Tag Archives: Fiksi

Dalam Peraduan yang Menghijau

 

117648-full
Gambar diambil dari http://www.scpr.org

 

Putih dipercaya sebagai awal. Yang suci. Yang bersih. Murni dari segala-gala.

Maka, bayi diliputi kain katun putih selembut kapas. Tangan kematian pun dilumuri oleh tinta putih yang membalut jasad. Lalu, pria dan wanita, yang baru saja memulai satu titik kehidupan. Semua berlumur putih. Putih dan putih.

Sepasang itu tersenyum malu-malu. Tersipu memerah. Oranye kelabu meliuk lembut di tangan yang berujung oranye pekat. Motif bunga terpapar di atas kulit itu. Bunga berdaun tipis. Mereka juga terbalut kain putih. Sutra dan katun. Linen tebal-halus meratapi peraduannya. Halal sudah menjadi ikatan mereka. Sesegera mungkin, agar tak terjebak dalam lingkaran zinah. Cepat, cepat, jadilah halal. Dan mereka pun halal.

Putih itu segera ternoda. Semburat merah merambat pelan, lingkaran yang melebar. Darah.

Tanda mereka memasuki dunia baru. Dunia yang sama sekali lain.

 

***

 

Darah.

Annissa gemetar. Di tangannya, darah yang lengket dan kental memerahkan ujung-ujung jemarinya. Apa yang harus dilakukan? Bagian bawah perutnya sakit seperti diremas, melilit hebat. Ia bisa merasakan cairan basah-lengket menetes menggerayangi pahanya. Tapi, dia tak bergeming. Hanya berdiri. Gemetar.

Darah.

Merah.

Meluruh.

Annissa berbaring, tapi matanya nyalang melebar. Dia terpaku di tempat tidurnya. Malam itu sudah lewat tengah malam. Kotanya telah tertidur nyenyak. Perumahannya sunyi, ditingkahi sesekali deru motor satpam yang lewat berjaga.

Tapi, kamarnya berang. Memekik dengan berisik. Annissa merapatkan selimutnya. Dia membeku, ketakutan. Suara apa yang didengarnya? Seperti orkestra dari tangan-tangan awam. Biola yang berdecit nyaring. Perkusi dari kaleng-kaleng berkarat. Piano dengan senar-senar terkelupas.

“Annissa! Sudah setengah jam anakmu menangis!” ibunya berteriak dari balik pintu. Ia tersentak. Suaminya, menggeliat sejenak, tapi tidur lagi. Mendengkur pelan.

Wanita yang masih terlalu muda itu tergeragap bangun. Kebingungan, di antara tangisan bayinya dan gedoran pintu ibunya. Ia melihat pintu, lalu melihat bayinya. Mana yang harus didatanginya lebih dulu?

“Annissa!” Wanita itu memekik panik.

“Oeee…” Bayi itu tersedu sedan.

Dia berjalan pelan. Ke arah tempat tidur kecil dengan balok-balok kayu putih yang kecil. Putih. Dan putih.

Di dalamnya, seprai putih. Terserak oleh tendangan kecil, tapi kuat. Bayi itu, pipinya penuh. Wajahnya memerah oleh kemarahan yang belum juga mencapai titik jenuh. Bayi yang kuat. Dengan paru-paru yang kuat. Dengan usus yang tak pernah kenyang.

Ia membeku, melihat makhluk kecil itu meraung-raung.

“Annissa!” panggil ibunya lagi. Ia tersentak, lagi. Lalu, berlari menuju pintu.

Di balik pintu, ibunya berdiri dengan wajah ketakutan. Bulu kuduk Annissa meremang. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Anak kamu nangis, Annissa, kamu nggak dengar?” Ia berbicara dengan suara lembut, hati-hati. “Boleh Ibu masuk?”

Annissa terpaku sedetik lamanya sebelum mengangguk pelan, ragu-ragu. Dengan gurat-gurat wajah lega lalu bahagia, ibunya mengangkat bayi itu pelan, hati-hati. Ia membisikkan kata-kata manis menyejukkan. Annissa masih terpaku di pintu, melihat anak itu terisak, tidak lagi berteriak, kelelahan. Ibunya, melirik sekilas ke arahnya, mengernyit keheranan.

 

***

 

Semua orang membisikkan kata-kata sabar. Allaah memberi kita kekuatan, kita hanya perlu mendekatkan diri pada Allaah. Annissa mengaji. Demi mendekatkan diri pada Sang Khalik. Itu yang selalu didengungkan orang-orang di sekelilingnya.

Mendekatkan diri pada Allaah. Dan memang, pada saat-saat itu, ia merasa tenang.

Tapi, bayinya tidak. Meraung-raung marah, memanggil sang ibu. Popoknya sudah lama basah. Ada pola kuning kecokelatan yang tercetak kering, membayang dari balik popok kain yang dikenakan padanya tanpa semaunya.

Yaa ayyuhal ladzii na ǎmaanu laa tulhikum waa amwaa lukum…” suaranya merdu mengalun. Ia adalah lulusan pesantren. Ilmu tajwid dikuasainya. Bahkan, sedikit lagi saja, ia akan menjadi hafidzah muda. Di usianya yang 18 tahun!

“Annissa!” Ibunya masuk dengan tergopoh. “Anakmu menangis, lho!”

Annissa mengangkat wajahnya. Di hadapannya, ibunya tercengang. Sembari memegang dua kantung plastik hitam besar. Dari dalamnya, mencuat batang-batang kangkung, lalu pucuk-pucuk jagung yang menguning.

Dia meletakkannya asal saja. Annissa menoleh untuk mengikuti gerak-geriknya. Ia memeriksa bayi malang itu, sambil tersenyum dan membisikkan kata-kata lembut. Annissa diam memerhatikan, dengan tatapan kosong. Seolah keduanya berasal dari jauh. Suara mereka juga terdengar sayup, jauh.

“Popok bayi kamu basah. Ada pup di popoknya, pantatnya bisa lecet kalau tidak segera dibersihkan. Kapan terakhir kali kamu kasih dia ASI?”

Annissa membuka mulut. Ia mencoba menjawab, lalu menutup mulut kembali. Mengernyit, seolah tidak paham perkataan ibunya.

“Anak kamu kurus, Annissa. Kamu harus perhatikan minum ASI-nya. Enam bulan pertama yang paling penting karena dia belum bisa makan yang lain.”

Mata Annissa yang sudah bulat semakin membulat.

“Bayi itu rentan, Annissa. Ibu tahu kamu baru soal ini, tapi ayo, belajar lebih baik lagi. Kamu mengaji, bagus sekali, Nak, tapi bayi kamu juga perlu perhatian. Mengajinya nanti dulu, urus anak kamu dulu. Begitu tidur, kamu baru mengaji lagi.”

Wanita muda itu meremas-remas tangannya. Ibunya kembali mengajarkan banyak hal tentang bayi. Ibunya melihat Annissa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kenapa kamu menggeleng-geleng?” Annissa mengangkat wajahnya, menatap ibunya dengan dahi mengernyit. Sang ibu balas menatapnya.

 

***

 

Seprai yang membalut kasurnya tak lagi putih. Begitu awal telah berlalu, putih itu pelan-pelan ternoda. Oleh warna-warna. Annissa berbaring menyamping. Bibirnya tersenyum, ia menyorongkan telunjuknya pada tangan bayi yang sedang bermain-main di udara. Tangan mungil itu menangkapnya. Bahkan, memasukkan jari itu ke mulutnya.

Annissa tercengang. Lalu, mendengus tersenyum. Jemari bayi itu lembut, serupa kapas. Mulutnya mengenyot, menyangka jari itu payudara. Ia tertawa-tawa sendirian, mencoba-coba pita suaranya sendirian. Bayi yang tengah belajar sendirian.

Sendiri.

Sendirian.

Seorang diri.

Bayi itu mencucup ujung jarinya. Lalu, menariknya keluar dengan suara mencecap keras. Annissa menatap ujung jarinya yang basah. Matanya terbelalak. Air liur seharusnya bening. Air liur seharusnya tidak berwarna.

Ia menyentakkan jarinya keras, mengagetkan bayi itu. Bayi itu mencibir, menggetarkan bibir bawahnya, lalu mulai menangis. Tangis itu pelan. Kemudian, bertambah keras. Keras dan semakin keras, karena tidak menemukan penenang. Jantung yang dulu berdetak lembut, begitu dekat dengan telinganya. Kehangatan yang serupa pelukan tanpa putus. Semuanya hilang. Bayi itu tersedu, kemana semua pelipur laranya dulu?

Annissa bangkit dari kasurnya. Hijau, itu warnanya. Sengaja dipilih ibunya untuk menenangkan jiwanya. Hijau, warna yang menenangkan. Warna rerumputan, warna…ketubannya.

Ia gemetar. Menatap tangannya sendiri.

Darah, begitu merah.

Rasa sakit yang melilit di perut bawahnya.

Aliran air deras bercampur darah dari vaginanya.

Tiba-tiba saja, bayi kurus seukuran botol sirup dijejalkan ke tangannya.

Ditidurkan secara paksa di dadanya, yang masih bergemuruh ketakutan. Sementara, bekas jahitan ngilu meremas seluruh syaraf di tubuhnya.  

 

***

 

Ibunya menghela napas kelelahan. Ia khawatir memang, meninggalkan bayi dengan anaknya sendirian. Betapa remaja yang masih limbung. Betapa remaja yang belum mencapai ujung. Tapi, ia juga harus mengurus akta kelahiran yang sudah telat dua bulan. Sidang dan bayar segala macam, betapa ribut administrasi kependudukan Indonesia ini!

Tapi, beberapa hari ini, Annissa begitu sayang pada anaknya. Hari-hari dimana ia bersikap aneh itu sudah berlalu! Hari-hari penuh kekacauan itu mulai pudar! Bahkan, Annissa sudah menyusui anaknya tepat waktu. Ya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Annissa, ibu pulang…” kata-kata itu terhenti di tengah jalan. Annissa dengan ujung jari yang berdarah. Berdiri gemetar. Merah itu merayap hingga perut bagian bawah menuju selangkangannya. Wanita muda itu menatap linglung ke arah wanita paruh baya.

“Mana bayiku?”

 

 

sampai

Besar, Semakin Besar

38874182-fire-wallpapers
Gambar diambil dari bsnscb.com

 

Dia semakin besar. Semakin besar. Tumbuh, menjalar. Sejak kapan ia datang?

Tanah berkerikil itu berderak. Bebatuan kecilnya terserak. Gadis berjilbab putih merapikan bros putih yang tersemat di dadanya. Membetulkan letak tali tas tangannya. Tas tangan itu berpotongan sederhana. Ia pun putih polos.

Tapi, ia bukannya mau menikah. Tidak ada aturan menikah dengan pakaian putih dalam Islam. Dan perbuatan apapun di luarnya, hanya memperburuk citra Islam. Ia punya visi. Untuk itu, ia harus menjalankan misinya.

Berdakwah adalah kewajiban dalam Islam. Tidak perlu seorang yang jenius untuk memahami itu.

Berdakwah tidak semata dengan kata. Seperti halnya pakaian monokrom ini. Ia tengah menjalankan teladan. Menunjukkan sebagaimana mestinya wanita Islam bersikap. Ini juga misinya.

Ia membuka sepatu. Membiarkan kaus kaki tetap melekat, seperti kembar siam, pada kakinya. Bangunan itu luas. Sinar matahari menyeruak masuk dari sela-sela jendela, mencetak cahaya-cahaya kotak-kotak di keramik yang berkilauan. Langit-langit tinggi yang membuat bangunannya serasa tanpa batas.

Bisik-bisik bergaung lembut. Seperti dengung lebah yang menari. Yang menyenandungkan ayat-ayat yang sungguh indah. Ia memejamkan mata, merasa masuk ke dunianya. Akhirnya. Siapa bilang tidak ada surga di dunia? Siapa bilang tidak ada lagi orang yang masuk akal di atas muka bumi ini?

Gadis itu mendatangi satu per satu penyebab bisik-bisik itu. Berjenis kelamin sama dengannya, bersifat sama dengannya. Mungkin ada yang bergaya sedikit berbeda, berhijab sedikit lebih pendek daripada standarnya, tapi biarlah. Ia bisa memaafkannya. Karena gadis itu, gadis dengan hijab pendek itu, mau di sini, menghabiskan waktu dengan Sang Khalik. Dan hamba-hamba setia-Nya.

Saat ia mendatangi, dada gadis itu tersembul dari sisi-sisi hijab yang terlalu pendek. Ia merasakan desis di dadanya. Semakin keras. Ia mempercepat salamnya, lalu berjalan menjauh. Kepada Muslimah yang lebih taat. Bukan peniru yang fasik.

Ia membuka buku kecil berpenutup kulit hijau kelam. Tinta hitam di atas kertas putih gading. Tinta hitam yang meliuk, membentuk huruf-huruf indah. Dengan sajak yang indah terdengar, indah terbaca. Ia memegang dadanya, merasakan sesak yang menyenangkan di sana. Ingin sekali berkumpul dengan pembuat sajak terindah di muka  bumi ini.

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

 

***

 

“Pengajiannya bagus. Ustadznya pintar, ya.”

“Iya, lulusan Universitas Madinah, tidak diragukan lagi.”

Bisik-bisik itu berubah jadi kalimat-kalimat panjang penuh kegembiraan. Gadis berjilbab putih menempelkan telunjuk di bibirnya. Mendesis. Wanita-wanita yang berbicara itu menutup mulutnya, tersenyum malu-malu. Menunduk tersipu.

Berdakwah tidak sekadar ceramah. Ia adalah setiap kata dan cara untuk mengingatkan. Menasehati. Dalam kebaikan. Dalam kesabaran. Huruf-huruf Hijaiyyah itu berputar-putar di benaknya. Kesabaran, menasehati dalam kesabaran. Ia mendesah pelan.

Suaranya sendiri bergaung di telinganya. Ia bergidik, rasa dingin menjalar. Membangkitkan sensitivitas setiap syarafnya. Ia tengah mendekatkan diri pada Sang Khalik. Dan, oh, ia merasa sangat dekat. Mungkinkah Dia berada pada nadi-nadinya, berbisik pada telinganya? Ingin bertemu dengan-Nya, ingin bersatu dengan-Nya.

Dunia hanya tempat persinggahan. Penjara yang lain. Begitu, bukan?

Di setiap sudut, ia hanya menemukan kaum-kaum yang menentang. Yang lebih mencintai manusia, lebih memilih dunia. Di setiap sudut, ia menemukan orang-orang fasik, mengaku Islam, tapi tidak mencintai Khalik mereka.

Dan perlahan, kemarahan tumbuh di dadanya. Pelan-pelan. Wajar ia marah. Ia mencintai Islam, ia mencintai Allaah. Ia ingin menjadi pembela-Nya. Ingin menyadarkan setiap orang yang menentang-Nya. Seberapa salah itu?

Wanita berhijab pendek itu berdiri. Ia menyelipkan ujung-ujung hijabnya ke belakang. Semakin jelas menampakkan dadanya di balik kaus spandek yang jelas menunjukkan lekuk tubuhnya. Di depannya, seorang wanita berhijab panjang seperti dirinya, mematut diri di depan cermin. Memoles bedak. Lalu, memulas warna-warna di seluruh wajahnya. Meronakan wajahnya.

Dan perlahan, kemarahan semakin besar di dadanya. Menyebar bagai spora. Pelan, meluas. Membesar. Ia besar, semakin besar. Ia mencoba mengingat beberapa kalimat yang menenangkan. Batinnya tidak tenang. Tapi, bukankah wajar? Ia ingin sesamanya juga mencintai Islam, seperti dirinya. Meyakini perintah dan larangan Allaah, seperti dirinya. Mendekatkan diri pada Khalik, seperti dirinya.

Seperti dirinya.

Seperti yang ia lakukan.

Seperti yang ia tanamkan baik-baik.

Seperti dia. Seperti dia. Seperti aku, bisiknya.

Ia mendengar lagi suaranya. Tapi, itu tidak seperti suaranya. Serak yang tidak sabar. Dengkur yang kurang ajar. Sesaknya berubah. Tidak lagi menyenangkan. Napasnya tersendat. Matanya menggeliat cepat. Sesuatu tumbuh di dadanya. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia tidak kenal. Sesuatu yang ditolaknya. Memakannya dari dalam. Ia merasakan semua menciut; pikirannya, perasaannya, nuraninya. Tuhannya.

Dan sesuatu itu besar. Semakin besar. Ia tumbuh mendesak-desak. Sejak kapan ia datang? Dada gadis itu terasa sakit. Ia mengingat-ingat lagi. Kata-kata. Berdakwah, menasehati, memberitahukan yang tidak tahu. Dalam kebaikan. Dalam kesabaran.

Kesabaran, kata apa itu? Ia kehilangan satu kosakata dalam kamusnya. Hari itu.

 

sampai

 

Hai,
Sudah berapa lama kita tidak bersua?

Satu hari? Dua minggu?

Tidak penting berapa hari. Waktu tidak akan sebegitu membodohi kita. Dia berkuasa, tentu, tapi tidak atas kita. Hari-hari kau tidak ada pun, sesuatu tertinggal. Mengikuti seperti hantu. Kau yang paling kupercaya.

Apa yang paling membingungkan selain hubungan? Mereka naik ke haluan, lalu turun ke lambung. Dan di setiap anak tangganya, mereka bercerita. Kau dan aku, pasangan tak terpisah. Kalau satu saat, Yang Kuasa tidak lagi mengizinkan kita bertemu, kau tetap akan ada di sampingku. Mungkin tersenyum mendengar cericau bodohku. Karena tak ada lagi kau sebagai penuntun.

Kau yang paling kupercayai.

Di depanmu, aku suka menutup pintu. Yang kukunci baik-baik. Kadang, tak kuizinkan kau masuk ke baliknya. Tempat di mana aku berpesta pora. Tempat aku melupakan keindahan batinmu. Tempat di mana aku mudah sekali terlupa, lalu tersandung.

“……………”

Hai,
Kau yang suka berkata-kata. Di satu tempat dalam bagianku, kau berdiri dengan angkuh. Mendikte. Mencaci. Mengoreksi. Kau sering terlupa aku punya kata-kata yang berbeda. Akan semua yang berlawanan. Nanti, kalau kita tidak bisa lagi bersatu, kita akan selalu memegang hal yang kita yakini. Bersama.

Lewat beberapa waktu, kita mudah sekali terpisah. Kau dengan lembar-lembar taktis, aku dengan angan-angan tentang kemuliaan obyek. Dan saat kita tidak bisa dipersatukan, aku hilang kendali. Persimpangan tidak bisa terlihat begini banyak. Setiap marka berputar tanpa mau menunjuk dengan jelas.

Hai,
Kita bertemu lagi. Dalam kondisi yang paling tidak memungkinkan. Tapi, apa yang lebih indah dari kemungkinan yang lahir dari kemustahilan? Lalu, aku melihatmu di ujung sana. Kau terus menanti. Aku tahu kau selalu ada di sana. Mungkin karena itu aku jadi begitu ceroboh.

Kau akan merangkulku lagi, kan? Dengan semua kemustahilan dua sisi yang bersatu. Melahirkan kemungkinan baru yang lebih luas.

Hai, apa kabarmu?

 

sampai

Waktu untuk Abah

Hidup itu apa, ya?

Susah-susah berjalan. Jauh-berbatu, kadang terseok, kadang tersandung. Mesti mampir di persimpangan dan bersiap untuk bingung. Jalan itupun tidak jelas. Ujung jalannya gelap, kalaupun terang, seakan tidak berujung.

Kalau sampai, harus meninggalkan semua yang sudah diperjuangkan. Lalu, pergi. Yang entah kemana.

Delima menggigit rotinya. Bola matanya bergulir. Sesekali ke kiri. Kemudian ke kanan. Orang-orang berjalan kaki. Cepat, entah kemana. Mobil, banyak mobil, berlalu-lalang, entah kemana. Dia menyadari begitu banyak yang ia tidak kenal. Lebih banyak lagi yang ia tidak tahu.

Abah kemarin menempuh jalan yang lain daripada orang-orang di depannya. Kalau dari mata telanjang, jalan itu pasti gelap. Karena Abah tidak membawa lampu. Dan jauh di bawah, semua diapit oleh warna cokelat gelap. Bagaimana lantas Abah menjalani liku-likunya?

Ah, ruang itu bahkan terlalu sempit untuk bergerak ke kanan ke kiri. Berguling saja tidak bisa. Akankah Abah bosan di dalamnya?

Waktu rupanya juga sama seperti manusia. Dia buru-buru dan tidak sabar. Akhirnya, mengambil Abah sebagai sekutu. Terbang bersama. Di lain waktu, dia begitu malas. Tubuh renta ia biarkan terus tertatih. Berjalan, biar pelan-pelan. Dan ia berjalan pelan bersamanya. Sungguh tidak konsisten.

Delima tidak tahu kenapa ia ada di sini. Apa yang harus diperbuat. Mungkin ia hanya ingin menantang waktu. Ayo, apa yang akan kau lakukan kalau aku membuang-buang kemurahan hatimu? Apa akan kau persingkat pula hariku?

Ia sudah tidak bisa bertemu Abah lagi. Dan itu membingungkan. Kebingungan yang membawa duka lebih besar dari apapun. Lelaki tinggi-besar itu tidak lagi terdengar jejaknya di rumah. Suaranya yang sedikit-sedikit itu. Bahkan, suara sandalnya yang menyeret itu. Semua tiba-tiba hilang.

Dan waktu enggan menjelaskan. Dia hanya…pergi.

Lebih membingungkan lagi, semua malah jadi lebih jelas begitu tubuhnya tidak lagi terlihat. Sebelum waktu menggandeng tangannya, ia suka berdengung. Ayat-ayat Al-Qur’an. Delima tidak pernah menanyakan. Ia tidak pernah sebegitu peduli untuk menanyakan. Namun, ia bisa menangkap sedikit-sedikit. Kalimat Allaah itu. Setelah Abah pergi, barulah ia tahu, ayat Al-Baqarah yang tengah dihapalkanlah yang sering ia dengungkan.

Dia berdengung di dapur.

Mendengungkannya di teras.
Mungkin juga ketika ia tidur.

Saat itu waktu tengah bermalas-malasan dengannya. Melihat matahari pelan bergerak. Saat-saat siang berubah jadi malam. Malam ke siang. Dengungan itu menjadi musik yang merdu buat mereka.

Waktu menikmati detik yang berjalan pelan. Ia sudah menemani lama dalam suka-duka. Ia yang bersorak kegirangan sewaktu Abah pertama kali menggendong anak perrmpuannya. Lalu, yang kedua, yang ketiga, yang keempat. Ia yang meneteskan air mata saat Abah harus berpisah dengan kakak lelaki satu-satunya. Ia sudah sesabar itu.

Delima menyuapkan potongan roti terakhir. Roti sudah habis. Waktunya belum. Katanya, “kau tahu aku akan setia. Tak peduli biar kau membuangku atau menyiksa. Sampai tiba saatnya, aku akan terus menemani.”

Hanya satu yang tidak pernah diungkapkan waktu dengan jujur. Sampai tiba. Kapan, dimana?

Begitu juga dengan waktu di sisi Abah. Ketika pria itu bertemu dengan malaikat berjas putih, ia menemani. Diam-diam berjalan bersama Abah dengan wanitanya. Wanita satu-satunya yang ia puja. Yang dengannya ia memutuskan untuk mengikat waktunya dengan waktu wanita itu.

Ikatan yang tumbuh jadi simpul berkarat yang susah lepas.

Waktu menangis bersama Abah. Ketika malaikat itu berbisik. “Sabar,” katanya. Karena itulah jadi menakutkan. Tidak ada yang akan menyuruh sabar kalau ia tidak tampak buru-buru. Satu kata yang justru menekankan makna anti-tesisnya. Begitu kuat.

Ia menatap tubuh tinggi-besar itu. Tergolek lemah di dalam pangkuan wanitanya. Bergulung. Kembali menjadi janin yang lembut. Terselubung oleh ketuban yang hangat. Waktunya tersenyum. Mengecup keningnya pelan.

Satu per satu sosok yang begitu Abah kenal. Berdiri gelisah. Seorang anak perempuan. Tiga orang anak lelaki. Tidak peduli seberapa tinggi mereka sekarang, mereka bocah-bocah kecil Abah. Dan waktu menangis.

Ia tidak sabar. Tapi, bagaimana merelakan keajaiban-keajaiban kecil yang tumbuh besar itu? Ia tidak mau menyiksa sahabatnya. Tapi, bagaimana cara melepaskan genggaman tangan yang hangat itu?

Lantas, bagaimana dengan wanita Abah? Akan seberapa hancur hatinya?

Waktu di sisi wanita itu menggenggam tangannya, “aku akan menyelubunginya dengan butir-butir baru. Yang lembut. Yang membahagiakan.”

Sampai tiba saatnya. Waktu untuk Abah. Waktu untuk waktu. Tiba di penghujung. Waktu memutar kembali. Kepingan-kepingan yang hilang beberapa minggu terakhir. Dan ia melihatnya. Mata itu bercahaya. Keajaiban-keajaiban kecil. Yang tumbuh besar di keluasan hatinya.

Matahari semakin redup. Menggeliat, ia masuk ke peraduannya. Abah turut gelisah. Ingin ikut. Menggenggam bias mahkotanya. Membiarkannya menghantarkan ke singgasana Penguasa Segala Makhluk.

Roti Delima sudah habis. Air matanya pun. Tapi, tidak seperti Abah, waktunya belum. Dia bangkit. Berjalan lagi.
Dedicated to Abah Iskandar Burhanuddin
(5 Januari 1955-9 Maret 2017)

Budaya Indah Orang Indonesia; Terima Kasih

 

terima-kasih
Gambar diambil dari hipwee.com

 

Inkonsistensi adalah kata yang menyeramkan. Nggak cuma kelihatan bikin orang jadi kurang punya integrasi, bahkan orang tua yang konsisten juga bisa merugikan pola didik anak. Dan itulah aku. Dengan inkonsistensi dalam mood nulis ini, sesuatu yang harusnya dilakukan sejak lama, jadi ketunda sampe sekarang. Cerita ini terjadi waktu aku memutuskan mengajak anakku ke Habibie Festival.

Astaga, tahun lalu lho, itu ceritanya ^^;

Tadinya, pengen cerita soal Habibie Festival. Perlu nggak, ya? Mungkin nanti. Jadi, setelah nanya-nanya gimana caranya ke Museum Gajah (tempat festivalnya dilangsungkan), akhirnya aku memutuskan untuk naik commuter line ke Stasiun Gondangdia. Dan jalan kaki ke Sarinah. Ada yang kaget? Soalnya, aku kaget, karena lokasinya jauh banget ternyata.  Pas pulang, baru aku tahu kalau city tour bus yang bertingkat itu (dan gratis! Ini yang paling penting!), salah satunya lewat Masjid Istiqlal (ada dua rute, lupa nama rutenya apa). Trus, masjid Istiqlalnya sebelahan sama Stasiun Juanda. Aih!

Tapi, itulah gunanya pengalaman. Sedikit-banyak, dia memberimu pelajaran.

Bus bertingkat itu udah nggak kayak waktu aku SD dulu, sekitar tahun 1995-1996. Aku masih ingat bagaimana besi-besi karatan dengan cat-cat dominan putih terkelupas. Agak sedikit mengerikan memang naik bis kayak gitu dulu. Tapi, rasa penasaran kekanak-kanakan mengalahkan segala-galanya. Itu makanya, waktu naik bis ini jadi nostalgik banget. Kok bias, sih?

Langsung ke pokok permasalahan. Waktu aku nunggu city tour bus ini, ada 2 lelaki bule yang juga nyamperin tempat nunggu bisnya. Mereka celingak-celinguk bingung gitu, trus tiba-tiba noleh. Kemana? Ke aku laaah (norak ceritanya). Dia lalu nanya dengan Bahasa Inggris penekanan yang buatku aneh. Mungkin antisipasi kalau-kalau orang yang diajak bicara nggak bisa bahasa dia.

Jadi inget film “Mr. Morgan’s Last Love” dimana ada penjual roti di Paris bilang ke Mr. Morgan, yang notabene orang Amerika, “kenapa Orang Amerika ini tinggal di negara orang, tapi nggak mau belajar bahasanya? Nggak semua orang paham bahasamu!” Dia bilang dalam Bahasa Perancis ini ya, dan tujuannya tentu aja buat mengejek Mr. Morgan yang jelas-jelas nggak paham bahasanya dia. Tampaknya pendapat penjual roti itu emang jitu.

Balik ke si bule, dia nanya, “where can I get the ticket for this bus?” Kebetulan aku baru liat plang bisnya, jadi aku jawab, “I think it’s free.”

Oh, it’s free!” Lagi-lagi, dengan penekanan nggak perlu. Asli, berasa dianggap sama anak kecil sama tuh bule menyebalkan. Trus, baru aja aku mau nambahin, “well it’s my first time, too…” Dan suaraku perlahan lenyap karena si bule udah balik badan dan ngomong lagi ke temennya. Nggak bilang terima kasih pula.

Daripada kesel, bisa dibilang aku kaget. Kok nggak bilang terima kasih? Atau setidaknya gesture terima kasih lain. Akhirnya, suara lain dalam kepala langsung bilang, mereka kan bule, budayanya beda…

Sebelum itu, aku pernah ngobrol sama kakak ipar yang suka traveling ke luar negeri. Dia bilang kalau emang Indonesia beneran negara yang penduduknya paling ramah. Baik di Korea maupun di Thailand, orang-orangnya kebanyakan galak dan jarang senyum. Satu Youtuber Jepang pernah mencoba membuktikan perbandingan antara keramahan orang Indonesia, dengan cara mengerjai turis domestik Indonesia di Bali dengan turis asing. Terbukti kalau orang Indonesia, begitu si Orang Jepang ini minta maaf, yang dikerjain langsung senyum. Kalau yang turis asing, langsung pergi sambil cemberut. Ada lagi survey yang menyatakan kalau Indonesia salah satu negara yang paling dermawan di dunia (walaupun kedua di Asia Tenggara yang paling banyak sampahnya di laut, sekilas info hehe)

Jadi, seharusnya aku nggak perlu kaget. Tapi, yang namanya biasa banget berbasa-basi bilang terima kasih dan senyum, terus-terang aku jadi rada kurang biasa ngeliat orang nggak bilang terima kasih begitu.

Bukannya gila hormat ya, tetapi ada perasaan menyenangkan saat orang bilang terima kasih ke kita. Biarpun mungkin kebanyakan dilakukan atas dasar basa-basi dan kebiasaan aja, saat orang bilang terima kasih, rasanya orang itu baru aja bilang apa yang kita lakukan buat dia benar-benar membantu dia dan mereka menghargai itu. Tentu saja, rasa bangga pada diri kita sendiri tergelitik dan kita jadi senang. Setidaknya, aku merasakan itu.

Budaya yang begini, benar-benar nggak boleh hilang dari orang Indonesia. Maksudku, itu karakter kita. Khas orang Indonesia. Apalagi, karakter itu berupa menghargai orang lain, sesuatu yang baik dan menyenangkan.

Dan aku berharap juga, semoga kebiasaan-kebiasaan ini bisa menghilangkan perselisihan-perselisihan yang banyak terjadi sekarang ini. Jangan cuma ramah sama orang asing, seharusnya kita juga ramah dengan anak bangsa kita sendiri.

Semoga perselisihan setiap masa pemilu nggak berlanjut kemana-mana. Lebih baik lagi; nggak perlu ada musuh-musuhan setiap kali pemilu. Capek amat, kan… Tetep disambung-sambungin ke sini… Hehe…

 

 

 

 

 

Di Kolam Renang

image
Dia melemparkan tumpukan baju. Agak marah. Marah pada siapa, dia sudah tidak tahu. Yang pasti, dia terus-menerus marah. Menghembuskan napas keras, ia duduk. Menghempaskan tubuhnya sendiri ke lantai yang dingin.

Lantai itu…

Dipenuhi kertas-kertas terserak. Serpihan kecil warna-warni crayon. Sekaligus dengan induk mereka. Berbagai miniatur kendaraan; mobil, kereta api, semua yang beroda. Bagaimana cara membereskan semua?

Saat-saat begini, ia membayangkan dirinya duduk di ruang ber-AC. Di tengah kubikal kecil, tapi teritorinya sendiri. Tidak, bahkan bosnya, punya hak mengutak-atiknya. Tidak juga rekan sekerjanya yang selalu penasaran. Sekarang, semuanya hilang. Tidak ada tempat khusus untuknya. Tubuhnya pun sudah bukan miliknya sendiri.

Menahan tangis frustasi, ia melipat baju. Pikirannya penuh dengan hal-hal jahat. Membakar rumah, misalnya. Membuang semua mainan tidak peduli akan air mata yang pasti tumpah karenanya. Sekadar memuaskan hasrat duniawinya, menyenangkan diri sendiri.

“Maaaa,” anaknya pulang. Satu-satunya, yang berumur 5 tahun. Belum sempat bicara apa-apa, si bocah lelaki sudah kena semprot.

“Kalau mau main yang lain, beresin dulu yang ini!” bentak ibunya, merengut kesal. Tatapannya penuh kebencian pada anaknya sendiri. Putranya melongo. Tidak berani lagi bicara. “Berantakin rumah, tapi nggak mau beresin! Harusnya kamu tanggung jawab, dong!” Semua kata-kata itu diikuti geraknya yang beringasan membereskan rumah.

Harusnya aku kerja di kantor! batinnya kesal. Biar saja anaknya diurus siapa saja, asal bukan dirinya sendiri!

***

“Ada lowongan kerja?” Tanyanya sumringah. Mungkin dia masih punya kesempatan. Umurnya belum genap 30, seharusnya ada satu pekerjaan untuknya. Memperoleh kubikal itu. Teritorialnya sendiri. Juga, harga diri ketika mengenakan blazer, kemeja yang rapi, dengan polesan make-up yang serasi.

Dia akan menggunakan intonasi itu. Suara yang sengaja dikeluarkan dari rongga dalam tenggorokan, mengesankan wibawa. Mengutak-atik power point atau mungkin aplikasi presentasi terbaru. Mempersiapkan diri untuk menunjukkan proposal. Segala kata-kata teknis yang memukau telinga. Yang membuat orang berdecak kagum.

Bukan cuci piring dan menyapu, yang bisa dilakukan siapa saja. Yang bisa dilakukan bahkan tanpa pendidikan apapun! Dia ingin menjadi ‘seseorang.’ Dia ingin merasa berharga. Menjadi seseorang di tengah sorot cahaya.

“Iya, cepetan lamar kerja. Sayang itu ijazah fungsinya apa?” Sindiran seperti biasa. Hampir semua orang, keluarganya, teman-temannya, melemparkan kalimat tajam tak berbelas kasihan itu. Heran juga, apa yang mereka dapatkan kalau dia memutuskan untuk kerja lagi?

Dia melihat e-banner yang pasti dibuat oleh desainer grafis perusahaan itu. Membayangkan ia berkenalan dengan profesional dengan skill-skill yang dihargai orang. Dan ia akan jadi salah satunya.

Soal anaknya? Ada begitu banyak ART yang bisa menggantikan. Tidak perlu dirinya. Toh dia akan selalu bertemu anaknya ketika pulang kerja. Ia melihat teks balasan dari temannya. Ia dipanggil wawancara! Oh! Tentu saja…

“Mama,” suara nyaring itu menyapanya. Anaknya bertelanjang dada, basah dan berkilau. Di sekeliling mereka, kolam-kolam dengan air jernih, biru dan hijau pastel. Dengan pantulan sinar matahari yang membias ke seluruh kolam.

Ibunya menghela napas. Apa lagi kali ini? “Ayo, sana les. Biar pinter berenangnya!” Sekali saja, ia ingin lepas dari panggilan menuntut itu. Tidak hanya 9 bulan di kandungan, ternyata beban itu masih memberatinya hingga kini.

“Tapi, hidungku sakit kalau bubble.”

“Nak, kamu harus bubble kalau mau berenang.” Segala macam ilmu parenting berseliweran di kepalanya, mencegahnya untuk tidak membentak-bentak. Ilmu yang juga membuatnya terkungkung di dunia yang sama sekali tidak rasional ini; membesarkan satu jiwa bebas dengan kesabaran tingkat tinggi.

Anaknya cemberut, berusaha mencari kata-kata lain. Tapi, ia kenal raut wajah itu. Raut wajah yang sedang tidak mau berkompromi. Bocah lelaki itu lalu lari lagi ke arah guru les renangnya.

Ibunya mengernyit agak kesal, mendapat gangguan. Sekilas kemudian, ia memfokuskan diri lagi ke ponsel pintarnya. Dia akan mengetik jawaban itu; ya.

Ibu jarinya berhenti di tengah-tengah. Ia menegakkan lehernya, mencari sosok anaknya. Jangan sampai si anak melobi guru lesnya untuk melewatkan pelajaran paling penting dalam renang, bernapas dalam air.

Guru lesnya tengah memegangi tangan anaknya. Tidak memegangi tubuhnya, hanya kedua tangannya yang terentang. Lalu, setiap dua atau tiga menit, kepala anaknya masuk ke air beberapa detik. Ia tercengang. Anaknya susah sekali kalau disuruh memasukkan kepalanya dalam air. Wanita itu lupa pada ponselnya.

Kini, pikirannya mengulang rekaman yang telah lalu. Anaknya, yang dengan teguh berusaha berguling. Jalan pertamanya yang tertatih. Kali pertama ia mengeja ‘lama’ dan mengetik ‘commuter.’

Dan banyak lagi. Terlalu banyak untuk ia hitung.

Setelah ini, mungkin ia akan mengomel lagi. Bahkan, bentakan yang sangat terlarang dalam dunia parenting itu akan keluar dari bibirnya. Tanpa tercegah.

Tapi…

Ia tersenyum. Lalu, teringat pada ponsel pintarnya yang terabaikan. Dia mengetik jawaban yang sudah dipersiapkan.

“Kurasa aku mau menyia-nyiakan ijazahku lebih lama.”

Deal

169796-tipe-jabat-tangan
Gambar diambil dari brilio.net

“Saya bisa lihat ruangan ini. Besar, penuh perabotan mewah. Menarik, susah untuk berhenti mengaguminya. Semua serba putih. Dan bersih, itu paling penting. Bersih itu disukai semua orang. Kalau bersih, semua akan tampak baik. Bahkan, tampak indah. Maksud saya, gudang itu privasi, tidak ada satu tamu pun yang perlu tahu. Biar dia tetap di belakang. Dan biar saja dia kotor atau bersih. Tapi, kalau di permukaan…”

“Ya, ya, saya paham maksud Anda. Kecantikan di dalam, ah itu omong kosong buat saya. Orang suka dengan polesan luar. Mungkin mereka akan sedikit kecewa dengan apa yang ada di balik polesan itu. Katakanlah, perak yang dilapisi emas putih. Mereka tidak suka dengan peraknya, mereka akan sedikit, mungkin, ragu atau kurang minat. Jadi, yang penting kita tonjolkan emas putihnya. Itu yang dilakukan pedagang. Tentu saja, kita tidak perlu berbohong atau menyangkal soal perak di baliknya. Tapi, apa perlu kita sebut-sebut itu? Kalau mereka tanya, kita jujur saja. Sesudahnya, kita kasih kebenaran yang lain. Tentang emas putih.”

“Brilian. Hebat. Lihat, saya bertepuk untuk Anda. Jelas, pemikiran Anda brilian sekali. Dan saya paham sekali analogi Anda. Sudah saya katakan analogi Anda lebih baik daripada rumah dan gudang itu? Jauh lebih baik. Saya bisa merasakan apa yang Anda bilang. Maaf, saya konyol. Tangan saya bergerak banyak kalau bicara banyak. Kelainan syaraf mungkin.”

“Tidak, sama sekali tidak konyol. Ekspresif. Polesan luar, ingat? Kalau kita bilang ekspresif, maka orang tidak melihat itu konyol.”

“Gila, tetap?”

“Ah, biar saja. Sekarang, gila itu biasa. Semua orang gila. Kalau semua orang sudah bersikap gila, berarti yang normal lah yang gila itu. Yang penting kan, statistiknya? Statistik yang akhirnya melebur jadi budaya. Orang-orang lupa, dulu yang dihitung hanya jumlah sampel dalam populasinya. Biar jumlah sampelnya sudah berubah, orang sudah tidak peduli lagi.”

“Gila sekali!”

“Ya, ya. Saya tidak bisa berhenti tertawa. Anda juga tidak? Saya maklum. Ah, sakit perut saya terguncang begini.”

“Ah, saya butuh ini, refreshing. Anda tahu, aktivitas politik saya terlalu banyak akhir-akhir ini. Maklum, saya workaholik, bekerja untuk rakyat. Harus kelihatan bergerak banyak. Sampai-sampai dada saya suka sesak akhir-akhir ini. Harus sering dikeluarkan beban yang banyak di dalamnya. Anda tahu, teknik meditasi dalam yoga? Pusatkan pikiran pada pernapasan. Seperti yang saya lakukan sekarang ini.”

“Tidak, saya paham…tidak lancang… Anda bisa tenangkan diri dulu.”

“Ya, terima kasih. Lanjutkan saja soal proyek itu. Proyek lagi, dana lagi. Sekarang, uang pegang peranan utama. Dipikir-pikir, sistem barter lebih enak. Orang mendapat langsung apa yang mereka butuhkan. Dengan uang, kebutuhan bisa melebar.”

“Sepakat, tapi ekonomi juga tidak bisa berkembang. Yang terpenting sekarang ini, ekonomi berkembang, rakyat sejahtera.”

“Ya, ya, Anda benar juga.”

“Orang itu bukan butuh duitnya sebenarnya, tapi jaminan. Jaminan yang bikin orang merasa aman. Birokrasi kan, juga begitu. Kalau sudah aman, semua beres.”

“Itu memang penting sekali.”

“Ya, tentu saja. Kalau sudah aman, orang juga bekerja jadi enak. Jadi, memang tidak ada salahnya. Rumah tangga yang kecil-kecilan pun perlu uang.”

“Lagi. Rumah ternyata yang paling penting.”

“Ah, jangan mengacungkan jari pada saya seperti itu. Saya merasa jadi tertuduh. Masalah yang sentimentil, buat saya, uang itu. Lebih sentimentil daripada cinta pertama. Ya? Benar?”

“Sungguh pintar melawak.”

“Ya, kentara sekali kalau saya gugup. Saya melawak kalau gugup. Sementara orang lain keringatan, saya malah keringatan dari mulut. Keluar semua. Sebelumnya, mungkin Anda perlu melihat proposalnya. Saya sudah siapkan. Ya, saya pasti siapkan presentasinya, tapi ini bisa dilihat terlebih dahulu. Saya tidak suka membuang waktu Anda. Dan, jujur saja, yang terpenting adalah opini Anda dalam soal ini.”

“Anda ini pintar sekali bersilat lidah. Anda kasih saya kertas. Kertas, kertas, kertas lagi. Seumur hidup saya, hanya ada kertas. Untunglah sekarang tidak pakai mesin tik yang semrawut itu, ya? Sudahlah isinya membosankan, maksud saya bukan yang ini lho, yang umum-umum saja, tulisannya tidak enak dibaca. Perfeksionis saya begini, melihat yang begitu, maag jadi kambuh.”

“Tidak, Anda benar. Memang sangat membosankan. Silakan, Anda perlu waktu untuk membacanya, kan? Saya akan diam dulu.”

“…begitu. Ada apa dengan angka ini? Penggelembungan, eh?”

“Ah…”

“Begini, harap Anda tahu. Saya bukan orang yang neko-neko. Apa saya minta bertemu di hotel mewah dengan biaya jutaan rupiah hanya dalam semalam? Tidak. Saya memilih bertemu di restoran kecil begini. Yah, saya juga yakin semakin kecil kemungkinan kita tertangkap tangan oleh KPK. Ah, jangan tertawa, Anda membuat saya jadi ikut ingin tertawa. Saya tidak mau macam-macam, saya tidak mau ikut campur dalam analisa budget Anda. Yang pasti-pasti saja.”

“Baik, saya paham. Saya yakin perusahaan saya yang paling tepat untuk proyek ini. Tapi, saya butuh jaminan, Bapak pasti paham. Seperti yang sudah kita bicarakan tadi.”

“Ya, ya, ya. Saya minum dulu, ya? Ya?”

“Ya, silakan. Silakan. Dan saya bisa lihat kalau Bapak adalah orang yang tepat untuk membantu saya. Saya tidak akan mengecewakan rakyat dengan proyek ini. Tentu saja, saya akan kerjakan secermatnya. Budget itu bukti kalau saya berusaha yang terbaik. Bapak tentu mencintai rakyat, bukan? Saya yakin itu. Makanya, saya juga dukung Bapak naik ke posisi itu.”

“Hm… Anda menyerang tepat sasaran.”

“Ah, jangan menghela napas begitu. Saya paham kesulitan Bapak. Bapak ingin yang terbaik untuk negeri ini, sayang, negeri ini tidak merespon baik. Perusahaan kami, perusahaan saya, akan membantu Bapak memperbaiki negeri ini. Kalau Bapak naik, semua akan jadi baik.”

“Tatapan Anda itu yang saya kurang suka. Culas Anda.”

“Saya tidak bermaksud apapun. Mata saya memang begini. Muka saya memang begini.”

“Oke, oke, saya terpaksa setuju, kan?”

“Ah, Bapak pandai sekali melawak. Masa saya memaksa Bapak? Begini, kalau ada keraguan, kapan saja saya siap untuk bertemu lagi. Bapak boleh mempelajari proposal saya dulu secara pribadi.”

“…”

“Lain waktu, boleh.”

“…”

“Anda sedang mempelajari saya. Itu juga boleh.”

“Proposal diterima. Saya sudah bilang saya tidak akan neko-neko. Karena yang pasti sudah jelas, sekarang tinggal formalitas sepele. Presentasi, Anda meyakinkan beberapa orang yang lain. Pertama, mari kita deal dulu, jabat tangan?”

“Benar? Wah, terima kasih sekali, Pak. Bantuan Bapak ini besar sekali artinya untuk perusahaan saya. Sebaliknya, saya pastikan dukungan saya kepada pencalonan Bapak.”

“Itu bisa kita bicarakan lain waktu.”

“Deal.”

 

sampai

Catatan penulis : 

Bisa dibilang, ini eksperimen. Aku nggak tahu apa ada yang pernah melakukan sebelumnya, tapi tiba-tiba aja aku mikir buat bikin ini. Cerpen yang diceritakan dalam bentuk dialog utuh. Mirip naskah, tapi tanpa narasi atau deskripsi lain sama sekali. Menarik? Tidak menarik? Yang pasti, penulisnya aja bingung pas baca ulang ^^;

Ratapan Sang Saka

 

Pagiku begitu merah
Merekah menentang siang
Aku berdiri di tiang terpancang
Menunggu
Ia tak kunjung datang
Oh, damaiku

Siangku begitu terik
Menyengat dengan pelik
Aku tetap di sini
Berharap, berharap, berharap
Padanya yang tersenyum
Saling mendekap mesra

Malamku begitu kelam
Menguak tabir seram
Mengapa pula aku di sini?
Malam tak lagi kelam damai
Menyerah ia pada api hati
Membisu terperi

Wahai pujangga merah
Mengapa engkau menggoreskan penamu?
Di hatimu genderang bertalu
Mengibarkan panji perjuangan semu
Tidak adakah aku di hatimu?

Aku mengalir di nadimu
Mebalut belulangmu
Pun aku menyaksikanmu menghancurkannya

 

Catatan penulis :

Ini puisi yang kutulis beberapa tahun lalu, waktu itu demonstrasi anarkis lagi marak-maraknya. Yang mengerikannya, ternyata puisi ini cocok juga disesuaikan dengan kondisi sekarang ini. Walaupun dengan bentuk yang lebih simbolis…

So, jangan bikin bendera kita ternoda, ya… 😉

Manusia, yang Sendirian

shalat-dan-tandus
Gambar diambil dari kanzunqalam.com

 

Hanya ada padang tandus. Kakiku menapak pasir kering, kasar. Sesekali kerikil tajam menusuk. Entah sudah berapa titik darah di sana. Menyengat. Tapi, aku tak peduli.

Kehampaan adalah jalan yang paling menakutkan.

Dari belakang, seolah ada hantu yang mengikuti. Dan mungkin kau akan merasa senang karenanya. Tapi, tidak. Hanya bayangan kelam yang mencemooh. Mencemooh ketakutanmu. Mungkin sekali, kau akan takut padanya. Lebih dari apapun juga.

Dunia hancur pada tahun 2020 Masehi.

Manusia tidak suka dibangunkan dari mimpi panjangnya. Bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa beragam kaum mengiringi langkah mereka. Dan bisa menguasai mereka. Tahun 2014, semua orang harus keluar dari rongga mimpinya. Menghadapi kenyataan. Kau tidak bisa bayangkan. Seseorang yang keluar dari cangkang.

Kebingungan. Kewaspadaan.

Sesama saudara saling menatap curiga. Tali persahabatan terputus. Di hadapan mereka, monster-monster tumbuh. Bahkan, mereka tidak lagi menatap cermin. Takut pada apa yang akan mereka lihat dari refleksinya.

Tidak ada yang lebih buruk daripada manusia di tengah kelimbungan. Sebuah status quo yang menganga. Status quo dari kepercayaan. Status quo dari keyakinan. Para penguasa telah mati. Manusia sibuk mencari satu sosok baru. Yang bisa menjadi pegangan mereka. Dan ia tidak perlu mengucap kebenaran. Hanya satu sosok yang bisa membenarkan superioritas mereka sebagai manusia, bahwa mereka masih jadi pemimpin atas semua makhluk di muka bumi.

“Dan satu orang terbunuh,” bisikku, berbicara, kepada pasir di kakiku. Pada beliung kecil yang berada di sampingku. Bagai sahabat yang hilang. Aku berbicara pada mereka. Tanpa jawaban. Dulu, pernah aku berbicara, dan marah pada orang yang menjawab. Dan aku berharap masih bisa beradu mulut dengan mereka.

Menurutmu, perang menakutkan? Bagiku, tidak. Perang memberikan jalan untuk manusia mengeluarkan nafsu kebinatangan mereka. Mereka membunuh. Menyiksa orang yang tidak sejalan. Lalu, memperkosa. Lahir-batin. Hanya untuk menjadi superior. Meyakini bahwa mereka lebih tinggi daripada yang lain. Bahwa mereka punya kuasa atas manusia lainnya.

Manusia mana yang tidak mencintai perang?

Perang sama sekali tidak menakutkan. Aku berjalan, melupakan perih di kaki, sengat di kepala. Sudah jauh. Berapa jauh, aku tidak menghitung. Manusia tidak pernah takut akan luka. Mereka menyukainya, seperti mereka menyukai drama-drama yang disuguhkan televisi. Darah adalah warna merah yang mereka butuhkan. Candu mereka.

“Perang sama sekali tidak menakutkan,” aku berbisik lagi. “Apa yang menakutkan adalah apa yang tersisa darinya.”

Ketiadaan.

Kehampaan.

Kesepian.

Aku merindukan orang-orang. Orang-orang yang bersekutu denganku. Orang-orang yang menjadi musuhku. Bahkan, mereka yang marah ketika aku menyatakan keyakinanku. Aku merindukan perselisihan dengan manusia lain. Siapa yang peduli akan perselisihan, saat kau tahu mereka masih ada di sisimu? Mereka masih menemanimu sekalipun dalam kebencian yang sangat? Mereka ada. Bukan dalam sosok yang kau mau, tapi mereka ada. Karena mereka ada, kau semakin tidak peduli. Karena mereka akan tetap ada, sekalipun tidak jadi sekutu. Dan kau akan mabuk dalam kenyamanan itu.

Matahari begitu terik. Air sudah habis. Aku harus menghemat sisa cairan di tubuhku.

Tapi, ia pun berkhianat. Sekali aku mengingat semua yang menghantui di belakang, tubuhku berbuat sesuatu yang berlawanan dengan yang ku mau. Pengkhianat. Aku berhenti melihat ke sekeliling. Aku berhenti berharap melihat satu sosok manusia yang akan menghampiriku. Kemana mereka semua?

Bahuku bergedik. Kepalaku tertunduk bagai ribuan ton yang membebaninya. Air yang tersisa dari tubuhku. Mengalir pelan dari kelopak mata. Satu titik. Dua titik. Berubah menjadi puluhan. Kini menjadi ribuan.

Kemana mereka semua?

Mereka habis di bawah semburan keberingasan. Mereka tewas di tengah serbu kebencian. Satu per satu, tumpas. Begitu banyak kematian, hingga manusia tidak peduli lagi siapa yang akan membasuh jenazah mereka. Siapa yang akan menguburkan mereka. Saat-saat terakhir, yang terpenting adalah sepasang tangan yang akan mendekap ketakutan mereka. Menampung air mata penyesalan mereka.

Aku bersujud. Tidak tahu pada siapa. Untuk siapa. Dan mataku terus berkhianat, membiarkan cairan tubuhku habis. Habis, aku habis. Aku sudah habis begitu aku terbangun sendirian. Sendiri. Hampa.

Temanku hanya waktu. Waktu yang terlalu banyak. Apa arti waktu, tanpa manusia?

Tahun 2016, manusia suka sekali menghitung waktu. Mereka lari darinya. Mereka lari mengejarnya. Waktu ada di dinding mereka, waktu ada di pergelangan mereka. Lupa, kalau waktu hanyalah tentang apa yang kita mau darinya.

Tahun nol, hari ini, aku tidak lagi mengejar waktu. Atau lari darinya. Dia bahkan rela menungguku, hingga aku berhenti bersikap bodoh. Berputus asa. Berputus asa adalah bodoh, karena kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa kau temui di depan sana. Biar jaraknya tak mampu kau hitung.

Tapi, aku tidak bisa merasakan waktu. Aku tidak bisa merasakan napas yang membelai lembut saat ia bicara tentang kebahagiaan. Aku tidak bisa merasakan panas tubuh yang hampir-hampir menyengatku ketika aku berdekatan dengannya. Dan tak peduli berapa banyak aku menangis, aku tidak bisa merasakannya menepuk punggungku.

Tuhan, dimana Tuhan? Tidakkah ia mau menjawab kegelisahanku? Tidak lagi. Tuhan berbicara lewat manusianya. Saat manusia tidak lagi ada, kau turut kehilangan Tuhan. Karena Tuhan menciptakan manusia. Lalu, mengirimkan manusia agar kau memahami Tuhan. Tuhan, sesungguhnya, bisa dipahami lewat sosok manusianya.

Sosok yang Tuhan pilih sebagai pemimpin di atas bumi-Nya.

Aku bangkit. Tanpa apapun selain sehelai pakaian penutup aurat. Temanku tidak lagi bersifat fisik. Mereka hanya bayang-bayang yang ada di kepalaku. Waktu yang berjalan bersamaku. Harapan yang bersukacita di dalam pikiran.

Aku ingin mencari Tuhan, lewat kasih sayang manusianya.

Berjalan lagi. Aku tidak tahu harus berjalan seberapa jauh lagi. Di kepalaku, aku membayangkan seorang sosok. Dengan dua mata yang mungkin berwarna lain. Dengan hidung berbentuk lain. Dengan kulit berwarna lain. Pada saat itu, aku akan memeluknya. Sekali lagi merasakan, bahwa Tuhan masih mau berbicara lewatnya. Walau dengan bahasa yang lain.

Perang sama sekali tidak menakutkan. Apa yang menakutkan adalah apa yang tersisa darinya. Ketiadaan. Kehampaan. Manusia, yang kesepian.

 

 

sampai