Tag Archives: Puisi

Mirror

You are there
At me lurking as you are
You stay ere
And be standing still more
Part of me you become
Crowning
Past of you I bedone
Casting
Touch you I dare not
Still, to you I long
Oh stain
Grew inside down beneath
Oh disdain
Glow of me beseech
At the far
Clocks tick fast
As they scar
Crowds seek comrades
All but one
You are there
Smirking with lips that are bare
You stay ere
Still you haunt till I scatter
You are none
But me
Depok, 16 December 2017
Advertisements

Indonesian Poetry : “PALU”

Palu

 

Palu itu sudah berkarat

Gaungnya masih nyaring, memang

Pantul-memantul pada sekat-sekat

Gamang meminta arang

 

Palu itu kayu rapuh

Gemilang pada masa rentang

Pandir kala meramu

Gus, memang dia hanya barang

 

Dia, manusia

Menggerakkan, mengelakkan

Dimana palu menggema

 

Dia, manusia

Membuang malu, menggusur nurani

 

 

Dia, manusia

Mendewakan dewa yang telah mati

 

Adil sudah lewat

Zamannya telah lalu

Adil bukan maslahat

Sekadar guyon lucu

 

Selamat jalan

Kusebar permata di setapak ini

Untukmu yang buta akan keseakanan

 

Selamat jalan

Biar mayat-mayat garuda

Terlibas demimu berjaya

 

Depok, Indonesia, 26 November 2017

—————————————————————————————————————————————–

 

So, eventhough I change my language preferences in my site, I always love Indonesian language, duh! I’m from Indonesia, however. Besides, I really want everyone knows about my beautiful language. And it’s only my national language, there are many languages in my country. According one of Indonesian’s news media there are 652 languages, not including a dialect and subdialect of those languages. (the source : Republika : There are 652 Community Languages in Indonesia)

Ethnologue.com has the lists, I don’t even know mostly of them (So ashamed of myself, but it’s many!). You can visit here, if you ever care: Lists of Indonesian language.

Back to my poetry, I will give you in English translation :

 

 

Hammer

 

O Hammer was corroded

Its echo still aloud, indeed

O resounding among dividers

Its nerves shakes up beg for black coals

 

O hammer was tender 

Effervescent at between times

Obtuse at collecting

Childs, indeed he was merely things

They, human

Move, escape

Where he echoed

 

They, human

Move away ashamed, thrown conscience

 

 

They, human

Worship Deity who was perished

 

Justice was gone

The era was ended

Justice salvation no more

The hideous joke now he served

 

Farewell

I spread jewels on this path

For you blinded by the pretence

 

Farewell

Let the remains of Garuda

Forsaken at your triumphant

 

Depok, Indonesia, 26 November 2017

 

Only a little bit explanation. “Gus” is an old word, usually used in Java. And Garuda, I can’t translate that, because it’s the symbol of Indonesia. 🙂

Hope you know a bit of Indonesia know.

 

 

Ratapan Sang Saka

 

Pagiku begitu merah
Merekah menentang siang
Aku berdiri di tiang terpancang
Menunggu
Ia tak kunjung datang
Oh, damaiku

Siangku begitu terik
Menyengat dengan pelik
Aku tetap di sini
Berharap, berharap, berharap
Padanya yang tersenyum
Saling mendekap mesra

Malamku begitu kelam
Menguak tabir seram
Mengapa pula aku di sini?
Malam tak lagi kelam damai
Menyerah ia pada api hati
Membisu terperi

Wahai pujangga merah
Mengapa engkau menggoreskan penamu?
Di hatimu genderang bertalu
Mengibarkan panji perjuangan semu
Tidak adakah aku di hatimu?

Aku mengalir di nadimu
Mebalut belulangmu
Pun aku menyaksikanmu menghancurkannya

 

Catatan penulis :

Ini puisi yang kutulis beberapa tahun lalu, waktu itu demonstrasi anarkis lagi marak-maraknya. Yang mengerikannya, ternyata puisi ini cocok juga disesuaikan dengan kondisi sekarang ini. Walaupun dengan bentuk yang lebih simbolis…

So, jangan bikin bendera kita ternoda, ya… 😉

Democrazy

 

demokrasi
Gambar diambil dari : http://www.mediasiswa.com

 

Kamu benci demokrasi

Kamu panggil dia democrazy

Lalu, kamu berdemonstrasi

Lalu, kamu berdemokrasi

 

Kamu benci demokrasi

Saat butuh, people power beraksi

Kalaulah kamu sadari

Sekata itu terikat kuat pada demokrasi

 

Kamu benci demokrasi

Katamu, tiada hukum agama yang sesuai

Saat politik memanas, dia kamu pakai

Sudah merambahkah realita ke hati?

 

Kamu benci demokrasi

Kamu benci merah-putih

Kamu benci warna-warni

Kamu benci nada sendiri

 

Kamu benci demokrasi

Kamu benci Tuhan bertikai

Kamu benci manusia berdamai

Kamu benci semua sisi

 

Agar kamu bisa bersatu diri

 

 

Depok, 16 Oktober 2016

________________________________________

Catatan penulis :

Dipersembahkan untuk yang suka rame-rame

Bolehlah beropini, asal sehat dan konsisten

Salam damai, semua!

 

Danau Maninjau

lingka_maninjau
gambar diambil dari : genrambai.blogspot.co.id

 

Kalau aku pulang
Masihkah kau menunggu di sana?
Kalau aku pulang
Mudah-mudahan senyum terkembang senada

Di kelok ampek puluah ampek*
Di situ surga yang merayu
Di tepi aspal nan angek*
Di situ surga kan menunggu

Garis cakrawala sempurna
Menaungi bayangan pegunungan
Gemawan bercengkerama dengannya
Merendam kakinya di perairan

Kau tahu
Aku mencintai permata
Yakni ia yang terpantul
Di atas perairan Danau Maninjau

Kau tahu
Aku menyukai emas yang mulia
Yakni ia yang terpantul
Di malam kelam air maninjau

Ia yang tak tergantikan
Ramah menyambut manusia
Ia yang berlimpah ikan
Ramah memberi makan semua

Dan ia terkhianati
Oleh keinginan menyenangkan si buah hati

Kita membeli permata
Kita membeli emas mulia

Tapi

Hilang permata Maninjau
Hilang emas mulia sang danau

Berlimpah kesenangan
Mengusir kebahagiaan
Bias semilir suara angin
Menghilang di balik deru mesin

Danau Maninjau
Di kelok ampek puluah ampek
Dalam semu yang mengigau
Di tengah keseakanan yang merengek

Kalau aku pulang
Akankah kau masih menungguku di sana?

Depok, 15 April 2016