Sekali aku pernah dengar perkataan, “kalau aku tidak menuliskan apa yang ada di kepalaku, aku akan mati.” Di sini, di dalam jiwaku sendiri, aku bisa merasakan apa yang ada di benak orang itu. Betapa kematian ada dalam beragam rupa dan mengintip dari banyak celah.
Tapi, begitu banyak pula alasan untuk tidak menulis. Atau, sederhananya, terlalu takut untuk menulis.
Pekerjaan.
Keluarga.
Kepincangan pribadi.
Sesuatu yang benar bukan dalam selongsong yang tepat. Rasionalisasi, itu saja yang diperlukan manusia untuk beralih dari situasinya, yang sebenar-benarnya. Dan aku sudah rasakan akibatnya. Pahit dan terlalu pahit. Kata-kata berlompatan dan tumpang-tindih semaunya, tidak mau teratur dan tidak bisa diatur.
Ekspresi yang tidak memadai, tidak mau berbenih dari waktu-waktu yang terbuang. Siapa bilang lebih banyak waktu maka lebih banyak karya? Kebohongan yang manis dari jiwa-jiwa pesimis yang hanya mau bermimpi dalam tidur. Waktu bukan apa-apa, kecuali kita yang menggandengnya.
Terlalu banyak bicara tentang waktu, sampai kehilangan makna di balik bayang-bayangnya. Bukan, bukan waktu yang menyembuhkan, tapi pikiran yang mengelanakan waktu ke peraduan semestinya, maka ia yang akan menang.
Aku sudah sekarat, tapi enggan untuk mati. Jadi, kulakukan hal yang sudah seharusnya, sejak lama, menginjak tanah dengan kakiku sendiri. Terseok jatuh bukan hal luar biasa. Bercengkerama dengannya, menjadi satu lalu menumbuhkan yang lain, barulah kemenangan pelan-pelan itu terjadi.
Inilah ketakutan yang kubicarakan, kemenangan pelan-pelan yang tak terasa, bahkan tidak tergubris oleh mata telanjang. Kemenangan yang diinjak oleh keserakahan dari pikiran yang terselubung jentik-jentik ekspektasi. Bergerombol pelik hingga hilang celah untuk mengintip.
Kadang, aku hanya tak sabar untuk melompat ke satu waktu yang belum lagi kukenal.
Sepasang mata bertemu. Di antara dengung suara-suara, di antara denting gelas-gelas kaca. Di bawah pantulan sinar-sinar yang lalu membias kepada masing-masing makhluk. Di sela denting dawai harpa yang menggigil oleh sentuhan jari-jemari lentik.
Bagaimana aturan untuk ini? Sudah seharusnyakah aku menunggu di seberang dermaga selayaknya sesosok mercu suar yang patuh? Menunggu kapal mengarungi gelombang pasang yang bertalu-talu di geladaknya? Membiarkan takdir membuka sendiri tabir yang mengenyahkan maut demi sepasang bertaut?
Belum lagi berjawab, ketuk pelan telah terdengar. Melambungkan melodi yang mewakili hati yang berdebar tanpa suara.
Aku berjalan ke arahnya. Ke arah sepasang mata yang masih menyorot dari balik lensa buram. Hanya kepadaku.
“Melihat sesuatu yang menarik?” tanyaku, belum lagi kedua kakiku tetap menapak. Dia tertawa. Sederet gigi-giginya tampak dari balik celah kedua bibir yang tertarik.
“Takdir berkata …,” Suaranya berat tetapi halus seraya ia mengangkat gelas di tangannya, “Kepadaku kalau aku akan didatangi oleh wanita luar biasa.”
Dan dia mendekat, perlahan. Berikut tangannya yang memegang gelas dengan ujung memantulkan sinar lampu kristal. “Dan aku harus memberikan ini padanya.”
“Mungkin takdirmu buta?” Aku mengangkat tanganku sendiri. Yang memegang gelas.
Dia menggeleng dan mengambil gelas di tanganku. Aku mengangkat alis. Matanya terus terarah padaku, sedangkan tangannya telah mengarahkan tanganku pada gelasnya. Sentuhan itu ringan, tapi membuat jantungku melonjak-lonjak.
Jari kelingkingnya, yang menyentuh punggung tanganku, halus. Kaku, tetapi begitu lembut. Menjentikkan listrik statis di tengah ruang berpendingin 16 derajat celsius, dan segera mereka merayap cepat-cepat. Mengaliri nadi-nadi, menyergap ujung-ujung saraf. Otakku membeku, terlalu lemah oleh serangannya.
Aku terus menghitung bintik serupa bintang di langit malam yang berkilat di matanya. Semakin tak beraturan irama dalam diriku, semakin kacau tiap-tiap melodinya terserak. Suara halus itu terdengar lagi.
“Dia hanya penuh siasat.” Lelaki itu mendekatkan gelasku pada bibirnya dan menyesap pelan bibir gelas. Dan aku melakukan hal yang sama.
“Hmm, mungkin aku suka dengannya.”
Malam itu berakhir dengan dentang jam sebanyak dua belas, tapi sang wanita tidak pernah pulang dan menanggalkan sepatunya. Sorot-sorot lampu serupa permata yang menyambutnya. Menyambut lelakinya.
Selagi keduanya melangkah dengan gerak seirama, mereka menaungi, memberi petunjuk ke mana melangkah. Tidak pernah membiarkan keduanya tersesat. Ketika keduanya tertawa, mereka menyemarakkan keriangan itu. Ketika keduanya terdiam, mereka menemani dalam hening yang menghangatkan hati.
Aku mengangkat kepalaku, menuju pucuk gedung tertinggi yang tampak mengerucut di tengah-tengah langit malam. Jari telunjuk pun terangkat. Dan aku menyentuh hawa dingin malam itu kepada masing-masing titik cahaya.
“Satu, dua ….”
“Apa yang kauhitung?”
“Jiwa-jiwa petualang yang berani mengarungi laut Atlantik untuk bertarung dengan sang Dajjal!” sahutku, berseru dramatis.
“Berapa gelas kauminum malam ini?”
Aku mengalihkan pandangan kepada lelaki itu. Lelaki yang memikatku dalam sekejap. Yang matanya segera membelenggu dengan kuat. Hingga aku terlupa.
Lelakinya mengenakan tuksedo hitam dengan kerah melengkung, sedikit mengilap. Dasi kupu-kupu abu-abu gelap serasi dengan vest yang menyembul sepertiga bagian di balik kerah tuksedonya. Tangannya yang besar menyelinap ke balik pinggang sang wanita yang terbalut gaun terusan hitam.
Hitam bertemu hitam. Seakan melebur keduanya ketika jarak tak lagi tampak oleh mata. Tangan wanitanya terulur kepada bahunya, tinggal di sana seakan itulah rumah baginya. Jemari mereka bertaut di tengah udara malam, mengusir dinginnya, kulit putih pucat yang menyatu dengan kulit kuning langsat.
Aku tertawa lebar ketika ia memutar tubuhku, membiarkan rambut hitamku tergerai, bergelombang menyelusup di antara angin malam. Angin yang membalut kami tanpa ragu, tanpa resah. Biar pun berbeda kulit kami.
Nyaring dengking panjang memecah keheningan yang semarak di antara kami. Dia berseru, bahasa yang tak kukenal. Tangannya yang sedari tadi menyentuh lembut merengkuh kasar dan menuntut, menarikku menjauh. Dan angin yang santun berubah menjadi amuk menyerang menusuk-nusuk di kulit, menyibak helai rambut yang terserak.
Rasaku hampir tersentuh logam dingin yang baru saja berdesing cepat melewati kami.
Tangannya menyelusup ke balik jas. Revolver. GSh-18, Rusia. Aku refleks tersentak oleh suara letupan, biarpun teredam. Dia menoleh, tersenyum. Pongah.
Mendengus, aku menyibakkan gaun. Yang ujungnya menampar hingga ke wajahnya. Dan letupan lain terdengar. Aku membawa moncong pistol mendekati mulutku, meniup ujungnya.
Tertawa, dia berujar, “Walter P99. Nice choice.”
Aku menggeleng. Bisikku, “Great choice.”
Hening kembali. Denganku di pelukannya. Angin mendesah pelan di telingaku, berbisik meminta maaf. Dan dia kembali menyantuni kami. Tanpa memilih dua ujung hidung yang bertemu, yang hanya terpisah demi menjaga diri. Hidung yang pesek membulat dengannya yang tebal meruncing.
Dalam hati, aku mengulang kembali, satu, dua, …, sambil lekat memandangi mata lelaki di depanku. Semburat hijau dengan garis keemasan yang timbul malu-malu, sesekali menajam, menghujam. Apa yang dia temukan dariku?
Mata itu mengedip. Dan semua menghilang.
Di tangan kananku, sebuah baki hitam bulat dengan segelas champagne berdiri. Menyorong sedikit ke depan, di mana lelaki itu berada. Aku masih menghitung bintang keemasan yang mengerjap di matanya. Dia balas menatap. Perlahan, sepasang mata itu menyusuri sepasang mata yang kutahu kelam kecokelatan.
Hidung yang kutahu lebih pesek dan membulat.
Kulit yang kutahu lebih berwarna kuning daripada putih.
Dan kepalanya menunduk, terlalu rendah daripada dimauinya.
“Can you take this back?” Dia menaruh gelas itu di atas baki hitam, mengambil gelas lain yang penuh setengahnya. Aku merasakan kedua ujung bibirku tertarik secara otomatis. Seakan ada seseorang yang menyentuh sakelarnya.
“Gladly.” Aku menyahut, pun dengan otomatis.
Berbalik, aku mengarungi satu per satu manusia. Dengan tuksedo dan gaun malam yang panjang terurai. Dinaungi oleh lampu yang cahayanya saling terpantul dari dan kepada rekannya yang saling menyapa. Tidak akan mereka menyapa tungkai kayu yang menyembul hanya pada ujungnya dari balik kain beledu putih gading. Tidak akan mereka menyapa engsel tembaga berlapis kuningan di pintu yang kini kubuka, yang dengan saksama menyembunyikan karatnya.
Segala cahaya yang berpantulan meredup. Aku menghela napas di balik pintu ganda yang tertutup. Pelayan-pelayan bergaun dan berrompi hitam berjalan cepat dengan baki hitam di tangan.
Ketika menulis tentang salah satu tulisan terbaruku yang berjudul “Saya Tidak Tahu”, tiba-tiba terpikir olehku salah satu perubahan yang tidak terelakkan dan sangat menyesakkan buatku secara pribadi. Yaitu, perubahan dalam dunia tulis-menulis. Aku menghindari kata ‘sastra’ di sini oleh banyaknya kesalahpahaman soal penggunaan kata ‘sastra’ yang mengakibatkan ‘perang sastra’ yang tidak ada habis-habisnya.
Kenapa perubahan ini menyesakkan?
Aku penulis yang lambat. Sedari dulu, aku selalu menyukai karya-karya klasik dan karya-karya ini selalu menggunakan alur lambat dengan narasi yang sangat deskriptif dan mendetail. Aku menyukainya karena cara penulisan itu benar-benar bisa membuatku masuk ke dalam dunia tokohnya, merasakan dan mengikuti petualangan bersamanya sepanjang membaca itu.
Kesukaanku pada karya klasik sangat mempengaruhi gaya penulisanku. Akibatnya, aku juga menggunakan metode menulis yang serba deskriptif. Akibatnya, kecepatan menulis menjadi lambat akibat pengolahan imajinasi yang harus disampaikan lewat kata-kata, belum lagi ketidaktahuan membuat aku harus meriset sana-sini.
Sayangnya, era internet sudah banyak mempengaruhi gaya membaca, dan pada akhirnya, mempengaruhi gaya menulis. Hal ini tidak lain disebabkan oleh perubahan perilaku yang terutama terjadi akibat arus informasi yang cepat, yaitu perilaku menunggu.
Perilaku yang satu ini membutuhkan kesabaran, di mana ada periode-periode ‘kosong’ pada aktivitas manusia. Sedangkan, aktivitas internet yang serba cepat membabat habis kekosongan dan mengakibatkan kebosanan datang lebih cepat dan menjadi semakin tidak tertahankan. Aku pun merasakan hal ini.
Hal ini turut mengakibatkan perubahan perilaku pada pembaca. Mereka membutuhkan lebih banyak bacaan dan semakin cepat dalam membaca. Akibatnya, permintaan membaca semakin tinggi dan penulis pun dituntut untuk menghasilkan produk-produk dengan kecepatan luar biasa. Buatku yang terbiasa mengolah kata-kata dengan cara-cara yang kusukai, berusaha menampilkan imajinasi di kepala setepat-tepatnya kepada pembaca –dengan sendirinya alur ceritaku jadi panjang– tergagap-gagap mengikuti perubahan begini.
Sampai sekarang, aku belum paham bagaimana harus beradaptasi dengan kondisi seperti ini. Harus ada hal-hal yang kukorbankan demi mengikuti arus zaman, dan pertanyaannya, apa aku siap?
Di Buku Sapiens, yang mengisahkan sejarah tentang umat manusia, aku temukan bahwa dasar sains modern adalah kata Latin ‘Ignoramus’ yang artinya “saya tidak tahu”. Kebalikan dengan orang-orang yang menganggap sains itu maha tahu, ilmuan sendiri mendasarkan pada frasa ini.
Alasannya? Karena dengan ketidaktahuan, maka pertanyaan selalu timbul dan bahkan terus berkembang menjadi lebih kompleks. Pertanyaan-pertanyaan ini menerbitkan keingintahuan yang akhirnya mengarah pada pencarian-pencarian yang terus-menerus.
Artinya, dasar ini justru menjadi hal yang paling penting. Kalau tidak, dunia sains akan mati perlahan karena manusia menganggap semua teori adalah benar dan tidak lagi perlu dipertimbangkan dan dipertanyakan.
Menurutku sendiri, tidak hanya dunia sains yang membutuhkan hal ini, tetapi dunia manusia pada umumnya, bahkan keyakinan akan kehidupan sehari-hari. Aku sudah hidup di dua zaman yang berbeda, yaitu zaman di mana komputer belum ada dan zaman di mana segala hal dilakukan lewat komputer, bahkan lewat internet yang serba terhubung ke mana pun.
Hal ini benar-benar menunjukkan satu hal buatku yang sangat tertarik pada pengetahuan akan manusia, yaitu perubahan sosial yang mengikutinya. Teori-teori sosial yang sedari dulu dipertahankan mulai tampak luntur dan tidak lagi bisa diaplikasikan kepada masyarakat. Berkali-kali aku menemukan diriku melontarkan opini yang ketinggalan zaman dan akibatnya, tampak salah. Kalau mau bela diri, teori itu mungkin benar pada zaman dahulu sebelum perubahan sosial akibat era internet terjadi.
Pada akhirnya, aku pun harus mengadaptasi dasar dari dunia sains ini. Ya, aku tidak tahu apa pun. Semua bergerak sehingga teori-teori yang kutahu akan selalu luntur dan aku kembali dihadapkan pada situasi bahwa aku tidak tahu apa pun.
Namun, aku menyukai frasa ini karena ketidaktahuan akan kembali menimbulkan pertanyaan pada benakku dan akan membuatku kembali mencari tahu. Aktivitas ini akan selalu menyenangkan dan memberikan bahan bakar untuk memotivasiku untuk terus hidup. Pada selanjutnya, aktivitas ini justru akan membuatku terdistraksi akan kebutuhan-kebutuhan yang membutuhkan uang. Jadi, aku pun tidak terlalu menghabiskan energi untuk mencari uang banyak. Hehe!
Sumber: Unsplash oleh Arif Riyanto dan Brittney Weng
Sudah beberapa lama sejak terakhir aku membaca buku dengan fokus. Sebelumnya, aku memang terus mencoba menyempatkan waktu untuk membaca, tapi selalu ada hal-hal yang mengganggu konsentrasi, sehingga buku yang sedang terbaca akhirnya terlupakan.
Dan ingatanku pun bukan tergolong ingatan yang baik, sehingga sebagian isinya juga terlupakan. Biasanya, aku terpaksa mengulang-ngulang lagi apa yang sebelumnya sudah kubaca. Sangat tidak efisien.
Beberapa minggu yang lalu, entah kenapa, suasana hati tidak jelas, rasanya jenuh bukan main. Kalau suasana hati buruk atau dilanda emosi, lebih mudah untuk mengatasinya, bersenang-senang sedikit atau menyelesaikan masalah yang membuat emosi buruk akan melenyapkannya. Tapi, bagaimana kalau yang justru suasana hati hanya datar, segala serba tidak menarik?
Apa pun, bahkan hobi yang paling disenangi pun tampak tidak menggiurkan untuk dilakukan.
Pada saat inilah, tiba-tiba terpikirkan ide brilian. Aku selalu melihat adegan-adegan di film atau iklan atau sejenisnya tentang seseorang yang menghabiskan waktu dengan membaca sendirian di kafe. Dan, tiba-tiba saja juga, aku ingin melakukannya.
Aku bukan tipe yang hobi pergi ke restoran atau kafe sendirian. Kenapa? Aku kurang tahu, rasanya ganjil dan seakan aku jadi bahan tontonan. Mungkin karena tidak terbiasa pula.
Baru dalam pikiran, suasana hatiku langsung jadi cerah seketika. Inilah yang terjadi kalau kau biasa berfantasi. Hehe. Begitu aku memasuki Gramedia, yang sudah lama tidak kudatangi, perasaan nostalgia langsung membuncah. Pasalnya, sewaktu kuliah, hampir setiap hari aku mengunjungi Gramedia yang sangat dekat dengan kampus.
Tidak perlu membeli buku, menghirup aromanya pun sudah sangat menyenangkan.
Aku bahkan tidak tahu buku apa yang mau kubeli. Hanya berpikir, apa pun yang menarik, akan langsung kusambar. Sampailah pada rak bagian sejarah, atau mungkin yang lain. Sudah kubilang, kan, ingatanku jelek. Hehe.
Saat kulihat, aku tertarik pada tiga buku sekaligus. Pertama, buku tentang Pramoedya Ananta Toer yang ditulis oleh Eka Kurniawan, salah dua pengarang favoritku, Kedua, buku yang berjudul ‘Noise’ yang kurang-lebih menceritakan tentang kesalahan-kesalahan pada logika manusia, yang benar-benar membuatku penasaran, dan, ketiga, Sapiens: Sejarah Singkat Riwayat Manusia, buku yang dari dulu tenar dan digadang-gadangkan banyak orang.
Singkatnya, aku memilih Sapiens, untuk melihat apa benar buku itu semenarik yang diceritakan orang-orang? Jawabannya, setelah aku membaca separuh dari buku itu, ya. Memang gaya bercerita Prof. Yuval Noah Harari ini sangat menarik.
Belum lagi, Yuval Noah Harari suka melontarkan frasa-frasa yang menurutku lucu. Salah satu yang kuingat adalah ‘Romeo Neandertal dan Juliet Sapiens’ ketika menggambarkan hubungan DNA antar keduanya. Nantilah, aku akan bahas lagi resensi soal buku ini.
Yang pasti, ternyata membaca buku mencerahkan lagi suasana hati dan kegairahan yang sempat hilang. Mungkin, mencicipi wawasan baru yang menjentik ide-ide dan pikiran-pikiran baru adalah hal yang kuperlukan pada hidup yang menjemukan ini.
Bahkan, aku terinspirasi untuk menulis lagi di blog dan menghidupkan lagi aktivitas medsos. Bravo, buku dan penyampaian informasi mendalam yang mereka bawa buat kita!
“Maaf, Sayang. Namanya juga kerjaan. Ini penting buat masa depan. Bukan cuma buatku, buat kamu juga.”
Shari menarik tangannya ketika kekasihnya itu ingin menggenggamnya. Bima menghela napas, mencoba sabar. Memberikan waktu untuk Shari bergelut dengan perasaannya, mungkin juga pikirannya.
Dia tidak heran kalau wanita itu mulai tak sabar dengan jadwalnya, yang semakin lama semakin menggila. Kadang, dia bisa tidak pulang dari kantor semalam suntuk. Bahkan, seringkali dia harus membatalkan janji mereka karena dia terjebak dengan pekerjaannya.
“Shar, hari Valentine itu cuma hari biasa. Orang memperingatinya sebagai pengingat, tapi maknanya yang harus diingat, bukan harinya. Bukan apa yang kita kerjakan hari ini.” Kata-kata adalah hal yang dia pahami. Dengan kata-kata, dia membujuk klien untuk menanamkan modal, mendorong pemilik modal untuk mengambil resiko saat berinvestasi.
Dan, kata-kata pamungkasnya, “Aku tahu kamu wanita yang cerdas. Tentu paham soal ini.” Bima menjulurkan tangannya lagi, kali ini Shari membiarkan tangannya digenggam. Dalam hati, pria itu bernapas lega.
“Aku janji, akan aku tebus di lain waktu.”
“Bima,” suaranya sedikit tercekat, ketika bergumam pelan, “kadang waktu itu ada batasnya.”
“Aku tahu,” sela Bima cepat, “tapi, kita bisa mengatur waktu itu. Kita manusianya, kan?”
Mata Bima mencoba menangkap tatapan kekasihnya. Ketika kedua pandang bertemu, ia meremas pelan kedua tangan Shari. “Aku tahu bagaimana caranya.”
Bima selalu yakin akan kemampuannya. Dia selalu bisa memilih kata-kata yang membuat orang menuruti apa maunya. Dia selalu bisa menguasai kata-kata untuk membuat orang meyakini apa yang ia yakini.
Mungkin, dia hanya kalah oleh satu kalimat yang diucapkan Shari beberapa waktu lalu. Waktu ada batasnya. Dia salah mengartikan sikap Shari. Dia pikir dia hanya melampiaskan amarahnya. Mungkin, menantangnya sedikit untuk meningkatkan level permainan dalam bercinta.
Tapi, tidak. Shari tidak pernah bermain. Mungkin ada saatnya dia tidak pernah sepenuhnya jujur, tapi dia tidak pernah berstrategi. Dia selalu meletakkan seluruh kartu di meja, membiarkan Bima memilih salah satunya.
Dia tidak pernah sengaja menyembunyikan kartunya sendiri untuk memancing Bima mengeluarkan kartu yang dia mau. Sebaliknya, itu bagian Bima.
Pria itu mematikan rokoknya di asbak portabel, lalu memasukkan lagi asbak itu ke saku jasnya. Dia merapikan kerah jasnya, lalu bergumam, “Oke, waktunya maju ke medan tempur.”
Berjalan di antara dengung suara pria dan wanita, tawa dan seru-seruan anak kecil, Bima melangkahkan kakinya. Karpet itu seakan menjadi penunjuk arah agar dia tidak tersesat. Di sekelilingnya, ada begitu banyak bunga-bunga. Warna putih mendominasi sudut-sudut ruangan. Seperti salju yang menutupi lumpur-lumpur musim gugur.
Di pelataran panjang itu, Bima menghentikan langkahnya. Dia tersenyum. Di hadapannya, Shari balas tersenyum. Senyum yang sudah lama mati pada akhir-akhir kematian hubungan mereka. “Halo, Bim.”
“Selamat, ya.” sahutku, menggenggam tangan gadis itu. Senyum Shari terkembang, wajahnya merona merah. Dan seketika Bima tahu, batas waktu itu sudah datang padanya.
Catatan penulis :Jadi, temenku nantangin soal tulisan klise.Harusnya, bisa genre apa aja, tapi denger kata klise entah kenapa langsung mikir cerita romance. Nah, inilah salah satunya. Enjoy dan kasih masukan, ya!
Sudah berapa lama sejak pena dan kertas ditinggalkan? Dari ujung matanya, ia melihat mereka berbaring diam di sana. Dulu, merekalah yang membantunya menciptakan dunia. Tangannya akan berhati-hati dalam menggerakkan tubuh pena, mencegah mereka menggoreskan kekacauan di dunia yang ia bangun.
Dulu, mereka teman setianya, yang kini terlihat begitu jauh. Ia mengembalikan perhatiannya ke depan layar.
Jarinya menari. Begitu saja, bentuk-bentuk muncul tanpa tercegah. Bentuk-bentuk itu lalu terjalinlah menjadi kata, menjadi kalimat. Berangkai-rangkai hingga ia sendiri tidak bisa lagi menghitung mereka. Tidak tercegah lagi, cepat, lebih cepat.
“Selesai.” Ia mengamati lembar-lembar kertas, yang bisa terangkum dalam satu kotak yang berderet. Mencoba mengingat lagi masa-masa ketika kertas carut-marut di hadapannya, menuntut untuk diatur, ditertibkan, dan dibereskan.
Sekarang, tidak perlu lagi itu semua. Dia tersenyum. Naskahnya selesai sudah. Ia memejamkan mata, merasa bangga pada dirinya sendiri, begitu mudah kata-kata keluar dari benaknya, meluncur tanpa tercegah.
Ia tersenyum.
Namun, tak sebegitu lama. Senyum itu menghilang, sebaliknya kerut-merut hadir di keningnya. Ia merasakan basah di kakinya. Mata yang telah terpejam itu terbuka lagi. Bukankah ia sedang berbaring di kasurnya, kenapa ia tiba-tiba berdiri begini? Di hadapannya, deretan gedung-gedung bertingkat. Mewah dan megah.
Tidak mungkin ini Jakarta, batinnya. Model bangunannya berbeda, sekalipun masih sama-sama gedung pencakar langit. Dan langit yang dicakarnya biru. Warna yang begitu biru, biru yang datar, biru tanpa keceriaan. Tanpa awan yang bermain, tanpa burung yang melintas. Bahkan, semburat cahaya matahari tidak terlihat dari manapun.
Kepalanya menunduk lagi. Ke arah genangan air di bawahnya. Ada bayangan di sana, tapi seperti bukan dirinya. Ia bergidik.
Tidak, ini hanya mimpi. Ia hanya perlu menutup matanya lagi, dan mencoba fokus. Kalau pikirannya benar-benar terfokus, ia akan membawa ruhnya kembali ke jasadnya, dan ia hanya perlu membuka mata demi melihat kembali langit-langit kamarnya yang berwarna merah muda. Dikelilingi oleh boneka-boneka pelindungnya yang lembut.
Matanya terpejam. Ia memfokuskan diri kepada kamarnya. Begitu membuka mata, ia tersentak, hampir berseru karena kaget.
Seorang wanita tanpa mata berjalan melintasinya. Tapi, wanita itu tidak tampak terganggu, malah kepalanya menunduk ke arah ponsel pintar yang dipegangnya. Seakan ia bisa melihat. Andine mencengkeram dadanya, sedang matanya mengikuti gerak wanita itu.
Tiba-tiba tubuhnya terhentak ke samping, teriring suara protes, “Jangan berhenti di &!@%$ &*&^, dong!” Dan pria yang baru saja menabraknya punya tangan yang berbeda bentuk. Satu kekar berotot besar, sangat besar, tanpa lengan baju yang menutupi. Sedang, yang satu, berbentuk biasa saja, setidaknya, dari ukuran lengan bajunya.
Tangannya gemetar.
“Aku harus bangun, aku harus bangun,” bisiknya. Semua ini terasa terlalu nyata. Seolah-olah ia benar-benar berada di tengah kota yang tidak dikenalnya ini.
Ia memejamkan matanya lagi, rapat-rapat, erat-erat. “Aku di kamarku, aku di kamarku,” bisiknya berulang-ulang, mengucap mantra yang mungkin bisa mengembalikannya ke tempat yang ramah itu. “Ini cuma mimpi, ini cuma mimpi,” bisiknya, dengan tegas.
Sementara, seluruh doa yang bisa ia ingat, ia lanturkan dengan sembarang di kepalanya. Doa sebelum makan, sebelum tidur, apapun.
Ia membuka matanya perlahan. Kamarnyakah ini?
“Kamu nggak @#^&?”
Ia melihat wajah wanita di hadapannya. Tampak khawatir, dan wajahnya juga biasa saja. Andine mengangguk, menahan gemetar yang menjalar hingga ke mulutnya sekarang. Tidak, ia tidak kembali. Masih terperangkap di sini.
Matanya terbelalak. Salah satu gedung berlubang di tengahnya, menampakkan biru langit, dan sedikit bagian dari gedung di belakangnya. Tidak hanya itu, ada gedung yang ujungnya seperti keropos. Ada pula yang tampak meliuk janggal.
Andine menelan ludah. Dia lalu mengamati sekali lagi dunia di sekelilingnya
Tidak semua tampak aneh. Beberapa orang yang lewat sama saja seperti manusia kebanyakan (sekalipun lewat juga yang setipis kertas atau yang berbentuk kotak). Gedung-gedung ada juga yang indah tak bercela dengan kaca-kaca yang memantulkan kebiruan langit (walaupun ada juga yang seperti ditumbuhi jamur-jamur hitam).
“Ini cuma mimpi, nanti juga bangun.” Ia menarik napas dalam-dalam.
Dengan pikiran itu, Andine mulai merasakan kecemasan meluntur dari dirinya. Dia lalu mulai berjalan pelan-pelan. Melihat ke sekeliling. Tubuhnya masih gemetar, tapi ia merasa kehangatan mulai menjalar lagi.
Negeri ini tidak tampak seperti Indonesia. Walaupun banyak gedung-gedung bertingkat, ia melihat juga deretan bangunan khas era Victoria yang romantis. Ia lalu menyisiri jalan yang dihuni deretan etalase-etalase berbagai macam barang. Tidak ada yang aneh di jalan ini, setidaknya.
Tak jauh di depannya, ada kafe yang menyediakan kursi-kursi outdoor dengan payung-payung hijau lumut yang terkembang. Ia merogoh kantongnya. Tidak ada satu lembar uang pun. Kalaupun ada, mungkin tidak akan bisa dipakai di sini. Namun, kakinya tetap membawanya ke sana.
Di depannya, ia terpaku. Le Petit Café. Alisnya terangkat. Mungkin hanya kebetulan. Kepalanya menengok ke arah kiri, dan ia baru menangkap bayangan tak asing itu. Menara Eiffel. Setidaknya, mirip sekali dengan Menara Eiffel, karena lebih lebar dan gemuk daripada yang ia pernah lihat dari internet.
Andine mengernyit. Ia lalu menyisiri satu per satu bangku kafe itu dengan matanya. Ia menemukan sepasang pria dan wanita dengan perawakan yang mirip dengannya, orang Indonesia. Yang wanita mengibaskan rambut, memiringkan kepalanya dengan dramatis ke sisi kanan, sementara bibirnya bergerak-gerak mengucap sesuatu.
Di depannya, seorang pria mengamatinya dengan bibir tersenyum, tapi matanya seperti tidak terfokus. Seakan menerawang jauh dari wanita itu. Andine mengamati gerak-gerik janggal itu.
Dan ia bisa menebak kelanjutannya. Mereka akan berpegangan tangan, mengucapkan kata-kata manis kepada satu sama lain. Yang berima dengan perasaan mereka. Benar, mereka berpegangan tangan. Lalu, bibir mereka tersenyum. Bergerak, mengucapkan kata-kata.
Andine menengok lagi ke sekelilingnya. Bangunan-bangunan yang tak utuh, manusia-manusia dengan kondisi tubuh tidak sempurna. Langit, biru, bukan yang memesona, melainkan hampa. Kota yang indah, dengan segala kehampaannya.
Gadis itu tersenyum. Ia lalu berjalan pelan ke arah sepasang kekasih itu. Oh ya, dia tahu mereka adalah sepasang kekasih. Saat ia mendekat, keduanya menoleh ke arahnya. Mata itu datar tanpa emosi, seperti robot mekanis, bergerak mengikuti aturan, tapi tanpa makna, tanpa perasaan yang mendalam.
Andine meraih tangan si wanita. Dengan jari-jarinya sendiri, ia melenturkan jemari itu. Lalu, tangannya yang sebelah meraih tangan pasangannya. Ia mempertemukan kedua tangan itu begitu rupa, mengenang kembali saat-saat ia sendiri berpegangan tangan dengan kekasihnya.
“Kalian sedang jatuh cinta,” tambahnya lembut. “Kalian tengah bertatapan, mengungkapkan perasaan kalian lewat sepasang mata kalian.”
Dia lalu mengangguk ke arah keduanya, lalu beranjak. Ia tidak pergi, melainkan berdiri di sudut kafe. Melihat bagaimana sepasang kekasih itu kini bercengkerama dengan lebih meyakinkan. Gumamnya, “Seharusnya, setelah ini mereka…”
Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring. Dan teriakan itu bersusul-susulan. Andine mencoba melihat apa yang terjadi. Tidak, bukan begini. Seharusnya tidak begini! Dia membatin berulang-ulang.
Sebuah bangunan, tak jauh darinya, berlubang setengah, tepat di kakinya. Ketidakseimbangan berat dengan penahannya akhirnya runtuh, berikut dengan gedungnya. Gedung itu miring, bergerak dan berderak. Satu per satu kacanya lepas dan jatuh terpecah.
Salah satunya melenting ke arahnya. Itulah huruf “K” dan “A.” Andien terkesima. Ia pecah dan pecahan itu berubah menjadi huruf-huruf.
Orang-orang di sekitarnya semakin panik saat kemiringannya mulai bertambah. Dari depan pintu masuk, orang-orang dengan blazer dan jas keluar dengan panik, diarahkan oleh satpam penjaga keamanan gedung itu.
Andine, yang masih yakin bahwa dunia ini hanya mimpinya, malah mendekat. Orang-orang melihatnya dengan ngeri. Salah seorang malah berusaha menahan. Tapi, ia penasaran. Dan dilihatnya, aneka huruf bergulir. Satu lagi kaca pecah, dan lagi-lagi pecahannya membentuk huruf.
Salah satu kaca jatuh lagi, tepat di atas kepalanya. Ia refleks melindungi kepalanya dengan tangan, tapi ia tahu sekalipun kena, ia tidak akan merasakan sakit. Seseorang menariknya. Ia jatuh, tapi selamat dari reruntuhan kaca. Sementara, orang-orang mulai memakinya.
Ia tidak begitu mendengar makian mereka. Tubuhnya mulai gemetar. Sakit yang menyengat terasa di pipi kirinya. Saat ia menyentuhnya, ia melihat darah segar menempel di jarinya. Ini nyata? Ini nyata?!
Gedung itu sekarang miring 45 derajat dan masih mengeluarkan suara derak yang mengerikan.
Andine tergopoh mundur, bahkan sebelum sempat berdiri. Orang yang lain membantunya berdiri. Tanpa mengucapkan terima kasih, ia sudah kabur menjauh dari gedung itu. Kenapa? Ini seharusnya mimpi? Kenapa begitu terasa nyata?
Ia menampar pipinya. Cepat bangun! Tidak ada yang terjadi. Ia masih berdiri gemetar di depan gedung yang kini sudah mengancam akan merobohkan diri. Ia menampar pipinya lagi. Bangun, kau sedang tidur! Kau sedang bermimpi! Ia bahkan menampar beberapa kali. Ia melihat tangannya kemerahan. Perih terasa baik di pipinya, maupun di tangannya.
“Masih di sini,” bisiknya gemetar. “Kenapa aku masih di sini?”
Ia terpekik saat seseorang menarik tangannya. Wanita itu, wanita yang ia lihat di Le Petit Café itu. Ia tersengal. Emosi masih belum terlihat di matanya, tapi nada suaranya menunjukkan ia takut. Begitu pula dengan pria yang bersamanya.
“Setelah ini bagaimana?” tanya wanita itu. Aku mengernyit ke arahnya. Ia bertanya lagi, lebih mendesak.
“Katakan, setelah ini @#$@^?” Suaranya tersendat-sendat, seperti sinyal ponsel yang terganggu.
Andine mengernyit. Kali ini, kekasihnya yang mendesak. Pertanyaannya sama saja.
“Maksud kalian apa? Apanya yang setelah ini? Apanya yang bagaimana?”
“Bagaimana kelanjutan ceritanya? Kenapa gedung itu runtuh?”
Mereka gila, pikir Andine. Bagaimana mungkin dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Dia bukan cenayang, bukan pula Tuhan yang bisa memprediksikan segala skenario.
“Kamu yang membuat ceritanya, kan? Bagaimana selanjutnya?”
“Ya, Andine. Kau adalah Tuhan kami. Pencipta kami dan dunia ini.”
Mata Andine terbelalak. Ia mengingat lagi adegan di kafe itu. Ya, ia tahu kelanjutan dari adegan itu. Ia tahu, karena itulah yang ditulisnya. Semua ini. Le Petit Café, kota Paris dengan menara Eiffelnya, gedung bertingkat yang tampak janggal karena bersebelahan dengan bangunan-bangunan bergaya Renaissance.
Andine merasa dirinya turut dalam kegilaan. “Tidak ada adegan ini! Aku tidak membuat adegan ini!”
Emosi yang jelas barulah kini terpeta dari mata pria dan wanita itu, ketakutan, ketidakpercayaan. Panik. “Jadi, nggak ada yang #^%$ kita lakukan?”
“Apa?” Andine mengernyit, di tengah keributan di sekitarnya. “Kenapa kalian ngomong begitu? Terputus-putus.”
Keduanya berbalik, memandang Andine. Yang wanita mengangkat bahu, “Mana kami tahu? Kau yang membuatnya begitu.”
Bagaimana mungkin? Andine ketakutan. Ia tidak pernah membuat naskah seperti ini. Tidak pula dengan cerita seperti ini. Ia hanya menulis kisah romantis sepasang pria dan wanita yang jatuh cinta di kota Paris.
Tiba-tiba getaran keras mengguncangkan tubuh ketiganya. Mereka melihat ke sekeliling dengan panik. Kali ini, jalanan dengan susunan batu paving itu terbelah. Pecahan batu-batu itu lagi-lagi membentuk kepingan huruf-huruf. Dari A hingga Z.
Huruf-huruf. Ini dunianya? Dunia yang ia ciptakan? Dunia yang terbentuk dari kata-kata yang diketiknya? Kenapa? Di sela ketakutannya, ia bertanya kepada dirinya sendiri. Kenapa dunia yang kubentuk ini hancur?
Dia tidak sempat menemukan jawabannya, karena retakan itu menjalar kemana-mana, lalu dengan cepat bergerak ke arahnya. Pria dan wanita itu segera saja kabur, meninggalkannya. Entah kenapa, Andine terpaku. Ia tidak tahu bagaimana cara menggerakkan kakinya lagi.
Ia melihat ke arah kakinya dan berteriak ngeri. Huruf-huruf itu meliuk, berjalin-jalin sembarang, lalu melingkari kaki Andine. Mereka memaku Andine ke tanah. Ia tidak bisa lari. Jalinan huruf itu menjalar cepat dari kakinya menuju pinggangnya, seperti tanaman rambat yang kehilangan kendali.
Andine berteriak minta tolong, tapi tak ada lagi satu orang pun. Mereka telah kabur menjauh dari retakan itu. Andine tertinggal sendirian.
Retakan itu telah melewati kakinya. Ia lalu berhenti. Andine merasa lega sesaat. Namun, tanah itu bergetar. Suara derak mengerikan menggema lagi. Dan retakan itu terbuka.
Dengan cepat, ia membuka mulutnya hingga menganga lebar. Ikatan huruf-huruf di seluruh tubuh Andine terlepas, tapi ia jatuh ke dalam lubang retakan itu. Ia berteriak panjang, tapi tak ada gunanya. Tubuhnya meluncur terus ke dalam lubang yang tak bisa ia lihat dasarnya.
Ia memejamkan mata. Tidak lagi berharap kembali ke kamarnya, hanya pasrah menunggu nasibnya.
Pada saat itu, matanya terbuka. Ia berada di ranjangnya. Basah oleh keringat, tapi tubuhnya berbaring di ranjangnya yang nyaman. Andine berteriak lega. Hanya mimpi, benar hanya mimpi!
Secepat kilat, ia berlari ke arah laptopnya. Menyalakannya. Jarinya mengetuk-ngetuk tepian meja dengan tak sabar. Ia melihat naskahnya utuh. Lalu, menyisirnya. Banyak sekali terjadi kesalahan kata-kata, juga tanda baca. Ia tidak terlalu memerhatikan karena ia yakin semua akan diedit oleh editor.
“Wanita tak bermata…,” bisik Andine, membaca naskahnya sendiri. Ia menghela napas. Bukan itu yang hendak ia tulis, ia ingin menuliskan frase wanita tak bernama. Ia tersenyum, sebagian merasa lega, sebagian merasa sedih.
“Aku harus minta deadline diundur,” sahutnya pelan.
“Buat apa?”
Andine menoleh kaget. Ia seharusnya sendiri di kamar ini. Ia lantas terpekik melihat wanita tak bermata berdiri di kamarnya. Wanita itu tidak berbicara banyak, hanya menunjuk ke jendela kamarnya, sambil tersenyum.
Ia menatap wanita itu dengan curiga, lalu menatap ke jendela. Jantungnya berdebar semakin cepat seirama dengan kakinya yang bergerak perlahan. Andine membuka jendela kamarnya. Gema membalas, seakan tengah mengejeknya, saat ia berteriak pedih dan ketakutan.
Nah, ini yang kemaren hampir ketuker sama alur haha. Selama ini aku suka nyantai aja soal ngomongin alur sama plot ini, kupikir cuma beda istilah. Eh, taunya beda jauh. Sentilan banget buatku, nih!
Alur itu singkatnya arahan waktu ceritanya, apa menuju masa depan, apa balik ke masa lalu, dkk. Sedangkan, kalo plot lebih ke pembangunan kronologis dan logika cerita, kayak kenapa dia begini? Apa alasannya? Masuk akal gak, kalo diliat dari konteks sebab-akibatnya?
Unsur-unsur dalam plot ini biasanya pendahuluan ato prolog, konflik, klimaks, anti-klimaks, penutup ato epilog.
Yang unik dari novel Pram kali ini, sekalipun, seperti biasa, tulisannya padat akan konflik, tapi adegannya sedikit banget. Ada adegan pendahuluan, yaitu khitannya adik Ningsih, trus dialog antara Hardo dengan calon bapak mertuanya, adegan antara Hardo dengan bapaknya sendiri, Hardo dengan rekan-rekan seperjuangannya.
Keluar dari sudut pandang Hardo, baru dimunculkan adegan antara pengkhianat Karmin dengan Nippon, lalu Karmin dengan Ningsih. Mendekati penutup, barulah semua pihak bertemu dalam satu adegan klimaks.
Totalnya ada berapa, tuh? Tujuh. Untuk novel, jumlah ini keliatan simpel banget, kan?
Sekarang, mari beralih ke plot. Plotnya sendiri adalah kisah perjuangan tentara PETA dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dari perencanaan hingga pemberontakannya. Sampai kepada kegagalan mereka, yang berujung pada kisah para pemberontaknya diburu oleh tentara Nippon.
Kisah ini sendiri sebenernya jadi pendahuluan dari kisah kemerdekaan Indonesia. Dan kisah ini adalah simbol dari perjuangan orang Indonesia ke arah itu.
Novel ini dibangun dalam 4 bab, yang isinya tujuh adegan yang udah aku ceritakan di atas. Aku bagi-bagi lagi adegannya ini, ya.
Bab pertama, kisah pertemuan Hardo dengan Lurah Kaliwangan, sekaligus Bapak dari tunangan Hardo, Ningsih. Pada bab pertama ini, diceritakan tentang awal mula konflik Perburuan lewat dialog-monolog Lurah Kaliwangan.
Plotnya ini dibangunnya secara acak, dan gak berurutan. Makanya, perlu konsentrasi juga buat ngubung-ngubungin antara satu cerita dan cerita lainnya.
Plot awalnya sebenernya dari Hardo sebagai anggota PETA, yang pangkatnya udah jadi shodancho (komandan pleton). Digambarkan dalam pernyataan Lurah Kaliwangan di bawah ini :
Mengapakah anak jadi berubah sekarang? Kesenangannya yang dulu-dulu hilang. Berubah sama sekali sudah. Pakaian hijau dengan setrip dan pedang, selalu di samping opsir Nippon, turun naik mobil … lenyap semua sekarang.
Dialog antara Hardo dengan Lurah Kaliwangan – hal. 21
Lanjut ke kisah pemberontakan mereka, yang diceritakan dengan cara yang bener-bener halus, lewat pernyataan Dipo di bawah ini :
Engkau boleh melemparkan sumpahmu sebagai prajurit terhadap Nippon! tetapi sumpahmu sebagai prajurit di antara kita di gua Sampur tak boleh kau abaikan!
Dialog Hardo dan Dipo – hal. 90
Yang bagian ini, bisa dibilang aku lebih banyak nebak, karena petunjuknya cuma satu itu. Sumpah prajurit di antara mereka di Gua Sampur, tentang pertemuan rahasia mereka, atau gimana mereka mengoordinasikan pemberontakan itu, gak diceritain di bagian lainnya.
Selanjutnya, awal mula konflik di Perburuan ini adalah akibat pengkhianatan sahabat Hardo, Shodancho Karmin, yang bikin mereka akhirnya terpaksa ngejalanin hidup dalam Perburuan. Ini diungkap secara implisit dalam monolog Hardo di bawah :
Karmin! Shodanco Karmin! Aku tak menyangka, engkau sampai hati berbuat begitu.
Karmin!Sekarang dia lenyap. Lenyap sebagai engkau sendiri dalam pengkhianatanmu.
Monolog Hardo – hal. 6
Lebih lengkapnya lagi, cerita pengkhianatan itu ada di bab 3, dalam adegan bertemunya kembali Hardo dan Dipo, salah satu rekan seperjuangannya waktu pemberontakan. Aku pikir, ini ditonjolkan karena akan ada hubungannya dengan konflik cerita. Ya, spoiler, nih, si Karmin bakal muncul lagi dalam porsi besar sebagai pengkhianat bangsa.
Konflik sendiri makin dipertajam dengan Hardo yang mengenang-ngenang Ningsih, tunangannya, dan karenanya, dia balik ke Blora, bahkan muncul di rumah Ningsih, walaupun Hardo tahu bapaknya salah satu orang yang udah pernah mengkhianati dia. Bisa dilihat dari dialog mereka di bawah :
Dan sekarang …, kata kere itu lesu, … bapak mau menangkap aku lagi?
Menangkap? seru orang itu dengan suara tinggi. Disambar geledeklah bapak ini bila ada maksud menangkap anak.
Janganlah bersumpah. Aku sendiri melihat betapa dulu bapak memburu-buru aku di pegunungan cadas Plantungan.
Dialog antara Hardo dengan Lurah Kaliwangan – hal.12-13
Konflik ini lebih dipertajam dengan cerita Dipo waktu mereka ketemu di bab 3 (diselingi ejekan-ejekannya yang sadis hehe):
Yang berbahaya hanya sentimenmu sendiri dan semua serdadumu yang tak tahan hidup sebagai ini.
Dialog antara Hardo dengan Dipo – Hal. 91
Dari percakapan wedana Karangjati itu tahulah aku … yang membuat segala pengkhianatan ini tidak lain bakal mertuamu sendiri … Lurah Kaliwangan! Tiba-tiba ia diam dan bersungguh-sungguh serta memperhatikan kawannya dengan pandang ketua-tuaan. Dan Hardo mengecilkan badannya seperti kena kejang. Jadi … aku harap, Hardo … buanglah sentimenmu itu, katanya pelan mengandung irama mengasihani.
Dipo dalam Dialog antara Hardo dengan Dipo – hal, 92
Lebih lengkapnya, cerita Dipo ini mendukung masalah Hardo yang ketahuan Nippon saat bersembunyi di gubug di tengah Ladang Jagung di bab 2, yang juga menggambarkan pertemuan Hardo dengan bapaknya, setelah Hardo terjebak di tengah perburuan Nippon. Di sini, Hardo hampir aja ketangkep sama prajurit Nippon (yang sebenernya banyak dari orang-orang pribumi juga, sih).
Waktu adegan dialog antara Hardo dengan Dipo ini, mereka bertemu juga dengan rekan mereka yang lain, Kartiman, yang mengabarkan bahwa Jepang telah menyerah terhadap Sekutu.
Kakakku, dia … kakakku yang kerja di kantor pos sebagai opas pos … Tinjunya terurai dan diturunkan sampai ke tanah. Meneruskan, katanya, Jadi tak salah tempat pertemuan yang kau tunjukkan dulu. Kemudian ia berbisik. Adikku, … mulai saat ini lepaslah engkau dari penderitaan yang diterbitkan oleh pendirianmu itu. Jepang sudah menyerah! Aku tak bisa berkata apa-apa …
Kartiman, dalam Dialog Hardo, Dipo, dan Kartiman – hal.108
Wah, pas ngetik ini aku nemu lagi petunjuk kisah tentang koordinasi aksi pemberontakan PETA. “Jadi tak salah tempat pertemuan yang kau tunjukkan dulu,” ini kayaknya petunjuk soal itu juga.
Soal Jepang nyerah ini sebenernya kan, premisnya ngarah ke kemerdekaan Indonesia, yang keliatannya gak ngaruh banyak ke pengembangan konflik cerita Hardo sendiri. Tapi, buatku, kondisi ini justru yang bikin Nippon makin gencar buat nangkep aktor pemberontakan PETA dengan tujuan biar mereka tetep keliatan kuat di mata rakyat pribumi.
Sekedar catetan, walaupun novel ini bercerita tentang Hardo yang pengen Indonesia merdeka, pengembangan konfliknya justru bukan terpusat di kisah kemerdekaan itu. Lebih kepada konflik lahir dan batin Hardo sendiri, saat menghadapi perasaannya terhadap Ningsih, konfliknya dengan bapaknya, yang berseberangan pikir dengannya, dan perasaannya terhadap Karmin, sahabat sejak kecilnya yang mengkhianati dia dan rekan-rekannya.
Ok, lanjut. Soal Nippon yang makin semangat nangkep Hardo ini diungkap secara tersirat oleh Sidokan Dono, waktu terdengar kabar Heiho dan PETA dibubarkan di bab 4 :
Kita cari Raden Hardo sampai tertangkap. Ia memandang Ningsih. Dan gadis itu menjadi pucat. Kalau sudah, baru kita pulang ke Daidan. Pengkhianatan harus menjalani hukumannya dulu.
Sidokan Dono dalam dialog antara Sidokan Dono dan Karmin – hal. 152
Di bab 4 ini barulah klimaks, dimana akhirnya Hardo, Dipo, dan Kartiman tertangkap. Entah kenapa, aku mikir ini kayak disengaja. Ketiganya, atau mungkin secara khusus Hardo, ngebiarin dirinya ditangkap. Kenapa? Aku gak tahu, mungkin menunjukkan kalo Indonesia udah menang, dan dia ingin menyaksikan sendiri kemenangan itu.
Kesimpulan ini aku dapet dari adegan dimana Sidokan Dono mengancam Hardo :
Hardo tersenyum dan menjatuhkan kedua tangannya. Sebentar matanya menyelidik melalui samping Jepang itu pada Karmin yang ada di belakangnya. Hampir tak nyata ia menggeleng. Dan Karmin menunduk memandang lantai. Kemudian mata Hardo itu terus menyelidik ke dalam rumah dan nampak olehnya Ningsih berpelukan dengan bapaknya. Pandangnya dilemparkan pada komisaris polisi. Dan ia tersenyum lagi.
Hardo dalam adegan tertangkapnya Dipo, Hardo, Kartiman – hal.155
Apa maksudnya itu, Hardo? Apaaa??! #lebay
Di sinilah letak kelebihan Perburuan buatku. Petunjuk-petunjuknya yang implisit dan halus justru membuat kisahnya menarik dan misterius.
Aku akui dengan gaya penceritaan ini, kisah ini bisa membingungkan banget. Dan membosankan banget, buat orang yang suka dengan konflik-konflik terbuka dan tajam. Apalagi, bisa dibilang hampir semua bagian novel ini terdiri dari narasi dan dialog.
Namun, buatku, ini spesial dengan gayanya sendiri. Apalagi, di novel ini, Pram berhasil memainkan emosi kita dengan naik-turunnya ketegangan di satu adegan aja. Contohnya, pas adegan Nippon mengepung ladang jagung.
Diceritakan Nippon memeriksa gubug, dan ketegangan ditingkatkan waktu mereka ngeliat lubang di dindingnya, bekas Hardo menerobos keluar. Lalu, diturunkan dengan pernyataan bapaknya Hardo tentang mimpinya, trus dia santai makan jagung.
Lalu, waktu perhatian Nippon udah teralih, ketegangan ditingkatkan lagi dengan pemeriksaan mereka dengan jejak kaki Hardo yang mengarah ke sungai. Lalu, diturunkan lagi dengan bapaknya Hardo yang menawarkan jagung kepada tentara itu, yang akhirnya mereka makan bareng. Lucu juga, di adegan ini, haha.
Waktu kupikir udah selesai, eh, ternyata bapaknya Hardo diperiksa lagi, bahkan ditinju dua kali sama tentara Nippon dalam usahanya membuat bapaknya Hardo bicara.
Ketegangan yang dinaikturunkan dalam satu adegan ini bikin aku teringat sama Anna Karenina oleh Leo Tolstoy. Leo Tolstoy adalah penulis yang hobi banget mainin emosi kita dalam satu adegan kayak gini. Aku mikir, karena Leo Tolstoy salah satu penulis yang disukain Pram, mungkin rada kepengaruh sama dia? Menurutku, sih, ini.
Kalo aku jabarin semua ceritanya gak seru banget, ya. Yang paling oke, itu anti-klimaks sekaligus penutup. Ditampilkan secara indah, dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Seperti proklamasi hehe…
Hardo menarik napas panjang.
Dengan penutup itu pula, resensi ini aku selesaikan.
Aspek kedua yang pengen kubahas dalam novel Perburuan ini adalah alur cerita. Hampir aja ketuker sama plot haha. Alur cerita ini biasanya dipake buat memperindah cerita. Menurutku, sih. Haha.
Alur terdiri dari alur maju, mundur, dan perpaduan keduanya.
Alur cerita apa, sih, yang paling disukai pembaca? Setauku, sih, sejauh ini perpaduan antara alur maju dan mundur. Alur maju doang bisa ngebosenin, sedangkan alur mundur doang susah banget bikinnya (aku pernah nyoba, terinspirasi dari film Memento oleh Christoper Nolan).
Sementara aku berpendapat alur maju itu biasanya ngebosenin, ternyata, novel Perburuan ini justru mengambil tipe alur maju. Dan itu bener-bener alur maju doang, bahkan gak ada adegan-adegan flashback yang biasanya dipake untuk memperkaya cerita.
Ngebosenin, dong? Nggak sama sekali! 😍
Ini bisa jadi inspirasi juga buat novelis zaman sekarang, gak semua latar belakang cerita harus digambarin dalam satu adegan.
Kita bisa pake cara Pram dalam novel Perburuan ini, karena menurutku malah jadi enak banget, jadi gak terlalu padat konflik, dimana semua masalah harus ada narasi sendiri, bahkan dialognya sendiri. Ini kadang bikin capek.
Gimana caranya?
Cara Pram adalah menyelipkan cerita di tengah-tengah dialog dan narasi. Dan caranya halus, tanpa menuh-menuhin dialog dan narasinya, jadi aku sendiri kagum dengan ini. Artinya, Pram sudah jelas nentuin prioritas ceritanya.
Ini salah satu contohnya :
Den Hardo … engkau tak tahu betapa berat rasa hatiku menjalankan perintah Nippon. Dan engkau sendiri pun tahu betul, aku lurah yang diangkat Nippon. Bersama rakyatku aku diangkut dengan mobil ke sana dan diperintahkan menangkap orang yang berciri panjang pada tangan kanannya. Dan oleh karena itu aku dimaki-maki adikmu Ningsih. Katanya, jadi untuk mempertahankan pangkat lurah itu bapak mau turut serta memburu Mas Hardo?
Dialog Hardo dan Lurah Kaliwangan – Hal. 13
Aku bingung nentuin kutipan di atas monolog apa dialog, karena terjadi juga percakapan antara Hardo dan Lurah Kaliwangan, walopun Hardonya bicara dikit-dikit. Lebih mirip monolog jadinya.
Nah, dari kata-kata Lurah Kaliwangan itu, yang sekaligus calon mertua Hardo, jelas kalo dia pernah memburu Hardo. Juga, hal itu menimbulkan konflik sama anaknya sendiri, Ningsih, yang jadi tunangan Hardo.
Contoh lain, nih..
Tahu engkau, Hardo? sambung Dipo mengajar. Cirimu itu adalah hakim dan algojomu sendiri. Memang bayonet Jepang itu mau mencelakakan engkau selama-lamanya. Dan cacatmu itu adalah hadiah satu-satunya yang dikaruniakan oleh Hindia belanda sebagai tanda jasamu?
Dialog Hardo dan Dipo – hal.88
Kalo di atas, malah lebih halus lagi penggambarannya. Ternyata, ciri Hardo berupa bekas luka panjang di tangan kanannya itu justru didapat dari Hindia Belanda, bukan pas zaman Jepang. Udah gitu aja, petunjuknya cuma ini.
Yang menyenangkan dari petunjuk sedikit ini, kita bisa berimajinasi seluas-luasnya tentang Hardo di zaman pendudukan Belanda. Mungkin ia adalah salah satu pemberontak yang menentang Belanda, dan mungkin tidak hanya Nippon, Kumpeni juga sempat mengejar-ngejarnya. Duh, jadi ngayal, deh! (CATATAN : INI MURNI KHAYALAN PENULIS, TIDAK ADA SATUPUN PETUNJUK YANG MENGARAH KE KISAH INI)
Ada lagi :
Dan sidokan berdiam diri terbakar oleh kemarahannya sendiri. Rupa-rupanya sangat benci dia padamu, Hardo! Pastilah karena dulu dia kau tantang main kendo, dan dia kau kalahkan dengan gampang.
Dialog Dipo dan Hardo – hal.93
Latar belakang yang bikin Hardo makin diburu-buru juga diceritakan dengan sekilas aja. Dan adegan ini dipilih oleh Richard Oh buat ditampilin di film. Artinya, Richard Oh emang beneran baca novel ini dengan seksama dan mempertimbangkan kemunculannya dengan seksama. Karena emang latar belakang ini bisa menampilkan permusuhan “diam-diam” Nippon sama pribumi.
Nah, alur-alur mundur ini diceritakan banyak dengan sekilas-sekilas begini. Memang, ada juga yang masuk dalam percakapan dan monolog yang panjang, tergantung seberapa tingkat kepentingan latar belakang itu buat ceritanya, aku pikir.
Seperti yang kubilang dalam Resensi Novel Perburuan Bagian Pertama, novel ini miskin adegan. Inilah tantangan besar buat Richard Oh. Kalau tantangan Hanung adalah memilah-milah cerita yang padat adegan di Bumi Manusia tanpa mengurangi makna kisah itu sendiri, tantangan Richard Oh adalah menciptakan adegan yang bisa setara dengan adegan yang disajikan oleh Pram.
Apakah Richard Oh berhasil? Nanti aku ulas sendiri filmnya.
Oke, lanjut ke resensi bagian ketiga… Panjang, ya. Buat yang mau mampir ke sini, sabar-sabar aja nunggu lanjutannya. Aku, sih, sebisa mungkin nulis langsung sampe selesai (walaupun berjilid-jilid kayak demo 212), biar emosi dan kesan yang kudapet dari novel ini tetep segar, dengan begitu nulis resensinya juga jadi lebih menghayati.
Sampe ketemu di resensi berikutnya! Jangan lupa, sampaikan opini kalian di kolom komentar, ya!
Novel ini aku beli justru setelah filmnya diberitakan akan ditayangin tanggal 15 Agustus 2019.
Sekarang, sih, semua udah pasti tahu soal film yang disutradarai oleh Richard Oh dan diproduksi oleh Falcon Pictures ini. Apalagi, karena film ini dibarengin sama Bumi Manusia yang disutradarai Hanung Bramantyo.
Aku sendiri udah sering denger soal novel Perburuan, tapi entah kenapa aku ngerasa ini buku udah langka. Dan ngerasa bakal susah dicari (bahkan sebelum aku nyari, mentalku masih rendahan banget).
Ternyata…
Bener juga, sih, ini udah jadi buku langka. Novel aslinya harganya Rp650.000! Karena aku gak sanggup, terpaksa beli yang bajakan 😭
Masih belom paham, kenapa buku-buku langka gak direpro sama penerbit mayor. Mungkin kalo para penggemar Pram maju bareng-bareng, bakal ada yang mau nerbitin lagi?
Pas pertama baca novelnya, aku masih biasa aja. Adegannya masih terasa biasa buatku. Sampe aku membolak-balik halaman dan aku jadi senyum-senyum sendiri; wah, tantangan besar buat Richard Oh!
Aku mikir gini karena dari awal sampe akhir buku adalah tentang Hardo (tokoh utama pria) yang hidup di pengasingan jadi kere (sebutan Pram di novelnya untuk pengemis).
Rata-rata latar cerita, yang jadi pendahuluan kenapa Hardo jadi buruan Jepang, itu diceritakan sekilas-kilas dengan halus banget dalam tiap adegan. Jadi, Richard Oh harus pinter-pinter nyiptain adegan yang cocok dengan nuansa kisah ini.
Karena, gak mungkin dari awal sampe akhir filmnya cuma menyajikan narasi dari sudut pandang Hardo aja. Mungkin aja, sih, tapi aku yakin sulit diterima oleh penikmat sineas. Kalo mau diangkat di teater beda soal, ya.
Jadi, balik ke novel Perburuan. Seperti biasa, aku mau bikin review poin per poin. Gak bisa gak, sih, kalo karya kompleks begini. Buat bagian pertama, itu tentang narasi dan dialog, lebih tepatnya, gaya bahasa yang dipake.
Aku agak kaget baca novel ini. Gaya penulisan Pram di narasi buku ini sedikit beda dibanding karya-karya lain yang pernah kubaca (dan blom pernah kureview karena takut-takut hehe).
Roman dari Pram yang pernah kubaca itu “Gadis Pantai,” “Tetralogi Buru,” “Cerita Calon Arang,” kumpulan cerpen di “Menggelinding II.”
Nah, gaya tulisannya, tentu saja, khas dari Pram; yaitu realis. Kalimat-kalimat dari novel Pram itu bisa dibilang sederhana (materinya yang rumit 😅) dan langsung ke pokok masalah. Metafora dan personifikasi tetep ada, tapi gak terlalu banyak dan tetep menonjolkan kesederhanaan.
Sedangkan, di novel ini, aku melihat gaya tulisan Pram sedikit “berbunga-bunga” dan terselip beberapa metafora indah di dalamnya. Seperti :
Di belakang pagar itu tumbuhlah tanaman jagung. Sebentar-sebentar bila angin desir malam hari datang bertiup semua berayun-ayun dan bergemersik. Dan bila angin desir pergi pula, mereka bergoyang sebentar, kemudian berdiam diri sebagai tidur, …sebagai pemuda bermimpi dalam dambaannya.
Perburuan – hal.35
Atau, bisa liat yang ini :
Di bawah jembatan, di air, tampak berpuluh-puluh tonggak mencongak semeter di atas air, bekas jembatan berpuluh tahun yang lalu. Dan bila air menerjang tonggak-tonggak itu, mukanya jadi tertarik merupakan siku-siku yang menggetar.
Perburuan – hal.84
Diam…ketenangan yang tiada geraknya. Dan bunyi dari sekitar tiada kuasa menembusi pendengaran mereka bertiga. Dan tanah yang dipandang pun tiada. Kosong dan tegang dan hampa. Jembatan di atas tak terdengar berdegap-degap oleh kaki manusia dan binatang. Cambuk yang menggeletar tak bergetar. Dan sampah yang berpusing-pusing di dekat mereka tidak ada.
Perburuan – hal. 109
Kebanyakan, sih, tetep seperti gaya Pram biasanya.
Yang unik juga dari narasi dan dialog di buku ini adalah, keduanya digabung. Kalo novel biasanya, bahkan dalam karya Pram sekalipun, dialog tokoh biasanya dipisah lewat tanda kutip.
Misalkan dalam paragraf berikut ini :
Kembali kesunyian merajalela. Awan di atas telah jatuh menuju ke ufuknya. Terdengar dengung gung dari kampung; … hanya sekali. Kemudian disusul oleh rentetan pukulan gendang. Rupanya-rupanya niaga sudah sama datang. Dan belum lagi pukul delapan sekarang. Tidakkah Den Hardo sudi datang bertemu Ramli?
Percakapan Hardo dan Lurah Kaliwangan – hal.17
Dari awal narasi tentang setting, tiba-tiba tulisannya berubah haluan jadi dialog (lebih tepatnya monolog) dari Lurah Kaliwangan. Kalo baca baik-baik, sih, jelas kapan tokoh mulai bicara. Dan, petunjuk-petunjuk biasa, kayak “bisik Hardo…” atau “desahnya…” itu ada juga di narasinya. Kadnag-kadang juga gak ada, bikin kita harus hati-hati pas bacanya.
Nah, kalo kalian mutusin mau baca buku ini, siap-siap mikir lebih keras buat nentuin kapan Pram memulai dialog dan kapan Pram masuk ke narasi. Karena dua-duanya bahkan digabung dalam satu paragraf.
Salah satu yang menurutku spesial dalam dialog di novel ini adalah penyajian emosi dan ketegangan yang dinaik-turunkan dalam bentuk dialog. Buku ini miskin adegan, beneran, deh, tapi semua itu digantikan dengan narasi dan dialog yang kaya dan mengenyangkan. Soal ini, kubahas di lain tulisan, biar lebih puas, panjang-panjang nulisnya. Dan biar gak kepanjangan di sini aja.
Lanjut ke bagian kedua, yaitu bagian alur cerita, ya…
Aku ingin berhenti
Peduli dengan raungan rakyat kecil
Dengan anak-anak mereka yang degil
Dengan tangan-tangan kurus yang menggigil
Aku ingin berhenti
Peduli dengan laut dengan biotanya
Dengan jutaan hewan mati tersia
Dengan sampah plastik yang bunuh mereka
Aku ingin berhenti
Peduli dengan koruptor-koruptor bengis
Dengan kerakusan yang tak pernah habis
Dengan mulut yang menghisap harta rakyat hingga habis
Aku ingin berhenti
Peduli dengan sekolah-sekolah bobrok
Dengan atap hampir ambruk karena borok
Dengan kurikulum yang tak berhenti mengorok
Aku ingin berhenti
Peduli dengan korban bencana alam
Dengan tubuh-tubuh terkatung di tenda kelam
Dengan bayi-bayi mereka yang menangis muram
Aku ingin berhenti
Peduli dengan pabrik semen
Dengan santainya menggerus kehidupan petani Samin
Dengan kongkalikong kepada pemerintah yang tinggal mengamen
Aku ingin berhenti
Peduli dengan sakit sesama
Peduli dengan jerit semesta
Peduli dengan nasib semua