Tag Archives: Curhat Penulis

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 2)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Cerita eh artikel sebelumnya…

Dua hal pertama yang kutemukan waktu mulai mencoba menulis cerita fantasy. Mengembangkan logika cerita dan menyesuaikan setting lokasi dan waktu yang tepat itu susah banget. Terutama, karena ini dunia fantasy, yang budaya dan adat istiadat makhluk-makhluknya harus kita bentuk dari awal dan kita atur lagi. Apalagi kalau makhluknya fantasy. Imajinasi kita harus luas dan nggak terbatas banget!

Buat part 1-nya, coba klik link ini : Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

Nah, sekarang lanjut lagi. Karena emang bukan 2 hal itu aja yang bikin rumit. At least, buatku 😀

Ketiga, menetapkan nama-nama dan istilah-istilah. Kita bicara soal negara baru atau dunia baru. Mungkin malah dimensi waktu dan ruang yang lain dari realita. (Dunia orang mati, mungkin?) Buatku, ini yang paling susah. Nentuin nama tokoh aja kadang-kadang bisa bikin stuck berhari-hari, apalagi kalau ada istilah baru atau bahasa baru, dan nama-nama negara, provinsi, makhluk-makhluk baru?

Intermezzo : itulah enaknya kolaborasi, kita bisa delegasikan tugas yang susah sama teman dan bisa meringankan beban dua kali lipat :p

Jangan lupa juga nama ini nggak bisa sembarangan. Kalau makhluk menyeramkan dan jorok disebut Troll, terkesan cocok aja, kan? Kalau kita namain dia bunny atau tweety pasti rasanya ada yang janggal (karena sadar atau nggak, kita terikat sama norma-norma yang kita pelajari dari dunia nyata).

416HARSDA3L
Penamaan tokoh biasanya menggambarkan karakternya. Seperti troll, makhluk yang biasa digambarkan buruk rupa dan jahat. Gambar diambil dari http://www.amazon.com

Mau ngasi twist? Tentu saja boleh, tapi harus ada alasan yang masuk akal untuk itu. Misalkan, apa sejarahnya makhluk itu dinamai lucu dan cute begitu? Rasanya, kalau nggak sesuai sama aturan yang dipersepsikan normal sama orang-orang, susah buat pembaca mengembangkan imajinasinya. Kita bicara teks tanpa gambar soalnya. Lain hal kalau bicara soal picture book, ada gambar yang menjelaskan maksud si penulis.

Lupakan soal kesan, beberapa nama juga harus punya filosofi tersendiri. Kayak Pancasila, dinamakan begitu karena ngambil dari bahasa Sansekerta, “Panca” yang artinya “lima” dan “sila” yang artinya “prinsip/asas.” (Kok jadi PPKn? Haha…) Orang tua aja milih nama buat anak karena ada kandungan doa (ada artinya) di dalam nama anak yang mereka pilih, kan? Apalagi, kalau bicara soal logo atau lambang (negara/organisasi misalnya) yang selalu punya simbolisasi, selalu punya filosofi di baliknya.

Keempat, pengembangan kepribadian setiap karakter. Ingat kan, kalau di part pertama aku udah bahas soal penentuan lokasi yang bakal menentukan budaya? Nah, yang namanya budaya itu pasti menentukan pola tingkah laku tiap-tiap manusianya. Bisa dibilang break down dari aspek-aspek budaya itu, deh.

Kayak di Lord of the Rings (maap ya, referensiku soal novel fantasy emang cuma dua ini hehe), ada makhluk namanya hobbit (again?!). Kita bisa lihat kalau dunia hobbit itu indah dan damai, kan? Dengan begitu, masyarakatnya mudah percaya satu sama lain, mereka jarang berkonflik. Ini kelihatan dari sikap Frodo dan Sam ke Gollum. Frodo begitu aja jatuh kasihan dan percaya sepenuhnya sama Gollum. Sedangkan, sekalipun Sam nggak percaya sama makhluk licik itu, dia juga nggak begitu aja mengkonfrontasi Gollum secara langsung, kan?

Atau kita bisa liat Merry dan Pippin, yang menurutku lebih agresif ketimbang Frodo dan Sam, mereka tetep beda sama Dwarf yang agak kasar dan beringasan. Kalau ada konflik, mana ada mereka langsung serang dan sebagainya. (Trus, nama mereka cute, menggambarkan karakter mereka yang juga imut-imut?)

Artinya, keempat hobbit itu punya perbedaan karakter, tapi mirip secara fundamental. Mereka bertengkar dan berkonflik, tapi nggak melewati batas-batas budaya mereka. Artinya, kalau budaya kita tentuin lagi, berarti perkembangan kepribadiannya juga harus disesuaikan dengan budaya baru yang kita tentuin itu.

Susah banget nggak, sih? Tenang aja, kita masih bisa nyontek-nyontek dikit, kok. Misal tentang hobbit itu, kita bisa nyontek itu dari budaya masyarakat adat, kayak Suku Badui Dalam, atau yang baru-baru ini booming, Petani Kendeng. Mereka sedikitnya, punya sifat yang lumayan sama dengan para hobbit ini (berdasarkan dari observasi mentahku, ya). Mereka masyarakat homogen yang kurang suka berkonflik dengan pola pikir sederhana.

Tapi, harus tetap ingat kalau cuaca, iklim, suhu, tingkat kebisingan daerah, dan segala macam model demografis lainnya, itu menentukan kepribadian, jadi jangan pernah lupa untuk menyesuaikan unsur itu ke dalam karakter.

Terakhir, (minimal yang kepikiran, ya) tentu saja konflik politiknya. Kalau bukan novel dengan tema tentang politik pasti mikirnya nggak bakalan perlu beginian, kan? Salah besar. Yang namanya politik itu ada di mana aja dan diterapkan di mana aja. Misal, jomblo lagi nyari pacar, nih. Politik mereka adalah dandan secakep mungkin, ngasi kode-kode ke lawan jenis, dan segala macam strategi lainnya. Itu juga politik, lho.

Bayangin kalau konflik politik ini terjadi di dunia fantasy. Misal, di Lord of the Rings, ada Saruman dan Gandalf. Saruman punya tujuan menguasai cincin. Gara-gara itu, ia menghalalkan segala cara. Lalu, muncul Gandalf yang berniat menghalangi dia mencapai ambisinya. Ini lagi-lagi harus ada hubungannya dengan logika cerita dan masing-masing kepribadian tokoh.

gandalf-saruman
Gandalf dan Saruman mulai berkonflik sejak Saruman berambisi menguasai cincin untuk dirinya sendiri. Gambar diambil dari http://www.dreager1.wordpress.com

Misal, Saruman ambisius. Maka, politiknya adalah dia mencoba menghancurkan orang-orang yang menghalangi dia. Gollum, dia berniat menguasai (sebenernya dia yang dikuasai) oleh cincin terkutuk itu, akhirnya dia menipu Frodo dan Sam. Lalu, Frodo yang punya misi dan Sam yang bertugas menjaga Frodo. Ini break down lain dari budaya dan karakter, mereka menentukan hubungan antar tokoh.

Biasanya, yang paham hal-hal begini adalah gamers, tepatnya pecinta game-game RPG. Emang basis game RPG itu biasanya novel fantasy, jadi bisa juga jadi cara asyik untuk memahami alur di novel fantasy lewat games kayak gini. Untuk yang suka fantasy dan pengen nulis novel fantasy, jangan nyerah dulu karena kesulitannya, ya! Kalau sukses, bisa jadi games dan terkenal di mancanegara, lho… 😉

 

 

 

Advertisements

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Baru-baru ini mutusin untuk bikin novel kolaborasi dengan teman-teman sesama penulis. Kebetulan banget, kebanyakan dari mereka penggemar fantasy. Aku sendiri suka sih, bacanya, tapi kurang suka nulisnya. Karena aku bisanya yang realistis, yang deket sama kehidupan sehari-hari, alias imajinasiku kurang. Jadi, kenapa aku mau (malah aku yang ngajak) bikin novel kolab soal fantasy?

Eksplorasi, eksperimen, atau apalah sebutannya. Intinya, aku mau ngerasain.

Dan, lewat tulisan ini (ini gegara keseringan denger lagu kali ya, kan biasanya “lewat lagu ini…” mulai gak jelas, deh!) aku mau menyampaikan beberapa pengalaman yang kudapat lewat fantasy.

Tadinya tuh, aku mikir, asik banget kali ya, bikin sebuah novel yang murni dari hasil pikiran kita sendiri (ya eyalah, kalo gak, namanya plagiat hehe). Maksudnya, murni dari hasil imajinasi kita, nggak terkukung dengan kenyataan, dan aturan-aturan dunia nyata. Eh, ternyataaaa…. tidak semudah yang kuduga.

Pertama, mengembangkan logika cerita. Biarpun kita bisa bilang murni hasil imajinasi, novel bentuk apapun adalah bentuk komunikasi yang lain. Kita sebenernya tengah menyampaikan ke orang lain apa yang ada dalam pikiran kita, dalam perasaan kita juga. Karena itu, komunikasi harus mengikuti aturan luar, kalau nggak ya, pesan-pesannya pasti nggak nyampe. Trus, buat apa dong, kita publish novel? Kecuali kalau mau jadi pajangan di rak buku pribadi atau menuh-menuhin hard disk atau kapasitas google drive (banyak banget medianya sekarang ^^;)

Okelah, ada yang namanya novel sastra. Penyampaiannya kadang ekspresif, subjektif milik si penulis. Mereka bahkan bisa aja membentuk kaidah-kaidah baru dalam cara penulisan dan bahkan cara pembacaan. Tapi, kaidah baru terbentuk dengan dasar kaidah lama. Surrealis nggak mungkin muncul tanpa adanya realis sebelumnya, kan? Lukisan abstrak juga nggak akan muncul kalau nggak ada teknik-teknik pencampuran warna atau konsep-konsep warna dalam hubungannya dengan emosi manusia. Jadi, bahkan bacaan yang nyastra pun nggak mungkin keluar dari kaidah-kaidah baku komunikasi ini.

Contoh simpel, bahkan novel sastra pun nggak mungkin bilang, ibu memasak batu bata. Kalaupun iya, pasti nanti ada segudang alasan di balik itu, mungkin karena di novelnya emang makhluknya punya kebiasaan makan batu bata ^^; Kalau nggak, ya nurut aja sama kaidah baku bahasa indonesia, kalau yang dimasak itu ya, makanan yang bisa dimakan. Seperti, ibu memasak sayur.

Nah, seperti contoh di atas, karena komunikasi ini mutlak harus sampai ke pembaca, kita perlu menulis satu cerita yang benar-benar harus ada hubungannya satu sama lain, kan? Waktu nulis fantasy, ini yang paling sulit, artinya kita harus menghubung-hubungkan imajinasi yang banyak itu hingga membentuk rangkaian yang solid secara logika. Kalau realis masih bisa kita nyontek-nyontek dari dunia nyata. Tapi, kalau di cerita fantasy, semua harus dirancang dari awal.

Kalau misalkan kayak di Harry Potter, menjelaskan hubungan penyihir dengan goblin, misalkan? Artinya, harus jelas dulu karateristik penyihir, karakteristik goblin, perasaan-perasaan mereka, sejarah antara mereka, sehingga hubungan mereka yang diwarnai sakit hati dan saling curiga itu jadi masuk akal banget. Bravo for J.K.Rowling!

65b48871fc60046897cac12d0ad2eb131e03d5c5
GIF diambil dari http://www.romper.com

Coba, kalau nggak dijelasin sejarah mereka yang diwarnai tipu daya, tiba-tiba mereka saling benci aja gitu? Pasti kita sebagai pembaca nggak puas. Lho kok tiba-tiba saling benci aja, sih? Aneh.

Kedua, menyesuaikan setting lokasi dan waktu. Sama aja kayak mengembangkan logika cerita sih, persoalannya. Mesti dirancang ulang dari awal. Untuk beberapa novel fantasy, mereka menggunakan sistem pertanggalan masehi (tapi dengan realita yang sangat berbeda) dan ini sah. Ini lebih gampang, sih. Tapi, beda cerita kalau kita bikin setting waktu sendiri. Atau model-model post-apocalypse yang semuanya harus dari nol. Untuk penulis yang perfeksionis, harusnya sih ada sistem penanggalan sendiri soal ini (push terus novelis fantasy Indonesia! Haha!)

Setting lokasi, ini yang menurutku sangat, sangat ribet. Begitu ketemu novelis fantasy, barulah aku sadar betapa rumit soal setting lokasi ini. Apalagi kalau soal kolab ya, semua harus jelas karena orang-orang yang terlibat semua harus mirip-miripin (karena identik terlalu naif) persepsi soal hal-hal teknis begini.

Kenapa? Masalah lokasi ini penting banget untuk penanaman karakter-karakter dalam cerita. Karena seperti yang kita tahu, lokasi sangat menentukan budaya. Misal, orang-orang yang tinggal di negara tropis 2 musim, dengan negara 4 musim, budayanya pasti beda. Orang yang tinggal di negara kering macam Afrika pasti kelakuannya beda banget sama orang yang tinggal di Greenland. Trus, dia tinggal di pegunungan atau daerah pesisir pantai. Apakah dia tinggal di dataran rendah atau dataran tinggi.

Misal, di Lord of the Rings, para hobbit tinggal di rumah-rumah kecil di semacam padang rumput begitu. Aku lebih ngebayangin soal liang-liang kelinci yang damai gitu, sih. Mereka cenderung ramah dan saling percaya, tapi juga mudah ditipu. Bandingkan dengan goblin, atau disebut juga Orcs, yang tinggalnya di Misty Mountain, alias di pegunungan.

Ini penampakan liang-liang Hobbit… :p

2frodobilbo
Gambar diambil dari thorinoakenshield.net

Nah, ini tempat tinggalnya Orcs…

Trailer1Goblins3
Gambar diambil dari http://www.thelandofshadow.com

Berasa kan, kalau perbedaan sifat mereka jadi masuk akal? Pegunungan yang kebanyakan gelap dan menyimpan sejuta misteri (kayak hewan-hewan liar) otomatis membuat sifat Orcs jadi curigaan (kalau kita nggak mau buruk sangka dulu sebagai jahat, ya). Tampang mereka aja jadi nggak indah gitu, kalau dibanding Hobbit. Itulah kaidah-kaidah baku dalam dunia pembentukan kepribadian, jadi kalau nggak ngikutin itu lagi-lagi pesannya nggak bakalan nyampe.

Singkat kata, kalau setting lokasi nggak jelas, pastinya nanti bakalan nggak masuk akal dengan karakter-karakter tokoh. Kalau perlu jelasin di lintang apa, bujur apa, biar ribet sekalian! 😀

Untuk sekarang, aku nulis sampai di sini dulu. Soalnya, kalau kepanjangan malah jadi nggak enak bacanya. Nanti pesannya nggak nyampe ke pembaca, dong! :p

 

 

nyambung…

Homeschooling Sama Sepupu : Bareng Lebih Seru!

Karena ada insiden duka sebelum ini -ayah mertua meninggal-, aku, suami, dan Tombo jadi banyak nginep di rumah mertua. Well, ini late post, sih. Kejadiannya udah beberapa minggu yang lalu. Karena waktu di rumah mertua agak susah buat updet blog. Bukan karena kerja di sana, cuma nggak enak aja megang hp terus hehe…

Akhirnya…Tombo sama dua sepupunya, Isya dan Kekek (kalau mau tahu soal mereka, ada juga blog yang ditulis Isya : klik sini, cepet!). Mereka juga homeschooling, awal insprasinya emang dua anak ini. Mereka pun berkonspirasi menghebohkan rumah eni (ibu mertua). Eh, nggak ding, cuma bikin ribut dikit doang! hehe…

Tapi, berkat mereka, ada aja kegiatan asik yang bisa dilakuin pas lagi bareng. Dan itu nggak perlu melibatkan gadget (walaupun mereka masih aja suka mohon2 buat dibolehin pake gadget -_-;). Salah satunya tebak-tebakan gambar.

IMG_0945

Isya mulai gambar dengan warna merah (kekek langsung nebak strawberry), lalu setengah lingkaran warna cream. Kita nebak-nebak, sampe akhirnya pas Isya gambar seladanya, Kekek berhasil nebak; burger! Kok bisa tahu, ya? Aku aja nggak tahu. Ini hasil gambar Isya.

 

IMG_0946

 

Habis itu, giliran Kekek. Kekek mulai dengan ngegores warna merah. Namanya juga kakaknya, yang kayaknya ngerti banget pikiran adeknya, Isya langsung nebak; strawberry! Terinspirasi dari tebakan awalnya (liat cerita di atas). Duh Kek, you need a little twist! Dan inilah hasil akhirnya, strawberry dengan warna merah yang yummy. Tentu saja, jangan lupa wajah senyum. Soalnya, kita semua adalah orang-orang yang friendly… :p

 

IMG_0947

 

 

Jangan lupa, selalu selipkan nasehat-nasehat berharga. Setelah Isya gambar laki-laki nangis karena nggak boleh ngerokok ini, Kekek dan Tombo langsung menebar slogan no-smoking di seantero rumah Eni dan ngomel-ngomelin para perokok yang ketahuan ngerokok di rumah. Smoke police! Keren!

 

IMG_0948

Hmm… Tombo nggak pernah lupa sama crossing-nya (padahal udah vakum dari hal-hal berbau crossing ini). Kata mereka, cinta pertama itu memang susah matinya wkkk… So predictable, Tombo! Waktu dia gambar silang, langsung kita bertiga (iiya aku ikut main, iya!) serempak bilang “crossing!”

Emang ya, yang namanya manusia makhluk sosial, mereka bisa lebih kreatif kalau lagi bareng-bareng. Bahkan, waktu mereka bosen, mereka nemu aja permainan baru. Aku nggak propaganda homeschooling sih, tapi enaknya homeschooling itu ya, gitu. Kita bebas beraktivitas gimana aja, kadang itu bisa bikin kita lebih kreatif. (Eh, jadi mirip propaganda. Maklumlah, ya. Hehe…)

 

Belajar Berjuang

smiley_blanton_unschooling_meme

 

 

Ini sebenernya pernah diposting di blog ini versi jadul. Tapi, karena aku mau rombak besar-besaran untuk memulai hidup baru (halaaaahhh) bersama blog yang ini. Nggak mau pindah ke lain hati gitu ceritanya! Akhirnya, posting-posting zaman dulu kuhapus, tapi fotonya nggak. Ada juga beberapa tulisan yang masih kusimpen, karena terlalu sayang buat ngebuang itu.

Nah, kalau ini, adalah dokumentasi tentang perjuangan. Pahlawan? Yang pasti bukan pahlawan nasional semacam MH. Thamrin dkk, bukan pahlawan daerah macam Tuanku Imam Bonjol atau Pattimura.

Justru, ini dokumentasi perjuangan anak bayi! Kejadiannya pas di tanggal 17 Agustus 2011. Artinya, Tombo usianya 3 tahun. Ini tengah malem lho, harap dicatat! Dan dia seger kayak kucing abis dimandiin. Melek gede gitu matanya, keliatan, kan?

100_0596 e

 

Ini ceritanya dia dari telentang. Tapi, aku rada telat ngedokumentasiinnya. Soalnya, sibuk merhatiin.

Kalau ada orang lain ngeliat, kali aku disangka emak tega kali, ya. Ini anak mati-matian ngebalikin badan sambil kesel-keselan gitu. Mengerang-ngerang nggak jelas.

 

Tapi, aku mikir-mikir. Dia kan lagi berjuang, masa perjuangannya kupatahkan cuma gara-gara empati yang nggak ada dasarnya, sih? Toh, posisinya nggak lagi bahaya. Jadi, aku biarin dia berjuang.

Pertama-tama, dia ngebalikin badan. Tahap ini nggak terlalu susah. Masalahnya timbul waktu ia harus ngebetulin posisinya. Cari posisi nyaman.

100_0594 e

 

Lihat, di sini tangannya kejepit. Dia udah kesel banget, sampe hampir mau nangis gitu. Aku mulai nggak tega, tapi nahan diri. Ayo, berjuang, Nak!

Aku beneran ngomong sama anak bayi ini, lho! Ayo, Tombo! You can do it! Begitu terus. Jangan tanya dia ngarti apa nggak, ya. Pokoknya aku ngomong aja terus.

 

Ini butuh waktu berapa lama, ya? Aku kira-kira sih, hampir 10 atau 15 menitan. Yang, mungkin buat bayi, yang biasa diladenin, itu waktu yang lumayan lama, kan?

 

100_0598 e

Ini berjuang banget dia buat benerin posisi tangannya. Udah lumayan lama, sampai akhirnya, yaaaah, mungkin lemah2nya cewek kali, ya. Haha. Akhirnya, aku tarik dikit tangannya, biar keluar begini.

I mean, dia udah berjuang lama dan kupikir itu lebih dari cukup.

 

Bagaimanapun, anak seumur 3 bulan itu harus merasakan saat-saat terbahagianya. Jadi, nggak usah terlalu dipaksa. (Eh, apa aku udah maksa dari awal, ya? Hehe…)

Daaaaaannn……

 

100_0600 e
AKHIRNYAAA!!! BISA JUGA!!!

Dan ini pertama kalinya Tombo tengkurap dengan usaha sendiri. Masih curang dikit dibantu dikit, ya. Tapi, cuma dikiiiiittt, kok!

Selamat hari kemerdekaan! Selamat hari perjuangan! (Ssstt, biar late post dan ini bukan hari kemerdekaan, biarlah, ya!) Ini anak kayaknya bakalan jadi anak nasionalis, soalnya berjuang aja mesti di hari kemerdekaan!

Kalau yang namanya abis berjuang, abis itu boleh dong, nyantai-nyantai… Sambil nikmatin hadiah paling asik…

100_0597 e

 

Ngemut jari! Maaf ya Mbo, belom boleh umur segitu ngemut permen, jadi apa yang ada aja dulu, deh… (^_-)v

 

Masyarakat Adat yang Jauh Lebih Modern

sawah_kita_by_nooreva-d5q63ap
Gambar diambil dari DevianArt by nooreva

 

Please don’t judge me. Aku tahu ini topik yang udah rada basi, tapi karena aku lagi off kemaren dari segala macam berita dan medsos, jadinya bener-bener ketinggalan.

Akhir-akhir ini, berita soal Petani Kendeng lagi banyak ditampilkan. Aku sering denger, tapi baru kali ini tahu apa masalahnya. Lagi-lagi, masyarakat adat vs pengusaha.

Oke, aku sebelumnya nggak pernah tahu soal kasus masyarakat adat dan pengusaha, tapi oh come on, it’s so easy to guess! Masyarakat adat dipinggirkan karena ada kapitalis lagi nyari untung. Terjadi dimana-mana. Sejarah juga banyak membuktikan.

Di Indonesia, keberadaan masyarakat adat adalah sesuatu yang masih dihargai dan diakui secara hukum. Seberapa baik penghargaannya? Ternyata, nggak begitu baik. Soalnya, orang Indonesia sibuk nyari duit. Salah nggak? Nggaklah, siapa yang nggak butuh duit. Tapi, kalau banyak duit, tapi kita nggak punya apapun untuk dimakan, oksigen yang semakin tipis karena kita tebang semua pohon, dan banjir dimana-mana karena nggak ada daerah serapan air, apa gunanya, sih?

I don’t get human somehow. Eh, aku juga manusia, ya?

Di satu sisi, aku menyukai perkembangan teknologi. Aku menyukai kemajuan, karena bagaimanapun, kemajuan juga membawa banyak hal positif. Pengobatan, misalkan. Pendidikan parenting (karena aku orang tua yang butuh itu).

Ups! Pendidikan parenting ternyata kita nggak begitu maju, lho. Kita, masyarakat kota, yang katanya sangat beradab, jauh ketinggalan masalah yang satu ini.

Dari kakak iparku (credit for her) yang suka traveling, di Badui Dalam, mereka nggak butuh ahli parenting untuk mengatakan ke mereka, kalau anak melakukan kesalahan, ya dibilangin, nggak perlu dikasarin or such. Sementara, masyarakat kota??? Guru nyubit anak murid malah dibelain, katanya mencubit dan memukul itu biasa untuk pengendalian perilaku. Sementara, di Badui Dalam, dengan pendidikan parenting yang begitu, mereka tentram dan saling bersahabat tanpa banyak konflik. Kalaupun ada, selesai tanpa harus kasar dan menjelek-jelekkan orang lain. Sejak kapan peradaban modern justru membuat kita mundur jadi manusia purba?

Dan masyarakat adatlah yang punya cukup etika untuk menjaga alam. Masyarakat Badui Dalam punya aturan hanya boleh panen padi setiap 6 bulan sekali dalam setahun. Karena mereka percaya bahwa mereka nggak boleh tamak dalam mengambil hasil alam. Dan, kebetulan sangat, ibuku pernah cerita, bahwa dulu di Sumatera Barat, panen dilakukan 6 bulan sekali,  sebelum pemerintah (bodoh, maaf, aku nggak tahan) mengubahnya jadi 3 bulan sekali. Akibatnya, kualitas beras di Sumatera Barat menurun drastis. Dulu, kata ibuku, beras dari sawah di kampung, rasanya enak banget. Beda sama yang sekarang. Sedih.

Masyarakat Samin, termasuk petani dari pegunungan Kendeng, juga sama sekali nggak menggunakan bahan-bahan kimia untuk pertanian mereka. Mereka menggunakan bahan alami, kayak kotoran sapi dan jeroan sapi (yang masih fresh, dari sapi yang baru disembelih, kurang-lebih) dihancurkan dan diproses jadi pupuk. Artinya apa? Mereka punya kualitas beras yang jauh lebih baik daripada yang kita makan sehari-hari. How sad is that?!

Tapi, kapitalis nggak pernah puas. Dengan alasan membangun perekonomian, mereka bangun pabrik dimana-mana. Padahal, Indonesia itu negara agraria. Kalau kita bisa fokus di agraria, dan mengekspor itu semua, perekonomian kita juga bisa maju. Tanah kita sangat subur, ingat?

Aku rasa, kita harus melepas satu gelar indah lagi dari Indonesia.

Kalau aja masyarakat Indonesia lebih percaya diri untuk mengolah semua hasil alamnya sendiri. Dan kita bisa mendepak semua pihak yang maunya memperkaya diri dari berbagai tender dan investasi asing, mungkin kita akan jauh lebih kaya. Aku nggak anti investor asing ya, tapi tolonglah proporsinya diatur. Kebanyakan!

Selamat tinggal, etika dan moralitas. Sejak kapan civilization menjadi kata yang begitu menakutkan? Sejak kapan peradaban justru menghancurkan manusia daripada membangunnya?

Selamat datang, kanker dan penyakit mematikan lainnya. Hanya karena kita terlalu malas untuk memperjuangkan kesejahteraan alam, yang padahal menghidupkan kita juga.

Tanpa kita sadari, ternyata masyarakat adat jauh lebih maju daripada masyarakat, yang katanya, modern. Internet ternyata nggak cukup bikin kita pinter (akhir-akhir ini, malah membuat kita jadi makin bodoh). Begitulah, dengan berkurangnya kepedulian akan lingkungan sekitar kita, baik pada manusia dan alam, manusia hanya akan jadi hewan. Hanya dengan rasa peduli, kita jadi manusia seutuhnya.

Teriring doa bagi masyarakat adat, semoga masyarakat adat tetap terjaga dan terhormat di atas bumi Indonesia.

 

 

Depok, 29 Maret 2017

Waktu untuk Abah

Hidup itu apa, ya?

Susah-susah berjalan. Jauh-berbatu, kadang terseok, kadang tersandung. Mesti mampir di persimpangan dan bersiap untuk bingung. Jalan itupun tidak jelas. Ujung jalannya gelap, kalaupun terang, seakan tidak berujung.

Kalau sampai, harus meninggalkan semua yang sudah diperjuangkan. Lalu, pergi. Yang entah kemana.

Delima menggigit rotinya. Bola matanya bergulir. Sesekali ke kiri. Kemudian ke kanan. Orang-orang berjalan kaki. Cepat, entah kemana. Mobil, banyak mobil, berlalu-lalang, entah kemana. Dia menyadari begitu banyak yang ia tidak kenal. Lebih banyak lagi yang ia tidak tahu.

Abah kemarin menempuh jalan yang lain daripada orang-orang di depannya. Kalau dari mata telanjang, jalan itu pasti gelap. Karena Abah tidak membawa lampu. Dan jauh di bawah, semua diapit oleh warna cokelat gelap. Bagaimana lantas Abah menjalani liku-likunya?

Ah, ruang itu bahkan terlalu sempit untuk bergerak ke kanan ke kiri. Berguling saja tidak bisa. Akankah Abah bosan di dalamnya?

Waktu rupanya juga sama seperti manusia. Dia buru-buru dan tidak sabar. Akhirnya, mengambil Abah sebagai sekutu. Terbang bersama. Di lain waktu, dia begitu malas. Tubuh renta ia biarkan terus tertatih. Berjalan, biar pelan-pelan. Dan ia berjalan pelan bersamanya. Sungguh tidak konsisten.

Delima tidak tahu kenapa ia ada di sini. Apa yang harus diperbuat. Mungkin ia hanya ingin menantang waktu. Ayo, apa yang akan kau lakukan kalau aku membuang-buang kemurahan hatimu? Apa akan kau persingkat pula hariku?

Ia sudah tidak bisa bertemu Abah lagi. Dan itu membingungkan. Kebingungan yang membawa duka lebih besar dari apapun. Lelaki tinggi-besar itu tidak lagi terdengar jejaknya di rumah. Suaranya yang sedikit-sedikit itu. Bahkan, suara sandalnya yang menyeret itu. Semua tiba-tiba hilang.

Dan waktu enggan menjelaskan. Dia hanya…pergi.

Lebih membingungkan lagi, semua malah jadi lebih jelas begitu tubuhnya tidak lagi terlihat. Sebelum waktu menggandeng tangannya, ia suka berdengung. Ayat-ayat Al-Qur’an. Delima tidak pernah menanyakan. Ia tidak pernah sebegitu peduli untuk menanyakan. Namun, ia bisa menangkap sedikit-sedikit. Kalimat Allaah itu. Setelah Abah pergi, barulah ia tahu, ayat Al-Baqarah yang tengah dihapalkanlah yang sering ia dengungkan.

Dia berdengung di dapur.

Mendengungkannya di teras.
Mungkin juga ketika ia tidur.

Saat itu waktu tengah bermalas-malasan dengannya. Melihat matahari pelan bergerak. Saat-saat siang berubah jadi malam. Malam ke siang. Dengungan itu menjadi musik yang merdu buat mereka.

Waktu menikmati detik yang berjalan pelan. Ia sudah menemani lama dalam suka-duka. Ia yang bersorak kegirangan sewaktu Abah pertama kali menggendong anak perrmpuannya. Lalu, yang kedua, yang ketiga, yang keempat. Ia yang meneteskan air mata saat Abah harus berpisah dengan kakak lelaki satu-satunya. Ia sudah sesabar itu.

Delima menyuapkan potongan roti terakhir. Roti sudah habis. Waktunya belum. Katanya, “kau tahu aku akan setia. Tak peduli biar kau membuangku atau menyiksa. Sampai tiba saatnya, aku akan terus menemani.”

Hanya satu yang tidak pernah diungkapkan waktu dengan jujur. Sampai tiba. Kapan, dimana?

Begitu juga dengan waktu di sisi Abah. Ketika pria itu bertemu dengan malaikat berjas putih, ia menemani. Diam-diam berjalan bersama Abah dengan wanitanya. Wanita satu-satunya yang ia puja. Yang dengannya ia memutuskan untuk mengikat waktunya dengan waktu wanita itu.

Ikatan yang tumbuh jadi simpul berkarat yang susah lepas.

Waktu menangis bersama Abah. Ketika malaikat itu berbisik. “Sabar,” katanya. Karena itulah jadi menakutkan. Tidak ada yang akan menyuruh sabar kalau ia tidak tampak buru-buru. Satu kata yang justru menekankan makna anti-tesisnya. Begitu kuat.

Ia menatap tubuh tinggi-besar itu. Tergolek lemah di dalam pangkuan wanitanya. Bergulung. Kembali menjadi janin yang lembut. Terselubung oleh ketuban yang hangat. Waktunya tersenyum. Mengecup keningnya pelan.

Satu per satu sosok yang begitu Abah kenal. Berdiri gelisah. Seorang anak perempuan. Tiga orang anak lelaki. Tidak peduli seberapa tinggi mereka sekarang, mereka bocah-bocah kecil Abah. Dan waktu menangis.

Ia tidak sabar. Tapi, bagaimana merelakan keajaiban-keajaiban kecil yang tumbuh besar itu? Ia tidak mau menyiksa sahabatnya. Tapi, bagaimana cara melepaskan genggaman tangan yang hangat itu?

Lantas, bagaimana dengan wanita Abah? Akan seberapa hancur hatinya?

Waktu di sisi wanita itu menggenggam tangannya, “aku akan menyelubunginya dengan butir-butir baru. Yang lembut. Yang membahagiakan.”

Sampai tiba saatnya. Waktu untuk Abah. Waktu untuk waktu. Tiba di penghujung. Waktu memutar kembali. Kepingan-kepingan yang hilang beberapa minggu terakhir. Dan ia melihatnya. Mata itu bercahaya. Keajaiban-keajaiban kecil. Yang tumbuh besar di keluasan hatinya.

Matahari semakin redup. Menggeliat, ia masuk ke peraduannya. Abah turut gelisah. Ingin ikut. Menggenggam bias mahkotanya. Membiarkannya menghantarkan ke singgasana Penguasa Segala Makhluk.

Roti Delima sudah habis. Air matanya pun. Tapi, tidak seperti Abah, waktunya belum. Dia bangkit. Berjalan lagi.
Dedicated to Abah Iskandar Burhanuddin
(5 Januari 1955-9 Maret 2017)

Budaya Indah Orang Indonesia; Terima Kasih

 

terima-kasih
Gambar diambil dari hipwee.com

 

Inkonsistensi adalah kata yang menyeramkan. Nggak cuma kelihatan bikin orang jadi kurang punya integrasi, bahkan orang tua yang konsisten juga bisa merugikan pola didik anak. Dan itulah aku. Dengan inkonsistensi dalam mood nulis ini, sesuatu yang harusnya dilakukan sejak lama, jadi ketunda sampe sekarang. Cerita ini terjadi waktu aku memutuskan mengajak anakku ke Habibie Festival.

Astaga, tahun lalu lho, itu ceritanya ^^;

Tadinya, pengen cerita soal Habibie Festival. Perlu nggak, ya? Mungkin nanti. Jadi, setelah nanya-nanya gimana caranya ke Museum Gajah (tempat festivalnya dilangsungkan), akhirnya aku memutuskan untuk naik commuter line ke Stasiun Gondangdia. Dan jalan kaki ke Sarinah. Ada yang kaget? Soalnya, aku kaget, karena lokasinya jauh banget ternyata.  Pas pulang, baru aku tahu kalau city tour bus yang bertingkat itu (dan gratis! Ini yang paling penting!), salah satunya lewat Masjid Istiqlal (ada dua rute, lupa nama rutenya apa). Trus, masjid Istiqlalnya sebelahan sama Stasiun Juanda. Aih!

Tapi, itulah gunanya pengalaman. Sedikit-banyak, dia memberimu pelajaran.

Bus bertingkat itu udah nggak kayak waktu aku SD dulu, sekitar tahun 1995-1996. Aku masih ingat bagaimana besi-besi karatan dengan cat-cat dominan putih terkelupas. Agak sedikit mengerikan memang naik bis kayak gitu dulu. Tapi, rasa penasaran kekanak-kanakan mengalahkan segala-galanya. Itu makanya, waktu naik bis ini jadi nostalgik banget. Kok bias, sih?

Langsung ke pokok permasalahan. Waktu aku nunggu city tour bus ini, ada 2 lelaki bule yang juga nyamperin tempat nunggu bisnya. Mereka celingak-celinguk bingung gitu, trus tiba-tiba noleh. Kemana? Ke aku laaah (norak ceritanya). Dia lalu nanya dengan Bahasa Inggris penekanan yang buatku aneh. Mungkin antisipasi kalau-kalau orang yang diajak bicara nggak bisa bahasa dia.

Jadi inget film “Mr. Morgan’s Last Love” dimana ada penjual roti di Paris bilang ke Mr. Morgan, yang notabene orang Amerika, “kenapa Orang Amerika ini tinggal di negara orang, tapi nggak mau belajar bahasanya? Nggak semua orang paham bahasamu!” Dia bilang dalam Bahasa Perancis ini ya, dan tujuannya tentu aja buat mengejek Mr. Morgan yang jelas-jelas nggak paham bahasanya dia. Tampaknya pendapat penjual roti itu emang jitu.

Balik ke si bule, dia nanya, “where can I get the ticket for this bus?” Kebetulan aku baru liat plang bisnya, jadi aku jawab, “I think it’s free.”

Oh, it’s free!” Lagi-lagi, dengan penekanan nggak perlu. Asli, berasa dianggap sama anak kecil sama tuh bule menyebalkan. Trus, baru aja aku mau nambahin, “well it’s my first time, too…” Dan suaraku perlahan lenyap karena si bule udah balik badan dan ngomong lagi ke temennya. Nggak bilang terima kasih pula.

Daripada kesel, bisa dibilang aku kaget. Kok nggak bilang terima kasih? Atau setidaknya gesture terima kasih lain. Akhirnya, suara lain dalam kepala langsung bilang, mereka kan bule, budayanya beda…

Sebelum itu, aku pernah ngobrol sama kakak ipar yang suka traveling ke luar negeri. Dia bilang kalau emang Indonesia beneran negara yang penduduknya paling ramah. Baik di Korea maupun di Thailand, orang-orangnya kebanyakan galak dan jarang senyum. Satu Youtuber Jepang pernah mencoba membuktikan perbandingan antara keramahan orang Indonesia, dengan cara mengerjai turis domestik Indonesia di Bali dengan turis asing. Terbukti kalau orang Indonesia, begitu si Orang Jepang ini minta maaf, yang dikerjain langsung senyum. Kalau yang turis asing, langsung pergi sambil cemberut. Ada lagi survey yang menyatakan kalau Indonesia salah satu negara yang paling dermawan di dunia (walaupun kedua di Asia Tenggara yang paling banyak sampahnya di laut, sekilas info hehe)

Jadi, seharusnya aku nggak perlu kaget. Tapi, yang namanya biasa banget berbasa-basi bilang terima kasih dan senyum, terus-terang aku jadi rada kurang biasa ngeliat orang nggak bilang terima kasih begitu.

Bukannya gila hormat ya, tetapi ada perasaan menyenangkan saat orang bilang terima kasih ke kita. Biarpun mungkin kebanyakan dilakukan atas dasar basa-basi dan kebiasaan aja, saat orang bilang terima kasih, rasanya orang itu baru aja bilang apa yang kita lakukan buat dia benar-benar membantu dia dan mereka menghargai itu. Tentu saja, rasa bangga pada diri kita sendiri tergelitik dan kita jadi senang. Setidaknya, aku merasakan itu.

Budaya yang begini, benar-benar nggak boleh hilang dari orang Indonesia. Maksudku, itu karakter kita. Khas orang Indonesia. Apalagi, karakter itu berupa menghargai orang lain, sesuatu yang baik dan menyenangkan.

Dan aku berharap juga, semoga kebiasaan-kebiasaan ini bisa menghilangkan perselisihan-perselisihan yang banyak terjadi sekarang ini. Jangan cuma ramah sama orang asing, seharusnya kita juga ramah dengan anak bangsa kita sendiri.

Semoga perselisihan setiap masa pemilu nggak berlanjut kemana-mana. Lebih baik lagi; nggak perlu ada musuh-musuhan setiap kali pemilu. Capek amat, kan… Tetep disambung-sambungin ke sini… Hehe…

 

 

 

 

 

Tips Ngasal Blogger Pemula

image
Gambar diambil dari zenzuhaini.blogspot.co.id Ayo kunjungin juga blognya, ya 😉

Aku bikin blog dari tahun 2008, sejak aku mulai aktif make internet. Telat banget, ya? Biarin deh, udah biasa. Nggak masalah bagaimana kita memulai sesuatu, yang penting bagaimana kita mau berproses dan menyelesaikannya sampai selesai. Itu motto ku, sih. Walaupun, secara sempurna masih banyak perlu perbaikan.

Ceritanya, aku update beberapa tulisan di dalamnya. Abis itu, tanpa sadar, blog itu tiba-tiba udah lumutan karena kelupaan bertahun-tahun. Pas nyadar, nyesel sendiri. Trus, tahun 2011, berencana mulai lagi. Mulailah kontennya diperbarui, isi-isinya ada yang dibuang karena, tahulah, dinamika manusia itu luar biasa. Aku di masa depan ternyata kurang setuju dengan diriku di masa lalu. Dan, setelah beberapa hari getol posting tulisan (fokus sama tulisan sok serius gitu, deh), tiba-tiba inspirasi hilang. Beberapa hari, beberapa bulan, dan sampai tahun 2014, itu blog terbengkalai lagi.

Sama seperti novel-novelku. Udah bikin draft, beberapa bab, trus ditinggalin ^^;

Sampai akhirnya, aku bikin resolusi baru. Nggak perlu indah-indah atau serius banget, yang penting blognya hidup dulu, deh. Ngebayang deh, sekarang di follow belasan orang aja hepi banget (ilustrasi bagaimana menyedihkannya kehidupan blogku dulu). Jadi, berdasarkan pengalaman pribadi, ini cara membuat blog kita tetap hidup :

1. Konsistensi aja dulu

Kayak yang aku bilang di atas. Kalau tulisan serius-serius yang butuh narasumber segudang itu menyulitkan, ya udah, kita nggak usah fokus ke situ dulu. Yang penting satu artikel per hari. Ini aja buatku susah banget, lho! Kemaren sempet blog sebulan nganggur ^^;
Idealisme emang bagus, tapi konsistensi itu bisa menjaga kita disiplin menjaga apapun keyakinan yang kita pegang. Nanti kalau udah ada waktu, tenaga (memeras otak itu capek, lho!) dan inspirasi, ayo kita beridealisme dalam menulis. Itu juga penting!

2. Simpan tulisan di draft

Kalau yang namanya penulis tuh, kalau lagi dapet inspirasi, tulisannya bisa banyak banget sehari aja. Nah, kalau lagi begitu, semangatlah menulis, tapi stop! Jangan buru-buru publish dulu ke khalayak ramai. Publish satu, trus simpen lainnya di draft. Inget-inget buat posting besok. Jadi, kita selalu punya cadangan buat posting sehari sekali. Konsisten dulu, karena pola pikir terbentuk dari pola kebiasaan.

3. Make it fun!

Oh, tulisan itu bisa jadi sangat membosankan, bahkan buat kita yang cinta banget menulis. Namanya juga duduk di depan laptop, atau mobile computing atau apalah itu, berhadapan dengan huruf-huruf monoton, tiap hari? Kalau ada yang nggak bosen dengan itu, blessed you! Artinya, kamu dapet hidayah dari Tuhan, dan syukurlah! Buat yang bosen, maka bersenang-senanglah dengan blog. Daripada tulisan, sekali-kali posting foto narsis (buat yang suka selfie), atau ngutak-ngatik tampilan blog, atau sekadar posting tulisan yang nggak banget. Konyol juga kalau itu bagian dari diri kita, itu harus diterima, and it should be fun!

4. Jadi follower

Lah kok, malah jadi follower? Bukannya, kebalikan? Harusnya kita yang nyari follower? Dulu, aku mikirnya juga gitu. Sekarang, aku mikir, sombong amat ya??? Kesannya kita mau dihargai orang, tapi nggak mau mulai duluan menghargai orang. Ya jelas, mental. Well, kalau blognya berguna banget, pastinya dicari orang, kita nggak perlu ngapa-ngapain. Kalau blognya curhat atau nggak jelas kayak blogku ini, mana mau deh, orang follow begitu aja? ^^; Kalau kita jadi follower, rajin komen yang bermanfaat (bukan cuma ‘nyimak’ atau numpang jejak doang, ya orang juga males.

5. SEO

Nggak perlu! Karena ribet (please jangan ditiru!) Mestinya sih, kalau blog kita menarik, bermanfaat, orang pasti suka aja. Dan selalu, mouth-to-mouth ads itu paling efektif mempromosikan sesuatu. Makanya kan, sekarang orang pakai trolls buat menjaring one-click-monkey. Atau apalah itu istilahnya, pernah denger, tapi lupa mulu. Penting apa mereka???

Ini sekilas tips-tips buat blogger pemula dar blogger pemula juga. Makanya, kalau masih ngaco, itu karena aku juga masih belajar. Belajarlah, tiap hari. Asah otak kita biar nggak karatan, daripada nanti dipoles pake yang nggak-nggak sama politikus payah di atas itu!

Tulisan kedua yang pure dari mobile computing! Yeah, another winning for me! (Kalau nggak ngerti kenapa aku seneng cuma gara-gara ini, yah maklum aja ya, kemenangan itu sifatnya personal banget soalnya ^^)

“Bhasmī Bhūta”

 

graphicSesuai dengan petunjuk dayang wanita itu, Kertajaya kembali ke wismanya sebelum Maghrib tiba. Dayang lelaki yang berjumlah lima orang itu tinggal empat saja yang menjagai wismanya.

“Kemana satu lagi?”

“Kurang tahu, Gusti Paduka,” jawab salah satunya. Kertajaya mendengus kesal, berniat akan menjatuhkan hukuman sekembalinya dayang yang tidak patuh itu.

“Baik, kita berangkat.” Hanya dengan berbekal kedua pasang kaki mereka, mereka berangkat menuju sumur tempat pemasungan tersebut. Kertajaya memilih jalan yang tersembunyi, bebas dari penglihatan pengawal kerajaan. Begitu ada pengawal lewat, mereka bersembunyi di belakang bangunan istana. Maghrib mulai tiba, Kertajaya memberikan isyarat untuk mempercepat langkah mereka. Mereka pun sampai ke sumur tersebut.

Baru saja Kertajaya mendekat, sebuah tombak panjang telah terhunus di depan dadanya. Seorang pengawal menghalangi geraknya. “Kau!” raung Kertajaya murka. “Beraninya kau!”

“Atas perintahku!” sahut sebuah suara yang berat. Suara yang sangat dikenalnya. Ayahandanya telah keluar dari balik kegelapan pepohonan yang rimbun. Menatapnya dingin. Dia menghaturkan sembah.

“Ayahanda!” sahutnya, terkejut. Bagaimana ayahnya bisa mengetahui rencananya?

“Apa yang kau lakukan di sini?!”

“Kenapa ayahanda ada di sini?” sahut pria itu dengan waspada. “Dayang itu!?” seru Kertajaya menyadari ketidakhadirannya adalah petaka bagi mereka.

“Ya! Dia adalah mata-mataku! Tak suka kau?!” bentak Dharmawongso II dengan suara menggelegar.

“Ampun, Ayahanda!”

“Aku sudah duga kau akan melakukan ini. Kau mengecewakanku!!! Balik kau!!!”

“Tolonglah, ayahanda! Dia kakandaku dan ibundaku yang menimangku semasa kecil!” mohon Kertajaya mengembik di bawah kaki ayahandanya.

“Kembali ke wismamu!” sahutnya tegas. “Aku ampuni kau sekali ini! Tapi, sekali lagi kau coba dekati mereka, aku tidak akan segan memenggalmu! Kau tahu, pengawal jauh lebih memercayaiku dibanding kau, raja sehari! Kembali kau dan para dayang edanmu itu!” seru Dharmawongso II menggertak Kertajaya. Sekalipun merasa terhina, Kertajaya beserta para dayang lelakinya berbalik, tidak berdaya di bawah ancaman tombak dari pengawalnya sendiri.

“Kakanda, Ibunda, maafkan aku yang tidak berdaya ini,” bisiknya, menengadah kepada cahaya bulan. Dia mengirimkan berbagai doa kepada mereka berdua, sadar penjagaan akan diperketat dan dia tidak akan bergerak bebas di negeri yang dipimpinnya sendiri.

Satria dan ibundanya tidak pernah mengetahui adegan yang terjadi di atas sana. Sumur itu terlalu jauh dari atas tanah sehingga hiruk-pikuk di atas hanya terdengar samar. Mata pria itu berkilat oleh amarah. Bayangan Kertajaya dan Ayahandanya berputar-putar, seolah mengejeknya bertubi-tubi dalam kepalanya.

Satria meraba ke dalam ikat pinggangnya, sebuah batu kecil yang berwarna hitam-kelam keluar dari padanya. Dia mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya. Mahapatih yang putus asa itu menghela nafas. Ini adalah saatnya, sekarang atau tidak sama sekali. Dia mengatupkan kedua tangannya, mengapit batu kecil itu. Mulutnya membuka perlahan,

“Wahai Dewa Syiwa, engkau sang pemusnah. Jatuhkan angkaramu bagi Raja Kerajaan Kediri beserta seluruh isi-penghuninya. Kejatuhan bagi engkau dan seluruh keturunanmu tiada henti, tiada kebahagiaan diperuntukkan bagimu. Bhasmī Bhūta[1]!!!

 

[1] “Hancur hingga menjadi abu” dalam bahasa sansekerta

 

_________________________________________________________________

 

Catatan penulis :

Bhasmī Bhūta ini novel dari tahun 2014, yang rampung 2015. Yang mengerikan dari proses belajar adalah betapa angka 2 bisa memberi banyak. Melihat lagi novel ini, aku ngerasa kalau ini sangat kekanakan dan mentah. Dengan diksi yang berlebihan dan cerita yang kurang menarik. Padahal, dua tahun lalu, aku merasa ini udah cukup baik.

Pelajaran berharga yang kutemukan, sangat sulit untuk menentukan kapan waktu yang tepat bagi penulis untuk berhenti mengedit karyanya. Mungkin memang tidak akan ada waktu yang tepat. Bahkan, kalau diberikan seluruh waktu di dunia. Dinamika manusia memang mengerikan. Terlebih lagi, untuk pasrah dan untuk ikhlas adalah sesuatu yang berbeda, tapi sangat tipis di pemaknaannya. Mereka sama-sama menginginkan kita untuk berhenti dan puas di satu titik, tapi berhenti dengan pemahaman yang menyeluruh bahwa kita memang harus berhenti sama sekali berbeda dengan memaksa diri untuk berhenti. Dan di sana, aku masih menghadapi dilemanya.

 Fakta yang lain lagi; Bhasmī Bhūta ini telah ditolak 2 penerbit. Yang satu adalah Penerbit Divapress, alasannya karena sedang off-cut (maaf kalau istilahnya salah) kurang-lebih artinya penerbit tengah menutup penerimaan naskah masuk karena naskah yang ada sudah menumpuk. Yang kedua, oleh Penerbit Mokamedia, dengan alasan karena penerbit sedang tidak menerima naskah romance. Begitu aku tambahkan ada unsur thriller di dalam novel ini, penerbit menolak masih dengan alasan yang sama.

Inilah yang menyeramkan dari dunia kepenulisan. Bukan masalah ditolak, tapi betapa kau menyadari bahwa kompetisinya tidak akan ada batasnya. Mungkin sering dengar jargon “semua orang bisa menulis.” Nah, bagaimanapun pada satu titik, semua orang ini akan mencoba. Dan karenanya, kau akan jadi jarum di antara ribuan jerami. Kalau kau jenis stainless steel, mungkin suatu saat orang akan menyadari betapa berkilaunya dirimu di tengah tumpukan kusam kecokelatan jerami. Namun, di tengah penantian, kau bisa saja jadi berkarat, dan kau akan jadi sama kusamnya. 

Untuk saat ini, naif sekali kalau aku harus berpuas diri. Mungkin memang sebaiknya tidak perlu. Setahun kemudian, semua karya-karya sebelumnya, mungkin kembali terlihat kekanakan. Karena manusia terus tumbuh dan berkembang, terus merenovasi dan mengadaptasi diri. Saat ini, mungkin akupun belum menemukan ciri khas dalam gaya bahasa, masih, sadar ataupun tidak sadar, mengadaptasi gaya penulis lain. Tapi, a start is a start, right?

Aku sudah memulai, tinggal mencari cara bagaimana harus menjalani prosesnya dan mencari ending paling gemilang yang bisa kuciptakan. 

Dan mudah-mudahan di bawah ada yang mau komen dan kasih masukan. Ini final, aku belum memutuskan untuk mengedit. Walaupun, sejalan dengan kata-kata di bawah ini meluncur, aku mulai berpikir untuk mengedit lagi.

 

Depok, 18 Januari 2017

 

Wah, udah berapa lama gak nulis, ya? Dan sekalinya nulis, dari hp yang autotext-nya parah banget. Jadi, maaf kalau typo sana-sini (pake bahasanya juga udah gak formal lagi, sih 😂)

Tapi, bagaimanapun, mobile computing itu bakal susah dihindari karena udah jadi bagian sehari-hari. Aku pribadi masih lebih suka komputer dan laptop dan yang sejenisnya, dengan layar lebih besar dan spek yang bagaimanapun masih lebih lengkap. Mungkin udah ada kali ya, smartphone yang selengkap komputer/laptop speknya? Tapi, harganya juga pasti lengkap juga. Terlalu kompleks buat dompetku yang minimalis ^^;

Teknologi emang akan selalu maju, ditambah penggemarnya yang bejibun, dari orang yang berlomba-lomba untuk memajukan udah sampai yang sekadar gaya-gayaan. Apapun itu, semua juga bergerak mengikuti kemajuan. Yang tadinya orang hobi jalan-jalan ke mal buat windows shopping, sekarang jendela itu bisa dinikmati dari layar yang kecil dan ringan. Bisa dibawa ke mana aja. Otomatis, pedagang gak bisa lagi mengandalkan tokonya yang ribet dan gak praktis itu.

Orang yang hobi nulis sepertiku, akhirnya, dipaksa juga untuk menyerah. Kalau mau ikutan maju, harus berani meninggalkan gaya lama. Dulu, aku berkutat dengan kertas dan pulpen yang luwes menari itu. Patuh pada otak dan ototku. Sekarang, mobile computing seolah-olah mengejek, mengataiku ketinggalan zaman dengan seenaknya memberikan terlalu banyak masukan yang nggak perlu. Lebih lancang lagi, mengendalikan jariku dengan mengubah kata-kataku seenaknya.

Apakah sebesar lagi akan tiba saatnya untuk robot memberontak melawan manusia? Ah, klise. Manusia tentu akan menemukan cara untuk melampaui mereka lagi. Dan kapitalisme selamanya yang akan berkuasa…

Intinya : lagi latihan nulis lewat (dua kali ganti, jadi ‘great’ trus jadi ‘least,’ maunya apa, sih?!) mobile computing karena tuntutan zaman… *nangis*

P.S. Mana ini tulisan miringnyaaaa???!! #stres (taunya paling atas, maksudnya aku harus scroll yang dari bawah ke atas trus ke bawah lagi gituuuh???!! Making stress!)