Tag Archives: Death

A Tale of Two Cities (Plot dan Sejarah)

photo (3)

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris

 

 

Ternyata, benar-benar reviewnya mesti kupisah jadi banyak bagian begini. Maklum, baru pertama kali, serius mau review isi satu novel selengkap-lengkapnya (tanpa perlu jadi spoiler tentunya!)

Versi yang ini, aku mau ngereview tentang sisi sejarah yang terjadi di novel ini. Sebelumnya, kan aku udah cerita ini tentang pemberontakan rakyat Perancis yang mengakibatkan jatuhnya Bastille, lambang otorita kaum aristokrat Perancis zaman dulu.

Di sini, memang Dickens menjelaskan tentang penderitaan rakyat Perancis, yang miskin dan kelaparan, karena ulah kaum aristokratnya (di mana-mana sama aja, ya). Tapi, yang menarik, Dickens bukan cuma berpihak pada sisi rakyat jelata Perancis, tapi juga menceritakan kisah ini dari sisi kaum aristokrat. Seperti Charles Darnay, yang keturunan aristokrat, tapi memutuskan untuk putus hubungan sama pamannya yang sombong dan semena-mena banget. Ada juga, ayahnya Lucie, Doctor Manette, yang bisa dibilang dari kalangan terhormat, karena dia seorang dokter.

Bahkan, ada kaum aristokrat yang divonis hukuman mati oleh Guillotine, bilang begini, “What I have been thinking as we came along,  and what I am still thinking now, as I look into your kind strong ace which gives me so much support, is this; – If the Republic really does good to the poor, and they come to be less hungry, and in all ways to suffer less, she may live a long time: she may even live to be old.” (almost cry at this scene…)

Dickens, I fell for you, sementara para pengarang lain suka menggunakan kata ganti “laki-laki” atau “he” sebagai kata ganti untuk semua hal, terutama yang berhubungan dengan perjuangan dan pergerakan, yang emang banyak lebih terkait sama laki-laki, Dickens menyebutkan “she” sebagai kata ganti “Republic.” O, wow!

Jadi, nggak hanya penderitaan rakyat jelata, para kaum aristokrat ini juga menemui ketidakadilan dalam proses revolusi Perancis. Bahkan, Dickens menyebut istilah populer soal kemerdekaan di Perancis liberty, egality, fraternity, or Death. Dari novel ini juga, kita bisa melihat fakta-fakta kelam pasca revolusi Perancis. Fakta kelam dari perjuangan kebebasan. Ya, tentu saja, masa transisi nggak segampang itu dicapai. Sama aja kayak reformasi Indonesia, kan?

Kadang, emang mesti jelek dulu sebelum kita belajar untuk jadi baik.

Setelah baca novel ini juga, aku baru sadar ada satu kesamaan dari novel-novel klasik. Mereka menggunakan banyak tokoh, yang satu per satu dibahas secara lompat-lompat, tapi akhirnya ketemu di akhir cerita. Seperti novel The Count of Monte Cristo oleh Alexandre Dumas, yang lebih kompleks lagi jalan ceritanya, tokoh-tokoh yang terlibat itu pertama kita baca seakan terpisah, tapi pada akhirnya mereka tersangkut-paut dalam seluruh konflik cerita keseluruhan, yang dikemas belakangan.

Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer juga kurang-lebih punya gaya cerita yang sama. Bedanya, mereka ini nggak terlalu kelihatan terpisah karena ada satu tokoh yang menyatukan mereka, yaitu si Minke.

Jadi, kalau baca buku ini, terima aja dulu setiap tokoh yang muncul, familiar atau nggak, atau setiap adegan yang kelihatan nggak ada hubungannya, trus simpen di memori. Karena, nanti pasti setiap tokoh ketahuan apa perannya, dan tiap adegan bakal ada hubungannya juga. Itu juga yang bikin aku kagum sama sastra klasik, begitu banyak tokoh dan adegan, tapi bisa aja koneksinya nyambung dan masuk akal.

Dan, inget, setiap tokoh, sekecil apapun, kalau disebut namanya, atau jadi karakter di satu bab, pasti bakalan muncul belakangan, jadi jangan pernah melupakan mereka sedikitpun ^^;

Aku berharap jadi nggak terlalu banyak ngebocorin isi ceritanya. Yang umum-umum aja kok ini hehe…

Last but exactly NOT the least… Narasi yang satu ini mesti aku sertakan. Setelah beberapa kalimat yang bikin aku terkesima, ini salah satunya. Kenapa, ya? Bukan hanya menggambarkan ketakutan, tetapi juga menggambarkan sisa-sisa negeri yang selama ini menderita. Setidaknya, kesan itu yang kudapet.

Houses in twos and threes pass by us, solitary farms, ruinous buildings, dye-works, tanneries, and the like, open country, avenues of leafless trees. The hard uneven pavement is under us, the soft deep mud is on either side. Sometimes, we strike into the skirting mud, to avoid the stones that clatter us, and shake us; sometimes we stick in ruts and sloughs there. The agony of our impatience is then so great, that in our wild alarm and hurry we are for getting out and running – hiding – doing anything but stopping.

Out of the open country, in again among ruinous buildings, solitary farms, dye-works, tanneries, and the like, cottages in twos and threes, avenues of leafless trees. Have these men deceived us, and taken us back by another road? Is not this the same place twice over? Thank heaven, no. A village. Look back, look back, and see if we pursued! Hush! The posting-house.

Leisurely, our four horses are taken out; leisurely, the coach stands in the little street, bereft of horses and with no likelihood upon it of ever moving again; leisurely, the new postilions follow, sucking and plaiting the lashes of their whips; leisurely, the old postilions count their money, make wrong additions, and arrive at dissatisfied results. All the time, our overtraught hearts are beating at a rate that would far outstrip the fastest gallop of the fastest horses ever foaled.

Tapi, baca sendiri ya, ini kutipan di bagian mana bukunya *ketawa setan* Singkatnya, ini buku rekomended banget bagi yang suka drama dan mau menikmati narasi-narasi panjang. Lebih bagus lagi kalau baca dalam bahasa aslinya, karena pemilihan kata-kata oleh pengarang itu yang bikin menarik. Yah, kalau dalam bahasa lain selain Inggris dan Indonesia, aku nyerah, sih! ^^;

 

sampai di akhir review, hore! 😀