Tag Archives: Cerbung

For the Sea, For the Men

The ship is floating calmly. Through the wavy stream of dark blue sea. The jewels shine brightly, flared through the invisible molecules of air. It was beautiful. It was more than beautiful.

“Sail!” cried one of the crews. Few of other came down to the deck, reach the edge of the end one. Three big men, together they pull the steel anchor so heavy. If you watch them closely, you can feel the muscles came out, as if they will explode in any minute. Their crystal salty sweat running along their tough jaws.

It was an awfully heavy duty. You can’t guess it from their big smiles, though. Always, they looked happy. Every moment, they looked satisfied.

So, what a sailor without a beer?

Every night, they will gather around in one long table, laughing, making a joke, sometimes one silly joke that made them fight in the end of the day. Tonight, there’s no different from the other nights. Their smiles become wider and wider as the gold liquid running down their throat. Brings the ultimate happiness no one couldn’t possibly understand.

“Puh!” sighed the biggest man of all, gleamed by fulfilling desire. He can’t meet his lady until the next three months, he decided to be satisfied only with beer. Maybe also a lovely tramp in the next harbor they’ll visit. Maybe.

“Are you ready to be smashed by big waves, fellas?” He utters nonsense, but no one really cares. The calm night is the beer night. The calm night is the least sensible night. Only joy, no overthinking silly small things that hinders their only amusement at sea.

“Don’t say such a foul things, Big Bob! Bring a bad luck!” protest the other big guy, only by the width of his body.

“Scaredy-cat!” cried Big Bob, but then he bursts out a laughter. No fight tonight, he decided, no hard feelings whatsoever. It’s only the first night. For the next three months they are stuck to each other. Good feeling or not, they must deal with it.

There’s this new guy. He’s skinny, just like any other guy who deal with the ship and the sea for the first time. They are always skinny to begin with, then they just grow bigger as they face the unforgiving challenge at sea.

And, he’s nerdy. The glasses surely makes him look smart and important, his shirt is buttoned up nicely. Just like the bureaucrats he hates. Big Bob stared at him. He, who focuses his eyes down to the notebook. What is the use of the notebook at sea anyway, Big Bob can never understand.

He stared, but doesn’t get any respond, while he’s sure that the boy feels the eyes that pierce every inch of his body. “Hey, little fella! What’re you doing down there?!” The little skinny boy do sit quietly in the corner of the barrack. Hopes to stay unnoticed.

Big Bob kinda surprised when the boy lifts up his head. He thought he would see a pair of submissive eyes, maybe, really maybe, a scared ones. Instead, the boy stares back at him so fiercely. The dark stone inside his eyelid just stand still. Funny, he just can’t fight those eyes.

The boy resigns his eyes, focusing them to the notebook again. His finger pins one pencil, which dancing around in the rhyme of the skinny bony fingers. One young sailor, only a bit older than he is, sneaks out behind him. Without any warning, he quickly snatches the notebook. One, he seems shining with victory, one minute away, he can only frowns.

“What is this?” his hand stretch out to show the notebook. Only a scrape of many confusing lines. Big Bob observes the silly meaningless lines, then observes the thin expression by the overly thin boy.

He doesn’t get mad, only spying the situation with his dull eyes. Then, with a pair of thin lips, he grumbles, “you can give it back if you are satisfied.”

The young sailor lift his shoulder, “nothing’s interesting anyway. What a foolish drawing.” He throws the notebook to his face, smacking it. The thin boy looks disgusted, but nothing more.

His dark stone is a endless cave Big Bob will never understand.

…….to be continued

 

Bosan

Ini hal teraneh yang kualami. Bahkan, lebih aneh ketika mie keluar dari hidungku. Lebih menakutkan, jangan lupa.

“Aneh,” dia mengamatiku. “Kepala”-nya (aku rasa itu kepala?) meneleng ke kiri, ke kanan. “Kaki”-nya (aku tidak bisa benar-benar menggunakan kata ini dengan ikhlas, bentuknya terlalu mirip tangan) memutariku. Ke samping kiri, lalu ke samping kanan. “Kenapa kamu bentuknya abstrak gini?”

Kamu yang abstrak! Aku mau berteriak begitu, tapi kata-kata tertelan lagi. Didesak oleh ketakutan, insting untuk lari, bertahan dari peristiwa-peristiwa menyeramkan. Aku mau otakku bekerja, aku harus bagaimana? tapi ternyata dia pun lumpuh.

Matanya berputar di kepalanya, maksudku benar-benar berpusing cepat. “Jangan-jangan , kamu alien, ya?” Hanya intonasi suaranya yang membuatku sadar, bahwa dia sedang antusias, bukan ketakutan sepertiku.

Tunggu, ini mimpi, kan? Mimpiku sendiri. Dimana aku harus jadi pahlawannya. Dimana misteri jadi kenyataan dan yang nyata jadi pengganggu.

“Bukan. Aku tinggal di sini.”

“Nggak mungkin! Aku nggak pernah lihat benda kayak kamu!”

Benda? Dia terlalu keterlaluan! “Aku manusia!”

Mata itu tidak bercangkang, tapi aku tahu ia tengah memandangiku. Satu titik agak besar di dalamnya bergerak ke arahku. Mencitrakan dengan jelas wajahku sendiri, yang melebar, terkena permukaan cembung.

“Kalau iya, di mana rumah kamu?” nada suaranya menantang. Aku sedikit bersyukur bahwa ada hal-hal yang tak berubah. Suara, bahasa, lingkungan ini, setidaknya aku jadi tidak terlalu asing.

Mendengus kesal, dia sepertinya sombong, aku berbalik, menuju arah rumahku. Tempat dimana aku keluar dari lubang aneh dan justru keluar di pekaranganku sendiri. Satu rumah terlewati. Ini rumah tetanggaku, pasangan suami-istri beranak dua yang ramah, kemana mereka? Dua rumah, rumah yang ini, seorang kakek-nenek, yang terlalu sering dititipi dua cucunya. Rumah ini pun tampak sepi. Akhirnya aku berhenti.

Benda…, aku mengoreksi dalam hati, makhluk seperti manusia abstrak di belakangku mengikuti. Kaki (tangan) nya mengikuti. Aku menunjuk ke arah rumah ini.

Titik bulat di matanya bergerak ke atas, mengamati rumah yang memang menjulang agak tinggi daripada kami berdua. Kalau tidak, aku tidak akan bisa masuk, kan?

Dia terkikik. Setidaknya itu yang kupikir, karena suara itu aneh dan ganjil, membuatku merinding. Melengking dan terputus berdetak-detak, sama sekali berbeda seperti suara saat dia berbicara. Lalu, lengkingan itu berubah menjadi suara tawa, tapi tidak mengandung kegembiraan, malah seperti dengungan yang keji.

Dia tertawa, terus tertawa.(bersambung)

 

Catatan penulis :

16 days ago?! Udah selama itu aku nganggurin tulisan ini?

dan tulisan dadakan ini pun semakin aneh… 😀

Berapa lama? Sudah berapa detik dan menit aku dalam lorong gelap? Aku kehilangan jejak akan waktu. Semakin lama, rasanya semakin gamang. Rasanya seperti melayang dalam lubang hitam tak berujung, dasar pijakannya saja tidak bisa terlihat.

Aku berhenti melangkah. Takut. Ini mimpi, lalu kenapa bisa terasa menakutkan? Biasanya aku tidak pernah merasa takut dalam mimpi. Biasanya, aku jadi pahlawan dalam mimpiku, yang tidak takut pada bayangan apapun, pada sosok ganjil seperti apapun.

Yah, mungkin belum terlambat untuk kembali, aku pun menoleh. Cahaya dari kamarku sudah jadi titik kecil putih di tengah kegelapan. Lalu, seperti lampu bohlam yang mau putus, ia berkedip-kedip, hingga perlahan ia menghilang sama sekali.

Oh, Tuhan!

Tubuhku sudah condong, mau berlari ke arahnya. Jangan! ada suara di dalam kepalaku. Dia meyakinkan kalau itu lebih bodoh lagi. Berbalik lagi 180′, setidaknya aku tidak akan tersesat dalam lubang hitam. Maksudnya, pasti ada tujuannya dia terbuka, kan? Pasti ada lorong yang mengarah pada sesuatu. Benar, kan?

Aku berbalik, berjalan dalam kegelapan. Melayang antara ketiadaan yang semakin pekat. (bersambung)

 

 

catatan penulis :

oke, kuota internet mau habis,

daripada gak ngepost apa-apa sama sekali,

mending sampai di sini dulu.

Semoga ada yang mau baca dan ngikutin ^^

Sampai jumpa di cerita berikutnya!

Bosan

Navy-blue-and-black-wall-3D-image
gambar diambil dari http://www.newhdwallpaper.in

Kepalaku tergantung pasrah. Lunglai di leher penopangnya. Mataku terpancang ke atas, bukan pada langit-langit, malah lantai. Tubuhku berbaring saja di atas kasur. Kalau sudah begini, artinya satu : aku bosan. Saking bosannya, aku mencoba melihat dunia dengan cara terbalik. Biasanya aku tidak mendapat apa-apa, aku sedang bosan, ingat? Orang yang sedang bosan biasanya karena kurang inspirasi.

Temanku berjanji untuk menelepon. Rahasia, katanya, jadi mungkin menarik. Di hari yang membosankan ini. Apakah tentang temanku yang lain? Perempuan biasanya hobi membicarakan orang, mungkin juga karena kebosanan menjadikan drama kehidupan orang lain jadi menarik. Tapi, ia tak juga menelepon.

Medsos tidak menawarkan sesuatu yang menarik. Ternyata, medsos bisa juga berhibernasi. Dunia di baliknya mungkin sama saja, sedang tidak terinspirasi. “Apapun!” seruku pada langit-langit rumah yang bisu. “Apapun untuk menghilangkan kebosanan ini!”

Ia menjawab dengan gaung lemah. Itu karena rumah yang kosong, sedikit perabotnya. Suara malah jadi terpantul-pantul dan jadi lebih besar daripada seharusnya. Oh, betapa dunia manusia bisa menipu dengan baik!

Aku berbalik, menatap dinding. Ada sesuatu di sana, padahal ia kaku dan monoton. Mataku tak bisa lepas, aku terlalu bosan. Suara mengeklik, pelan. Sepotong balok kecil membuka. Aku mengernyit. Satu lagi. Aku mundur. Dua, tiga. Balok-balok, vertikal dan horisontal, bergeser, mendorong satu sama lain. Seperti puzzle balok itu, yang sedang mencoba mencari solusi lain daripada sekadar tembok.

Di tengahnya, lubang hitam menganga. Mimpi? Ya, tentu saja ini mimpi. Dalam upaya pikiran bawah sadar yang dilanda kebosanan, tanpa pelampiasan energinya yang bergolak, tentu saja mimpi adalah hal paling masuk akal. Aku menatap ke sekeliling, dunia nyata yang sunyi. Rak buku, dengan buku yang sedikit, banyak puing-puing kenangan terserak. Televisi, yang menawarkan acara-acara monoton, yang berkisar tentang drama-drama, maya dan nyata, yang jauh lebih membosankan.

Aku melangkahkan kaki. Di tengah kebosanan, ketidakpastian bisa jadi menyenangkan. Rasa takut digubah menjadi adrenalin yang menggoyahkan akal sehat.

Di lubang itu, aku kini melenyapkan bayanganku. (to be continued)