Tag Archives: Propaganda

Persekusi Lama yang Diperbarui

 

Sejak kericuhan politik dan demokrasi bablas 2014, beberapa kata tiba-tiba jadi terkenal. Pertama, blusukan ala Jokowi. Itu kata yang bagus dan berkat itu, kesadaran berpolitik masyarakat jadi terbuka. Kedua, masif dan sistematis. Dua kata itu tiba-tiba jadi sangat populer setelah perseteruan antara kubu Jokowi-Prabowo. Kalau nggak salah sih, yang lebih mempopulerkan itu Prabowo. Sering banget kubunya pakai dua kata itu.

Trus, baru-baru ini, tabayyun. Sejak kasus penistaan agama, kata ini jadi melekat banget, walaupun aku nggak yakin pelaksanaannya dilakukan bener-bener, sih :p (bahkan, oleh orang yang cinta banget sama kata satu ini).

Aku nggak ingat satu per satu. Yang pasti, sekarang ini, aku menemukan kata baru. Mungkin ini kata lama, mungkin aku aja yang kurang updet. Yang kuinget, soal ancam-mengancam udah jadi makanan sehari-hari kalau soal gerakan, aksi, dan lain-lain yang berhubungan dengan politik, tapi baru sekarang istilah persekusi ini mencuat.

Gara-garanya kasus seorang dokter di Sumatera Barat, yang diancam dan diteror oleh anggota FPI karena status-statusnya yang pedas di medsos soal Rizieq Shihab. Lucunya, status-statusnya yang kulihat itu sepele banget (mungkin karena aku cuma baca sebagian). Dan banyak yang suka nulis status begitu, jadi aku agak heran, dari sekian banyak status yang menyudutkan, kenapa si dokter ini yang dipilih.

Semakin lama, aku semakin merasa kalau soal persekusi ini memang sengaja dibesar-besarkan. Disebarkan ke khalayak ramai, untuk membuat teror tersendiri. Mungkin juga taktik beberapa orang untuk menekan kebebasan berpendapat yang sudah tidak lagi konstruktif. Kebanyakan hanya serangan-serangan yang akhirnya lebih ditujukan kepada pribadi daripada kritik terhadap satu situasi atau fenomena. Lebih-lebih lagi, dilakukan tanpa ada proses pikir, seakan manusia hanya  monyet yang suka mengetik. Siapa peduli apa yang diketik, dan apa akibatnya, dan siapa yang disinggung, yang penting berpendapat.

Well, kalau itu kebebasan, sekalian aja manusia disuruh buka baju, apa bedanya? Karena kalau melihat cara orang-orang sekarang berpendapat, aku jadi berpikir kalau kaum nudis itu jauh lebih masuk akal dibandingkan mereka-mereka, mulut tanpa filter ini.

Balik ke masalah persekusi. Persekusi ini bukan hal yang baru. Ingat, Soeharto sering menculik lawan-lawan politiknya atau menangkap (tanpa pengadilan) aktivis-aktivis yang terlalu vokal? Setelah reformasi, aksi ancam-mengancam masih terus berlangsung. Jadi, kenapa sekarang baru di-blow up?

Kalau kita mau melihat dari sisi terangnya, seperti kata Simon & Garfunkel, mungkin hal ini bisa mengerem mulut-mulut tanpa filter yang berkeliaran di medsos. Aku yakin memang itu tujuannya. Yang aku tidak tahu, apakah tujuan ini dilakukan atas kepentingan tertentu atau sekadar meredakan ledakan opini di medsos.

Sama saja seperti kasus penculikan dan opresi di rezim Soeharto, persekusi dilakukan dengan cara menakut-nakuti, meneror, mengopresi. Tidak peduli siapa yang memulai atau siapa targetnya, yang diciptakan adalah ketakutan. Gabungkan dengan teror bom, situasi sempurna untuk menciptakan satu histeria massal.

Di saat-saat begini, tagar #KamiTidakTakut menciptakan efek yang sama besar. Apalagi dengan sistem informasi medsos yang masif, tagar-tagar semacam itu seperti sugesti yang ditanamkan secara massal. Menyebarkan pengaruhnya untuk memberikan rasa aman secara berkelompok. Ya, mungkin benar medsos tidak memberikanmu teman sejati, tetapi mereka mewadahi satu kelompok, dimana kau bisa merasa mendapat tempat di dalamnya, lalu mengikatmu dalam kelompok itu. Wadah bereksistensi, wadah untuk merasa terikat.

 

Ditambah dengan perang urat syaraf, penuh dengan propaganda politik yang saling serang, saling menjatuhkan, kondisi ini pas banget untuk menjatuhkan mental-psikologis massa. Ketidakpercayaan, saling curiga, provokasi, hal-hal ini selalu menjatuhkan kelompok macam apapun.

Propaganda yang dilancarkan secara kasar mungkin lebih gampang untuk ditolak, bagaimana dengan provokasi halus? Yang dilangsungkan dengan cara yang baik-baik, mengendurkan kewaspadaan, dengan begitu lebih mudah untuk ditanamkan?

Well, teror bisa datang dalam berbagai bentuk. Kurasa, teror tidak harus selalu menakutkan. Sesuatu yang meragukan saja sudah cukup menanamkan teror.

 

Advertisements

Single and Very Happy (!)(?)

c8b36b9a166c25aa71ac37e26929e507
Gambar diambil dari : pinterest images about Single Anyone?

 

Malam ini aku browsing, seperti biasa, favoritku masih FB. Makin tua emang makin susah menjelajah tempat-tempat baru hehe. Nah, pas lagi liat-liat wall, ada dua portal berita yang kebetulan dua-duanya aku suka, Psychology Today dan Upworthy. Sebut merek deh, biar promo sekalian. Psychology Today, karena banyak penelitian psikologi, dan background pendidikanku emang dari Psikologi, jadi cocok aja bahasannya. Kalau Upworthy, aku suka artikel-artikelnya yang banyak berbasis ke hal-hal kemanusiaan, dan kisah inspiratif (yang nggak perlu mengharu-biru, tapi tetep ngena).

Yang spesial di malam ini, dua-duanya pas banget dalam waktu berdekatan, sharing artikel tentang wanita single (heran deh, kenapa nggak pernah bahas pria single, sih?). Keduanya memposting hal-hal yang positif seputar dunia per-single-an.

It makes me think…

Selama ini, aku ngeliat di sekitarku, orang-orang kebanyakan bilang, “menikah itu enak.” Alasannya entah apa, tapi mereka cuma ngomong gitu. Orang Indonesia paling males ngasih alasan. Atau mereka emang nggak tahu apa alasan dari opini mereka sendiri? Wah, aku nggak tahulah. Ujung-ujungnya, mereka yang udah nikah mendorong-dorong orang yang single buat menikah juga. Lama-lama, itu jadi budaya, keluarlah meme-meme jones alias jomblo ngenes. Lucunya sih, jomblo-jomblo juga yang mempopulerkan (jomblo asik nih, kalau udah nyaman sama pilihan, biasanya emang kita nggak perlu ngerasa nggak nyaman sama opini orang lain).

Nggak cuma karena itu sih, mungkin yang tinggal di Indonesia sering denger pepatah lama; “menikah itu ibadah.” Bagi umat muslim emang menikah karena Allaah itu ibadah, karena di Indonesia mayoritas muslim, makanya slogan itu juga jadi populer. Akhirnya, menikah jadi semacam kewajiban yang nggak bisa ditawar. Pertanyaan “kapan nikah” juga akhirnya jadi momok bagi sebagian orang. Males banget, pengen ngumpul seneng-seneng, malah ditodong sama pertanyaan “kapan nikah?” seakan-akan semua orang merasa punya kewajiban moral atas orang-orang yang belum nikah.

Seperti halnya, hukum aksi-reaksi dalam fisika… Atau hukum kausalitas alias sebab-akibat yang berlaku…

Akhirnya, timbul kekesalan pada orang-orang single ini. Apakah mereka yang single ini emang suka jadi single atau kebetulan aja belum dapet calon yang cocok, mereka meng-counter attack perilaku orang-orang yang hobi nikah ini (lah, poligami/poliandri, dong?) Yah, pokoknya yang berideologi “menikah itu satu-satunya ibadah,” deh. Timbullah banyak artikel-artikel yang menunjukkan bahwa single itu enak, lho. Single itu nggak sepi, kok, malah banyak temen. Malah, katanya single itu lebih intelek karena mereka lebih selektif (kalo yang ini keliatan banget counter attack-nya). Dan lain sebagainya. Akhirnya, timbul gerakan ayo single!

Dan mulailah perang meme antara yang pro-single dan kontra-single. Ada apa sih, Indonesia ini? Semuanya mesti perang, entah Jokowi vs Prabowo, entah NU vs Muhammadiyah, entah Ahok vs Risma, entah apalagi, tuh. Duuuh, udah ada wefie para cagub dan cawagub gitu, lho. Kita-kita yang di bawah ini harap rukun, kek. Biar aman-tentram hidup kita. Oke, melenceng.

Emang manusia-manusia yang hidup dalam propaganda, yang kadang-kadang kelewat radikal, lupa kalau hidup ini dipenuhi dengan dualisme, yang sebenarnya justru menyeimbangkan dunia (baik sadar atau nggak sadar). Kenapa sih, ada bayangan yang gelap? Kan, karena ada cahaya. Kenapa sih, bintang bisa keliatan biar jauh banget begitu? Kan, karena langit malam sangat gelap, makanya cahaya bintang itu nggak ketutupan sama terangnya langit siang.

Sama aja dengan sikap radikal mereka, yang pastinya akan menimbulkan reaksi kontra yang nggak kalah dahsyat. Coba, kalau mereka santai aja, yang single juga bakalan santai aja dan jujur-jujur aja tanpa pretensi. Mungkin mereka emang sebenernya pengen nikah, tapi belum dapet calonnya aja. Atau, mereka emang nikmat aja jadi single, tapi nggak perlu dengan menolak bahwa menikah punya keindahannya tersendiri?

Dengan begitu, nggak perlu ada rasionalisasi bertebaran hanya untuk mendukung yang single tetap single. Dan, berujung pada clash antara dua kubu lagi. Capek, euy!

Single itu bahagia! Bener kok, ada hal-hal yang bisa kita dapet cuma waktu kita single, kayak waktu me-time yang jauh lebih banyak, keuangan yang lebih stabil (biar nggak ada pemasukan banyak dan tetap, lebih stabil kalau sendirian daripada banyak mulut, kan), nginep berhari-hari di tempat temen yang juga single atau dimanapun kita suka. Nah, curhat, haha… Jadi, kalau para single itu memilih single karena mereka suka, hidupnya ya, pasti akan nikmat. Sama nikmatnya dengan orang yang menikah karena emang pengen nikah. Bayangin aja kalau dipaksa nikah kayak Siti Nurbaya, pasti menikah itu jadi mimpi buruk.

Aku sendiri memandang, single yang sengaja meng-counter attack orang-orang yang usil sama kehidupan pribadi orang lain ini, lumayan bahaya juga. Mereka lupa akan satu pertanyaan yang paling penting : “apa sih, yang gue mau buat rencana masa depan gue?”

Daripada menjawab itu, mereka sibuk merasionalisasi diri, biar anti-mainstream, atau sekedar bikin kesel orang-orang yang usil. Belakangan, aku merasa rasionalisasi itu merambah ke media-media. Makin banyak artikel yang mengulas tentang kehidupan single dan segala daftar panjang yang bisa kita lakuin kalau kita single. Aku ngeliatnya malah jadi propaganda baru (sebenernya udah lama, sih) untuk jadi single, daripada sekedar membesarkan hati orang-orang yang mencoba bertahan di tengah-tengah propaganda ayo nikah ini.

Sisi positif dari rasionalisasi adalah emang membantu kita untuk menyesuaikan diri dengan stres. Sisi negatifnya, dia membuat kita kabur dari kenyataan. Rasionalisasi dan kebenaran itu beda, lho. Rasionalisasi itu pembenaran, fakta-fakta yang kita pakai untuk diri kita, padahal belum tentu itu sesuai dengan kenyataan yang ada pada diri kita. Bener sih, tapi emang itu alasan yang sebenernya di hati kita?

Dengan begitu, kita jadi mencoba membohongi diri dengan bilang kita baik-baik aja. Padahal, kalau nggak sesuai dengan yang kita mau dalam hati, ya bisa jadi rasanya malah jadi nggak enak. Mungkin suka ketemu sama wanita single yang berumur, kerjaannya marah-marah mulu. Kayak nggak punya kesenangan hidup. Sebaliknya, kalau cocok, jadinya enak banget. Aku juga sering ketemu wanita single yang baik banget, humoris, baik-baik aja tanpa pasangan.

Sama aja kayak orang nikah. Kalau emang cocok dengan target, menikah itu pasti bikin hidup jadi asyik. Karena kita nyaman di dalemnya. Tapi, kalau kita menikah cuma karena nurut kata orang tua, atau karena yakin banget dengan slogan menikah itu ibadah, tapi sebenernya nggak siap berkompromi tentang banyak hal dengan pasangan, ya menikah itu nggak bakalan enak.

Jadi, yang paling penting adalah membuat rencana terbaik dan paling tepat buat diri kita. Kita lebih cocok single, ya silakan single selamanya. Kalau kita sebenernya deep down pengen nikah, kenapa nggak nikah aja? Jadi, sebenernya kita nggak perlu ngasih alasan macem-macem cuma untuk bilang “I’m single and very happy!

Kalau kita bisa menimbang-nimbang dengan cermat, tanpa prasangka atau tanpa ego yang kelewat tinggi, tentang apa yang terbaik buat kita, hasilnya akan baik, apapun yang kita pilih. Sehingga, propaganda ayo nikah atau propaganda ayo single nggak ada pengaruh buat kita, terutama para cewek, selain buat rekreasi hati aja.

Jadi, tentukan waktu yang tepat untuk memilih, ya… (menghindari pertanyaan seperti orang-orang usil lainnya dan masih belajar buat nggak usil hehe…)