Tag Archives: Ahok

Freedom of Expression

freedom_of_expression-500x340
Source image : fogcityjournal.com

 

Lately, there is a massive debate among Indonesian people. I thought it would be over once Ahok was arrested, he was in jail now. Ahok was charged over a Blasphemy in Indonesia, because these sentences :

“Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho. Itu hak bapak ibu, ya.” (So, don’t believe in other people. It can be that in deep in your subconscious you cannot elect me. Because you are fooled with surah Al-Maidah 51 or such things like that). Honestly, you can judge yourself, is it a blasphemy or not. I won’t direct you to one or other ways 😀

So, of course there is pro and cons about this charge. Some people don’t believe that it can be called blasphemy, but some people said it was a blasphemy. So, even though Ahok was already asked for forgiveness, some people won’t forgive him. Let’s say that the people who won’t forgive him is already too offended or resented by his sentence. (Later, he is sentenced guilty, anyway)

And what’s bad about these debates is there is no longer rational restriction. While debate or discussion actually can be helpful to bring new ideas, people just brought it up to win something. Maybe they are very pessimistic on winning something else? I don’t know.

My suggestion is, when you feel like you want to force people onto your ideas, maybe you must think about yourself first. Would you like someone else force onto his/her ideas? I bet you don’t.

After all, there was a really good quote from Noam Chomsky about this.

“If we don’t believe in freedom of expression for people we despise, we don’t believe in it at all.”

Good quotes. I agree. Whoever that is, and however we despised them or their ideas, don’t you think every people have their freedom of expression? I learned a lot actually from those phenomenon happened in my country.

 

Advertisements

Demo 4 November Fungsinya Apa?

147788436487977766
Gambar diambil dari : aribicara.blogdetik.com

 

Hari ini (4/11), ada demo FPI (lagi!) Sebelumnya, demo terjadi tanggal 14 Oktober 2016. Intinya satu, ngejatuhin Ahok! Sumpah, Ahok tenar banget, sih. Berasa punya nabi baru kita, dibenci sebegitunya… Pan yang dulu dibenci dan pengen banget dijatuhin itu Rasulullaah SAW. Ups! Nanti dibilang penistaan terhadap Rasulullaah lagi…

Ngebuka medsos, alias FB dkk, FB terutama (All Hail Mark Zuckerberg!), pas tanggal 3 November malemnya, bikin pusing banget. Karena banyak banget beredar soal orang yang udah siap demo, orang yang, sebaliknya, mencerca demo, dan yang siap banget ngebela FPI. Emang akhir-akhir ini banyak banget yang jadi cinta banget sama FPI. Aku rasa mungkin melebihi kecintaan mereka sama Allaah SWT sendiri. Maklumlah ya, banyak emang orang itu lebih cinta sama wujud nyata. Lupa daratan dengan konsep di balik semua realita.

Ribut-ribut FPI soal Ahok ini sebenernya udah lama banget, lho. Bahkan, jauh sebelum ada ayat Al-Maidah:51 yang beredar luas (Omongan nggak difilter gitu, padahal jelas-jelas dia lagi dibidik, haduuh… Biar nggak ngedukung dan nggak peduli (karena bukan orang Jakarte), tetep aja rasanya sewot). Sebelum ayat Al-Maidah, FPI udah menggerakkan demo-demo #tolakAhok nggak jelas gitu. Kenapa nggak jelas? Karena kebanyakan dateng dari luar Jakarta, KTP-nya aja bukan Jakarta. Dan pemimpin di Indonesia ada juga padahal yang bukan non-Muslim, tapi ini inceran banget. Namanya juga Jakarta ya, pusat segala-galanya. Pusat kepentingan juga pastinya.

Yang lucu, beberapa saat lalu, orang-orang yang sekarang gila-gilaan ngebela demonstrasi ini adalah orang-orang yang sama dengan orang yang mengejek demokrasi dengan democrazy. Mereka menganggap demokrasi itu meruntuhkan agama, dan segala macemnya. Nah, sekarang? Mereka mendukung demonstrasi. Demonstrasi itu produk demokrasi, kali! Nggak konsisten amat, sih! Persis omongan para politikus yang duduk di tatanan pemerintahan. Mulutnya bergerak atas nama kepentingan aja. Nggak ada lagi kejujuran…

Yaaang paling menyebalkan, bawa-bawa agama!

Setahuku, FPI itu menganut ajaran ahlussunah wal jama’ah, ya. Kebetulan banget, salah satu anggota keluargaku juga salah satu yang selalu ikut pengajian ahlussunah ini. Beberapa bulan lalu, baru aja anggota keluargaku ini cerita sendiri, kalau menurut ustadz di pengajian ahlussunah, rakyat harus taat kepada pemimpin. Dan, untuk mendukung pernyataan itu, ada juga temen FB yang memposting meme tentang ahlussunah yang tidak menganjurkan demonstrasi karena harus taat sama pemimpin (sayang, aku nggak lagi nemu meme itu L ). Trus, kenapa ada demo ini?

Yah, dalam agama Islam itu selalu ada dispensasi atau keringanan. Misal aja nih, tentang shalat yang bisa dilakukan sambil duduk atau berbaring kala sakit. Mungkin mereka melihat pencalonan Ahok itu darurat luar biasa, sehingga mereka mematahkan aturan mereka sendiri. Ini tafsir dariku sendiri, sih. Satu kata waliy aja bisa beberapa tafsir, apalagi satu kalimat utuh, ya.

Ada yang bilang di FB, “demo 4 November itu untuk menuntut pengusutan kasus Ahok, bukan karena Ahok dicalonkan jadi gubernur.”

Okelah, tapi ternyata aku lihat lagi berita di kompas.com di sini yang menyatakan tentang Habib Rizieq sendiri yang minta penundaan pengusutan kasus Ahok. Nah, lho? Ditambah lagi, kasus Ahok itu udah diproses ke area hukum, bareskrim udah meriksa 8 saksi lagi, dari pelapor dan saksi ahli, semua ada di berita ini. Jadi, fungsi demo 4 November ini apa? Emang kalau udah beredarnya di medsos, miskomunikasi ini banyak banget terjadi. Provokasi orang-orang yang punya kepentingan, ketemu sama orang-orang yang menelan mentah-mentah apa yang dia denger. Nggak mau mencari tahu atau sekadar takut menerima kenyataan, aku juga kurang paham soal golongan ini. Kebanyakan sih, emang menurutku, susah mengendalikan emosi aja.

Yang aku sayangkan banget, biasanya orang-orang golongan ini udah nggak mau lagi denger-denger pendapat yang lain selain pendapat yang mereka percaya. Mereka nggak punya dan nggak mau tahu soal second opinion. Jadi, sampai berbusa pun orang-orang lain menjelaskan, mereka nggak akan mau denger itu. Karena, pada dasarnya, semua yang mereka mau denger adalah yang cocok dengan kehendak mereka sendiri. Mereka udah melupakan realita di luar diri mereka, lebih suka hidup dalam realita yang mereka bangun sendiri.

Makanya, akhirnya mereka ngikut aja waktu FPI ngajakin demo, padahal yang mau didemoin itu udah diurus! Ini nggak mau baca berita, atau emang nggak mau denger berita selain dari mulut Habib Rizieq, sih? Bingung aku….

Jadi, setelah kasus Ahok diurus, aku mau beralih pembahasan ke tempat lain. Terlepas dari apakah Ahok iya atau tidak menghina Al-Qur’an, ayat-ayat tentang ini sebenernya sudah ada di Al-Qur’an sendiri. Ini anjuran langsung dari Allaah malah. Tuhan kita itu Allaah kan, ya? Minimal, kita (maksudku sesama Umat Muslim) sepakat soal ini, kan?

Jadi……………

Ini dua dalil yang aku ambil dari situs quran.com (aku pake yang ada sahih internasionalnya, jadi gak mencakup ulama Indonesia aja yang ngebahas)

 

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَجَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

 

SAHIH INTERNATIONAL

And it has already come down to you in the Book that when you hear the verses of Allah [recited], they are denied [by them] and ridiculed; so do not sit with them until they enter into another conversation. Indeed, you would then be like them. Indeed Allah will gather the hypocrites and disbelievers in Hell all together

 (QS. An-Nisaa’ [4]: 140)

 

(terjemahan bebas dari aku sendiri : “Dan telah datang kepadamu Kitab dimana engkau mendengar ayat-ayat Allaah (dibacakan), ayat-ayat tersebut disangkal [oleh mereka] dan diperolok-olokkan; maka janganlah (kau) duduk dengan mereka hingga mereka mengubah pembicaraan mereka. Sesungguhnya, kau kemudian akan menjadi seperti mereka. Sesungguhnya Allaah akan mengumpulkan kaum munafik dan kaum kafir di neraka bersama-sama)

 

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِالظَّالِمِينَ

SAHIH INTERNATIONAL

And when you see those who engage in [offensive] discourse concerning Our verses, then turn away from them until they enter into another conversion. And if Satan should cause you to forget, then do not remain after the reminder with the wrongdoing people.

 (QS. Al-An’aam [6]: 68)

(terjemahan bebas dari aku sendiri : “Dan apabila engkau melihat mereka yang terlibat dalam pembicaraan (yang menyudutkan/menghina) tentang ayat-ayat Kami, maka berpalinglah dari mereka hingga mereka mengubah pembicaraan mereka. Dan apabila Setan membuatmu terlupa, maka janganlah kau teruskan bersama dengan orang-orang yang berlaku salah itu, sesudah datangnya peringatan)

Nah, kedua ayat di Al-Qur’an ini jelas-jelas memberikan petunjuk kepada Umat Muslim tentang gimana caranya kita menyikapi orang-orang yang mengolok-olok Al-Qur’an. Dan yang dianjurkan, dalam Al-Qur’an sendiri, adalah kita meninggalkan mereka. Itupun kita bisa kembali saat pembicaraan itu telah berubah. Artinya, kita nggak disuruh memutus tali silaturrahmi sama mereka, apalagi membenci mereka. Membalas apalagi dipenjarain berarti juga nggak.

Artinya, kalaulah benar Ahok itu menghina Al-Qur’an, setahuku kita seharusnya cukup tinggalkan mereka sampai pembicaraan itu selesai. Dan ini kata-kata Allaah langsung, yang seharusnya Tuhannya Umat Islam satu-satunya.

Jadi, demo 4 November ini buat apa? Bingung lagi…

 

Wallaahu alam

(Tiba-tiba kok jadi solehah begini, ya? Wkk…)

Ahok vs Risma : Kajian Ngasal

risma
Sumber foto : bisnis.com

 

Kebebasan itu mahal, Bung!

Sekarang lagi rame nih, soal Ahok vs Risma. Biasalah, kalau udah deket-deket Pemilu, walaupun masih di area Pilgub. Cuma karena ini Pilgub DKI, dan DKI itu bisa dibilang pusatnya Indonesia, jadi serame ini, deh.

Ahok itu kan, emang terkenal kurang punya filter, ya (ini bikin seru kancah politik yang kebanyakan main cantik, sih, haha). Eh, ternyata itu dimanfaatin buat manas-manasin Risma, yang padahal dipisahin jarak udah sampe ribuan kilometer itu. Biasa deh, framing dari wartawan dan media yang bikin perseteruan makin panas. Kalau dikaji dari awal sampe akhir, mungkin Risma nggak perlu semarah itu, karena nyatanya Ahok juga muji-muji kerja Risma, kok.

Alhasil, Risma baper dan bikin konferensi pers buat nunjukin kalau dia marah sama Ahok. Sampai-sampai Ahok dimarahin sama ibunya (sumber dari tempo.co), ini cerita Ahok sendiri. Keren emang tuh, orang, lucu banget!

Dari awal sih, udah keliatan upaya-upaya buat manas-manasin Risma sama Ahok. Diperparah sama media yang sekarang udah banyak ditunggangi kepentingan-kepentingan politik. Bisa dilihat dari berita-berita yang udah beredar, aku nggak bisa ngasi satu contoh (lupa maning sama berita yang pernah dibaca, kacau!)

Aku di sini emang nggak mau bahas mereka dengan detail. Lebih tentang kondisi perpolitikan Indonesia sekarang. Titik balik dari politik Indonesia itu dimulainya dari Jokowi vs Prabowo. Sebenernya, lebih tepatnya dimulai waktu Jokowi mulai menjabat jadi Gubernur Jakarta. Hasil blusukan yang diprakarsai Jokowi ternyata bener-bener bawa pengaruh nyata. Rakyat mulai melek politik. Jeleknya, kebebasan itu mahal, Bung!

Mahalnya kenapa? Perseteruan antara Jokowi dan Prabowo disebut-sebut sebagai contoh demokrasi paling nyata di Indonesia, dimana orang-orang, diwadahi oleh media-media sosial macam FB dan Twitter, mulai buka suara dan urun pendapat. Sayangnya, nggak dibarengi sama mental yang bagus. Yah, emang biasa dijajah, begitu bebas, jadi kayak anak ayam kehilangan induk, tabrak sana-sini aja.

Pasti banyak yang kejadian, gimana hubungan saudara, teman, dilibas cuma dengan perbedaan pendapat dan debat kusir soal pro-kontra tentang Jokowi (kebanyakan yang aku lihat sih, pilpres 2014 cuma soal pro-kontra Jokowi, Prabowo cuma nama selingan yang kebetulan ada di daftar calon). Inilah harga sebuah kebebasan. Jangan kira kalau bebas itu pasti enak. Emang enak, kalo tahu cara menyikapinya. Kalo nggak tahu, ya balik lagi, pengen Soeharto berkuasa. Piye enak jamanku tho? Yah, ini slogan dari orang-orang yang kebingungan akibat dikasih secicip kebebasan, nggak siap untuk menghadapinya. Mending orang-orang lenyap, dipenjara tanpa pengadilan, yang penting kenyamanan hidup nggak terganggu, kan? Orang-orang banyak dibunuh tanpa ada hukuman nggak perlu pusing, karena hidup toh, tetep nyaman, kan?

Namun, perubahan ini justru memberi ide baru dari pelaku politik. Mereka emang nggak ada matinya! Akhirnya, panggung dagelan politik pun dipersiapkan. Lewat media, lewat parpol, bahkan lewat pemuka-pemuka agama. Karena sekarang zamannya kebebasan, rakyat Indonesia nggak bisa lagi dikontrol dengan kekuasaan absolut dan opresi militer. Sekarang, saatnya menjajah rakyat atas nama moral, HAM, dan yang parah, agama. Tinggal tebar media-media, yellow jurnalism atau media nyeleneh pun nggak masalah, wong bakalan dilahap juga sama rakyat yang lagi kebingungan. Apalagi kalau bawa-bawa nama Tuhan dan surga-neraka, oh, langsung ditelen tanpa dikunyah dulu. Guys, tenang, kita masih dijajah kok, belum sebebas itu. Nggak usah paniklah.

 

Dengan panggung ini sebenernya kita dijajah. Coba perhatikan baik-baik, kalau ada tokoh politik yang maju tanpa manut sama parpol, langsung deh, heboh kemana-mana. Dulu Jokowi, yang walaupun diusung parpol, masih nunjukin keengganannya untuk ngikutin suara parpol (sempet slek sama Megawati awal-awal pemerintahan dia). Sekarang Ahok, yang jelas-jelas bikin gerah parpol. Bahkan, setelah katanya dia mau diusung sama PDI-P, masih aja tuh, dia gerak sendiri. Megawati sampe gerah. Sabar ya, Bu… 😀

Akhirnya, sama juga dengan kejadian Jokowi vs Prabowo, kita dihadapkan dengan Ahok vs Risma. Soalnya, parpol pada ketar-ketir nyari penantang Ahok yang potensial di arena Pilgub DKI. Dan provinsi apa sih, yang biasa menyaingi DKI Jakarta, kalau bukan Surabaya? Dari segi industri, penantang paling baik itu Surabaya. Apalagi, pas tuh, gubernurnya tenar pula. Apa mungkin disiapin jauh-jauh hari? (Nah, mulai kan, bikin isu baru)

Mulailah diadu domba oleh media. Yah, namanya juga media, mereka kan nyari duit juga, the bad news is the good newsas my husband always says. Tinggal edit dikit, bisalah Ahok yang kebiasaan kurang punya filter itu dijelek-jelekin. Biar Risma marah, ceritanya. Ini ya, katanya cewek susah jadi pemimpin, wong digituin dikit aja emosi. Nggak pengen menjunjung tinggi emansipasi wanita juga dalam emosi, Risma?

Ujung-ujungnya kondisi ini jadi kondusif lagi buat manas-manasin rakyat yang udah melek politik, tapi masih rabun soal perbedaan dan kebebasan berpendapat. Apalagi Ahok non-muslim, lengkap sudah pamerannya buat panggung politik baru dengan tema masih seputar 2014. Intinya, buat manas-manasin rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim. Sekarang, perangkat organisasi agama udah dibawa ke kancah politik. Udah dari dulu sih, tapi sekarang perannya jadi makin kuat, kalo belum bisa dibilang nguasain Indonesia.

Dengan kata lain, Indonesia ini lagi dilanda gangguan kecemasan karena kebebasan. Mereka harus punya tanggung jawab atas diri sendiri, atas pilihan sendiri, punya suara sendiri yang harus mereka pertimbangin untuk menentukan arah politik, stressor jadi makin banyak. Di tengah kecemasan ini rakyat jadi rentan, butuh pegangan buat menjaga diri biar nggak jatuh. Mulailah berbagai media berebut, dengan kepentingan uang atau untuk kepentingan kursi, untuk menenangkan orang-orang ini. Soalnya, daripada kenyataan pahit, kayaknya orang-orang lebih masih lebih milih sweet illusion. Karena itu sinetron nggak akan ada matinya. Satu-satunya sarana biar orang bisa tetap terjaga dalam ilusi manis itu. Drama yang wajib hepi ending itu manis banget rasanya di tengah pahitnya kehidupan. Kita seakan-akan diyakinkan oleh seseorang, nggak masalah bersakit-sakit dulu, nanti pasti hepi ending kayak sinetron, kok. Manis, kan?

Tapi, ini kemajuan.

Ya, sejelek-jeleknya, ini kemajuan. Sekarang Indonesia lagi diajarin buat jadi orang bebas, artinya, harus bertanggung jawab untuk diri sendiri. Nggak bisa lagi sembarangan nyalah-nyalahin pemimpin tanpa mau bekerja sama dalam pemerintahan. Biar sekarang media masih menyetir pola pikir banyak orang Indonesia, ini jadi pembelajaran biar mereka makin awas sama media. Orang cemas itu rentan, tapi kalau orang rentan dibohongi berkali-kali, mereka juga bisa jadi waspada. Dan dengan trial and error itu, manusia selalu belajar.

Mudah-mudahan sih, nggak keburu jatuh, baru belajar, ya!