Tag Archives: Psikologi

Persekusi Lama yang Diperbarui

 

Sejak kericuhan politik dan demokrasi bablas 2014, beberapa kata tiba-tiba jadi terkenal. Pertama, blusukan ala Jokowi. Itu kata yang bagus dan berkat itu, kesadaran berpolitik masyarakat jadi terbuka. Kedua, masif dan sistematis. Dua kata itu tiba-tiba jadi sangat populer setelah perseteruan antara kubu Jokowi-Prabowo. Kalau nggak salah sih, yang lebih mempopulerkan itu Prabowo. Sering banget kubunya pakai dua kata itu.

Trus, baru-baru ini, tabayyun. Sejak kasus penistaan agama, kata ini jadi melekat banget, walaupun aku nggak yakin pelaksanaannya dilakukan bener-bener, sih :p (bahkan, oleh orang yang cinta banget sama kata satu ini).

Aku nggak ingat satu per satu. Yang pasti, sekarang ini, aku menemukan kata baru. Mungkin ini kata lama, mungkin aku aja yang kurang updet. Yang kuinget, soal ancam-mengancam udah jadi makanan sehari-hari kalau soal gerakan, aksi, dan lain-lain yang berhubungan dengan politik, tapi baru sekarang istilah persekusi ini mencuat.

Gara-garanya kasus seorang dokter di Sumatera Barat, yang diancam dan diteror oleh anggota FPI karena status-statusnya yang pedas di medsos soal Rizieq Shihab. Lucunya, status-statusnya yang kulihat itu sepele banget (mungkin karena aku cuma baca sebagian). Dan banyak yang suka nulis status begitu, jadi aku agak heran, dari sekian banyak status yang menyudutkan, kenapa si dokter ini yang dipilih.

Semakin lama, aku semakin merasa kalau soal persekusi ini memang sengaja dibesar-besarkan. Disebarkan ke khalayak ramai, untuk membuat teror tersendiri. Mungkin juga taktik beberapa orang untuk menekan kebebasan berpendapat yang sudah tidak lagi konstruktif. Kebanyakan hanya serangan-serangan yang akhirnya lebih ditujukan kepada pribadi daripada kritik terhadap satu situasi atau fenomena. Lebih-lebih lagi, dilakukan tanpa ada proses pikir, seakan manusia hanya  monyet yang suka mengetik. Siapa peduli apa yang diketik, dan apa akibatnya, dan siapa yang disinggung, yang penting berpendapat.

Well, kalau itu kebebasan, sekalian aja manusia disuruh buka baju, apa bedanya? Karena kalau melihat cara orang-orang sekarang berpendapat, aku jadi berpikir kalau kaum nudis itu jauh lebih masuk akal dibandingkan mereka-mereka, mulut tanpa filter ini.

Balik ke masalah persekusi. Persekusi ini bukan hal yang baru. Ingat, Soeharto sering menculik lawan-lawan politiknya atau menangkap (tanpa pengadilan) aktivis-aktivis yang terlalu vokal? Setelah reformasi, aksi ancam-mengancam masih terus berlangsung. Jadi, kenapa sekarang baru di-blow up?

Kalau kita mau melihat dari sisi terangnya, seperti kata Simon & Garfunkel, mungkin hal ini bisa mengerem mulut-mulut tanpa filter yang berkeliaran di medsos. Aku yakin memang itu tujuannya. Yang aku tidak tahu, apakah tujuan ini dilakukan atas kepentingan tertentu atau sekadar meredakan ledakan opini di medsos.

Sama saja seperti kasus penculikan dan opresi di rezim Soeharto, persekusi dilakukan dengan cara menakut-nakuti, meneror, mengopresi. Tidak peduli siapa yang memulai atau siapa targetnya, yang diciptakan adalah ketakutan. Gabungkan dengan teror bom, situasi sempurna untuk menciptakan satu histeria massal.

Di saat-saat begini, tagar #KamiTidakTakut menciptakan efek yang sama besar. Apalagi dengan sistem informasi medsos yang masif, tagar-tagar semacam itu seperti sugesti yang ditanamkan secara massal. Menyebarkan pengaruhnya untuk memberikan rasa aman secara berkelompok. Ya, mungkin benar medsos tidak memberikanmu teman sejati, tetapi mereka mewadahi satu kelompok, dimana kau bisa merasa mendapat tempat di dalamnya, lalu mengikatmu dalam kelompok itu. Wadah bereksistensi, wadah untuk merasa terikat.

 

Ditambah dengan perang urat syaraf, penuh dengan propaganda politik yang saling serang, saling menjatuhkan, kondisi ini pas banget untuk menjatuhkan mental-psikologis massa. Ketidakpercayaan, saling curiga, provokasi, hal-hal ini selalu menjatuhkan kelompok macam apapun.

Propaganda yang dilancarkan secara kasar mungkin lebih gampang untuk ditolak, bagaimana dengan provokasi halus? Yang dilangsungkan dengan cara yang baik-baik, mengendurkan kewaspadaan, dengan begitu lebih mudah untuk ditanamkan?

Well, teror bisa datang dalam berbagai bentuk. Kurasa, teror tidak harus selalu menakutkan. Sesuatu yang meragukan saja sudah cukup menanamkan teror.

 

Homeschooling Sama Sepupu : Bareng Lebih Seru!

Karena ada insiden duka sebelum ini -ayah mertua meninggal-, aku, suami, dan Tombo jadi banyak nginep di rumah mertua. Well, ini late post, sih. Kejadiannya udah beberapa minggu yang lalu. Karena waktu di rumah mertua agak susah buat updet blog. Bukan karena kerja di sana, cuma nggak enak aja megang hp terus hehe…

Akhirnya…Tombo sama dua sepupunya, Isya dan Kekek (kalau mau tahu soal mereka, ada juga blog yang ditulis Isya : klik sini, cepet!). Mereka juga homeschooling, awal insprasinya emang dua anak ini. Mereka pun berkonspirasi menghebohkan rumah eni (ibu mertua). Eh, nggak ding, cuma bikin ribut dikit doang! hehe…

Tapi, berkat mereka, ada aja kegiatan asik yang bisa dilakuin pas lagi bareng. Dan itu nggak perlu melibatkan gadget (walaupun mereka masih aja suka mohon2 buat dibolehin pake gadget -_-;). Salah satunya tebak-tebakan gambar.

IMG_0945

Isya mulai gambar dengan warna merah (kekek langsung nebak strawberry), lalu setengah lingkaran warna cream. Kita nebak-nebak, sampe akhirnya pas Isya gambar seladanya, Kekek berhasil nebak; burger! Kok bisa tahu, ya? Aku aja nggak tahu. Ini hasil gambar Isya.

 

IMG_0946

 

Habis itu, giliran Kekek. Kekek mulai dengan ngegores warna merah. Namanya juga kakaknya, yang kayaknya ngerti banget pikiran adeknya, Isya langsung nebak; strawberry! Terinspirasi dari tebakan awalnya (liat cerita di atas). Duh Kek, you need a little twist! Dan inilah hasil akhirnya, strawberry dengan warna merah yang yummy. Tentu saja, jangan lupa wajah senyum. Soalnya, kita semua adalah orang-orang yang friendly… :p

 

IMG_0947

 

 

Jangan lupa, selalu selipkan nasehat-nasehat berharga. Setelah Isya gambar laki-laki nangis karena nggak boleh ngerokok ini, Kekek dan Tombo langsung menebar slogan no-smoking di seantero rumah Eni dan ngomel-ngomelin para perokok yang ketahuan ngerokok di rumah. Smoke police! Keren!

 

IMG_0948

Hmm… Tombo nggak pernah lupa sama crossing-nya (padahal udah vakum dari hal-hal berbau crossing ini). Kata mereka, cinta pertama itu memang susah matinya wkkk… So predictable, Tombo! Waktu dia gambar silang, langsung kita bertiga (iiya aku ikut main, iya!) serempak bilang “crossing!”

Emang ya, yang namanya manusia makhluk sosial, mereka bisa lebih kreatif kalau lagi bareng-bareng. Bahkan, waktu mereka bosen, mereka nemu aja permainan baru. Aku nggak propaganda homeschooling sih, tapi enaknya homeschooling itu ya, gitu. Kita bebas beraktivitas gimana aja, kadang itu bisa bikin kita lebih kreatif. (Eh, jadi mirip propaganda. Maklumlah, ya. Hehe…)

 

Ekspektasi vs Harapan

 

Ekspektasi membangun obsesi, harapan membangun harmoni…

Satu waktu, aku pernah membaca meme soal cara mencapai kebahagiaan. “If you want happiness, lower your expectation.” Jujur aja, aku agak bingung. Kalau kita merendahkan ekspektasi kita, apa malah kita jadi mengurangi usaha dalam mencapai tujuan? Malah ngebuat kita menurunkan target daripada berusaha yang terbaik sampai dimana kemampuan kita bisa mencapai.

Setelah beberapa tahun, kurasa aku baru bisa mendekati maknanya. Kenapa cuma mendekati? Karena, sayangnya, dalam beberapa tahun ke depan dinamika manusia bisa berubah. Mungkin ada makna yang lebih sempurna daripada yang kutemuin sekarang. Ini nulis sambil nonton “Interstellar” kayaknya terpengaruh begini haha…

Baru sekarang aku paham kalau ekspektasi dan harapan itu beda. Yah kalau kita cari definisi ekspektasi ternyata nggak ada di KBBI, jadi murni kata adaptasi dari expectation dan sayangnya aku nggak nemu kata padanan yang deket artinya dengan kata ini. Jadi, akhirnya aku cari perbedaan definisinya lewat situs luar negeri, yaitu jeremystatton.com.

Yang kudapat ; In his book The Awakened Heart, Dr. Gerald May tells us the difference between expectation and hope.He defines expectation as a “rigid clinging to unreal belief.” Expectation is demanding exactly what we want to happen regardless of what is actually happening. Meanwhile, hope is flexible. It is alive. It responds to all situations instead of battling against the ones that appear to be opposite.

Dan akhirnya kusimpulkan kalau ekspektasi itu sifatnya memaksa dan berfokus sama apa yang kita mau, jadi lebih egosentris. Waktu kita berekspektasi, kita susah untuk melihat kepentingan orang lain yang mungkin menghalangi keinginan kita. Makanya, ekspektasi lebih banyak menghasilkan kekecewaan dan perselisihan. Biasanya lagi, ekspektasi ini sifatnya spesifik dan jangka pendek, sehingga orang suka gagal melihat efek dari satu keinginan dalam jangka panjang.

Lain lagi sama harapan. Seperti yang dibilang Dr. Gerald di atas, harapan lebih fleksibel. Harapan itu adalah pandangan general kita dalam memaknai satu hasil, sehingga orang yang berharap itu lebih melihat satu masalah dalam kesatuan yang harmonis. Nggak cuma mementingkan keinginan pribadi, harapan membuat kita bisa memahami kepentingan orang lain atau lingkungan karena kita fokus pada pemaknaan hasil, bukan hasil itu sendiri. Tentunya juga, efeknya itu bertahan dalam jangka panjang karena solusinya melibatkan semua pihak terkait.

Contoh kayak perilaku merokok. Kalau kita berekspektasi orang berhenti merokok, kita akan fokus sama larangan merokok. Padahal, dalam satu perilaku itu ada juga pola pikir dan pola pikir orang itu beda-beda. Tanpa memahami masalah dan kebutuhan si perokok, kita malah lebih milih untuk memaksa dia berhenti merokok. Hal ini mungkin efektif dalam membentuk perilaku yg kita mau dalam jangka waktu pendek. Dan mungkin cuma menimbulkan efek semu, dimana dia nggak merokok di depan kita aja. Di belakang, dia tetap merokok. Jadinya, apa fungsi dia berhenti merokok? Cuma biar kita seneng aja. Ya, kalau emang itu mau kita, boleh-boleh aja, sih.

Sebaliknya, kalau kita mendasarkan larangan merokok ini pada harapan, kita akan mencoba memahami apa sebab perilaku merokok, dan mau melihat dari sudut pandang si perokok. Artinya, kita nggak egois, hanya mikir yang penting kita merasa benar. Dengan begitu, solusinya akan melibatkan banyak pihak dan membuat kita bekerja sama dengan banyak pihak untuk mencapai tujuan yang baik untuk semua, bukan cuma baik untuk kita. Cara begini juga cenderung akan menghasilkan hasil yang lebih lama dan lebih menetap.

Jadi, ekspektasi bikin orang terobsesi sama hasilnya, sedangkan harapan membuat keinginan yang lebih harmonis.
Caranya? Ya, pertama-tama kita harus paham apa yang kita mau. Paham tentang diri kita dan mau menerima diri kita apa adanya. Saat kita udah bisa menerima diri kita, biasanya pandangan kita terhadap dunia di luar kita lebih seimbang. Nyaman dengan diri sendiri membuat kita nyaman dengan lingkungan, apapun yang terjadi di lingkungan itu.
Dan itu membuat kita lebih gampang untuk menerima lingkungan apa adanya, bukannya memaksa lingkungan yang berubah sesuai mau kita. Dengan seimbangnya pola pikir kita terhadap diri sendiri dan lingkungan, kita bisa mencari solusi yang memenangkan kepentingan semua.

Mungkin nggak, sih? Posisi kemenangan kan, cuma satu? Ya, karena kita manusia yang pastinya persepsi juga beda-beda, persepsi kemenangan itu sendiri juga jadi beda-beda. Kebutuhan kita aja juga beda-beda, kok. Sama kayak sistem barter zaman dulu aja. Masing-masing benda pasti nilai nominalnya beda, tapi kalau sesuai kebutuhan, jadinya nilai intrinsik barang itu jadi seimbang dan masing-masing orang puas dengan nilai yang diberikan barang itu. Contoh simpelnya aja, penjual persepsi menangnya untung, pembeli persepsi menangnya bisa dapet discount. Kalau penjual bisa ngasi discount tanpa mengurangi banyak keuntungan, ya mereka sama-sama menang. Produk laku, pembeli makin percaya.

Jadi, kalau mau harmonis, ekspektasi mesti rendah, harapannya yang tinggi…

download
Gambar diambil dari pulsk.com

Kemarin (26/1), aku baca satu artikel di tempo tentang bule yang mengadakan eksperimen sosial. Dia sengaja memakai rok mini dan berjalan-jalan di Jakarta. Dalam tempo 35 menit saja, sudah ada 13 laki-laki yang menggoda, dari suit-suit nggak jelas sampai ada yang berani meminta nomor telepon wanita bule ini. Wow!

Kita putar balik ke tahun lalu, sayangnya aku nggak inget siapa yang ngomong dan kapan kejadiannya. Yang pasti, waktu itu ada kasus pemerkosaan, lalu ada satu figur publik yang berkomentar tentang itu. Di waktu kasus pemerkosaan itu masih fresh from the oven banget, dia bilang kalau wanita harus menjaga diri dan menutup aurat. Kira-kira begitulah kalimatnya.

Bener nggak? Dalam pandangan Islam yang kutahu, emang bener wanita harus menutup aurat demi menjaga diri.

Tapi, kenapa komentar ini terasa salah banget di telingaku, tambahan lagi, memicu komentar-komentar pedas dari wanita lain? Tentu saja, karena sebenar-benarnya perkataan, kalau diucapkan dalam waktu dan tempat yang salah, dia akan berdampak buruk.

Ayooo, Para Muslimin dan Muslimah jangan cari-cari alasan buat defens dulu. Kenapa sih, aku bilang kata-katanya jadi salah? Karena efek yang ditimbulkan. Pertimbangan manfaat dan mudharat, ingat?

Di saat kasus masih fresh itu, apa yang terjadi kalau kata-kata itu didengar oleh korban? Mereka dalam kondisi traumatis. Pemerkosaan itu mengakibatkan rasa malu, rasa rendah diri, karena yang diserang bukan cuma fisik, tapi kehormatan si wanita. Bayangkan, wanita dalam kondisi ini mendengar itu, apa nggak tambah malu? Disalahin pula, apa nggak tambah merasa rendah diri? Dan dalam kondisi psikologis seperti itu, traumanya makin berkali lipat. Efeknya, rata-rata wanita Indonesia yang dilecehkan secara seksual, malu dan takut untuk melapor ke pihak berwajib. Apa ini nggak menimbulkan superioritas buat si pelaku yang hobi melecehkan?

Kedua, apa yang terjadi kalau kata-kata ini didengar si pelaku? Ini bisa dimanfaatkan buat menjustifikasi kesalahan mereka. Orang yang dalam kondisi merasa bersalah, biasanya mereka juga stres. Dan karena stres itu nggak enak, ya pasti kita sebagai manusia berusaha untuk meredakannya. Salah satunya ya ini, rasionalisasi, justifikasi, membenarkan perbuatan kita. Ini, buatku, sangat berbahaya.

Kenapa? Perkataan itu membuat mereka merasa kalau mereka nggak salah. Minimal, mereka nggak ngerasa salah-salah amat dan ikut menyalahkan wanitanya. Dan laki-laki lain yang mendengar itu (ini figur publik yang ngomong, lhooo, kontrol sosialnya pasti tinggi) juga mendapat justifikasi kalau nggak ada salahnya menggoda atau melecehkan wanita-wanita, asal dia pake rok mini. Gimana tingkat pemerkosaan mau menurun, dong?

Sekarang begini, kasus pelecehan yang banyak terjadi di commuter line itu juga banyak menimpa cewek yang udah nutup aurat. Nggak usah bicara jilboobs deh, yang udah pake baju gombrang-gombrang (eh anak sekarang ngarti gombrang gak ya, pokoknya baju longgar) masih aja dilecehkan.

Kalau aku analogikan begini. Wanita itu nafsu shoppingnya tinggi kan, ya. Kalau dia boros dan belanja mulu, siapa yang biasa disalahin? Dia sendiri, kan? Bukan tokonya yang menggiurkan itu (walaupun akibatnya ada yang nggak suka sama kapitalis sih, mungkin ini suami-suami yang tertindas hahaha).

Sudah saatnya manusia itu tanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Nggak mungkin terus menyalahkan orang lain atau hal lain atas akhlak kita. Sinetron itu nggak ada artinya bagi orang-orang yang mau sedikit ribet mikir. Media juga nggak akan bisa membodohi kita kalau kita orang yang rajin memperkaya ilmu. Cuma diri kita sendiri yang bisa menjaga akhlak kita. Allaah aja nggak banyak ikut campur soal itu, selain ngasih hidayah, kan?

Bayangin kalau orang cuma bisa nyalahin lingkungannya. Anak menyalahkan orang tua yang salah asuh, suami menyalahkan istri yang nggak pinter ngurus rumah tangga, istri menyalahkan suami yang nggak pinter cari nafkah, orang tua bahkan menyalahkan anaknya yang nggak mau nurut sama dia (padahal yang mendidik anak kan dia, cih!). Gara-gara nggak mau tanggung jawab sendiri, maunya lemparin ini ke orang lain, akibatnya kita susah introspeksi diri dan berubah. Gimana mau berubah, kalau dirinya sendiri udah dianggap bener, layaknya Tuhan?

Akibatnya lagi, yang ada cuma pertentangan. Karena masing-masing manusia punya persepsi berbeda tentang apa yang benar dan apa yang salah. Sama kayak sekarang ini, kan? Masing-masing ribet ngurusin akhlak orang lain, sampai lupa kalau dia lagi marah-marah di wal FB sambil mengucapkan kata-kata yang nggak pantes. Ups, bias! Haha…

Pendidikan itu seyogyanya seimbang, harmonis. Antara satu dengan lain hal itu ada korelasinya, maka kita harus melihat per detail dan melihat bagaimana mereka saling berkaitan. Dengan begitu, tercipta juga solusi yang sifatnya komperehensif dan bertahan dalam jangka panjang. Nggak cuma melihat dari garis besarnya aja, itupun melihatnya sambil lalu, trus jadi kesimpulan. Mana nggak mau diganggu-gugat lagi kesimpulannya… ^^;

Gak apa-apa, sih. Hak itu, haaaakkk… Jadi orang yang timid dan rigid itu juga hak kok, asal nggak pake pola senggol-bacok aja…

Musik dan Pengikutnya

 

439970-metal-music-heavy-metal-fans
Gambar diambil dari stuffpoint.com dari akun 5co_sl

 

I worshipped Metallica, and it’s not a lie.

Oke, aku tahu kalau dalam sebagian mazhab di agama Islam dikatakan bahwa metal itu musik setan. Bahkan, dalam sebagian mazhab lain lebih radikal lagi, semua musik itu setan. Well, tenang, saudara-saudara, bukan itu yang mau dibahas. Kalau emang musik metal, atau semua musik itu (termasuk qasidah, rawi, gambuskah?) setan, mudah-mudahan dihilangkan Metallica ini dari hatiku. Tuhan kan, satu-satunya Pembolak-balik Hati.

Balik ke soal Metallica…

Karena aku pengagum berat Metallica, dari awal aku join Facebook, atau mungkin beberapa bulan sesudahnya, aku kurang inget, aku udah cari tuh fanpage Metallica. Dulu fanpage-nya masih rada jadul, dimana forum diskusi terpisah dari newsfeednya. Aku heran kok, nggak gitu aja ya, jadi menyaring orang yang nggak tertarik atau emang kurang paham soal diskusi-diskusian. Semua terpampang jelas di newsfeed di timeline itu rasanya… oke, bias!

Aku inget kalau diskusinya asik banget. Ya iyalah, semua tentang musik kesukaan kita, masa nggak asik? Ada juga yang bikin semacam games di mana para penggemar komen satu frase dari lagu Metallica, trus yang komen selanjutnya harus nerusin dengan nebak itu frase ada di lagu yang mana. Tapi, seperti biasa, di ruang diskusi, nggak semuanya yang asik-asik dan manis-manis aja. Ada satu diskusi yang temanya Justin Bieber. Jeng jeng jeng jeng! Gimana rasanya kamu ada di grup musik metal dan denger nama Justin Bieber? Yak, pastinya darah langsung naik! Haha…

Waktu itu emang Justin Bieber masih baruuuu banget di dunia musik, baru keluar, baru mencuat, seperti anak baru lainnya, masih manis gitu. Sekarang kan, udah nggak semanis dulu, kebanyakan skandal. Nggak siap kali ya, sama dunia entertainment? Jiwanya nggak dilindungi dengan semangat bermusik sih, makanya jadi begitu. Ah! Bias teruuuss!! Dan lagu barunya itu berjudul; Baby, Baby. Oke, aku mau jujur dikit, aku lupa judul lagunya, tapi yang aku inget cuma dia nyebut ‘baby’ terus-terusan sampe berbusa di reff. Aku bahkan udah lupa; nadanya gimana, ya?

Di tengah-tengah pemuja Metallica dan metal, tentu nama ini jadi momok tersendiri. Spontanlah si pembuat thread dimarah-marahin karena menyebut nama terlarang di dunia permetalan. Tapi, nggak sampai di situ, akhirnya hater sebener-bener hater muncul. Dia bilang dengan ketikan (bukan nada, soalnya nggak kedengeran suaranya hehe) provokatif, “If I heard he told ‘baby, baby’ one more time, I’m gonna kill him!’ Oh, wow! Dan tahu reaksiku waktu itu, ketawa ngakak! Seseorang di luar sana, menerima ancaman pembunuhan, dan aku tertawa!

Well, soalnya, aku nggak menganggap dia serius. Walaupun, harusnya aku tahu, karena itu berupa tulisan, aku nggak bisa bener-bener tahu seberapa dia serius, atau seberapa dia bercanda. Semua kabur, semua punya kemungkinan sama besar, 50:50. Kalau ternyata bercanda, kita bisa move on dan balik ke keseharian kita, ketawa pas inget lagi komen itu. Gimana kalau 50% di sisi lain yang bener? Tiba-tiba Justin Bieber terbunuh oleh orang itu, pastinya kita nggak bisa ngetawain ancaman itu lagi.

Memang bagi sebagian orang yang sudah memuja metal, tentunya susah juga suka sama musik bergenre lain, karena sifat metal ini yang udah unik dari sananya. Nggak hanya keras, tapi melodinya rumit, trus dengan lirik-lirik puitis (jangan salah, metal itu puitis sangat, lhooo). Apalagi, Metallica ini lumayan unik pula. Pernah denger, metalhead dipenuhi semangat spiritual? Nah, Metallica salah satunya. Banyak lirik Metallica itu mengutip ayat-ayat di Injil.

Tapi, jelas bukan band yang religius. Soalnya, ada salah satu lagu yang judulnya, The God that Failed. Makanya, aku lebih milih spiritual, karena perjalanan spiritualnya James lumayan luar biasa juga. Orang tuanya berasal dari kalangan Umat Kristiani (disebutnya Christian Scientists), yang alirannya rada fanatik, dimana mereka percaya kalau penyakit bisa hilang hanya dengan doa. Karena itu, sekalipun ibunya udah menderita kanker, mereka sama sekali nggak bawa ibunya ke dokter atau pengobatan lain selain doa-doa. Gara-gara ini, lagu The God that Failed muncul.

Singkat kata, liriknya dalam, sarat makna, walaupun kelam. Dia nggak hanya menyuarakan kebebasan dan pemberontakan, seperti lagu metal lainnya, walaupun ada juga soal-soal begitu, tapi banyak hal yang lebih luas daripada itu. Seperti kritik sosial, di lagu Ronnie, di mana Metallica membahas fenomena anak nerd yang ujung-ujungnya nggak tahan dengan lingkungan sosialnya dan bawa senjata ke sekolah, nembak-nembakin temen-temennya. Ada juga King Nothing, soal karakter politikus yang ngerasa dirinya paling berkuasa. Master of Puppets juga kental dengan nada politik. Banyak lagi!

Dengan James sebagai frontman dan penulis lirik, Metallica nggak cuma jadi band Heavy Metal, tapi juga sebagai inspirasi bagi banyak band dan banyak orang. Band Metal yang menurutku dewasa dalam pembawaan. Yang paling aku suka, James jarang banget lho, memasukkan kata-kata kasar yang nggak ada tujuannya di lagu-lagunya. Love him so much…

Jadi, Metallica sendiri, sebagai seniman musik yang punya tingkat kedewasaan emosional itu, nggak pernah jadi haters. Ya, tentu saja, mereka mengkritik, mereka menyindir, mereka komen, tapi nggak pernah mengajarkan pengagumnya untuk membenci orang yang menyukai genre musik lain. Aku jarang ya, lihat James menyela atau mencaci musisi lain. Beda banget sama Noel Gallagher dari Oasis, yang seneng banget menghina rekan sesama musisi dengan kata-kata tajam dan bener-bener langsung nyebut nama langsung! Ckckck, emang sih, aku suka juga lagu-lagu Oasis, but shame on you, Noel! Nggak dewasa banget jadi manusia!

Dan ngomong-ngomong soal hina-menghina…

Balik lagi ke soal fans Metallica yang sebel banget sama Bieber itu. Bisa dilihat dari lagu-lagunya, biar pemuja-pemuja Metallica bisa berkata-kata kasar, sebenernya Metallica sendiri nggak pernah mengajarkan hal itu. Kata-kata kasar umumnya dipakai Metallica sebagai cara untuk menunjukkan seberapa seriusnya kondisi yang sedang dilantunkan di lagu. Aku sendiri banyak denger F-word itu setelah masuk album St. Anger. Di lagu itu, F-word juga dipakai buat menggambarkan kemarahan-kemarahan yang nggak terkendali dalam diri Hetfield sendiri. Atau yang terbaru, Hardwired… To Self Destruct, juga banyak kata-kata “F”-nya, tapi hanya untuk menggambarkan seberapa kacau situasi sosial sekarang ini. Pastinya di sono ya, di Amrik, tempat lahirnya band Metallica.

Memang, jadi pemuja band, bukan berarti kita bisa jadi punya tingkat kematangan emosional sebaik dia. Apalagi, kalau band tua, pasti mereka dimatangkan oleh pengalaman, bukan lagi ‘cuma’ sekedar ‘panas-panasnya’ bermusik. Tapi, kecintaan pada musik yang lebih mendalam dan lebih menghayati lagi.

Musik metal sendiri juga bukan musik asal jadi yang mudah dimengerti. Aku kurang tahu metal yang lain, tapi yang pasti Metallica menurutku termasuk sulit untuk dimengerti. Lirik-lirik yang kuat dan dalam ala James Hetfield itu nggak bisa diinterpretasi sembarang, apalagi secara harfiah. Misal di lagu Attitude, ada kata-kata ‘just let me kill you for a smile’ di songinterpretation.com dijelasin kalau itu ditujukan pada industri musik yang nge-push Metallica mengubah lagunya jadi pop-rock-ish. Jadi, nggak harfiah dia pengen bunuh orang, melainkan membunuh industri musik yang begitu.

Walau begitu, emang lagu-lagu Metallica punya nada-nada yang kesannya provokatif, kalau kita terjemahin secara harfiah. Makanya, lagu Metallica itu butuh pemahaman lebih dalam, dan orang-orang yang mau berpikir. Biasanya, orang-orang yang mendalami lagu-lagu Metal lebih terdidik untuk kritis, karena emang kebanyakan lagu Metal, yang aku tahu, itu emang liriknya kritis banget. Kayak, Helloween dengan Number One-nya yang membakar semangat dan optimisme banget. Lirik Chop Suey!-nya System of A Down juga membahas soal kritik sosial, dan juga bernada spiritual, mengkritisi agama, jadi bukan religius. ^^;

Sayang, soal teknis musiknya, aku nggak bisa bicara banyak. Cuma bisa bilang, butuh skill tinggi banget buat bisa itu!

Ayolah generasi yang cepet panas tapi malas (ngomong sama kaca, nih), mari kita belajar dari James Hetfield dan musisi metal lainnya. Mereka mendalami dan menghayati, bukan hanya musik, tapi semua yang terjadi di lingkungan mereka. Nggak cuma asal jadi, apalagi cuma ‘cetakan’ dari pihak-pihak yang punya kepentingan.

Keep ‘headbanging,’ guys!

Perbedaan Itu Indah Nggak, Ya?

Baru aja beberapa hari yang lalu, aku main ke rumah saudara. Dan aku kaget. Anak-anak kecil, kalo aku nebak-nebak kisaran umurnya itu sekitar 5-10 tahun, pada main juga ke sana. Yang bikin aku kaget bukan anak-anak kecil main ke rumah temennya, tapi semuanya pada pake jilbab! Trus, aku nanya ke saudaraku, “ini anak-anak di kompleks sini semuanya pake jilbab?” Dan jawabannya, iya. Wow!

Akhir-akhir ini, fenomena ini mulai timbul di kalangan Umat Muslim. Dimana semua pola pikir harus dibuat seragam. Contohnya aja, cewek harus berjilbab, karena itu perintah Allaah SWT. Jadilah, seperti fenomena di satu kompleks itu, semua anak ceweknya dijilbabin. Dan bagi Umat Muslim yang meyakini soal perjilbaban ini, mereka jadi senang. Sampai-sampai aku melihat mereka merasa ini juga jadi kemenangan pribadi mereka. Mudah-mudahan aku salah, ya!

Ada satu waktu dimana aku pikir perbedaan itu indah. Makanya, kalau kita jadi berbeda-beda sifat atau apapun yang kita pilih, menurutku itu indah. Namun, belakangan aku jadi mikir apa sih, bedanya ‘perbedaan’ atau ‘persamaan’ itu?

Itu jadi masalah kalau perbedaan atau persamaan jadi mutlak. Jadi harus. Kadang-kadang demi mencapai itu, dibuatlah propaganda besar-besaran, almost dan mostly-lately kasar, atas nama persamaan. Ini nggak aneh, tapi ada juga yang berbuat itu atas nama perbedaan. Nah, ini yang aneh. Kita menganggap perbedaan itu indah, begitu ada orang yang memilih jadi sama, which is, beda sama pandangan kita, kok kita malah sewot? Jadi sama anehnya sama orang yang mempropagandakan persamaan, dong! Nah, agen propaganda “kembaran” ini juga lagi tren banget. Semua harus dibuat seragam. Kalau nggak, pasti dianggap salah. Lucunya, mereka nggak mau denger alasan macem-macem, telinga mereka disumpal kuat-kuat, mungkin takut keyakinan pribadi goyah.

Gawatnya, kalau agen-agen perbedaan mengancam atas nama individualitas, yang lainnya mengancam atas nama normatif. Whew! Manusia-manusia sekarang doyan banget ngancam-ngancam orang!

Misal, saking mengagungkan perbedaan, maka ada yang bilang, orang-orang yang maunya sama aja itu artinya nggak punya kepribadian, nggak punya karakter. Buatku, ini ancaman secara halus, supaya mereka yang sedang dijaring juga bisa jadi manusia yang “berbeda”. Jadi berbeda, atau biar jadi punya pola pikir yang sama dengan yang ngacem, ya? :p

Lain kasus lagi, yang menginginkan persamaan terang-terangan bilang, kalau nggak sama, berarti melanggar norma. Entah norma persahabatan, seperti fenomena baju kembaran. Kalau nggak kembaran, berarti nggak kompak! Lah? Dalam skala lebih besar, ancamannya langsung ke surga-neraka, nggak tanggung-tanggung! Kayak contoh yang tadi, kalau anak cewek nggak pake jilbab, masuk neraka, lho! Lah, situ Tuhan, bisa bikin keputusan kayak gitu? Bukannya itu hak Tuhan, ya? Hati-hati lho, masuk neraka… :p (sendirinya ngikut ngacem-ngancem)

Ini fenomena apaan, sih? Sifatnya masif dan sistematis banget, lho! (Ciyeeee, yang ngikut berita Jokowi-Prabowo, jadi kenal istilah ‘masif’ dan ‘sistematis’! Haha!)

Lagi-lagi, ternyata ujungnya sama aja, yaitu konformitas sosial. Buat yang mungkin baru denger, konformitas itu adalah sifat yang mau ikut-ikutan aja. Apapun alasannya, pada akhirnya, yang kita ikutin itu adalah lingkungan sosial kita. Kita memutuskan untuk jadi beda dan liberal dan apalah namanya, kalau itu dilakuin karena ada temen yang kita percayai omongannya bilang gitu, itu artinya kita sedang melakukan konformitas. Kita nggak melakukan perbedaan karena pada dasarnya kita juga cuma nyama-nyamain dia.

Yang diancam atas dasar surga dan neraka juga sama. Sementara, kita mikir kita itu sedang bertaqwa kepada Allaah SWT, pada dasarnya ujung-ujungnya kita cuma ngikut apa kata orang lain, yang notabene juga manusia. Apa kata ustadz, kita ngikut. Apa kata partai, kita nurut… Partai apa? Tebak sendirilah!

Langsung ada yang mikir: Itu kan, berdasarkan Al-Qur’an?! Ya, emang kata-katanya sih, berdasarkan Al-Qur’an, tapi tetap diinterpretasi oleh manusia. Tahu kan, berapa macam mazhab di dunia ini, yang mengatasnamakan Islam? Dan tahu kan, interpretasi masing-masing dari mereka bisa beda-beda? Nah, ujung-ujungnya kita cuma memilih salah satu dari sekian mazhab untuk kita ikuti. Artinya, kita lagi manut pada sekelompok orang yang jadi lingkungan sosial yang kita pilih. Artinya, kita emang sedang praktek konformitas juga.

Fatalnya, semua ini terjadi di permukaan layar media sosial. Dalam dunia media sosial, identitas kita itu tertutupi. Bukannya tertutupi secara total, tapi kita yang ngerasanya identitas kita tertutup. Ini namanya perasaan anonimitas. Nah, perasaan kalau kita “tanpa identitas” ini yang bikin semua pola emosi dan pola pikir yang tadinya kita tutup-tutupin, keluar tanpa malu-malu atau ragu atau takut. Semua yang (hampir) nggak mungkin keluar kalau kita lagi bertatap muka secara langsung sama lawan bicara dalam dunia nyata.

Ini namanya deindividuasi. Dimana sikap moral kita turun drastis karena kita ngerasa nggak bakal kena hukuman dari perilaku kita. Kalau kita berhadapan langsung sama orangnya, trus kita ngomong kurang ajar, bisa aja kita langsung dibentak-bentak atau ditonjok sekalian. Beda kan, sama di medsos? Paling banter kita bales-balesan ngetik kata-kata kurang ajar. Ngebaca caci-maki yang diketik sama caci-maki berupa bentakan yang kayak badai itu pasti beda banget rasanya.

Diperparah lagi dengan agen-agen provokasi. Nggak tahu apa tujuannya, target yang dia mau, selalu ada agen-agen yang pertama kali bikin ricuh. Bisa jadi sekadar pengen liat drama lanjutannya (kali dia hobi sinetron, kan) atau mungkin punya kepentingan kampanye politik (yang paling heboh orang saling caci-maki itu kalau udah deket pemilu, mau pilpres, mau pilgub, sampe pilkada, ah mulai deh, kelihatan rusuhnya!)

Makanya, di dunia medsos itu, mental-psikologis kita yang sebenernya diuji. Semua perbedaan yang tadinya malu-malu diungkapin di dunia nyata, akhirnya keluar, kadang-kadang tanpa filter. Perasaan pertama yang biasanya bakalan muncul adalah ‘tidak nyaman’ dan ‘merasa diserang.’ Yang “diserang” sebenernya bukan ideologi dan/atau keyakinan kita, tapi rasa aman. Rasa aman di tengah dunia yang kita tahu dan, sadar atau nggak sadar, sudah kita bangun selama ini. Kalau kita merasa nggak aman, jelas kita akan memproteksi diri. Akhirnya, muncullah berbagai bentuk defense mechanism (lebih jelasnya baca teori Sigmund Freud, rada jadul, tapi masih relevan kalo soal ini).

Defense mechanism itu bisa berupa pengucapan kata-kata kasar, mudah tersinggung, yang menolak sama sekali untuk dikritik atau bahkan cuma komen yang nggak sesuai dengan pikiran kita. Bisa juga dengan black campaign, menjelek-jelekkan orang yang mengkritik supaya kita dapet pendukung. Bisa juga dengan menarik diri/withdrawal, jadi nggak mau bales komen, nggak mau berpendapat, nanti kalau udah di tengah-tengah pendukung, baru deh, dibahas panjang-lebar. Malah sampe ngomongin orang yang pendapatnya nggak disukai, macam-macam ibu-ibu RT ngerumpi gitulah. Sayang, nggak ada lagi bedanya cowok dan cewek dalam masalah ini.

Jeleknya, intoleran terhadap perbedaan bikin orang bisa putus silaturahmi sama orang lain. Bisa benci sama teman atau saudara, nggak pandang bulu, cuma karena mereka beda. Sedih, ya! Bagusnya, fenomena ini bisa nunjukin siapa sebenernya yang bijak, siapa yang selama ini cuma pura-pura bijak. Jadinya, lebih gampang pilah-pilih temen. Karakter orang Indonesia, ambillah hikmah dari setiap situasi. Dan kalau situasinya jelek, nggak usah kritik siapa-siapa, manut dan nrimo aja. Makanya, gampang diinjek-injek investor asing. Uuupps! Bias alert!

Sekarang, aku juga nggak lagi punya motto perbedaan itu indah, karena aku baru sadar kalau nggak ada yang berbeda. Orang-orang cuma punya “golongannya” masing-masing. Dalam golongannya, ya mereka sama, nggak ada bedanya. Jadi, istilah perbedaan itu muncul lagi-lagi hanya demi membela kepentingan kelompok.

Maksudnya, di dunia nyata, apa kita pernah mempermasalahkan orang pake baju hitam dan orang pake baju putih? Nggak, kan? Boro-boro, merhatiin aja nggak!

Inside Out

insideoutfamily-normal_e46cac6d
Gambar diambil dari movies.disney.com.au

 

“Apa yang Terjadi dalam Kepala Kita”

Bener-bener telat, sih… Tapi…

Aku rasa aku perlu posting ini. Simpel aja, karena film animasi yang satu ini menurutku brilian. Itu penggambaran yang paling deket. Nggak hanya karena alurnya yang sederhana, Inside Out ngasih banyak makna tentang tumbuh-kembang satu anak.

Oke, sedikit reviewnya. No spoiler, tenang aja. Siapa tahu ada yang belum nonton, walaupun ini film udah lama keluarnya.

Dimulai dengan kemunculan Joy tiba-tiba, nggak tahu dari mana. Yang pasti, setelah Riley, seorang anak cewek, dilahirkan. Pandangan Joy pertama kali bertemu dengan sepasang laki-laki dan perempuan, orang tua dari Riley. Di depannya ada satu tombol, begitu dia pencet, Riley yang masih bayi ketawa. Jangan heran ya, kalau reviewnya kayak tulisan anak-anak, abis emang ini film buat anak-anak, sih.

Ok, lanjut. Pas Joy lagi asyik menikmati pemandangan yang terlukis dari matanya Riley, tiba-tiba Riley bayi menangis. Ternyata, di sampingnya, ada satu orang lagi. Kalau Joy digambarkan bercahaya kuning terang, orang ini punya cahaya kebiruan. Ini perkenalan pertama kali Joy dengan Sadness, yang udah diwarnai dengan prasangka. Karena mereka emang beda banget sifatnya, Joy itu penuh dengan optimisme, sedangkan kebalikannya, Sadness itu mikirnya yang sedih-sedih aja. Mulai dari situ, tempat yang mereka sebut headquarters, makin ramai dengan kehadiran Fear, Disgust, dan Anger.

Kok, namanya kayak istilah-istilah buat emosi yang ada di manusia sehari-hari?

Karena emang orang-orang ini adalah representasi dari emosi Riley sendiri. Mereka tinggal di kepala Riley dan menjadi penentu dari perilaku Riley. Misal, kalo Riley lagi berhadapan dengan bahaya, maka Fear maju buat menyelamatkan Riley. Kayak satu adegan dimana Riley lagi lari-larian dan di depannya ada kabel listrik, Fear langsung menekan tombol yang membuat Riley berhenti lari. Sama juga dengan halnya dengan emosi yang lainnya.

Dan keempatnya menjaga Riley agar Riley jadi anak yang bahagia, sampai saat itu, Joy nggak pernah ngerti fungsi Sadness selain bikin Riley nangis.

Sampai…ayah dan ibu memutuskan untuk pindah dari Minnesota, kota kelahiran Riley, ke San Fransisco, kota yang digambarkan padat penduduk. Hal ini memaksa Riley, yang berumur 12 tahun, harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat berbeda. Sementara itu, kepindahan ini menyebabkan keributan di headquarters. Nggak tahu kenapa, Sadness mengalami nervous breakdown, alias stres berat, yang bikin dia mengacau. Kayak semua memori (memori digambarkan lewat bola-bola kaca yang mirip kelereng) yang dia sentuh jadi sedih, tapi dia terus aja terdorong buat menyentuh memori.

Dalam upaya Joy menyelamatkan Riley dari kesedihan, ia memaksa Sadness buat jauh-jauh dari remote control (duh, aku bingung sama istilahnya, tapi kayak semacam panel pengaturan buat emosi dan perilaku Riley yang digunain sama emosi-emosi Riley ini, sebut aja remote control-lah, ya). Tapi, ternyata percuma. Waktu Riley memperkenalkan diri di depan teman-teman sekelasnya, lagi-lagi Sadness berulah dengan menyentuh bola memori, membuat Riley jadi sedih dan bahkan nangis di depan teman-teman sekelasnya, waktu hari pertama sekolah! Bayangin, malunya gimana!

Dan pada waktu itu juga, Joy terhisap ke long term memory lewat saluran kayak pipa (jadi, setelah memori terkumpul penuh di headquarters, untuk digunakan sewaktu-waktu, bola-bola memori itu dipindahin ke long-term memory, seperti halnya ingatan kita aja), Sadness juga ikut terhisap. Dimulailah perjalanan mereka balik ke headquarters. Di dalam hiruk-pikuk kepalanya Riley, ada perpustakaan long-term memory­­, ada tanah imajinasi, lokasi syuting perfilman mimpi, dkk, keduanya mulai berpetualang.

Dan, gimana akhirnya, silakan cari tahu sendiri, kan no spoiler ini. Hehe…

Kalau dilihat dari plotnya, emang ini film kekanak-kanakan banget, ya. Mungkin jadinya orang-orang yang udah dewasa jadi rada males buat nonton film ini. Paling-paling nemenin anak-anaknya nonton. Tapi, menurutku, salah besar! Ini film yang secara harfiah aku bilang bisa dinikmati oleh semua umur. Mirip-mirip sama buku The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupѐry. Penggambarannya sederhana, tapi makna di baliknya kompleks banget. (Baca resensi The Little Prince di sini)

Misalnya, penggambaran tentang kerja memori. Kalau kita lihat, gimana satu peristiwa disimpan dalam bola kaca memori, lalu begitu headquarters udah penuh, mereka langsung dipindah ke long-term memory. Ini emang terjadi di kepala kita. Sama seperti kerja memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Kalau satu memori udah nggak digunakan lagi, biasanya otak akan menekan ingatan itu ke ingatan prasadar (ini ingatan yang masih bisa dipancing kalau ada kata kuncinya), lebih jauh lagi, kalau udah benar-benar nggak berguna, atau mungkin membawa pengaruh buruk, kayak pengalaman traumatik, memori itu bisa ditekan ke pikiran bawah sadar. Di film ini ada juga lho, digambarkan dalam satu jurang gelap, dijaga oleh satpam (ada pekerja-pekerja yang ngatur area otaknya Riley, digambarkan dengan orang-orang berbentuk oval, simpel aja) dan ditaruh di ruang tertutup. Isinya adalah ketakutan-ketakutan bawah sadar Riley, di dalamnya ada brokoli, badut, vacuum cleaner punya nenek, dst. Sekali lagi, brilian!

Di film Inside Out, ada juga pembuangan yang menghapus memori-memori. Walaupun, di dunia realita, ini nggak sepenuhnya bener, karena nggak ada ingatan yang bener-bener bisa ilang. Tapi, kalau udah sampai di pikiran bawah sadar, hanya profesional, macam Psikiater atau Psikolog gitu, atau peristiwa besar yang bisa mengeluarkan ingatan itu lagi. Jadi, kesannya emang ‘forgot (dilupakan).’ Padahal, nggak sepenuhnya. Kalau kita dalami maknanya, film ini justru jauh lebih rumit daripada yang kita duga. Ada penjelasan saintifik yang sengaja digambarkan lewat animasi-animasi simbolis yang sederhana, supaya bisa dicerna anak-anak.

Tapi, proses yang terjadi di kepala Riley, mulai dari runtuhnya semua pulau-pulau kepribadian (yang menggambarkan image tentang hubungan Riley dengan lingkungan di luar dirinya – ada family island, friendship island, honesty island, funny island, dan hockey island, karena Riley suka sama hoki), itu sebenernya proses yang bener-bener terjadi sama semua manusia yang sedang dalam masa transisi dari anak-anak ke pubertas.

Lalu, hubungan Joy dan Sadness, hal yang paling sering terjadi dalam kepala kita. Saat kita sedih, tapi mencoba memaksa diri tetap gembira karena ekspektasi sosial lebih suka sama anak yang gembira daripada anak yang sedih, dan juga emosi-emosi lain. Asli, aku susah gambarinnya satu per satu di sini, karena prosesnya itu sangat kompleks. Inti dari pesan moral dari film ini secara garis besar adalah, kita nggak bisa menekan kesedihan atau emosi-emosi lain, kalau nggak malah bisa timbul kekacauan, seperti yang terjadi di kepala Riley.

Jadi, nggak perlu tunggu punya anak buat nonton film ini. Film ini bisa menggambarkan dengan tepat proses psikologi tentang apa yang terjadi waktu kita pubertas dulu. Dan mudah-mudahan, bisa membantu kita untuk dapat petunjuk atas apa yang terjadi di kepala kita waktu kita dalam masa-masa transisi. Misalkan, dari remaja ke dewasa, dari dewasa ke masa tua. Atau, simpel aja, perubahan-perubahan kecil dalam hidup kita. Biasanya, kalau kita tahu alasannya, frustasi bisa sedikit berkurang, lho! Penelitian dalam ilmu Psikologi Sosial ini!

Akhir kata, jangan pernah memendam emosi, ya! Semua emosi perlu pelampiasan, asal caranya yang kita atur supaya nyaman buat diri kita, nyaman buat orang lain.

 

 

Sekolah atau Edukasi?

edukasi
Gambar diambil dari : http://www.kulitinta.com

Kita belum bisa terlepas dari doktrin…

Kayaknya yang namanya sekolah itu akrab banget di telinga. Udah bukan akrab lagi, tapi udah nyatu, seakan-akan dia nempel di gendang telinga, bergaung setiap kali bergetar. Sedikit hiperbola sih, tapi rasanya aku ngerasa begitu. Sejak mulai bisa inget, itu sekitar umur 4 tahun, itu pertanyaan yang paling sering diajuin orang. Udah sekolah, belum? Apalah urusannya sama mereka, yang sekolah siapa juga? Aneh, kenapa orang suka banget ikut campur sama urusan orang lain. Stop, jangan curhat!

Doktrin itu nggak hanya disampaikan orang-orang terdekat, tapi juga media, khususnya dari layanan masyarakat. Alias, iklan dari pemerintah tentang wajib belajar. Lagu yang dulu kuhapal banget sekarang udah ilang dari kepala, tapi aku inget salah satunya tentang sekolah. Aneh, kok bisa lupa, ya? Mudah-mudahan karena udah bisa move on dari yang namanya sekolah, hehe. Singkat kata, dari kecil kita udah dibombardir dengan satu kata : sekolah.

Sekarang, yang namanya sekolah udah lepas dari bayangan tentang anak-anak pake seragam merah-putih, duduk di meja kayu cokelat tua, dengan standar duduk rapi itu adalah tangan terlipat di atas meja. Masa-masa itu udah lewat, karena sekolah udah macem-macem bentuknya. Ada sekolah alam, yang kebanyakan pelajarannya lewat outdoor, ada sekolah montessori, yang konsepnya mirip, ada lagi yang terbaru soal sekolah alternatif Qaryah Tayyibah. Dan masing-masing dari mereka konsepnya udah jauh dari sekolah konvensional yang metode belajarnya itu guru ceramah, murid mendengarkan. Bahkan, di sekolah alam, anak-anaknya belajar sambil lesehan.

Nah, yang lebih menarik daripada semuanya adalah homeschooling. Seperti istilahnya, ini sekolah yang adanya di rumah. Pengajarnya? Bebas, tapi tetap belajarnya di rumah. Ada yang pake jasa homeschooler kayak Homeschooling Kak Seto, manggil jasa pengajar dari sana. Ada yang pake guru les privat, sampe yang semuanya dikerjakan oleh orang tua si anak sendiri. Intinya, adanya di rumah. Baru-baru ini, maksudnya aku baru denger (rada kuper emang ^^;), kalau ada istilah yang lebih drastis, unschooling. Artinya, nggak sekolah. Walah!

Bagi kita yang udah didoktrin puluhan tahun, dengernya serem, ya!

Orang-orang yang denger soal itu juga pasti langsung nanya, nggak sekolah? Trus belajarnya gimana? Ijazahnya gimana? Ujiannya gimana? Ujung-ujungnya adalah pertanyaan paling menakutkan dari seluruh orang tua di dunia, mau jadi apa nanti gedenya? Aku selalu heran denger pertanyaan itu. Akhirnya, aku jawab aja, “jadi orang.” Bukannya kita udah jadi manusia sejak lahir, ya? Mau diapain lagi, sih?

Akhirnya, kata ‘orang’ dikaitkan lagi sama kesuksesan. Berarti, kalau nggak sukses bukan orang. Langsung berubah jadi ksatria baja hitam kali, ya (ketahuan kan, yang nulis kelahiran tahun berapa).

Biar begitu, beberapa orang berhasil membuktikan tanpa sekolah formal pun anak-anaknya bisa sukses. Kita standarisasi dulu ya, kesuksesan yang dimaksud di sini. Secara umum, sukses buat orang-orang itu adalah sukses yang bisa dilihat, diraba, dikecap, kayak pengusaha dengan omset jutaan rupiah per hari, lulusan cum laude dari universitas bereputasi bagus, karyawan di perusahaan besar, kalau di Indonesia, tambah satu lagi : PNS. Nah, sukses itulah yang dimaksud di sini. Dengan bekal cerita orang-orang sukses berlatar tanpa sekolah formal, orang-orang mulai melirik metode ini. Ditambah dengan ilmu parenting yang menyebutkan pendidikan anak itu dimulai dari interaksinya dengan orang tua, jadilah makin banyak yang mau terjun ke metode HS.

Tapi, semakin lama aku terlibat dengan pihak-pihak HS, semakin aku paham kalau kita masih terikat dengan doktrin itu. Makna sekolah rumah bukannya makin terang, malah makin dikaburkan oleh doktrin puluhan tahun yang disarangkan di otak kita. Tujuan orang tua masih satu : mengarahkan anak-anak mereka ke kesuksesan yang aku deskripsiin di atas. Dan itu jadi jebakan buat para orang tua, yang akhirnya memaksakan metode didik mereka ke anak-anak.

Mentalitas orang tua masih berputar di ‘sekolah.’ Homeschooling, unschooling, kata-kata itu masih terikat kuat dengan bapaknya, schooling alias sekolah. Lho, itu kan hanya istilah? Well, Margaret Tatcher pernah bilang kalau “you are what you say,” artinya kata-kata yang kita pilih pada akhirnya secara nggak sadar itu adalah pikiran bawah sadar kita. Sekaligus, jadi sugesti ke dalam pemikiran kita, seperti halnya doktrin-doktrin itu. Artinya, penggunaan itu adalah representasi pikiran bawah sadar kita yang belum bisa terlepas dari sekolah. Ya, doktrinnya tahunan dan digalakkan secara masif di seluruh dunia, gimana nggak nempel kuat banget di otak kita?

Waktu aku baca-baca quote tentang HS, ada meme yang menyebut tentang self-educated. Jadi, konsep HS yang disebutkan si pembuat meme itu adalah mengedukasi diri sendiri, artinya anak punya daya juang untuk mempelajari yang dia butuhkan, yang dia suka dan yang dia mau, dengan orang tua hanya jadi fasilitator. Berlawanan dengan konsep itu, kata sekolah yang melekat di HS banyak juga diartikan kalau sekolahnya itu di rumah. Akhirnya, anak punya jadwal sekolah di rumah. Sama aja kayak mindahin sekolah ke rumah. Yang lucu lagi, malah ada sekolah yang bilang kalau prinsip sekolahnya itu mengikuti HS. Padahal mah, dia bukan rumah, so…yah… Terserah mereka, deh.

Ini dia jebakan dari HS. Penggunaannya yang masih terikat dengan sekolah juga membuat orang-orang salah kaprah tentang itu. Nggak hanya itu, ada juga yang mikir kalau anak yang di-HS-kan itu artinya dikurung di rumah, disuruh belajar, akhirnya jadilah pemahaman kalau HS itu nggak mendukung interaksi sosial. Yang lucu lagi sih, ada juga pemahaman bahwa orang tua jadi guru. Ini membuat orang-orang ragu lagi soal HS dan juga muncul anggapan kalau yang bisa meng-HS-kan anak cuma orang-orang pinter. Lagi-lagi, kita berhadapan dengan labeling. Ah, apalah pinter itu, saudara-saudari setanah air? Ukurannya nggak pernah jelas.

(Baca juga “Sosialisasi dalam Sekolah Konvensional”)

What’s in the name? kata Juliet dalam drama yang ditulis Shakespeare. Tapi, toh, karena nama itulah mereka ditentang sampai memilih untuk bunuh diri berdua. Emang kita harus hati-hati agar nggak terjerumus dalam verbalisme, mainannya istilah mulu, tanpa pemahaman menyeluruh. Ujung-ujungnya, salah kaprah lagi. Aku juga nggak menyarankan kita debat soal masalah nama ini, tapi nama ini bisa membuat kita lebih paham tentang tujuan sebenernya kita menyekolahkan anak. Bukan sekolahnya, tapi pendidikannya, edukasinya. Begitu sebaiknya, kan?

Aku sendiri banyak menulis soal locus of control, yaitu kontrol perilaku kita, apakah asalnya dari diri sendiri atau dari orang lain? Buatku, baik HS maupun NS, masih punya kekuatan locus of control eksternal (dalam hal ini doktrin sekolah itu), alias perilaku kita dikontrol dari kekuatan luar, yang jelas-jelas nggak bisa kita kendalikan. Nah, ini juga bahaya. Seharusnya kan, kita bukan jadi follower atau pemberontak total dari norma luar, tapi mencari yang terbaik buat diri kita. Cocok, syukur. Nggak cocok, ya apa boleh buat. Artinya juga, kita mandiri dari pengaruh luar yang banyak banget itu.

Kemandirian ini jadi penting karena kita nggak tahu berhadapan dengan apa atau siapa di dunia eksternal. Kalau ketemu orang baik, syukur, tapi kalau ketemu orang yang berniat nggak baik, jadi momok, deh. Segala yang busuk-busuk juga kita ikutin hanya karena kita susah terlepas dari pengaruh luar itu. Memberontak total juga salah. Kalau kita berontak terhadap sesuatu yang baik, jadinya kita harus melakukan yang nggak baik, dong? Kan, efeknya jadi nggak baik juga.

Akhir kata, istilah self-educated ini di lain pihak juga bisa menyempitkan tujuan sebenarnya dari kegiatan belajar-mengajar. Kita bukan mengantar anak ke sekolah biar dia bisa sekolah, tapi biar dia bisa dapet edukasi. Bukan buat mengikuti aturan-aturan yang dibuat sekolah, tapi supaya bisa mencari ilmu lewat transfer belajar dari guru. Kalau mau pilih sekolah, kalau emang tepat buat kita, tentu aja bagus, tapi kalau yang kita pikirin sekolahnya, edukasinya jadi melorot, dong. Dan perlu diperhatikan, makna edukasi sendiri itu mencakup tiga hal, kognitif, afektif, dan konatif. Kalau nggak seimbang, edukasi biasanya susah memaksimalkan potensi anak.

Karena itu, doktrin tentang sekolah ini harus mulai kita kikis pelan-pelan, bahwa tujuan kita itu bukan nyari sekolahnya, tapi edukasinya, yaitu metode (metode apa aja, termasuk sekolah formal) yang bisa kita pakai untuk menimba ilmu sebanyak mungkin, sekaligus cara mengaplikasikannya di dunia nyata. Teori tanpa praktek kan, artinya lumpuh?

Dirgahayu, Republik Indonesia!

 

 

Lagi lihat-lihat FB, aku nemuin satu tulisan menarik tentang dirgahayu RI. Selama ini banyak yang menyebut dirgahayu seakan-akan sama dengan “selamat ulang tahun,” jadi suka bilang Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-71! Ternyata itu salah! (Ya, ampun setelah 71 tahun baru tahu sekarang!) Jadi, dirgahayu itu asalnya dari Bahasa Sansekerta yang artinya “panjang umur” atau “berumur panjang.” Setelah aku ulik, ternyata emang ada konfirmasi dari badanbahasa.kemdikbud.go.id kalau emang artinya begitu. Noted, govt!

Selama ini, kasus begini suka banget kejadian. Beberapa saat lalu, heboh tentang “minal aidin wal faizin” yang ternyata artinya bukan “mohon maaf lahir dan bathin” (maaf kalo bawa-bawa agama, soalnya ini contoh yang aku inget jelas hehe). Ada banyak lagi contoh lainnya, aku sendiri nggak inget satu per satu.

Salah satu teman menyebut ini sebagai kasus verbalisme, kurang-lebih dimana orang-orang jadi lebih mementingkan kata itu sendiri daripada makna yang dikandung. Lagi-lagi gara-gara kita ngikut budaya. Ya, namanya juga ngikutin kata orang tua, yang penuh kebijaksanaan karena udah makan asam-garam hidup. Semuanya aja sekalian diikutin, bener dan salah siapa yang peduli? Gawat juga ini. Doktrin-doktrin dari otorita, mulai dari orang tua, guru, dan nantinya, di kantor, semuanya rata-rata ngajarin kalau otorita itu paling bener. Zaman udah berubah dan doktrin ini nggak lagi banyak ditekankan, tapi akibatnya masih terasa masif di antara kita. Karena menyesuaikan proses pewarisan budaya butuh waktu lama. Menyesuaikan aja, soalnya warisan budaya yang baik juga ada banyak, kok!

Apalagi, budaya ini diterapkan bukan cuma zaman Soeharto, tapi emang sejak zaman-zaman kerajaan. Dimana kekuasaan absolut ada di tangan para raja. Dan mengingat Indonesia masih seumur jagung, ya, wajar kalau bekas ajaran zaman kerajaan itu masih berasa sampe sekarang. Kayak di beberapa suku ada pamali-pamali (atau semacamnya, nggak tahu istilah lainnya) tanpa keterangan jelas tentang bukti dan alasannya. Pokoknya kalau orang tua bilang pamali, ya udah, ikutin aja.

Masalahnya, ini menimbulkan sifat malas untuk mencari tahu. Dipadu dengan arus informasi cepat nggak terbendung dari media sosial, ini gabungan yang mematikan karakter, saudara-saudara! Ditambah lagi dengan kebebasan pers, beda sama zaman dulu, kalau media harus punya SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), sekarang nggak perlu lagi. Semua orang bebas untuk menerbitkan medianya sendiri. Akhirnya, mulai bermunculan yellow jurnalism, istilah buat jurnalisme yang melebih-lebihkan beritanya untuk menjual oplah majalah. Sebelum internet viral, ada koran yang nggak perlu aku sebut merknya, yang isinya wow! Tentang kriminalitas ditambah berita-berita tentang perselingkuhan, zina, dkk. Tepat menggambarkan insting primitif manusia, libido dan agresi, dalam bahasa vulgar dan berlebihan.

Sekarang, bentuknya udah lebih canggih. Lewat internet. Dan udah nggak seperti koran yang kusebutin di atas, isinya udah beragam. Tapi, metodenya masih sama. Yang penting menjual. Nggak ada lagi nilai-nilai berita dan kode etik jurnalisme yang mereka ikutin. Yang jadi masalah baru, mereka bukan cuma menjual demi uang, tapi juga demi memenangkan dominasi mereka atas kelompok lain. Bukan hanya yellow jurnalism, tapi berisi tentang dogma dan doktrin, kebanyakan agama dan politik. Biar beritanya salah, atau mengambil framing yang menyesatkan opini publik, yang penting tujuannya tercapai.

Jadi, ini tantangan baru kebebasan. Karena bebas beropini dan bahkan, menyebar berita, walaupun internet bisa jadi gudang ilmu, dia bisa juga jadi gudang kebohongan dan kesesatan. Parahnya, sikap verbalisme ini masih dimiliki orang-orang di sekitar kita. Mereka malas mencari tahu, malas menganalisa makna yang terkandung, bahkan nggak mau skeptis dikit aja (kok, percayaan banget sih, jadi orang? Ajarin dong, caranya!) Apalagi, sekarang tinggal satu kali klik, dan semua bisa viral di medsos. Kalau nge-share berita yang udah kita cari tahu kebenarannya sih, oke. Nah, kalau berita bohong, nggak ngecek narasumber atau sumbernya, trus langsung share? Wow! Pernah juga sih, aku khilaf ngelakuin ini, untuk itu aku sekalian minta maaf lewat tulisan ini.

Dan nggak hanya di internet, berita-berita hoax menyebar lewat layanan messenger pribadi, kayak BBM, WA, Line, dkk. Promosi marketing dogma dan doktrinnya makin keren ajah! Makin canggih, didukung dengan segala macam slogan kebebasan.

Kebebasan Indonesia yang sebener-benernya baru terjadi pada reformasi Mei 1998 ya, setelah kekuasaan “absolut” Soeharto berhasil dijatuhkan mahasiswa. Itupun harus lewat tank dan berbagai peluru tajam. Perang-perang di TimTeng itu, semua negara mungkin udah pernah ngelewatin satu kali, Indonesia juga udah ngerasain dan berhasil ngelewatinnya, lho! Pahlawan sekarang bukan lagi hanya Pahlawan Nasional, tapi tokoh-tokoh reformasi 1998 itu. Siapa aja? Cari di google, gampang, kok, yang penting cek dan ricek ya, jangan asal percaya aja.

Ada yang bilang reformasi belum bener-bener terjadi. Benarkah? Yah, emang membangun negara nggak mungkin satu-dua hari. Mengubah budaya yang tertanam berpuluh-puluh tahun juga nggak cukup satu tahun aja, kan? Yang jadi tantangan sekarang justru bukan hanya perubahan besar yang terjadi di arena politik dan pemerintahan, tapi juga kontribusi rakyat. Kecanggihan teknologi informasi juga mendukung wadah untuk aspirasi rakyat. Contoh aja, change.org, petisi online yang berhasil mengubah beberapa kebijakan, di bidang apapun.

Namun, seperti pedang bermata dua, perkembangan teknologi informasi yang didukung oleh kebebasan ini juga punya banyak sisi negatif. Dia juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang punya kepentingan sendiri, punya agenda sendiri, yang jahatnya, nggak segan-segan untuk menyebar berita bohong buat mencapai tujuannya. Artinya, publik sebagai produsen dan konsumen sekaligus ditantang untuk lebih cerdas dan kritis. Kalau nggak, siap-siap jadi korban.

Tidak hanya itu, kemerdekaan berpendapat ini memunculkan dengan vulgar semua pola pikir orang-orang yang terlibat. Sekaligus, memperlihatkan budaya-budaya mereka. Akibatnya, perbedaan-perbedaan yang dulu tertutup oleh keterbatasan sarana informasi bermunculan, perbedaan pendapat makin banyak, diskusi, debat, bermacam adu opini lain makin santer. Di sini, dituntut para konsumen medsos untuk lebih bijak dalam bereaksi terhadap pola pikir yang berbeda, sedikit atau banyak. Internet itu juga punya jebakannya sendiri, lho. Soalnya, internet itu kan menutupi identitas kita, nggak jarang ini bikin orang merasa lebih aman, akhirnya emosi jadi nggak kekontrol karena terlalu berani atau nekad.

Sejak Pemilu 2014, reaksi orang-orang terhadap perbedaan pendapat makin kelihatan jelas. Akhirnya, endapan emosi selama rezim Soeharto yang kebanyakan menutup mulut rakyatnya dan membuat rakyatnya itu kurang belajar asertif dan cerdas dalam berpendapat, keluar tanpa terkendali. Akibatnya, diskusi berubah jadi debat kusir, maunya menang, dan nggak lagi punya tujuan untuk mencari kebenaran. Malah, makin jauh dari kebenaran karena pola pikir “yang penting menang” itu.

Kedua hal ini, untuk jadi cerdas dan kritis, lalu bijak dalam berpendapat dan bereaksi terhadap pendapat yang berbeda, intinya cuma satu, kecerdasan emosional. Ini saatnya kita paham kalau emosi itu bukan sesuatu yang salah dan perlu ditutupi, melainkan sesuatu yang jadi bagian dari manusia itu sendiri, untuk dikendalikan dan diungkapkan dengan cara yang sehat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Kemerdekaan memang menyenangkan, tapi kita nggak bisa larut dalam histerianya terus-menerus, karena tantangan dari kemerdekaan makin meningkat. Kalau dulu, kita tahu siapa lawan kita dengan jelas, para penjajah yang mencoba menaklukkan kita, sekarang kita harus benar-benar memahami seluk-beluk perubahan sosial, untuk memilah-milah dengan lebih baik, siapa yang berdampak baik buat kita dan siapa yang berdampak buruk untuk kita. Lebih baik memandang masalah ini dari segi dampaknya karena benar dan salah itu subjektif banget, jadi lebih baik kita nggak ngejudge berdasarkan itu.

Di ulang tahun Indonesia yang ke-71 (yang kayaknya belum bisa diakui oleh Belanda hoho), ayo kita menghadapi tantangan yang sifatnya laten ini. (Bukan PKI, lho! Karena PKI udah mati, masa masih takut sama hantunya? :p ) Ayo kita rayakan sambil mencatat baik-baik untuk mengubah mental kolonial yang masih sedikit-sedikit bersarang di hati rakyat.

Dirgahayu, Repubilk Indonesia!

 

 

 

 

Ahok vs Risma : Kajian Ngasal

risma
Sumber foto : bisnis.com

 

Kebebasan itu mahal, Bung!

Sekarang lagi rame nih, soal Ahok vs Risma. Biasalah, kalau udah deket-deket Pemilu, walaupun masih di area Pilgub. Cuma karena ini Pilgub DKI, dan DKI itu bisa dibilang pusatnya Indonesia, jadi serame ini, deh.

Ahok itu kan, emang terkenal kurang punya filter, ya (ini bikin seru kancah politik yang kebanyakan main cantik, sih, haha). Eh, ternyata itu dimanfaatin buat manas-manasin Risma, yang padahal dipisahin jarak udah sampe ribuan kilometer itu. Biasa deh, framing dari wartawan dan media yang bikin perseteruan makin panas. Kalau dikaji dari awal sampe akhir, mungkin Risma nggak perlu semarah itu, karena nyatanya Ahok juga muji-muji kerja Risma, kok.

Alhasil, Risma baper dan bikin konferensi pers buat nunjukin kalau dia marah sama Ahok. Sampai-sampai Ahok dimarahin sama ibunya (sumber dari tempo.co), ini cerita Ahok sendiri. Keren emang tuh, orang, lucu banget!

Dari awal sih, udah keliatan upaya-upaya buat manas-manasin Risma sama Ahok. Diperparah sama media yang sekarang udah banyak ditunggangi kepentingan-kepentingan politik. Bisa dilihat dari berita-berita yang udah beredar, aku nggak bisa ngasi satu contoh (lupa maning sama berita yang pernah dibaca, kacau!)

Aku di sini emang nggak mau bahas mereka dengan detail. Lebih tentang kondisi perpolitikan Indonesia sekarang. Titik balik dari politik Indonesia itu dimulainya dari Jokowi vs Prabowo. Sebenernya, lebih tepatnya dimulai waktu Jokowi mulai menjabat jadi Gubernur Jakarta. Hasil blusukan yang diprakarsai Jokowi ternyata bener-bener bawa pengaruh nyata. Rakyat mulai melek politik. Jeleknya, kebebasan itu mahal, Bung!

Mahalnya kenapa? Perseteruan antara Jokowi dan Prabowo disebut-sebut sebagai contoh demokrasi paling nyata di Indonesia, dimana orang-orang, diwadahi oleh media-media sosial macam FB dan Twitter, mulai buka suara dan urun pendapat. Sayangnya, nggak dibarengi sama mental yang bagus. Yah, emang biasa dijajah, begitu bebas, jadi kayak anak ayam kehilangan induk, tabrak sana-sini aja.

Pasti banyak yang kejadian, gimana hubungan saudara, teman, dilibas cuma dengan perbedaan pendapat dan debat kusir soal pro-kontra tentang Jokowi (kebanyakan yang aku lihat sih, pilpres 2014 cuma soal pro-kontra Jokowi, Prabowo cuma nama selingan yang kebetulan ada di daftar calon). Inilah harga sebuah kebebasan. Jangan kira kalau bebas itu pasti enak. Emang enak, kalo tahu cara menyikapinya. Kalo nggak tahu, ya balik lagi, pengen Soeharto berkuasa. Piye enak jamanku tho? Yah, ini slogan dari orang-orang yang kebingungan akibat dikasih secicip kebebasan, nggak siap untuk menghadapinya. Mending orang-orang lenyap, dipenjara tanpa pengadilan, yang penting kenyamanan hidup nggak terganggu, kan? Orang-orang banyak dibunuh tanpa ada hukuman nggak perlu pusing, karena hidup toh, tetep nyaman, kan?

Namun, perubahan ini justru memberi ide baru dari pelaku politik. Mereka emang nggak ada matinya! Akhirnya, panggung dagelan politik pun dipersiapkan. Lewat media, lewat parpol, bahkan lewat pemuka-pemuka agama. Karena sekarang zamannya kebebasan, rakyat Indonesia nggak bisa lagi dikontrol dengan kekuasaan absolut dan opresi militer. Sekarang, saatnya menjajah rakyat atas nama moral, HAM, dan yang parah, agama. Tinggal tebar media-media, yellow jurnalism atau media nyeleneh pun nggak masalah, wong bakalan dilahap juga sama rakyat yang lagi kebingungan. Apalagi kalau bawa-bawa nama Tuhan dan surga-neraka, oh, langsung ditelen tanpa dikunyah dulu. Guys, tenang, kita masih dijajah kok, belum sebebas itu. Nggak usah paniklah.

 

Dengan panggung ini sebenernya kita dijajah. Coba perhatikan baik-baik, kalau ada tokoh politik yang maju tanpa manut sama parpol, langsung deh, heboh kemana-mana. Dulu Jokowi, yang walaupun diusung parpol, masih nunjukin keengganannya untuk ngikutin suara parpol (sempet slek sama Megawati awal-awal pemerintahan dia). Sekarang Ahok, yang jelas-jelas bikin gerah parpol. Bahkan, setelah katanya dia mau diusung sama PDI-P, masih aja tuh, dia gerak sendiri. Megawati sampe gerah. Sabar ya, Bu… 😀

Akhirnya, sama juga dengan kejadian Jokowi vs Prabowo, kita dihadapkan dengan Ahok vs Risma. Soalnya, parpol pada ketar-ketir nyari penantang Ahok yang potensial di arena Pilgub DKI. Dan provinsi apa sih, yang biasa menyaingi DKI Jakarta, kalau bukan Surabaya? Dari segi industri, penantang paling baik itu Surabaya. Apalagi, pas tuh, gubernurnya tenar pula. Apa mungkin disiapin jauh-jauh hari? (Nah, mulai kan, bikin isu baru)

Mulailah diadu domba oleh media. Yah, namanya juga media, mereka kan nyari duit juga, the bad news is the good newsas my husband always says. Tinggal edit dikit, bisalah Ahok yang kebiasaan kurang punya filter itu dijelek-jelekin. Biar Risma marah, ceritanya. Ini ya, katanya cewek susah jadi pemimpin, wong digituin dikit aja emosi. Nggak pengen menjunjung tinggi emansipasi wanita juga dalam emosi, Risma?

Ujung-ujungnya kondisi ini jadi kondusif lagi buat manas-manasin rakyat yang udah melek politik, tapi masih rabun soal perbedaan dan kebebasan berpendapat. Apalagi Ahok non-muslim, lengkap sudah pamerannya buat panggung politik baru dengan tema masih seputar 2014. Intinya, buat manas-manasin rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim. Sekarang, perangkat organisasi agama udah dibawa ke kancah politik. Udah dari dulu sih, tapi sekarang perannya jadi makin kuat, kalo belum bisa dibilang nguasain Indonesia.

Dengan kata lain, Indonesia ini lagi dilanda gangguan kecemasan karena kebebasan. Mereka harus punya tanggung jawab atas diri sendiri, atas pilihan sendiri, punya suara sendiri yang harus mereka pertimbangin untuk menentukan arah politik, stressor jadi makin banyak. Di tengah kecemasan ini rakyat jadi rentan, butuh pegangan buat menjaga diri biar nggak jatuh. Mulailah berbagai media berebut, dengan kepentingan uang atau untuk kepentingan kursi, untuk menenangkan orang-orang ini. Soalnya, daripada kenyataan pahit, kayaknya orang-orang lebih masih lebih milih sweet illusion. Karena itu sinetron nggak akan ada matinya. Satu-satunya sarana biar orang bisa tetap terjaga dalam ilusi manis itu. Drama yang wajib hepi ending itu manis banget rasanya di tengah pahitnya kehidupan. Kita seakan-akan diyakinkan oleh seseorang, nggak masalah bersakit-sakit dulu, nanti pasti hepi ending kayak sinetron, kok. Manis, kan?

Tapi, ini kemajuan.

Ya, sejelek-jeleknya, ini kemajuan. Sekarang Indonesia lagi diajarin buat jadi orang bebas, artinya, harus bertanggung jawab untuk diri sendiri. Nggak bisa lagi sembarangan nyalah-nyalahin pemimpin tanpa mau bekerja sama dalam pemerintahan. Biar sekarang media masih menyetir pola pikir banyak orang Indonesia, ini jadi pembelajaran biar mereka makin awas sama media. Orang cemas itu rentan, tapi kalau orang rentan dibohongi berkali-kali, mereka juga bisa jadi waspada. Dan dengan trial and error itu, manusia selalu belajar.

Mudah-mudahan sih, nggak keburu jatuh, baru belajar, ya!