Tag Archives: Islam

Sabhira

Silhouette of soldier
Source image : expatfinancial.com

It seems the whole world, once again, in the uproar. She can clearly remember as it happened only yesterday, President of United States Bill Clinton attacked the training Camp of Osama bin Laden in Afghanistan due to revenge on his attack towards the World Trade Center Tower in USA.

Many speculations. No proves. Muslims keep being blamed for everything happened. No matter whether they agreed or not on Osama’s famous terrible opinion.

Sabhira shrug into silence. Muslim society in New York make a very great effort lately to introduce Islam as peaceful religion. It falls apart. It may become useless. She can’t help to shed the tear. It’s only one small drop of the glistening crystal, but her heart was burst much more.

ISIS had beheaded one journalist from USA. Just one thing that Muslim society needs in New York, more hates. There are more demonstration by natives, tried to deport every Muslim immigrants, the society they most afraid of.

Who can blame them?

Her cell phone rings. “Did you hear the news?” asked her friend, her colleagues in their society. Yes, of course she heard the news. No one can avoid it, even if they wanted to. It’s all over the country, worse, all over the world.

Sabhira can’t help but whisper even though she’s not sure why, “we better reduce our program for a little while. To give people more time.”

“It’s only make our efforts seem useless.” Her friend got the point, but she is not sure of anything else right now.

“What can we do? Let’s not increase their fear, let’s not encourage their trauma. We need to calm down. Take a little time off. Well, it doesn’t mean we will stop thoroughly.”

It’s a shame. But, what can they do? Pushing their beliefs to people who’s being traumatized only aggravates the hates more. Let’s not. Sabhira doesn’t understand, where did radical Muslims organization, like ISIS, go wrong?

Beheaded innocent people. Declare war onto the people who didn’t do any harm. There’s not any ayah(1) stated it in Holy Koran(2). Of course, there is a statement of Allaah’s wrath in one of Surah(3). But, it’s only because the enemy of Islam break the ceasefire agreement.

Islam never to be the first to declare a war. That’s what Sabhira knows for sure. If anyone does good, Muslims must do good, too. No matter who, no matter what their belief is. In her prayer this dawn, she carefully invokes her intention to her God.

The scary thing is, whatever happened outside, we will only can go on. Grieve can’t stop anything.

So, Sabhira puts on her hijab. Broken white, the purity that’s been stained. That what she wants to wear. Funny. She sighs to her reflection in the mirror. She’s ready to go. To conquer another day. For the last time, she glances at the mirror. Her reflection becomes blurry as she moves.

Her feet feels heavy, but she’s ready to go. To every stares of hates. She feels humiliated by herself for being such a coward. She steps further, faster. This, someday will pass by, become a maybe black memory, but it will pass by. And everyone will live on.

She moves only forward.

New York are busy as always. People are moving to and fro at the pedestrian walk. Some achieving their dreams, some creating a life. Sabhira walks as always. But, it just seems different. He glances to her back. Once. Twice.

And she’s sure now. There’s some guy, a big bearded white guy, follows her step. Maybe it’s only her imagination. There are many people are walking toward the same direction of hers. But, why does it feel so different? A moment later, Sabhira knows why.

“Hey, you terrorist!” yelled the big guy. Not only Sabhira, almost everyone takes a trouble to look at him. Sabhira can see he’s grinning. And she’s sure now. The grinning is for her only.

The guy moves fast toward her. Closer, and closer. Sabhira doesn’t have an opportunity to run away. Not even to think. He gets closer, and closer.

She can see a blaze of beautiful reddish orange color flashes into her face. And everything becomes dark.

Footnote :

(1) Arabic term for verse

(2) Holy book of Islam

(3) Arabic term for chapters

 

 

Writer’s note :

Let’s create a world of peace, no matter what belief we hold on to

Besar, Semakin Besar

38874182-fire-wallpapers
Gambar diambil dari bsnscb.com

 

Dia semakin besar. Semakin besar. Tumbuh, menjalar. Sejak kapan ia datang?

Tanah berkerikil itu berderak. Bebatuan kecilnya terserak. Gadis berjilbab putih merapikan bros putih yang tersemat di dadanya. Membetulkan letak tali tas tangannya. Tas tangan itu berpotongan sederhana. Ia pun putih polos.

Tapi, ia bukannya mau menikah. Tidak ada aturan menikah dengan pakaian putih dalam Islam. Dan perbuatan apapun di luarnya, hanya memperburuk citra Islam. Ia punya visi. Untuk itu, ia harus menjalankan misinya.

Berdakwah adalah kewajiban dalam Islam. Tidak perlu seorang yang jenius untuk memahami itu.

Berdakwah tidak semata dengan kata. Seperti halnya pakaian monokrom ini. Ia tengah menjalankan teladan. Menunjukkan sebagaimana mestinya wanita Islam bersikap. Ini juga misinya.

Ia membuka sepatu. Membiarkan kaus kaki tetap melekat, seperti kembar siam, pada kakinya. Bangunan itu luas. Sinar matahari menyeruak masuk dari sela-sela jendela, mencetak cahaya-cahaya kotak-kotak di keramik yang berkilauan. Langit-langit tinggi yang membuat bangunannya serasa tanpa batas.

Bisik-bisik bergaung lembut. Seperti dengung lebah yang menari. Yang menyenandungkan ayat-ayat yang sungguh indah. Ia memejamkan mata, merasa masuk ke dunianya. Akhirnya. Siapa bilang tidak ada surga di dunia? Siapa bilang tidak ada lagi orang yang masuk akal di atas muka bumi ini?

Gadis itu mendatangi satu per satu penyebab bisik-bisik itu. Berjenis kelamin sama dengannya, bersifat sama dengannya. Mungkin ada yang bergaya sedikit berbeda, berhijab sedikit lebih pendek daripada standarnya, tapi biarlah. Ia bisa memaafkannya. Karena gadis itu, gadis dengan hijab pendek itu, mau di sini, menghabiskan waktu dengan Sang Khalik. Dan hamba-hamba setia-Nya.

Saat ia mendatangi, dada gadis itu tersembul dari sisi-sisi hijab yang terlalu pendek. Ia merasakan desis di dadanya. Semakin keras. Ia mempercepat salamnya, lalu berjalan menjauh. Kepada Muslimah yang lebih taat. Bukan peniru yang fasik.

Ia membuka buku kecil berpenutup kulit hijau kelam. Tinta hitam di atas kertas putih gading. Tinta hitam yang meliuk, membentuk huruf-huruf indah. Dengan sajak yang indah terdengar, indah terbaca. Ia memegang dadanya, merasakan sesak yang menyenangkan di sana. Ingin sekali berkumpul dengan pembuat sajak terindah di muka  bumi ini.

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

 

***

 

“Pengajiannya bagus. Ustadznya pintar, ya.”

“Iya, lulusan Universitas Madinah, tidak diragukan lagi.”

Bisik-bisik itu berubah jadi kalimat-kalimat panjang penuh kegembiraan. Gadis berjilbab putih menempelkan telunjuk di bibirnya. Mendesis. Wanita-wanita yang berbicara itu menutup mulutnya, tersenyum malu-malu. Menunduk tersipu.

Berdakwah tidak sekadar ceramah. Ia adalah setiap kata dan cara untuk mengingatkan. Menasehati. Dalam kebaikan. Dalam kesabaran. Huruf-huruf Hijaiyyah itu berputar-putar di benaknya. Kesabaran, menasehati dalam kesabaran. Ia mendesah pelan.

Suaranya sendiri bergaung di telinganya. Ia bergidik, rasa dingin menjalar. Membangkitkan sensitivitas setiap syarafnya. Ia tengah mendekatkan diri pada Sang Khalik. Dan, oh, ia merasa sangat dekat. Mungkinkah Dia berada pada nadi-nadinya, berbisik pada telinganya? Ingin bertemu dengan-Nya, ingin bersatu dengan-Nya.

Dunia hanya tempat persinggahan. Penjara yang lain. Begitu, bukan?

Di setiap sudut, ia hanya menemukan kaum-kaum yang menentang. Yang lebih mencintai manusia, lebih memilih dunia. Di setiap sudut, ia menemukan orang-orang fasik, mengaku Islam, tapi tidak mencintai Khalik mereka.

Dan perlahan, kemarahan tumbuh di dadanya. Pelan-pelan. Wajar ia marah. Ia mencintai Islam, ia mencintai Allaah. Ia ingin menjadi pembela-Nya. Ingin menyadarkan setiap orang yang menentang-Nya. Seberapa salah itu?

Wanita berhijab pendek itu berdiri. Ia menyelipkan ujung-ujung hijabnya ke belakang. Semakin jelas menampakkan dadanya di balik kaus spandek yang jelas menunjukkan lekuk tubuhnya. Di depannya, seorang wanita berhijab panjang seperti dirinya, mematut diri di depan cermin. Memoles bedak. Lalu, memulas warna-warna di seluruh wajahnya. Meronakan wajahnya.

Dan perlahan, kemarahan semakin besar di dadanya. Menyebar bagai spora. Pelan, meluas. Membesar. Ia besar, semakin besar. Ia mencoba mengingat beberapa kalimat yang menenangkan. Batinnya tidak tenang. Tapi, bukankah wajar? Ia ingin sesamanya juga mencintai Islam, seperti dirinya. Meyakini perintah dan larangan Allaah, seperti dirinya. Mendekatkan diri pada Khalik, seperti dirinya.

Seperti dirinya.

Seperti yang ia lakukan.

Seperti yang ia tanamkan baik-baik.

Seperti dia. Seperti dia. Seperti aku, bisiknya.

Ia mendengar lagi suaranya. Tapi, itu tidak seperti suaranya. Serak yang tidak sabar. Dengkur yang kurang ajar. Sesaknya berubah. Tidak lagi menyenangkan. Napasnya tersendat. Matanya menggeliat cepat. Sesuatu tumbuh di dadanya. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia tidak kenal. Sesuatu yang ditolaknya. Memakannya dari dalam. Ia merasakan semua menciut; pikirannya, perasaannya, nuraninya. Tuhannya.

Dan sesuatu itu besar. Semakin besar. Ia tumbuh mendesak-desak. Sejak kapan ia datang? Dada gadis itu terasa sakit. Ia mengingat-ingat lagi. Kata-kata. Berdakwah, menasehati, memberitahukan yang tidak tahu. Dalam kebaikan. Dalam kesabaran.

Kesabaran, kata apa itu? Ia kehilangan satu kosakata dalam kamusnya. Hari itu.

 

sampai