Tag Archives: Opini

Persekusi Lama yang Diperbarui

 

Sejak kericuhan politik dan demokrasi bablas 2014, beberapa kata tiba-tiba jadi terkenal. Pertama, blusukan ala Jokowi. Itu kata yang bagus dan berkat itu, kesadaran berpolitik masyarakat jadi terbuka. Kedua, masif dan sistematis. Dua kata itu tiba-tiba jadi sangat populer setelah perseteruan antara kubu Jokowi-Prabowo. Kalau nggak salah sih, yang lebih mempopulerkan itu Prabowo. Sering banget kubunya pakai dua kata itu.

Trus, baru-baru ini, tabayyun. Sejak kasus penistaan agama, kata ini jadi melekat banget, walaupun aku nggak yakin pelaksanaannya dilakukan bener-bener, sih :p (bahkan, oleh orang yang cinta banget sama kata satu ini).

Aku nggak ingat satu per satu. Yang pasti, sekarang ini, aku menemukan kata baru. Mungkin ini kata lama, mungkin aku aja yang kurang updet. Yang kuinget, soal ancam-mengancam udah jadi makanan sehari-hari kalau soal gerakan, aksi, dan lain-lain yang berhubungan dengan politik, tapi baru sekarang istilah persekusi ini mencuat.

Gara-garanya kasus seorang dokter di Sumatera Barat, yang diancam dan diteror oleh anggota FPI karena status-statusnya yang pedas di medsos soal Rizieq Shihab. Lucunya, status-statusnya yang kulihat itu sepele banget (mungkin karena aku cuma baca sebagian). Dan banyak yang suka nulis status begitu, jadi aku agak heran, dari sekian banyak status yang menyudutkan, kenapa si dokter ini yang dipilih.

Semakin lama, aku semakin merasa kalau soal persekusi ini memang sengaja dibesar-besarkan. Disebarkan ke khalayak ramai, untuk membuat teror tersendiri. Mungkin juga taktik beberapa orang untuk menekan kebebasan berpendapat yang sudah tidak lagi konstruktif. Kebanyakan hanya serangan-serangan yang akhirnya lebih ditujukan kepada pribadi daripada kritik terhadap satu situasi atau fenomena. Lebih-lebih lagi, dilakukan tanpa ada proses pikir, seakan manusia hanya  monyet yang suka mengetik. Siapa peduli apa yang diketik, dan apa akibatnya, dan siapa yang disinggung, yang penting berpendapat.

Well, kalau itu kebebasan, sekalian aja manusia disuruh buka baju, apa bedanya? Karena kalau melihat cara orang-orang sekarang berpendapat, aku jadi berpikir kalau kaum nudis itu jauh lebih masuk akal dibandingkan mereka-mereka, mulut tanpa filter ini.

Balik ke masalah persekusi. Persekusi ini bukan hal yang baru. Ingat, Soeharto sering menculik lawan-lawan politiknya atau menangkap (tanpa pengadilan) aktivis-aktivis yang terlalu vokal? Setelah reformasi, aksi ancam-mengancam masih terus berlangsung. Jadi, kenapa sekarang baru di-blow up?

Kalau kita mau melihat dari sisi terangnya, seperti kata Simon & Garfunkel, mungkin hal ini bisa mengerem mulut-mulut tanpa filter yang berkeliaran di medsos. Aku yakin memang itu tujuannya. Yang aku tidak tahu, apakah tujuan ini dilakukan atas kepentingan tertentu atau sekadar meredakan ledakan opini di medsos.

Sama saja seperti kasus penculikan dan opresi di rezim Soeharto, persekusi dilakukan dengan cara menakut-nakuti, meneror, mengopresi. Tidak peduli siapa yang memulai atau siapa targetnya, yang diciptakan adalah ketakutan. Gabungkan dengan teror bom, situasi sempurna untuk menciptakan satu histeria massal.

Di saat-saat begini, tagar #KamiTidakTakut menciptakan efek yang sama besar. Apalagi dengan sistem informasi medsos yang masif, tagar-tagar semacam itu seperti sugesti yang ditanamkan secara massal. Menyebarkan pengaruhnya untuk memberikan rasa aman secara berkelompok. Ya, mungkin benar medsos tidak memberikanmu teman sejati, tetapi mereka mewadahi satu kelompok, dimana kau bisa merasa mendapat tempat di dalamnya, lalu mengikatmu dalam kelompok itu. Wadah bereksistensi, wadah untuk merasa terikat.

 

Ditambah dengan perang urat syaraf, penuh dengan propaganda politik yang saling serang, saling menjatuhkan, kondisi ini pas banget untuk menjatuhkan mental-psikologis massa. Ketidakpercayaan, saling curiga, provokasi, hal-hal ini selalu menjatuhkan kelompok macam apapun.

Propaganda yang dilancarkan secara kasar mungkin lebih gampang untuk ditolak, bagaimana dengan provokasi halus? Yang dilangsungkan dengan cara yang baik-baik, mengendurkan kewaspadaan, dengan begitu lebih mudah untuk ditanamkan?

Well, teror bisa datang dalam berbagai bentuk. Kurasa, teror tidak harus selalu menakutkan. Sesuatu yang meragukan saja sudah cukup menanamkan teror.

 

Satu Hari yang Tak Akan Terulang

546652_263102530451518_258489774246127_543294_1921561366_n[1]
Gambar diambil dari : rhaggill-duniaku.blogspot.co.id

Tanggal 18 Mei…

Tepat 19 tahun yang lalu, alias tahun 1998, ternyata hari ini adalah hari pertama mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR. Dan mereka melakukan itu di bawah ancaman tank, panser, dan senjata api. Waktu itu aku masih SMP.

Waktu itu aku masih kecil. Nggak kurang pula, apatis, masa bodo. Yang penting aku aman-nyaman di tempat tidur. Apa peduliku kalau di luar sana ada ribuan orang mati demi membela keyakinan mereka? Shame on me, huh?

Peristiwa Mei 1998 yang terekam jelas di ingatanku adalah tanggal 14 Mei 1998. Dulu ibuku mempekerjakan ART. Aku deket sama dia, dan hari itu adalah tanggal ulang tahunnya. Sayang sekali, pada hari itu, malam-malam sekitar jam 7, kericuhan terjadi di dekat rumah. Sejarak beberapa rumah, di seberangnya, ada indomaret (yang masih bertahan sampe detik-detik aku mau pindah rumah tahun 2015, lho! Mungkin sekarang juga masih ada) dan sekelompok orang rusuh menyerang indomaret itu.

Apa yang kulihat? Sekelompok super hero yang sedang membela bangsa? Bukan, sekelompok oportunis b***sat (maaf ya, aku sedang kesel hehe) yang sedang memanfaatkan situasi. Mereka menjarah minimarket itu. Bahkan, di ingatanku, mereka juga bawa barang-barang berat, kayak komputer. Entah itu dari indomaret, atau dari toko di dekat situ. Biar aku nggak tahu apa-apa, aku jijik melihat mereka.

Dari dulu sampe sekarang, keberadaan orang-orang seperti itu nggak pernah hilang. Orang-orang yang mencari kesempatan buat kepentingan mereka sendiri. Orang-orang yang nggak peduli dengan nasib orang lain. Orang-orang yang nggak punya kode moral. Dan orang-orang inilah yang sekarang memakai topeng agama. Kalau waktu kecil saat aku belum paham politik aku sudah merasa jijik, apalagi sekarang?

Aku nggak percaya kalau situasi sekarang akan berujung pada peristiwa reformasi 1998. Aku nggak mau menyebut itu kerusuhan, buatku itu sangat tidak menghormati orang-orang yang sukses menurunkan Soeharto dan dwifungsi ABRI di pemerintahan. Dan orang-orang yang mati membela keyakinan mereka. Bravo!

Sayangnya, orang-orang percaya. Orang-orang ketakutan. Bisa jadi, orang-orang yang trauma akan peristiwa 1998, orang-orang yang melihat langsung, nggak sepertiku yang cuma melihat dari dalam rumah yang sengaja digelapkan, supaya nggak kena serangan massa.

Dulu, waktu itu, mahasiswa dan rakyat bisa dibilang satu suara. Aku nggak bilang 100% ya, karena pasti selalu ada pro-kontra di balik semua. Yang pasti, kemuakan berpuluh tahun dan opresi Soeharto jadi pemicu. Kesatuan itu yang menggerakkan massa begitu luas, begitu banyak. Sekarang ini, dengan kita yang terpecah, mana mungkin pengumpulan massa semacam itu akan terjadi lagi? Pengikut organisasi agama yang katanya sampai 7 juta itu? Itu cuma sekitar 3% dari keseluruhan rakyat Indonesia. Kenapa takut?

Mungkin di balik ini semua, ada aktor-aktor lain. Lebih kuat, lebih berkuasa, daripada orang-orang kecil macam preman-preman bertopeng agama itu. Dan mereka sedang mempersiapkan skenario mereka. Tapi, buatku itu menjijikkan, bukan menakutkan.

Tahu yang kutakutkan? Saat seseorang dengan suara keledai malah dipuja-puja. Saat orang-orang menolak memakai salah satu bagian tubuh yang menggerakkan hampir seluruh sistem organ, yaitu sistem syaraf pusat. Saat kita bisa mulai melihat robot-robot bergerak dengan remote control di balik layar. Saat orang melupakan nuraninya sebagai bagian dari kelompok manusia, makhluk yang diciptakan tak kurang dari Tuhan sendiri.

 

well

 

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 2)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Cerita eh artikel sebelumnya…

Dua hal pertama yang kutemukan waktu mulai mencoba menulis cerita fantasy. Mengembangkan logika cerita dan menyesuaikan setting lokasi dan waktu yang tepat itu susah banget. Terutama, karena ini dunia fantasy, yang budaya dan adat istiadat makhluk-makhluknya harus kita bentuk dari awal dan kita atur lagi. Apalagi kalau makhluknya fantasy. Imajinasi kita harus luas dan nggak terbatas banget!

Buat part 1-nya, coba klik link ini : Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

Nah, sekarang lanjut lagi. Karena emang bukan 2 hal itu aja yang bikin rumit. At least, buatku 😀

Ketiga, menetapkan nama-nama dan istilah-istilah. Kita bicara soal negara baru atau dunia baru. Mungkin malah dimensi waktu dan ruang yang lain dari realita. (Dunia orang mati, mungkin?) Buatku, ini yang paling susah. Nentuin nama tokoh aja kadang-kadang bisa bikin stuck berhari-hari, apalagi kalau ada istilah baru atau bahasa baru, dan nama-nama negara, provinsi, makhluk-makhluk baru?

Intermezzo : itulah enaknya kolaborasi, kita bisa delegasikan tugas yang susah sama teman dan bisa meringankan beban dua kali lipat :p

Jangan lupa juga nama ini nggak bisa sembarangan. Kalau makhluk menyeramkan dan jorok disebut Troll, terkesan cocok aja, kan? Kalau kita namain dia bunny atau tweety pasti rasanya ada yang janggal (karena sadar atau nggak, kita terikat sama norma-norma yang kita pelajari dari dunia nyata).

416HARSDA3L
Penamaan tokoh biasanya menggambarkan karakternya. Seperti troll, makhluk yang biasa digambarkan buruk rupa dan jahat. Gambar diambil dari http://www.amazon.com

Mau ngasi twist? Tentu saja boleh, tapi harus ada alasan yang masuk akal untuk itu. Misalkan, apa sejarahnya makhluk itu dinamai lucu dan cute begitu? Rasanya, kalau nggak sesuai sama aturan yang dipersepsikan normal sama orang-orang, susah buat pembaca mengembangkan imajinasinya. Kita bicara teks tanpa gambar soalnya. Lain hal kalau bicara soal picture book, ada gambar yang menjelaskan maksud si penulis.

Lupakan soal kesan, beberapa nama juga harus punya filosofi tersendiri. Kayak Pancasila, dinamakan begitu karena ngambil dari bahasa Sansekerta, “Panca” yang artinya “lima” dan “sila” yang artinya “prinsip/asas.” (Kok jadi PPKn? Haha…) Orang tua aja milih nama buat anak karena ada kandungan doa (ada artinya) di dalam nama anak yang mereka pilih, kan? Apalagi, kalau bicara soal logo atau lambang (negara/organisasi misalnya) yang selalu punya simbolisasi, selalu punya filosofi di baliknya.

Keempat, pengembangan kepribadian setiap karakter. Ingat kan, kalau di part pertama aku udah bahas soal penentuan lokasi yang bakal menentukan budaya? Nah, yang namanya budaya itu pasti menentukan pola tingkah laku tiap-tiap manusianya. Bisa dibilang break down dari aspek-aspek budaya itu, deh.

Kayak di Lord of the Rings (maap ya, referensiku soal novel fantasy emang cuma dua ini hehe), ada makhluk namanya hobbit (again?!). Kita bisa lihat kalau dunia hobbit itu indah dan damai, kan? Dengan begitu, masyarakatnya mudah percaya satu sama lain, mereka jarang berkonflik. Ini kelihatan dari sikap Frodo dan Sam ke Gollum. Frodo begitu aja jatuh kasihan dan percaya sepenuhnya sama Gollum. Sedangkan, sekalipun Sam nggak percaya sama makhluk licik itu, dia juga nggak begitu aja mengkonfrontasi Gollum secara langsung, kan?

Atau kita bisa liat Merry dan Pippin, yang menurutku lebih agresif ketimbang Frodo dan Sam, mereka tetep beda sama Dwarf yang agak kasar dan beringasan. Kalau ada konflik, mana ada mereka langsung serang dan sebagainya. (Trus, nama mereka cute, menggambarkan karakter mereka yang juga imut-imut?)

Artinya, keempat hobbit itu punya perbedaan karakter, tapi mirip secara fundamental. Mereka bertengkar dan berkonflik, tapi nggak melewati batas-batas budaya mereka. Artinya, kalau budaya kita tentuin lagi, berarti perkembangan kepribadiannya juga harus disesuaikan dengan budaya baru yang kita tentuin itu.

Susah banget nggak, sih? Tenang aja, kita masih bisa nyontek-nyontek dikit, kok. Misal tentang hobbit itu, kita bisa nyontek itu dari budaya masyarakat adat, kayak Suku Badui Dalam, atau yang baru-baru ini booming, Petani Kendeng. Mereka sedikitnya, punya sifat yang lumayan sama dengan para hobbit ini (berdasarkan dari observasi mentahku, ya). Mereka masyarakat homogen yang kurang suka berkonflik dengan pola pikir sederhana.

Tapi, harus tetap ingat kalau cuaca, iklim, suhu, tingkat kebisingan daerah, dan segala macam model demografis lainnya, itu menentukan kepribadian, jadi jangan pernah lupa untuk menyesuaikan unsur itu ke dalam karakter.

Terakhir, (minimal yang kepikiran, ya) tentu saja konflik politiknya. Kalau bukan novel dengan tema tentang politik pasti mikirnya nggak bakalan perlu beginian, kan? Salah besar. Yang namanya politik itu ada di mana aja dan diterapkan di mana aja. Misal, jomblo lagi nyari pacar, nih. Politik mereka adalah dandan secakep mungkin, ngasi kode-kode ke lawan jenis, dan segala macam strategi lainnya. Itu juga politik, lho.

Bayangin kalau konflik politik ini terjadi di dunia fantasy. Misal, di Lord of the Rings, ada Saruman dan Gandalf. Saruman punya tujuan menguasai cincin. Gara-gara itu, ia menghalalkan segala cara. Lalu, muncul Gandalf yang berniat menghalangi dia mencapai ambisinya. Ini lagi-lagi harus ada hubungannya dengan logika cerita dan masing-masing kepribadian tokoh.

gandalf-saruman
Gandalf dan Saruman mulai berkonflik sejak Saruman berambisi menguasai cincin untuk dirinya sendiri. Gambar diambil dari http://www.dreager1.wordpress.com

Misal, Saruman ambisius. Maka, politiknya adalah dia mencoba menghancurkan orang-orang yang menghalangi dia. Gollum, dia berniat menguasai (sebenernya dia yang dikuasai) oleh cincin terkutuk itu, akhirnya dia menipu Frodo dan Sam. Lalu, Frodo yang punya misi dan Sam yang bertugas menjaga Frodo. Ini break down lain dari budaya dan karakter, mereka menentukan hubungan antar tokoh.

Biasanya, yang paham hal-hal begini adalah gamers, tepatnya pecinta game-game RPG. Emang basis game RPG itu biasanya novel fantasy, jadi bisa juga jadi cara asyik untuk memahami alur di novel fantasy lewat games kayak gini. Untuk yang suka fantasy dan pengen nulis novel fantasy, jangan nyerah dulu karena kesulitannya, ya! Kalau sukses, bisa jadi games dan terkenal di mancanegara, lho… 😉

 

 

 

Rumitnya Menulis Cerita Fantasy (part 1)

 

images
Gambar diambil dari http://www.freevector.com

 

Baru-baru ini mutusin untuk bikin novel kolaborasi dengan teman-teman sesama penulis. Kebetulan banget, kebanyakan dari mereka penggemar fantasy. Aku sendiri suka sih, bacanya, tapi kurang suka nulisnya. Karena aku bisanya yang realistis, yang deket sama kehidupan sehari-hari, alias imajinasiku kurang. Jadi, kenapa aku mau (malah aku yang ngajak) bikin novel kolab soal fantasy?

Eksplorasi, eksperimen, atau apalah sebutannya. Intinya, aku mau ngerasain.

Dan, lewat tulisan ini (ini gegara keseringan denger lagu kali ya, kan biasanya “lewat lagu ini…” mulai gak jelas, deh!) aku mau menyampaikan beberapa pengalaman yang kudapat lewat fantasy.

Tadinya tuh, aku mikir, asik banget kali ya, bikin sebuah novel yang murni dari hasil pikiran kita sendiri (ya eyalah, kalo gak, namanya plagiat hehe). Maksudnya, murni dari hasil imajinasi kita, nggak terkukung dengan kenyataan, dan aturan-aturan dunia nyata. Eh, ternyataaaa…. tidak semudah yang kuduga.

Pertama, mengembangkan logika cerita. Biarpun kita bisa bilang murni hasil imajinasi, novel bentuk apapun adalah bentuk komunikasi yang lain. Kita sebenernya tengah menyampaikan ke orang lain apa yang ada dalam pikiran kita, dalam perasaan kita juga. Karena itu, komunikasi harus mengikuti aturan luar, kalau nggak ya, pesan-pesannya pasti nggak nyampe. Trus, buat apa dong, kita publish novel? Kecuali kalau mau jadi pajangan di rak buku pribadi atau menuh-menuhin hard disk atau kapasitas google drive (banyak banget medianya sekarang ^^;)

Okelah, ada yang namanya novel sastra. Penyampaiannya kadang ekspresif, subjektif milik si penulis. Mereka bahkan bisa aja membentuk kaidah-kaidah baru dalam cara penulisan dan bahkan cara pembacaan. Tapi, kaidah baru terbentuk dengan dasar kaidah lama. Surrealis nggak mungkin muncul tanpa adanya realis sebelumnya, kan? Lukisan abstrak juga nggak akan muncul kalau nggak ada teknik-teknik pencampuran warna atau konsep-konsep warna dalam hubungannya dengan emosi manusia. Jadi, bahkan bacaan yang nyastra pun nggak mungkin keluar dari kaidah-kaidah baku komunikasi ini.

Contoh simpel, bahkan novel sastra pun nggak mungkin bilang, ibu memasak batu bata. Kalaupun iya, pasti nanti ada segudang alasan di balik itu, mungkin karena di novelnya emang makhluknya punya kebiasaan makan batu bata ^^; Kalau nggak, ya nurut aja sama kaidah baku bahasa indonesia, kalau yang dimasak itu ya, makanan yang bisa dimakan. Seperti, ibu memasak sayur.

Nah, seperti contoh di atas, karena komunikasi ini mutlak harus sampai ke pembaca, kita perlu menulis satu cerita yang benar-benar harus ada hubungannya satu sama lain, kan? Waktu nulis fantasy, ini yang paling sulit, artinya kita harus menghubung-hubungkan imajinasi yang banyak itu hingga membentuk rangkaian yang solid secara logika. Kalau realis masih bisa kita nyontek-nyontek dari dunia nyata. Tapi, kalau di cerita fantasy, semua harus dirancang dari awal.

Kalau misalkan kayak di Harry Potter, menjelaskan hubungan penyihir dengan goblin, misalkan? Artinya, harus jelas dulu karateristik penyihir, karakteristik goblin, perasaan-perasaan mereka, sejarah antara mereka, sehingga hubungan mereka yang diwarnai sakit hati dan saling curiga itu jadi masuk akal banget. Bravo for J.K.Rowling!

65b48871fc60046897cac12d0ad2eb131e03d5c5
GIF diambil dari http://www.romper.com

Coba, kalau nggak dijelasin sejarah mereka yang diwarnai tipu daya, tiba-tiba mereka saling benci aja gitu? Pasti kita sebagai pembaca nggak puas. Lho kok tiba-tiba saling benci aja, sih? Aneh.

Kedua, menyesuaikan setting lokasi dan waktu. Sama aja kayak mengembangkan logika cerita sih, persoalannya. Mesti dirancang ulang dari awal. Untuk beberapa novel fantasy, mereka menggunakan sistem pertanggalan masehi (tapi dengan realita yang sangat berbeda) dan ini sah. Ini lebih gampang, sih. Tapi, beda cerita kalau kita bikin setting waktu sendiri. Atau model-model post-apocalypse yang semuanya harus dari nol. Untuk penulis yang perfeksionis, harusnya sih ada sistem penanggalan sendiri soal ini (push terus novelis fantasy Indonesia! Haha!)

Setting lokasi, ini yang menurutku sangat, sangat ribet. Begitu ketemu novelis fantasy, barulah aku sadar betapa rumit soal setting lokasi ini. Apalagi kalau soal kolab ya, semua harus jelas karena orang-orang yang terlibat semua harus mirip-miripin (karena identik terlalu naif) persepsi soal hal-hal teknis begini.

Kenapa? Masalah lokasi ini penting banget untuk penanaman karakter-karakter dalam cerita. Karena seperti yang kita tahu, lokasi sangat menentukan budaya. Misal, orang-orang yang tinggal di negara tropis 2 musim, dengan negara 4 musim, budayanya pasti beda. Orang yang tinggal di negara kering macam Afrika pasti kelakuannya beda banget sama orang yang tinggal di Greenland. Trus, dia tinggal di pegunungan atau daerah pesisir pantai. Apakah dia tinggal di dataran rendah atau dataran tinggi.

Misal, di Lord of the Rings, para hobbit tinggal di rumah-rumah kecil di semacam padang rumput begitu. Aku lebih ngebayangin soal liang-liang kelinci yang damai gitu, sih. Mereka cenderung ramah dan saling percaya, tapi juga mudah ditipu. Bandingkan dengan goblin, atau disebut juga Orcs, yang tinggalnya di Misty Mountain, alias di pegunungan.

Ini penampakan liang-liang Hobbit… :p

2frodobilbo
Gambar diambil dari thorinoakenshield.net

Nah, ini tempat tinggalnya Orcs…

Trailer1Goblins3
Gambar diambil dari http://www.thelandofshadow.com

Berasa kan, kalau perbedaan sifat mereka jadi masuk akal? Pegunungan yang kebanyakan gelap dan menyimpan sejuta misteri (kayak hewan-hewan liar) otomatis membuat sifat Orcs jadi curigaan (kalau kita nggak mau buruk sangka dulu sebagai jahat, ya). Tampang mereka aja jadi nggak indah gitu, kalau dibanding Hobbit. Itulah kaidah-kaidah baku dalam dunia pembentukan kepribadian, jadi kalau nggak ngikutin itu lagi-lagi pesannya nggak bakalan nyampe.

Singkat kata, kalau setting lokasi nggak jelas, pastinya nanti bakalan nggak masuk akal dengan karakter-karakter tokoh. Kalau perlu jelasin di lintang apa, bujur apa, biar ribet sekalian! 😀

Untuk sekarang, aku nulis sampai di sini dulu. Soalnya, kalau kepanjangan malah jadi nggak enak bacanya. Nanti pesannya nggak nyampe ke pembaca, dong! :p

 

 

nyambung…

Masyarakat Adat yang Jauh Lebih Modern

sawah_kita_by_nooreva-d5q63ap
Gambar diambil dari DevianArt by nooreva

 

Please don’t judge me. Aku tahu ini topik yang udah rada basi, tapi karena aku lagi off kemaren dari segala macam berita dan medsos, jadinya bener-bener ketinggalan.

Akhir-akhir ini, berita soal Petani Kendeng lagi banyak ditampilkan. Aku sering denger, tapi baru kali ini tahu apa masalahnya. Lagi-lagi, masyarakat adat vs pengusaha.

Oke, aku sebelumnya nggak pernah tahu soal kasus masyarakat adat dan pengusaha, tapi oh come on, it’s so easy to guess! Masyarakat adat dipinggirkan karena ada kapitalis lagi nyari untung. Terjadi dimana-mana. Sejarah juga banyak membuktikan.

Di Indonesia, keberadaan masyarakat adat adalah sesuatu yang masih dihargai dan diakui secara hukum. Seberapa baik penghargaannya? Ternyata, nggak begitu baik. Soalnya, orang Indonesia sibuk nyari duit. Salah nggak? Nggaklah, siapa yang nggak butuh duit. Tapi, kalau banyak duit, tapi kita nggak punya apapun untuk dimakan, oksigen yang semakin tipis karena kita tebang semua pohon, dan banjir dimana-mana karena nggak ada daerah serapan air, apa gunanya, sih?

I don’t get human somehow. Eh, aku juga manusia, ya?

Di satu sisi, aku menyukai perkembangan teknologi. Aku menyukai kemajuan, karena bagaimanapun, kemajuan juga membawa banyak hal positif. Pengobatan, misalkan. Pendidikan parenting (karena aku orang tua yang butuh itu).

Ups! Pendidikan parenting ternyata kita nggak begitu maju, lho. Kita, masyarakat kota, yang katanya sangat beradab, jauh ketinggalan masalah yang satu ini.

Dari kakak iparku (credit for her) yang suka traveling, di Badui Dalam, mereka nggak butuh ahli parenting untuk mengatakan ke mereka, kalau anak melakukan kesalahan, ya dibilangin, nggak perlu dikasarin or such. Sementara, masyarakat kota??? Guru nyubit anak murid malah dibelain, katanya mencubit dan memukul itu biasa untuk pengendalian perilaku. Sementara, di Badui Dalam, dengan pendidikan parenting yang begitu, mereka tentram dan saling bersahabat tanpa banyak konflik. Kalaupun ada, selesai tanpa harus kasar dan menjelek-jelekkan orang lain. Sejak kapan peradaban modern justru membuat kita mundur jadi manusia purba?

Dan masyarakat adatlah yang punya cukup etika untuk menjaga alam. Masyarakat Badui Dalam punya aturan hanya boleh panen padi setiap 6 bulan sekali dalam setahun. Karena mereka percaya bahwa mereka nggak boleh tamak dalam mengambil hasil alam. Dan, kebetulan sangat, ibuku pernah cerita, bahwa dulu di Sumatera Barat, panen dilakukan 6 bulan sekali,  sebelum pemerintah (bodoh, maaf, aku nggak tahan) mengubahnya jadi 3 bulan sekali. Akibatnya, kualitas beras di Sumatera Barat menurun drastis. Dulu, kata ibuku, beras dari sawah di kampung, rasanya enak banget. Beda sama yang sekarang. Sedih.

Masyarakat Samin, termasuk petani dari pegunungan Kendeng, juga sama sekali nggak menggunakan bahan-bahan kimia untuk pertanian mereka. Mereka menggunakan bahan alami, kayak kotoran sapi dan jeroan sapi (yang masih fresh, dari sapi yang baru disembelih, kurang-lebih) dihancurkan dan diproses jadi pupuk. Artinya apa? Mereka punya kualitas beras yang jauh lebih baik daripada yang kita makan sehari-hari. How sad is that?!

Tapi, kapitalis nggak pernah puas. Dengan alasan membangun perekonomian, mereka bangun pabrik dimana-mana. Padahal, Indonesia itu negara agraria. Kalau kita bisa fokus di agraria, dan mengekspor itu semua, perekonomian kita juga bisa maju. Tanah kita sangat subur, ingat?

Aku rasa, kita harus melepas satu gelar indah lagi dari Indonesia.

Kalau aja masyarakat Indonesia lebih percaya diri untuk mengolah semua hasil alamnya sendiri. Dan kita bisa mendepak semua pihak yang maunya memperkaya diri dari berbagai tender dan investasi asing, mungkin kita akan jauh lebih kaya. Aku nggak anti investor asing ya, tapi tolonglah proporsinya diatur. Kebanyakan!

Selamat tinggal, etika dan moralitas. Sejak kapan civilization menjadi kata yang begitu menakutkan? Sejak kapan peradaban justru menghancurkan manusia daripada membangunnya?

Selamat datang, kanker dan penyakit mematikan lainnya. Hanya karena kita terlalu malas untuk memperjuangkan kesejahteraan alam, yang padahal menghidupkan kita juga.

Tanpa kita sadari, ternyata masyarakat adat jauh lebih maju daripada masyarakat, yang katanya, modern. Internet ternyata nggak cukup bikin kita pinter (akhir-akhir ini, malah membuat kita jadi makin bodoh). Begitulah, dengan berkurangnya kepedulian akan lingkungan sekitar kita, baik pada manusia dan alam, manusia hanya akan jadi hewan. Hanya dengan rasa peduli, kita jadi manusia seutuhnya.

Teriring doa bagi masyarakat adat, semoga masyarakat adat tetap terjaga dan terhormat di atas bumi Indonesia.

 

 

Depok, 29 Maret 2017

Ekspektasi vs Harapan

 

Ekspektasi membangun obsesi, harapan membangun harmoni…

Satu waktu, aku pernah membaca meme soal cara mencapai kebahagiaan. “If you want happiness, lower your expectation.” Jujur aja, aku agak bingung. Kalau kita merendahkan ekspektasi kita, apa malah kita jadi mengurangi usaha dalam mencapai tujuan? Malah ngebuat kita menurunkan target daripada berusaha yang terbaik sampai dimana kemampuan kita bisa mencapai.

Setelah beberapa tahun, kurasa aku baru bisa mendekati maknanya. Kenapa cuma mendekati? Karena, sayangnya, dalam beberapa tahun ke depan dinamika manusia bisa berubah. Mungkin ada makna yang lebih sempurna daripada yang kutemuin sekarang. Ini nulis sambil nonton “Interstellar” kayaknya terpengaruh begini haha…

Baru sekarang aku paham kalau ekspektasi dan harapan itu beda. Yah kalau kita cari definisi ekspektasi ternyata nggak ada di KBBI, jadi murni kata adaptasi dari expectation dan sayangnya aku nggak nemu kata padanan yang deket artinya dengan kata ini. Jadi, akhirnya aku cari perbedaan definisinya lewat situs luar negeri, yaitu jeremystatton.com.

Yang kudapat ; In his book The Awakened Heart, Dr. Gerald May tells us the difference between expectation and hope.He defines expectation as a “rigid clinging to unreal belief.” Expectation is demanding exactly what we want to happen regardless of what is actually happening. Meanwhile, hope is flexible. It is alive. It responds to all situations instead of battling against the ones that appear to be opposite.

Dan akhirnya kusimpulkan kalau ekspektasi itu sifatnya memaksa dan berfokus sama apa yang kita mau, jadi lebih egosentris. Waktu kita berekspektasi, kita susah untuk melihat kepentingan orang lain yang mungkin menghalangi keinginan kita. Makanya, ekspektasi lebih banyak menghasilkan kekecewaan dan perselisihan. Biasanya lagi, ekspektasi ini sifatnya spesifik dan jangka pendek, sehingga orang suka gagal melihat efek dari satu keinginan dalam jangka panjang.

Lain lagi sama harapan. Seperti yang dibilang Dr. Gerald di atas, harapan lebih fleksibel. Harapan itu adalah pandangan general kita dalam memaknai satu hasil, sehingga orang yang berharap itu lebih melihat satu masalah dalam kesatuan yang harmonis. Nggak cuma mementingkan keinginan pribadi, harapan membuat kita bisa memahami kepentingan orang lain atau lingkungan karena kita fokus pada pemaknaan hasil, bukan hasil itu sendiri. Tentunya juga, efeknya itu bertahan dalam jangka panjang karena solusinya melibatkan semua pihak terkait.

Contoh kayak perilaku merokok. Kalau kita berekspektasi orang berhenti merokok, kita akan fokus sama larangan merokok. Padahal, dalam satu perilaku itu ada juga pola pikir dan pola pikir orang itu beda-beda. Tanpa memahami masalah dan kebutuhan si perokok, kita malah lebih milih untuk memaksa dia berhenti merokok. Hal ini mungkin efektif dalam membentuk perilaku yg kita mau dalam jangka waktu pendek. Dan mungkin cuma menimbulkan efek semu, dimana dia nggak merokok di depan kita aja. Di belakang, dia tetap merokok. Jadinya, apa fungsi dia berhenti merokok? Cuma biar kita seneng aja. Ya, kalau emang itu mau kita, boleh-boleh aja, sih.

Sebaliknya, kalau kita mendasarkan larangan merokok ini pada harapan, kita akan mencoba memahami apa sebab perilaku merokok, dan mau melihat dari sudut pandang si perokok. Artinya, kita nggak egois, hanya mikir yang penting kita merasa benar. Dengan begitu, solusinya akan melibatkan banyak pihak dan membuat kita bekerja sama dengan banyak pihak untuk mencapai tujuan yang baik untuk semua, bukan cuma baik untuk kita. Cara begini juga cenderung akan menghasilkan hasil yang lebih lama dan lebih menetap.

Jadi, ekspektasi bikin orang terobsesi sama hasilnya, sedangkan harapan membuat keinginan yang lebih harmonis.
Caranya? Ya, pertama-tama kita harus paham apa yang kita mau. Paham tentang diri kita dan mau menerima diri kita apa adanya. Saat kita udah bisa menerima diri kita, biasanya pandangan kita terhadap dunia di luar kita lebih seimbang. Nyaman dengan diri sendiri membuat kita nyaman dengan lingkungan, apapun yang terjadi di lingkungan itu.
Dan itu membuat kita lebih gampang untuk menerima lingkungan apa adanya, bukannya memaksa lingkungan yang berubah sesuai mau kita. Dengan seimbangnya pola pikir kita terhadap diri sendiri dan lingkungan, kita bisa mencari solusi yang memenangkan kepentingan semua.

Mungkin nggak, sih? Posisi kemenangan kan, cuma satu? Ya, karena kita manusia yang pastinya persepsi juga beda-beda, persepsi kemenangan itu sendiri juga jadi beda-beda. Kebutuhan kita aja juga beda-beda, kok. Sama kayak sistem barter zaman dulu aja. Masing-masing benda pasti nilai nominalnya beda, tapi kalau sesuai kebutuhan, jadinya nilai intrinsik barang itu jadi seimbang dan masing-masing orang puas dengan nilai yang diberikan barang itu. Contoh simpelnya aja, penjual persepsi menangnya untung, pembeli persepsi menangnya bisa dapet discount. Kalau penjual bisa ngasi discount tanpa mengurangi banyak keuntungan, ya mereka sama-sama menang. Produk laku, pembeli makin percaya.

Jadi, kalau mau harmonis, ekspektasi mesti rendah, harapannya yang tinggi…

download
Gambar diambil dari pulsk.com

Kemarin (26/1), aku baca satu artikel di tempo tentang bule yang mengadakan eksperimen sosial. Dia sengaja memakai rok mini dan berjalan-jalan di Jakarta. Dalam tempo 35 menit saja, sudah ada 13 laki-laki yang menggoda, dari suit-suit nggak jelas sampai ada yang berani meminta nomor telepon wanita bule ini. Wow!

Kita putar balik ke tahun lalu, sayangnya aku nggak inget siapa yang ngomong dan kapan kejadiannya. Yang pasti, waktu itu ada kasus pemerkosaan, lalu ada satu figur publik yang berkomentar tentang itu. Di waktu kasus pemerkosaan itu masih fresh from the oven banget, dia bilang kalau wanita harus menjaga diri dan menutup aurat. Kira-kira begitulah kalimatnya.

Bener nggak? Dalam pandangan Islam yang kutahu, emang bener wanita harus menutup aurat demi menjaga diri.

Tapi, kenapa komentar ini terasa salah banget di telingaku, tambahan lagi, memicu komentar-komentar pedas dari wanita lain? Tentu saja, karena sebenar-benarnya perkataan, kalau diucapkan dalam waktu dan tempat yang salah, dia akan berdampak buruk.

Ayooo, Para Muslimin dan Muslimah jangan cari-cari alasan buat defens dulu. Kenapa sih, aku bilang kata-katanya jadi salah? Karena efek yang ditimbulkan. Pertimbangan manfaat dan mudharat, ingat?

Di saat kasus masih fresh itu, apa yang terjadi kalau kata-kata itu didengar oleh korban? Mereka dalam kondisi traumatis. Pemerkosaan itu mengakibatkan rasa malu, rasa rendah diri, karena yang diserang bukan cuma fisik, tapi kehormatan si wanita. Bayangkan, wanita dalam kondisi ini mendengar itu, apa nggak tambah malu? Disalahin pula, apa nggak tambah merasa rendah diri? Dan dalam kondisi psikologis seperti itu, traumanya makin berkali lipat. Efeknya, rata-rata wanita Indonesia yang dilecehkan secara seksual, malu dan takut untuk melapor ke pihak berwajib. Apa ini nggak menimbulkan superioritas buat si pelaku yang hobi melecehkan?

Kedua, apa yang terjadi kalau kata-kata ini didengar si pelaku? Ini bisa dimanfaatkan buat menjustifikasi kesalahan mereka. Orang yang dalam kondisi merasa bersalah, biasanya mereka juga stres. Dan karena stres itu nggak enak, ya pasti kita sebagai manusia berusaha untuk meredakannya. Salah satunya ya ini, rasionalisasi, justifikasi, membenarkan perbuatan kita. Ini, buatku, sangat berbahaya.

Kenapa? Perkataan itu membuat mereka merasa kalau mereka nggak salah. Minimal, mereka nggak ngerasa salah-salah amat dan ikut menyalahkan wanitanya. Dan laki-laki lain yang mendengar itu (ini figur publik yang ngomong, lhooo, kontrol sosialnya pasti tinggi) juga mendapat justifikasi kalau nggak ada salahnya menggoda atau melecehkan wanita-wanita, asal dia pake rok mini. Gimana tingkat pemerkosaan mau menurun, dong?

Sekarang begini, kasus pelecehan yang banyak terjadi di commuter line itu juga banyak menimpa cewek yang udah nutup aurat. Nggak usah bicara jilboobs deh, yang udah pake baju gombrang-gombrang (eh anak sekarang ngarti gombrang gak ya, pokoknya baju longgar) masih aja dilecehkan.

Kalau aku analogikan begini. Wanita itu nafsu shoppingnya tinggi kan, ya. Kalau dia boros dan belanja mulu, siapa yang biasa disalahin? Dia sendiri, kan? Bukan tokonya yang menggiurkan itu (walaupun akibatnya ada yang nggak suka sama kapitalis sih, mungkin ini suami-suami yang tertindas hahaha).

Sudah saatnya manusia itu tanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Nggak mungkin terus menyalahkan orang lain atau hal lain atas akhlak kita. Sinetron itu nggak ada artinya bagi orang-orang yang mau sedikit ribet mikir. Media juga nggak akan bisa membodohi kita kalau kita orang yang rajin memperkaya ilmu. Cuma diri kita sendiri yang bisa menjaga akhlak kita. Allaah aja nggak banyak ikut campur soal itu, selain ngasih hidayah, kan?

Bayangin kalau orang cuma bisa nyalahin lingkungannya. Anak menyalahkan orang tua yang salah asuh, suami menyalahkan istri yang nggak pinter ngurus rumah tangga, istri menyalahkan suami yang nggak pinter cari nafkah, orang tua bahkan menyalahkan anaknya yang nggak mau nurut sama dia (padahal yang mendidik anak kan dia, cih!). Gara-gara nggak mau tanggung jawab sendiri, maunya lemparin ini ke orang lain, akibatnya kita susah introspeksi diri dan berubah. Gimana mau berubah, kalau dirinya sendiri udah dianggap bener, layaknya Tuhan?

Akibatnya lagi, yang ada cuma pertentangan. Karena masing-masing manusia punya persepsi berbeda tentang apa yang benar dan apa yang salah. Sama kayak sekarang ini, kan? Masing-masing ribet ngurusin akhlak orang lain, sampai lupa kalau dia lagi marah-marah di wal FB sambil mengucapkan kata-kata yang nggak pantes. Ups, bias! Haha…

Pendidikan itu seyogyanya seimbang, harmonis. Antara satu dengan lain hal itu ada korelasinya, maka kita harus melihat per detail dan melihat bagaimana mereka saling berkaitan. Dengan begitu, tercipta juga solusi yang sifatnya komperehensif dan bertahan dalam jangka panjang. Nggak cuma melihat dari garis besarnya aja, itupun melihatnya sambil lalu, trus jadi kesimpulan. Mana nggak mau diganggu-gugat lagi kesimpulannya… ^^;

Gak apa-apa, sih. Hak itu, haaaakkk… Jadi orang yang timid dan rigid itu juga hak kok, asal nggak pake pola senggol-bacok aja…

Musik dan Pengikutnya

 

439970-metal-music-heavy-metal-fans
Gambar diambil dari stuffpoint.com dari akun 5co_sl

 

I worshipped Metallica, and it’s not a lie.

Oke, aku tahu kalau dalam sebagian mazhab di agama Islam dikatakan bahwa metal itu musik setan. Bahkan, dalam sebagian mazhab lain lebih radikal lagi, semua musik itu setan. Well, tenang, saudara-saudara, bukan itu yang mau dibahas. Kalau emang musik metal, atau semua musik itu (termasuk qasidah, rawi, gambuskah?) setan, mudah-mudahan dihilangkan Metallica ini dari hatiku. Tuhan kan, satu-satunya Pembolak-balik Hati.

Balik ke soal Metallica…

Karena aku pengagum berat Metallica, dari awal aku join Facebook, atau mungkin beberapa bulan sesudahnya, aku kurang inget, aku udah cari tuh fanpage Metallica. Dulu fanpage-nya masih rada jadul, dimana forum diskusi terpisah dari newsfeednya. Aku heran kok, nggak gitu aja ya, jadi menyaring orang yang nggak tertarik atau emang kurang paham soal diskusi-diskusian. Semua terpampang jelas di newsfeed di timeline itu rasanya… oke, bias!

Aku inget kalau diskusinya asik banget. Ya iyalah, semua tentang musik kesukaan kita, masa nggak asik? Ada juga yang bikin semacam games di mana para penggemar komen satu frase dari lagu Metallica, trus yang komen selanjutnya harus nerusin dengan nebak itu frase ada di lagu yang mana. Tapi, seperti biasa, di ruang diskusi, nggak semuanya yang asik-asik dan manis-manis aja. Ada satu diskusi yang temanya Justin Bieber. Jeng jeng jeng jeng! Gimana rasanya kamu ada di grup musik metal dan denger nama Justin Bieber? Yak, pastinya darah langsung naik! Haha…

Waktu itu emang Justin Bieber masih baruuuu banget di dunia musik, baru keluar, baru mencuat, seperti anak baru lainnya, masih manis gitu. Sekarang kan, udah nggak semanis dulu, kebanyakan skandal. Nggak siap kali ya, sama dunia entertainment? Jiwanya nggak dilindungi dengan semangat bermusik sih, makanya jadi begitu. Ah! Bias teruuuss!! Dan lagu barunya itu berjudul; Baby, Baby. Oke, aku mau jujur dikit, aku lupa judul lagunya, tapi yang aku inget cuma dia nyebut ‘baby’ terus-terusan sampe berbusa di reff. Aku bahkan udah lupa; nadanya gimana, ya?

Di tengah-tengah pemuja Metallica dan metal, tentu nama ini jadi momok tersendiri. Spontanlah si pembuat thread dimarah-marahin karena menyebut nama terlarang di dunia permetalan. Tapi, nggak sampai di situ, akhirnya hater sebener-bener hater muncul. Dia bilang dengan ketikan (bukan nada, soalnya nggak kedengeran suaranya hehe) provokatif, “If I heard he told ‘baby, baby’ one more time, I’m gonna kill him!’ Oh, wow! Dan tahu reaksiku waktu itu, ketawa ngakak! Seseorang di luar sana, menerima ancaman pembunuhan, dan aku tertawa!

Well, soalnya, aku nggak menganggap dia serius. Walaupun, harusnya aku tahu, karena itu berupa tulisan, aku nggak bisa bener-bener tahu seberapa dia serius, atau seberapa dia bercanda. Semua kabur, semua punya kemungkinan sama besar, 50:50. Kalau ternyata bercanda, kita bisa move on dan balik ke keseharian kita, ketawa pas inget lagi komen itu. Gimana kalau 50% di sisi lain yang bener? Tiba-tiba Justin Bieber terbunuh oleh orang itu, pastinya kita nggak bisa ngetawain ancaman itu lagi.

Memang bagi sebagian orang yang sudah memuja metal, tentunya susah juga suka sama musik bergenre lain, karena sifat metal ini yang udah unik dari sananya. Nggak hanya keras, tapi melodinya rumit, trus dengan lirik-lirik puitis (jangan salah, metal itu puitis sangat, lhooo). Apalagi, Metallica ini lumayan unik pula. Pernah denger, metalhead dipenuhi semangat spiritual? Nah, Metallica salah satunya. Banyak lirik Metallica itu mengutip ayat-ayat di Injil.

Tapi, jelas bukan band yang religius. Soalnya, ada salah satu lagu yang judulnya, The God that Failed. Makanya, aku lebih milih spiritual, karena perjalanan spiritualnya James lumayan luar biasa juga. Orang tuanya berasal dari kalangan Umat Kristiani (disebutnya Christian Scientists), yang alirannya rada fanatik, dimana mereka percaya kalau penyakit bisa hilang hanya dengan doa. Karena itu, sekalipun ibunya udah menderita kanker, mereka sama sekali nggak bawa ibunya ke dokter atau pengobatan lain selain doa-doa. Gara-gara ini, lagu The God that Failed muncul.

Singkat kata, liriknya dalam, sarat makna, walaupun kelam. Dia nggak hanya menyuarakan kebebasan dan pemberontakan, seperti lagu metal lainnya, walaupun ada juga soal-soal begitu, tapi banyak hal yang lebih luas daripada itu. Seperti kritik sosial, di lagu Ronnie, di mana Metallica membahas fenomena anak nerd yang ujung-ujungnya nggak tahan dengan lingkungan sosialnya dan bawa senjata ke sekolah, nembak-nembakin temen-temennya. Ada juga King Nothing, soal karakter politikus yang ngerasa dirinya paling berkuasa. Master of Puppets juga kental dengan nada politik. Banyak lagi!

Dengan James sebagai frontman dan penulis lirik, Metallica nggak cuma jadi band Heavy Metal, tapi juga sebagai inspirasi bagi banyak band dan banyak orang. Band Metal yang menurutku dewasa dalam pembawaan. Yang paling aku suka, James jarang banget lho, memasukkan kata-kata kasar yang nggak ada tujuannya di lagu-lagunya. Love him so much…

Jadi, Metallica sendiri, sebagai seniman musik yang punya tingkat kedewasaan emosional itu, nggak pernah jadi haters. Ya, tentu saja, mereka mengkritik, mereka menyindir, mereka komen, tapi nggak pernah mengajarkan pengagumnya untuk membenci orang yang menyukai genre musik lain. Aku jarang ya, lihat James menyela atau mencaci musisi lain. Beda banget sama Noel Gallagher dari Oasis, yang seneng banget menghina rekan sesama musisi dengan kata-kata tajam dan bener-bener langsung nyebut nama langsung! Ckckck, emang sih, aku suka juga lagu-lagu Oasis, but shame on you, Noel! Nggak dewasa banget jadi manusia!

Dan ngomong-ngomong soal hina-menghina…

Balik lagi ke soal fans Metallica yang sebel banget sama Bieber itu. Bisa dilihat dari lagu-lagunya, biar pemuja-pemuja Metallica bisa berkata-kata kasar, sebenernya Metallica sendiri nggak pernah mengajarkan hal itu. Kata-kata kasar umumnya dipakai Metallica sebagai cara untuk menunjukkan seberapa seriusnya kondisi yang sedang dilantunkan di lagu. Aku sendiri banyak denger F-word itu setelah masuk album St. Anger. Di lagu itu, F-word juga dipakai buat menggambarkan kemarahan-kemarahan yang nggak terkendali dalam diri Hetfield sendiri. Atau yang terbaru, Hardwired… To Self Destruct, juga banyak kata-kata “F”-nya, tapi hanya untuk menggambarkan seberapa kacau situasi sosial sekarang ini. Pastinya di sono ya, di Amrik, tempat lahirnya band Metallica.

Memang, jadi pemuja band, bukan berarti kita bisa jadi punya tingkat kematangan emosional sebaik dia. Apalagi, kalau band tua, pasti mereka dimatangkan oleh pengalaman, bukan lagi ‘cuma’ sekedar ‘panas-panasnya’ bermusik. Tapi, kecintaan pada musik yang lebih mendalam dan lebih menghayati lagi.

Musik metal sendiri juga bukan musik asal jadi yang mudah dimengerti. Aku kurang tahu metal yang lain, tapi yang pasti Metallica menurutku termasuk sulit untuk dimengerti. Lirik-lirik yang kuat dan dalam ala James Hetfield itu nggak bisa diinterpretasi sembarang, apalagi secara harfiah. Misal di lagu Attitude, ada kata-kata ‘just let me kill you for a smile’ di songinterpretation.com dijelasin kalau itu ditujukan pada industri musik yang nge-push Metallica mengubah lagunya jadi pop-rock-ish. Jadi, nggak harfiah dia pengen bunuh orang, melainkan membunuh industri musik yang begitu.

Walau begitu, emang lagu-lagu Metallica punya nada-nada yang kesannya provokatif, kalau kita terjemahin secara harfiah. Makanya, lagu Metallica itu butuh pemahaman lebih dalam, dan orang-orang yang mau berpikir. Biasanya, orang-orang yang mendalami lagu-lagu Metal lebih terdidik untuk kritis, karena emang kebanyakan lagu Metal, yang aku tahu, itu emang liriknya kritis banget. Kayak, Helloween dengan Number One-nya yang membakar semangat dan optimisme banget. Lirik Chop Suey!-nya System of A Down juga membahas soal kritik sosial, dan juga bernada spiritual, mengkritisi agama, jadi bukan religius. ^^;

Sayang, soal teknis musiknya, aku nggak bisa bicara banyak. Cuma bisa bilang, butuh skill tinggi banget buat bisa itu!

Ayolah generasi yang cepet panas tapi malas (ngomong sama kaca, nih), mari kita belajar dari James Hetfield dan musisi metal lainnya. Mereka mendalami dan menghayati, bukan hanya musik, tapi semua yang terjadi di lingkungan mereka. Nggak cuma asal jadi, apalagi cuma ‘cetakan’ dari pihak-pihak yang punya kepentingan.

Keep ‘headbanging,’ guys!

Demo 4 November Fungsinya Apa?

147788436487977766
Gambar diambil dari : aribicara.blogdetik.com

 

Hari ini (4/11), ada demo FPI (lagi!) Sebelumnya, demo terjadi tanggal 14 Oktober 2016. Intinya satu, ngejatuhin Ahok! Sumpah, Ahok tenar banget, sih. Berasa punya nabi baru kita, dibenci sebegitunya… Pan yang dulu dibenci dan pengen banget dijatuhin itu Rasulullaah SAW. Ups! Nanti dibilang penistaan terhadap Rasulullaah lagi…

Ngebuka medsos, alias FB dkk, FB terutama (All Hail Mark Zuckerberg!), pas tanggal 3 November malemnya, bikin pusing banget. Karena banyak banget beredar soal orang yang udah siap demo, orang yang, sebaliknya, mencerca demo, dan yang siap banget ngebela FPI. Emang akhir-akhir ini banyak banget yang jadi cinta banget sama FPI. Aku rasa mungkin melebihi kecintaan mereka sama Allaah SWT sendiri. Maklumlah ya, banyak emang orang itu lebih cinta sama wujud nyata. Lupa daratan dengan konsep di balik semua realita.

Ribut-ribut FPI soal Ahok ini sebenernya udah lama banget, lho. Bahkan, jauh sebelum ada ayat Al-Maidah:51 yang beredar luas (Omongan nggak difilter gitu, padahal jelas-jelas dia lagi dibidik, haduuh… Biar nggak ngedukung dan nggak peduli (karena bukan orang Jakarte), tetep aja rasanya sewot). Sebelum ayat Al-Maidah, FPI udah menggerakkan demo-demo #tolakAhok nggak jelas gitu. Kenapa nggak jelas? Karena kebanyakan dateng dari luar Jakarta, KTP-nya aja bukan Jakarta. Dan pemimpin di Indonesia ada juga padahal yang bukan non-Muslim, tapi ini inceran banget. Namanya juga Jakarta ya, pusat segala-galanya. Pusat kepentingan juga pastinya.

Yang lucu, beberapa saat lalu, orang-orang yang sekarang gila-gilaan ngebela demonstrasi ini adalah orang-orang yang sama dengan orang yang mengejek demokrasi dengan democrazy. Mereka menganggap demokrasi itu meruntuhkan agama, dan segala macemnya. Nah, sekarang? Mereka mendukung demonstrasi. Demonstrasi itu produk demokrasi, kali! Nggak konsisten amat, sih! Persis omongan para politikus yang duduk di tatanan pemerintahan. Mulutnya bergerak atas nama kepentingan aja. Nggak ada lagi kejujuran…

Yaaang paling menyebalkan, bawa-bawa agama!

Setahuku, FPI itu menganut ajaran ahlussunah wal jama’ah, ya. Kebetulan banget, salah satu anggota keluargaku juga salah satu yang selalu ikut pengajian ahlussunah ini. Beberapa bulan lalu, baru aja anggota keluargaku ini cerita sendiri, kalau menurut ustadz di pengajian ahlussunah, rakyat harus taat kepada pemimpin. Dan, untuk mendukung pernyataan itu, ada juga temen FB yang memposting meme tentang ahlussunah yang tidak menganjurkan demonstrasi karena harus taat sama pemimpin (sayang, aku nggak lagi nemu meme itu L ). Trus, kenapa ada demo ini?

Yah, dalam agama Islam itu selalu ada dispensasi atau keringanan. Misal aja nih, tentang shalat yang bisa dilakukan sambil duduk atau berbaring kala sakit. Mungkin mereka melihat pencalonan Ahok itu darurat luar biasa, sehingga mereka mematahkan aturan mereka sendiri. Ini tafsir dariku sendiri, sih. Satu kata waliy aja bisa beberapa tafsir, apalagi satu kalimat utuh, ya.

Ada yang bilang di FB, “demo 4 November itu untuk menuntut pengusutan kasus Ahok, bukan karena Ahok dicalonkan jadi gubernur.”

Okelah, tapi ternyata aku lihat lagi berita di kompas.com di sini yang menyatakan tentang Habib Rizieq sendiri yang minta penundaan pengusutan kasus Ahok. Nah, lho? Ditambah lagi, kasus Ahok itu udah diproses ke area hukum, bareskrim udah meriksa 8 saksi lagi, dari pelapor dan saksi ahli, semua ada di berita ini. Jadi, fungsi demo 4 November ini apa? Emang kalau udah beredarnya di medsos, miskomunikasi ini banyak banget terjadi. Provokasi orang-orang yang punya kepentingan, ketemu sama orang-orang yang menelan mentah-mentah apa yang dia denger. Nggak mau mencari tahu atau sekadar takut menerima kenyataan, aku juga kurang paham soal golongan ini. Kebanyakan sih, emang menurutku, susah mengendalikan emosi aja.

Yang aku sayangkan banget, biasanya orang-orang golongan ini udah nggak mau lagi denger-denger pendapat yang lain selain pendapat yang mereka percaya. Mereka nggak punya dan nggak mau tahu soal second opinion. Jadi, sampai berbusa pun orang-orang lain menjelaskan, mereka nggak akan mau denger itu. Karena, pada dasarnya, semua yang mereka mau denger adalah yang cocok dengan kehendak mereka sendiri. Mereka udah melupakan realita di luar diri mereka, lebih suka hidup dalam realita yang mereka bangun sendiri.

Makanya, akhirnya mereka ngikut aja waktu FPI ngajakin demo, padahal yang mau didemoin itu udah diurus! Ini nggak mau baca berita, atau emang nggak mau denger berita selain dari mulut Habib Rizieq, sih? Bingung aku….

Jadi, setelah kasus Ahok diurus, aku mau beralih pembahasan ke tempat lain. Terlepas dari apakah Ahok iya atau tidak menghina Al-Qur’an, ayat-ayat tentang ini sebenernya sudah ada di Al-Qur’an sendiri. Ini anjuran langsung dari Allaah malah. Tuhan kita itu Allaah kan, ya? Minimal, kita (maksudku sesama Umat Muslim) sepakat soal ini, kan?

Jadi……………

Ini dua dalil yang aku ambil dari situs quran.com (aku pake yang ada sahih internasionalnya, jadi gak mencakup ulama Indonesia aja yang ngebahas)

 

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَجَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

 

SAHIH INTERNATIONAL

And it has already come down to you in the Book that when you hear the verses of Allah [recited], they are denied [by them] and ridiculed; so do not sit with them until they enter into another conversation. Indeed, you would then be like them. Indeed Allah will gather the hypocrites and disbelievers in Hell all together

 (QS. An-Nisaa’ [4]: 140)

 

(terjemahan bebas dari aku sendiri : “Dan telah datang kepadamu Kitab dimana engkau mendengar ayat-ayat Allaah (dibacakan), ayat-ayat tersebut disangkal [oleh mereka] dan diperolok-olokkan; maka janganlah (kau) duduk dengan mereka hingga mereka mengubah pembicaraan mereka. Sesungguhnya, kau kemudian akan menjadi seperti mereka. Sesungguhnya Allaah akan mengumpulkan kaum munafik dan kaum kafir di neraka bersama-sama)

 

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِالظَّالِمِينَ

SAHIH INTERNATIONAL

And when you see those who engage in [offensive] discourse concerning Our verses, then turn away from them until they enter into another conversion. And if Satan should cause you to forget, then do not remain after the reminder with the wrongdoing people.

 (QS. Al-An’aam [6]: 68)

(terjemahan bebas dari aku sendiri : “Dan apabila engkau melihat mereka yang terlibat dalam pembicaraan (yang menyudutkan/menghina) tentang ayat-ayat Kami, maka berpalinglah dari mereka hingga mereka mengubah pembicaraan mereka. Dan apabila Setan membuatmu terlupa, maka janganlah kau teruskan bersama dengan orang-orang yang berlaku salah itu, sesudah datangnya peringatan)

Nah, kedua ayat di Al-Qur’an ini jelas-jelas memberikan petunjuk kepada Umat Muslim tentang gimana caranya kita menyikapi orang-orang yang mengolok-olok Al-Qur’an. Dan yang dianjurkan, dalam Al-Qur’an sendiri, adalah kita meninggalkan mereka. Itupun kita bisa kembali saat pembicaraan itu telah berubah. Artinya, kita nggak disuruh memutus tali silaturrahmi sama mereka, apalagi membenci mereka. Membalas apalagi dipenjarain berarti juga nggak.

Artinya, kalaulah benar Ahok itu menghina Al-Qur’an, setahuku kita seharusnya cukup tinggalkan mereka sampai pembicaraan itu selesai. Dan ini kata-kata Allaah langsung, yang seharusnya Tuhannya Umat Islam satu-satunya.

Jadi, demo 4 November ini buat apa? Bingung lagi…

 

Wallaahu alam

(Tiba-tiba kok jadi solehah begini, ya? Wkk…)

Bagaimana Cara Penerapan Homeschooling?

anatomy-homeschool-mom-new-branding
Gambar diambil dari : http://www.aop.com

 

Homeschooling lagi.

Bahas ini lagi. Soalnya, aku sudah tekad sepanjang usia SD ini, anakku mau di-homeschooling-in aja. Kenapa? Karena aku melihat iklim pendidikan yang lagi bener-bener nggak sehat. Contohnya aja, dengan kurikulum yang ganti tiap kali ganti menteri. Masing-masing menteri memanfaatkan sekolahan untuk eksistensinya, apa-apaan?! Apalagi, begitu menteri pendidikan yang baru tiba-tiba mengatakan sesuatu yang menyeramkan, sanksi fisik itu boleh ditoleransi!

Mau lihat beritanya? Lihat di sini

Bagiku, ini sama aja balik ke zaman batu, ya. Soalnya, udah sejak lama, penelitian soal reward dan punishment ini dipublish dan, ternyata, dua-duanya nggak efektif membangun perilaku. Dalam jangka pendek mungkin bisa, tapi membangun prinsip dan pola pikir yang menetap bahkan hingga dewasa? Tipis. Jadi, kenapa pernyataan begini masih suka muncul? Well, bukan itu sih, yang mau aku bahas.

Intinya, dengan situasi begini -ditambah dengan UU yang ‘seolah merasionalisasi’ sanksi dalam sekolah dalam bentuk apapun itu- aku merasa sekolah bukan lagi tempat yang ‘aman.’ Apalagi, seleksi terhadap guru juga nggak ketat-ketat amat. Dengan sendirinya, aku agak khawatir sama kualitas guru, dimana anakku dititipkan setengah hari. Mungkin lebih.

Pertimbangan lain, tentu aja karakter anakku. Anakku bukan tipe yang bisa disuruh duduk diam lama dalam satu tempat, kecuali kalau dia asyik melakukan apa yang dia suka. Kalau di sekolah kan, aturannya ikut aturan guru. Inget banget deh, gimana kalau anak-anak yang gambar waktu jam pelajaran dianggap nakal dan sebagainya. Labeling dalam sekolah itu rasanya parah banget, mudah-mudahan sekarang udah berkurang, sih. Jadilah aku putuskan homeschooling yang terbaik buatku dan anakku (kebetulan juga aku IRT). Untuk sementara, karena perkembangan selalu nggak bisa segampang itu diduga.

Nah, hal yang paling membingungkan soal homeschooling ini adalah penerapannya. Ada yang menerapkan jadwal-jadwal seperti di sekolah. Ada yang memanggil guru les ke rumah. Dan banyak lagi. Sampai saat ini, aku kurang setuju dengan penjadwalan pasif. Artinya, aku bikin jadwal, anak ngikutin. Itu mah, sama aja mindahin ke sekolah ke rumah. Jadi, aku pikir, sama nggak efektifnya buat anakku.

Hari ini, aku memutuskan bagaimanapun harus ada skema, aku bikin hanya secara garis besar, tentang pedoman aktivitas atau pembahasan apa yang harus dilakukan sama anakku, supaya nggak melebar kemana-mana. Dasar orang generalis ya, hobinya lompat sana, lompat sini, nggak terarah, jadi harus ada sedikit ‘jalur’ yang memastikan aku berjalan agak lurus.

Skemanya sederhana. Sama aja kayak pembentukan kamus kompetensi di kantor-kantor sebenernya.

screenshot-17Skemanya sederhana banget, kan? Emang aku bukan anak desain, harap maklum, ya ^^; Intinya, emang aku cuma mau ngingetin diri sendiri, anakku masih perlunya skill ini, lho. Belum harus kemana-mana, ngikutin anak lain yang udah jadi expert dalam bidang-bidang tertentu itu.  (Gambar di samping baru contoh aja, sih)

Seperti di gambar, aku membagi dua skill umum, yaitu soft skills dan hard skills. Dari kedua itu aku breakdown skill-skill apa yang sebaiknya dikembangkan sesuai dengan usia anakku. Tentunya, aku fokus sama soft skills dulu, kayak sosialisasi, tanggung jawab, adab kesopanan, nilai-nilai kesusilaan, dkk. Soft skills sulit dikembangkan karena nggak ada medianya. Kita nggak bisa pake peralatan prakarya di sini. Mungkin bisa, tapi ujung-ujungnya peralatan itu ya, lebih cuma ke alat bantu. Bukan jadi alat utama yang menentukan perilaku anak.

Misal, ada buku yang ngajarin soal adab kesopanan. Tapi, kalau ortu sendiri nggak bisa nunjukin ke anak gimana caranya sopan, isi buku tinggal kenangan, deh. Jadi, soal ini, aku lebih banyak menerapkan pembahasan studi kasus. Jangan langsung tutup kuping gara-gara inget skripsi, ya! Maksudnya ya, ngobrol-ngobrol ringan aja. Kalau ada kasus apa aja, bisa dibahas dengan anak dan diberi kesimpulan. Bicaranya sih, gampang. Nah, yang terpenting dan justru yang paling sulit, kita sebagai orang tua juga harus praktek langsung di depan anak. Biar anak paham kalau itu nilai yang kita junjung tinggi, jadi anak akan mengimitasi perilaku kita. Ini namanya belajar sosial.

Berbeda dengan hard skills. Lebih gampang karena ada peralatan buat mengasahnya. Dan peralatan itu, ya emang bisa ditujukan secara langsung untuk mengasah skill anak. Kalau mau belajar musik, tinggal pake alat-alatnya. Kalau menulis atau menggambar, tinggal kasih pulpen dan kertas. Yang sulit, kalau anak nggak minat. Ada yang minat nulis, nggak minat itung-itungan. Kayak anakku. Ada yang minat sport, tapi nggak minat baca. Di sini orang tua harus ikhlas kalau anaknya susah diajakin ngelakuin sesuatu yang nggak sesuai dengan minat mereka.

Tapi, bukan berarti nggak ada caranya.

Caranya sederhana, tapi kompleks. Bingung, kan? Ya, sederhana karena tinggal kasih aja pembelajaran yang terhubung dengan minat anak. Kalau anakku, suka kereta, jadi sepanjang perjalanan di kereta, ajakin aja dia baca-baca apa yang tertulis di kereta. Tinggal ajak ngobrol tentang apa yang dia liat di kereta. Kompleksnya, orang tua harus fleksibel dengan minat anak ini, kali-kali aja orang tuanya malah nggak minat. Misal, anak minat kereta api, tapi orang tuanya malah nggak suka jalan-jalan pake kereta api. Dilema, kan? 😀

Yang pasti, soal homeschooling ini susah-susah-gampang. Jangan pernah mikir orang tua harus paham semua subjek yang diajarkan ke anak. Dari IPA sampe Matematika. Dari ilmu sosbud sampe sejarah. Aku juga mana inget pelajaran-pelajaran waktu kecil. Apalagi, diajak ngomong fisika, rasanya pengen pura-pura tidur langsung.

Intinya, kalau orang tua nggak paham, ya cukup ajarkan anak untuk berjuang untuk mencari tahu kalau dia mau tahu atau butuh untuk tahu sesuatu. Dan kalau anak butuh bimbingan teknis, ada banyak guru les berkeliaran, kok (kesannyaa….). Dan lagi, google kan udah menyediakan semuanya. Apa lagi yang harus dikhawatirkan?

Aku sih, nggak bakalan tiba-tiba propaganda : homeschooling, yuk! Karena kondisi di setiap rumah tangga kan, beda-beda, ya. Misal, kalau ibunya bekerja, gimana caranya homeschooling? Kalau yang ngelakuin orang lain, aku nggak saranin, karena pola pikir orang beda-beda, yang ada tiba-tiba anak berperilaku nggak sesuai dengan mau orang tua dan malah makin ribet ke depannya. Jadi, berikan yang terbaik buat anak! Itu propaganda hari ini!

Salam Pendidikan!