Single and Very Happy (!)(?)

c8b36b9a166c25aa71ac37e26929e507
Gambar diambil dari : pinterest images about Single Anyone?

 

Malam ini aku browsing, seperti biasa, favoritku masih FB. Makin tua emang makin susah menjelajah tempat-tempat baru hehe. Nah, pas lagi liat-liat wall, ada dua portal berita yang kebetulan dua-duanya aku suka, Psychology Today dan Upworthy. Sebut merek deh, biar promo sekalian. Psychology Today, karena banyak penelitian psikologi, dan background pendidikanku emang dari Psikologi, jadi cocok aja bahasannya. Kalau Upworthy, aku suka artikel-artikelnya yang banyak berbasis ke hal-hal kemanusiaan, dan kisah inspiratif (yang nggak perlu mengharu-biru, tapi tetep ngena).

Yang spesial di malam ini, dua-duanya pas banget dalam waktu berdekatan, sharing artikel tentang wanita single (heran deh, kenapa nggak pernah bahas pria single, sih?). Keduanya memposting hal-hal yang positif seputar dunia per-single-an.

It makes me think…

Selama ini, aku ngeliat di sekitarku, orang-orang kebanyakan bilang, “menikah itu enak.” Alasannya entah apa, tapi mereka cuma ngomong gitu. Orang Indonesia paling males ngasih alasan. Atau mereka emang nggak tahu apa alasan dari opini mereka sendiri? Wah, aku nggak tahulah. Ujung-ujungnya, mereka yang udah nikah mendorong-dorong orang yang single buat menikah juga. Lama-lama, itu jadi budaya, keluarlah meme-meme jones alias jomblo ngenes. Lucunya sih, jomblo-jomblo juga yang mempopulerkan (jomblo asik nih, kalau udah nyaman sama pilihan, biasanya emang kita nggak perlu ngerasa nggak nyaman sama opini orang lain).

Nggak cuma karena itu sih, mungkin yang tinggal di Indonesia sering denger pepatah lama; “menikah itu ibadah.” Bagi umat muslim emang menikah karena Allaah itu ibadah, karena di Indonesia mayoritas muslim, makanya slogan itu juga jadi populer. Akhirnya, menikah jadi semacam kewajiban yang nggak bisa ditawar. Pertanyaan “kapan nikah” juga akhirnya jadi momok bagi sebagian orang. Males banget, pengen ngumpul seneng-seneng, malah ditodong sama pertanyaan “kapan nikah?” seakan-akan semua orang merasa punya kewajiban moral atas orang-orang yang belum nikah.

Seperti halnya, hukum aksi-reaksi dalam fisika… Atau hukum kausalitas alias sebab-akibat yang berlaku…

Akhirnya, timbul kekesalan pada orang-orang single ini. Apakah mereka yang single ini emang suka jadi single atau kebetulan aja belum dapet calon yang cocok, mereka meng-counter attack perilaku orang-orang yang hobi nikah ini (lah, poligami/poliandri, dong?) Yah, pokoknya yang berideologi “menikah itu satu-satunya ibadah,” deh. Timbullah banyak artikel-artikel yang menunjukkan bahwa single itu enak, lho. Single itu nggak sepi, kok, malah banyak temen. Malah, katanya single itu lebih intelek karena mereka lebih selektif (kalo yang ini keliatan banget counter attack-nya). Dan lain sebagainya. Akhirnya, timbul gerakan ayo single!

Dan mulailah perang meme antara yang pro-single dan kontra-single. Ada apa sih, Indonesia ini? Semuanya mesti perang, entah Jokowi vs Prabowo, entah NU vs Muhammadiyah, entah Ahok vs Risma, entah apalagi, tuh. Duuuh, udah ada wefie para cagub dan cawagub gitu, lho. Kita-kita yang di bawah ini harap rukun, kek. Biar aman-tentram hidup kita. Oke, melenceng.

Emang manusia-manusia yang hidup dalam propaganda, yang kadang-kadang kelewat radikal, lupa kalau hidup ini dipenuhi dengan dualisme, yang sebenarnya justru menyeimbangkan dunia (baik sadar atau nggak sadar). Kenapa sih, ada bayangan yang gelap? Kan, karena ada cahaya. Kenapa sih, bintang bisa keliatan biar jauh banget begitu? Kan, karena langit malam sangat gelap, makanya cahaya bintang itu nggak ketutupan sama terangnya langit siang.

Sama aja dengan sikap radikal mereka, yang pastinya akan menimbulkan reaksi kontra yang nggak kalah dahsyat. Coba, kalau mereka santai aja, yang single juga bakalan santai aja dan jujur-jujur aja tanpa pretensi. Mungkin mereka emang sebenernya pengen nikah, tapi belum dapet calonnya aja. Atau, mereka emang nikmat aja jadi single, tapi nggak perlu dengan menolak bahwa menikah punya keindahannya tersendiri?

Dengan begitu, nggak perlu ada rasionalisasi bertebaran hanya untuk mendukung yang single tetap single. Dan, berujung pada clash antara dua kubu lagi. Capek, euy!

Single itu bahagia! Bener kok, ada hal-hal yang bisa kita dapet cuma waktu kita single, kayak waktu me-time yang jauh lebih banyak, keuangan yang lebih stabil (biar nggak ada pemasukan banyak dan tetap, lebih stabil kalau sendirian daripada banyak mulut, kan), nginep berhari-hari di tempat temen yang juga single atau dimanapun kita suka. Nah, curhat, haha… Jadi, kalau para single itu memilih single karena mereka suka, hidupnya ya, pasti akan nikmat. Sama nikmatnya dengan orang yang menikah karena emang pengen nikah. Bayangin aja kalau dipaksa nikah kayak Siti Nurbaya, pasti menikah itu jadi mimpi buruk.

Aku sendiri memandang, single yang sengaja meng-counter attack orang-orang yang usil sama kehidupan pribadi orang lain ini, lumayan bahaya juga. Mereka lupa akan satu pertanyaan yang paling penting : “apa sih, yang gue mau buat rencana masa depan gue?”

Daripada menjawab itu, mereka sibuk merasionalisasi diri, biar anti-mainstream, atau sekedar bikin kesel orang-orang yang usil. Belakangan, aku merasa rasionalisasi itu merambah ke media-media. Makin banyak artikel yang mengulas tentang kehidupan single dan segala daftar panjang yang bisa kita lakuin kalau kita single. Aku ngeliatnya malah jadi propaganda baru (sebenernya udah lama, sih) untuk jadi single, daripada sekedar membesarkan hati orang-orang yang mencoba bertahan di tengah-tengah propaganda ayo nikah ini.

Sisi positif dari rasionalisasi adalah emang membantu kita untuk menyesuaikan diri dengan stres. Sisi negatifnya, dia membuat kita kabur dari kenyataan. Rasionalisasi dan kebenaran itu beda, lho. Rasionalisasi itu pembenaran, fakta-fakta yang kita pakai untuk diri kita, padahal belum tentu itu sesuai dengan kenyataan yang ada pada diri kita. Bener sih, tapi emang itu alasan yang sebenernya di hati kita?

Dengan begitu, kita jadi mencoba membohongi diri dengan bilang kita baik-baik aja. Padahal, kalau nggak sesuai dengan yang kita mau dalam hati, ya bisa jadi rasanya malah jadi nggak enak. Mungkin suka ketemu sama wanita single yang berumur, kerjaannya marah-marah mulu. Kayak nggak punya kesenangan hidup. Sebaliknya, kalau cocok, jadinya enak banget. Aku juga sering ketemu wanita single yang baik banget, humoris, baik-baik aja tanpa pasangan.

Sama aja kayak orang nikah. Kalau emang cocok dengan target, menikah itu pasti bikin hidup jadi asyik. Karena kita nyaman di dalemnya. Tapi, kalau kita menikah cuma karena nurut kata orang tua, atau karena yakin banget dengan slogan menikah itu ibadah, tapi sebenernya nggak siap berkompromi tentang banyak hal dengan pasangan, ya menikah itu nggak bakalan enak.

Jadi, yang paling penting adalah membuat rencana terbaik dan paling tepat buat diri kita. Kita lebih cocok single, ya silakan single selamanya. Kalau kita sebenernya deep down pengen nikah, kenapa nggak nikah aja? Jadi, sebenernya kita nggak perlu ngasih alasan macem-macem cuma untuk bilang “I’m single and very happy!

Kalau kita bisa menimbang-nimbang dengan cermat, tanpa prasangka atau tanpa ego yang kelewat tinggi, tentang apa yang terbaik buat kita, hasilnya akan baik, apapun yang kita pilih. Sehingga, propaganda ayo nikah atau propaganda ayo single nggak ada pengaruh buat kita, terutama para cewek, selain buat rekreasi hati aja.

Jadi, tentukan waktu yang tepat untuk memilih, ya… (menghindari pertanyaan seperti orang-orang usil lainnya dan masih belajar buat nggak usil hehe…)

 

Advertisements

“Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”

Pengarang : Soe Hok Gie

Pengantar : Prof. Dr. Ahmad Safii Ma’arif

Penerbit : Bentang

Tebal : 358 halaman (dengan 76 halaman daftar pustaka, pengantar, dan index)

 

 

Pas banget lagi tanggal 30 September, yaitu peringatan peristiwa pembunuhan jenderal-jenderal yang (katanya) dilakukan PKI, aku baca salah satu skripsi Soe Hok Gie tentang perkembangan PKI di masa pasca-proklamasi. Nah, aku niat banget posting hari ini jadinya. Tapi, sama sekali nggak menyangkut peristiwa G 30 S/PKI, ya! Minimal nyambung-nyambung dikitlah, masih soal PKI.

Pertama yang mau kubahas adalah pro-kontra soal PKI. Bahkan, sampai sekarang PKI udah nggak ada pun, orang-orang masih aja takut sama ‘hantu’ yang diciptain entah siapa. Apa lagi kepentingannya ngegunain nama PKI, aku nggak tahu. Tapi, aku pribadi sih, nggak percaya PKI bisa bangkit lagi, bekingannya siapa? Dan kalaupun iya, emang kenapa ditakutin? Politik zaman feodal yang penuh kekerasan kan, nggak mungkin hidup lagi di tengah masyarakat yang udah cerdas begini.

Nah, teralihkan. Balik ke resensi buku. Menurut pengantarnya, buku ini sebenarnya skripsi yang ditulis Soe Hok Gie tahun 1969, yang judul aslinya “Simpang Kiri Sebuah Jalan : Kisah Pemberontakan Madiun September 1948.

Sebelum masuk ke tulisan asli Soe Hok Gie, di sini nggak ada keterangan kalau ini karya asli tanpa editan (unaubridged atau aubridged version kalau istilah Inggrisnya, aku nggak tahu istilah Indonesianya apa), mending baca dulu pengantar dari Ahmad Safii Ma’arif. Yang aku lihat sih, ada sedikit pernyataan yang kontra-PKI, seperti deskripsi dia tentang pemuda-pemuda PKI yang ‘sok revolusioner.’ Ke belakang sih, pernyataan itu dikeluarkan juga dari Soe Hok Gie, aku ngerasa ini kurang baik buat karya ilmiah yang harusnya diminimalisir subjektivitasnya, walaupun mungkin nggak bisa 100%.

Buku ini sebenernya bukan tentang perjalanan PKI secara menyeluruh, tapi seperti halnya skripsi atau karya ilmiah, dia merupakan studi kasus dari satu fenomena khusus. Di sini, kasus yang mau diangkat Soe adalah tentang pemberontakan Madiun oleh Musso, salah satu fenomena sejarah yang banyak diungkit juga di buku-buku sejarah anak SMA. Dalam skripsinya, ia menganalisa sebab-sebab meletusnya pemberontakan Madiun yang memakan banyak korban jiwa itu.

Diawali tentang sekelumit kisah-kisah tokoh yang jadi pelopor perkembangan PKI di Indonesia, tentu saja termasuk pula Musso, yang disebut-sebut sebagai penggerak pemberontakan. Di sini disebutkan tokoh-tokoh besar di depan layar, yang mungkin udah sering kita dengar namanya, seperti Musso itu, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Amir Sjarifudin, dan lain-lain. D.N. Aidit malah kurang banyak disebut, mungkin karena D.N. Aidit masih generasi muda waktu itu.

Selanjutnya, Soe membatasi tulisannya dalam pergolakan internal di tengah-tengah PKI, dimulai dengan pecahnya PKI menjadi dua kubu, yaitu grup Alimin-Sardjono dan grup Tan Malaka. Dan dari perpecahan ini, PKI mulai mengalami kemunduran dari segi ideologis, yang berdampak pada situasi psikologis dalam tubuh PKI sendiri.

Adanya intervensi pihak asing dalam pemerintahan Indonesia, juga dengan Sjahrir yang bersikap kooperatif dengan asing, menimbulkan kekecewaan pihak-pihak yang menginginkan revolusi Indonesia, yaitu Indonesia yang merdeka seutuhnya. Kekecewaan ini ditambah-tambah dengan situasi politik PKI yang simpang-siur, dan akhirnya diletuskan oleh pembunuhan Kolonel Sutarto di Solo. Inilah cikal-bakal pemberontakan Madiun. Dari pelajaran yang kudapat dulu sih, otaknya itu Musso, tapi di buku ini, waktu pemberontakan Madiun, ditandai sama diproklamirkannya Pemerintah Fron Nasional (kayak kudeta terhadap pemerintahan, gitu), Musso sendiri justru lagi nggak ada di tempat. Belakangan, salah satu tokoh PKI, yaitu Soeripno, menjelaskan bahwa PKI nggak bermaksud untuk meletuskan pemberontakan, apalagi kudeta, karena petingginya sendiri justru lagi sibuk sama reorganisasi dan fusi partai PKI yang kepecah-pecah.

Ada beberapa teori soal ini, silakan baca sendiri ya, untuk lebih jelasnya.

Nggak seperti buku sejarah lainnya, tulisan Soe Hok Gie ini nggak digambarkan berdasarkan kronologis yang kaku, jadi kalau detail-detail kayak masuknya pengaruh komunisme di Indonesia dibawa sama siapa, dan kapan terjadinya, nggak disebutkan di sini. Soe lebih mementingkan situasi sosial dan psikologis yang menjadi dasar masuknya paham sosialisme-komunisme di Indonesia. Salah satunya ya, keinginan rakyat untuk mengubah situasi sosial-politik yang masih bernapaskan feodalisme.

Nggak hanya penjajahan Belanda, orang pribumi sendiri juga masih banyak menerapkan prinsip feodalisme. Kayak masih berlakunya sistem sewa tanah yang memberatkan tani, tukang ijon (semacam lintah darat), dan banyak lagi. Jadi, idealnya sih, ideologi sosialisme-komunisme ini menurutku indah banget, karena slogan mereka juga satu rasa, sama rasa. Artinya, dalam ideologi ini, nggak ada tuh, dominasi dari pihak kapitalis, jadi nggak ada kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat. Idealnya ini, lhooo…

Sayangnya, komintern nggak setuju kalau ajaran komunisme ini dicampuradukkan sama agama (ini yang bikin Tan Malaka jadi bersitegang sama komintern), sedangkan dogma agama di Indonesia itu kuat banget, akibat pengaruh para pendatang. Makanya, ketidakcocokan ini akhirnya jadi bumerang buat PKI, dimanfaatkan juga buat ngejatuhin pamor PKI.

Nah, pembicaraannya jadi ngarah ke politik, deh.

Sesuai dengan deskripsi pengantarnya, buku ini disajikan seperti “sebuah novel sejarah dramatis yang menegangkan,” emang Soe Hok Gie nggak melulu menggambarkan kronologis detik-detik pemberontakan ini dengan cara yang kaku. Soe juga memasukkan analisa kondisi psikologis pemuda yang kebingungan saat dihadapkan dengan ideologi politik PKI yang simpang-siur, contohnya Sjahrir yang banyak kompromi dengan kaum kapitalis dan pemerintah, bahkan Belanda sendiri (ini waktu muncul fasis Jerman, jadi semua negara bergabung melawan fasisme, termasuk juga PKI, yang bergabung dengan Partai Komunis di Belanda).

Kerennya sih, buku ini emang agak mirip novel, yang punya pola konflik-klimaks-antiklimaks, jadi kita bisa menikmati plot yang sama kayak kita waktu baca novel fiksi. Jadinya, asyik buat kita yang mau belajar sejarah juga. Bukan berarti, unsur kekakuan sejarah hilang ya, soalnya waktu baca buku ini kita bakal dihadapkan dengan berbagai nama, tanggal, dan tahun peristiwa. Juga, berbagai keputusan-keputusan belibet dari kongres-kongres serta rapat-rapat yang diselenggarakan PKI.

Sayangnya, buku ini rasanya dikhususkan sama pengamat politik aja, kurang bisa masuk untuk santapan orang awam atau yang buta-politik. Kalau dari skripsi Soe Hok Gie emang nggak ada penjelasan soal itu, wajar. Karena itu emang karya ilmiah yang pastinya punya istilah-istilah teknis sendiri yang udah dikenal sama kalangannya. Tapi, seharusnya Ahmad Safii, selaku pengantar buku ini, paham kalau buku ini bakal jadi santapan massal, jadi enaknya istilah-istilah teknis itu dikasih penjelasan (banyak istilah politik dan juga bahasa Belanda, bahkan ada teks dalam Bahasa Perancis, yang nggak diterjemahin). Dia ngasih pengantar sih, tapi menurutku nggak ngebantu, karena sifatnya malah mirip daftar pustaka. Padahal, yang diperluin itu detail peristiwa yang nggak dijelasin sama Soe Hok Gie. Misal, di halaman 56, ada peristiwa sabotase-sabotase kereta api, ada catatan kakinya, tapi cuma sumbernya aja yang ditulis, ringkasan kronologisnya nggak ada. Jadinya, yang nggak paham politik, kayak aku, jadi pusing dengan detail-detailnya.

Jadi, yang kurang dari buku ini sebenernya ya, pengantarnya. Kalau skripsi Soe Hok Gie sendiri, menurutku keren banget karena dia bisa menganalisa tuntas sebab-sebab meletusnya pemberontakan ini, dan juga lumayan objektif. Selain, satu kali dia nyebut-nyebut pemuda sebagai sok revolusioner, sih.

 

Catatan penulis :

Daaaan, gagallah resolusi untuk posting resensi buku ini pas tanggal 30 September… 😀

 

 

“The Little Women”

Pengarang : Louisa May Alcott

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun : 1993

Halaman : 224 halaman

 

 

Klasik.

Akhir-akhir ini aku sering mengincar novel klasik buat bacaan. Karena segala sesuatu yang klasik, tapi masih bisa bertahan sampe sekarang, pasti punya nilai sendiri. Makanya, aku coba untuk mempelajari nilai-nilai yang ada di mereka.

Beautiful little world…

Begitu aku baca buku ini, kata-kata ini yang terus kepikiran. Kenapa? Soalnya, buku ini memang menyajikan kisah-kisah yang bener-bener moralis, tentang kehidupan yang tenang di satu desa. Rasanya, begitu aku baca novel ini, muncul harapan-harapan tentang kehidupan moralis yang ideal, tanpa ada orang-orang jahat atau keji di sekeliling kita.

Sebenernya, aku rasa kisah ini lebih dekat dari kenyataan daripada sinetron dengan orang-orang jahat bermata melotot itu. Karena, kenakalan-kenakalan atau kekurangan-kekurangan kecil dalam diri manusia yang ada di dalamnya, disajikan dengan ringan. Itupun dengan pemikiran awal, kalau semua manusia itu pada dasarnya baik.

Oke, kayaknya aku terlalu bertele-tele soal ini. Lanjut deh, ke sinopsis ceritanya.

Sederhana aja, seperti judulnya, Little Women mengisahkan tentang 4 anak wanita yang bahkan belum akil balig. Mereka tinggal dengan ibunya dan satu pengasuh, sedang ayah mereka pergi berperang untuk membela negara. Settingnya ada di Amerika. Yang menarik dari buku ini, seolah ingin menjelaskan bagaimana pedalaman wanita-wanita kecil ini, Louisa May Alcott memulai adegan dimana masing-masing anak wanita itu mengeluh dan bermimpi tentang kehidupan yang mereka mau.

Mereka adalah anak-anak baik yang bisa dibilang sangat miskin. Karena ayah mereka pergi berperang, maka ibu mereka menjadi tulang punggung keluarga, bahkan dua anak tertua, Margaret dan Josephine, pergi bekerja untuk menambah pemasukan mereka. Sedang, Elizabeth dan anak termuda, Amy, membantu ibu mereka dengan pekerjaan rumah. Lebih banyak Beth karena Amy tidak hanya termuda, tapi anak yang paling dimanja di antara keempatnya.

Masing-masing dari mereka punya karakter sendiri-sendiri.

Margaret, yang akrab dengan panggilan Meg, adalah anak wanita tertua, berusia 17 tahun. Digambarkan sebagai perempuan muda yang cantik dan anggun, Meg sangat memperhatikan penampilan dan berambisi untuk menjadi kaya dan memiliki rumah yang mewah dengan segala perabotan yang wah.

Josephine, anak kedua yang berusia setahun saja di bawah Meg, sangat suka menulis. Ia gadis yang penuh vitalitas, kalau sekarang sih, disebutnya tomboy, ya. Tapi, tahulah, kalo setting di zaman itu, nggak ada yang namanya tomboy, semua harus bersikap selayaknya “wanita.” Blak-blakan, kurang mampu mengendalikan emosinya, serta nggak peduli sama penampilan, Jo digambarkan oleh Louisa sebagai pribadi yang unconventional. Membenci namanya sendiri, dan dia hanya mau dipanggil dengan nama “Jo.”

Anak ketiga, paling berbeda dari yang lainnya, Elizabeth, atau Beth, anak yang pendiam dan sulit bergaul. Ia takut dengan orang asing, sangat pemalu, tapi kebaikan hatinya mengalahkan ketiga saudaranya yang lain. Ia yang biasa membantu ibunya sepenuhnya di rumah, menyukai pekerjaan rumah tangga dan jadi anak paling sederhana di antara semuanya. Bahkan, di satu scene, Beth menyatakan mimpinya adalah memberikan rumah yang nyaman untuk ditinggali bagi ibu dan ketiga saudaranya yang lain.

Keempat, bernama Amy. Baru berusia 12 tahun, Amy adalah anak bawang kebanyakan. Anak bawang yang ingin sekali menyusul kakak-kakaknya, jadi dia bersikap lebih dewasa daripada anak-anak seumurnya. Keinginannya adalah menjadi seorang wanita sejati, terkadang sedikit angkuh untuk menunjukkan hal itu. Oh, dia juga lebih manja dibanding yang lainnya.

Mereka tinggal bertetangga justru dengan pria tua yang sangat kaya raya. Pria tua itu adalah teman ayah mereka dan sangat dermawan kepada mereka. Kebetulan, ia memiliki cucu yang seusia dengan Jo, bernama Laurie. Atas usaha Jo, suatu ketika, Laurie, yang kebanyakan dituntut untuk tinggal di rumah dan belajar oleh kakeknya, akhirnya akrab dengan mereka. Sejak itu, Laurie lebih sering bergaul dan menjadi anggota dalam keseharian mereka.

Louisa May Alcott menggambarkan konflik-konflik mereka dalam kumpulan-kumpulan cerita singkat. Seperti saat anak-anak keluarga March sangat senang bisa libur seminggu, tapi malah mendapat pelajaran bahwa nggak selamanya bermain terus itu menyenangkan. Ada lagi kisah tentang perang dingin antara Jo dan Amy, yang menyebabkan Amy kecelakaan, kisah Meg yang bermimpi menjadi lady yang kaya dan punya semua benda-benda mewah, malah berhadapan dengan kebusukan teman-temannya yang kaya. Kisah-kisah kecil yang berujung pada pelajaran moral yang manis.

Buat penyuka konflik berat, buku ini bisa jadi membosankan. Aku sendiri harus ngaku kalau aku sempet ngerasa bosen waktu baca buku ini. Karena, aku suka buku-buku yang menyajikan kisah-kisah yang sarat konflik. Tapi, bagaimanapun, aku terkesima dengan cara penulis ini menyampaikan keindahan-keindahan moral lewat konflik-konflik kecil yang deket banget dengan keseharian kita sendiri.

Tapi, emang novel ini diperuntukkan buat anak-anak, jadi gambaran moral yang deket dengan keseharian itu cocok banget. Aku sedikit nggak nyangka, sih. Selama ini aku mikir “Little Women” itu ya, novel-novel seperti punya Jane Austen, dkk. Karena modelnya juga nggak ada karikatur-karikatur, tulisan semua (dangkal banget, ya!)

Satu keuntungannya, kalau kita lagi bosen, mau kita taruh buku ini lama-lama, trus kita lanjut baca lagi, kita nggak bakal kebingungan karena sibuk mengingat-ingat konflik sebelumnya apa. Seperti serial TV, konfliknya habis di setiap bab. Sayangnya, kadang-kadang ini bikin ceritanya juga kayak lompat-lompat, jadi nggak terlalu nyambung antar babnya.

Biarpun begitu, aku suka dengan penggambaran Louisa tentang emosi anak-anak itu, terutama menyangkut ayah mereka yang jauh di medan perang. Mereka sedih, tapi mereka bersikap positif dan justru memperkuat mereka untuk terus berusaha jadi anak-anak yang baik. Aku selalu suka penggambaran kesedihan dari sudut pandang yang optimis. Bener-bener melambungkan harapan tentang hidup! (Makanya, paling sebel sama acara dokumenter tentang kehidupan orang papa, tapi pembawa acaranya nangis dan backsoundnya pasti lagu-lagu sedih. Padahal, mereka bisa ngegambarin itu dari perjuangan dan semangat yang tetap orang-orang itu pikul. Indah, kan?)

Jujur aja, sebagai novel anak (mungkin lebih ke anak yang mulai remaja, karena penggambarannya tentang konflik dan pelajarannya cukup rumit juga untuk anak kecil), aku nggak (atau belum) menemukan kelemahan dari novel ini. Bukannya mencoba cari-cari kelemahan karya orang ya, tapi wow banget kalau bisa nemu karya yang sempurna!

 

#31HariBerbagiBacaan

“Maryam”

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2012

Tebal buku : 275 halaman

 

 

“Pemenang Khatulistiwa Literary Award 2012”

 

Waktu pertama kali baca buku ini, yang langsung terpikir adalah : ‘ooh, jadi nggak perlu susah-susah bikin prosa yang sangat sastrawi (apa ya, ini maksudnya?) alias nyastra buat jadi pemenang di Khatulistiwa Literary Award?’ Sok ngegampangin! Haha…

Tapi, nggak sesederhana itu memang! Pertama, tema dari buku ini nggak sembarangan. Dengan tema tentang Ahmadiyah yang dicap sesat dan sempat menimbulkan kericuhan di tengah Umat Muslim beberapa saat lalu, penggambarannya pasti nggak bakalan semudah itu.

Buku ini dimulai dengan kisah kepulangan Maryam ke Gerupuk, daerah kelahirannya. Ia memang seorang perempuan yang tumbuh di tengah-tengah warga Ahmadiyah di sana. Di sana, warga Ahmadiyah menjadi kalangan minoritas, walaupun dengan agama yang akarnya masih sama, yaitu Islam. Biarpun begitu, warga lain yang berkeyakinan Islam mayoritas tidak mempersoalkan hal itu. Mereka hidup dalam damai.

Orang tua Maryam mendidik Maryam untuk tetap berkeyakinan teguh pada agamanya sendiri, walaupun berbeda dan mendapat cemoohan dari orang lain. Ya, Ahmadiyah memang dinyatakan sesat di negeri Indonesia ini, bahkan ditentang oleh masyarakat Muslim mayoritas. Dan memang keyakinan Maryam tetap teguh dan tidak goyah hingga ia dewasa. Sampai ia bertemu dengan Alam. Keyakinannya mulai luntur karena cintanya kepada Alam, yang memang bukan Ahmadi. Bahkan, nasehat ayah dan ibunya tidak lagi ia dengarkan.

Ia pun menikah, walau tanpa persetujuan orang tuanya. Karena kondisi ayahnya yang beraliran Ahmadiyah, mertuanya juga tidak menginginkan ayahnya menjadi wali nikah. Sejak itu, komunikasi dengan keluarganya terputus karena Alam menolak menjadi Ahmadi dan Maryam lebih mengikuti suaminya, termasuk soal agama. Lima tahun kemudian, Maryam bercerai dengan Alam.

Di tengah kepenatannya, ia mengingat lagi kehangatan yang ditawarkan keluarganya dan memutuskan untuk pulang. Ia terkejut saat rumah keluarganya kosong. Yang tinggal hanyalah Jamil, orang yang dulu suka membantu di rumahnya. Dari mulut Jamil, Maryam mengetahui bahwa keluarganya telah diusir karena mereka dianggap menyebarkan aliran sesat. Tahun 2001, tiba-tiba saja keadaan berbalik dan kerukunan seolah tidak pernah ada. Warga Gerupuk bersatu-padu melakukan pengusiran terhadap anggota Ahmadiyah. Maryam terkejut dan sedih, karena ia tak pernah tahu tentang peristiwa itu.

Berbekal sedikit pengetahuan dari Jamil, Maryam mencari Zulkhair, kepala organisasi Ahmadiyah di daerah itu. Darinya, ia mendapatkan cerita lengkap tentang pengusiran itu serta dimana keluarganya berada sekarang. Sempat berada di pengungsian, para anggota Ahmadiyah kembali membangun hidupnya di daerah lain yang bernama Gerugung. Dengan bantuan anggota-anggota yang berada, mereka berhasil membangun satu pemukiman khusus mereka. Di sana, Maryam menemui keluarganya.

Tanpa memedulikan masa lalu, keluarganya menyambut Maryam dengan hangat. Seolah ia tidak pernah menghilang, bahkan setelah menceritakan kisahnya dengan Alam, pernikahannya seolah tidak pernah ada. Tidak pernah lagi disebut. Setelah itu, dimulailah kisah kebangkitan Maryam, membangun kembali hidupnya walau tak lagi seiman dengan keluarganya. Bahkan, ia kembali menikah dengan orang Ahmadi bernama Umar. Kehidupan mereka tenang-tenang saja hingga masyarakat Gegerung kembali mulai beraksi, hendak membubarkan organisasi Ahmadiyah.

Lanjutannya, silakan baca bukunya, ya!

Gaya bercerita dari Okky Madasari ini termasuk sederhana. Ia tidak menggunakan bahasa aneh-aneh dan juga tidak memainkan komposisi cerita atau alurnya, sehingga mudah untuk dimengerti, walaupun temanya termasuk berat, yaitu satire berbumbu agama. Tema agama selalu jadi topik sensitif dimana-mana, bahkan di negara liberal. Jadi, keberanian Okky Madasari mengangkat tema agama ini perlu diacungin jempol.

Okky Madasari juga kuat soal narasi. Dia memberikan gambaran setting lokasi dengan cukup akurat. Narasinya bisa membuat kita membayangkan Gerupuk dan Gegerung yang menjadi tempat tinggal keluarga Khairuddin (nama ayah Maryam) dengan mudah.

Tema sosial yang diangkat Okky juga tergambar dengan cukup baik, sehingga kita bisa ikut merasakan penderitaan anggota Ahmadiyah yang terusir hanya karena berbeda aliran. Rasanya tidak ada lagi jaminan kebebasan beribadah, seperti yang diagung-agungkan di Pancasila (ups, sudah beda nih, pembahasannya!)

Yang sedikit kusayangkan, Okky kurang banyak menggali soal Ahmadiyah. Oke, Okky menjelaskan bagaimana deskripsi kehidupan mereka yang melakukan pengajian dan bagaimana mereka berusaha mengikat kekeluargaan dengan sesama Ahmadi. Penjelasan ini cukup baik, tapi nggak menggambarkan esensi Ahmadiyah sendiri. Misalnya, aku bakalan lebih menghargai kalau sekilas Okky bisa menjelaskan sesuatu yang lebih khusus tentang ajarannya. Nggak perlu mendalam, tapi cukup untuk menjelaskan kalau itu Ahmadiyah. Kalau pengajian sih, semua agama juga punya.

Lalu, aku kurang puas sama penggambaran karakternya. Awal-awalnya sih, aku suka dengan karakter Maryam yang pemberontak, tapi makin ke belakang, karakternya malah makin nggak inspiratif. Ini novel kan, judulnya “Maryam,” jadi aku mengharapkan kalau karakter Maryam ini bakalan menjadi tokoh kunci dari segala konflik dalam cerita.

Nyatanya, karakter Maryam digambarkan plin-plan. Nggak ada penjelasan kalau dia balik ke Ahmadi setelah dia cerai sama Alam, atau malah emang menemukan keyakinan berbeda, walaupun dia tetap bersama keluarganya.

Perjuangan Maryam untuk membela komunitasnya juga nggak terlihat. Kalau dari keragu-raguan Maryam tentang imannya sendiri sih, sebenarnya cocok. Kalau kita bicara soal realita, emang banyak orang-orang yang punya karakter kayak Si Maryam ini, tapi ini novel. Seberapapun realistis, bukannya kita selalu butuh fokus cerita? Entah Maryam mau jadi pemberontak, pahlawan, ataupun tokoh dengan aksi yang drastis. Dan aku nggak nemuin itu, dan aku kecewa. Sama aja kayak suami kedua Maryam, kelakuannya sama. Cocok banget, deh. Realistis, tapi kita bisa nonton berita aja kalau mau yang bener-bener serealistis itu.

Aku suka gimana cara Okky menceritakan penderitaan Umat Ahmadiyah di penampungan. Bener-bener menyentuh hati kita. Konfliknya juga digambarkan dengan baik, sehingga bisa menimbulkan empati sama Umat Ahmadiyah. Sayangnya, pas masuk klimaks, aku kurang dapet emosi yang memuncak. Aku rasa sih, klimaks itu mau digambarin waktu Maryam mulai berselisih dengan sahabat dan keluarganya yang memegang keyakinan Islam mayoritas, tapi tiba-tiba Umar (suami keduanya yang Ahmadi galau juga haha) misahin mereka, trus udah. Udah? Minimal, jambak-jambakan gitu, mbak! 😀

Sejauh ini, biasanya aku ngerasain ini dalam karya-karya orang Indonesia. Konflik mulai panas, makin panas, belum orgasme, udah jatuh lagi ke anti-klimaks.

Apa, sih? PHP banget…

Bagaimanapun, keberanian Okky mengangkat tema kontroversial (pas lagi panas-panasnya), sekali lagi, perlu diacungi jempol. Jadi, dapet dua jempol, nih. Biar Maryam dan Umar cari aman, yang penting penulisnya nggak! Hehe…

 

#31HariBerbagiBacaan

“The Sinden”

img_20160915_163054_666

 

Judul : The Sinden

Pengarang : Halimah Munawir

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 143 halaman

 

Don’t judge the book by its cover. Itu pepatah yang tepat soal buku ini. Pertama kali aku ngeliat covernya, aku tertarik. Apalagi judulnya yang menyebut-nyebut ‘sinden.’ Temanya cukup unik karena setahuku jarang ada penulis yang mengangkat tema itu. Apa buku ini sukses mendiskripsikan sinden dengan baik? Itu lain soal.

Plotnya sendiri cukup simpel. Seorang wanita paruh baya, yaitu Nyi Inten, terobsesi dengan dunia sinden. Ia sendiri telah berkarir di dunia tersebut dan menjadi sinden ternama. Ditambah dengan dingklik, yang ia percaya membawa ruh, yang membuatnya makin sempurna waktu nyinden. Obsesinya itu diwariskan kepada anaknya, yang ia didik sedari kecil untuk menjadi sinden. Nama anaknya adalah Waranggana.

Namun, pada saat Waranggana beranjak dewasa, penguasa baru datang ke desa mereka. Ia mencari gadis-gadis desa untuk dijadikan istri samping –yang kurasa, maksudnya di sini selir– dan juga tumbal untuk pembangunan jembatan. Mendengar itu, Nyi Inten lalu menyuruh adiknya, Jarok, membawa Waranggana kabur dari desa. Dari situ, dimulailah perjalanan Waranggana menjadi sinden. Jarok memutuskan memberi nama panggung untuknya, yaitu Dingklik Waranggana, karena dingklik tempatnya menyanyi membuatnya semakin luwes nembang.

Di tengah perjalanannya, Dingklik Waranggana bertemu dengan beberapa orang, orang-orang yang akhirnya membawanya menuju karir yang sukses sebagai sinden. Namun, perjalanannya itu tidak mulus karena sinden kerap dianggap punya ‘pekerjaan sambilan’ menjadi mainan lelaki hidung belang. Ditambah dengan wajah dan tubuh molek miliknya, membuat lelaki tertarik kepadanya, bahkan ada pejabat yang memintanya jadi selir.

Dari ceritanya sih, memang kedengeran menarik. Terutama, kalau yang suka sama budaya-budaya nusantara, mendengar kata sinden aja pasti tertarik. Di dalamnya, juga tampilan budaya Jawa disajikan kental dengan banyaknya istilah-istilah Jawa. Sayangnya, soal sindennya malah kurang digarap. Sinden itu seharusnya penyanyi pendamping waktu pertunjukan wayang, kan? Minimal, kebanyakan kerjaannya begitu. Kok malah nggak ada disebut-sebut soal wayang?

Padahal, pasti seru banget tuh, kalau Halimah menceritakan sedikit soal seputar dunia perwayangan. Bikin nuansa Jawa di dalem bukunya jadi makin menarik!

Lalu, soal karakter. Tadinya aku suka karakter Dingklik Waranggana yang dibikin kayak jinak-jinak merpati gitu. Waktu dia disuruh ngibing, joget-joget yang goyang pinggul gitu deh, dia oke aja, malah sedikit genit. Biar begitu, Dingklik Waranggana nggak pernah mau jadi simpanan laki-laki manapun, dan masih memegang prinsip sebagai profesional sebagai sinden. Di sini penulis kurang konsisten, ujung-ujungnya malah karakter Dingklik Waranggana dibikin moralis banget, jadinya bikin karakter yang ngebosenin dan nggak manusiawi.

Tahulah, manusia itu harusnya punya kekurangan, kan? Dan di novel, itu jadi poin penting yang bikin karakternya menarik.

Plotnya juga cukup aneh. Banyak konflik, tapi menggantung di tengah-tengah, nggak pernah diselesaikan. Misalnya, seperti Ki Joko, yang merayu Dingklik Waranggana untuk masuk grup karawitannya. Di saat yang bersamaan, ada pejabat yang memintanya menjadi selir. Jadilah Dingklik Waranggana kabur. Padahal baru diminta sekali lho, dan belum masuk ke tahap maksa. Kesannya si Dingklik Waranggana ini paranoid gimana, gitu. Kalau kabur, kenapa nggak kabur ke grup karawitannya si Ki Joko, malah kabur sendirian? Well, kita dipaksa nebak-nebak isi kepalanya Dingklik Waranggana yang terlalu gampang panik di sini.

Ya, kalaupun itu konflik yang pengen dibangun, minimal ada penjelasan logis soal pola pikir si Dingklik Waranggana yang dengan gampang ninggalin adik ibunya. Emangnya dia nggak merasa punya beban moral sebagai keponakan, gitu? Atau sekadar kedekatan emosional yang bikin dia berat ninggalin pamannya?

Setelah kabur, keberuntungan tokoh ini kelihatan banget dibuat-buat. Setiap kali ketemu orang, mereka punya koneksi ke dunia persindenan. Lah, emang segampang itu, sebanyak itu? Ketemu di jalan ternyata orang sinden semua? Malah, dia pernah ketemu cewek mau bunuh diri di pantai, ternyata sinden juga. Duh, settingnya nggak jelas sih, mungkin ini daerah dimana orang-orangnya sinden semua?

Trus, karakter yang tiba-tiba muncul dan membuat konflik baru menurutku aneh banget. Bayangkan seorang Susan, yang tinggal di gua, nggak ada ujung-pangkal, jadi temenan sama Dingklik Waranggana. Nggak bersesuaian dengan plot awal, bahkan nggak sesuai dengan tema yang mau diangkat. Sebenernya, apa sih, yang mau disampaikan penulis? Itu jadi pertanyaan besar waktu baca buku ini.

Ditambah lagi, setting yang kurang digali. Setting waktu, kita nggak tahu Waranggana hidup di tahun berapa. Kalau nyebut-nyebut tumbal, rasanya nggak terlalu lekat dengan tahun-tahun sekarang, atau tahun 2011, saat buku ini dicetak. Mungkin ada, tapi pasti udah jarang banget. Lalu, setting tempatnya juga nggak pernah jelas. Pertama, ia di desa, tiba-tiba pas kabur sempat sampai ke pantai, dan lain-lain. Penggambaran setting juga kurang mendukung suasana emosi yang lagi dialamin tokoh.

Intinya, buku ini kukasih rating 2 bintang. Itupun hanya karena suasana Jawa yang kental ngebuat buku ini jadi sedikit ada ‘rasa’-nya.

 

#31HariBerbagiBacaan

“Jangan Tulis Kami Teroris”

 

Penulis : Linda Christanty

Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tahun : 2011

Halaman : 147 halaman

 

img_20160913_153542-1
ini gambar diambil sendiri, jadi maklum ya, rada kabur. hehe…

 

Awalnya sih, gara-gara penasaran dengan sosok Linda Christanty, yang merupakan salah satu pemenang Khatulistiwa Literary Award (KTA). Lupa lagi tahun berapa. Lagipula, dalam dunia sastra sekarang ini, namanya juga cukup diperhitungkan. Karena itulah, akhirnya beli buku karyanya ini, Jangan Tulis Kami Teroris.

Linda sendiri awalnya adalah jurnalis, seperti beberapa penulis besar lain. Dan bukunya yang ini merupakan salah satu hasil reportasenya. Di seluruh dunia, nama Islam sudah banyak dikaitkan dengan terorisme, tepatnya sejak Menara Kembar WTC di Amerika Serikat diruntuhkan oleh pesawat yang dibajak oleh anggota Al-Qaeda. Jadi, isi dari buku ini adalah kumpulan kisah-kisah pendek tentang Islam dan konflik-konflik yang dihadapi pemeluknya di beberapa negara.

Diawali oleh kisah konflik Aceh dan GAM, yang pernah mencuat pada rezim Soeharto. GAM merasa Presiden NKRI hanya memusatkan perhatian pada pulau Jawa dan suku-suku Jawa, sehingga mereka, sebagai warga Aceh, merasa dirugikan. Setelah GAM berhasil “ditenangkan” oleh pemerintah lewat Perjanjian Helinski tanggal 15 Agustus 2005, Linda mengunjungi para mantan pejuang-pejuang GAM yang masih hidup.

Beberapa, tentu saja, masih menginginkan Aceh merdeka dan bebas dari penjajahan suku Jawa, yang dikobarkan nggak lain dan nggak bukan oleh Soeharto. Di dalam esai itu, secara nggak langsung, Linda mengisahkan perasaan-perasaan para pejuang tersebut dan apa saja perjuangan mereka setelah perjanjian damai dengan pemerintah Indonesia terwujud. Tersebut juga pemberontak-pemberontak pasca GAM, seperti Imam Samudra, Abu Bakar Ba’asyir, yang jadi terdakwa melakukan terorisme. Mereka ini muncul setelah perjuangan GAM selesai.

Tidak sampai di situ, esai-esai itu juga mengisahkan peristiwa dimana Islam ditekan dan dikucilkan di berbagai negara. Indonesia ternyata pernah mengalami hal itu, waktu Soeharto melarang wanita Indonesia berjilbab karena ditakutkan merupakan pengaruh Arabisasi yang bisa mengancam Demokrasi Pancasila. Selain itu, ada pula kisah konflik-konflik Islam di Kamboja, di Malaysia, dan lain-lain. Semuanya berdasarkan reportase lapangan dari Linda sendiri.

Yang membuatku lumayan terkesan dari buku ini adalah gaya narasi dari Linda Christanty. Walaupun buku ini hasil reportase, narasinya nggak membosankan. Rasanya masih kayak baca cerpen biasa, bukan esai yang kebanyakan bikin kening berkerut. Gaya bahasanya juga gampang dicerna, dengan komposisi yang nggak rumit.

Satu lagi yang bikin buku ini menarik adalah makna-makna tersirat yang dilakukan Linda. Walaupun nggak berhubungan dengan tema esai, tapi makna tersirat itu berhasil dilakukan tanpa mengganggu plot yang ingin ditampilkan. Sekalipun temanya adalah konflik-konflik yang terjadi pada Umat Muslim, makna esainya lebih luas dari itu. Pada esai berjudul “Jangan Tulis Kami Teroris,” Linda menyelipkan satu percakapan tentang fenomena victim-blaming yang terjadi pada perempuan korban pemerkosaan. Biarpun percakapan itu singkat dan ringan, makna yang kutangkap tetap ngena.

Yang kusayangkan adalah tulisan-tulisan Linda yang suka “lompat-lompat.” Karena sifatnya dokumenter, pemilihan dialog dan kronologis di lapangan emang sangat perlu diperhatikan. Nah, ini yang menurutku kadang-kadang kelewat oleh Linda.

Misal, masih dalam esai yang sama, tiba-tiba terselip pertanyaan “kenapa FPI mengurusi pakaian perempuan?” Padahal, waktu itu Linda tengah mewawancara soal prioritas FPI soal ekonomi Aceh. Aku sempet mengira kalau emang pembicaraan mulai ke arah situ, tapi pertanyaan berbelok ke arah isu Kristenisasi. Maksudku, kalau pertanyaan itu dihilangkan, aku rasa nggak akan mengubah tema esai sendiri. Satu contoh lain, bisa dilihat dari esai “Tahun Nol di Kamboja,” dimana Linda bilang dia lagi ada di tengah-tengah danau Ton Le Sap di Kamboja, tapi tiba-tiba dia udah ada di daratan, tanpa ada kalimat bridge apapun.

Mungkin contoh terakhir di atas nggak terlalu penting, tapi dalam satu buku, aku rasa detail-detail begitu penting untuk nggak membingungkan pembaca.

Yang bikin bingung juga, Linda memfokuskan setengah awal buku di peristiwa-peristiwa di Aceh, tapi belakangan lompat ke Malaysia dan Kamboja. Tadinya, aku pikir ini murni tentang Islam di Aceh, ternyata aku salah. Walaupun begitu, asik sih, jadi punya gambaran tentang peristiwa di negara lain.

Overall, aku merasa buku ini menarik. Kita bisa belajar sejarah, yang aku yakin nggak diajarkan dengan detail di sekolahan, dan dari sudut pandang jurnalis pula. Dengan gaya cerita yang cukup menarik dan nggak banyak permainan kata atau istilah yang memusingkan.

Aku pernah diajarin salah satu jurnalis “Koran Tempo,” semakin hebat penulis artikel, maka makin sederhana bahasa yang digunakan. Sepakat!

 

#31HariBerbagiBacaan

 

Salam,

Penulis

 

 

 

Inside Out

insideoutfamily-normal_e46cac6d
Gambar diambil dari movies.disney.com.au

 

“Apa yang Terjadi dalam Kepala Kita”

Bener-bener telat, sih… Tapi…

Aku rasa aku perlu posting ini. Simpel aja, karena film animasi yang satu ini menurutku brilian. Itu penggambaran yang paling deket. Nggak hanya karena alurnya yang sederhana, Inside Out ngasih banyak makna tentang tumbuh-kembang satu anak.

Oke, sedikit reviewnya. No spoiler, tenang aja. Siapa tahu ada yang belum nonton, walaupun ini film udah lama keluarnya.

Dimulai dengan kemunculan Joy tiba-tiba, nggak tahu dari mana. Yang pasti, setelah Riley, seorang anak cewek, dilahirkan. Pandangan Joy pertama kali bertemu dengan sepasang laki-laki dan perempuan, orang tua dari Riley. Di depannya ada satu tombol, begitu dia pencet, Riley yang masih bayi ketawa. Jangan heran ya, kalau reviewnya kayak tulisan anak-anak, abis emang ini film buat anak-anak, sih.

Ok, lanjut. Pas Joy lagi asyik menikmati pemandangan yang terlukis dari matanya Riley, tiba-tiba Riley bayi menangis. Ternyata, di sampingnya, ada satu orang lagi. Kalau Joy digambarkan bercahaya kuning terang, orang ini punya cahaya kebiruan. Ini perkenalan pertama kali Joy dengan Sadness, yang udah diwarnai dengan prasangka. Karena mereka emang beda banget sifatnya, Joy itu penuh dengan optimisme, sedangkan kebalikannya, Sadness itu mikirnya yang sedih-sedih aja. Mulai dari situ, tempat yang mereka sebut headquarters, makin ramai dengan kehadiran Fear, Disgust, dan Anger.

Kok, namanya kayak istilah-istilah buat emosi yang ada di manusia sehari-hari?

Karena emang orang-orang ini adalah representasi dari emosi Riley sendiri. Mereka tinggal di kepala Riley dan menjadi penentu dari perilaku Riley. Misal, kalo Riley lagi berhadapan dengan bahaya, maka Fear maju buat menyelamatkan Riley. Kayak satu adegan dimana Riley lagi lari-larian dan di depannya ada kabel listrik, Fear langsung menekan tombol yang membuat Riley berhenti lari. Sama juga dengan halnya dengan emosi yang lainnya.

Dan keempatnya menjaga Riley agar Riley jadi anak yang bahagia, sampai saat itu, Joy nggak pernah ngerti fungsi Sadness selain bikin Riley nangis.

Sampai…ayah dan ibu memutuskan untuk pindah dari Minnesota, kota kelahiran Riley, ke San Fransisco, kota yang digambarkan padat penduduk. Hal ini memaksa Riley, yang berumur 12 tahun, harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat berbeda. Sementara itu, kepindahan ini menyebabkan keributan di headquarters. Nggak tahu kenapa, Sadness mengalami nervous breakdown, alias stres berat, yang bikin dia mengacau. Kayak semua memori (memori digambarkan lewat bola-bola kaca yang mirip kelereng) yang dia sentuh jadi sedih, tapi dia terus aja terdorong buat menyentuh memori.

Dalam upaya Joy menyelamatkan Riley dari kesedihan, ia memaksa Sadness buat jauh-jauh dari remote control (duh, aku bingung sama istilahnya, tapi kayak semacam panel pengaturan buat emosi dan perilaku Riley yang digunain sama emosi-emosi Riley ini, sebut aja remote control-lah, ya). Tapi, ternyata percuma. Waktu Riley memperkenalkan diri di depan teman-teman sekelasnya, lagi-lagi Sadness berulah dengan menyentuh bola memori, membuat Riley jadi sedih dan bahkan nangis di depan teman-teman sekelasnya, waktu hari pertama sekolah! Bayangin, malunya gimana!

Dan pada waktu itu juga, Joy terhisap ke long term memory lewat saluran kayak pipa (jadi, setelah memori terkumpul penuh di headquarters, untuk digunakan sewaktu-waktu, bola-bola memori itu dipindahin ke long-term memory, seperti halnya ingatan kita aja), Sadness juga ikut terhisap. Dimulailah perjalanan mereka balik ke headquarters. Di dalam hiruk-pikuk kepalanya Riley, ada perpustakaan long-term memory­­, ada tanah imajinasi, lokasi syuting perfilman mimpi, dkk, keduanya mulai berpetualang.

Dan, gimana akhirnya, silakan cari tahu sendiri, kan no spoiler ini. Hehe…

Kalau dilihat dari plotnya, emang ini film kekanak-kanakan banget, ya. Mungkin jadinya orang-orang yang udah dewasa jadi rada males buat nonton film ini. Paling-paling nemenin anak-anaknya nonton. Tapi, menurutku, salah besar! Ini film yang secara harfiah aku bilang bisa dinikmati oleh semua umur. Mirip-mirip sama buku The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupѐry. Penggambarannya sederhana, tapi makna di baliknya kompleks banget. (Baca resensi The Little Prince di sini)

Misalnya, penggambaran tentang kerja memori. Kalau kita lihat, gimana satu peristiwa disimpan dalam bola kaca memori, lalu begitu headquarters udah penuh, mereka langsung dipindah ke long-term memory. Ini emang terjadi di kepala kita. Sama seperti kerja memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Kalau satu memori udah nggak digunakan lagi, biasanya otak akan menekan ingatan itu ke ingatan prasadar (ini ingatan yang masih bisa dipancing kalau ada kata kuncinya), lebih jauh lagi, kalau udah benar-benar nggak berguna, atau mungkin membawa pengaruh buruk, kayak pengalaman traumatik, memori itu bisa ditekan ke pikiran bawah sadar. Di film ini ada juga lho, digambarkan dalam satu jurang gelap, dijaga oleh satpam (ada pekerja-pekerja yang ngatur area otaknya Riley, digambarkan dengan orang-orang berbentuk oval, simpel aja) dan ditaruh di ruang tertutup. Isinya adalah ketakutan-ketakutan bawah sadar Riley, di dalamnya ada brokoli, badut, vacuum cleaner punya nenek, dst. Sekali lagi, brilian!

Di film Inside Out, ada juga pembuangan yang menghapus memori-memori. Walaupun, di dunia realita, ini nggak sepenuhnya bener, karena nggak ada ingatan yang bener-bener bisa ilang. Tapi, kalau udah sampai di pikiran bawah sadar, hanya profesional, macam Psikiater atau Psikolog gitu, atau peristiwa besar yang bisa mengeluarkan ingatan itu lagi. Jadi, kesannya emang ‘forgot (dilupakan).’ Padahal, nggak sepenuhnya. Kalau kita dalami maknanya, film ini justru jauh lebih rumit daripada yang kita duga. Ada penjelasan saintifik yang sengaja digambarkan lewat animasi-animasi simbolis yang sederhana, supaya bisa dicerna anak-anak.

Tapi, proses yang terjadi di kepala Riley, mulai dari runtuhnya semua pulau-pulau kepribadian (yang menggambarkan image tentang hubungan Riley dengan lingkungan di luar dirinya – ada family island, friendship island, honesty island, funny island, dan hockey island, karena Riley suka sama hoki), itu sebenernya proses yang bener-bener terjadi sama semua manusia yang sedang dalam masa transisi dari anak-anak ke pubertas.

Lalu, hubungan Joy dan Sadness, hal yang paling sering terjadi dalam kepala kita. Saat kita sedih, tapi mencoba memaksa diri tetap gembira karena ekspektasi sosial lebih suka sama anak yang gembira daripada anak yang sedih, dan juga emosi-emosi lain. Asli, aku susah gambarinnya satu per satu di sini, karena prosesnya itu sangat kompleks. Inti dari pesan moral dari film ini secara garis besar adalah, kita nggak bisa menekan kesedihan atau emosi-emosi lain, kalau nggak malah bisa timbul kekacauan, seperti yang terjadi di kepala Riley.

Jadi, nggak perlu tunggu punya anak buat nonton film ini. Film ini bisa menggambarkan dengan tepat proses psikologi tentang apa yang terjadi waktu kita pubertas dulu. Dan mudah-mudahan, bisa membantu kita untuk dapat petunjuk atas apa yang terjadi di kepala kita waktu kita dalam masa-masa transisi. Misalkan, dari remaja ke dewasa, dari dewasa ke masa tua. Atau, simpel aja, perubahan-perubahan kecil dalam hidup kita. Biasanya, kalau kita tahu alasannya, frustasi bisa sedikit berkurang, lho! Penelitian dalam ilmu Psikologi Sosial ini!

Akhir kata, jangan pernah memendam emosi, ya! Semua emosi perlu pelampiasan, asal caranya yang kita atur supaya nyaman buat diri kita, nyaman buat orang lain.

 

 

antara maya dan nyata