Tag Archives: Fiction

Bhasmī Bhūta

“Sekar, ayo!” Banowati menarik tangannya untuk memasuki wilayah perkuliahan mereka.

“Kita ngapain, sih?”

“Ketemuan ama juniornya temen gue. Katanya ganteng, lho.” Mata Banowati memancarkan cahaya saat meyakinkan Sekar akan ketampanan pemuda yang ingin ditemuinya itu.

“Trus, ngapain ngajak gue?”

“Ya, gue kan gugup, Kar.”

“Plis, deh. Boong banget lo,” tukas Sekar, meyakini bahwa kepercayaan diri gadis itu terlalu tinggi untuk merasakan kegugupan.

“Beneran,” tukas Banowati mencoba meyakinkannya. Sekar hanya mengedikkan bahu.

“Lo ngapain ketemuan sama dia? Dia kan, anak FISIP?”

“Kemaren itu gue ketemuan sama temen gue, anak FISIP UI juga. Nah, kebetulan gue liat dia. Gue penasaran, dong.” Sekar menggeleng-gelengkan kepalanya dengan putus asa. Gadis ini tak sudah-sudahnya mencari pasangan hidup terbaik untuknya. Namun, selalu kandas bahkan sebelum memulai.

“Kalo junior, berarti masih muda, dong.”

“Gak ada salahnya sama daun muda.” Banowati lalu menunjuk-nunjuk dengan antusias ke arah seorang pemuda berkacamata yang duduk sendiri di kantin Taman Ismail Marzuki, yang biasa dikenal dengan singkatannya, TIM. Dia tampak sedang membaca sesuatu.

“Oiya, kata temen gue juga, nih. Kemaren dia sempet terlibat kasus kecelakaan, sejak itu dia jadi aneh gitu. Biasanya gaul, jadi sering menyendiri. Trus, nilai-nilai dia pada jatoh semua pas kuis. Untung cuma baru kuis doang. Kasian, ya. Mungkin masih terpengaruh sama kecelakaan itu kali, ya.”

Sekar mengedikkan bahu tak peduli, yakin bahwa rasa iba Banowati itu terbatas untuk orang-orang yang menarik hatinya. Begitu mereka mendekat, pemuda itu mengangkat wajahnya. Sekar akhirnya memahami kenapa Banowati begitu tertarik pada lelaki yang lebih muda darinya itu. Kulitnya putih dengan mata yang bersinar cerdas. Wajahnya seolah terpahat sempurna, dengan lekuk yang menambah ketampanannya. Namun, entah mengapa Sekar merasa tak asing dengan wajah itu.

Dia berdiri untuk menyambut Banowati dan Sekar. Banowati langsung menyalaminya dengan antusias. “Eh Arya, sori gue bawa temen. Gak apa-apa, kan? Kenalin, Sekar.” Arya menatap wajah gadis yang berkulit kecokelatan, tapi tampak manis itu. Kesan suku Jawa terlihat kental pada wajah gadis itu. Dia pun tersenyum seraya mengulurkan tangannya.

Sekar menjabat tangan itu. Dia merasakan ada sensasi aneh yang mengalir dari jemarinya saat bersentuhan dengan pemuda itu. Mungkin hanya karena dia mengagumi ketampanannya, tak lebih. Tak lama, Banowati langsung bercericau tentang masalah sosial dan politik di Indonesia. Dia menyatakan bahwa dia sedang melakukan riset tentang itu. Sekar tahu itu hanya taktiknya mendekati pemuda itu. Dalam kesenggangannya, dia meraih buku yang tampaknya terlupakan oleh pemiliknya.

The social contract[1]…,” gumamnya. Mungkin salah satu literatur jurusan FISIP, yang pasti Sekar sama sekali tak tertarik. Hanya karena ingin memberikan keleluasaan bagi Banowati, maka dia membuka-buka buku itu. Seluruhnya dalam bahasa Inggris. Sekar baru saja berniat membuangnya ke tempat sampah saat suara bass itu menyapanya,

“Mbak tertarik juga sama sosial-politik?” Arya dan Banowati kini tengah menatapnya membuka lembaran buku itu. Tidak sama sekali, itulah jawaban yang tepat. Namun, Sekar tak yakin apa hal itu akan menyinggung pemuda di depannya itu.

 

(Politic article that I wrote : Koalisi yang Inkonsisten)

 

“Yah,” Sekar menutup buku itu, menggumamkan jawaban tak jelas.

“Bawa aja, mbak.” Pemuda itu mengeluarkan senyum yang meruntuhkan hati Sekar. Dia mengangkat alis, terpana sejenak. Antara keterpanaannya melihat sebentuk wajah tak bercela itu dan keberuntungannya memperoleh tawaran menggiurkan untuk membaca buku yang menurutnya membosankan itu. Ia mengutuk dalam hati. Sekarang dia terbebani oleh buku yang isinya tak akan dipahami oleh gadis itu. Namun, ada hal lain yang begitu mengganggunya. Rasanya dia belum terlalu tua untuk dipanggil “mbak” oleh siapapun.

“Jangan panggil gue mbak. Panggil aja Sekar.”

“Oh,” sahut pemuda itu, membulatkan bibirnya. Dia kembali menatap Sekar dalam diam, membuat gadis itu salah tingkah. “Oke, Sekar.” Dia tersenyum lagi. Sialnya, cara dia menyebutkan nama Sekar lagi-lagi membuat dada gadis itu berdebar kencang. Dia sungguh terperangkap dalam pesonanya dan itu bukan pertanda bagus. Gadis itu langsung bertindak,

“Ya udah, gue bawa bukunya, ya. Gue ada perlu lagi, nih. Gue tinggal, ya.”

“Lho, kemana?” Kali ini Banowati yang sangat tahu bahwa Sekar tidak memiliki janji lain, membuka suara.

“Mumpung ke sini, gue mau ketemu dosen. Biasa, konsul.”

“Boleh minta nomor lo?” sahut Arya cepat, menghentikan Sekar yang baru saja hendak berbalik. Dia terkejut oleh kelugasan pemuda itu. “Jadi, gampang kalo mau balikin bukunya.”

“Oh, iya. Boleh.” Sekar begitu gugup sehingga yang terpikir olehnya adalah mengambil sehelai tisu yang tersedia di meja dan menuliskan deretan angka di atasnya. Sekar yakin wajahnya mulai memerah, sehingga dia berpamitan tanpa berbasa-basi lagi. Arya meraih tisu bertuliskan angka itu dan memandangi Banowati dengan pandangan heran. Gadis itu terkikik.

“Sori, temen gue emang aneh.”

…..bersambung…..

[1] Buku karya Jean Jacquess Rosseau

 

(I also wrote short stories, check it out here : Just Another Dawn)

Advertisements

Bhasmī Bhūta

BAB II

THE SOCIAL CONTRACT

Arya menatap kosong dinding kamar kosnya, tidak berbuat sesuatupun. Bulan ini telah mencapai bulan keempat, artinya tidak lama lagi dia akan menempuh UAS untuk semester keenam ini. Namun, sejak kejadian itu, tubuhnya belum lagi berkehendak untuk bangkit dan melawan apapun yang sedang bercokol di hatinya saat ini.

Pemeriksaan kepolisian atas kasus tabrakan itu masih menghantui, sekalipun sudah diputuskan ia tidak terpanggil lagi. Baik sebagai saksi, maupun sebagai terdakwa. Bebas, tapi sesuatu masih membayangi.

Ada apa dengan dirinya? Dia sendiri belum menemukan jawaban. Masih terbayang di pelupuk matanya ayahnya yang murka atas keterlibatannya dalam peristiwa yang diketahui khalayak luas itu. Ibunya memandang dengan cemas, terus-menerus berusaha membelanya, menenangkan sang ayah. Bahkan, adiknya pun mencercanya karena kini dia dibombardir oleh teman-temannya yang kebetulan mengetahui bahwa Arya adalah kakaknya.

Kenapa? Kenapa anak emas itu terlibat peristiwa memalukan itu? Pertanyaan itu tidak hanya terlontar dari mulut orang-orang di sekelilingnya, bahkan dosen-dosen dan rekan seperjuangannya di bangku kuliah, tetapi juga dari batinnya sendiri yang kini menyiksanya dengan lontaran-lontaran kalimat kasar. Pemuda itu menarik nafas, menggerakkan persendian tubuhnya.

Dering telepon itu menghentikan gerak tubuhnya. Dia mengangkatnya, “Halo?”

“Halo, ini Arya, ya? Gue dapet nomor lo dari temen gue. Katanya lo bisa bantu gue soal kajian sosial-politik Indonesia?”

“Iya,” sahutnya ragu. “Ini siapa, ya?”

“Kenalin, Banowati.”

…..bersambung…..

Bhasmī Bhūta

“Oi Sob, gimana kabar lo?” tukas Arya saat dia menjenguk temannya yang kini berstatus tersangka itu. Tangannya masih berbalut perban dan masih tampak guratan-guratan bekas kecelakaan di mukanya. Dia mempersilakan Arya masuk dengan lesu, lalu duduk dengan menopangkan kepalanya pada kedua tangannya. Pemuda itu menghela nafas berat. Sementara itu, Arya hanya dapat menepuk pundaknya untuk menenangkannya. “Sori,” bisiknya.

“Harusnya gue pulang bareng lo aja kemaren,” sahutnya lirih, menyesali keputusan bodohnya semalam. “Mana Yola masih di rumah sakit, gak sadar. Sumpah, gue ngerasa bersalah banget, Ya.”

“Yah, udah kejadian. Yang pasti jadi pelajaran aja buat lo.”

“Gue sumpah gak mau nyentuh minuman keras lagi!” tekadnya, mengepalkan kedua tangannya di lutut. “Semoga Yola gak kenapa-kenapa,” bisiknya lagi, setengah berdoa.

“Amiin. Gue barusan nengok dia, kondisinya stabil kok, kata dokter. Cuma masih dibius aja, makanya masih gak sadar.”

Temannya itu mengangkat kepalanya, memancarkan mata yang penuh kelegaaan. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Dia tertunduk malu, mengurut pangkal hidungnya. Arya memandanginya dengan penuh simpati.

“Nah, lo sendiri gimana? Lo bakalan disidang katanya?”

Dia mengangguk lesu kembali. Namun, tampak kepasrahan melandanya. “Iya, gue pantes dapetin itu. Untung orang yang ketabrak gak ada yang meninggal. Cuma ya, ganti ruginya lumayan gede. Malu gue sama bonyok gue,” sahutnya panjang-lebar, menarik nafas.

“Tenang aja. Gue yakin bisa diringanin asal lo mau kerja sama, bilang lo ngerasa bersalah banget.”

Pemuda bertubuh jangkung itu tersenyum. Arya mengambil jeda sejenak, menimbang-nimbang kata-kata yang akan ditanyakannya.

“Trus, gue mau nanya sama lo, nih. Inget kan, gue pamitan duluan sama lo-lo pada?” Temannya itu menatap Arya dengan rasa ingin tahu, lalu mengangguk. “Trus kok tiba-tiba gue ada bareng kalian, ya? Lo tau gak sih kejadiannya gimana?”

Kerutan di dahinya menandakan otaknya sedang diperas di balik tengkoraknya. “Gue lupa, Ya. Lo tau kan, kalo gue mabok itu pasti gak inget semua-muanya. Tapi, gue inget pas lo pamitan.” Dia terkekeh dan Arya yakin dia mengingat bagaimana sikap Yola malam itu.

“Berarti gue cuma bisa nunggu Yola sadar, ya.”

“Emang kenapa, sih?” selidik temannya itu.

“Harusnya kan gue langsung pulang, tapi gak tau kenapa gue malah ada di situ sama kalian.”

“Maksud lo?”

“Pas gue sadar, gue lagi di tengah-tengah jalan. Gue ampe kaget tiba-tiba dikelilingin orang-orang sama mobil ambulans dan mobil polisi.”

Adrian mengangkat alis. “Lo di situ? Kok bisa?”

“Kalo gue tahu, gue gak bakalan nanya lo, deh,” desah Arya dengan nada putus asa.

“Apa lo gak jadi pulang?” sahut temannya itu keheranan. Arya hanya bisa mengedikkan bahunya sebagai jawaban. Kepalanya penuh oleh bayangan gadis terakhir yang dia lihat itu. Ada sesuatu pada diri gadis itu yang tak bisa dijelaskan oleh Arya. Mungkin dia telah terhipnotis kecantikannya atau tatapannya yang tajam itu. Dia tidak yakin ingin menceritakan hal ini pada temannya.

“Itu dia. Anehnya gue gak inget.”

“Apalagi gue. Gue kalo udah minum gak bakalan inget apa-apa.”

“Yola pasti inget, kan?”

“Biasanya sih, minum sebanyak apapun dia inget-inget aja. Tapi, gak tau juga, ya.”

Kata-kata itu menjadi kata perpisahan dengan temannya. Dia mengundurkan diri dari rumahnya setelah dia menenangkan pemuda bernasib naas itu. Yah, bukannya dia hendak mengatakan bahwa temannya itu tidak bersalah, tetapi dari puluhan pemabuk di bumi Indonesia ini, dialah yang kebagian nasib menabrak orang. Lalu, dia tersangkut-paut dengan itu. Arya mendesah memikirkan prosesi persidangan yang harus dia jalani. Pasti dia pun mendapat panggilan sidang, entah kapan.

 

…..bersambung…..

Bhasmī Bhūta

Arya duduk menggertakkan rahang di salah satu ruang kantor polisi. Polisi itu memborbardirnya dengan pertanyaan yang itu-itu juga. Bukankah dia sudah menyatakan semua yang dia tahu? Mengapa prosedur di tempat ini begitu berbelit-belit?

“Pak,” sapanya kepada salah satu petugas yang melewatinya. Dia mencondongkan tubuhnya, mengatasi kebisingan akibat mesin tik dan suara wartawan. Petugas polisi yang masih muda itu berhenti. “Kira-kira kapan saya bisa keluar?”

“Wah, belum tau, Pak. Tapi, masih ada prosedur lain yang mesti bapak ikutin.”

Dia menjawab singkat, lalu bergegas masuk ke ruangan, meninggalkan Arya yang tak puas. Pemuda itu mendengus kesal. Pikirannya mumet oleh berbagai macam pertanyaan dan juga suara jepretan kamera wartawan yang sesekali masih terdengar. Belum lagi, suara wartawan yang menambah bising suasana di sekitarnya.

Berapa kali pun dia mengingat kejadian tadi malam, dia meyakini bahwa dia telah pulang jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Dia memejamkan matanya, mencoba mengingat apa yang terjadi malam itu. Kilasan gambaran dia keluar dari diskotik menuju mobilnya bergantian memenuhi otaknya. Lalu, seorang gadis.

Ya! Ada seorang gadis! Dia menegakkan kepala, mencari salah satu petugas yang tadi menginterogasinya. Baru beberapa menit kemudian, dia mendapat keberuntungan. Salah satu petugas itu melewatinya. Dia berdiri untuk berbicara pada pria berkumis itu.

“Pak!” sahutnya. Pria berperut buncit itu mengangkat alis. “Saya inget, sebelum saya pulang, saya ngeliat ada gadis yang rambutnya disanggul.”

“Menurut kamu, ada hubungannya sama kejadian ini?”

“Saya gak tau, tapi sebelum saya kehilangan ingatan, saya inget saya ngeliat dia, trus saya deketin dia. Abis itu, saya tiba-tiba gak tau apa-apa lagi.”

Pria paruh baya itu mengernyitkan dahi dengan ragu, menatap pemuda di hadapannya. Mata itu menyala terang, menunjukkan keteguhannya.

“Oke, nanti saya balik ke kamu.” Pria itu berlalu. Arya mendesah, hanya itu yang dapat dia lakukan. Entah berapa jam dia menunggu di situ, bagian belakang tubuhnya telah kebas karena duduk di kursi kayu yang keras itu. Seperti janjinya, polisi itu kembali mendatanginya dan membawanya ke ruang periksa. Dia menambahkan keterangan tentang gadis yang dilihatnya pada malam itu.

“Jadi, siapa gadis itu?”

“Saya gak tau, gak kenal, Pak. Tapi, saya inget banget, jam 12 lewat saya keluar dari gedung, trus ngeliat gadis ini, Pak. Kulitnya putih pucat, rambutnya disanggul gitu, wajahnya gak terlalu keliatan soalnya gelap, tapi yang saya inget wajahnya cukup cantik.” Arya tak yakin kata “cukup” tepat untuk mendeskripsikan kecantikan khayali itu. Namun, rasanya menggambarkan keterpesonaannya akan wanita itu tidak tepat untuk dilakukannya saat ini.

“Lalu, menurut Anda apa hubungannya dengan kejadian ini?”

“Saya gak tau, Pak. Masalahnya, setelah saya liat dia, saya lupa semuanya. Tiba-tiba saya bangun udah di lokasi kejadian. Udah penuh polisi dan ada ambulans. Tapi, saya gak inget apa-apa selama 2 jam lebih dari waktu saya keluar gedung sampe kecelakaan itu. Mungkin kalo gadis itu ditemuin, dia bisa ngasi tau saya ngapain.”

“Selain dia, mungkin ada orang lain yang ada di situ?” Arya mengernyitkan dahi, memutar otaknya dengan keras. Selain gadis itu…

“Ada satpam, Pak! Ada satpam gedung pas saya keluar.”

“Anda berinteraksi dengan dia?”

“Cuma nyapa aja pas keluar. Udah, gitu aja.”

“Selain itu? Ada orang lain lagi?” Arya menggelengkan kepalanya dengan yakin. Polisi itu membuka pintu ruang itu kemudian memanggil salah satu rekannya.

“Coba kasih ciri-ciri gadis itu supaya kami bisa identifikasi mereka.” Selama lima belas menit penuh, Arya kembali dipaksa untuk mengingat detil tentang gadis tak dikenal itu. Setelah sketsanya selesai, Arya diperbolehkan keluar dari ruang periksa. Dia disambut oleh wanita yang dia kenal dengan baik.

“Arya,” seru seorang wanita berkulit putih dengan mata yang sama dengan Arya. Dia masuk didampingi oleh seorang petugas polisi, menghampiri Arya dengan berlari. “Aduh, kamu gak apa-apa, sayang?”

Arya tersenyum senang, teramat lega dengan kehadiran wanita mulia yang disebutnya Mami itu. “Mi!” sahutnya, tak kuasa menyembunyikan nada lega. Di belakangnya, seorang pria mengikuti dengan wajah memerah. Dan Arya tahu dia berada dalam masalah.

“Nah, Bapak sama Ibu cuma perlu ngisi formulir ini sebelum pulang.” Ayah Arya mengisi formulir itu dalam diam, sementara ibunya meremas-remas tangan dengan gugup. Setelah beberapa nasehat tentang minuman keras dan berkendara di tengah malam, akhirnya Arya diperbolehkan pulang bersama kedua orangtuanya.

“Bikin malu!” bentak ayahnya, ketika mereka berada di dalam mobil. “Kamu ngapain tengah malem mabuk-mabukan?!”

“Pi, aku gak minum sama sekali,” tegasnya. Entah telah berapa kali dia mengatakan kalimat ini. “Kalo Papi gak percaya sama aku, ayo kita ke lab sekarang, tes urine.”

“Trus kamu ngapain sama temen-temen begundal kamu itu?!” bentaknya, seolah bertekad menyalahkan anaknya.

“Aku gak bareng mereka. Aku lupa gimana aku bisa ada di situ, aku pulang sendirian, jam 12 lewat. Kan aku janji gak pulang lebih dari jam 1 sama Papi,” balas Arya tak kalah sengit.

“Mami percaya sama Arya, Pi,” tukas wanita itu. Ayahnya hanya mendengus.

“Bagaimanapun juga, dia udah terlibat. Kamu gak boleh make mobil lagi! Sampe Papi bisa liat kamu bertanggung jawab. Mana besok Papi mesti izin buat nebus mobil.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Arya tidak menjawab atau mencoba bersikukuh tentang pendapatnya. Dia paham tidak akan ada gunanya. Lagipula, dia tidak benar-benar butuh mobil kecuali saat dia ingin keluar bersama teman-temannya. Dia lebih suka mengendarai motor yang lebih praktis.

Yang kini memenuhi pikirannya, adalah gadis itu dan bagaimana dia bisa kehilangan ingatan. Terlebih lagi, dia tiba-tiba berada di lokasi kejadian. Apakah tubuhnya terhempas dari mobil? Dia hanya ingat, terbangun dalam keadaan terbaring di aspal dengan kacamatanya yang telah retak dan kepala yang luar biasa sakit, seakan telah terhantam sesuatu. Mobilnya pun ada di situ, tapi dia tidak ingat telah mengendarainya. Dia menggelengkan kepalanya yang masih berdenyut sakit, dalam hati bertekad akan menanyakan ini kepada temannya.

…..bersambung…..

Bhasmī Bhūta

“Wah, puitis juga lo, ya…,” goda Banowati. Sekar tersenyum penuh arti kepada Banowati. Gadis yang sebaya dengan Sekar itu balas tersenyum, masih menatap terpaku pada pemandangan absurd yang masih kasar di atas kanvas milik Sekar itu.

“Rencananya gue mau ngelamar jadi pramugari.”

“Hah?” Kata-kata itu berhasil membuat Sekar menoleh sepenuhnya, mengernyitkan dahi ke arah temannya itu. Sementara, yang dipandangi hanya mengedikkan bahu tak acuh. “Lo kan lulusan seni rupa? Kayak gue?”

“Udah gue putusin. Kalo ngegantungin diri sama seni rupa bisa susah hidup lo. Nah, jangan mulai bicarain Raden Saleh atau Basuki atau siapapun itu ya, mereka satu di antara seribu.”

“Ya, mungkin aja kita bisa jadi dua di antara dua ribu? Bukan perbandingan yang tinggi juga, kan…,” sahut Sekar dengan cuping hidung mengembang, sadar kalau sebenarnya kalimat itu lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Banowati menunduk, rambutnya yang ikal tergerai lunglai di bahunya. Dia mengibaskannya ke belakang. “Yah,” desahnya, berhenti tak meneruskan.

“Kalo lo maunya begitu juga sebenernya gak apa-apa, sih. Tapi, kayaknya berasa sayang banget. Lukisan lo kan, bagus.” Sekar menghela nafas pendek. Banowati hanya menatapnya.

“Ada yang pengen gue lakuin, sih…,” bisiknya pelan.

“Hah? Apa?”

“Gak ada apa-apa.”

“Kenapa, sih?” tukas Sekar, bingung. “Nah, kenapa gak ngelamar jadi ilustrator yang lo selalu omongin itu aja?”

“Gak pede gue.”

“Serius? Eh gambar sketsa lo tuh bagus tau, gak?”

Wanita cantik itu hanya tertawa menanggapinya, mengacak rambut temannya itu.

“Apa sih, lo?” sahutku, menepis tangannya.

“Gue numpang tidur, ya.”

“Lah, kok?”

“Iya, gue ngantuk banget, semaleman gak bisa tidur. Nanti siang gue mau ketemuan sama cowo ganteng yang kaya. Semoga gue nikah sama dia biar hidup gue seneng-seneng terus.” Banowati memainkan alisnya. Sekar mendengus geli.

“Eh, lo juga udah mesti mikirin cowo. Nanti jadi perawan tua.” Sekar hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban. Banowati melangkahkan kakinya ke kamar Sekar.

“Bano!” panggil Sekar kemudian. “Gue mau beli sarapan! Lo mau, gak?!”

“Beliin buah, dong! Apel aja!” seru Bano dari kamar Sekar. Sekar menggeleng-gelengkan kepala mendengar pilihan sarapannya itu. Apel? Mana kenyang!

 

…bersambung…

Bhasmī Bhūta

Kamera beralih ke reporter yang menyatakan keraguannya akan kesaksian anak muda tersebut. Bagaimanapun, polisi telah meninjau lokasi dan terbukti dia bukan si pengemudi. Kamera sekarang menyorot salah satu petugas polisi yang datang meninjau lokasi kecelakaan. Gadis itu mengedikkan bahu tak tertarik, lalu melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk membuat kopi, santapan pagi harinya.

Menyeruput kopinya, dia menatap lukisan kelabu yang berada di studio kecilnya yang sebenarnya berstatus gudang yang disulap oleh Sekar. Dia adalah penganut realis, mengagumi pola gerakan manusia, membekukannya dalam lukisan. Maka, dirinya sendiri menganggap cukup aneh apabila tiba-tiba saja dia tertarik untuk menggali tentang aliran romantisisme. Apakah dia jenuh dengan lukisan dengan tema yang sama, entahlah. Sketsa kasar itu baru selesai dibuatnya dari pensil. Suasananya muram, suram. Angker, pun sepi. Entah apa yang merasuki dirinya kali ini, melukis sesuatu yang tidak biasanya ia lukis. Dia menghela nafas. Lukisan ini apakah juga akan gagal? Setidaknya, di mata dosennya yang terlalu selektif itu?

 

“Sekar. Lukisan lu itu seringkali tidak berjiwa. Gak ada luapan emosi di dalamnya. Coba lebih berani menghidupkan warna-warna di dalamnya, coba eksplorasi tema lukisan lo lebih dalam.”

Sekar menunduk, tidak memercayai pendengarannya sendiri. Sedari pagi dia telah mengagumi hasil karyanya sendiri. Dia puas. Ya, dia teramat puas, menganggap lukisan itu adalah masterpiecenya. Namun, ternyata dosennya yang berpengalaman puluhan tahun menganggap karyanya itu tidak seberapa.

“Gue denger lu mau ngadain pameran?”

“Lagi coba bicara sama sponsornya, Pak.” Sekar menahan diri untuk tidak menghela nafas penat di hadapan dosennya. Kelemahan hanya memicu semangat pria berambut putih berekor kuda itu untuk menyepak Sekar ke jurang keputusasaan lebih jauh.

“Lu belom siap! Gini, gua jujur udah bosen ngomong berulang-ulang sama lu. Eksplorasi, coba, gali terus potensi lu. Jangan terpaku pada bentuk yang udah ada. Jangan terpaku pada minat lu aja, itu artinya membatasi diri. Gua bisa ngerasain ketakutan di lukisan lu. Takut keluar dari kotak lu itu. Pokoknya, jangan temui gua lagi kalo lukisan lu belom bener-bener bebas dari ketakutan dan batasan-batasan itu!”

Sampai kapan? Bagaimana dia bisa tahu bahwa lukisannya telah menampilkan warna yang berbeda, yang lebih berani? Sejauh ini, dia selalu menggunakan berbagai macam warna, tidak terfokus pada satu warna. Maka, dia sama sekali tidak memahami pola pikir dosennya yang menganggap warna yang digunakannya tidak meluapkan emosi jiwanya? Sekar menunduk, menghela nafas. Tangannya yang memegang kuas bergetar. Jari-jemarinya terlalu kotor oleh campuran warna cat-cat yang selalu singgah, begitu cepat, tapi begitu enggan untuk pergi. Lukisan ini. Apakah dia sedang mencoba bereksplorasi? Tiba-tiba perasaan ragu menyelimutinya kembali. Akankah dia menyelesaikan lukisan yang tidak sesuai dengan gayanya ini?

Kuasnya lalu bergerak, memilih cat akrilik warna hijau tua, mencampurnya dengan warna hijau muda sedikit, juga sedikit warna cokelat muda. Dia terus mencampur hingga tercipta satu warna hijau lumut yang sempurna. Dia menggoreskan kuas berujung lebar, menciptakan warna latar belakang untuk lukisannya.

“Kar!”

Sekar tersentak saat seorang wanita yang kurang-lebih berusia sebaya dengannya telah muncul di depan pintu studionya yang terbuka. Wanita itu berkulit mulus, tiada satu tahi lalat pun yang menyambangi kulitnya, membuatnya bagai pualam berwarna mutiara. Kecantikannya selalu membuat gelisah para pria, keanggunannya melumatkan hati kaum Adam. Tinggallah kaum Hawa mengimpi dan mengiri padanya.

“Bano? Kok lo di sini?”

“Kok pintu lo biarin kebuka gitu aja, sih?”

“Ya, emang kenapa? Gak ada juga peralatan yang bisa dicuri di sini.”

Wanita muda yang baru saja berbicara melalui ponsel dengannya itu, bergerak mendekat. Sambil tetap berdiri, dia memperhatikan sketsa yang kini telah dihiasi sapuan kasar hijau lumut. “Lo tumben bikin lukisan suram gini?”

“Iya, gue pake satu tone warna, hijau, semua didominasi warna hijau, bahkan langitnya memantulkan warna hijau itu, nanti paling gue maenin gradasinya. Kali ini gue mau coba romantisisme, kayak Raden Saleh. Gimana menurut lo?” Gadis itu mengangkat alisnya dengan mata bersinar antusias. Temannya yang ditanyai hanya mengangkat bahu.

Jari lentik berkuku panjang terawat itu terangkat, hampir menyentuh permukaan kanvas, mengikuti garis sketsa yang belum tersentuh cat. Matanya menerawang, mungkin membayangkan pemandangan itu terpampang memenuhi pandangnya.

“Hebat. Ada kekuatan magis di dalamnya,” sahutnya dengan nada misterius. Sekar mendengus geli, ketidakpercayaan mewarnai matanya yang mengejek.

“Apaan sih, lo!” tukasnya. Dia kembali menjawil campuran cat yang menempel di palet dengan ujung kuasnya itu.

“Lho? Kok lo gak percaya, sih?” Dia berkacak pinggang, menonjolkan lekuk dadanya yang menjulang sempurna. Sekar menatap wanita yang kini berdiri di sampingnya itu. Bagi Sekar, dia adalah wanita sempurna. Sosok tubuhnya, kecantikannya, struktur tulang, hingga…pikiran itu terhenti. Dia tidak berminat membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan wanita lain, terutama temannya sendiri. Layaknya masing-masing karya memiliki jiwanya sendiri, kecantikan pun punya keunikannya sendiri.

“Ceritanya ini adalah sebuah sumur di antara semak belukar yang indah. Sendirian, berteman dengan makhluk-makhluk tak bernama, tak berwujud…”

 

…bersambung…

Bhasmī Bhūta

“Hhhhh!” Dada Sekar tertarik ke atas, begitu sulit dia mengambil nafas kehidupannya sendiri. Matanya terbeliak, menatap langit-langit kamarnya yang diwarnai oleh rona biasan matahari yang menembusi kaca jendelanya.

Nafas gadis berkulit kecokelatan itu terengah-engah, dia sendiri tidak menyadari kenapa. Hanya saja, ada ketakutan teramat sangat, kepedihan yang tak terkatakan. Memenuhi sanubarinya, menyesakkan. Seakan dadanya telah terhimpit beban yang terlalu berat. Baru disadarinya, peluh telah membentuk sebuah noda kelabu besar pada permukaan alas kasurnya. Begitu basah, seakan cairan itu menetes dari setiap lubang pori-pori kulitnya sepanjang malam tiada henti. Tidak sekali ini pula.

Dia menggolekkan tubuhnya, hingga menjauhi area basah pada kasurnya itu. Mengingat-ingat apa yang dimimpikannya tadi malam, dia menutup matanya. Sekar masih tidak mampu mengingat sejengkal pun kisah dalam mimpinya. Namun, dia yakin ada beberapa orang pria dan seorang wanita. Apa yang mereka lakukan? Di mana?

Lamunannya bagaikan benang kusut, yang terpilin-pilin membentuk simpul mati. Sangat sulit untuk memunculkan gambaran mimpinya lagi. Akhirnya dia menyerah dan turun setengah hati dari kasurnya, lalu menghampiri jendela di ruang tamunya.

Dia mengamati bagaimana matahari pagi menyapa dengan malu-malu, mempersembahkan belai kasihnya kepada manusia yang dirundung berbagai masalah pagi itu. Beberapa tentulah mengumpat di tengah-tengah kerumunan sesamanya di angkutan umum. Beberapa berlari terseok-seok, menyadari dirinya telah terlambat untuk memenuhi komitmen yang telah dibuatnya dengan perusahaan tempatnya bekerja. Di antara semua itu, hanya Sekar yang dengan perlahan membuka jendela kamarnya, menyambut kehangatan yang ditawarkan sang dewa cahaya tersebut.

Jeritan lengking pelan menyadarkannya. Gadis berambut ikal itu terburu-buru berlari-lari kecil ke arah dapur. Dia mematikan kompor gas dan mengangkat teko kecil itu. Kopi yang diseduhnya menguarkan aroma harum semerbak, serta kehangatan uap yang mengepul-ngepul dari atas permukaannya.

Rumahnya itu kecil-mungil, tetapi begitu nyaman. Tempatnya tidak jauh dari pusat kota, yang berarti lokasi yang strategis, tetapi juga tidak ikut campur dalam kehirukpikukan kota metropolitan jakarta itu. Dari balik jendela, dia mengamati tetangganya yang berjalan terburu-buru. Ada pula yang berdaster dan berkain untuk menopang bobot anaknya sambil menimang-nimang, terus membujuk anaknya yang enggan untuk melahap sarapannya.

Dia meletakkan kopinya di atas meja pendek di ruang tamunya, lalu membuka pintunya lebar-lebar.

“Dita,” sapanya, lebih memanggil nama anaknya daripada ibunya. Entahlah, para ibu-ibu lebih suka disapa dengan nama anaknya ketimbang namanya sendiri.

“Tante Sekar,” balas si ibu yang rambutnya masih dihiasi rol-rol rambut yang bergelung-gelung, sambil menatap anaknya dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Sekar. Anak yang dipanggil hanya menoleh dengan tatapan kosong tak berminat, lalu kembali membuang muka ke arah lain.

“Itu ada tante Sekar,” sapa seorang ibu yang lain, dengan penampilan yang jauh berbeda. Ibu yang satu ini lebih suka berpakaian modis, dengan gaun terusan selutut yang mengikuti model terkini, dengan tatanan rambut sederhana, hanya diikat menyatu ke belakang. Dia sedang menemani anaknya yang baru saja belajar jalan, masih terseok-seok mengkhawatirkan.

“Tante Sekar kapan ngelukis aku?” tanya ibu itu dengan nada bermanis-manis, mencoba menirukan tingkah anak-anak. Sekar tertawa pelan.

“Ayooo, Sintanya bisa diem bentar, gak?” balas Sekar dengan nada yang kurang-lebih sama.

“Walah, mana bisa tante…” Tak tahulah, mengapa mereka selalu menerjemahkan dengan sembarangan apa yang ada di pikiran si anak. “Ya udah deh, nanti ya, kalo Sinta udah gedean dikit. Udah bisa disuruh diem.” Wanita itu terkekeh geli, entah apa yang lucu. Sekar hanya tersenyum. Selalu saja seperti ini setiap hari, para ibu yang menemani anaknya berjalan-jalan atau menyuapi atau mengantar anaknya ke sekolah. Namun, justru pemandangan inilah yang selalu membangkitkan inspirasinya dalam melukis. Sederhana, realistis, namun memberikan kesan yang mendalam.

Gadis berparas manis ini telah beberapa tahun menjalani hidupnya sebagai pelukis selepas dia menjalani upacara wisuda dari akademi seninya. Dia memilih untuk melukis lepas seperti ini, sambil berharap suatu hari dia dapat memperoleh koneksi pada sponsor pameran lukisannya sendiri. Rasa-rasanya impian itu makin menjauh. Sekar menghela nafas.

Sebelum meneruskan rutinitasnya, dia memutuskan untuk menyetel televisi berukuran 14 inch itu. Tayangan infomersial menyerbunya dengan berbagai berita tentang perceraian dan perseteruan antar aktris Indonesia. Ah, kayak gak ada acara yang lebih bagus aja! tukasnya dalam hati sambil mengganti salurannya.

“Sebuah mobil telah menabrak tiga orang di kawasan Sarinah pada pukul 02.45 pagi tadi…” Sekar mengernyitkan dahi, menaikkan volume suaranya. Para wartawan mengelilingi lokasi kejadian yang masih dipenuhi dengan pecahan kaca mobil. Mobil yang dianggap bersalah pun masih tergeletak dalam keadaan miring dengan sejumlah penyok di body­-nya. Sekar menyeringai jijik, terutama saat diberitakan bahwa pengemudinya dalam kondisi mabuk berat.

“Umur 19 tahun?!” bisik Sekar terperangah. Baginya yang telah mencapai usia ke-23, rasanya mereka masih anak-anak. Dan hidup mereka akan berubah haluan karena sebotol minuman yang tak berdaya. Sekar sama sekali tidak menyukai minuman pahit itu, walaupun dia telah mencobanya beberapa kali.

Seorang pemuda yang tampaknya terlibat, diwawancara di kantor polisi. Wajahnya bahkan tidak disamarkan. Dia menjawab dengan sengit,

“Saya gak tau. Saya sama sekali gak minum dan gak ikut mereka. Saya inget jam 12 lewat saya udah keluar dari diskotik. Gak nyentuh minuman sama sekali,” tegasnya kesal. Menjawab rentetan pertanyaan dari wartawan, dia hanya mendesah, “abis itu saya gak inget apa-apa lagi. Yang saya tau, saya udah di lokasi kecelakaan pagi ini.”

Gadis itu mengernyit mendengar kesaksian yang aneh itu. Yah, mungkin sekali kepalanya telah terbentur dan dia melupakan sebagian ingatannya tentang malam itu. Atau mungkin memang dia mabuk hingga kehilangan kesadaran, tapi dia tidak mau mengakuinya. Memang masih tabu di Indonesia.

 

 

…bersambung…

 

(baca sebelumnya di sini : Bhasmī Bhūta)

Bhasmī Bhūta

BAB I

KECANTIKAN DINI HARI

Hingar-bingar musik dari Disc Jockey menghentak ke seluruh ruangan, menulikan telinga setiap pengunjung. Namun, mereka tak peduli dan menggerakkan tubuh seirama dengan musik techno yang disajikan. Seorang pemuda, membawa dua gelas beserta sebotol minuman keras, menyelinap di antara orang-orang yang berdansa hingga lupa diri. Seorang gadis tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya saat melihat pemuda itu mendekati mereka.

“Makasih, Arya…” Tanpa ragu, gadis berpakaian dress yang sangat minim itu mencium kedua pipinya. Dia sendiri sama sekali tidak terkejut, begitulah gaya hidup yang selama ini dijalaninya.

Pemuda bernama Arya itu menghampiri temannya yang berada di sisi lain. “Sob, gue pulang, ya!” Dia terpaksa menaikkan nada suaranya hingga ke oktaf tertinggi yang dia bisa agar temannya bisa mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya.

“Plis, deh! Masih sore!” Temannya itu balas berteriak. “Udah kita habisin ini dulu aja, deh!” serunya lagi, sambil mengangkat botol itu.

Arya menggeleng. “Gak bisa! Gue mesti nyetir!”

“Sama, kali!!!” Pemuda itu tertawa, entah apa yang lucu dengan kata-katanya. Arya langsung dapat menebak bahwa pemuda itu mabuk.

“Gila, lo!!! Parah! Udah, gue pulang, ya!”

“Yaaa, Arya!!!” kali ini gadis berpakaian minim itu yang berteriak memelas. Dia bergegas melompat ke arah Arya. Pemuda itu takjub dengan gerakannya yang gesit, mengingat hak sepatu yang dia pakai mungkin mencapai 10 cm. “Di sini dulu aja!!! Kita turun, yuk!”

Gadis itu kini menggamit lengan Arya, yang menghela nafas putus asa melihat kelakuan teman-temannya. Dia tersentak saat jari gadis itu telah menyusuri dadanya hingga ke perut bawahnya.

Nice try, Yola!” seru Arya mencibir. Gadis itu tak menjawab melainkan memandang Arya dengan tatapan menggoda dan mulai menggerakkan tubuhnya tanpa jarak dengan Arya. Pemuda itu terpana, ada sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya, hampir membuatnya tak sadar ingin merengkuh gadis itu ke pelukannya. Saat dia menatap balik gadis itu, dia tersentak.

“Udah, gue pergi!” Dia mendorong tubuh teman perempuannya itu dengan sedikit kasar. Sensasi memabukkan itu telah mempengaruhi sistem saraf pusatnya. Dia harus menolak dengan tegas, atau terjebak dalam permainan mereka.

Arya berbalik, kembali menyelinap di antara puluhan tubuh pria dan wanita yang hampir tidak berjeda. Namun, dia masih dapat mendengar sayup jeritan teman perempuannya itu dan seruan cemoohan dari teman lelakinya. Arya hanya dapat tersenyum sambil menggelengkan kepala.

God, she’s hot!” gumam Arya, sedikit menyesalkan kesempatan baik itu. Dia tersenyum menyapa pria berotot yang menjaga pintu diskotik itu. Angin malam menerpanya, dia bergidik. Biasanya Jakarta tidak sedingin itu, bahkan waktu malam. Dia langsung menyesali keputusannya untuk tidak membawa jaket. Telinganya rasanya langsung menuli begitu dia keluar bar. Senyap menyergapnya seketika, hanya ditingkahi deru mobil yang melesat menembus kepekatan malam.

Matanya kemudian tertumbuk pada satu sosok wanita bersanggul, yang juga menyadari kehadirannya. Dalam kegelapan kedua pasang mata itu bertemu. Arya merasa dia terikat oleh mata itu. Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuat Arya melangkahkan kakinya, menjauh dari mobil. Dia begitu cantik, dengan kulit putih pucat yang begitu kontras dengan long coat selututnya. Gadis itu menggerakkan bibirnya, tapi jarak antara mereka membuat Arya tak dapat mendengar apapun.

Arya membelalakkan matanya, terkesiap saat tubuhnya terhentak ke belakang. Dia merasakan sesuatu ditarik keluar dari tubuhnya. Setelah itu, semua menjadi gelap.

 

…bersambung…

Bhasmī Bhūta

Sesuai dengan petunjuk dayang wanita itu, Kertajaya kembali ke wismanya sebelum Maghrib tiba. Dayang lelaki yang berjumlah lima orang itu tinggal empat saja yang menjagai wismanya.

“Kemana satu lagi?”

“Kurang tahu, Gusti Paduka,” jawab salah satunya. Kertajaya mendengus kesal, berniat akan menjatuhkan hukuman sekembalinya dayang yang tidak patuh itu.

“Baik, kita berangkat.” Hanya dengan berbekal kedua pasang kaki mereka, mereka berangkat menuju sumur tempat pemasungan tersebut. Kertajaya memilih jalan yang tersembunyi, bebas dari penglihatan pengawal kerajaan. Begitu ada pengawal lewat, mereka bersembunyi di belakang bangunan istana. Maghrib mulai tiba, Kertajaya memberikan isyarat untuk mempercepat langkah mereka. Mereka pun sampai ke sumur tersebut.

Baru saja Kertajaya mendekat, sebuah tombak panjang telah terhunus di depan dadanya. Seorang pengawal menghalangi geraknya. “Kau!” raung Kertajaya murka. “Beraninya kau!”

“Atas perintahku!” sahut sebuah suara yang berat. Suara yang sangat dikenalnya. Ayahandanya telah keluar dari balik kegelapan pepohonan yang rimbun. Menatapnya dingin. Dia menghaturkan sembah.

“Ayahanda!” sahutnya, terkejut. Bagaimana ayahnya bisa mengetahui rencananya?

“Apa yang kau lakukan di sini?!”

“Kenapa ayahanda ada di sini?” sahut pria itu dengan waspada. “Dayang itu!?” seru Kertajaya menyadari ketidakhadirannya adalah petaka bagi mereka.

“Ya! Dia adalah mata-mataku! Tak suka kau?!” bentak Dharmawongso II dengan suara menggelegar.

“Ampun, Ayahanda!”

“Aku sudah duga kau akan melakukan ini. Kau mengecewakanku!!! Balik kau!!!”

“Tolonglah, ayahanda! Dia kakandaku dan ibundaku yang menimangku semasa kecil!” mohon Kertajaya mengembik di bawah kaki ayahandanya.

“Kembali ke wismamu!” sahutnya tegas. “Aku ampuni kau sekali ini! Tapi, sekali lagi kau coba dekati mereka, aku tidak akan segan memenggalmu! Kau tahu, pengawal jauh lebih memercayaiku dibanding kau, raja sehari! Kembali kau dan para dayang edanmu itu!” seru Dharmawongso II menggertak Kertajaya. Sekalipun merasa terhina, Kertajaya beserta para dayang lelakinya berbalik, tidak berdaya di bawah ancaman tombak dari pengawalnya sendiri.

“Kakanda, Ibunda, maafkan aku yang tidak berdaya ini,” bisiknya, menengadah kepada cahaya bulan. Dia mengirimkan berbagai doa kepada mereka berdua, sadar penjagaan akan diperketat dan dia tidak akan bergerak bebas di negeri yang dipimpinnya sendiri.

Satria dan ibundanya tidak pernah mengetahui adegan yang terjadi di atas sana. Sumur itu terlalu jauh dari atas tanah sehingga hiruk-pikuk di atas hanya terdengar samar. Mata pria itu berkilat oleh amarah. Bayangan Kertajaya dan Ayahandanya berputar-putar, seolah mengejeknya bertubi-tubi dalam kepalanya.

Satria meraba ke dalam ikat pinggangnya, sebuah batu kecil yang berwarna hitam-kelam keluar dari padanya. Dia mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya. Mahapatih yang putus asa itu menghela nafas. Ini adalah saatnya, sekarang atau tidak sama sekali. Dia mengatupkan kedua tangannya, mengapit batu kecil itu. Mulutnya membuka perlahan,

“Wahai Dewa Syiwa, engkau sang pemusnah. Jatuhkan angkaramu bagi Raja Kerajaan Kediri beserta seluruh isi-penghuninya. Kejatuhan bagi engkau dan seluruh keturunanmu tiada henti, tiada kebahagiaan diperuntukkan bagimu. Bhasmī Bhūta[1]!!!

[1] “Hancur hingga menjadi abu” dalam bahasa sansekerta

 

…bersambung…

 

 

Bhasmī Bhūta

“Kau!!!” raung Kertajaya pada salah satu dayangnya yang tidak mengetahui sesuatu pun. Wanita muda berkulit gelap itu tergopoh mendekati rajanya sambil menghaturkan sembah. Kertajaya menurunkan nada suaranya, “Kau tahu sumur tempat pemasungan?”

“Hamba, Gusti Paduka.”

“Kirimkan makanan setiap hari ke dalamnya dan laporkan padaku tentang penjagaan di daerah itu.”

“Hamba, Gusti Paduka.”

“Jalan kau sekarang,” perintahnya tegas. Wanita itu berjalan mundur dengan lututnya. Setelah dia menutup pintu kediaman Kertajaya, barulah dia mengangkat badannya dan berjalan pada kedua kakinya sendiri.

Malam itu gelap, dinaungi bintang yang bertabur bagai permata. Keindahan itu tampak pula dari dasar sumur tempat di mana Mahapatih Satria dihukum bersama ibundanya. Namun, mereka sama sekali tidak tengah menikmati keindahannya, melainkan berduka atas keadaan yang menimpa mereka.

“Ibundaku… Ampun, beribu ampun…” Kata-kata itu terus mengalir tak henti dari mulut Satria. Keadaan wanita itu semakin lemah akibat tekanan yang dialaminya. Mata itu kini redup tanpa cahaya.

“Kita akan keluar, ibunda… Ibunda percaya padaku, toh?”

Wanita yang belum meninggalkan usia 30-nya itu mengangguk pelan. Dia tersenyum lembut.

“Kau… Kau masih saja bisa tersenyum… Kau, ibundaku… Kau selalu kesepian…,” gumam Satria. Betapa jarak menyiksanya begitu kuat. Betapa pria tua kejam itu masih saja ingin menyiksanya dalam pemasungannya. Dijauhkannya tubuh lemah ibunya dari pelukan dan genggamannya. Berapa meter dia tak tahu. Dipaksa pula dia menyaksikan wanita itu melemah dalam kungkungan rantai besi yang melilit kaki dan tangannya.

Suara derit besi yang beradu membuatnya mendongak ke atas. Sebuah ember kecil berisi makanan digerek dari atas ke bawah.

“Lihat, ibunda. Mereka mengirimkan makanan!” Segera Satria menegakkan badannya, sebisanya menangkap ember tersebut, lalu melemparkan berbagai makanan lezat kepada ibundanya. Satria memakan bagiannya dengan lahap, lalu dia terhenti. “Ibundaku, mengapa kau tidak makan?”

Kepala wanita yang belum habis kecantikannya itu hanya menggeleng lemah. Tatapannya kosong menatap dinding sumur itu.

“Ibunda! Kau harus makan! Demi anakmu ini, makanlah!” bujuk Satria, berkali-kali. Namun, Saraswati memilih untuk menutup matanya. Satria memandangnya dengan putus asa. Dia menggetarkan dasar sumur itu dengan kepalannya. “Sial kau, Dharmawongso II!!!” Teriakannya bergaung hingga ke atas sumur.

Dayang wanita itu menoleh ke arah sumur, mendengar teriakan penuh kebencian itu dengan cemas. Dia lalu berbalik, menatap garang kedua penjaga yang anehnya justru menciut di hadapannya.

“Kalau kalian berani menghalangiku, aku akan laporkan pada Gusti Paduka Sri Kertajaya. Dia raja kalian sekarang!”

“Kau tahu, Gusti Paduka Raja Dharmawongso II memerintahkan…”

“Dia tidak tahu,” sergah dayang wanita itu keras dan tegas. “Dan dia tidak perlu tahu!” Dia lalu berbalik, mengangkat kainnya sedikit untuk menyeberangi rawa itu, kembali ke kediaman Kertajaya.

“Ampun, Gusti Paduka,” sahutnya dari luar wisma kediaman raja tersebut.

“Masuk,” sahut Kertajaya dari dalam. Dayang itu menunggu pintu kediaman raja terbuka, lalu menghaturkan sembah dan mendekati raja muda itu dengan lututnya. Kertajaya mengetuk-ngetukkan jarinya dengan tidak sabar.

“Bagaimana?”

“Ampun, Gusti Paduka. Gusti Paduka Raja Dharmawongso II memerintahkan mereka untuk tidak diberi makan, tapi aku telah memperingatkan kedua penjaga bahwa ini adalah perintah raja mereka.” Kertajaya mengangkat alis, hatinya sedikit mengagumi keberanian gadis ini melawan pengawal kerajaan.

“Kau mengamati kapan pergantian pengawal?”

“Hamba, Gusti Paduka. Saat maghrib tiba, pengawal yang berjaga akan kembali, lalu memanggil pengganti mereka.”

“Waktuku?”

“Maksud Gusti Paduka?” Wanita muda itu melupakan sembahnya, mengangkat kepalanya dengan terkejut. Kertajaya mendelik melihat kekurangajarannya. Dayang wanita itu langsung bersujud.

“Ampun, Gusti Paduka. Tapi, biarlah hamba yang melaksanakan semua rencana ini,” sahutnya tergeragap, sadar akan kekhilafannya.

“Tidak! Nyawamu akan jadi taruhannya. Kalau aku, Ayahanda tidak akan memenggalku.   Tidak semudah itu.” Dayang wanita itu tergugu, hatinya tersentuh oleh kebaikan Kertajaya yang rasanya dilakukan sekilas lalu itu.

“Besok aku akan bergerak. Para lelaki, kalian ikut aku,” perintahnya pada dayangnya. Hanya para dayang itu yang menjadi kepercayaannya, karena pengawal kerajaan mungkin masih menaati titah Paduka Raja yang terdahulu dibandingkan dirinya yang baru dinobatkan menjadi raja.

 

…bersambung…