

Di planet ketiga, ia bertemu dengan pemabuk, yang mabuk karena ia merasa sedih. Ketika pangeran kecil bertanya kenapa, pemabuk bilang ia sedih karena ia pemabuk! Di planet keempat, dihuni seorang akuntan, yang kerjanya menghitung bintang dan menyatakan itu miliknya. Planet kelima dihuni penjaga lampu, yang kerjanya menyalakan dan mematikan lampu. Ia orang yang paling menyenangkan bagi pangeran kecil, tapi ia terlalu sibuk untuk menyalakan dan mematikan lampu.

Lalu, ada pula seorang ahli bumi, yang selalu membaca buku tentang ilmu bumi, tapi tak sedikitpun tahu tentang sungai-sungai, gunung-gunung yang ada, karena baginya itu tugas seorang penjelajah! Sampai akhirnya, pangeran kecil sampai ke bumi dan melihat kenyataan-kenyataan yang mengejutkan serta membuatnya sedih.

Buku ini brilian karena kompleksitasnya dirangkum dalam bahasa yang sederhana. Terutama, buku ini mengulas bahwa orang dewasa bisa jadi nggak masuk akal dalam memandang suatu persoalan. Seperti pada awal bab, dimana narator menceritakan tentang orang Turki yang menemukan planet di antara asteroid yang begitu kecil. Saat orang Turki itu mempresentasikan planet itu dengan baju Turki, orang-orang dewasa meragukannya. Tapi, begitu ia mengenakan jas yang lengkap dengan dasi, orang-orang dewasa tidak lagi meragukannya!

Sindiran-sindiran terhadap perilaku orang dewasa terus dilancarkan lewat kenaifan pertanyaan-pertanyaan pangeran kecil. Dan pangeran kecil akan terus menanyakan pertanyaan yang diajukannya sampai ia mendapat jawaban.

Seperti pada masing-masing planet yang dikunjungi pangeran kecil. Masing-masing menggambarkan perilaku orang dewasa yang nggak masuk akal. Buat apa seorang raja, kalau tidak ada yang bisa diaturnya? Orang yang sombong hanya membuat orang-orang bosan karena ia selalu butuh perhatian dan pujian. Dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, buku ini akhirnya dinyatakan menarik baik buat anak-anak maupun orang dewasa. Aku sendiri mengakui, karena begitu aku membaca ulang buku ini, aku benar-benar terpengaruh oleh pola pikir pengarang. Memikirkan betapa orang dewasa benar-benar picik dalam memandang suatu persoalan. Berbeda dengan anak-anak yang memiliki keluasan pikiran akibat imajinasi tak terbatas mereka.

Waktu aku baca buku ini, aku bahkan berpikir. Ini buku beneran bisa buat anak-anak? Karena pembahasannya cukup rumit dan penuh simbolisasi tentang perilaku orang dewasa pada umumnya. Tapi, mungkin aku sedang berpikir layaknya orang dewasa. Aku picik dan meremehkan anak-anak. Wah, aku nggak mau tumbuh jadi orang dewasa seperti itu!

Perfume

perfume

Ceritanya, aku menginap di rumah mertua, tanpa laptop. Buatku, itu artinya aku bakal dilanda kebosanan, karena aktivitas paling banyak yang kulakukan itu ya, di depan laptop. Nah, akhirnya aku memutuskan untuk meminjam sebuah buku dari kakak iparku. Sembarang saja, yang penting bisa jadi pereda kejenuhan. Dan, direkomendasikan satu buku ini, judulnya “Perfume.” Setahuku, buku ini sudah difilmkan. Sayang, aku belum lihat juga filmnya. Ketinggalan zaman sekali memang.

Jadi, aku mulai membaca. Dari awal, buku ini sudah mengisahkan tentang tragedi. Banyak sekali buku-buku seperti itu. Karena tragedi sama saja dengan bumbu dalam kesusastraan. Minke yang kehilangan Annelies dalam buku Pram, “Bumi Manusia”, Zainuddin yang terusir dari kampung halaman sendiri dalam buku Hamka, “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, dan lain-lain. Malah, tragedi itu sendiri yang membuat pembaca makin terjerumus dalam cerita, tenggelam dalam penderitaan tokoh, ikut bersimpati, bahkan bersedih karena kesedihan yang dialami tokoh.

Grenouille adalah anak yang lahir di tempat paling bau di seluruh dunia, kira-kira begitu penjelasannya. Ia lahir di gudang ikan, di tengah-tengah bau amis yang menyengat. Ibunya hendak membunuhnya di sana. Entah malang atau untung, ibunya pingsan dan diketemukan oleh warga. Ibunya hampir saja lolos, kalau saja ketika ia hendak pergi, Grenouille tidak menangis kencang, memberitahukan keberadaannya di sana. Warga terkejut. Terlebih, murka ketika tahu bahwa si ibu hendak membunuh bayinya sendiri. Grenouille akhirnya diselamatkan dan dikirim ke ibu susu, sedang ibunya didera hukuman mati.

Ada yang unik dari anak lelaki ini. Tidak ada ibu susu yang tahan dengannya. Ia begitu rakus menghisap air susu, membuat para ibu susu kewalahan. Bapa Tertier, yang diberikan hak asuh atas Grenouille, harus menghadapi kesulitan karena ibu susunya yang terakhir mengembalikan bayi itu kepadanya. “Ia tidak beraroma,” kata ibu susu, yang sama sekali dianggap omong kosong oleh pastur tersebut. Baginya wajar, karena memang ia masih bayi yang belum makan dan menyentuh apapun selain susu, tapi bagi si ibu susu yang sudah terbiasa dengan bayi, itu tidak normal, hampir-hampir seperti permainan setan. Maka, Grenouille kembali ke tangan Bapa Tertier.

Awalnya, pria itu keheranan karena bayi semungil dan semanis itu dianggap anak setan. Ia mengamatinya, mulai merasa bahwa ia bisa menganggap Grenouille anaknya sendiri. Lalu, bayi itu bangun. Seketika, hidungnya mengembang seakan ingin menghisap seluruh udara, hidung itu jelas tengah mengorek-ngorek aroma di sekelilingnya, termasuk aroma Bapa Tertier. Tiba-tiba saja, bayi itu tidak tampak manis lagi, ia merasa tengah ditelanjangi oleh hidung mungil Grenouille. Aneh, tapi itu yang dirasakan Bapa Tertier. Hal itu membuatnya memutuskan untuk meninggalkan Grenouille di salah satu panti asuhan yang dikelola oleh wanita besi, Madam Guillard.

Dimulailah babak baru kehidupan Grenouille yang penuh tragedi. Dari Madam Guillard, wanita yang menjadikan anak-anak sebagai bisnisnya, lalu ia dijual kepada seorang penyamak kulit untuk mengerjakan pekerjaan paling bahaya dan mematikan. Namun, pekerjaan itu justru membawanya kepada seorang ahli parfum yang hampir merasakan kejatuhannya, dan Grenouille remaja akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan dan belajar untuk membuat parfum.

Tumbuh sebagai remaja bertubuh kecil dan bungkuk, apalagi tanpa aroma, Grenouille tidak pernah mendapat perhatian siapapun. Ia seolah tidak ada. Tanpa aroma, orang-orang tidak menyadari kehadirannya. Hal ini membuat Grenouille bertekad untuk membuat parfum terbaik yang bisa memberikan aroma pada tubuhnya. Agar-agar orang menerimanya, agar orang-orang tertarik padanya. Ia mulai mencampur bahan-bahan yang tidak biasa, seperti keju basi, dan semacamnya. Tentu saja, akhirnya, ia mencampur kesturi yang menekan aroma busuk dari bahan-bahan itu, yang justru menciptakan aroma yang membuatnya menarik perhatian orang-orang.

Dan pada saat itu pula, ia mendapat aroma terbaik, aroma dari seorang gadis remaja berusia 15 tahun yang berambut merah. Grenouille jatuh cinta, tidak kepada gadis itu, tapi kepada aromanya. Ia mencekik gadis itu agar ia diam, dan ia menelanjangi si gadis, menghirup dengan rakus aroma tubuhnya. Menggemparkan warga, dengan kematian satu gadis, telanjang, tapi tidak disentuh sedikitpun. Itu aneh, dan semua orang jelas takut kepada hal-hal aneh yang tak terjelaskan. Akan lebih baik kalau si gadis diperkosa, misalkan, karena motif pembunuhannya akan jelas.

Ini adalah awal dimana Grenouille semakin bernafsu untuk menjadikan parfum dari aroma tubuh perawan.

Dari plotnya saja, karya ini bagiku sudah luar biasa unik. Tema seperti ini jarang sekali ada. Memang sih, kalau kisah pembunuhan bisa dibilang tidak asing lagi, tapi motif pembunuhannya menjadikannya sesuatu yang  baru. Terlebih lagi, Patrick Suskind berhasil mendeskripsikan seluruh aroma dengan baik. Dari aroma-aroma sari tanaman yang diperlukan untuk parfum, hingga aroma tubuh manusia yang kadang-kadang digambarkan seperti campuran keju asam dan susu, misalkan. Ya, soalnya setting bertempat di Paris, tentu saja aroma keju menempel kuat pada mereka.

Sebagai orang yang suka menulis, aku juga suka menggambarkan aroma untuk menambah kekayaan rasa dari karyaku. Yang aku temukan adalah, aroma adalah hal yang paling sulit untuk digambarkan. Misalkan, hujan. Aku suka sekali aroma hujan, atau setelahnya, seperti tanah lembap dan kesejukan yang tertangkap indera penciuman. Tapi, untuk menjelaskannya dengan gamblang, dengan cara yang dipahami orang-orang, itu tugas yang benar-benar membutuhkan imajinasi luar biasa. Dan di buku ini, tidak ada satu aroma, semuanya tentang aroma, karena kehidupan Grenouille yang pasti adalah tentang aroma. Wow!

Ada beberapa penggambaran aroma yang sebenarnya sarat dengan budaya dalam setting lokasi yang dipilih Suskind, yang mungkin buat kita, orang Indonesia, agak asing. Di sini mungkin ada jenis-jenis keju, tapi apa mungkin sama dengan keju asam yang diceritakan di buku itu? Aku yakin, tidak. Keju-keju yang ada di Indonesia kebanyakan sudah diolah agar sesuai dengan selera orang Indonesia, jadi rasa dan aromanya tentu tidak lagi sama.

Dan yang paling menggemparkan dalam buku ini, adalah tragedi yang (lagi-lagi) berkaitan dengan kebusukan manusia itu sendiri. Dengan cara lugas yang hampir-hampir kejam, Suskind menggambarkan sifat manusia lewat hidung Grenouille dan tragedi-tragedi yang menimpanya. Pada akhir-akhir cerita, Grenouille merasa mual, karena, walaupun ia menginginkan cinta dari manusia lain, ternyata ia tidak balas mencintai manusia-manusia itu.

Buatku, itu tragedi sebenarnya dari seluruh kisah Grenouille.

SAHABAT

 

Ia bernama Kristianingsih, sahabat yang selalu kukenang. Senyum itu tak pernah hilang dari kenangan, selalu menghangatkan hati orang-orang di sekitarnya. Senyum yang ia perlihatkan bahkan sesaat sebelum ia memasuki masa istirahatnya yang panjang.

 

 

KRISTIANINGSIH dan KASANOVA ANDRIANI TARIGAN

Kristianingsih selalu akrab dengan panggilan ‘Ntien.’ Ia adalah teman yang amat royal dan loyal. Ia tak ragu untuk berbuat apa pun untuk orang-orang di sekitarnya. Ia seringkali menraktir teman-temannya dan membawakan oleh-oleh untuk orangtuanya.

 

KRISTIANINGSIH dan SEPTI DWI HASTUTI

Sifatnya yang ramah selallu membawa keceriaan, terutama tawanya yang khas itu. Ia seringkali berteriak-teriak di luar ruang kuliah memanggil teman-temannya, hingga pernah suatu kali salah satu dosen keluar untuk melihat biang keributan itu. Dengan sigap ia berhasil kabur dari tangkapan dosen itu.

 

SHE IS THE LIGHT, ENLIGHTEN EVERY DAY OF OURS

Masa-masa indah yang ia beri sebagai kenangan telah membuatku mengerti begitu luas dunia ini dengan segala kebaikan. Tidak akan kulupakan, kuhidupkan ia dalam kenangan yang abadi.

antara maya dan nyata