Tag Archives: Keluarga

Dalam Peraduan yang Menghijau

 

117648-full
Gambar diambil dari http://www.scpr.org

 

Putih dipercaya sebagai awal. Yang suci. Yang bersih. Murni dari segala-gala.

Maka, bayi diliputi kain katun putih selembut kapas. Tangan kematian pun dilumuri oleh tinta putih yang membalut jasad. Lalu, pria dan wanita, yang baru saja memulai satu titik kehidupan. Semua berlumur putih. Putih dan putih.

Sepasang itu tersenyum malu-malu. Tersipu memerah. Oranye kelabu meliuk lembut di tangan yang berujung oranye pekat. Motif bunga terpapar di atas kulit itu. Bunga berdaun tipis. Mereka juga terbalut kain putih. Sutra dan katun. Linen tebal-halus meratapi peraduannya. Halal sudah menjadi ikatan mereka. Sesegera mungkin, agar tak terjebak dalam lingkaran zinah. Cepat, cepat, jadilah halal. Dan mereka pun halal.

Putih itu segera ternoda. Semburat merah merambat pelan, lingkaran yang melebar. Darah.

Tanda mereka memasuki dunia baru. Dunia yang sama sekali lain.

 

***

 

Darah.

Annissa gemetar. Di tangannya, darah yang lengket dan kental memerahkan ujung-ujung jemarinya. Apa yang harus dilakukan? Bagian bawah perutnya sakit seperti diremas, melilit hebat. Ia bisa merasakan cairan basah-lengket menetes menggerayangi pahanya. Tapi, dia tak bergeming. Hanya berdiri. Gemetar.

Darah.

Merah.

Meluruh.

Annissa berbaring, tapi matanya nyalang melebar. Dia terpaku di tempat tidurnya. Malam itu sudah lewat tengah malam. Kotanya telah tertidur nyenyak. Perumahannya sunyi, ditingkahi sesekali deru motor satpam yang lewat berjaga.

Tapi, kamarnya berang. Memekik dengan berisik. Annissa merapatkan selimutnya. Dia membeku, ketakutan. Suara apa yang didengarnya? Seperti orkestra dari tangan-tangan awam. Biola yang berdecit nyaring. Perkusi dari kaleng-kaleng berkarat. Piano dengan senar-senar terkelupas.

“Annissa! Sudah setengah jam anakmu menangis!” ibunya berteriak dari balik pintu. Ia tersentak. Suaminya, menggeliat sejenak, tapi tidur lagi. Mendengkur pelan.

Wanita yang masih terlalu muda itu tergeragap bangun. Kebingungan, di antara tangisan bayinya dan gedoran pintu ibunya. Ia melihat pintu, lalu melihat bayinya. Mana yang harus didatanginya lebih dulu?

“Annissa!” Wanita itu memekik panik.

“Oeee…” Bayi itu tersedu sedan.

Dia berjalan pelan. Ke arah tempat tidur kecil dengan balok-balok kayu putih yang kecil. Putih. Dan putih.

Di dalamnya, seprai putih. Terserak oleh tendangan kecil, tapi kuat. Bayi itu, pipinya penuh. Wajahnya memerah oleh kemarahan yang belum juga mencapai titik jenuh. Bayi yang kuat. Dengan paru-paru yang kuat. Dengan usus yang tak pernah kenyang.

Ia membeku, melihat makhluk kecil itu meraung-raung.

“Annissa!” panggil ibunya lagi. Ia tersentak, lagi. Lalu, berlari menuju pintu.

Di balik pintu, ibunya berdiri dengan wajah ketakutan. Bulu kuduk Annissa meremang. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Anak kamu nangis, Annissa, kamu nggak dengar?” Ia berbicara dengan suara lembut, hati-hati. “Boleh Ibu masuk?”

Annissa terpaku sedetik lamanya sebelum mengangguk pelan, ragu-ragu. Dengan gurat-gurat wajah lega lalu bahagia, ibunya mengangkat bayi itu pelan, hati-hati. Ia membisikkan kata-kata manis menyejukkan. Annissa masih terpaku di pintu, melihat anak itu terisak, tidak lagi berteriak, kelelahan. Ibunya, melirik sekilas ke arahnya, mengernyit keheranan.

 

***

 

Semua orang membisikkan kata-kata sabar. Allaah memberi kita kekuatan, kita hanya perlu mendekatkan diri pada Allaah. Annissa mengaji. Demi mendekatkan diri pada Sang Khalik. Itu yang selalu didengungkan orang-orang di sekelilingnya.

Mendekatkan diri pada Allaah. Dan memang, pada saat-saat itu, ia merasa tenang.

Tapi, bayinya tidak. Meraung-raung marah, memanggil sang ibu. Popoknya sudah lama basah. Ada pola kuning kecokelatan yang tercetak kering, membayang dari balik popok kain yang dikenakan padanya tanpa semaunya.

Yaa ayyuhal ladzii na ǎmaanu laa tulhikum waa amwaa lukum…” suaranya merdu mengalun. Ia adalah lulusan pesantren. Ilmu tajwid dikuasainya. Bahkan, sedikit lagi saja, ia akan menjadi hafidzah muda. Di usianya yang 18 tahun!

“Annissa!” Ibunya masuk dengan tergopoh. “Anakmu menangis, lho!”

Annissa mengangkat wajahnya. Di hadapannya, ibunya tercengang. Sembari memegang dua kantung plastik hitam besar. Dari dalamnya, mencuat batang-batang kangkung, lalu pucuk-pucuk jagung yang menguning.

Dia meletakkannya asal saja. Annissa menoleh untuk mengikuti gerak-geriknya. Ia memeriksa bayi malang itu, sambil tersenyum dan membisikkan kata-kata lembut. Annissa diam memerhatikan, dengan tatapan kosong. Seolah keduanya berasal dari jauh. Suara mereka juga terdengar sayup, jauh.

“Popok bayi kamu basah. Ada pup di popoknya, pantatnya bisa lecet kalau tidak segera dibersihkan. Kapan terakhir kali kamu kasih dia ASI?”

Annissa membuka mulut. Ia mencoba menjawab, lalu menutup mulut kembali. Mengernyit, seolah tidak paham perkataan ibunya.

“Anak kamu kurus, Annissa. Kamu harus perhatikan minum ASI-nya. Enam bulan pertama yang paling penting karena dia belum bisa makan yang lain.”

Mata Annissa yang sudah bulat semakin membulat.

“Bayi itu rentan, Annissa. Ibu tahu kamu baru soal ini, tapi ayo, belajar lebih baik lagi. Kamu mengaji, bagus sekali, Nak, tapi bayi kamu juga perlu perhatian. Mengajinya nanti dulu, urus anak kamu dulu. Begitu tidur, kamu baru mengaji lagi.”

Wanita muda itu meremas-remas tangannya. Ibunya kembali mengajarkan banyak hal tentang bayi. Ibunya melihat Annissa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kenapa kamu menggeleng-geleng?” Annissa mengangkat wajahnya, menatap ibunya dengan dahi mengernyit. Sang ibu balas menatapnya.

 

***

 

Seprai yang membalut kasurnya tak lagi putih. Begitu awal telah berlalu, putih itu pelan-pelan ternoda. Oleh warna-warna. Annissa berbaring menyamping. Bibirnya tersenyum, ia menyorongkan telunjuknya pada tangan bayi yang sedang bermain-main di udara. Tangan mungil itu menangkapnya. Bahkan, memasukkan jari itu ke mulutnya.

Annissa tercengang. Lalu, mendengus tersenyum. Jemari bayi itu lembut, serupa kapas. Mulutnya mengenyot, menyangka jari itu payudara. Ia tertawa-tawa sendirian, mencoba-coba pita suaranya sendirian. Bayi yang tengah belajar sendirian.

Sendiri.

Sendirian.

Seorang diri.

Bayi itu mencucup ujung jarinya. Lalu, menariknya keluar dengan suara mencecap keras. Annissa menatap ujung jarinya yang basah. Matanya terbelalak. Air liur seharusnya bening. Air liur seharusnya tidak berwarna.

Ia menyentakkan jarinya keras, mengagetkan bayi itu. Bayi itu mencibir, menggetarkan bibir bawahnya, lalu mulai menangis. Tangis itu pelan. Kemudian, bertambah keras. Keras dan semakin keras, karena tidak menemukan penenang. Jantung yang dulu berdetak lembut, begitu dekat dengan telinganya. Kehangatan yang serupa pelukan tanpa putus. Semuanya hilang. Bayi itu tersedu, kemana semua pelipur laranya dulu?

Annissa bangkit dari kasurnya. Hijau, itu warnanya. Sengaja dipilih ibunya untuk menenangkan jiwanya. Hijau, warna yang menenangkan. Warna rerumputan, warna…ketubannya.

Ia gemetar. Menatap tangannya sendiri.

Darah, begitu merah.

Rasa sakit yang melilit di perut bawahnya.

Aliran air deras bercampur darah dari vaginanya.

Tiba-tiba saja, bayi kurus seukuran botol sirup dijejalkan ke tangannya.

Ditidurkan secara paksa di dadanya, yang masih bergemuruh ketakutan. Sementara, bekas jahitan ngilu meremas seluruh syaraf di tubuhnya.  

 

***

 

Ibunya menghela napas kelelahan. Ia khawatir memang, meninggalkan bayi dengan anaknya sendirian. Betapa remaja yang masih limbung. Betapa remaja yang belum mencapai ujung. Tapi, ia juga harus mengurus akta kelahiran yang sudah telat dua bulan. Sidang dan bayar segala macam, betapa ribut administrasi kependudukan Indonesia ini!

Tapi, beberapa hari ini, Annissa begitu sayang pada anaknya. Hari-hari dimana ia bersikap aneh itu sudah berlalu! Hari-hari penuh kekacauan itu mulai pudar! Bahkan, Annissa sudah menyusui anaknya tepat waktu. Ya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Annissa, ibu pulang…” kata-kata itu terhenti di tengah jalan. Annissa dengan ujung jari yang berdarah. Berdiri gemetar. Merah itu merayap hingga perut bagian bawah menuju selangkangannya. Wanita muda itu menatap linglung ke arah wanita paruh baya.

“Mana bayiku?”

 

 

sampai