Category Archives: Non-fiction

Reality can’t be that hard

Hanung Gagal Mengungkap Esensi Bumi Manusia

“Itu sebetulnya kan cinta yang sekarang, Minke itu memutuskan untuk ‘gue berani ayok kita ke sana,’ baru kemudian Minke dan temannya saling bersaing. Seperti kisah sekarang, tapi diletakkan pada masa tahun 1900-an. Di situ yang kemudian membuat pergulatan cinta ini menjadi semacam hubungan yang harmonis sekaligus tragis,” ujar Hanung. (Sumber : Bumi Manusia Lahir dari Tangan Orang yang Tiga Kali Dipenjara )

Waktu aku tahu Bumi Manusia bakal difilmin, aku bener-bener kaget, sekaligus senang. Ini momen yang kutunggu banget! Namanya juga penggemar, ya…

Ternyata…sutradara Bumi Manusia adalah Hanung Bramantyo. Dulu, aku nganggep Hanung ini lumayan oke karena berani ngangkat topik-topik sensitif di tanah air, contoh “?” (tanda tanya) yang mengisahkan pergulatan spiritual tokoh-tokoh dalam menghadapi perbedaan agama di sekitar mereka. Ada yang pindah agama, ada yang pacaran beda agama, dkk. Biarpun plotnya gak menarik, ya…lumayanlah…

Yang namanya agama di Indonesia kayaknya haram banget buat dipertanyakan atau dipergulatkan dalam seni-seni kayak gitu. Jadi, aku mengapresiasi keputusan Hanung mengangkat topik itu. Begitu denger dia mau menyutradarai film adaptasi dari novel Pram ini, sedikit-banyak aku ngarep ini bakal jadi lumayan.

Eh, belom keluar filmnya, aku udah yakin ini film bakal jadi jelek. Bukan, bukan gara-gara pemainnya Iqbal, tokoh Dilan, yang digandrungi cewe-cewe karena keromantisannya yang unik itu (katanya sih, karena aku gak pernah nonton Dilan hehe). Tapi, karena reaksi awal Hanung soal buku Bumi Manusia di atas.

Aku kaget, sekali lagi. Apah?! Kisah cinta Minke dan Annelies? Mas, lauw baca bener-bener gak sih, itu buku? (Maaf kalo esmosi, namanya juga fans Tetralogi Buru, yak haha)

Aku sendiri gak paham-paham banget sama sastra dan kritik sastra atau teknik-teknik pengulasannya, jadi opiniku ini emang murni aku sebagai orang awam yang mencintai Tetralogi Buru. Biarpun begitu, aku yakin kalau esensi yang ditangkap Hanung di atas, seperseratusnya aja gak ada bener-benernya. Seperseratus nyenggol kebenarannya aja gak ada. Lebay, ya! Haha…

Trus dia bilang lagi, “Saya pikir saat baca (buku) Bumi Manusia, dibanding Ayat-Ayat Cinta, lebih berat Ayat-Ayat Cinta.”

Ya iyalah, kan di otaknya cuma ada cinta-cintaan doang…

Aku gak berani membandingkan Bumi Manusia dengan Ayat-ayat Cinta. Pertama, karena aku gak pernah baca novel Ayat-ayat Cinta. Kedua, kayaknya gak pantes membanding-bandingkan satu karya dengan karya yang lain. Mereka adalah unik, seperti juga si penulis yang membangun dunia di dalam novel-novel tersebut.

Aku jadi bisa melihat betapa sempit pola pikirnya Hanung ini.

Pecinta Bumi Manusia pasti paham kebanyakan hubungan yang dibahas di dalam Bumi Manusia justru hubungan Minke dengan Nyai Ontosoroh, yaitu ibunya Annelies. Emang ada sih, hubungan cinta Minke sama Annelies, dan aku mengapresiasi cara Pram mendeskripsikan kisah mereka yang emang manis banget (alasan aku suka Pram adalah dia bisa menggambarkan berbagai macam emosi, tanpa jadi alay), tapi kisah cinta mereka ini di kemudian cerita adalah konflik yang mengarah pada kejahatan kolonial Belanda, sekaligus pengukuh hubungan Minke sama Nyai Ontosoroh. Jangan tiba-tiba mikir Minke jatuh cinta sama Nyai Ontosoroh, ya. Semoga manusia Indonesia gak kayak Hanung yang mikirnya cinta itu adanya cuma cinta asmara macam ABG labil.

Dibandingkan dengan ketiga buku lainnya, yang mengungkap perjalanan Minke menjadi pemilik pertama koran pribumi, yaitu Medan Prijaji, Bumi Manusia emang keliatan paling “ringan”. Dan menurutku, sangat wajar, karena ini adalah Minke ketika masih remaja. Yang masih naif dan masih terpengaruh oleh lingkungan di sekitarnya. Dia belum punya konsep tentang perjuangan sebagai seorang pribadi.

Tapi, tetap saja, esensi dari buku itu punya konsep mendalam tentang momentum awal seorang Minke menjadi T.A.S. Aku jadi curiga, jangan-jangan Hanung gak kenal juga T.A.S yang dimaksud di novel ini siapa -_-

Bumi Manusia diawali dengan kedatangan Minke ke rumah menyeramkan yang bernama Bourderij Buitenzorg (astagah ribet haha). Di sini tinggal seorang Belanda Totok dengan wanita pribumi. Karena mereka gak mungkin nikah dengan sah, jadilah si wanita cuma jadi “nyai,” alias simpanan Si Belanda, namanya Herman Mellema.

Dari awal ini, pembaca udah disuguhkan dengan simbolisme satu keluarga yang dihasilkan dari hubungan kolonial Belanda sama Hindia-Belanda. Nyai Ontosoroh adalah simbol dari penjajahan Indonesia oleh Belanda dan juga lambang kemunafikan Belanda yang waktu itu mengaku sebagai penganut Kristiani ta’at, yang suka mengolok-olok kebiasaan pejabat Jawa mengambil selir.

Peran Nyai Ontosoroh gak sampe di situ. Dia adalah “guru” luar Minke mula-mula, yang masih sangat terindoktrinasi dengan sekolah Belandanya (haduh namanya susah, jadi maap ya, gak kusebutin di sini), dengan guru-guru dan buku-buku teks dari sekolahnya. Begitu dia mengenal Nyai Ontosoroh, mata Minke mulai terbuka terhadap dunia di sekitarnya, yang gak cuma sesempit sekolah, apalagi sekolah yang didirikan untuk mendidik Pribumi untuk mencintai Belanda.

Itulah awal mula Minke meragukan semua yang terjadi padanya dan mulai mengamati dunia luar lebih banyak. Bumi Manusia adalah perjalanan awal Minke tumbuh menjadi pribadi yang mengabdi pada sekitarnya.

Sekarang, mari kita beranjak ke tokoh Annelies. Tokoh Annelies ini adalah tokoh yang penuh kontradiksi. Dia adalah wanita mandiri yang jadi tangan kanan ibunya untuk mengurus perusahaan mereka. Dia bisa mengatur para pekerja dan hebat dalam manajemen perusahaan, dimana dia emang diajarkan langsung oleh Nyai Ontosoroh sendiri. Aku selalu bergidik kalo inget Nyai Ontosoroh bilang, “orang yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri, tidak akan bisa mengurus lain-lain.” Kurang-lebih begitu, dan emang bener banget, kurasakan sekarang ini.

Di lain pihak, Annelies tumbuh menjadi gadis lemah yang sangat tergantung dengan ibunya dan tidak punya kekuatan pribadi untuk melawan sekitarnya. Bahkan, saat pertama-tama Minke pedekate (kasih dah, cinta-cintaan versi remaja yang dimau Hanung) kepadanya, dia langsung lari kepada ibunya, melaporkan semua. Di penghujung kisah cinta mereka, Annelies menjadi korban ketidakberdayaan pribumi melawan hukum kolonial Belanda.

Jadi, peran Annelies bukan cuma sebagai kekasih Minke, tapi juga simbolisme “hasil” dari penjajahan, berupa sosok manusia yang lemah dan tidak berani melawan, apalagi menghadapi kenyataan. Dengan mudah, Annelies membuang semuanya, tanpa melawan.

Lanjut ke…apa kata si Hanung, soal Minke dan temennya? Nyebut namanya aja gak, dia baca bukunya gak, sih? Btw, itu maksudnya si Robert Suurhof, sang peranakan Indo-Belanda, yang petantang-petenteng merasa dirinya keren. Aku gak paham dari mana Si Hanung melihat mereka berdua bersaing.

Dari awal pertemuan, Nyai Ontosoroh dan Annelies udah menolak dirinya yang mencoba menjatuhkan Minke. Ya, Robert Suurhof emang mau menjadikan Minke “monyet”-nya, sehingga dia keliatan keren banget di depan Annelies Mellema. Tapi, setelah tahu dia tidak diterima dan Annelies justru jatuh cinta pada sosok Minke, akhirnya dia kabur sendiri, karena dia emang pengecut. Jadi, janganlah kalian mengharap ada adegan dua cowo berebut cewe kayak sinetron-sinetron picisan, karena emang gak bakal ada.

Kalo Robert Suurhof sendiri kayaknya adalah simbolisme sebagai kesinisan Pram terhadap pribumi yang mendewa-dewakan sosok Belanda. Si Robert Suurhof ini padahal cuma sedikit banget darah Belandanya, tapi sombongnya luar biasa.

Ada lagi Robert Mellema, kakak laki-lakinya Annelies, yang terjebak di tengah-tengah konflik internal ayah dan ibunya. Paling kasian kayaknya dia, Pram menggambarkan bahwa dia telah ditolak ibunya, tapi tidak berhasil mendapat kasih sayang ayahnya. Waktu itu, Herman Mellema, suami Nyai Ontosoroh, sekaligus ayah Robert dan Annelies Mellema, yang tadinya Belanda baik-baik, sudah menjadi pemabuk dan jarang sekali di rumah, mengabaikan keluarga dan perusahaannya.

Semua konflik-konflik di atas nantinya akan berujung pada klimaks yang menunjukkan pribumi versus Belanda, dan Nyai Ontosoroh menjadi sosok pribumi yang berani menentang hukum kolonial dan hukum masyarakat yang sudah menjelek-jelekkan dirinya sebagai nyai-nyai. Padahal, dia jadi nyai-nyai justru karena kelemahan pribumi menghadapi Belanda. Wong dia dijual sama bapaknya sendiri, biar bapaknya bisa jadi juru tulis. KKN Indonesia mula-mula ya, dari jaman Belanda. Makanya, susah diberantas, karena udah mengakar kuat. Berapa ratus tahun yang lalu, coba?

Dan aku yakin, semua yang aku rangkum ini belum sepersepuluh dari kompleksitas alur Bumi Manusia, karena banyak lagi yang terjadi, seperti kasus Herman Mellema yang ternyata berubah gara-gara sepucuk surat dari istri sahnya yang ada di Belanda, yang nantinya akan jadi orang yang menuntut dan mengambil hak Nyai Ontosoroh. Trus, kaitannya juga dengan tetangga Bourderij Buitenzorg, si Babah yang punya tempat plesiran, alias tempat pelacuran, dan lain-lain…dan lain-lain…

Yang aku heran dari kesimpulan Hanung juga masalah ini. Dari awal sampe akhir, di Bumi Manusia, Minke itu banyak menyebut-nyebut Nyai Ontosoroh daripada tokoh lain-lain. Bisa dibilang, pusat cerita Bumi Manusia ini justru adalah Nyai Ontosoroh. Kenapa Hanung gak nangkep soal ini. Sangat jelas karena penggambarannya harfiah, kok,  soal kekaguman Minke kepada Nyai Ontosoroh.

Lagian, Pram itu sastrawan Lekra, yang bergerak di bawah PKI. Artinya, karya Pram selalu bertema realisme sosial, yang emang jadi pusat pemikiran sosialis-komunis. Kalau Hanung mempertimbangkan fakta ini aja, aku yakin dari awal dia gak bakal pernah mikir Bumi Manusia bakal jadi cerita tentang cinta.

Anggaplah, mungkin kata-kata Hanung di atas emang cuma secara khusus menyoroti hubungan Minke dan Annelies, tanpa mengikutsertakan konflik-konflik lain, tapi tetep aja gak sedangkal kata-kata dia itu.

Sekarang, aku gak lagi yakin aku pengen nonton Bumi Manusia. Gak usah nonton, pasti jelek. Haha… #ketawamiris

Advertisements

Mati Baik-baik, Kawan

Pengarang : Martin Aleida

Tebal : 140 halaman (termasuk kata penutup dari Katrin Bandel)

Penerbit : Akar Indonesia

Tahun terbit : 2009

Bahasa : Indonesia

 

 

Bisa dibilang, aku kurang ahli dalam resensi buku. Nggak tahu kenapa, selalu ada info-info yang kelewat. Kutipan-kutipan kalimat dalam bukunya aja, sekalipun aku suka banget, bisa aja kelupaan. Kepala ini kayaknya susah nampung info baru. Mungkin faktor “U” ^^;

Tapi, bagaimanapun, aku mau nyoba terus meresensi buku yang aku baca.

Pas lagi maen ke tempat kakak ipar, yang emang punya koleksi buku segudang, tiba-tiba dia nawarin satu buku. Katanya bagus banget, walaupun ada kekurangan fatal. Ini editor dan penerbit emang kurang hati-hati, ada dua halaman kosong di dalamnya. Kalau cuma sekadar ada kertas keselip sih, nggak apa-apa, ya, tapi ini bener-bener bagian dari ceritanya ilang.

Oke, balik ke topik semula. Buku yang judulnya “Mati Baik-baik, Kawan” ini karangan dari Martin Aleida. Baru setelah kubaca sinopsisnya, aku tahu kalau Martin Aleida ini aktif dalam menyuarakan kebenaran tentang sejarah kelam di Indonesia, yaitu genosida 1965. Kejadiannya bulan Oktober 1965, setelah PKI didakwa menjadi dalang pembunuhan para jenderal pada peristiwa G 30 S/PKI.

Ini salah satu sejarah yang kontroversial di Indonesia, karena ada pihak-pihak yang meragukan kalau dalangnya memang PKI. Ada yang bilang, PKI cuma jadi kambing hitam. Atau sengaja dijerumuskan dalam peristiwa itu supaya Soeharto punya alasan buat memberangus PKI. Malah, katanya ini melibatkan CIA dan hubungan mesra Soekarno-JFK (yang terakhir ini juga kasusnya nggak pernah selesai).

Yah, apapun teori konspirasinya, kupikir bukan alasan untuk membumihanguskan pihak-pihak yang kita nggak suka. Apalagi, tanpa ada salah, cuma karena dicurigai (bahkan tanpa bukti pula) berhubungan dengan PKI.

Buku ini adalah kumpulan cerpen, yang dikenal dengan kumcer, tentang berbagai peristiwa yang berhubungan dengan genosida 1965. Ada tokoh Mangku yang sengaja kabur dari kampung halamannya sendiri karena nggak mau mati konyol. Dengan dua sahabat setianya, seekor anjing dan kera, ia pergi dengan bekal seadanya. Tujuannya, Lampung.

Ada pula kisah tentang pemuda yang berniat meminang wanita di Kampung Soroyudan, Solo. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seseorang yang mengenal gadis pemikat hatinya, Partini. Nah, di cerita inilah, ada 2 halaman kosong. Dan sayangnya, isi dari 2 halaman itu sangat fatal buat pemahaman cerita. Sebel.

Aku mungkin spoiler sedikit, jangan kaget kalau kebanyakan endingnya berakhir sedih. Karena kekejaman genosida ’65 memang tidak mungkin dimanis-manisin. Bayangkan saja, tetangga saja bisa saling bunuh. Setidaknya, begitu yang kudengar dari kesaksian orang yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut.

Yang bikin buku ini menarik justru drama terakhir yang disampaikan Martin Aleida. Di cerpen terakhir, dia membuat autobiografinya sendiri ketika ia diterima bekerja di Koran Tempo, yang kala itu di bawah manajemen Goenawan Muhammad. Di cerpen ini juga, dia mengeluhkesahkan hubungannya dengan sang pemimpin redaksi itu. Sayangnya, autobiografi ini terlalu banyak dikuasai emosi pribadi Martin Aleida, kelihatan dari bagaimana ia bercerita dengan berapi-api. Walaupun begitu, cerpen autobiografi ini tetap menarik karena kita bisa melihat Goenawan Muhammad dari sudut pandang Martin Aleida.

Jangan pikir karena temanya yang berat, buku ini nggak bisa dinikmati. Kejadian genosida ’65 sendiri nggak diceritakan secara gamblang, tapi kita bisa rasakan lewat perasaan-perasaan pribadi tokoh-tokoh dalam cerpennya.

Gaya bahasanya sendiri bisa dibilang sederhana, nggak berbunga-bunga, bahkan nggak bisa dibilang puitis. Bisa jadi karena latar belakangnya yang jurnalis itu. Bisa jadi juga karena itu karakternya. Gaya berceritanya juga sederhana dan karena sederhananya itu justru perasaan tokoh lebih bisa disampaikan.

Paling-paling yang sedikit bikin keningku berkerut itu istilah-istilah yang aku nggak paham, seperti bertungkus lumus dan emprit gandhil (semoga nggak salah sebut). Tapi, sisi baiknya, ya aku juga jadi belajar istilah baru.

Seperti yang kubilang, aku kurang punya kemampuan dalam meresensi buku dengan baik. Sejauh ini, baru ini yang kupikirkan. Yang pasti, aku suka buku kumpulan cerpen ini, setiap kisahnya membawa gejolak emosi yang berbeda. Biasanya, aku lebih suka novel dengan alur yang panjang berbelit-belit, tapi kali ini aku bisa bilang ini kumcer yang menarik dan menggugah.

Yang udah baca juga, silakan tambahin komentar-komentarnya, ya.

Yang Kutemukan Selama Belajar Menulis Artikel

Apa kabar, dunia?

Yang menyenangkan dari internet memang bisa menghubungkan banyak orang dari seluruh dunia. Tidak hanya cepat, tapi juga murah-meriah karena kita hanya mengandalkan internet. (Bisik-bisik : padahal sih, katanya, layanan informasi di Indonesia termasuk mahal). Bagaimanapun, memang tetap lebih murah dan mudah ketimbang jalur pos, misal.

Aku nggak pernah punya teman pena di luar sana, jadi kurang tahu juga bagaimana detail-detail berkirim surat antar negara. Kalau sekarang, pakai layanan messenger berbagai medsos dan email sih, udah bisa.

Ok, cukup sekian basa-basi nggak jelasnya.

 

Pengalaman Menulis Artikel

Kali ini aku pengen berbagi pengalaman nulis artikel. Aku biasanya fokus ke tulisan-tulisan fiksi, karena aku suka bermain dengan imajinasi. Dan lagi, rasanya kebebasan menulis fiksi tidak terbatas. Walaupun, sekarang ini, aku sama sekali nggak setuju. Maksudnya, kalau karya fiksi juga diuntukkan pada pembaca, artinya pembaca harus paham isi tulisan. Dan karena mereka harus paham, logika tulisannya tetep harus berpegang pada realita.

Jadinya, kebebasan sebebas-bebasnya itu mungkin cuma ilusi. Soalnya ada resikonya. Nulis tapi gak ada yang baca kan nyesek juga haha…

Jadi, selama nyoba-nyoba nulis artikel, aku memperhatikan beberapa hal yang penting buat mendukung penulisan artikel.

1. Riset

Ini sebenernya yang paling males dari nulis artikel. Faktanya harus bener-bener valid dan arus informasi di internet kan bermacam-macam dan nggak semuanya terpercaya. Beda sama fiksi, informasi dasar bisa ditambal sulam, dan orang tetep maafin dong. “Namanya juga fiksi” hoho…Jadi, soal info ini tetep mesti milih-milih, sekalipun informasi tentang satu hal bisa dapet segudang dari internet.

Buat orang perfeksionis mungkin semua sumber yang ada dibaca dan diperhatikan dulu ya, lain hal denganku. Aku memperhatikan fragmen-fragmen dari satu artikel yang bener-bener kubutuhin aja. Dan biasanya aku nulis artikel dulu, baru nyari info di internet sesuai kebutuhan. Cara ini lebih gampang, tapi rentan juga karena bisa aja ada info tambahan yang mengklarifikasi atau membantah info yang kudapet.

Nah, ini salah satu artikel hasil riset yang kurang bener. Jujur, ya? Iya, harus jujur kalau mau berkembang. Waktu nunjukin artikel ini ke temen-temen penulis, aku habis dicaci-maki karena infonya simpang-siur. Lah, tapi disuruh komen di blog ini kagak mau juga. Huh! (Coba kalau ada fitur mention, udah aku mention satu-satu tuh orang-orang hahaha) Silakan baca artikelnya di sini : Perkembangan Film Animasi 3D di Indonesia

Jangan tiru aku, deh! 😀

2. Hati-hati dengan Topik Artikel

Pernah lihat nggak, beberapa artikel dengan topik yang sama, paling beda-beda dikit. Selama riset artikel, aku banyak nemuin hal begini. Kadang-kadang, malah keliatannya, satu blog mencomot dari blog lain. Inilah ruginya dunia dengan arus informasi yang terlalu mudah. Plagiarisme jadi makin gampang.

Nah, bayangin kalau topik yang mau kita tulis sama dengan topik yang udah ada? Rasanya gimana gitu, deh. Kalau referensi diambil dari artikel itu, berasa plagiat, walaupun beda bahasanya. Apalagi, ini jadi menyalahi prinsip berita, yaitu unik. Artikel ini sama aja kayak laporan khas di berita, jadi prinsip-prinsip keberitaan harusnya tetep berlaku untuk artikel.

Sayangnya, dengan banyaknya orang berlomba-lomba buat naikin trafik webnya, akhirnya banyak banget yang nulis artikel-artikel, jadi makin banyak deh kompetitornya. Nasib…

Di lain pihak, ada bagusnya. Kalau kita butuh bahan buat artikel, ya comot aja dari artikel itu. Yang pasti, tetep harus cari sumber artikel yang tepat. Soalnya banyak blog-blog ngasal di internet. Ya, inilah salah satunya. Blog pribadiku ini.

3. Siap-siap dengan Kemampuan Bahasa Inggris

Kenapa Bahasa Inggris doang? Karena aku bisanya itu haha. Dan lagi, Bahasa Inggris emang udah sangat umum, karena dia bahasa internasional, penghubung antar etnik-etnik dunia dengan beragam bahasa. Trus, apa hubungannya dengan nulis artikel?

Karena, walaupun arus informasi di internet ini sangat cepat dan banyak, ternyata tetep terbatas. Kalau hanya bertumpu pada artikel berbahasa Indonesia, kadang kita susah dapet informasi yang mendalam. Sebagian memang ada yang tersedia lengkap, tapi ada juga yang susah banget dicari. Dan ternyata, ini bisa ketutup dengan nyari sumber-sumber dari luar.

Pastinya, juga wajib paham perbedaan budayanya. Jadi, kalau kita ambil sumber dari Bahasa Inggris, bisa jadi beberapa info nggak cocok dengan kondisi di negeri kita. Harus punya banyak pertimbangan, deh.

Coba baca artikel hasil kerjaanku di sribulancer, nih : How to Treat Scabies in Rabbits. Di sini ada yang namanya NEEM oil. Aku nggak pernah denger sama sekali tentang minyak itu, tapi di sumber berbahasa inggris, emang banyak penggunaan neem oil ini. Untungnya, ini artikel juga berbahasa inggris, jadi nggak perlu banyak perubahan. Kalau ini buat artikel bahasa Indonesia, ya nggak mungkin dijadikan pegangan, kan.

Mungkin lebih bagus lagi kalau kita punya kemampuan bahasa lain, kayak Jerman, Jepang, Cina, dkk, lebih lengkap lagi sumber yang bisa kita dapat. Tapi, ya gitu, deh. Kemampuan bahasaku terbatas.

4. SEO dan Keterbatasan Penulis

Yang namanya nulis itu sama aja kayak melukis. Alih-alih cat yang berwarna-warni, kita menggunakan bahasa dengan nuansa emosi yang berbeda-beda, lalu menggabungkannya seperti menggabungkan warna dalam lukisan. Sekarang ini, karena banyaknya kompetisi antar web, akhirnya orang lebih milih jalan praktis buat naikin trafik di blog/webnya.

Salah satunya itu dengan penggunaan SEO. Penulisan artikel untuk web sekarang lebih banyak mengikuti kaidah-kaidah SEO, karena emang SEO ini adalah cara untuk mengoptimasi pencarian kata kunci yang kita pake di artikel kita. Intinya, cara biar web/blog kita langsung jadi yang teratas begitu ada orang ngetik kata kunci tertentu.

Sayangnya, ini membatasi ekspresi penulis dalam mencampurkan kata-kata dan mencampurkannya untuk menjadi lukisan besar yang indah. Biasanya, artikel SEO itu emang lebih menuntut kata-kata yang mudah dan umum digunakan. Ah, kanvas itu jadi buku bergambar anak-anak, dengan garis-garis pembatas yang kaku.

Apalagi, ya? Aku rasa sekian sampai di sini, karena aku lagi ada urusan lain (alias belanja hihihi…)

Nasib Studio Musik di Era Digital

Keberadaan banyak aplikasi pembuat musik dan/atau music editor memberi keuntungan bagi musisi-musisi baru. Dengan modal yang jauh lebih rendah mereka dapat membuat musik mereka sendiri. Bahkan, tidak perlu lagi menyewa studio musik maupun audio engineer. Ini merupakan tantangan baru bagi usaha studio musik di era digital.

Tak pelak lagi, memang era digital mengubah banyak hal. Usaha yang menyediakan produk fisik mulai tergerus oleh aplikasi-aplikasi di berbagai bidang. Misalnya saja, toko penjual album yang sekarang mulai gulung tikar. Keberadaan mereka digantikan oleh aplikasi-aplikasi penyedia musik seperti spotify. Layanan premiumnya pun jauh lebih murah daripada album fisik dengan kesediaan musik yang tak terbatas.

Studio musik juga mengalami tantangan yang sama. Karena sewanya yang tergolong mahal, studio musik mengalami penurunan pelanggan. Beberapa usaha penyewaan studio musik bahkan sudah menyerah di tengah kompetisi yang ketat.

Inovasi bagi Studio Musik

Studio musik, bagaimanapun, memiliki komponen-komponen yang tidak dimiliki oleh aplikasi manapun juga. Termasuk, rasa dan karsa manusianya sendiri. Maka, pihak-pihak yang terlibat dalam produksi audio dalam studio musik dapat memberikan kreasi dan inovasi lebih luas daripada mesin apapun.

Menciptakan Jenis Musik Baru

Musik adalah seni. Sebagaimana seni yang lain, ia dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, studio musik dengan komponen manusia yang tidak tergantikan dapat menciptakan musik baru. Seperti halnya lukisan, suara-suara yang ada di sekitar kita bisa dicampuradukkan menjadi satu jenis suara baru. Yang kemudian bisa menghasilkan musik baru.

Franchise bagi Home Recording Studio

Hal yang marak terjadi sekarang ini adalah bisnis seminar dan pelatihan-pelatihan di segala bidang. Studio rekaman musik juga bisa menjadikan fenomena ini sebagai inovasi dalam bisnis yang mulai meredup. Studio musik bisa mengadakan pelatihan bagi orang-orang yang tertarik untuk berbisnis dalam bidang perekaman suara. Nantinya, orang-orang yang diberikan pelatihan dapat diberikan penawaran bisnis berupa franchise.

Memberikan Pelayanan Tambahan dalam Bidang Musik

Allen Sides dalam entrepreneur.com tidak hanya membangun studio rekaman musik, tetapi juga mengumpulkan berbagai alat musik berkualitas tinggi. Alat-alat yang tergolong jarang ditemukan ini kemudian disewakan kepada para musisi. Selain itu, ia juga memberikan pelayanan berupa perbaikan alat-alat musik dan perlengkapannya. Tidak hanya itu, ia bahkan membangun high-end speaker secara costum. Bayangkan kalau speaker ini memberikan keunikan yang tidak dimiliki produk lainnya, ini tentu akan semakin menguntungkan bisnisnya.

Studio musik memang masih memegang peranan penting dalam dunia musik. Namun, persiapan tetap harus dilakukan seiring dengan berkembangnya teknologi. Bahkan, kini telah ada produk LANDR yang menggunakan algoritma rumit yang mampu menggantikan peran sound engineer. Algoritma dalam LANDR dibangun dengan cara menganalisa ribuan lagu-lagu, yang kemudian dijadikan data yang akan memberikan layanan mixing suara yang lebih baik. Semacam Artificial Intelligence dalam dunia musik.

Maka dari itu, pelaku-pelaku musik sekarang ini sama sekali tidak boleh lengah. Kalau tidak, era digital bisa menggerus usaha manusia, yang digantikan oleh mesin.

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE : Sekolah Media Kreatif.

Apakah Efek Praktikal Masih Diperlukan pada Era Film Digital?

Seperti yang kita tahu, film-film spektakuler banyak memakai efek komputer atau CGI dalam pembuatannya. Kita harus bersyukur pada era digital yang membuat adegan-adegan laga dalam film terkesan lebih hidup. Pembuatan film secara digital menjadikan semua serasa mungkin. Ini mendatangkan pertanyaan, “apakah efek praktikal masih diperlukan pada era film digital?”

Apa itu Efek Praktikal dalam Film?

Efek praktikal adalah efek kamera yang tidak menggunakan teknik komputerisasi dalam pembuatannya. Sebaliknya, ia memanfaatkan teknik-teknik manual yang juga mengagumkan. Misalkan saja, bagaimana film Lord of the Rings memanfaatkan teknik ilusi optik untuk saat hobbit terlihat jauh lebih pendek saat berhadapan dengan penyihir? Tidak ada efek komputer di adegan tersebut, melainkan hanya permainan sudut pandang. Dengan mengubah jarak pengambilan gambar antara satu pemain dengan pemain lainnya, maka terciptalah ilusi optik yang membuat hobbit jadi terlihat sangat pendek.

Dengan teknologi film digital, mungkin membuat ilusi optik ini jadi lebih mudah. Yang perlu dilakukan adalah menambahkan efek CGI dan jadilah adegan-adegan “janggal” yang terasa nyata. Sayangnya, teknik ini membutuhkan keahlian komputerisasi yang tinggi. Sedikit saja terjadi penyimpangan dalam penggunaan teknik CGI, adegan dalam film bisa lebih aneh daripada teknik praktikal.

Keuntungan Efek Praktikal

Keuntungan efek praktikal sendiri adalah lebih mudah untuk mengatur agar adegan terlihat lebih riil. Nyatanya, beberapa sutradara masih menggunakan efek praktikal ini. Contohnya adalah Christopher Nolan. Kita tentu ingat film spektakuler yang masih membekas di benak orang hingga saat ini, Dark Knight Trilogy?

Kita juga tentu ingat bagaimana adegan Batman mengejar Joker sepanjang jalan Gotham City. Seringkali terjadi tabrakan dan ledakan pada saat itu, yang terlihat sangat nyata. Mudah sekali bagi kita menganggap kalau adegan itu dibantu oleh teknik CGI. Lagipula, siapa yang rela menghancurkan mobil-mobil dan truk begitu saja?

Namun, adegan itu justru menggunakan efek praktikal. Nolan memilih untuk membangun miniatur dari setiap kendaraan yang terlibat dan menggunakannya dalam adegan tersebut. Hal ini adalah salah satu contoh efek praktikal yang digunakan dalam film.

Keuntungan lain dari efek praktikal adalah emosi yang dihasilkan akan lebih terasa. Biasanya, efek praktikal menggunakan kostum buatan yang akan dikenakan pemain. Akting dari pemain tersebut akan membuat emosi dari efek itu terasa lebih hidup. Ia tidak nyata, tapi juga nyata.

Sekalipun tidak berupa kostum, melainkan hanya model yang digerakkan oleh remote atau semacamnya, gerakan yang dihasilkan biasanya akan lebih bebas dan tetap terlihat lebih nyata daripada efek CGI.

Apakah itu artinya efek praktikal lebih baik dari efek CGI? Tentu saja tidak. Teknologi CGI tetap diperlukan untuk memperkaya adegan dan “menghaluskan” efek-efek dalam film. Sedangkan, efek praktikal akan membawa emosi yang lebih kaya dalam film. Tentu gabungan keduanya akan membuat film jadi jauh lebih sempurna, bukan?

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE : Sekolah Media Kreatif.

Peran Digital Imaging dalam Bisnis UKM

Beberapa tahun yang lalu, apa yang kita pikirkan saat mendengar istilah digital image? Tentunya, kita akan otomatis memikirkan tentang perangkat-perangkat canggih juga studio yang besar? Sekarang, istilah tersebut sudah sangat dekat dan familiar. Bahkan, kita sudah biasa menggunakannya sehari-hari. Termasuk, para pelaku usaha UKM. Begitu banyak peran digital imaging dalam bisnis UKM saat ini.

Kalau dulu, bisnis UKM lekat dengan istilah “usaha rumahan,” sekarang kita lebih banyak menyebutnya bisnis online. Dengan berkembangnya era digital, tidak heran kalau banyak yang memanfaatkan kepraktisan dan arus informasi teknologi yang sangat cepat.

Dengan maraknya media sosial yang beragam jenis, kesempatan bagi bisnis UKM semakin terbuka. Terbukti dengan banyaknya toko-toko online yang bermunculan di media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Media sosial dengan mudah menghubungkan antara penjual dan pembeli, hanya dengan akses internet.

 

(Baca selengkapnya tentang : Tips Ngasal Blogger Pemula)

Perkembangan Digital Imaging

Kecepatan arus informasi teknologi ini membuat perusahaan-perusahaan berbasis IT semakin kompetitif. Peningkatan kompetisi ini membuat perusahaan-perusahaan tersebut banyak mengembangkan aplikasi dan fitur-fitur mobile yang semakin menarik. Terutama, dalam bidang digital image.

Sudah tidak terhitung banyaknya aplikasi yang menggunakan teknologi digital image. Sekarang, mengambil foto yang indah dan menarik sudah terbilang sangat mudah dengan peningkatan kualitas dan resolusi pada kamera telepon selular. Apalagi, aplikasi untuk editor foto yang menjamur mampu menyempurnakan foto tersebut.

Kesempatan ini pun dimanfaatkan oleh pelaku bisnis UKM untuk mengambil foto-foto produk yang menarik hati. Istilah yang tren sekarang adalah foto yang “instagramable,” yang mengacu pada foto produk yang berkualitas tinggi.

Memanfaatkan Digital Imaging

Untuk menjadi pemain dalam bisnis online, keahlian dasar dalam digital imaging sangat diperlukan saat ini. Tidak ada salahnya untuk mencari aplikasi-aplikasi mobile untuk meningkatkan kualitas foto produk. Aplikasi ini akan mudah untuk digunakan di mana saja dan kapan saja diperlukan. Namun, tidak cukup dengan mengunduh aplikasi ini dan menaruh di smartphone kita. Yang harus kita lakukan adalah menguasai teknik editing foto agar gambar yang sudah kita ambil jadi jauh lebih menarik.

Tidak hanya praktis, aplikasi ini juga jauh lebih meminimalisir biaya yang dikeluarkan. Foto produk yang diambil secara profesional biasanya akan menggunakan studio yang berbekal pencahayaan lampu khusus dari berbagai sudut. Dengan resolusi pada smartphone dan aplikasi photo editor, kita tidak perlu mengeluarkan biaya untuk semua itu.

Yang perlu diingat adalah pemahaman tentang berbagai aplikasi mobile sangat mendukung dalam pemilihan aplikasi. Kita perlu tahu fitur-fitur yang ditawarkan oleh aplikasi tersebut, supaya kita dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan bisnis. Beberapa aplikasi mobile yang cocok untuk foto produk adalah:

  1. Photoshop Express,
  2. TouchRetouch,
  3.  Autodesk Pixlr,
  4.  Camera+,
  5. Procamera8  HDR
  6. VSCO Cam

Beberapa adalah aplikasi berbayar dan adapula aplikasi yang gratis. Tentu saja, aplikasi yang berbayar akan memberikan fitur yang jauh lebih banyak dan lebih lengkap. Namun, apabila aplikasi yang gratis sudah cukup mendukung foto produk kita, menggunakannya tentu akan lebih menguntungkan.

Teknik Pengambilan Foto Produk

Menggunakan aplikasi kamera dan photo editor memang mempermudah hidup kita. Namun, hal itu saja tidak cukup. Kita harus ingat bahwa semua kemudahan itu berlaku untuk banyak orang, sehingga bisnis UKM akan menjadi sangat kompetitif. Maka, kita juga membutuhkan pengetahuan tentang teknik pengambilan foto produk.

  1. Memahami produk dan kelebihan yang ingin ditampilkan.
  2. Menentukan konsep foto yang akan diambil.
  3. Menggunakan studio mini yang didukung dengan lighting buatan.
  4. Menggunakan beberapa angle dari produk.
  5. Hindari zoom in pada kamera ponsel.
  6. Lebih baik menggunakan lighting buatan daripada flash kamera ponsel.
  7. Buat sesederhana mungkin dengan latar belakang yang mendukung warna produk.

Begitu kita memahami proses digital imaging yang sederhana lewat ponsel kita, kita siap untuk terjun ke arena kompetisi bisnis UKM. Hal ini akan jadi senjata yang kuat, selain pemahaman tentang cara kerja media sosial itu sendiri.

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE : Sekolah Media Kreatif.

Tips Membuat High Quality Audio untuk Film Indie

Film indie di Indonesia semakin tegas menemukan jalannya. Sudah banyak film indie produksi anak-anak bangsa yang meraih penghargaan, sebut saja Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Istirahatlah Kata-kata, dan lain-lain. Memahami cara membuat high quality audio untuk film Indie jadi penting apabila kita juga ingin berkontribusi dalam dunia film indie.

 

(Baca lebih lanjut resensi film di sini : “Easy A”)

 

Berikut ini adalah beberapa tips untuk membuat high quality audio untuk film indie yang sering berbudget rendah :

 

1. Dual System Audio

Singkatnya, dual sistem ini adalah audio yang direkam dengan peralatan yang berbeda dari kamera yang merekam gambar. Kelebihan dari dual system audio ini adalah kita bisa mengatur tingkat kualitas audio, seperti sampling rate dan bit depth yang lebih tinggi. Ditambah lagi, merekam audio dari kamera dengan sistem single audio justru kurang praktis karena kita akan membawa-bawa kabel sepanjang proses perekaman. Dual system audio juga dapat membuat audio yang dihasilkan tetap berkualitas walaupun dengan peralatan syuting seadanya.

 

2. Jenis-jenis Peralatan yang Digunakan

Alat-alat yang digunakan dalam merekam audio untuk film sangat menentukan kualitas suara. Misalkan saja, kabel audio yang akan mengirimkan sinyal dari mikropon ke preamplifier. Kabel yang sering digunakan profesional adalah kabel XLR, yang mempunyai input balanced dengan adanya konfigurasi 3 pin pada audio jack-nya. Mikrofon tentu saja faktor penting untuk pembuatan film. Mikropon yang paling sesuai adalah boom mic yang bisa ditempatkan dengan fleksibel untuk memastikan suara bisa jelas terekam. Untuk meringankan budget yang dikeluarkan, peralatan ini bisa disewa. Yang harus diperhatikan, jenis peralatan yang digunakan tetap harus memenuhi standar agar menghasilkan kualitas suara yang baik.

 

 3. Merekam Room Tone

Room tone adalah rekaman suara latar belakang tempat lokasi syuting film tanpa diikuti oleh suara dialog atau adegan-adegan lainnya. Hal ini sangat berguna dalam pasca produksi suara di mana editor suara bisa menggunakan latar belakang suara yang lebih tepat untuk satu dialog, bahkan bisa digunakan sebagai tambahan efek suara.

 

 4. Bekerja sama dengan Operator Boom dan Sound Recordist

Kedua kru ini sangat vital dalam merekam suara yang berkualitas. Mungkin sekilas tugas operator boom hanya memindah-mindahkan boom mic, tetapi penempatan mikropon itu sendiri sangat penting dalam menentukan kualitas suara. Untuk film Indie yang berbudget rendah, tentu merekrut keduanya bisa jadi beban. Maka, carilah sound recordist yang profesional yang biasanya juga memahami cara kerja operator boom mikrofon.

 

 5. Memahami Lokasi Syuting

Mempersiapkan diri untuk survei lokasi yang akan dipakai untuk syuting juga penting dalam menentukan kualitas audio yang baik. Kita harus memperhatikan suara-suara yang biasa muncul dalam lokasi tersebut, sehingga bisa meminimalisir gangguan audio pada proses perekaman suara.

 

6. Menggunakan Slate atau Clapperboard

Kelihatan remeh, memang, tetapi ternyata penggunaan slate atau clapperboard cukup penting untuk memisahkan adegan demi adegan. Dengan adanya suara pemisah antar adegan ini, maka akan mudah untuk mengedit suara pada proses pasca produksi nantinya. Misalnya saja, untuk melakukan looping atau lipsync agar dialog yang kurang baik dapat diperbaiki.

 

7. Memastikan Operator Boom Menonton Latihan Syuting

Sekalipun, dalam pengeditan suara, editor bisa melakukan looping, kualitas suara yang dihasilkan jelas berbeda daripada perekaman awal. Maka, mempersiapkan operator boom akan meminimalisir kesalahan penemapatan boom mikrofon pada pengambilan suara.

Tentu saja, yang paling penting adalah kesabaran dalam merekam suara pada syuting film. Ketidaksabaran hanya akan membuat kualitas suara lebih buruk, padahal suara adalah aspek penting dalam menikmati film. Bahkan, sutradara besar Steven Spielberg menyatakan bahwa “Sound is half of the picture.” Begitulah, suara sangat menentukan bagaimana film bisa dinikmati.

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini : SAE Indonesia : Sekolah Media Kreatif.

Perkembangan Film Animasi 3D di Indonesia

Teknologi selalu berkembang, termasuk dalam dunia perfilman. Sekarang ini, film-film berformat 3D sudah mulai banyak dikembangkan. Indonesia tidak ketinggalan. Beberapa film animasi 3D buatan Indonesia telah ditayangkan di bioskop-bioskop. Perkembangan film animasi 3D di Indonesia juga mulai perlahan-lahan mulai terlihat.

 

(Baca juga review film kartun Inside Out di sini : Inside Out)

 

Film Animasi 3D Indonesia

Perkembangan animasi 3D di Indonesia ini tampak lewat beberapa film karya dalam negeri. Beberapa dari mereka kurang mendapatkan sambutan hangat, tetapi hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak mau kalah bersaing dengan dunia internasional.

 

  1. Homeland

Film animasi yang disutradarai oleh Garin Nugroho ini sayangnya kurang mendapat sambutan hangat. Walaupun pembuatannya memakan waktu hingga 1 tahun, film ini kurang sukses mendapat penggemar. Gambar grafik yang masih kasar dan alur cerita yang membingungkan membuat film ini kalah saing dibanding film-film buatan Hollywood.

 

  1. Meraih Mimpi (Sing of the Dawn)

Meraih Mimpi bisa dibilang adalah film animasi 3D kedua yang diproduksi pada tahun 2008. Film ini disutradarai oleh pria berkebangsaan Inggris bernama Phil Mitchell. Film ini cukup mampu meraih kesuksesan, terbukti dengan penayangannya di Singapura, Korea, Malaysia, dan Rusia. Kekurangannya adalah kru-kru dari film animasi ini hampir seluruhnya dari luar, kecuali penulisnya, Nia Dinata. Jadi, agak sulit untuk menyatakan bahwa film ini adalah karya dalam negeri, walaupun diproduksi oleh studio animasi di Batam, Indonesia.

 

  1. Aji Saka : The Chronicle of Java Island

 Film animasi 3D ini patut diacungi jempol  dengan grafiknya yang sangat baik. Bahkan, tampilan grafik ini bisa disamai dengan film animasi karya Jepang, yaitu Final Fantasy VII: Advent Children. Untuk pembuatannya, STMIK AMIKOM memang merekrut salah satu sutradara yang juga screenplay asal Selandia Baru, Tristan Strange dan scriptwriter Hollywood, Robert Pawlozki dan Triss Forrest. Kerja sama yang apik ini menghasilkan karya yang luar biasa bagi perkembangan film animasi 3D di Indonesia.

 

  1. Petualangan si Adi

 Film produksi Batavia Pictures ini juga tampil dalam format 3D. Dibandingkan dengan kesuksesan Aji Saka, film ini tampak seperti main-main dengan grafiknya yang terlihat “kasar.” Daripada perkembangan, film ini lebih tampak sebagai kemunduran dalam animasi 3D di Indonesia. Kelebihannya adalah film ini benar-benar berniat menangkap kultur di Indonesia.

 

  1. Serial Petualangan Si Unyil

 Siapa yang tidak kenal si Unyil? Anak-anak Indonesia, terutama generasi 90’an tentunya sangat mengenal tokoh ini. Sejak tahun 2006, film ini mulai dipopulerkan kembali dan diremake dalam bentuk 3D. Sayangnya, grafik pada film animasi ini masih terkesan kaku. Gambar latarnya pun dibuat kurang apik, sehingga terkesan “asal.”

Film Animasi Pendek

Perkembangan animasi 3D di Indonesia juga ditandai dengan kemunculan film pendek. Yang banyak mendapat sorotan adalah film animasi pendek berjudul “Some Nights” karya Yuditya Affandi. Yuditya sendiri adalah siswa SMKN 2 Bawang, Banjaranegara, Jawa Tengah. Karyanya ini berhasil masuk CGBros, channel yang menjadi kurator karya-karya animasi dunia.

Setelah itu, tampaknya tidak ada lagi anak negeri yang mengalami kesuksesan yang sama. Tampaknya, kekurangan dalam menciptakan grafik dalam film animasi adalah tantangan yang tidak mudah. Kebanyakan film yang sepenuhnya buatan Indonesia, selalu mempunyai kekurangan dalam hal itu.

 

(Baca juga tentang karya film anak negeri di sini : FILM PENDEK “CHICK-CHIK” MENANG KOMPETISI REGIONAL THE 5 MIN VIDEO CHALLENGE)

 

Namun, geliat teknologi dalam dunia perfilman Indonesia tampak meningkat. Diharapkan ke depannya, Indonesia tidak akan kalah dalam menciptakan animasi yang baik dan menarik.

 

 

Sekilas Tentang SAE

SAE adalah lembaga pendidikan di bidang media kreatif yang didirikan di Australia pada tahun 1976. Sekarang ini, SAE telah berkembang menjadi lembaga yang diakui secara internasional. Program sertifikat, diploma, dan sarjana lembaga ini divalidasi oleh Middlesex University, London. SAE sendiri memfokuskan diri pada disiplin ilmu Animasi, Audio, Film, dan Bisnis Musik. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam, silakan daftar di sini.

Koalisi yang Inkonsisten

Apa itu koalisi?

Sebenarnya aku kurang paham. Yang aku tahu koalisi dalam politik itu semacam penggabungan antara beberapa parpol yang punya kepentingan yang sama. Tapi, jangan harap mereka loyal. Ya, untuk sementara waktu, tapi selalu akan ada perubahan dalam koalisi macam apapun. Setidaknya, begitulah yang aku perhatikan.

Sebagai orang awam, aku merasa ini seperti bentuk inkonsistensi, karena mereka tidak bertahan pada satu bentuk koalisi yang mereka bangun sendiri. Malah, sering terjadi, orang yang biasa mereka puji-puji, ujung-ujungnya mereka hina sendiri. Bisa jadi juga kebalikannya, mereka berkoalisi dengan orang yang tadinya mereka benci mati-matian.

Wajar kalau politikus selalu dibilang tidak jujur dan tidak konsisten.

Namun, baru-baru ini aku sedikit merasa paham kenapa koalisi harus ada, terlebih lagi, harus berubah sesuai kepentingan mereka. Suka tidak suka, kalau tidak berubah, kepentingan mereka (entahlah itu baik atau buruk) bisa kandas. Partai mereka juga bisa tersingkir dalam permainan.

Jadi, pengalamanku adalah mencari rekan kerja. Sering terjadi, ide melintas di kepalaku (kutekankan lagi, entah itu baik atau buruk ya, hehe) dan seringkali juga, ide ini membutuhkan kerja sama dengan orang lain. Sesuatu yang tidak bisa kukerjakan sendiri.

Sebelumnya, aku harus bilang kalau aku sendiri bergabung di satu komunitas. Sayangnya, komunitas ini sebenarnya mempunyai tujuan yang jauh berbeda denganku secara pribadi. Bahkan, tidak terkait dengan hobiku sebagai penulis (maunya sih mencantumkan kata “karirku,” sayangnya itu belum terjadi haha…) Satu lagi, pola pikir dan cara kerja mereka juga jauh berbeda denganku, alias aku sendiri merasa kurang cocok dengan mereka.

Akhirnya, aku mencari komunitas lain, terutama komunitas penulis, karena targetnya memang orang-orang yang suka menulis, yang bisa diajak kerja sama dalam mencapai ide ini. Pertama, tentu saja komunitas menulis yang paling aku sukai (kita tentunya biasa mengambil keputusan sesuai afeksi kita, setidaknya, pada awalnya) dan yang paling cocok dengan sifatku.

Setelah aku paparkan ide, ternyata ide itu tidak bersambut, karena banyak alasan, yang tentu saja hanya anggota-anggotanya yang paling tahu. Akhirnya, aku mengalihkan perhatianku ke komunitas-komunitas lain. Hal yang lumayan kusesali adalah aku kurang punya banyak koneksi. Akibatnya, waktu mencari kerja sama begini, ya wajar jadinya mandek.

Beberapa humas komunitas kuhubungi. Beberapa di antaranya berhasil kuajak bicara, tapi sayang, hasilnya kurang baik. Karena beberapa komunitas memang sudah tidak aktif.

Mungkin sudah jelas plot tulisan ini akan kubawa ke mana. Tentu saja, akhirnya aku menghubungi komunitas tempatku bergabung dan mengajak mereka bekerja sama dalam ideku, sekalipun aku paham aku akan banyak bertemu ketidakcocokan pada pola pikir dan cara kerja. Namun, kalau kesempatan ini kulepas hanya karena perasaan, rencana dan tujuanku tidak akan tercapai.

Sekalipun sebenarnya aku kurang suka koalisi model politikus begini, ternyata memang perubahan dalam koalisi diperlukan, untuk mempertahankan kelangsungan hidup partai-partai, ya. Sedikitnya, aku jadi berpikir, “oh, pantas, soal omongan aja, orang-orang politik itu nggak bisa konsisten.”

Inilah politik, sebenarnya memang terjadi di mana saja. Karena manusia-manusianya juga tidak sempurna, ya bentuk politiknya juga jadi tidak sempurna.

N.B. Satu lagi yang kupikirkan, “apakah karena ini ya, orang-orang idealis sulit bertahan hidup?” Menyedihkan, ya…

Mendeskripsikan Aroma yang Membangkitkan Emosi (2)

Lanjutan dari artikel beberapa hari yang lalu; Mendeskripsikan Aroma yang Membangkitkan Emosi

Menyontek dari wikihow tentang cara mendeskripsikan aroma dan menambal-sulam dari pengalaman sendiri, akhirnya ada beberapa hal yang kudapat, setidaknya dari diri sendiri, bukan secara saintifik, tentang bagaimana mendeskripsikan aroma. Kita butuh ini, karena aroma selalu membuat emosi terjentik dengan mudah.

Membangun Indera-indera yang Lain

 

Dalam bahasa Indonesia, ternyata kutemukan istilah-istilah untuk mendeskripsikan aroma jauh lebih banyak daripada bahasa Inggris. Kemudiannya, aku tahu kalau kekayaan bahasa Indonesia juga dipengaruhi oleh kekayaan bahasa daerah di sini. Contohnya saja, istilah sengit, yang mendefinisikan aroma terbakar atau yang biasanya dikeluarkan serangga, berasal dari bahasa Jawa. Lainnya? Terlalu panjang kalau dideskripsikan di sini.

Jadi, sebenarnya akan lebih mudah untuk mendeskripsikan aroma dalam bahasa Indonesia. Itulah keindahan bahasa nasional kita 😉

Bagaimanapun, untuk semakin mempercantik kalimat, satu kata saja tidak cukup. Kita bisa menggunakan kata harum untuk sebuah bunga, tapi harum seperti apa? Aroma mawar dan aroma melati bisa dikatakan sangat jauh berbeda. Kalau aku mencoba mendeskripsikan dengan lebih jauh, aroma mawar menyentuh indera penciuman kita dengan lebih lembut dan mengawang. Bandingkan dengan keharuman aroma melati yang menyengat, menusuk indera penciuman dengan aroma yang lebih tajam.

Di sini, aku menggunakan kata-kata semacam lembut dan tajam. Keduanya sebenarnya lebih tepat digunakan untuk indera peraba yang adanya di kulit. Ini yang kumaksudkan dengan membangun indera-indera yang lain.

Yang pasti, penggunaan indera ini lebih untuk analogi, daripada menjelaskan aroma dengan konkrit. Ya, analogi yang lain-lain juga,  sih. Misalnya lagi,

Bunga itu berwarna kekuningan dengan aroma yang membangkitkan kehangatan pagi hari, pun sesegar berkas matahari yang masih bersinar malu-malu.

Pada kalimat di atas, aku mencoba mendeskripsikan aroma dengan menggunakan indera penglihatan, tanpa melupakan kata-kata kunci yang menggambarkan aroma. Seperti “sesegar” yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan aroma.

Yang paling sering kulakukan juga adalah menggunakan indera pencecap alias lidah, seperti aroma yang manis, kecut, atau sebagainya. Entah kenapa hal ini lebih mudah untuk dibayangkan daripada aroma yang sifatnya mengawang-ngawang. Kenapa, ya?

Membandingkan Aroma dengan Situasi Lain

 

Menganalogikan aroma dengan situasi lain juga bisa memperkaya deskripsi kita dalam menggambarkan aroma. Seperti contoh sebelumnya, aku membandingkan aroma dengan kehangatan cahaya matahari pagi dan berkas sinarnya. Ini juga analogi dalam situasi yang lain.

Sebelumnya, aku sudah memberitahukan kalau aku menyukai aroma selepas hujan, dengan aroma kayu dan rumput yang lembab, tapi aku sendiri selalu menemui kesulitan untuk menyampaikan aroma yang kupersepsikan dengan persis apa yang aku dapatkan sendiri. Namun, memang untuk mendeskripsikan aroma bukan sekadar untuk menyamakan persepsi atau membuat orang lain berpikir seperti yang kita mau. Dalam mendeskripsikan aroma, terutama dalam tulisan fiksi, itu artinya mencoba membangkitkan emosi dengan cara yang lebih unik.

Dalam hal ini, hujan tentu selalu membawa kenangan, siapapun akan berpikiran sama. Hujan selalu ada, dan memberi kesan lebih mendalam dengan suasana yang dingin dan sejuk. Semua orang akan memikirkan kenang-kenangan masa lalu terkait dengan hujan.

Kita bisa bermain kata di sini, dengan mendeskripsikan aroma hujan dengan kenangan semasa kecil, karena siapapun pernah bermain hujan ketika kecil. Misal,

Aroma hujan menarik ia ke masa lalu, di mana ia kecil tak berdaya, tapi tak ada beban yang dipikul. Aroma kenangan seperti kaki-kaki kecil yang menghempas-hempas kubangan air yang tiba-tiba saja muncul.

Saat aku mendeskripsikan ini, dengan segera aku kembali ke masa kecil, ketika aku berani berbasah-basah tanpa mencemaskan macam-macam. Bagaimana dengan aku yang sekarang, sepatu basah saja aku bisa merasa kesal. Boring adult hehe…

Bisa juga mendeskripsikan dengan sesuatu yang menyebalkan. Misal,

Aroma itu busuk dan berbau tidak enak, seperti tempat pembuangan sampah dengan banyak belatung di tengahnya.

Weew, lebih baik kalimat di atas ini dijadikan bagian dari cerita thriller, ya, jangan romance, hehe…

Analogi dengan Aroma Lain

 

Sebenarnya, ini cara mendeskripsikan aroma yang paling tidak memuaskan menurutku. Masalahnya, ini hanya akan merambat kepada pikiran-pikiran lain tentang bagaimana lanjutan mendeskripsikan kata yang kita pakai untuk menganalogikan satu aroma. Rasanya dia hanya jadi aroma di atas aroma.

Misal, aroma ruangan itu menebarkan aroma bunga. Nah? Aroma bunga yang seperti apa? Jadinya, aku merasa kurang puas. Tapi, tentu saja, daripada meninggalkan ketidakpuasan seperti itu, aku bisa juga mengembangkannya dengan cara mendeskripsikan aroma yang lain. Misalnya dengan menambahkan;

 

Mengingatkannya akan sejuknya embun pagi hari yang mengitari taman yang sepi,

atau

 

Membangkitkan kenangannya akan kampung halaman yang penuh dengan bunga-bunga tropis.

Yang pasti, tentunya kita harus menggunakan perbandingan dari dua benda yang sangat berbeda. Maksudnya, tidak mungkin menganalogikan aroma bunga yang satu dengan bunga yang lain, kan? Rasanya jadi tidak masuk akal dan memang hampir tidak mungkin membandingkan aroma objek yang sama, karena biasanya memang mereka pastinya memiliki aroma yang berbeda. Misalkan,

 

Aroma tubuhnya sesegar lavender yang bercumbu dengan embun pagi hari.

 

Atau yang paling sederhana dan terlalu jelas untuk dideskripsikan, bunga bangkai yang mirip dengan bau bangkai atau kotoran. Haha, rasanya tidak perlu lagi dijadikan contoh.

Mendeskripsikan Aroma seperti Pelaku

Kita mungkin sering mendengar bagaimana nyiur melambai, angin berhembus, majas yang kuingat sebagai majas personifikasi, dimana kita memposisikan benda mati seperti benda hidup. Karena yang biasanya melambai adalah tangan manusia, kan? Atau, yang kekerabatannya dekat dengan kita, seperti hewan primata lah.

Lantas, kenapa tidak kita coba dengan aroma? Kita bisa personifikasikan aroma dan membuatnya seperti kanak-kanak yang nakal, atau orang dewasa dengan pendirian yang kaku dan dingin. Dia bisa melambai, menggelitik, atau yang lain-lain. Aku paling suka penggambaran aroma seperti ini. Tidak hanya aroma, aku paling suka menggambarkan majas personifikasi dalam hal apapun. Misal,

 

Aroma bensin itu menguar kuat, melompat-lompat di indera penciumannya, mengganggu dan mengolok-oloknya.

Di sini, aroma bertingkah seperti anak-anak iseng yang riuh-rendah suka mengolok-olok. Ini membuat kita merasa lebih dekat dengan aroma, bukan? Walaupun, aroma itu tidak tergambar secara konkrit, tapi emosi yang didapat dari aroma itu cukup jelas.

Apa lagi, ya? Mungkin;

Aroma pantai itu membelai hidungnya dengan lembut, membisikkan kata-kata yang melepasnya untuk terlelap.

Sejauh ini, hanya beberapa poin di atas yang aku temukan. Mungkin ada lagi yang lebih menarik kalau dibahas lebih lanjut atau ada cara-cara mendeskripsikan aroma yang lebih unik. Kalau memang ada yang lain lagi terbersit di pikiran, nanti aku update lagi.

Akhir kata, kalau contoh-contohnya agak mirip dengan wikihow, mohon dimaklumi, karena memang inspirasinya datang dari sana. Tapi, masalah-masalah begini lebih enak didiskusikan, karena ini murni opini yang tidak ada dasar keilmuannya. Mudah-mudahan ada lulusan sarjana bahasa Indonesia atau Sastra Indonesia yang mampir untuk mendefinisikan keilmuannya. Atau, siapa saja juga boleh diskusi dengan meninggalkan komentar. Ditunggu, ya 😉

 

Ini artikel lengkap dari wikihow tentang bagaimana mendeskripsikan aroma (Sayang, dalam bahasa Indonesia aku belum menemukan); Describe a Smell by WikiHow