Tag Archives: Miss Manette

A Tale of Two Cities (part 2)

charles dickens
Gambar diambil dari amazon.com

 

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classic

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris

 

Jangan tanya ini sampe part berapa karena akupun tak tahu. Halah… Intinya, karena aku bakal baca buku ini lama banget, tapi aku gak sabar ngasi per detailnya, akhirnya jadi begini, deh. Kutulis satu per satu review yang bakal sangat panjang ini.

Alasannya, karena dari awal aku udah dikejutkan dengan paragraf pembuka yang apik banget. Keren dan ngena banget. Bahkan, aku pikir2 cocok banget dengan kondisi sekarang ini. Hanya saja, bukan lagi soal Perancis dan Inggris, tapi tentang Amerika dan Indonesia. Jakarta dan Washington DC deh, karena kan judulnya “cities” hehe…

Dan untuk review sebelumnya, aku mau ralat. Aku dengan pedenya bilang aku udah nyampe halaman 60, tapi setelah ditilik baik-baik, aku baru sampe halaman 26! What the…

Ada apa dengan konsentrasi membacaku yang makin rendah ini?Btw, kalau mau baca review sebelumnya, yang emang cuma sampe halaman 26 itu (aneh, ya! haha…) silakan baca di sini; A Tale of Two Cities (part 1) dan kalian akan menemukan isi paragraf dari buku ini yang keren banget.

Aku sampai pada cerita dimana orang yang telah terpenjara (terkubur; kayak penjara bawah tanah gitu) ternyata punya seorang putri dan akhirnya mereka bertemu. Dan biasalah, penulisnya pasti membuatnya jadi haru-biru.

Monsieur Manette, si napi itu, hidup tanpa gairah sekarang. Dia melanjutkan hidupnya yang tertunda, dengan membuat sepatu, di bawah perlindungan seorang pria Perancis pemilik Wine Shop, Monsieur Defarge. Setelah 18 tahun terkubur hidup-hidup, Monsieur Manette tentu saja kehilangan pegangan soal makna hidup.

Ini deskripsi dari Charles Dicken :

The faintness of the voice is pitiable and dreadful. It was not the faintness of physical weakness, though confinement and hard fare no doubt had their part in it. Its deplorable peculiarity was, that it was the faintness of solitude and disuse. It was like the feeble echo of a sound made long and long ago. So entirely had it lost the life and resonance of human voice, that it effected the senses like a once beautiful color faded away into a weak poor stain. So sunken and suppressed it was, that it was like a voice underground. So expressive it was, a hopeless and lost creature, like a famished traveller, wearied out by lonely wandering in a wilderness, would have remembered home and friends in such a tone before lying down to die.”

Good, eh? Penggambaran dari suara Monsieur Manette ini menjadi simbolisasi dari kondisi dia secara keseluruhan. Lost and hopeless creature. Dan sekarang, dia siap dibawa ke negeri Inggris oleh putrinya.

Wonder it will be very boring, tapi biar, deh. Rasanya ini lebih jadi curhatan daripada review yang sebenar-benarnya. Yang pasti bahasa Inggrisnya bener-bener susah, karena Charles Dickens itu dari Britania dan bukannya Amerika, yang bahasa Inggrisnya banyak dipelajari di seluruh dunia.

Well, whatever, yang pasti aku nemuin lagi kata-kata indah dari Charles Dickens, dan mau kuabadikan satu per satu di blog. Soalnya, kalau gak, pasti lupa hehe.

Here’s another :

…to the calm that must follow all storms – emblem to humanity, of the rest and silence into which the storm called Life must hush at last…”

Kalimat singkat yang menggambarkan hidup itu penuh masalah, yang tentunya akan selesai satu hari (siapa yang tahu satu hari itu sampai mana). Satu hal yang aku sadari dari Charles Dickens adalah dia suka mem-personifikasi hal-hal penting. Kayak Life di atas. Atau Hunger di paragraf sebelumnya.

 

Advertisements