Tag Archives: Personifikasi

A Tale of Two Cities (Gaya Bahasa Narasi dan Dialog)

photo (3)

 

Pengarang : Charles Dickens

Tebal : 352 halaman

Penerbit : Wordsworth Classics

Tahun terbit : 1997

Bahasa : Inggris

 

 

Akhirnya!

Setelah beberapa bulan, lupa juga ya, berapa bulan tepatnya, akhirnya aku selesai baca “A Tale of Two Cities”! Waktu pertama kali baca, seperti yang sudah kutulis dalam review sebelumnya, aku jatuh cinta pada paragraf pembukanya. (Lihat review part 1 : A Tale of Two Cities (part 1)) Tapi, selanjutnya, setiap kali aku buka buku itu lagi, kepalaku puyeng dan aku langsung ngantuk. Gara-gara bahasanya susah, dan mungkin juga konsentrasiku jelek 😀

Karena Dickens juga sastrawan klasik abad pertengahan (iseng pakai istilah ini, karena suka aja) seperti Shakespeare (mana yang lebih tua ya, aku nggak tahu) kadang-kadang dia pakai istilah kuno, seperti “thee,” “thy,” untungnya cuma di dialog dan nggak banyak banget. Dan karena Shakespeare terkenal banget, jadi aku udah belajar dikit-dikit soal bahasa kuno itu. Bahasa kuno ini sih, masih dipakai dalam pemujaan agama dan sebagainya setahuku, sih.

Di review kali ini aku mau fokus ke gaya bahasa Dickens, lebih mendalam. Seperti biasa, sastrawan klasik emang suka banget muter-muter dengan narasi yang panjang. Dialognya juga sama muter-muternya. Akibatnya, aku suka bosen dan ngantuk. Yang parah, nggak ngerti haha. Positifnya, narasi dari Dickens ini menarik, jadi kita tetap bisa menikmati narasi panjang-berbelit itu kalau kita mau meresapi cara penulisannya itu. Negatifnya, siap-siap capek (kalau nggak biasa sama gaya bahasanya).

Ada dua scene, yang aku mesti balik-balik halamannya, karena aku susah ngerti maksudnya. Kedua scene itu sama, dialog antara dua tokoh. Pertama, dialog antara Mr. Stryver dan Mr. Lorry. Ceritanya, Mr. Stryver mau melakukan sesuatu (apakah ituuu??? Haha), dan meminta restu dari Mr. Lorry, yang ternyata nggak setuju. Masalahnya, di tengah-tengah dialog, tiba-tiba Mr. Stryver ini marah, dan aku nggak tahu kenapa.

 

Mr. Lorry paused, and shook his head at him in the oddest manner, as if he were compelled against his will to add, internally, “you know there really is so much too much of you!”

“Well!” said Stryver, slapping the desk with his contentious hand, opening his eyes wider, and taking a long breath, “If I understand you, Mr. Lorry, I’ll be hanged!”

 

Di atas jelas dari gesturenya, Mr. Lorry terlihat nggak setuju, tapi dari satu kalimat itu aja, dan dialog mereka mengalir ke arah perseteruan. Nah, pas pertama-tama, aku bingung banget, dari mananya sih, kalimat ini tiba-tiba membuat Mr. Stryver marah? Pelan-pelan, aku baru ngerti makna dari “so much too much of you.” Sindirannya ngena banget deh, Mr. Lorry… 😀

Kedua, dialog antara Lucie dan Mr. Carton. Di sini, Mr. Carlton menceritakan kegelisahannya pada Lucie, yang tentu saja didahului oleh basa-basi dan permintaan maaf.

 

“Don’t be afraid to hear me. Don’t shrink from anything I say. I am like one who died young. All my life might have been.”

“No, Mr. Carton. I am sure that the best part of it might still be; I am sure that you might be much, much worthier of yourself.”

“Say of you, Miss Manette, and although I know better – although in the mistery of my own wretched heart I know better – I shall never forget it!”

She was pale and trembling. He came to her relief with a fixed despair of himself which made the interview unlike any other that could have been holden.

 

Hmm… Jujur, aku nggak tahu apa yang ngebuat Lucie pucat dan gemetar. Ya, emang ada kata kunci di dialognya, kalau Mr. Carton bilang “wretched heart” dan “died young” yang pasti menyatakan penderitaan dia di masa lalu. Tapi, belum jelas banget gitu lho, apaan. Bahkan, sampai detik-detik terakhir pembicaraan mereka, Mr. Carton sama sekali nggak cerita masa lalunya (nggak usah dikutip, makan space 2 halaman sendiri -_- ). Beda ya, sama kita-kita sekarang, maunya curhat aja, sedetil-detilnya.

Waktu baca novel versi Inggrisnya, kita juga harus hati-hati menelaah penggunaan bahasanya Dickens. A Tale of Two Cities ini kan mengisahkan tentang Inggris dan Perancis di detik-detik ketika Bastille jatuh oleh people power-nya. Sewaktu rakyat Perancis unjuk rasa dengan mengerahkan massa ke arah Bastille, Dickens menggunakan istilah The sea rises. Karena aku rada lemot, kupikir beneran air laut yang menerjang (sampai-sampai aku bingung, emang di tengah-tengah kota Paris ada lautnya, ya?), tahunya laut manusia. Bisa jadi juga aku yang lemot, sih. Hmm…

photo (4)
Ilustrasi scene “The Sea Rises” dari Wordsworth Classics

Satu lagi, ada satu tokoh wanita, namanya sampai akhir pun nggak ketahuan. Tadinya aku pikir dia hanya semacam simbolisme dari kemarahan dan dendam yang ada di tengah-tengah rakyat Perancis, namanya aja The Vengeance. Lah, tapi ternyata dia manusia asli, yang punya panggilan begitu, tapi aku nggak paham kenapa namanya bahkan nggak disebut sampai akhir. Dan kenapa dia yang dijuluki The Vengeance, sementara ada tokoh lain yang mendendam sebenar-benarnya, yang bakalan lebih tepat dapat julukan itu?

Karena sifatku gampang curiga, jangan-jangan dia tokoh asli yang terlibat gerakan rakyat Perancis waktu Bastille jatuh dulu? Well, who knows. Bisa jadi juga dia tokoh yang digunakan Dickens untuk memperkuat kesan dendam dari si tokoh yang punya dendam itu. Bisa jadi juga, memang simbolisasi dendam proletar Perancis ke kaum aristokratnya, tapi disuguhkan sebagai karakter yang sebenar-benar hidup.

Sampai sini aja review yang ketiga. Kalau kulanjutin, pasti jadinya panjang banget. Sampai ketemu di review selanjutnya, kalau pada belum bosen haha…

See ya!

Advertisements