cropped-KIDDY-READER-01.png
This is the logo of my site of hell 😀

I can’t believe that managing one site can be very stressful! But, it definitely makes me learn so many new things. And I think I wanna share it with you, guys! Well, to get one domain isn’t really hard. All you have to do is contact any hosting service that provides domain site. You pay, and there you are! It’s all yours!

I’m blogging for the long time, but I only manage free blog, so I got totally no clue about having a domain and manage them. I once thought that how hard can it be? I bet it’s just the same with managing the free one.

Actually, if you got the same CMS as you do when you free-blogging, it’s not gonna be that different. Unless, in the free-blogging, they already fill your canvas with some automatic facility that you can use automatically (please, I’m such a dork! L.O.L). In your own domain, you are totally got a blank canvas.

Which means good and bad at the same time. Good, you can fill them up with anything you want. Bad, you must carefully choose the facility that you think you need. There is no practical providing anymore!

I feel kinda naive (okay, you can tell me that I’m stupid!) when I think it will go the same exact way. I don’t know whether it applies to any other free-blogs, but in my free blog, there is one plugin installed, which is Jetpack. It kinda smooths my way whenever I’m blogging and I don’t even have to do anything else (I don’t know whether it’s my another naive-power) to spice it up. But, in paid domain, apparently I don’t even have it.

Then, here goes some beginner’s pack that I think we must have. So far, I’ve got few…

1. C-panel

When we pay our domain, of course c-panel comes along with it. What I want to say is we gotta understand about how c-panel works. I have a little silly story. When I got my domain site, I’m confused because nothing comes out. Here’s what it looked like :

Screenshot (41)
When I saw this, my inner thought said, Nooo!!!

It’s a good reason to be panicked, is not? Well, I gotta be honest, I was panicking a little bit and contact the hosting provider right away. Apparently, I must download the CMS first, then set it up. After that, the blank canvas of my domain site opened.

As I got further with my site, I just learned that c-panel is everything. And I think I still learn it about 10% of its performance. Good grieves! Long way to the end of the rainbow!

2. Plugin

Duh! It’s a must-have!

Plugin really simplifies our life as site manager, thanks God for technology. Now, there are generous people (let’s skip the premium facility that drools us, but we gotta pay for it) who even simplify the building of our page. I use Elementor, by the way. It’s not perfect if we’re using the free one, but I think it’s more than enough to make our site looks cool (in my case, look cute). You can do everything with many plugins, but you still have to work to learn it.

It’s alright, we have another technology that full of knowledge. You tube, what else? I mean, it’s video, so you can really look up the tutorial. But, another texting tutorial can be helpful, too. Also, thanks God for bright and generous people.

Screenshot (43)
Here’s the home page of Kiddy Reader. I’m building it with Elementor only.

Not really professional-looking, but I do want it to be homey and childish, so it can be comfort for children who read this site, too. Don’t forget visit my site, okay? Just click here: Kiddy Reader

3.  Contents

When I decided to finally have my own site, I think about some money I must pay. Well, it’s not much, but I can’t just waste money! Besides, I bet people will want to ask some more when they see the site with paid domain, it’s not that it has to be more important than free domain, but who wants to pay some money only to use it carelessly? I won’t, at least! And I don’t want to let anyone down (of course, after I got some traffics :p ), so I already prepared the contents months ahead, so when I already published my site, I will come nice and prepared for at least antother few weeks.

Another reason, because I’m moody and can’t work properly under pressure, so I need to prepare something like contents, so I can update my site every day. Even only one post for one day. I must really work on my mood performance, though! ^^;

Now, where am I? Stuck between two writing media. Only two, and I already fall behind in managing these. I’m definitely gonna work this somehow, hope I can gain more traffic than today.

Thanks to all of you who are willingly to follow me and to all of you who are willingly to read my blog! You’re the best!

p.s. I really need anyone who reads it can leave comment of anything else that we must understand when we begin our life as a site manager, I’m not even sure I got any term that I mentioned earlier is the right term. Oh, well! 😀

 

Advertisements

Mendeskripsikan Aroma yang Membangkitkan Emosi (2)

Lanjutan dari artikel beberapa hari yang lalu; Mendeskripsikan Aroma yang Membangkitkan Emosi

Menyontek dari wikihow tentang cara mendeskripsikan aroma dan menambal-sulam dari pengalaman sendiri, akhirnya ada beberapa hal yang kudapat, setidaknya dari diri sendiri, bukan secara saintifik, tentang bagaimana mendeskripsikan aroma. Kita butuh ini, karena aroma selalu membuat emosi terjentik dengan mudah.

Membangun Indera-indera yang Lain

 

Dalam bahasa Indonesia, ternyata kutemukan istilah-istilah untuk mendeskripsikan aroma jauh lebih banyak daripada bahasa Inggris. Kemudiannya, aku tahu kalau kekayaan bahasa Indonesia juga dipengaruhi oleh kekayaan bahasa daerah di sini. Contohnya saja, istilah sengit, yang mendefinisikan aroma terbakar atau yang biasanya dikeluarkan serangga, berasal dari bahasa Jawa. Lainnya? Terlalu panjang kalau dideskripsikan di sini.

Jadi, sebenarnya akan lebih mudah untuk mendeskripsikan aroma dalam bahasa Indonesia. Itulah keindahan bahasa nasional kita 😉

Bagaimanapun, untuk semakin mempercantik kalimat, satu kata saja tidak cukup. Kita bisa menggunakan kata harum untuk sebuah bunga, tapi harum seperti apa? Aroma mawar dan aroma melati bisa dikatakan sangat jauh berbeda. Kalau aku mencoba mendeskripsikan dengan lebih jauh, aroma mawar menyentuh indera penciuman kita dengan lebih lembut dan mengawang. Bandingkan dengan keharuman aroma melati yang menyengat, menusuk indera penciuman dengan aroma yang lebih tajam.

Di sini, aku menggunakan kata-kata semacam lembut dan tajam. Keduanya sebenarnya lebih tepat digunakan untuk indera peraba yang adanya di kulit. Ini yang kumaksudkan dengan membangun indera-indera yang lain.

Yang pasti, penggunaan indera ini lebih untuk analogi, daripada menjelaskan aroma dengan konkrit. Ya, analogi yang lain-lain juga,  sih. Misalnya lagi,

Bunga itu berwarna kekuningan dengan aroma yang membangkitkan kehangatan pagi hari, pun sesegar berkas matahari yang masih bersinar malu-malu.

Pada kalimat di atas, aku mencoba mendeskripsikan aroma dengan menggunakan indera penglihatan, tanpa melupakan kata-kata kunci yang menggambarkan aroma. Seperti “sesegar” yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan aroma.

Yang paling sering kulakukan juga adalah menggunakan indera pencecap alias lidah, seperti aroma yang manis, kecut, atau sebagainya. Entah kenapa hal ini lebih mudah untuk dibayangkan daripada aroma yang sifatnya mengawang-ngawang. Kenapa, ya?

Membandingkan Aroma dengan Situasi Lain

 

Menganalogikan aroma dengan situasi lain juga bisa memperkaya deskripsi kita dalam menggambarkan aroma. Seperti contoh sebelumnya, aku membandingkan aroma dengan kehangatan cahaya matahari pagi dan berkas sinarnya. Ini juga analogi dalam situasi yang lain.

Sebelumnya, aku sudah memberitahukan kalau aku menyukai aroma selepas hujan, dengan aroma kayu dan rumput yang lembab, tapi aku sendiri selalu menemui kesulitan untuk menyampaikan aroma yang kupersepsikan dengan persis apa yang aku dapatkan sendiri. Namun, memang untuk mendeskripsikan aroma bukan sekadar untuk menyamakan persepsi atau membuat orang lain berpikir seperti yang kita mau. Dalam mendeskripsikan aroma, terutama dalam tulisan fiksi, itu artinya mencoba membangkitkan emosi dengan cara yang lebih unik.

Dalam hal ini, hujan tentu selalu membawa kenangan, siapapun akan berpikiran sama. Hujan selalu ada, dan memberi kesan lebih mendalam dengan suasana yang dingin dan sejuk. Semua orang akan memikirkan kenang-kenangan masa lalu terkait dengan hujan.

Kita bisa bermain kata di sini, dengan mendeskripsikan aroma hujan dengan kenangan semasa kecil, karena siapapun pernah bermain hujan ketika kecil. Misal,

Aroma hujan menarik ia ke masa lalu, di mana ia kecil tak berdaya, tapi tak ada beban yang dipikul. Aroma kenangan seperti kaki-kaki kecil yang menghempas-hempas kubangan air yang tiba-tiba saja muncul.

Saat aku mendeskripsikan ini, dengan segera aku kembali ke masa kecil, ketika aku berani berbasah-basah tanpa mencemaskan macam-macam. Bagaimana dengan aku yang sekarang, sepatu basah saja aku bisa merasa kesal. Boring adult hehe…

Bisa juga mendeskripsikan dengan sesuatu yang menyebalkan. Misal,

Aroma itu busuk dan berbau tidak enak, seperti tempat pembuangan sampah dengan banyak belatung di tengahnya.

Weew, lebih baik kalimat di atas ini dijadikan bagian dari cerita thriller, ya, jangan romance, hehe…

Analogi dengan Aroma Lain

 

Sebenarnya, ini cara mendeskripsikan aroma yang paling tidak memuaskan menurutku. Masalahnya, ini hanya akan merambat kepada pikiran-pikiran lain tentang bagaimana lanjutan mendeskripsikan kata yang kita pakai untuk menganalogikan satu aroma. Rasanya dia hanya jadi aroma di atas aroma.

Misal, aroma ruangan itu menebarkan aroma bunga. Nah? Aroma bunga yang seperti apa? Jadinya, aku merasa kurang puas. Tapi, tentu saja, daripada meninggalkan ketidakpuasan seperti itu, aku bisa juga mengembangkannya dengan cara mendeskripsikan aroma yang lain. Misalnya dengan menambahkan;

 

Mengingatkannya akan sejuknya embun pagi hari yang mengitari taman yang sepi,

atau

 

Membangkitkan kenangannya akan kampung halaman yang penuh dengan bunga-bunga tropis.

Yang pasti, tentunya kita harus menggunakan perbandingan dari dua benda yang sangat berbeda. Maksudnya, tidak mungkin menganalogikan aroma bunga yang satu dengan bunga yang lain, kan? Rasanya jadi tidak masuk akal dan memang hampir tidak mungkin membandingkan aroma objek yang sama, karena biasanya memang mereka pastinya memiliki aroma yang berbeda. Misalkan,

 

Aroma tubuhnya sesegar lavender yang bercumbu dengan embun pagi hari.

 

Atau yang paling sederhana dan terlalu jelas untuk dideskripsikan, bunga bangkai yang mirip dengan bau bangkai atau kotoran. Haha, rasanya tidak perlu lagi dijadikan contoh.

Mendeskripsikan Aroma seperti Pelaku

Kita mungkin sering mendengar bagaimana nyiur melambai, angin berhembus, majas yang kuingat sebagai majas personifikasi, dimana kita memposisikan benda mati seperti benda hidup. Karena yang biasanya melambai adalah tangan manusia, kan? Atau, yang kekerabatannya dekat dengan kita, seperti hewan primata lah.

Lantas, kenapa tidak kita coba dengan aroma? Kita bisa personifikasikan aroma dan membuatnya seperti kanak-kanak yang nakal, atau orang dewasa dengan pendirian yang kaku dan dingin. Dia bisa melambai, menggelitik, atau yang lain-lain. Aku paling suka penggambaran aroma seperti ini. Tidak hanya aroma, aku paling suka menggambarkan majas personifikasi dalam hal apapun. Misal,

 

Aroma bensin itu menguar kuat, melompat-lompat di indera penciumannya, mengganggu dan mengolok-oloknya.

Di sini, aroma bertingkah seperti anak-anak iseng yang riuh-rendah suka mengolok-olok. Ini membuat kita merasa lebih dekat dengan aroma, bukan? Walaupun, aroma itu tidak tergambar secara konkrit, tapi emosi yang didapat dari aroma itu cukup jelas.

Apa lagi, ya? Mungkin;

Aroma pantai itu membelai hidungnya dengan lembut, membisikkan kata-kata yang melepasnya untuk terlelap.

Sejauh ini, hanya beberapa poin di atas yang aku temukan. Mungkin ada lagi yang lebih menarik kalau dibahas lebih lanjut atau ada cara-cara mendeskripsikan aroma yang lebih unik. Kalau memang ada yang lain lagi terbersit di pikiran, nanti aku update lagi.

Akhir kata, kalau contoh-contohnya agak mirip dengan wikihow, mohon dimaklumi, karena memang inspirasinya datang dari sana. Tapi, masalah-masalah begini lebih enak didiskusikan, karena ini murni opini yang tidak ada dasar keilmuannya. Mudah-mudahan ada lulusan sarjana bahasa Indonesia atau Sastra Indonesia yang mampir untuk mendefinisikan keilmuannya. Atau, siapa saja juga boleh diskusi dengan meninggalkan komentar. Ditunggu, ya 😉

 

Ini artikel lengkap dari wikihow tentang bagaimana mendeskripsikan aroma (Sayang, dalam bahasa Indonesia aku belum menemukan); Describe a Smell by WikiHow

Bhasmī Bhūta

Kamera beralih ke reporter yang menyatakan keraguannya akan kesaksian anak muda tersebut. Bagaimanapun, polisi telah meninjau lokasi dan terbukti dia bukan si pengemudi. Kamera sekarang menyorot salah satu petugas polisi yang datang meninjau lokasi kecelakaan. Gadis itu mengedikkan bahu tak tertarik, lalu melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk membuat kopi, santapan pagi harinya.

Menyeruput kopinya, dia menatap lukisan kelabu yang berada di studio kecilnya yang sebenarnya berstatus gudang yang disulap oleh Sekar. Dia adalah penganut realis, mengagumi pola gerakan manusia, membekukannya dalam lukisan. Maka, dirinya sendiri menganggap cukup aneh apabila tiba-tiba saja dia tertarik untuk menggali tentang aliran romantisisme. Apakah dia jenuh dengan lukisan dengan tema yang sama, entahlah. Sketsa kasar itu baru selesai dibuatnya dari pensil. Suasananya muram, suram. Angker, pun sepi. Entah apa yang merasuki dirinya kali ini, melukis sesuatu yang tidak biasanya ia lukis. Dia menghela nafas. Lukisan ini apakah juga akan gagal? Setidaknya, di mata dosennya yang terlalu selektif itu?

 

“Sekar. Lukisan lu itu seringkali tidak berjiwa. Gak ada luapan emosi di dalamnya. Coba lebih berani menghidupkan warna-warna di dalamnya, coba eksplorasi tema lukisan lo lebih dalam.”

Sekar menunduk, tidak memercayai pendengarannya sendiri. Sedari pagi dia telah mengagumi hasil karyanya sendiri. Dia puas. Ya, dia teramat puas, menganggap lukisan itu adalah masterpiecenya. Namun, ternyata dosennya yang berpengalaman puluhan tahun menganggap karyanya itu tidak seberapa.

“Gue denger lu mau ngadain pameran?”

“Lagi coba bicara sama sponsornya, Pak.” Sekar menahan diri untuk tidak menghela nafas penat di hadapan dosennya. Kelemahan hanya memicu semangat pria berambut putih berekor kuda itu untuk menyepak Sekar ke jurang keputusasaan lebih jauh.

“Lu belom siap! Gini, gua jujur udah bosen ngomong berulang-ulang sama lu. Eksplorasi, coba, gali terus potensi lu. Jangan terpaku pada bentuk yang udah ada. Jangan terpaku pada minat lu aja, itu artinya membatasi diri. Gua bisa ngerasain ketakutan di lukisan lu. Takut keluar dari kotak lu itu. Pokoknya, jangan temui gua lagi kalo lukisan lu belom bener-bener bebas dari ketakutan dan batasan-batasan itu!”

Sampai kapan? Bagaimana dia bisa tahu bahwa lukisannya telah menampilkan warna yang berbeda, yang lebih berani? Sejauh ini, dia selalu menggunakan berbagai macam warna, tidak terfokus pada satu warna. Maka, dia sama sekali tidak memahami pola pikir dosennya yang menganggap warna yang digunakannya tidak meluapkan emosi jiwanya? Sekar menunduk, menghela nafas. Tangannya yang memegang kuas bergetar. Jari-jemarinya terlalu kotor oleh campuran warna cat-cat yang selalu singgah, begitu cepat, tapi begitu enggan untuk pergi. Lukisan ini. Apakah dia sedang mencoba bereksplorasi? Tiba-tiba perasaan ragu menyelimutinya kembali. Akankah dia menyelesaikan lukisan yang tidak sesuai dengan gayanya ini?

Kuasnya lalu bergerak, memilih cat akrilik warna hijau tua, mencampurnya dengan warna hijau muda sedikit, juga sedikit warna cokelat muda. Dia terus mencampur hingga tercipta satu warna hijau lumut yang sempurna. Dia menggoreskan kuas berujung lebar, menciptakan warna latar belakang untuk lukisannya.

“Kar!”

Sekar tersentak saat seorang wanita yang kurang-lebih berusia sebaya dengannya telah muncul di depan pintu studionya yang terbuka. Wanita itu berkulit mulus, tiada satu tahi lalat pun yang menyambangi kulitnya, membuatnya bagai pualam berwarna mutiara. Kecantikannya selalu membuat gelisah para pria, keanggunannya melumatkan hati kaum Adam. Tinggallah kaum Hawa mengimpi dan mengiri padanya.

“Bano? Kok lo di sini?”

“Kok pintu lo biarin kebuka gitu aja, sih?”

“Ya, emang kenapa? Gak ada juga peralatan yang bisa dicuri di sini.”

Wanita muda yang baru saja berbicara melalui ponsel dengannya itu, bergerak mendekat. Sambil tetap berdiri, dia memperhatikan sketsa yang kini telah dihiasi sapuan kasar hijau lumut. “Lo tumben bikin lukisan suram gini?”

“Iya, gue pake satu tone warna, hijau, semua didominasi warna hijau, bahkan langitnya memantulkan warna hijau itu, nanti paling gue maenin gradasinya. Kali ini gue mau coba romantisisme, kayak Raden Saleh. Gimana menurut lo?” Gadis itu mengangkat alisnya dengan mata bersinar antusias. Temannya yang ditanyai hanya mengangkat bahu.

Jari lentik berkuku panjang terawat itu terangkat, hampir menyentuh permukaan kanvas, mengikuti garis sketsa yang belum tersentuh cat. Matanya menerawang, mungkin membayangkan pemandangan itu terpampang memenuhi pandangnya.

“Hebat. Ada kekuatan magis di dalamnya,” sahutnya dengan nada misterius. Sekar mendengus geli, ketidakpercayaan mewarnai matanya yang mengejek.

“Apaan sih, lo!” tukasnya. Dia kembali menjawil campuran cat yang menempel di palet dengan ujung kuasnya itu.

“Lho? Kok lo gak percaya, sih?” Dia berkacak pinggang, menonjolkan lekuk dadanya yang menjulang sempurna. Sekar menatap wanita yang kini berdiri di sampingnya itu. Bagi Sekar, dia adalah wanita sempurna. Sosok tubuhnya, kecantikannya, struktur tulang, hingga…pikiran itu terhenti. Dia tidak berminat membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan wanita lain, terutama temannya sendiri. Layaknya masing-masing karya memiliki jiwanya sendiri, kecantikan pun punya keunikannya sendiri.

“Ceritanya ini adalah sebuah sumur di antara semak belukar yang indah. Sendirian, berteman dengan makhluk-makhluk tak bernama, tak berwujud…”

 

…bersambung…

Bhasmī Bhūta

“Hhhhh!” Dada Sekar tertarik ke atas, begitu sulit dia mengambil nafas kehidupannya sendiri. Matanya terbeliak, menatap langit-langit kamarnya yang diwarnai oleh rona biasan matahari yang menembusi kaca jendelanya.

Nafas gadis berkulit kecokelatan itu terengah-engah, dia sendiri tidak menyadari kenapa. Hanya saja, ada ketakutan teramat sangat, kepedihan yang tak terkatakan. Memenuhi sanubarinya, menyesakkan. Seakan dadanya telah terhimpit beban yang terlalu berat. Baru disadarinya, peluh telah membentuk sebuah noda kelabu besar pada permukaan alas kasurnya. Begitu basah, seakan cairan itu menetes dari setiap lubang pori-pori kulitnya sepanjang malam tiada henti. Tidak sekali ini pula.

Dia menggolekkan tubuhnya, hingga menjauhi area basah pada kasurnya itu. Mengingat-ingat apa yang dimimpikannya tadi malam, dia menutup matanya. Sekar masih tidak mampu mengingat sejengkal pun kisah dalam mimpinya. Namun, dia yakin ada beberapa orang pria dan seorang wanita. Apa yang mereka lakukan? Di mana?

Lamunannya bagaikan benang kusut, yang terpilin-pilin membentuk simpul mati. Sangat sulit untuk memunculkan gambaran mimpinya lagi. Akhirnya dia menyerah dan turun setengah hati dari kasurnya, lalu menghampiri jendela di ruang tamunya.

Dia mengamati bagaimana matahari pagi menyapa dengan malu-malu, mempersembahkan belai kasihnya kepada manusia yang dirundung berbagai masalah pagi itu. Beberapa tentulah mengumpat di tengah-tengah kerumunan sesamanya di angkutan umum. Beberapa berlari terseok-seok, menyadari dirinya telah terlambat untuk memenuhi komitmen yang telah dibuatnya dengan perusahaan tempatnya bekerja. Di antara semua itu, hanya Sekar yang dengan perlahan membuka jendela kamarnya, menyambut kehangatan yang ditawarkan sang dewa cahaya tersebut.

Jeritan lengking pelan menyadarkannya. Gadis berambut ikal itu terburu-buru berlari-lari kecil ke arah dapur. Dia mematikan kompor gas dan mengangkat teko kecil itu. Kopi yang diseduhnya menguarkan aroma harum semerbak, serta kehangatan uap yang mengepul-ngepul dari atas permukaannya.

Rumahnya itu kecil-mungil, tetapi begitu nyaman. Tempatnya tidak jauh dari pusat kota, yang berarti lokasi yang strategis, tetapi juga tidak ikut campur dalam kehirukpikukan kota metropolitan jakarta itu. Dari balik jendela, dia mengamati tetangganya yang berjalan terburu-buru. Ada pula yang berdaster dan berkain untuk menopang bobot anaknya sambil menimang-nimang, terus membujuk anaknya yang enggan untuk melahap sarapannya.

Dia meletakkan kopinya di atas meja pendek di ruang tamunya, lalu membuka pintunya lebar-lebar.

“Dita,” sapanya, lebih memanggil nama anaknya daripada ibunya. Entahlah, para ibu-ibu lebih suka disapa dengan nama anaknya ketimbang namanya sendiri.

“Tante Sekar,” balas si ibu yang rambutnya masih dihiasi rol-rol rambut yang bergelung-gelung, sambil menatap anaknya dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Sekar. Anak yang dipanggil hanya menoleh dengan tatapan kosong tak berminat, lalu kembali membuang muka ke arah lain.

“Itu ada tante Sekar,” sapa seorang ibu yang lain, dengan penampilan yang jauh berbeda. Ibu yang satu ini lebih suka berpakaian modis, dengan gaun terusan selutut yang mengikuti model terkini, dengan tatanan rambut sederhana, hanya diikat menyatu ke belakang. Dia sedang menemani anaknya yang baru saja belajar jalan, masih terseok-seok mengkhawatirkan.

“Tante Sekar kapan ngelukis aku?” tanya ibu itu dengan nada bermanis-manis, mencoba menirukan tingkah anak-anak. Sekar tertawa pelan.

“Ayooo, Sintanya bisa diem bentar, gak?” balas Sekar dengan nada yang kurang-lebih sama.

“Walah, mana bisa tante…” Tak tahulah, mengapa mereka selalu menerjemahkan dengan sembarangan apa yang ada di pikiran si anak. “Ya udah deh, nanti ya, kalo Sinta udah gedean dikit. Udah bisa disuruh diem.” Wanita itu terkekeh geli, entah apa yang lucu. Sekar hanya tersenyum. Selalu saja seperti ini setiap hari, para ibu yang menemani anaknya berjalan-jalan atau menyuapi atau mengantar anaknya ke sekolah. Namun, justru pemandangan inilah yang selalu membangkitkan inspirasinya dalam melukis. Sederhana, realistis, namun memberikan kesan yang mendalam.

Gadis berparas manis ini telah beberapa tahun menjalani hidupnya sebagai pelukis selepas dia menjalani upacara wisuda dari akademi seninya. Dia memilih untuk melukis lepas seperti ini, sambil berharap suatu hari dia dapat memperoleh koneksi pada sponsor pameran lukisannya sendiri. Rasa-rasanya impian itu makin menjauh. Sekar menghela nafas.

Sebelum meneruskan rutinitasnya, dia memutuskan untuk menyetel televisi berukuran 14 inch itu. Tayangan infomersial menyerbunya dengan berbagai berita tentang perceraian dan perseteruan antar aktris Indonesia. Ah, kayak gak ada acara yang lebih bagus aja! tukasnya dalam hati sambil mengganti salurannya.

“Sebuah mobil telah menabrak tiga orang di kawasan Sarinah pada pukul 02.45 pagi tadi…” Sekar mengernyitkan dahi, menaikkan volume suaranya. Para wartawan mengelilingi lokasi kejadian yang masih dipenuhi dengan pecahan kaca mobil. Mobil yang dianggap bersalah pun masih tergeletak dalam keadaan miring dengan sejumlah penyok di body­-nya. Sekar menyeringai jijik, terutama saat diberitakan bahwa pengemudinya dalam kondisi mabuk berat.

“Umur 19 tahun?!” bisik Sekar terperangah. Baginya yang telah mencapai usia ke-23, rasanya mereka masih anak-anak. Dan hidup mereka akan berubah haluan karena sebotol minuman yang tak berdaya. Sekar sama sekali tidak menyukai minuman pahit itu, walaupun dia telah mencobanya beberapa kali.

Seorang pemuda yang tampaknya terlibat, diwawancara di kantor polisi. Wajahnya bahkan tidak disamarkan. Dia menjawab dengan sengit,

“Saya gak tau. Saya sama sekali gak minum dan gak ikut mereka. Saya inget jam 12 lewat saya udah keluar dari diskotik. Gak nyentuh minuman sama sekali,” tegasnya kesal. Menjawab rentetan pertanyaan dari wartawan, dia hanya mendesah, “abis itu saya gak inget apa-apa lagi. Yang saya tau, saya udah di lokasi kecelakaan pagi ini.”

Gadis itu mengernyit mendengar kesaksian yang aneh itu. Yah, mungkin sekali kepalanya telah terbentur dan dia melupakan sebagian ingatannya tentang malam itu. Atau mungkin memang dia mabuk hingga kehilangan kesadaran, tapi dia tidak mau mengakuinya. Memang masih tabu di Indonesia.

 

 

…bersambung…

 

(baca sebelumnya di sini : Bhasmī Bhūta)

Mendeskripsikan Aroma yang Membangkitkan Emosi

Sekarang aku menulis dalam bahasa Indonesia. Kenapa? Waktu aku browsing google, aku kesulitan menemukan situs Indonesia yang membahas tentang cara mendeskripsikan aroma lewat kata-kata, kebanyakan malah bicara parfum. Sebenarnya, situs-situs parfum itu mungkin membantu dalam menemukan beberapa kata, tapi tidak sepenuhnya bisa membantu untuk mendeskripsikan aroma dalam kisah fiksi yang bisa sangat membantu dalam membangkitkan emosi pembaca.

Secara saintifik, aku tidak punya sumber. Namun, aku ingin mengeksplor banyak hal dari deskripsi aroma sebagai pelengkap setting kisah fiksi.

Novel yang aku tahu bicara tentang aroma secara mendalam adalah Perfume dari Patrick Süskind, dimana tokohnya mengenal dunia hanya lewat aroma. Ulasan lengkapnya di sini : Perfume .

Salah satu deskripsi aroma yang aku ingat dari buku ini adalah aroma manusia yang seperti keju asam. Analogi yang bagus.

Kenapa sulit sekali mendeskripsikan aroma? Karena aroma tidak berbuat apapun. Ia tidak berhembus seperti angin, ia tidak melambai seperti nyiur, ia tidak menari seperti api, aroma hanya sensasi yang tertangkap oleh hidung.

Memang ada beberapa aroma yang bisa dideskripsikan dengan gamblang. Busuk, pesing, apak, harum, segar, sengit. Belum-belum aku sudah pusing mencari yang lain selain enam ini. Kalau sudah begini, aku jadi salut dengan bahasa daerah yang biasanya lebih kaya dalam mendeskripsikan sesuatu, termasuk aroma.

Sebutan bau-bauan dalam bahasa Sunda :

Bau : bau bangkai

Hangit : bau benda terbakar

Hangru : bau darah

Hangseur : bau air seni

Hanyir : bau ikan (anyir)

Hapeuk : bau pakaian kotor/belum dicuci

Haseum : bau kotoran kucing/keringat

Penghar : bau jengkol/obat-obatan yang mengandung bahan kimia

Segak : bau tembakau/air tapai

Seungit : bau bunga/parfum

(sumber : wisatabdg.com)

Ini cuma dalam Bahasa Sunda, belum lagi dari bahasa daerah lain.

Masalahnya, dalam kisah fiksi, terutama novel yang membutuhkan setting lebih lengkap, penggambaran aroma ini akan membuat isi novel lebih kaya dan menarik. Semakin membuat pembaca mendalami emosi setiap karakternya, karena aroma biasanya membuat kita lebih mudah menginsafi segala hal.

Contoh sederhana, makanan. Makanan yang berbau sedap akan menggugah selera daripada yang berbau tidak sedap ataupun tidak berbau.

Satu hal yang aku pelajari dalam mendeskripsikan aroma, tentunya selain hanya menyebutnya kata-kata sifat yang sebelumnya kusebutkan, adalah menggunakan analogi seperti dalam novel “Perfume.”

Dan untuk menambah ide, aku juga membaca artikel ini : Wikihow : Describe a Smell.

Oke, ada masalah dengan koneksi internet, jadi aku akan lanjut pada posting berikutnya. Nanti mari kita sharing ide masing-masing, karena butuh banyak putar otak untuk mendeskripsikan aroma.

…tunggu…

Bhasmī Bhūta

BAB I

KECANTIKAN DINI HARI

Hingar-bingar musik dari Disc Jockey menghentak ke seluruh ruangan, menulikan telinga setiap pengunjung. Namun, mereka tak peduli dan menggerakkan tubuh seirama dengan musik techno yang disajikan. Seorang pemuda, membawa dua gelas beserta sebotol minuman keras, menyelinap di antara orang-orang yang berdansa hingga lupa diri. Seorang gadis tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya saat melihat pemuda itu mendekati mereka.

“Makasih, Arya…” Tanpa ragu, gadis berpakaian dress yang sangat minim itu mencium kedua pipinya. Dia sendiri sama sekali tidak terkejut, begitulah gaya hidup yang selama ini dijalaninya.

Pemuda bernama Arya itu menghampiri temannya yang berada di sisi lain. “Sob, gue pulang, ya!” Dia terpaksa menaikkan nada suaranya hingga ke oktaf tertinggi yang dia bisa agar temannya bisa mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya.

“Plis, deh! Masih sore!” Temannya itu balas berteriak. “Udah kita habisin ini dulu aja, deh!” serunya lagi, sambil mengangkat botol itu.

Arya menggeleng. “Gak bisa! Gue mesti nyetir!”

“Sama, kali!!!” Pemuda itu tertawa, entah apa yang lucu dengan kata-katanya. Arya langsung dapat menebak bahwa pemuda itu mabuk.

“Gila, lo!!! Parah! Udah, gue pulang, ya!”

“Yaaa, Arya!!!” kali ini gadis berpakaian minim itu yang berteriak memelas. Dia bergegas melompat ke arah Arya. Pemuda itu takjub dengan gerakannya yang gesit, mengingat hak sepatu yang dia pakai mungkin mencapai 10 cm. “Di sini dulu aja!!! Kita turun, yuk!”

Gadis itu kini menggamit lengan Arya, yang menghela nafas putus asa melihat kelakuan teman-temannya. Dia tersentak saat jari gadis itu telah menyusuri dadanya hingga ke perut bawahnya.

Nice try, Yola!” seru Arya mencibir. Gadis itu tak menjawab melainkan memandang Arya dengan tatapan menggoda dan mulai menggerakkan tubuhnya tanpa jarak dengan Arya. Pemuda itu terpana, ada sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya, hampir membuatnya tak sadar ingin merengkuh gadis itu ke pelukannya. Saat dia menatap balik gadis itu, dia tersentak.

“Udah, gue pergi!” Dia mendorong tubuh teman perempuannya itu dengan sedikit kasar. Sensasi memabukkan itu telah mempengaruhi sistem saraf pusatnya. Dia harus menolak dengan tegas, atau terjebak dalam permainan mereka.

Arya berbalik, kembali menyelinap di antara puluhan tubuh pria dan wanita yang hampir tidak berjeda. Namun, dia masih dapat mendengar sayup jeritan teman perempuannya itu dan seruan cemoohan dari teman lelakinya. Arya hanya dapat tersenyum sambil menggelengkan kepala.

God, she’s hot!” gumam Arya, sedikit menyesalkan kesempatan baik itu. Dia tersenyum menyapa pria berotot yang menjaga pintu diskotik itu. Angin malam menerpanya, dia bergidik. Biasanya Jakarta tidak sedingin itu, bahkan waktu malam. Dia langsung menyesali keputusannya untuk tidak membawa jaket. Telinganya rasanya langsung menuli begitu dia keluar bar. Senyap menyergapnya seketika, hanya ditingkahi deru mobil yang melesat menembus kepekatan malam.

Matanya kemudian tertumbuk pada satu sosok wanita bersanggul, yang juga menyadari kehadirannya. Dalam kegelapan kedua pasang mata itu bertemu. Arya merasa dia terikat oleh mata itu. Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuat Arya melangkahkan kakinya, menjauh dari mobil. Dia begitu cantik, dengan kulit putih pucat yang begitu kontras dengan long coat selututnya. Gadis itu menggerakkan bibirnya, tapi jarak antara mereka membuat Arya tak dapat mendengar apapun.

Arya membelalakkan matanya, terkesiap saat tubuhnya terhentak ke belakang. Dia merasakan sesuatu ditarik keluar dari tubuhnya. Setelah itu, semua menjadi gelap.

 

…bersambung…

Bhasmī Bhūta

Sesuai dengan petunjuk dayang wanita itu, Kertajaya kembali ke wismanya sebelum Maghrib tiba. Dayang lelaki yang berjumlah lima orang itu tinggal empat saja yang menjagai wismanya.

“Kemana satu lagi?”

“Kurang tahu, Gusti Paduka,” jawab salah satunya. Kertajaya mendengus kesal, berniat akan menjatuhkan hukuman sekembalinya dayang yang tidak patuh itu.

“Baik, kita berangkat.” Hanya dengan berbekal kedua pasang kaki mereka, mereka berangkat menuju sumur tempat pemasungan tersebut. Kertajaya memilih jalan yang tersembunyi, bebas dari penglihatan pengawal kerajaan. Begitu ada pengawal lewat, mereka bersembunyi di belakang bangunan istana. Maghrib mulai tiba, Kertajaya memberikan isyarat untuk mempercepat langkah mereka. Mereka pun sampai ke sumur tersebut.

Baru saja Kertajaya mendekat, sebuah tombak panjang telah terhunus di depan dadanya. Seorang pengawal menghalangi geraknya. “Kau!” raung Kertajaya murka. “Beraninya kau!”

“Atas perintahku!” sahut sebuah suara yang berat. Suara yang sangat dikenalnya. Ayahandanya telah keluar dari balik kegelapan pepohonan yang rimbun. Menatapnya dingin. Dia menghaturkan sembah.

“Ayahanda!” sahutnya, terkejut. Bagaimana ayahnya bisa mengetahui rencananya?

“Apa yang kau lakukan di sini?!”

“Kenapa ayahanda ada di sini?” sahut pria itu dengan waspada. “Dayang itu!?” seru Kertajaya menyadari ketidakhadirannya adalah petaka bagi mereka.

“Ya! Dia adalah mata-mataku! Tak suka kau?!” bentak Dharmawongso II dengan suara menggelegar.

“Ampun, Ayahanda!”

“Aku sudah duga kau akan melakukan ini. Kau mengecewakanku!!! Balik kau!!!”

“Tolonglah, ayahanda! Dia kakandaku dan ibundaku yang menimangku semasa kecil!” mohon Kertajaya mengembik di bawah kaki ayahandanya.

“Kembali ke wismamu!” sahutnya tegas. “Aku ampuni kau sekali ini! Tapi, sekali lagi kau coba dekati mereka, aku tidak akan segan memenggalmu! Kau tahu, pengawal jauh lebih memercayaiku dibanding kau, raja sehari! Kembali kau dan para dayang edanmu itu!” seru Dharmawongso II menggertak Kertajaya. Sekalipun merasa terhina, Kertajaya beserta para dayang lelakinya berbalik, tidak berdaya di bawah ancaman tombak dari pengawalnya sendiri.

“Kakanda, Ibunda, maafkan aku yang tidak berdaya ini,” bisiknya, menengadah kepada cahaya bulan. Dia mengirimkan berbagai doa kepada mereka berdua, sadar penjagaan akan diperketat dan dia tidak akan bergerak bebas di negeri yang dipimpinnya sendiri.

Satria dan ibundanya tidak pernah mengetahui adegan yang terjadi di atas sana. Sumur itu terlalu jauh dari atas tanah sehingga hiruk-pikuk di atas hanya terdengar samar. Mata pria itu berkilat oleh amarah. Bayangan Kertajaya dan Ayahandanya berputar-putar, seolah mengejeknya bertubi-tubi dalam kepalanya.

Satria meraba ke dalam ikat pinggangnya, sebuah batu kecil yang berwarna hitam-kelam keluar dari padanya. Dia mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya. Mahapatih yang putus asa itu menghela nafas. Ini adalah saatnya, sekarang atau tidak sama sekali. Dia mengatupkan kedua tangannya, mengapit batu kecil itu. Mulutnya membuka perlahan,

“Wahai Dewa Syiwa, engkau sang pemusnah. Jatuhkan angkaramu bagi Raja Kerajaan Kediri beserta seluruh isi-penghuninya. Kejatuhan bagi engkau dan seluruh keturunanmu tiada henti, tiada kebahagiaan diperuntukkan bagimu. Bhasmī Bhūta[1]!!!

[1] “Hancur hingga menjadi abu” dalam bahasa sansekerta

 

…bersambung…

 

 

Looking Back

Been only two days.

Time, I talk many times about time. My mysterious fellow, unforgiving-straightforward foe. How do you live knowing you never stop even to glance at another things around you, huh, time?

I’m so different from you. I looked back a lot, of course, I never stayed in those shadows that cannot be touched anymore. But, I love rowing back on the river of past, just to have fun, or analyzing lesson I knew I’d learned.

The year of 2017 had been great! Surely I faced the ups and downs, we’re talking about bipolar tendency here, the personality that can’t be consistent. I’ve struggled a lot about this, but 2017 present all better for me. I mean, that’s the only way you can survive in all uncertainties, just be positive and, sometime, forgive yourself.

What I mean with forgive yourself is evaluating the bad decisions that you made, and turn it into the good one. How you can turn those over? By being better everyday and make it a lesson.

Like what I did during 2017 with this blog, I’ve been very inconsistent in writing here. But, instead of regretting that, I chose the other way. Instead of letting my blog empty because I don’t have any inspiration for assembling the stories yet, I put some random thoughts like this and posting my finished work.

Ah, I’m rambling! Please share with me what lesson you learned during 2017, and we can discuss it together! 😉

Happy New Year and Happy Everywhere, Everywhen

 

Cikarang
The street in Cikarang, West Java, Indonesia, after a new year celebration. Many cars pass by, but not at heavy traffic. No more fireworks. No wonder, it’s like the edge of the urban life that are in his way to be a developing city.

 

Happy new year!

Why happy? We can start a very lousy or miserable new year, but everyone chose the words.

A simple reason we all, I’m sure, already know, but maybe already forget why. I just read something stunning about our body. Dopamine. A neurotransmitter who makes us happy, in short.

No worries! I won’t make you bored with Dopamine 101 or whatsoever, just want to let you know that everyday situation we already used to, doesn’t release dopamine again.

Why, of course, you might think! But, the problem is the water from our faucet at home can cause of dopamine release on some people who might not have the easy way as we do everyday.

Like, Palestine which the clean water supply has been cut out by Israel, will be very happy when clean water come out from their faucets. Meaning, the brain has released dopamine. But, we’ll never think it matters anymore, and get upset easily if the faucet is stuck even only for one hour or even less.

That’s something we see everyday until it lost its real meaning. That our life actually is very easy, guys!

And a “Happy New Year” is one of the things we forgot. I might not know well, but I’m sure back then people said it to have a wish, a pray they whisper everyday because the past year hadn’t been very good.

Now, it seems just a word. A praying along with the words, seems more like a formality. At least, maybe I’m the only one who feels so.

There are a bigger meaning about those positive remarks. Not only because it’s a praying, but also because the words are suggestive. Those positive words will make us hope for a real happy year. Not expectation, fellas, because expectation holds a very selfish and too concrete an idea that it will be easily distract us from reality.

I think I did talk about hope and expectation in my blog before. Yes! Click this link please.

All in all, “Happy New Year” is not merely words, but a believe that a happy new year will come. And believe it or not, those kinds of thoughts will help increasing our confidence, to ourselves, to others, to surrounds.

And you always know those confidences can make us doing our activity better, be more determined in every thing we do, and our confidence will show itself in the result. I’m ensure you it way better that the usual before.

So…

Happy new year!
Happy new year!
Happy new year again!

 

Regards from Indonesia from Cikarang, West Java, 01.37 WIB*

 

WIB : Waktu Indonesia Barat

Bhasmī Bhūta

“Kau!!!” raung Kertajaya pada salah satu dayangnya yang tidak mengetahui sesuatu pun. Wanita muda berkulit gelap itu tergopoh mendekati rajanya sambil menghaturkan sembah. Kertajaya menurunkan nada suaranya, “Kau tahu sumur tempat pemasungan?”

“Hamba, Gusti Paduka.”

“Kirimkan makanan setiap hari ke dalamnya dan laporkan padaku tentang penjagaan di daerah itu.”

“Hamba, Gusti Paduka.”

“Jalan kau sekarang,” perintahnya tegas. Wanita itu berjalan mundur dengan lututnya. Setelah dia menutup pintu kediaman Kertajaya, barulah dia mengangkat badannya dan berjalan pada kedua kakinya sendiri.

Malam itu gelap, dinaungi bintang yang bertabur bagai permata. Keindahan itu tampak pula dari dasar sumur tempat di mana Mahapatih Satria dihukum bersama ibundanya. Namun, mereka sama sekali tidak tengah menikmati keindahannya, melainkan berduka atas keadaan yang menimpa mereka.

“Ibundaku… Ampun, beribu ampun…” Kata-kata itu terus mengalir tak henti dari mulut Satria. Keadaan wanita itu semakin lemah akibat tekanan yang dialaminya. Mata itu kini redup tanpa cahaya.

“Kita akan keluar, ibunda… Ibunda percaya padaku, toh?”

Wanita yang belum meninggalkan usia 30-nya itu mengangguk pelan. Dia tersenyum lembut.

“Kau… Kau masih saja bisa tersenyum… Kau, ibundaku… Kau selalu kesepian…,” gumam Satria. Betapa jarak menyiksanya begitu kuat. Betapa pria tua kejam itu masih saja ingin menyiksanya dalam pemasungannya. Dijauhkannya tubuh lemah ibunya dari pelukan dan genggamannya. Berapa meter dia tak tahu. Dipaksa pula dia menyaksikan wanita itu melemah dalam kungkungan rantai besi yang melilit kaki dan tangannya.

Suara derit besi yang beradu membuatnya mendongak ke atas. Sebuah ember kecil berisi makanan digerek dari atas ke bawah.

“Lihat, ibunda. Mereka mengirimkan makanan!” Segera Satria menegakkan badannya, sebisanya menangkap ember tersebut, lalu melemparkan berbagai makanan lezat kepada ibundanya. Satria memakan bagiannya dengan lahap, lalu dia terhenti. “Ibundaku, mengapa kau tidak makan?”

Kepala wanita yang belum habis kecantikannya itu hanya menggeleng lemah. Tatapannya kosong menatap dinding sumur itu.

“Ibunda! Kau harus makan! Demi anakmu ini, makanlah!” bujuk Satria, berkali-kali. Namun, Saraswati memilih untuk menutup matanya. Satria memandangnya dengan putus asa. Dia menggetarkan dasar sumur itu dengan kepalannya. “Sial kau, Dharmawongso II!!!” Teriakannya bergaung hingga ke atas sumur.

Dayang wanita itu menoleh ke arah sumur, mendengar teriakan penuh kebencian itu dengan cemas. Dia lalu berbalik, menatap garang kedua penjaga yang anehnya justru menciut di hadapannya.

“Kalau kalian berani menghalangiku, aku akan laporkan pada Gusti Paduka Sri Kertajaya. Dia raja kalian sekarang!”

“Kau tahu, Gusti Paduka Raja Dharmawongso II memerintahkan…”

“Dia tidak tahu,” sergah dayang wanita itu keras dan tegas. “Dan dia tidak perlu tahu!” Dia lalu berbalik, mengangkat kainnya sedikit untuk menyeberangi rawa itu, kembali ke kediaman Kertajaya.

“Ampun, Gusti Paduka,” sahutnya dari luar wisma kediaman raja tersebut.

“Masuk,” sahut Kertajaya dari dalam. Dayang itu menunggu pintu kediaman raja terbuka, lalu menghaturkan sembah dan mendekati raja muda itu dengan lututnya. Kertajaya mengetuk-ngetukkan jarinya dengan tidak sabar.

“Bagaimana?”

“Ampun, Gusti Paduka. Gusti Paduka Raja Dharmawongso II memerintahkan mereka untuk tidak diberi makan, tapi aku telah memperingatkan kedua penjaga bahwa ini adalah perintah raja mereka.” Kertajaya mengangkat alis, hatinya sedikit mengagumi keberanian gadis ini melawan pengawal kerajaan.

“Kau mengamati kapan pergantian pengawal?”

“Hamba, Gusti Paduka. Saat maghrib tiba, pengawal yang berjaga akan kembali, lalu memanggil pengganti mereka.”

“Waktuku?”

“Maksud Gusti Paduka?” Wanita muda itu melupakan sembahnya, mengangkat kepalanya dengan terkejut. Kertajaya mendelik melihat kekurangajarannya. Dayang wanita itu langsung bersujud.

“Ampun, Gusti Paduka. Tapi, biarlah hamba yang melaksanakan semua rencana ini,” sahutnya tergeragap, sadar akan kekhilafannya.

“Tidak! Nyawamu akan jadi taruhannya. Kalau aku, Ayahanda tidak akan memenggalku.   Tidak semudah itu.” Dayang wanita itu tergugu, hatinya tersentuh oleh kebaikan Kertajaya yang rasanya dilakukan sekilas lalu itu.

“Besok aku akan bergerak. Para lelaki, kalian ikut aku,” perintahnya pada dayangnya. Hanya para dayang itu yang menjadi kepercayaannya, karena pengawal kerajaan mungkin masih menaati titah Paduka Raja yang terdahulu dibandingkan dirinya yang baru dinobatkan menjadi raja.

 

…bersambung…

Bhasmī Bhūta

Saat itu, pintu kamar itu terbuka. Sesaat Dharmawongso II membeku, tak percaya oleh penglihatannya sendiri. Perlahan, wajahnya memerah, tatapannya pun menjadi murka.

“Gila!!!” Teriakan itu bagaikan alunan drum pemicu perang. Bertalu-talu hingga ke jantung mereka yang sedang bergumul di ranjang yang tertutup kelambu putih itu. Saraswati dan Satria berusaha menutupi tubuh telanjang mereka.

“Kau bilang, kau sakit! Ini rupanya penyakitmu?!! Penyakit najis!!! Lacur!!! Panggil Pengawal!!!”

“Yang Mulia… Keturunan para dewa…,” sahut Saraswati, menutupi tubuhnya dengan kain seadanya, memohon dalam suaranya yang serak, air mata mulai membasahi pipinya.

“Ayahanda… Ayahandaku seorang…,” tukas Satria berkali-kali. Melompat ia menyembah pada kaki Dharmawongso II. Tendangan pada muka yang diterimanya jua.

“Satria!” pekik Saraswati.

“Kau!” gerung pria yang baru saja melepaskan jabatannya itu, dengan kemurkaan luar biasa. “Anakmu sendiri! Anakmu!”

“Ampun, Yang Mulia, Ampuuun. Kami khilaf…” Kali ini Saraswati melompat, menciumi kaki pria yang mengangkatnya sebagai selir itu. “Ampuuuunn… Khilaaaff…,” sahutnya terbata-bata, dengan ucapan yang semakin meracau.

Pengawal kerajaan segera menghadap. Hanya dengan sedikit gerakan jari telunjuknya, para pria bertubuh besar serta kekar itu menyeret keduanya.

“Berhenti!!! Aku ini panglima kalian! Keturunan raja, dewa! Kalian menghinaku!!!” jeritnya, berkali-kali. Sedangkan, Saraswati hanya dapat menangis terisak-isak, memasrahkan badannya yang kuyu pada cengkeraman dua pengawal kerajaan itu.

“Keparat! Kau tak pantas jadi anakku!” raung Dharmawongso, mengalahkan jeritan-jeritan Satria.

Sementara itu, di kediaman Raja Muda Kertajaya, ketukan cepat dan keras membahana ke seluruh kamarnya. Dia mengernyit, memberikan isyarat kepada dayangnya untuk membukakan pintu.

“Beribu ampun, Yang Mulia!” serunya, terengah-engah. “Gusti Paduka Raja, ah Ayahanda Raja, menitahkan Anda untuk segera ke ruang Balairung Utara.”

“Balairung Utara?” sahutnya ragu. Ruang itu selalu digunakan untuk pengadilan para pemberontak dan pengkhianat raja. Singkatnya, tidak ada pengadilan, hanya tempat untuk menjatuhkan hukuman.

“Panglima… Panglima besar…” Dia pun seorang pengawal yang berkedudukan di bawah kepanglimaan kerajaan, maka panik jua yang menyertai setiap kata-katanya.

“Kakandaku?!” seru Kertajaya, sangat terkejut. Satria adalah panglima kerajaan yang memiliki jasa besar, ayahandanya sangat menyayangi pria yang berusia lima tahun lebih tua darinya itu. Bahkan, ayahnya telah berencana untuk menjadikannya penasehat kerajaan merangkap jabatannya sekarang ini.

Dia melempar buku yang sedari tadi ditekuninya begitu saja. Bahkan melupakan dayang-dayangnya, dia berlalu begitu saja. Hanya kewibawaan yang menyertai keris di pinggang yang mencegahnya untuk tidak berlari membabi-buta ke Balairung Utara itu.

“Ayahanda!” Dia menghaturkan sembah dengan terburu-buru.

“Berdiri kau!” titah ayahnya dengan suara tak sabar. “Lupa siapa kau sekarang? Kaulah yang harusnya kusembah sekarang!”

“Beribu ampun, Ayahanda!” Dia menundukkan kepalanya. Dharmawongso II mengembangkan cuping hidungnya. Wajahnya memerah.

“Setidaknya kau masih memandang orang tua ini!”

“Ada apa ini, Ayahanda?” Matanya membeliak terkejut saat Satria dan ibunya sedang dikerubungi oleh pengawal kerajaan, yang menghunuskan tombak mereka ke leher keduanya agar tidak bergerak.

“Tarik senjata kalian!” serunya, mengibaskan sebelah tangannya. Dia lalu menatap ayahandanya yang murka dan ibundanya yang berdiri dingin, tetapi matanya bergerak cemas kepada Kertajaya.

“Hanya karena menghormatimu, aku tidak langsung membunuh pengkhianat najis ini!” Suaranya bergetar dalam upayanya menekan ledakan amarah yang menyesakkan dada tuanya itu.

“Ayahanda. Beribu ampun, boleh saya minta penjelasan dari ayahanda mengenai ini?”

“Mereka pengkhianat. Mereka berselingkuh dan berhubungan badan. Gila! Najis! Lacur!”

Saraswati terisak keras, tak berdaya menghadapi rentetan penghinaan itu. Satria sebaliknya, memandang ayahnya dengan kebencian teramat sangat. Kertajaya menoleh dengan sangat cepat ke arah mereka berdua. Pandangannya memohon penjelasan dari kakaknya yang diakrabinya sedari kecil itu. Perlahan, Satria menggerakkan bola matanya ke arah Kertajaya, dengan mata yang memerah. Memohon belas kasihan.

“Panji, aku kakandamu. Dia pun ibumu, bukan? Kita sudah berikrar, bukan?” sahutnya, dengan mata memohon. “Dia sakit, Panji.”

“Panggil dia Gusti Paduka Sri Kertajaya!” gerung pria dengan rambut penuh dengan garis-garis putih itu. “Sakit?! Sakit apa yang membuatnya kuat bersenggama dengan anaknya sendiri, hah?!”

Satria menggertakkan rahangnya, air mata mulai berlinang jatuh ke pipinya. Kertajaya terperanjat, baru kali itu dia melihat air mata dari kakaknya yang teguh itu.

“Penggal saja aku, selamatkan dia!”

“Jangan!” pekik Saraswati. “Satria… Yang Mulia…”

“Panji Dharmawongso III!!!” seru ayahnya, memanggil nama kecilnya. Suaranya menggaung di langit-langit balairung yang berbentuk kerucut. Pria itu baru saja beberapa jam menikmati jabatannya sebagai raja. Suguhan ini terlalu cepat baginya, terlalu mendadak. Melibatkan kakak yang disayanginya, dengan segenap jiwanya.

“Tak berkutik kau?! Mereka jelas tertangkap basah! Tak percaya kau pada perkataanku?!!” raung Dharmawongso II.

“Ayahanda, bukan begitu. Dia adalah saudaraku, seperjuangan sedari kecil. Dia adalah ibundanya, dia pun ibundaku. Begitu permaisuri pertama meninggal, dia yang merawatku bertahun-tahun! Bukankah ayahanda yang selalu menceritakan?” sahut Kertajaya memohon.

“Persetan!!! Persetan!!!” sergahnya, semakin murka.

Otaknya berputar dengan cepat, memandangi Satria yang juga bersikukuh menatapnya lantang. Dia menarik nafas.

“Ayahanda, mari asingkan mereka!”

“Panji!” seru Satria, terperangah.

“Kakandaku yang baik, kau telah menodai kehormatan raja keturunan para dewa. Kau menodai istana suci peninggalan nenek moyang. Dengan segala kerendahan hatiku, kakanda, kau memang bersalah,” tegas Kertajaya, dengan pandangan menenangkannya.

“Bersalah?! Jika raja memuaskan nafsunya kepada wanita bersuami itu sah?! Begitu?! Jika raja menanamkan benih, lalu menelantarkan istrinya, itu sah?! Mana keadilanmu, tidak kau adili juga ayahandamu itu! Dia berdosa lebih banyak daripadaku! Ibuku tidak bahagia di tangannya! Saudara tidak boleh menengok, teman tidak punya, semua memusuhinya hanya karena dia sempat menjadi kesayangan raja. Tapi apa?! Raja sendiri tidak melindunginya! Setelah bosan, diabaikannya wanita ini! Aku yang memberikan kebahagiaan kepadanya! Aku sendiri!” raung Satria, pipinya sepenuhnya basah kali ini. Wanita dengan rambut bergelombang yang sama dengannya, menggeleng-gelengkan kepalanya, mencegahnya untuk berbicara lebih banyak.

“Najis!!! Kau berani menyalahkan raja!!!” balas ayahnya, tak kalah geram. Istrinya, yang merupakan permaisuri kedua, menggandeng tangannya seraya membelai-belai punggungnya. Dia hanya menepiskan tangannya dan mendorong wanita itu hingga terhenyak ke belakang.

“Cara memperlakukan permaisurimu saja kau tidak paham!” Satria tersenyum sinis, mengejek.

“Kakanda!”

“Masih sudi kau memanggilnya kakanda?!! Pengawal! Penggal mereka! Gantungkan mayat mereka sebagai contoh!”

“Ayahanda! Kau mempermalukan dirimu sendiri, membuka aib!” tukas Kertajaya, mengerahkan usaha terakhirnya. Ayahnya memandangnya dengan murka. “Pikirkan, ayahanda! Jika peristiwa ini diketahui khalayak umum, reputasi kerajaan juga yang tercemar! Mahapatih Satria, dia pun orang besar. Kematiannya yang tiba-tiba akan mengejutkan!”

Pria tua itu memandang Kertajaya dengan seksama. Pandangannya beralih kepada kedua orang yang mengkhianatinya dengan kebencian mendalam. Sakit hatinya teramat sangat.

“Baik! Maka, pasung!!”

“Ayahanda!”

“Apa lagi yang hendak kau katakan?! Pengasingan sama saja mengeluarkan mereka dari kerajaan. Siapa yang bisa mencegah mulut kotor mereka merambahi bumi kerajaan ini?! Mereka tidak boleh selangkah pun keluar dari istana ini!” Dengan geraman terakhir itu, dia berlalu keluar dari ruang Balairung Utara tersebut.

Pria muda berkumis terpilin pada ujungnya itu, menatap nanar kepada kedua orang yang sangat disayanginya itu. Matanya memerah saat dia meneriakkan, “Pasung mereka!”

“Panji!!! Bunuh kami! Penggal saja kami!!! Gusti Paduka Sri Kertajaya, kumohon!!!”

Teriakan-teriakan pedih menyertai suara seretan yang dilakukan oleh pengawal kerajaan itu. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Permaisuri mendekatinya. Air matanya jatuh tak tertahan. Pemasungan berarti lebih buruk daripada kematian. Tidak ada cahaya matahari, terpendam jauh di bawah sumur kematian, dengan kaki yang segera akan membusuk oleh rantai berkarat. Apa lagi yang dapat diusahakannya? Kertajaya terisak pelan, di atas kedua tangan permaisuri.

 

…bersambung…

 

 

antara maya dan nyata